Anda di halaman 1dari 22

K3 Pertambangan

II. Pengelolaan K3 Pertambangan


Pengelolaan K3 pertambangan dilakukan secara menyeluruh baik oleh
pemerintah maupun oleh perusahaan. Pengelolaan tersebut didasarkan pada
peraturan sebagai berikut:
1. UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
2. UU No.32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah
3. UU No. 27 tahun 2003 tentang Panas bumi
4. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
5. UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
6. PP No. 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi
7. PP No.38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara
Pemerintah, Pemprov dan Pemkab/Kota
8. PP No.19 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan K3 di Bidang
Pertambangan
9. Permen No.06.P Tahun 1991 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kerja atas
Instalasi, Peralatan dan Teknik Migas dan Panas Bumi
10. Permen No.02 P. Tahun 1990 tentang Keselamatan Kerja Panas Bumi
11. Kepmen No.555.K Tahun 1995 tentang K3 Pertambangan Umum
12. Kepmen.No.2555.K Tahun 1993 tentang PIT Pertambangan Umum.
Elemen pemerintah dalam pengelolaan K3 pertambangan terdiri atas:
1. Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang / Inspektur Tambang
Adalah Kepala dari Pelaksana Inpeksi Tambang / Inspektur Tambang dalam hal ini
dijabat oleh Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral, Batubara dan Panas Bumi,
Kepala Dinas ESDM di Provinsi dan Kabupaten/Kota.
2. Pelaksana Inspeksi Tambang (PIT) / Inspektur Tambang (IT)
PIT adalah aparat pengawas pelaksanaan peraturan K3 di lingkungan
pertambangan umum (Pasal 1, Kepmen No. 555.K Tahun 1995) baik di Pusat
maupun Daerah.
IT adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang
dan hak untuk melakukan inspeksi tambang (Pasal 1, Keputusan Bersama
Menteri ESDM dan Kepala BKN No. 1247 K/70/MEM/2002 dan No. 17 Tahun 2002)
baik di Pusat maupun Daerah.
3. Buku Tambang
Adalah buku catatan yang memuat larangan, perintah dan petunjuk PIT yang
wajib dilaksanakan Kepala Teknik Tambang (KTT) (Pasal 1, Kepmen No.555. K
Tahun 1995).
Sedangkan elemen perusahaan dalam pengelolaan K3 pertambangan
terdiri atas:
1. Kepala Teknik Tambang (KTT)
Adalah seseorang yang jabatannya tertinggi di Job Site untuk memimpin dan
bertanggung jawab atas terlaksananya serta ditaatinya peraturan perundangundangan K3 pada suatu kegiatan usaha pertambangan di wilayah yang menjadi

tanggung jawabnya (Pasal 1, Kepmen No. 555.K Tahun 1995).


2. Organisasi dan Personil K3
3. Program K3
4. Anggaran dan Biaya
5. Dokumen dan laporan K3
III. Pengawasan Pertambangan
Berdasarkan Pasal 140 Ayat 1, UU No. 4 Tahun 2009, pengawasan pertambangan
mineral dan batubara menjadi tanggung jawab menteri dimana menteri
melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya. Pengawasan tersebut meliputi
administarasi/tata laksana; operasional; kompetensi aparatur; dan pelaksanaan
program pengelolaan usaha pertambangan.
Menteri dapat melimpahkan kepada Gubernur untuk melakukan pengawasan
terhadap penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha
pertambangan sebagaimana dimaksud ayat (1) yang dilaksanakan oleh
pemerintah kabupaten/kota (Pasal 140 Ayat 2).
Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya
melakukan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang
dilakukan oleh pemegang IUP, IPR atau IUPK (Pasal 140 Ayat 3).
Berdasarkan Pasal 141 Ayat 1, hal yang menjadi aspek pengawasan adalah:
a. teknis pertambangan,
b. pemasaran,
c. keuangan,
d. pengelolaan data mineral dan batubara,
e. konservasi sumber daya mineral dan batubara,
f. keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan,
g. keselamatan operasi pertambangan,
h. pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi dan pasca tambang,
i. pemanfaatan barang, jasa, teknologi dan kemampuan rekayasa dan rancang
bangun dalam negeri,
j. pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan,
k. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat,
l. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan,
m. kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang
menyangkut kepentingan umum,
n. pengelolaan IUP atau IUPK, dan
o. jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan.
Pengawasan terhadap huruf a, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, dan huruf l
dilakukan oleh Inspektur Tambang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan (Pasal 141 Ayat 2).
IV. Pengawasan K3 dan Keselamatan Operasi Pertambangan
Pengawasan K3 Pertambangan dilaksanakan dengan tujuan menghindari
kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Ruang lingkup K3 pertambangan meliputi:

1. Keselamatan kerja,
Yang dimaksud keselamatan kerja antara lain berupa:
a. Manajemen risiko,
b. Program keselamatan kerja,
c. Pelatihan dan pendidikan keselamatan kerja,
d. Administrasi keselamatan kerja,
e. Manajemen keadaan darurat,
f. Inspeksi dan Audit keselamatan kerja,
g. Pencegahan dan penyelidikan kecelakaan.
2. Kesehatan kerja,
Yang dimaksud kesehatan kerja antara lain berupa:
a. Program kesehatan kerja
b. Pemeriksaan kesehatan pekerja,
c. Pencegahan penyakit akibat kerja,
d. Diagnosis dan pemeriksaan penyakit akibat kerja
e. Hiegiene dan sanitasi,
f. Pengelolaan makanan, minuman dan gizi kerja,
g. Ergonomis.
3. Lingkungan Kerja,
Yang dimaksud kesehatan kerja antara lain berupa:
a. Pengendalian debu,
b. Pengendalian kebisingan,
c. Pengendalian getaran,
d. Pencahayaan,
e. Kualitas udara kerja (kuantitas dan kualitas)
f. Pengendalian radiasi
g. House keeping.
4. Sistem Manajemen K3.
Sedangkan pengawasan Keselamatan Operasi Pertambangan dilaksanakan
dengan tujuan menciptakan kegiatan operasi pertambangan yang aman dan
selamat. Ruang lingkup Keselamatan Operasi Pertambangan meliputi:
1. Evaluasi laporan hasil kajian,
2. Pemenuhan standardisasi instalasi,
3. Pengamanan instalasi,
4. Kelayakan sarana, prasarana dan instalasi peralatan pertambangan
5. Kompetensi tenaga teknik.
Pelaksanaan pengawasan K3 dan keselamatan operasi pertambangan
dilaksanakan dalam bentuk:
a. Pengawasan Administratif
Pengawasan administratif meliputi:
1. Bahan peledak (Format IVi / Rekomendasi)
2. Laporan kecelakaan (Format IIIi; Vi; Vii; VIIi; VIIIi; IXi)
3. Peralatan (dokumen untuk perijinan)
4. Persetujuan (dokumen kajian, tinggi jenjang, ventilasi, penyanggaan, dan lainlain)

5. Laporan pelaksanaan program K3 (Triwulan)


6. Rencana Kerja Tahunan Teknis dan Lingkungan (RKTTL)
b. Pengawasan Operasional / Lapangan
Pengawasan operasional / lapangan meliputi:
1. Inspeksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Inspeksi dilaksanakan oleh PIT/IT dengan berkoordinasi dengan pengawas pusat
dan daerah berdasarkan prosedur tetap dan KTT diposisikan sebagai mitra.
Contoh objek yang diinspeksi antara lain area penambangan, haul road,
perbengkelan, pabrik, pengolahan, pelabuhan, fasilitas dan instalasi lainnya.
2. Pemeriksaan / Penyelidikan Kecelakaan
3. Pemeriksaan / Penyelidikan Kejadian Berbahaya
4. Pengujian Kelayakan Sarana dan Peralatan
5. Pengujian Kondisi Lingkungan Kerja
c. Pengujian kelayakan peralatan, sarana dan instalasi
Pengujian peralatan sarana dan instalasi meliputi:
1. Sistem Ventilasi,
2. Sistem Penyanggaan,
3. Kestabilan Lereng,
4. Gudang Bahan Peledak
5. Penimbunan Bahan Bakar Cair
6. Kapal Keruk
7. Kapal Isap
8. Alat Angkut Orang, Barang, dan Material
9. Alat Angkat
10. Bejana Bertekanan
11. Instalasi Pipa
12. Pressure Safety Valve
13. Peralatan Listrik
d. Pengujian/penilaian kompetensi
Pengujian/penilaian kompetensi meliputi;
1. Penilaian kompetensi calon Kepala Teknik Tambang
2. Pengujian kompetensi Juru Ledak
3. Pengujian Kompetensi Juru Ukur
4. Pengujian Kompetensi Pengawas Operasional (POP; POM; POU)
5. Pengujian Kompetensi Juru Las (bekerja sama dengan pihak ke-3)
6. Pengujian Kompetensi Operator alat angkat (bekerja sama dengan pihak ke-3)
Pelaksanaan pengawasan K3 dan keselamatan operasi pertambangan bukan
hanya dilakukan oleh pemerintah pusat, tetapi juga dilaksanakan oleh
Pemerintah Provinsi (Dekonsentrasi) dan Pemerintah Kabupaten/Kota
(Desentralisasi).
Upaya dekonsentrasi pengawasan K3 dan keselamatan operasi pertambangan
yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi antara lain:
a. Melakukan supervisi terhadap pengawasan K3 dan keselamatan operasi
pertambangan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota :
1. Hasil Inspeksi
2. Hasil investigasi kecelakaan/kejadian berbahaya

3.
4.
b.
1.
2.
3.

Proses perizinan
Rekomendasi
Melakukan inventarisasi terhadap:
Statistik Kecelakaan
Pembelian dan Penggunaan dan stok bahan peledak
Jumlah dan jenis perizinan

Sedangkan upaya desentralisasi pengawasan K3 dan keselamatan operasi


pertambangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota antara lain:
a. Kabupaten/kota melakukan pengawasan sesuai kewenangan sebagai daerah
otonom
b. Berpedoman kepada peraturan perundangan yang berlaku serta juklak dan
juknis yang ditetapkan oleh pemerintah
c. Investigasi bersama daerah dan pusat untuk kecelakaan berakibat mati
V. Pembinaan K3 dan Keselamatan Operasi Pertambangan
Berdasarkan Pasal 139 Ayat 1, UU No. 4 Tahun 2009, menteri melakukan
pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan yang
dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota sesuai
kewenangannya. Oleh karena itu, pembinaan K3 dan keselamatan operasi yang
diberikan kepada aparat Dinas ESDM Provinsi, Kabupaten/Kota antara lain:
a. Pemberian pedoman, standard pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan
b. Inspeksi bersama aparat dinas daerah dan pusat
c. Pemberian bimbingan dan konsultasi
d. Pendidikan dan pelatihan
Selain itu, berdasarkan Pasal 139 Ayat 4, UU No. 4 Tahun 2009, menteri,
gubenur, atau bupati/walikota sesuai kewenangannya bertanggungjawab
melakukan pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang
dilakukan oleh pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izin Pertambangan
Rakyat (IPR), atau IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus). Oleh karena itu,
pembinaan K3 dan keselamatan operasi yang diberikan kepada pemegang IUP,
IPK dan IUPK antara lain:
a. Pemberian pedoman, standard pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan
b. Pemberian bimbingan, supervisi dan konsultasi
c. Pendidikan dan pelatihan
Dari uraian sebelumnya terlihat bahwa Inspektur Tambang memiliki peran yang
sangat vital dalam pengawasan K3 dan keselamatan operasi pertambangan.
Oleh karena itu, pembinaan terhadap inspektur tambang adalah hal yang mutlak
harus dilaksanakan. Pembinaan yang dilakukan terhadap inspektur tambang
antara lain:
1. Diklat Pra Jabatan IT
Merupakan pembinaan yang dilakukan sebagai syarat pengangkatan untuk
menjadi IT, antara lain:
a. Diklat Pengawas Pengusahaan Pertambangan bagi Aparat Dinas
Pertambangan
b. Diklat Praktik Pelaksana Inspeksi Tambang

2. Diklat Dalam Jabatan IT


Merupakan pembinaan yang dilakukan setelah dan saat menjadi IT, antara lain:
a. Diklat ke luar negeri kerjasama dengan pihak luar, seperti Diklat K3 Tambang
Dalam di Tambang Ikheshima Jepang, kerjasama dengan J-Coal
b. In house training kerjasama dengan pihak luar, seperti J-Coal, Teknik Tambang
ITB, dan lain - lain.
c. Magang di perusahaan tambang
VI. Sistem Manajemen K3
Dalam rangka menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di
tempat kerja yang melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan
lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi
kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman,
efisien dan produktif diperlukan suatu Sistem Manajemen K3.
Sistem Manajemen K3 berdasarkan Permenaker No. Per.05/1996 adalah bagian
dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi,
perencanaan, tanggungjawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya
yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan
pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka
pengendalian risiko yang berkaiatan dengan kegiatan kerja guna terciptanya
tempat kerja yanag aman, efisien dan produktif.
Ruang lingkup dari Sistem Manajemen K3 bervariasi tergantung pada
perusahaan, negara dan faktor lokal. Secara umum, Sistem Manajemen K3
mensyaratkan:
Adanya suatu Kebijakan K3
Struktur organisasi untuk menerapkan kebijakan di atas
Program implementasi
Metode untuk mengevaluasi keberhasilan penerapan dan adanya umpan balik
Rencana tindakan perbaikan untuk peningkatan secara berkesinambungan.
Sistem Manajemen K3 juga harus diterapkan dalam pertambangan, baik dalam
tambang terbuka maupun tambang bawah tanah. Penerapan Sistem Manajemen
K3 tersebut harus mengacu kepada Kepmen No.555.K Tahun 1995 tentang K3
Pertambangan Umum.
Penerapan Sistem Manajemen K3 tidak akan berjalan tanpa adanya komitmen
terhadap sistem manajemen tersebut. Oleh karena itu, elemen pertama dan
memegang peran yang sangat penting adalah manajemen puncak harus
menyatakan kebijakan dan komitmennya terhadap K3. Kemudian, untuk
kepentingan operasional maka disusun peraturan K3 perusahaan.
Untuk penerapan kebijakan K3 maka diperlukan beberapa hal yang masuk dalam
elemen organizing, yaitu Kepala Teknik Tambang, Pengawas Operasional / Teknis,
Komite K3, Buku Tambang, pelatihan, dan tim tanggap darurat. Mengingat skala
risiko dan karakteristik tambang bawah tanah, maka elemen organizing pada
Sistem Manajemen K3 Tambang Bawah Tanah ditambah dengan Kepala Tambang
Bawah Tanah, Buku Derek, Buku Kawat, Buku Catatan Ventilasi dan

Penyanggaan.
Elemen selanjutnya dalam Sistem Manajemen K3 Pertambangan adalah Planning
and Implementation yang terdiri atas Rencana Kerja Tahunan Teknik dan
Lingkungan (RKTTL) / Rencana Kerja Anggaran Biaya (RKAB) / Rencana Jangka
Panjang; Program K3; JSA dan SOP. Nilai lebih Sistem Manajemen K3
Pertambangan adalah perencanaan yang dibuat oleh perusahaan tambang harus
mendapat persetujuan dari pemerintah. Setiap tahun perusahaan pertambangan
harus menyampaiakn dan mempresentasikan RKTTL dan RKAB di depan
pemerintah. RKTTL dan RKAB baru bisa dijalankan dan menjadi acuan setelah
disetujui oleh pemerintah.
Sebagai upaya pemantauan dan pengukuran kinerja dan penerapan K3 di
perusahaan maka diperlukan evaluasi. Elemen evaluation terdiri atas
pemantauan lingkungan kerja, seperti debu, pencahayaan, getaran, iklim kerja,
curah hujan, dan untuk tambang bawah tanah yakni penyanggaan, ventilasi,
drainase, dll; pemantaun proses kerja seperti peledakan, pengangkutan, dll;
investigasi kecelakaan; inspeksi dan audit.
Sistem Manajemen K3 yang merupakan sebuah system dengan siklus tertutup
memiliki sebuah karakteristik utama yaitu keharusan adanya perbaikan yang
berkelanjutan secara terus menerus (continous improvement). Oleh karena itu,
elemen terakhir Sistem Manajemen K3 Pertambangan adalah adanya action for
improvement dimana harus ada peningkatan kinerja dan budaya K3.
VII. Risiko dan Kerugian Akibat Terhentinya Operasional
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, salah satu karakteristik industri
pertambangan adalah padat modal, padat teknologi dan memiliki risiko yang
besar. Top risk yang ada di tambang terbuka secara umum adalah:
Longsor
Interaksi anatar Light Vehicle & Dump Truck
Interaksi antara kendaraan ringan dan peralatan bergerak
Loading dan Dumping
Pembersihan bagian tepi bench
Penanganan kabel shovel elektrik dan drill
Pemindahan drill jarak jauh
Blasting, fly rock, vibration, dan air blast
Pengangkatan dan Pendongkrakan
Sumber-sumber energi berbahaya
Bekerja di ketinggian
Permesinan dan peralatan
Sedangkan top risk yang ada di tambang bawah tanah secara umum adalah:
Pekerjaan high bomb di draw point
Pemasangan steel sets
Pekerjaan penarikan ore
Pekerjaan mengebor dengan jack leg
Kejatuhan batu
Pekerjaan diamond drill
Pengambilan ore basah dari draw point

Pekerjaan yang membutuhkan LOTO


Falling from high elevation
Mengganti belt conveyor, liner feeder
Kebakaran tambang dalam
Runtuhnya panel
Peledakan pada chute yang menggantung
Pejalan kaki didaerah truck haulage
Bahaya jatuh pada pekerjaan alimak raise
Terjepit dan terpukul oleh sesuatu
Bekerja disekitar lubang bukaan
Pekerjaan pemasangan alimak raise climber
Pemasangan pipa air dan angin
Bahaya batu terbang disekitar feeder

Risiko risiko tersebut apabila tidak dikelola dan dikendalikan dengan baik dapat
mengakibatkan kecelakaan, penyakit akibat kerja, kejadian berbahaya, atau
terhentinya proses operasional yang mengakibatkan kerugian yang sangat besar.

Sebagai gambaran, kerugian yang harus ditanggung jika sebuah mill tidak
beroperasi adalah sebesar US$ 420.000 830.000 /jam. Kerugian jika sebuah
kapal keruk tidak beroperasi selama sejam adalah sebesar US$ 208 625.
Sedangkan untuk BWE, jika satu jam tidak beropoperasi maka akan
menyebabkan kerugian sebesar US$ 1186,8 / jam.
Selanjutnya, jika sebuah Shovel PH 4100 tidak beroperasi maka akan
mengakibatkan kerugian sebesar US$ 5.247/ jam dan mengakibatkan 20 Haul
Truck (HT) dan 1 dozer juga harus berhenti beroperasi. Sedangkan untuk HT Cat
793 jika berhenti beroperasi selama sejam diperkirakan akan memnyebabkan
kerugian sebesar US$ 160.
VIII. Penutup
Pengelolaan K3 pertambangan dilakukan secara menyeluruh baik oleh
pemerintah maupun oleh perusahaan.
Pengawasan K3 dan keselamatan operasi pertambangan dilakukan dalam
rangka PREVENTION dan ASSURANCE, meliputi :
a. Tingkat kepatuhan dan pentaatan terhadap peraturan
b. Pencapaian target dari rencana kerja yang telah disusun
c. Mengetahui sejak dini bila terjadi penyimpangan baik berdasarkan
ketentuan/peraturan maupun rencana kerja
d. Dapat segera melakukan koreksi bila terjadi perubahan rencana kerja atau
perubahan kebijakan Pemerintah
Pembinaan K3 pertambangan dilakukan secara menyeluruh baik kepada dinas
ESDM Provinsi, Kabupaten/Kota maupun kepada pemegang IUP, IPK dan IUPK.
Pembinaan terhadap inspektur tambang dilakukan baik pada pra jabatan IT
maupun dalam jabatan IT.

Dalam rangka menciptakan tempat kerja yang aman, efisien dan produktif
maka diperlukan penerapan Sistem Manajemen K3 yang terintegrasi secara
menyeluruh dengan system manajemen perusahaan.
Salah satu karakteristik industri pertambangan adalah padat modal, padat
teknologi dan memiliki risiko yang besar. Risiko yang besar tersebut harus
dikelola dan dikendalikan agar terhindar dari kecelakaan, penyakit akibat kerja,
kejadian berbahaya, atau terhentinya proses operasional yang mengakibatkan
kerugian yang sangat besar.

K3 KEBAKARAN
PEMBAHASAN
A.

Apa itu Kebakaran?

Dalam kamus, kebakaran itu dinyatakan dengan keterangan, kemusnahan oleh


api dan menyebabkan kerugian. Api dinyatakan dengan keterangan: gas
bercahaya yang di akibatkan oleh terjadinya reaksi kimia pembentukan atau
penguraian persenyawaan. Secara sederhana dapat dikatakan kebakaran adalah
pembakaran atau suatu reaksi antara bahan yang dapat terbakar dengan
oksigen,dalam keadaan sedemikian rupa sehingga timbul panas dan api dan
menyebabkan kerugian.
Apa yang dinamakan kebakaran dan apakah yang
diperlukannya ? kita kenal segitiga kebakaran.
Kebakaran hanya mungkin bila ketiga sisinya saling
sambung menyambung merupakan segitiga yang
tertutup, bila diambil salah satu sisinya saja maka tak
mungkin terjadi kebakaran atau terpadamkanlah
kebakaran itu. Jadi untuk menyebabkan atau
memungkinkan kebakaran diperlukan 3 unsur:
1. Bahan yang mudah terbakar
2. Oksigen
3. Suhu

Biasanya bahan yang mudah terbakar dan oksigen telah berada


berdampingan. Kini hanya diperlukan kenaikan suhu ini dapat berasal
daripercikan api,korek api,api gas, rokok dan sebagainya.
Bahaya kebakaran harus dipahami oleh setiap orang karena kebakaran
biasa terjadi dimana-mana, selain merugikan diri sendiri juga orang lain,
kebakaran yang terjadi dirumah tangga biasa mengganggu tetangga sebelah,
kebakaran dibengkel sekolah akan merugikan pihak sekolah.
Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan akibat kebakaran Pemerintah
mengeluarkan undang-undang UU No. 1 Tahun 1970 Dengan perundangan
ditetapkan persyaratan keselamatan kerja untuk mencegah, mengurangi dan
memadamkan kebakaran.Yang dikuatkan dengan Keputusan Menteri Tenaga
Kerja RI No.186/MEN/1999 Tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat
Kerja disebutkan dalam Pasal ayat 1 Pengurus atau Perusahaan wajib
mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, menyelenggarakan
latihan penganggulangan kebakaran di tempatkerja.
B.

Terjadinya Kebakaran

Bila suatu bahan terbakar, maka terbebaskanlah energi, jadi hasil


pembakaran itu berada dalam tingkat energi yang lebih rendah. Suatu bahan
harus diaktifkan dahulu supaya dapat terbakar dan kehilangan energinya. Hal ini
di sebabkan oleh penyebab kebakaran seperti puntung rokok yang belum
padam, pancaran panas dari suatu tungku, loncatan bunga api paku sepatu
menggesek jalan, loncatan api listrik dan sebagainya. Sampai dimana suatu
bahan harus di aktifkan supaya dapat terbakar,tergantung dari keadaan bahan
itu sendiri. Sebatang korek api yang menyala dapat membakar batang korek api
lainnya tapi tidak dapat membakar sebilah papan.

C. Penyebab Terjadinya Kebakaran


1. Bahan yang mudah terbakar- Barang padat, cair atau gas ( kayu, kertas,
textil, bensin, minyak,acetelin dll),
2. Panas ( Suhu )- Pada lingkungannya memiliki suhu yang demikian tingginya,
(sumber panas dari Sinar Matahari, Listrik (kortsluiting, panas energimekanik
(gesekan), Reaksi Kimia, Kompresi Udara)
3. Oksigen ( O2 )- Adanya Zat Asam ( O2 ) yang cukup.Kandungan (kadar)
O2ditentukan dengan persentasi (%), makin besar kadar oksigenmaka api akan
menyala makin hebat, sedangkan pada kadaroksigen kurang dari 12 % tidak
akan terjadi pembakaran api. Dalamkeadaan normal kadar oksigen diudara
bebas berkisar 21 %, makaudara memiliki keaktifan pembakaran yang cukup.
Dari ketiga faktor tersebut saling mengikat dengan kondisi yang cukuptersedia.
Ketiga faktor tersebut digambarkan dalam bentuk hubungansegitiga kebakaran
sebagai berikut :

Perlu diperhatikan apabila salah satu dari sisi dari segita tersebut diatastidak
ada, maka tidak mungkin terjadi kebakaran. Jadi setiap kebakaranyang terjadi
dapat dipadamkan dengan tiga cara yaitu :
a. Dengan menurunkan suhunya dibawah suhu kebakaran,
b. Menghilangkan zat asam
c. Menjauhkan barang-barang yang mudah terbakar

D. Api Merambat
Banyak sekali faktor yang mempengaruhi perambatan kebakaran. Diantaranya
faktor teknik bangunannya, yaitu sifatnya ruangan dan bahan bangunan apa
yang di pakai serta cara bahan itu di pasang dan tentu saja barang-barang apa
yang berada dalam ruangan itu menembusnya api kebakaran.
Bila dalam suatu ruangan terjadi kebakaran maka apinya dapat meluas dan
membakar sampai keluar ruangan. Ini disebut penembusan api kebakaran.
Penembusan api ini dapat terjadi melalui dinding atau suatu lubang padanya.
Kalau dinding itu terbakar atau tidak terbakar, suhu ruangan disebelahnya akan
meninggi sehingga bahan yang mudah terbakar dalam ruangan tersebut dapat
terbakar. Suhu ruangan di sebelahnya akan meninggi sehingga bahan yang
mudah terbakar dalam ruangan tersebut dapat terbakar.
Untuk mencegah penembusan api ini maka konstruksi bangunan harus
disesuaikan dengan syarat ketahanan terhadap api. Konstruksi itu harus mampu
menahan penembusan api.
E. Api Meloncat
Dengan loncatan api kebakaran dimaksudkan bahwa meluasnya kebakaran
melalui udara luar. Ada dua hal yang mempengaruhi loncatan api kebakaran
yaitu pancaran panas dan sambaran atau percikan api
Bahaya pancaran panas dapat di perkirakan. Kerapatan pancaran panas yang
datang dari kobaran api tergantung luasnya api, suhu dan jarak. Dengan
percobaan yang sederhana dapatlah diuji setelah berapa lama suatu bahan akan
terbakar bila terkena pacaran panas dengan kerapatan panas tertentu.
Percobaan ini dapat dilaksanakan dengan atau tanpa adanya sambaran atau
percikan api.
Kemungkinan terjadinya sambaran atau percikan api, sebenarnya adalah
pengertian yang tidak jelas. Sambaran atau percikan api dapat berbentuk
percikan api yang kecil dan padam dalam beberapa detik atau seberkas jerami
yang menyala, atau sepotong gaun menyala yang terbang diudara beratus-ratus
meter jauhnya.
F. Klasifikasi Kebakaran

Kebakaran diklafisikasikan menurut daerah masing masing, klasifikasi


kebakaran di Indonesia mengacu kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Per. 04/Men/1980 tanggal 14 April 1980 Pemasangan dan
Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Klasifikasi tersebut adalah,
Klas A: Bahan bakar padat (bukan logam),
Klas B: Bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar,
Klas C: Instalasi listrik bertegangan,
Klas D: Kebakaran logam
Klasifikasi di Eropa sesudah tahun 1970 mengacu kepada Comite European de
Normalisation sebagai berikut:
Klas A: Bahan bakarnya bila terbakar meninggalkan abu,
Klas B: Bahan bakar cair. Contoh: bensin, solar, spiritus dan lain sebagainya,
Klas C: Bahan bakar gas. Contoh: LNG, LPG dan lain sebagainya,
Klas D: Bahan bakar logam. Contoh: magnesium, potassium dan lain sebagainya.

Klasifikasi Amerika National Fire Protection Association (NFPA)sebagai berikut:


Klas A: Bahan bakarnya bila terbakar meninggalkan abu,
Klas B: Bahan bakar cair atau yang sejenis,
Klas C: Kebakaran karena listrik,
Klas D: Kebakaran logam.
Klasifikasi Amerika U.S. Coast Guard sebagai berikut:
Klas A: Bahan bakar padat,
Klas B: Bahan bakar cair dengan titik nyala lebih kecil dari 170 derajat Fahrenheit
dan
tidak larut dalam air misalnya: bensin, benzene dan lain sebagainya,
Klas C: Bahan bakar cair dengantitiknyalalebihkecildari 170 derajat Fahrenheit
danlarutdalam air misalnya: ethanol, acetondan lain sebagainya,
Klas D: Bahan bakar cair dengan titik nyala lebih besar atau sama dengan 170
derajat Fahrenheit dan tidak larut dalam air misalnya:minyak kelapa, minyak
pendingin trafo dan lain sebagainya,
Klas E: Bahan bakar cair dengan titik nyala sama dengan atau lebih tinggi dari
170 derajat Fahrenheit dan larut dalam air misalnya: gliserin, etilin dan lain
sebagainya,

Klas F: Bahan bakar logam misalnya: magnesium, titanium dan lain sebagainya,
Klas G: Kebakaran listrik.
Cara Pemadaman KebakaranTerdapat 3 (tiga) cara untuk
mengatasi/memadamkan kebakaran berdasarkan klasifikasi di atas:
1. Cara penguraian yaitu cara memadamkan dengan memisahkanatau
menjauhkan bahan / benda-benda yang dapat terbakar
2. Cara pendinginan yaitu cara memadamkan kebakaran denganmenurunkan
panas atau suhu. Bahan airlah yang paling dominandigunakan dalam
menurunkan panas dengan jalanmenyemprotkan atau menyiramkan air ketitik
api.
3. Cara Isolasi / lokalisasi yaitu cara pemadaman kebakarandengan mengurangi
kadar / prosentase O2 pada benda-bendayang terbakar.
G. Pembentukan dan penyebaran asap
Pembentukan dan penyebaran asap adalah hal yang tak dapat diabaikan demi
keamanan kebakaran. Asap dapat menghalangi atau tidak memungkinkan orang
menyelamatkan diri meninggalkan gedung yang terbakar karena terhalangnya
pandangan. Asap juga dapat lebih mengobarkan api dan menimbukan panik.
Regu pemadam kebakaran, dalam menunaikan tugasnya, pada umumnya telebih
dahulu menilai keadaannya dan dengan sendirinya sambil menolong
penyelamatan manusia dapat terhalang oleh asap.
Pembentukan asap adalah persoalan bahan bangunan sedangkan penyebaran
asap adalah persoalan konstruksi bangunan. Lubang ventilasi, tangga ke lantai
lebih atas, dan sebagainya sangat mempenagruhi penyebaran asap.

K3 LISTRIK
Bahaya Listrik :
Bilamana anda bekerja dengan alat bertenaga listrik atau
instalasinya terdapat bahaya, terutama sengatan arus listrik
Seseorang dapat terkena bahaya listrik di rumah. Pekerja terkena
sengatan arus listrik di tempat kerja yang disebabkan karena
peralatan, bahan kerja, tergesa-gesa dan udara terbuka. Resiko
besar juga diderita karena pekerjaan menggunakan peraltan
bertenaga listriks.

Penelitian Keselamatan Kerja Listrik :


Penyebab kematian karena listrik menduduki ketiga di tempat kerja
dengan usia antara 16- dan 17 tahun, setelah kecelakaan karena
kedaraan bermotor. Kematian karena arus listrik 12 % di semua
tempat kerja, satu diantaranya pekerja muda
Sengatan Listrik dapat Terjadi :
Sengat listrik dapat terjadi bila terdapat arus yang mengalir pada
tubuh manusia. Arus akan melewati tubuh dengan berbagai situasi.
Sewaktu-waktu anda tersengat karena beda potensial dua
penghantar, arus melewati diantara keduanya.
Kebanyakan kabel instalasi rumah 220 volt berwarna biru dan
merah/hitam/kuning dan ground berwarna loreng hijau-kuning.
Ground sering dihubungkan dengan kawat tembaga ketanah, atau
pipa air terbuat dari logam logam
Tabel Sengatan Listrik dengan Pengaruh Tubuh :
1mA.
Hanya merasa geli tidak menyenangkan.
5mA.
Sedikit merasa kejutan menganggu, tetapi tidak pinsang. Kebanyakan
orang dapat melepas genggaman. Bagaimanapun kuatnya gerakan
tanpa disengaja dapat menyebabkan cidera.
6-25mA.
Kejutan kesakitan, kontrol otot hilang.Tahap ini arus pembekukan
dimulai, tidak
mungkin melepas gengaman
50-150mA.
Kejutan kesakitan hebat, pernafasan tertahan, beberapa otot
mengkerut. Otot flexor menahan, otot extensor menyebabkan kuat
mendesak kesamping, dimungkinkan meninggal.
1.000 4.300mA
Terjadi bilik jantung memompa darah tidak berirama. Otot mengkerut,
terjadi kerusakan syaraf, mungkin meninggal.
10A
Jantung tertahan dan terjadi kebakaran serta kematian.
Tingkat Bahaya kena Arus Listrik Tergantung dari :
Banyaknya arus yang mengalir ke tubuh
(amount of the
shocking current through the body).
Lamanya arus yang mengalir (the duration of the shocking current
through the body)
Jalan aliran arus yang mengalir ke tubu (path of the shocking
current through the body).

K3 KONSTRUKSI

Prinsip=Prinsip K3 Konstruksi
Penerapan prinsip K3 di proyek sangat perlu diperhatikan dalam pekerjaan konstruksi. Pelaksana
konstruksi harus mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip kerja sesuai ketentuan K3 di
lingkungan proyek.
Kelengkapan Administrasi K3
Setiap pelaksanaan pekerjaan konstruksi wajib memenuhi kelengkapan administrasi K3, meliputi:
Pendaftaran proyek ke departemen tenaga kerja setempat
Pendaftaran dan pembayaran asuransi tenaga kerja (Astek)
Pendaftaran dan pembayaran asuransi lainnya, bila disyaratkan proyek
Ijin dari kantor kimpraswil tentang penggunaan jalan atau jembatan yang menuju lokasi untuk
lalu-lintas alat berat
Keterangan laik pakai untuk alat berat maupun ringan dari instansi yang berwenang
memberikan rekomendasi
Pemberitahuan kepada pemerintah atau lingkungan setempa
Penyusunan Safety Plan
Safety plan adalah rencana pelaksanaan K3 untuk proyek yang bertujuan agar dalam
pelaksanaan nantinya proyek akan aman dari kecelakaan dan bahaya penyakit sehingga
menghasilkan produktivitas kerja yang tinggi. Safety plan berisi:
Pembukaan yang berisi: Gambaran proyek dan Pokok perhatian untuk kegiatan K3
Resiko kecelakaan dan pencegahannya
Tata cara pengoperasian peralatan
Alamat instansi terkait: Rumah sakit, Polisi, Depnaker, Dinas Pemadam kebakaran.
Pelaksanakan Kegiatan K3 di Lapangan
Pelaksanaan kegiatan K3 di lapangan meliputi:
Kegiatan K3 di lapangan berupa pelaksanaan safety plan, melalui kerja
sama dengan instansi yang terkait K3, yaitu depnaker, polisi dan rumah
sakit.
Pengawasan pelaksanaan K3, meliputi kegiatan:
Safety patrol, yaitu suatu tim K3 yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang
melaksanakan patroli untuk mencatat hal-hal yang tidak sesuai ketentuan K3 dan
yang memiliki resiko kecelakaan.
Safety supervisor; adalah petugas yang ditunjuk manajer proyek untuk
mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan dilihat dari segi K3.
Safety meeting; yaitu rapat dalam proyek yang membahas hasil laporan safety
patrol maupun safety supervisor
Pelaporan dan penanganan kecelakaan, terdiri dari:
Pelaporan dan penanganan kecelakaan ringan
Pelaporan dan penanganan kecelakaan berat
Pelaporan dan penanganan kecelakaan dengan korban meninggal
Pelaporan dan penanganan kecelakaan peralatan berat

Pelatihan Program K3
Pelatihan program K3 yang terdiri atas 2 bagian, yaitu:
1. Pelatihan secara umum, dengan materi pelatihan tentang panduan K3 di proyek,
misalnya:
Pedoman praktis pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja pada proyek bangunan
gedung
Penanganan, penyimpanan dan pemeliharaan material
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan sipil
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan finishing luar
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan mekanikal dan elektrikal
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan finishing dalam
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan bekisting
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan pembesian
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan sementara
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan rangka baja
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan struktur khusus
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan pembetonan
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan pondasi pile dan strutting
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan pembongkaran
2. Pelatihan khusus proyek, yang diberikan pada saat awal proyek dan di tengah periode
pelaksanaan proyek sebagai penyegaran, dengan peserta seluruh petugas yang terkait
dalam pengawasan proyek, dengan materi tentang pengetahuan umum tentang K3
atau Safety plan proyek yang bersangkutan
Perlengkapan dan Peralatan K3
Perlengkapan dan peralatan penunjang program K3, meliputi:
1. Promosi program K3; yang terdiri dari:
Pemasangan bendera K3, bendera RI, bendera perusahaan.
Pemasangan sign-board K3 yang berisi antara lain : slogan-slogan yang mengingatkan,
perlunya be-kerja dan dengan selamat
2. Sarana peralatan yang melekat pada orang atau disebut perlengkapan perlindungan diri
(personal protective equipment), diantaranya:
Pelindung mata dan wajah
Kaca mata safety merupakan peralatan yang paling banyak digunakan sebagai
pelindung mata. Meskipun kelihatannya sama dengan kacamata biasa, namun kaca
mata safety lebih kuat dan tahan benturan serta tahan panas dari pada kaca mata biasa.
Goggle memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan safety glass sebab lebih
menempel pada wajah
Pelindung wajah memberikan perlindungan menyeluruh pada wajah dari bahaya
percikan bahan kimia, obyek yang beterbangan atau cairan besi. Banyak dari pelindung
wajah ini dapat digunakan bersamaan dengan penggunaan helm. Helm pengelas
memberikan perlindungan baik pada wajah dan juga mata. Helm ini menggunakan lensa
penahan khusus yang menyaring intesnsitas cahaya serta energi panas yang dihasilkan
dari kegiatan pengelasan.

a. kaca mata safety


b. goggle
a. pelindung wajah
b. helm pengelas

Pelindung pendengaran, dan jenis yang paling banyak digunakan: foam earplugs, PVC
earplugs, earmuffs
Pelindung kepala atau helm (hard hat) yang melindungi kepala karena memiliki hal
berikut: lapisan yang keras, tahan dan kuat terhadap benturan yang mengenai kepala;
sistem suspensi yang ada didalamnya bertindak sebagai penahan goncangan; beberapa
jenis dirancang tahan terhadap sengatan listrik; serta melindungi kulit kepala, wajah,
leher, dan bahu dari percikan, tumpahan, dan tetesan.
Jenis-jenis pelindung kepala , antara lain:
Kelas G untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh; dan
melindungi dari sengatan listrik sampai 2.200 volts.
Kelas E untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh, dan dapat
melindungi dari sengatan listrik sampai 20.000 volts.
Kelas F untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh, TIDAK
melindungi dari sengatan listrik, dan TIDAK melindungi dari
bahan-bahan yang merusak (korosif)

Pelindung kaki berupa sepatu dan sepatu boot, seperti terlihat pada gambar 1.11a-g,
antara lain:
a) Steel toe, sepatu yang didesain untuk melindingi jari kaki dari kejatuhan benda
b) Metatarsal, sepatu yang didesain khusus melindungi seluruh kaki dari bagian tuas
sampai jari
c) Reinforced sole, sepatu ini didesain dengan bahan penguat dari besi yang akan
melindungi dari tusukan pada kaki
d) Latex/Rubber, sepatu yang tahan terhadap bahan kimia dan memberikan daya
cengkeram yang lebih kuat pada permukaan yang licin.
e) PVC boots, sepatu yang melindungi dari lembab dan membantu berjalan di tempat
becek
f) Vinyl boots, sepatu yang tahan larutan kimia, asam, alkali, garam, air dan darah
g) Nitrile boots, sepatu yang tahan terhadap lemak hewan, oli, dan bahan kimia

Pelindung tangan berupa sarung tangan dengan jenis-jenisnya seperti terlihat pada
gambar 1.12a-g,antara lain:
a) Metal mesh, sarung tangan yang tahan terhadap ujung benda yang tajam dan
melindungi tangan dari terpotong
b) Leather gloves, melindungi tangan dari permukaan yang kasar.
c) Vinyl dan neoprene gloves, melindungi tangan dari bahan kimia beracun
d) Rubber gloves, melindungi tangan saat bekerja dengan listrik
e) Padded cloth gloves, melindungi tangan dari sisi yang tajam, bergelombang dan
kotor.

f) Heat

resistant gloves, melindungi tangan dari panas dan api


disposable gloves, melindungi tangan dari bakteri dan kuman

g) Latex

Pelindung bahaya jatuh dengan jenis-jenis antara lain:


a) Full Body Hardness (Pakaian penahan Bahaya Jatuh), sistim yang dirancang untuk
menyebarkan tenaga benturan atau goncangan pada saat jatuh melalui pundak, paha
dan pantat. Pakaian penahan bahaya jatuh ini dirancang dengan desain yang nyaman
bagi si pemakai dimana pengikat pundak, dada, dan tali paha dapat disesuaikan menurut
pemakainya. Pakaian penahan bahaya jatuh ini dilengkapi dengan cincin D (high) yang
terletak dibelakang dan di depan dimana tersambung tali pengikat, tali pengaman atau
alat penolong lain yang dapat dipasangkan
b) Life Line (tali kaitan), tali kaitan lentur dengan kekuatan tarik minimum 500 kg yang
salah satu ujungnya diikatkan ketempat kaitan dan menggantung secara vertikal, atau
diikatkan pada tempat kaitan yang lain untuk digunakan secara horisontal
c) Anchor Point (Tempat Kaitan), tempat menyangkutkan pengait yang sedikitnya harus
mampu menahan 500 kg per pekerja yang menggunakan tempat kaitan tersebut. Tempat
kaitan harus dipilih untuk mencegah kemungkinan jatuh. Tempat kaitan, jika
memungkinkan harus ditempatkan lebih tinggi dari bahu pemakainya
d) Lanyard (Tali Pengikat), tali pendek yang lentur atau anyaman tali, digunakan untuk
menghubungkan pakaian pelin-dung jatuh pekerja ke tempat kaitan atau tali kaitan.
Panjang tali pengikat tidak boleh melebihi 2 meter dan harus yang kancing pengaitnya
dapat mengunci secara otomatis
e) Refracting Life Lines (Pengencang Tali kaitan), komponen yang digunakan untuk
mencegah agar tali pengikat tidak terlalu kendor. Tali tersebut akan memanjang dan
memendek secara otomatis pada saat pekerja naik maupun pada saat turun.

3. Sarana peralatan lingkungan berupa:


Tabung pemadam kebakaran
Pagar pengamanan
Penangkal petir darurat
Pemeliharaan jalan kerja dan jembatan kerja
Jaring pengamanan pada bangunan tinggi
Pagar pengaman lokasi proyek
Tangga
Peralatan P3K
4. Rambu-rambu peringatan, antara lain dengan fungsi:
peringatan bahaya dari atas
peringatan bahaya benturan kepala
peringatan bahaya longsoran
peringatan bahaya api
peringatan tersengat listrik
penunjuk ketinggian (untuk bangunan yang lebih dari 2 lantai)
penunjuk jalur instalasi listrik kerja sementara
penunjuk batas ketinggian penumpukan material
larangan memasuki area tertentu
larangan membawa bahan-bahan berbahaya

petunjuk untuk melapor (keluar masuk proyek)


peringatan untuk memakai alat pengaman kerja
peringatan ada alat/mesin yang berbahaya (untuk lokasi tertentu)
peringatan larangan untuk masuk ke lokasi power listrik (untuk orangorang tertentu)

Kriteria Desain dalam Penyelenggaraan Bangunan


Penyelenggaraan bangunan adalah kegiatan pembangunan yang meliputi proses perencanaan
teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian, dan
pembongkaran. Jasa penyelenggaraan bangunan melewati suatu proses seperti gambar 1.15
yang dapat diurutkan secara garis besar sebagai berikut:
Tahap perencanaan dan perancangan, dimana pada tahap ini bangunan yang akan dibuat
dimodelkan dalam suatu bentuk 2 dimensi (gambar) atau 3 dimensi (maket) disertai dengan
berbagai dokumen tertulis sebagai pendukung (Rencana Anggaran Biaya/RAB, spesifikasi teknis
dan lain-lain). Keseluruhan dokumen ini, yang disebut sebagai dokumen perencanaan, akan
dijadikan sebagai acuan bagi tahap selanjutnya.
Tahap asembling/perakitan, dimana tahap ini merupakan tahap pilihan yang tidak selalu
dilaksanakan, tergantung dari kondisi proyek. Perakitan merupakan pekerjaan konstruksi skala
kecil pada elemen bangunan seperti kuda-kuda baja, elemen pracetak, dan lain-lain. Tahap ini
bisa dilaksanakan di lapangan atau di lokasi workshop/pabrik.
Tahap konstruksi, dimana tahap ini merupakan tahap akhir pembuatan bangunan di lapangan.
Tahap ini dilaksanakan dengan acuan dokumen perencanaan.
Persyaratan Bangunan
Persyaratan umum bangunan pada dasarnya harus memenuhi persyaratan administratif dan
persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan tersebut.
Persyaratan Administratif
Persyaratan administratif bangunan gedung meliputi:
status hak atas tanah, dan/atau ijin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah;
status kepemilikan bangunan gedung;
ijin mendirikan bangunan gedung.
Setiap bangunan gedung harus didirikan pada tanah yang status kepemilikannya jelas, baik milik
sendiri maupun milik pihak lain.
Ijin mendirikan bangunan diberikan oleh pemerintah daerah, kecuali bangunan dengan
fungsi khusus oleh Pemerintah Pusat. IMB diberikan melalui proses permohonan. Selanjutnya
IMB diatur dalam PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 24/PRT/M/2007
TANGGAL 9 AGUSTUS 2007 TENTANG PEDOMAN TEKNIS IZIN MENDIRIKAN
BANGUNAN GEDUNG. Secara umum prosedur dan tata cara IMB seperti pada gambar 1.16.

Permohonan ijin mendirikan bangunan harus dilengkapi dengan:


tanda bukti status kepemilikan hak atas tanah atau tanda bukti perjanjian pemanfaatan
tanah
data pemilik bangunan gedung;
rencana teknis bangunan gedung; dan
hasil analisis mengenai dampak lingkungan bagi bangunan gedung yang menimbulkan
dampak penting terhadap lingkungan.

Ijin mendirikan bangunan diberikan apabila rencana bangunan telah memenuhi persyaratan tata
bangunan sesuai rencana tata kota dan daerah (RTRW) kabupaten maupun kota, RDTRKP,
dan/atau RTBL), yang tertuang dalam Advis Planning (AP) oleh dinas/lembaga tata
kota/daerah.
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten atau kota adalah hasil perencanaan tata
ruang wilayah kabupaten/kota yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah.
Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan (RDTRKP) adalah penjabaran dari
Rencana Tata Ruang Wilayah kabupaten/kota ke dalam rencana pemanfaatan kawa-san
perkotaan.
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah panduan rancang bangun suatu
kawasan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang yang memuat rencana program bangunan
dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan
pengendalian

K3LH
Pengertian K3LH adalah pengertian tentang Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan
Lingkungan Hidup pada suatu perusahaan atau instansi lain yang memiliki banyak pekerja atau
karyawan.
Maksud dari pengertian K3LH adalah memahami dan menerapkan K3LH di setiap perusahaan.
Tujuan dari program K3LH adalah menciptakan suasana kerja yang sehat, aman dan nyaman. Hal ini
menjadikan pekerja dan perusahaan memiliki daya saing yang lebih kuat.
K3LH adalah singkatan dari Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup.
3 Alasan Utama Mengapa Suatu Perusahaan Melaksanakan K3LH

Diwajibkan oleh Undang-undang Tenaga Kerja

Hak asasi manusia

Mengurangi beban ekonomi para pekerja

Keuntungan dari penerapan K3LH adalah terciptanya hasil kerja yang optimal, karena suasana kerja
yang nyaman akan menghasilkan produksi yang lebih banyak dan lebih bermutu. Jadi program K3LH
ini bisa mempengaruhi kuantitas dan kualitas hasil produksi. Perusahaan yang menerapkan program
K3LH biasanya mengaplikasikan K3LH di lingkungan perusahaan.
Ciri-ciri perusahaan yang memperhatikan K3LH, diantaranya :

Memberikan fasilitas seragam kerja dan sepatu keselamatan (safety shoes) dan mewajibkan
seragam dan sepatu keselamatan tersebut untuk dipakai oleh semua pekerja yang terlibat
dalam produksi, bengkel dan lapangan.

Memasang atribut K3LH seperti tulisan yang mengingatkan pekerja untuk selalu sadar akan
keselamatan, kesehatan dan kebersihan di lingkungan perusahaan. Maksud dari atribut K3LH
ini adalah menghindari bahaya atau kesalahan yang bisa berakibat fatal. Maksud lainnya
adalah memperhatikan kebersihan di lingkungan perusahaan, untuk menciptakan suasana
yang lebih nyaman dan bersih.

Memisahkan sampah organik (contoh : sampah dari tumbuhan dan kertas) dan bukan organik
(contoh : sampah dari plastik).

Menerapkan K3LH dalam prosedur dan sistem kerja. Manajemen perusahaan


mengupayakan para karyawannya dengan memberi petunjuk tentang K3LH supaya para
pekerja memahamipengertian K3LH dan menerapkannya.

Manfaat dari K3LH


Dengan program K3LH, pekerja dan perusahaan bisa menikmati manfaatnya. Perusahaan akan
menjadi lebih bermutu dan sistematis untuk berkembang lebih cepat, dan pekerja menjadi lebih
aman, lebih sehat dan nyaman. Jika kenyamanan dalam bekerja bisa terwujud, akan tercipta
hubungan yang lebih harmonis antara para pekerja dan perusahaan tempat mereka bekerja sehingga
menghasilkan produk yang maksimal sesuai misi perusahaan.
K3LH Adalah Hal Penting dalam Pembangunan Usaha Atau Industri
K3LH merupakan hal penting dalam membangun industri. Pertumbuhan dan pembangunan industri
banyak menimbulkan masalah terhadap manusia di setiap negara. Contohnya adalah kecelakaan
kerja, bermacam penyakit akibat kerja, dan dampak lingkungan dari adanya industri.
K3LH merupakan hal penting bagi pekerja karena pekerja yang menjadi penggerak industri dan posisi
pekerja dalam industri adalah yang utama dari sistim kerja, karena tanpa ada pekerja, tidak akan ada
hasil industri.
Oleh sebab itu, agar industri bisa tumbuh dan berkembang dengan cepat dan baik, maka sistem kerja
di setiap industri harus diatur dan dirancang dengan memperhatikan K3LH dan para pekerja. Karena
setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memeroleh perlindungan atas keselamatan dan
kesehatan kerja, moral, dan kesusilaan serta perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat
manusia serta nilai-nilai agama.

Konsep Lingkungan Hidup


Menurut UU No.4 Tahun 1982 tentang pokok-pokok pengelolaan Lingkungan Hidup, jumto UU
No. 23 Tahun 1997, Pasal I bahwa lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan dan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk lainnya
Konsep Lingkungan Hidup
Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan
semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya
yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya

K3 MEKANIK
FAKTOR-FAKTOR KECELAKAAN KERJA MEKANIK

1.
2.
3.
4.

Manajemen
Manusia / Operator
Alat / Pesawat
Kondisi Lingkungan/Tempat Kerja.
FAKTOR MANAJEMEN

1.

Pemberian petunjuk operasional dari atasan yang memberik


an perintah langsung kurang jelas ;
2.
Standard Operasi Procedur tidak diberikan atau kurang jelas
.
FAKTOR MANUSIA/OPERATOR
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Petunjuk yang diberikan tidak jelas


Sikap mental yang kurang disiplin
Ketrampilan kurang
Tidak memahami petunjuk operasional yang telah diberikan
Adanya konfl ik sosial internal/eksternal
Tidak ada kepastian jaminan sosial.
FAKTOR ALAT/PESAWAT
Kondisi pesawat abnormal ;
Kurang perawatan ;
Pengoperasian tidak sesuai dengan manual book ;
Posisi pesawat dengan operator tidak sesuai / kurang ergon
omis, dsb. ;
Tidak ada pengaman / rusak
FAKTOR KONDISI LINGKUNGAN / TEMPAT KERJA
Kurangnya penerangan / cahaya ;
Kurangnya ventilasi ruangan ;
Suhu ruangan panas ;
Tata letak pesawat tidak teratur ;
Lantai kerja kotor / licin ;
Tempat operator kurang leluasa ;
Tidak disediakan APD yg sesuai dengan jenis pekerjaanny