Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

ANEMIA

1.

PENGERTIAN
Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin
(Hb) atau sel darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas
sel darah merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011)
Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah
merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 :
935).
Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah,
kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml
darah (Price, 2006 : 256).
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah
merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal. Anemia bukan
merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit
atau akibat gangguan fungsi tubuh.

Secara fisiologis anemia terjadi apabila

terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.


2.

ETIOLOGI
1. Etiologi:
1) Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
2) Perdarahan
3) Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
4) Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid,
piridoksin, vitamin C dan copper
Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu:
1)

Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin


B12, asam folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk
pembentukan sel darah merah.

2)

Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi


rawan terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya
banyak dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
1

2
3)

Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin


menyerap zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.

4)

4. Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan terusmenerus di saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu dapat
menyebabkan anemia.

5)

Obat-obatan

tertentu.

Beberapa

jenis

obat

dapat

menyebabkan

perdarahan lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat
menyebabkan masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil
KB, antiarthritis, dll).
6)

Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi). Ini


dapat menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan
vitamin B12.

7)

Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit ginjal,


masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit lainnya
dapat menyebabkan anemia karena mempengaruhi proses pembentukan sel
darah merah.

8)

Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing tambang,


malaria, atau disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.

2.

Klasifikasi anemia:
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
1)

Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah


merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:

2)

Anemia aplastik
Penyebab:
a) agen neoplastik/sitoplastik
b) terapi radiasi
c) antibiotic tertentu
d) obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason
e) benzene

3
infeksi virus (khususnya hepatitis)

Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang


Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi, deferensiasi)
Hambatan humoral/seluler

Gangguan sel induk di sumsum tulang

Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai

Pansitopenia

Anemia aplastik
Gejala-gejala:
a)

Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)

b)

Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran


cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.

c)
3)

Morfologis: anemia normositik normokromik


Anemia pada penyakit ginjal

Gejala-gejala:
a)

Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl

b)

Hematokrit turun 20-30%

c)

Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi


Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah
maupun defisiensi eritopoitin

4)

Anemia pada penyakit kronis


Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis
normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang
normal). Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis,
tuberkolosis dan berbagai keganasan

5)

Anemia defisiensi besi


Penyebab:

4
Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi
Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises
oesophagus, hemoroid, dll.)

gangguan eritropoesis

Absorbsi besi dari usus kurang

sel darah merah sedikit (jumlah kurang)


sel darah merah miskin hemoglobin

Anemia defisiensi besi


Gejala-gejalanya:
a)

Atropi papilla lidah

b)

Lidah pucat, merah, meradang

c)

Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut

d)

Morfologi: anemia mikrositik hipokromik

6)

Anemia megaloblastik
Penyebab:
a)

Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat


Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor (aneia rnis st
gastrektomi) infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen
kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi,
pecandu alkohol.

Sintesis DNA terganggu

Gangguan maturasi inti sel darah merah

Megaloblas (eritroblas yang besar)

Eritrosit immatur dan hipofungsi

b)

Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah


disebabkan oleh destruksi sel darah merah:
1)

Pengaruh obat-obatan tertentu

2)

Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia


limfositik kronik

3)

Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase

4)

Proses autoimun

5)

Reaksi transfusi
Malaria

Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit

Antigesn pada eritrosit berubah

Dianggap benda asing oleh tubuh

sel darah merah dihancurkan oleh limposit

Anemia hemolisis

6
3.

KONSEP MAP

7
4.

TANDA DAN GEJALA


a.

Lemah, letih, lesu dan lelah

b.

Sering mengeluh pusing dan mata berkunangkunang

c.

Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit


dan telapak tangan menjadi pucat. Pucat oleh karena kekurangan volume darah
dan Hb, vasokontriksi

d.

Takikardi

dan

bising

jantung

(peningkatan

kecepatan aliran darah) Angina (sakit dada)


e.

Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas


(pengiriman O2 berkurang)

f.

Sakit

kepala,

kelemahan,

tinitus

(telinga

berdengung) menggambarkan berkurangnya oksigenasi pada SSP


g.

Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia,


nausea, konstipasi atau diare)

5.

PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG


a.

Kadar Hb, hematokrit, indek sel darah merah, penelitian sel darah
putih, kadar Fe, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin B12,
hitung trombosit, waktu perdarahan, waktu protrombin, dan waktu
tromboplastin parsial.

b.

Aspirasi dan biopsy sumsum tulang. Unsaturated iron-binding capacity


serum

c.

Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut dan


kronis serta sumber kehilangan darah kronis.

d.

Jumlah darah lengkap (JDL): hemoglobin dan hematokrit menurun.


Jumlah eritrosit : menurun, menurun berat (aplastik);

e.

MCV (molume korpuskular rerata) dan MCH (hemoglobin


korpuskular rerata) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hipokronik,
peningkatan. Pansitopenia (aplastik).

f.

Jumlah retikulosit : bervariasi, misal; menurun, meningkat (respons


sumsum tulang terhadap kehilangan darah/hemolisis). Pewarna sel darah
merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat mengindikasikan
tipe

khusus anemia).

8
g.

LED: Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misal:


peningkatan kerusakan sel darah merah: atau penyakit malignasi. Masa hidup
sel darah merah: berguna dalam membedakan diagnosa anemia, misal: pada
tipe anemia tertentu, sel darah merah mempunyai waktu hidup lebih pendek.

h.

Tes kerapuhan eritrosit : menurun. SDP : jumlah sel total sama dengan
sel darah merah (diferensial) mungkin meningkat (hemolitik) atau menurun
(aplastik).
Jumlah trombosit : menurun caplastik; meningkat; normal atau tinggi
(hemolitik)

i.

Hemoglobin elektroforesis: mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.


Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (hemolitik).

j.

Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia


sehubungan dengan defisiensi masukan/absorpsi
Besi serum

: tak ada; tinggi (hemolitik)

BC serum

: meningkat

Feritin serum

: meningkat

Masa perdarahan : memanjang (aplastik)


LDH serum

: menurun

Tes schilling

: penurunan eksresi vitamin B12 urine

Guaiak

: mungkin positif untuk darah pada urine, feses, dan isi


gaster, menunjukkan perdarahan akut/kronis.

h.

Analisa gaster : penurunan sekresi dengan


peningkatan pH dan tak adanya asam hidroklorik bebas.
i.
Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel
mungkin tampak berubah dalam jumlah, ukuran, dan bentuk, membentuk,
membedakan tipe anemia, misal: peningkatan megaloblas, lemak sumsum
dengan penurunan sel darah (aplastik).
6.
KOMPLIKASI
Komplikasi umum akibat anemia adalah:
a.

gagal jantung

b.

kejang

c.

Perkembangan otot buruk ( jangka panjang )

d.

Daya konsentrasi menurun

9
e.

7.

Kemampuan mengolah informasi yang didengar menuru

PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah
yang hilang:
a.

Anemia aplastik:
1)

Transplantasi sumsum tulang

2)

Pemberian

terapi

imunosupresif

dengan

globolin

antitimosit(ATG)
b.

Anemia pada penyakit ginjal


1)

Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian


besi dan asam folat

2)

Ketersediaan eritropoetin rekombinan

c.

Anemia pada penyakit kronis


Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan
penanganan untuk aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan
yang mendasarinya, besi sumsum tulang dipergunakan untuk membuat
darah, sehingga Hb meningkat.

d.

Anemia pada defisiensi besi


1)

Dicari penyebab defisiensi besi

2)

Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat


ferosus dan fumarat ferosus.

e.

Anemia megaloblastik
1)

Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian


vitamin B12, bila difisiensi disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak
tersedianya faktor intrinsik dapat diberikan vitamin B12 dengan injeksi
IM.

2)

Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin


B12 harus diteruskan selama hidup pasien yang menderita anemia
pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi.

3)

Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan


diet dan penambahan asam folat 1 mg/hari, secara IM pada pasien dengan
gangguan absorbs

10

8.

PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluru (Boedihartono, 1994). Pengkajian pasien dengan anemia (Doenges,
1999) meliputi :

A.

Aktivitas / stirahat
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas ;
penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah.
Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat.
Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya.
Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu
menurun, postur

lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang

menunujukkan keletihan.
B.

Sirkulasi
Gejala : riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis,
menstruasi berat, angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan). Riwayat
endokarditis infektif kronis. Palpitasi (takikardia kompensasi).
Tanda: TD: peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi
melebar, hipotensi postural. Ekstremitas (warna) : Pucat pada kulit dan
membrane mukosa (konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan:
pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan). pucat
(aplastik) atau kuning lemon terang. Sklera : biru atau putih seperti mutiara.
Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan
vasokontriksi kompensasi) kuku: mudah patah, berbentuk seperti sendok
(koilonikia). Rambut : kering, mudah putus, menipis,tumbuh uban secara
premature.

C.

Integritas ego
Gejala: keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan,
misalnya penolakan transfuse darah.
Tanda :depresi.

D.

Eliminasi

11
Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi
(DB). Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi.
Penurunan haluaran urine.
Tanda :distensi abdomen.
E.

Makanan/cairan
Gejala

penurunan

masukan

diet,

masukan

diet

protein

hewani

rendah/masukan produk sereal tinggi. Nyeri mulut atau lidah, kesulitan


menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya
penurunan berat badan. Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es,
kotoran,

tepung

jagung,

dan

sebagainya.

Tanda : lidah tampak merah daging/halus (defisiensi asam folat dan vitamin
B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering, tampak
kisut/hilang elastisitas. Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Bibir : selitis,
misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah.
F.

Neurosensori
Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan
berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata.
Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ;
klaudikasi.Sensasi manjadi dingin.
Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak
mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik).
Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi,
ataksia, penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis.

G.

Nyeri/kenyamanan
Gejala :nyeri abdomen samara : sakit kepala

H.

Pernapasan
Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea,ortopnea dan dispnea.

I.

Keamanan
Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan
pada radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker,
terapi kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah
sebelumnya. Gangguan penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi

12
Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum.
Ptekie dan ekimosis (aplastik).
j.

Seksualitas
Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore.
Hilang libido (priadan wanita). Imppoten.
Tanda :serviks dan dinding vagina pucat

9.

Diagnosa Keperawatan
a.

Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen


seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel ditandai
dengan kavilari revil > 3detik, sianosis, kulit pucat, membran mukosa kering,
kuku dan rambut rapuh.

b.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan
/absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah
ditandai denganklien mengeluh mual & muntah, terjadi penurunan BB,
penurunan lipatan kulit triseps, perubahan gusi, membran mukosa mulut.

c.

nyeri berhubungan dengan sakit kepala dan nyeri abdomen

d.

Konstipasi berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan


proses pencernaan; efek samping terapi obat ditandai dengan klien mengeluh
BAB keras dalam waktu lama, mual atau muntah, penurunan nafsu makan,
laporan nyeri abdomen tiba-tiba atau kram, gangguan bunyi usus.

e.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara


suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan ditandai dengan klien mengeluh
tubuh lemah, lebih banyak memerlukan istirahat.

f.

Kurang pengetahuan berehubungan dengan kurang mengingat ; salah


interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi ditandai dengan
klien mengungkapkan ketidaktahuannya tentang penyakit yang sedang
dialami.

g.

Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan


sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulosit
(respons inflamasi tertekan)

13
h.

Resiko terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan


muntah, diare, dan atau hemoragi.

i.

Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan


sirkulasi dan neurologist

3. Rencana Tindakan Keperawatan

No. Tujuan & Kriteria Hasil

Intervensi

Dx.
1
Setelah diberikan tindakan

1. Berikan oksigen

keperawatan diharapkan terjadi


peningkatan perfusi jaringan

Rasional
1.

tambahan sesuai indikasi Memaksimalkan transport


2. Awasi tanda vital kaji

oksigen ke jaringan

Kriteria hasil :

pengisian kapiler, warna

2.

menunjukkan perfusi adekuat,

kulit/membrane mukosa,

Memberikan informasi

misalnya tanda vital stabil.

dasar kuku.

tentang

Tidak terjadi sianosis

3. Tinggikan kepala tempat

derajat/keadekuatan

Kapilarirefil < 3dtk.

tidur sesuai toleransi.

perfusi jaringan dan

Kulit tidak pucat


Membran mukosa lembab
Kuku dan rambut kuat

4. Selidiki keluhan nyeri

membantu menetukan

dada/palpitasi.
5. Kolaborasi pengawasan
hasil pemeriksaan

keb. intervensi.
3.
Meningkatkan ekspansi paru

laboraturium. Berikan sel

dan memaksimalkan

darah merah

oksigenasi untuk

lengkap/packed produk

kebutuhan seluler.

darah sesuai indikasi.

4.
Iskemia seluler
mempengaruhi jaringan
miokardial/ potensial
risiko infark.
5.

14
Mengidentifikasi defisiensi
dan kebutuhan
pengobatan /respons
2

Setelah diberikan tindakan

1.

Observasi riwayat

terhadap terapi.
1.
Mengidentifikasi

keperawatan selama diharapkan

nutrisi, termasuk makan

defisiensi, memudahkan

kebutuhan nutrisi terpenuhi

yang disukai.

intervensi.

Kriteria hasil :

2.

Observasi dan catat

2.

Mengawasi masukkan

menunujukkan

masukkan makanan

kalori atau kualitas

peningkatan/mempertahankan

pasien.

kekurangan konsumsi

berat badan dengan nilai

3.

laboratorium normal.
tidak mengalami tanda mal

Timbang berat badan


setiap hari.

4.

makanan.
3.

Berikan makan sedikit

Mengawasi
penurunan berat badan

nutrisi.

dengan frekuensi sering

atau efektivitas intervensi

Mual muntah menurun

dan atau makan diantara

nutrisi.

Terjadi kenaikan BB

waktu makan.

Menununjukkan perilaku,

5.

4.

Observasi dan catat

Menurunkan
kelemahan,

perubahan pola hidup untuk

kejadian mual/muntah,

meningkatkan

meningkatkan dan atau

flatus dan dan gejala lain

pemasukkan dan

mempertahankan berat badan

yang berhubungan.

mencegah distensi gaster.

yang sesuai.

6.

Berikan dan Bantu

Gejala GI dapat

hygiene mulut yang baik ;

menunjukkan efek

sebelum dan sesudah

anemia (hipoksia) pada

makan, gunakan sikat

organ.

gigi.
7.

5.

Kolaborasi pada ahli


gizi untuk rencana diet.

6.

Meningkatkan nafsu
makan dan pemasukkan
oral. Menurunkan
pertumbuhan bakteri,
meminimalkan
kemungkinan infeksi.
Teknik perawatan mulut
khusus mungkin
diperlukan bila jaringan
rapuh/luka/perdarahan

15
dan nyeri berat.
7.

Membantu dalam
rencana diet untuk
memenuhi kebutuhan

Setelah diberikan tindakan

1.

keperawatan diharapkan nyeri


berkurang. Kriteria hasil :

2.

Pertahankan
lingkungan yang tenang

tenang dapat

Mempertahankan

meningkatkan

Px mengungkapkan peningkatan

tirah baring selama pasien

perasan nyaman

nyeri (akut)

Px melaporkan tidak ada sakit

3.

kepala atau nyeri abdomen

individual.
1.
Lingkungan yang

kenyamanan px
2.

Bantu px dalam

stimulasi / meningkatkan

ambulasi sesuai dengan


kebutuhan
4.

relaksasi
3.

Berikan tindakan non

Pusing dan
penglihatan kabur sering

farmakologi untuk

berhubungan dengan

menghilangkan rasa sakit,

sakit kepala. Px juga

misalnya, redupkan lampu

mengalami hipotensi

kamar, pijatan, dan tehnik

postural

relaksasi
5.

Meminimalkan

4.

Kolaborasi

atau menghilangkan rasa

Berikan sesuai indikasi :


analgetik

Untuk mengurangi
sakit

5.

Untuk menurunkan
atau menngontrol nyeri
dan menurunkan
rangsang sisitem saraf
simpatis

1. Observasi warna feses,


4.

1. Membantu

Setelah diberikan tindakan

konsistensi, frekuensi dan

mengidentifikasi

keperawatan diharapkan pola

jumlah.

penyebab /factor

eliminasi klien normal dari fungsi 2. Auskultasi bunyi usus.

pemberat dan intervensi

usus

yang tepat

Kriteria hasil :
- menunjukkan perubahan pola

3. Awasi intake dan output


(makanan dan cairan).

2. Bunyi usus secara umum

4. Dorong masukkan cairan

meningkat pada diare

16
eliminasi BAB dengan konsistensi
lembek , frekuensi sesuai
kebiasaan, warna khas feses.

2500-3000 ml/hari
5. Hindari makanan yang
membentuk gas.
6. observasi kondisi kulit

dan menurun pada


konstipasi.
3. Dapat mengidentifikasi
dehidrasi, kehilangan

perianal dengan sering,

berlebihan atau alat

catat perubahan kondisi

dalam mengidentifikasi

kulit atau mulai

defisiensi diet.

kerusakan. Lakukan

4. Membantu dalam

perawatan perianal setiap

memperbaiki konsistensi

defekasi bila terjadi diare.

feses bila konstipasi.

7. Berikan pelembek feses,

Akan membantu

stimulant ringan, laksatif

memperthankan status

pembentuk bulk atau

hidrasi pada diare.

enema sesuai indikasi.

5. Menurunkan distress

Pantau keefektifan.

gastric dan distensi

(kolaborasi)

abdomen.

8. Mempermudah defekasi 6. Mencegah ekskoriasi


bila konstipasi terjadi.

kulit dan kerusakan.

9. Kolaborasi ahli gizi untuk 7. Serat menahan enzim


diet siembang dengan

pencernaan dan

tinggi serat dan bulk.

mengabsorpsi air dalam

10. Kolaborasi ; berikan obat


sesuai indikasi.

alirannya sepanjang
traktus intestinal dan
dengan demikian
menghasilkan bulk, yang
bekerja sebagai
perangsang untuk
defekasi.
8. Menurunkan motilitas
usus bila diare terjadi.
9. Membantu dalam
rencana diet untuk
memenuhi kebutuhan

17
individual.
10. Kebutuhan penggantian
tergantung pada tipe
anemia dan atau adanyan
masukkan oral yang
buruk dan defisiensi
yang diidentifikasi.

Setelah diberiakan tindakan


keperawatan diharapkan klien
dapat

1. Observasi kemampuan
ADL pasien.
2. Observasi kehilangan

1. Mempengaruhi pilihan
intervensi/bantuan.
2. Menunjukkan perubahan

mempertahankan/meningkatkan

atau gangguan

neurology karena

ambulasi/aktivitas.

keseimbangan, gaya jalan

defisiensi vitamin B12

Kriteria hasil :

dan kelemahan otot.

mempengaruhi

melaporkan peningkatan

3. Observasi tanda-tanda

toleransi aktivitas (termasuk

vital sebelum dan sesudah

aktivitas sehari-hari)

aktivitas.

menunjukkan penurunan tanda

4. Berikan lingkungan

keamanan pasien/risiko
cedera.
3. Manifestasi
kardiopulmonal dari

intolerasi fisiologis, misalnya

tenang, batasi

upaya jantung dan paru

nadi, pernapasan, dan tekanan

pengunjung, dan kurangi

untuk membawa jumlah

darah masih dalam rentang

suara bising, pertahankan

oksigen adekuat ke

normal.

tirah baring bila di

jaringan.

indikasikan.
5. Anjurkan pasien istirahat

4. Meningkatkan istirahat
untuk menurunkan

bila terjadi kelelahan dan

kebutuhan oksigen tubuh

kelemahan, anjurkan

dan menurunkan

pasien melakukan

regangan jantung dan

aktivitas semampunya

paru.

(tanpa memaksakan diri). 5. Meningkatkan aktivitas


secara bertahap sampai
normal dan memperbaiki
tonus otot/stamina tanpa

18
kelemahan. Meingkatkan
harga diri dan rasa
terkontrol.

Setelah diberikan tindakan

1. Berikan informasi tentang 1. Memberikan dasar

keperawatan diharapkan pasien

anemia spesifik &

pengetahuan sehingga

mengerti dan memahami tentang

program terapi yang

pasien dapat membuat

penyakit, prosedur diagnostic dan

diberikan.

pilihan yang tepat.

rencana pengobatan.

2. Tinjau tujuan dan

Menurunkan ansietas dan

Kriteria hasil : - pasien

persiapan untuk

dapat meningkatkan

menyatakan pemahamannya

pemeriksaan diagnostic.

kerjasama dalam

proses penyakit dan

3. Kaji tingkat pengetahuan

program terapi.

penatalaksanaan penyakit.

klien dan keluarga tentang 2. Ansietas/ketakutan

- mengidentifikasi factor

penyakitnya.

penyebab.

4. Berikan penjelasan pada

tentang ketidaktahuan
meningkatkan stress,

- Melakukan tiindakan yang

klien tentang penyakitnya

selanjutnya

perlu/perubahan pola hidup.

dan kondisinya sekarang.

meningkatkan beban

5. Anjurkan klien dan

jantung. Pengetahuan

keluarga untuk

menurunkan ansietas.

memperhatikan diet
makanan nya.
6. Minta klien dan keluarga

3. Megetahui seberapa jauh


pengalaman dan
pengetahuan klien dan

mengulangi kembali

keluarga tentang

tentang materi yang telah

penyakitnya.

diberikan.

4. Dengan mengetahui
penyakit dan kondisinya
sekarang, klien dan
keluarganya akan merasa
tenang dan mengurangi
rasa cemas
5. Diet dan pola makan
yang tepat membantu

19
proses penyembuhan.
6. Mengetahui seberapa
jauh pemahaman klien
dan keluarga serta
menilai keberhasilan dari
tindakan yang dilakukan.

Setelah diberikan tindakan

1. Ajarkan teknik cuci

1. Mencegah kontaminasi

keperawatan diharapkan resiko

tangan yang baik ; oleh

silang/kolonisasi

infeksi tidak terjadi.

pemberi perawatan

bacterial.

Kriteria hasil : - mengidentifikasi

kepada pasien.

perilaku untuk

2. Pertahankan teknik

2. Menurunkan risiko
kolonisasi/infeksi

mencegah/menurunkan risiko

aseptic ketat pada

infeksi.

prosedur/perawatan luka. 3. Menurunkan risiko

- meningkatkan penyembuhan

3. Berikan perawatan kulit,

luka, bebas drainase purulen atau

perianal dan oral dengan

eritema, dan demam.

cermat.
4. Motivasi perubahan

bakteri.
kerusakan kulit/jaringan
dan infeksi.
4. Meningkatkan ventilasi
semua segmen paru dan

posisi/ambulasi yang

membantu memobilisasi

sering, latihan batuk dan

sekresi untuk mencegah

napas dalam.

pneumonia.

5. Tingkatkan masukkan
cairan adekuat.
6. Pantau/batasi pengunjung.

5. Membantu dalam
pengenceran secret
pernapasan untuk

Berikan isolasi bila

mempermudah

memungkinkan.

pengeluaran dan

7. Pantau suhu tubuh. Catat

mencegah stasis cairan

adanya menggigil dan

tubuh misalnya

takikardia dengan atau

pernapasan dan ginjal.

tanpa demam.

6. Membatasi pemajanan

8. Amati eritema/cairan luka.

pada bakteri/infeksi.

9. Berikan antiseptic

Perlindungan isolasi

topical ; antibiotic

dibutuhkan pada anemia,

20
sistemik (kolaborasi).

bila respons imun sangat


terganggu.
7. Adanya proses
inflamasi/infeksi
membutuhkan
evaluasi/pengobatan.
8. Indikator infeksi lokal.
Catatan : pembentukan
pus mungkin tidak ada
bila granulosit tertekan.
9. Mungkin digunakan
secara propilaktik untuk
menurunkan kolonisasi

.
8.

atau untuk pengobatan


Setelah diberikan tindakan

1. monitor TTV

keperawatan diharapkan tidak

2. Catat perubahan mental,

proses infeksi local.


1. Kekurangan atau
perpindahan cairan

terjadi kekurangan volume cairan

turgor kulit, hidrasi

meningkatkan frekuensi

dengan kriteria hasil

membran mukosa.

jantung, menurunkan

3. Ukur / hitung masukan,

TD, dan mengurangi

Menunjukkan volume cairan


normal, dibuktikan oleh TD,

pengeluaran, dan

kecepatan nadi, BB, dan haluaran

keseimbangan cairan.

2. Kekurangan cairan dapat

urin dalam batas normal.

Catat kehilangan tak

diidentifikasi dengan

tampak

penurunan turgor kulit,

4. Timbang BB tiap hari


5. Kolaborasi :

volume nadi

membram mukosa kering


3. Memberikan informasi

berikan cairan IV dalam

tentang status cairan

observasi ketat atau

umum. Kecenderungan

dengan alat kontrol sesuai

keseimbangan cairan

indikasi.

negatif dapat

6. Awasi atau ganti elektrolit


sesuai indikasi

menunjukkan terjadinya
defisit.
4. Perubahan cepat
menunjukkan gangguan

21
dalam air tubuh total.
5. Memperbaiki atau
mempertahankan volume
sirkulasi dan tekanan
osmotik.
6. Elektrolit khususnya
kalium dan natrium
mungkin menurun
sebagai akibat penurunan
volume cairan

1. Kondisi kulit dipengaruhi


oleh sirkulasi, nutrisi dan
imobilisasi. Jaringan
dapat menjadi rapuh dan
cenderung untuk infeksi

Setelah diberikan tindakan


9.

keperawatan diharapkan resiko 1. Kaji integritas kulit, catat


kerusakan integritas kulit tidak

perubahan pada turgor,

terjadi.

gangguan warna, hangat

Kriteria hasil : - mengidentifikasi

local, eritema, ekskoriasi.

factor risiko/perilaku individu


untuk mencegah cedera dermal.

2. Reposisi secara periodic


dan pijat permukaan
tulang apabila pasien tidak
bergerak atau ditempat
tidur.
3. Anjurkan pemukaan kulit
kering dan bersih. Batasi

dan rusak.
2. Meningkatkan sirkulasi
kesemua kulit,
membatasi iskemia
jaringan/ mempengarhi
hipoksia seluler.
3. Area lembab,
terkontaminasi,
memberikan media yang
sangat baik untuk
pertumbuhan organisme
patogenik. Sabun dapat

22
penggunaan sabun.

mengeringkan kulit

4. Bantu untuk latihan

secara berlebihan.

rentang gerak.

4. Meningkatkan sirkulasi
jaringan, mencegah
stasis.

DAFTAR PUSTAKA
Barbara, CL., 1996, Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan proses
keperawatan), Bandung.
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa:
Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC, Jakarta.
Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis, alih
bahasa: Tim PSIK UNPAD Edisi-6, EGC, Jakarta
Doenges,M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 1993, Rencana Asuhan
Keperawatan untuk perencanaan dan pendukomentasian perawatan Pasien,
Edisi-3, Alih bahasa; Kariasa,I.M., Sumarwati,N.M., EGC, Jakarta
Kuliah ilmu penyakit dalam PSIK UGM, 2004, Tim spesialis dr. penyakit dalam
RSUP dr.Sardjito, yogyakarta.
McCloskey&Bulechek, 1996, Nursing Interventions Classifications, Second edisi,
By Mosby-Year book.Inc,Newyork
NANDA, 2001-2002, Nursing
Philadelphia, USA

Diagnosis:

Definitions

and

classification,

University IOWA., NIC and NOC Project., 1991, Nursing outcome Classifications,
Philadelphia, USA
I Nyoman DS, Bakri.B, Fajar I., 2001, Penilaian Status Gizi, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.

23

Mahasiswa

(Masnur Iasha)
Mengetahui

Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik