Anda di halaman 1dari 12

Isi Modul

: 1. Materi
2. Evaluasi

Topik I

: Asuhan kebidanan pada kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal


sesuai dengan prosedur dan kewenangan.

Sub Topik

: Praktik penanganan pada gangguan psikologis masa nifas (Konseling)


1. Depresi post partum
2. Post partum blues
3. Post partum psikosa

Waktu

: 1 T = 50 ; 3 P = 300

Peserta didik

: Mahasiswa Prodi Kebidanan D III Tinggkat II/ Semester IV

Prasarat

: Lulus Mata kuliah Semester III

Cara mempelajari modul


1. Bacalah isi pendahuluan modul ini dengan baik, dan secara keseluruhan sehingga Anda
mengetahui isi modul ini, manfaat yang akan Anda peroleh serta bagaimana cara mengkaji
isi modul ini.
2. Baca isi modul ini dengan cermat bagian perbagian.
3. Upayakan Anda benar-benar memahaminya dengan cara berdiskusi dengan teman sejawat
maupun melalui pemahaman Anda sendiri.
4. Kerjakan latihan dan tes formatif yang tersedia dengan sungguh-sungguh dan upayakan
untuk tidak melihat petunjuk jawaban latihan dan kunci jawaban sebelum Anda selesai
mengerjakannya.
5. Selamat belajar dan semoga sukses!

Tujuan Pembelajaran Umum

Mahasiswa mampu Memberikan kemampuan kepada peserta didik untuk memberikan


pertolongan pertama pada kegawatdaruratan maternal neonatal.

Tujuan Pembelajaran Khusus


1.
2.
3.
4.

Memahami konsep kegawatdaruratan maternal neonatal


Memahami prinsip penanganan kegawatdaruratan maternal neonatal
Memahami kondisi maternal neonatal yang beresiko kegawatdaruratan
Memberikan asuhan kebidanan pada kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal sesuai

prosedur dan kewenangan


5. Melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan pada kasus kegawatdaruratan maternal dan
neonatal
Media dan peralatan belajar
Audio Visual

MATERI V
Post Partum Blues
Post partum blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan
kecemasan,labilitas persaan dan depresi pada ibu .

Diperkirakan hampir 50-70% seluruh wanita pasca melahirkan akan mengalami baby
blues atau post natal syndrome yang terjadi pada hari ke-4 -10 pasca persalinan.
Gejala-gejala
Adapun gejalanya yaitu Reaksi depressi / sedih/ disporia. Sering menangis ,mudah
tersinggung,cemas,labilitas perasaan,cenderung menyalahkan diri sendiri,gangguan tidur dan
gangguan nafsu makan,kelelahan,mudah sedih,cepat marah,mood mudah berubah,cepat menjadi
sedih

dan

cepat

menjadi

gembira.

Perasaan

terjebak,marah

kepada

pasangan

dan

bayinya,perasaan bersalah,dan sangat pelupa.


Faktor Faktor Penyebab
Factor yang menyebabkan terjadinya post partum blues bisa terjadi dari dalam dan luar
individu,misalnya: ibu belum siap mengahadapi persalinan; adanya perubahan hormone
progesterone yang ketika masa kehamilan meningkat kemudian turun secara tiba-tiba pasca
persalinan, payudara membengkak dan menyebabkan rasa sakit atau jahitan yang belum sembuh;
ketidak nyamanan fisik yang di alami wanita menimbulkan gangguan pada emosional seperti
payudara bengkak dan nyeri jahitan, rasa mulas; Ketidak mampuan beradaptasi terhadap
perubahan fisik dan emosional yang kompleks; Faktor umum dan paritas;pengalaman dalam
proses persalinan dan kehamilan.
Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan seperti tingkat pendidikan,status
perkawinan,kehamilan yang tidak di inginkan,riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya,social
ekonomi.
Strees dalam keluarga misalnya: factor ekonomi memburuk ,persoalan dengan
suami,problem dengan mertua stress yang di alami wanita itu sendiri misalnya ASI tidak keluar ,
frustasi karena bayi tidak mau tidur.

Kelelahan pasca persalinan, perubahan yang pernah di alami oleh ibu,rasa memiliki bayi
yang terlalu dalam sehingga timbul rasa takut kehilangan bayinya; problem anak, setelah
kelahiran bayi,kemungkinan timbul rasa cemburu dari anak sebelumnya sehingga hal tersebut
cukup mengganggu emosional.
Penanganan
Penanganan gangguan mental pasca persalinan pada prinsipnya tdak berbeda dengan
penanganan gangguan mental pada momen-momen lainnya. Para ibu yang mengalami post
partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan
dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga di penuhi.
Cara untuk mengatasinya,antara lain : komunikasikan segala permasalahan atau hal lain
yang ingin di ungkapkan ; bicarakan rasa cemas yang di alami ;bersikap tulus ikhlas dlam
menerima aktifitas dan peran baru setelah melahirkan ; bersikap fleksible dan tidak terlalu
perfectsionis mengurs bayi dan rumah tangga ; belajar tenang dan menarik nafas
panjang

meditasi ; kebutuhan istrahat yang cukup ,tidurlah ketika bayi sedng tidur ; berolhraga

ringan ;bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru ; dukungan tenaga kesehatan ; dukungan suami
,keluaraga ,teman, teman sesama ibu,konsultasikan pada dokter atau orang yang professional
agar dapat meminimalisir factor risiko lainnya dan melakukan pengwasan.
Klasifikasi
Ringan : post partum blues atau sering juga maternity blues atau sindroma ibu baru di
mengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yang sering tampak pada minggu
pertama setelah persalinan ditandai dengan gejala2 : Reaksi depresi /sedih/disporia; sering
menagis,mudah tersinggung,cemas,labilitas perasaan\

Berat : Depresi berat dikenal sebagai sindroma depresi non piskotik pada kehamilan
namun umumnya trejadi dalam beberapa minggu sampai bulan setelah kelahiran
Gejala-gejala depresi berat : perubahan pada mood ;gangguan pada pola tidur ,perubahan
mental dan libido, dapat pula muncul pobia, ketakutan akan penyakit diri sendiri atau
bayinya,depresi berat akan memiliki resiko tinggi pada wanita atau keluarga yang pernah
mengalami kelainan psikiatrik atau pernah mengalami menstrual sindrom .kemungkinan rekuren
pada kehamilan berikunya.
Penatalaksanaan depresi berat : dukungan keluarga dan sekitar ; terapi psikologis dari
psikiater dan psikolog ; kolaborasi dengan dokter untuk pemberian anti depresan ( hati- hati
pemberian depresan pada wanita hamil dan menyusui ) ; pasien dengan percobaan bunuh diri
sebaiknya jangan di tinggal sendirian dirumah jika di perlukan lakukan perawatan di RS ; tidak
di anjurkan untuk rooming in atau rawat gabung dengan bayinya.
Depresi Post Partum
Depresi post partum merupakan tekanan jiwa sesudah melahirkan mungkin seorang ibu
baru akan merasa benar-benar tidak berdya dan merasa serba kurang mampu,tertindih oleh beban
terhadap tangung jawab terhadap bayi dan keluarganya,tidak bisa melakukan apapuan untuk
menghilangakan perasaan itu.Depresi post partum dapat berlangsung selama 3 bulan atau lebih
dan berkembang menjadi depresi lain lebih berat atau lebih ringan.Gejalanya sama saja tetapi di
samping itu,ibu mungkin terlalu memikirkan kesehatan bayinya dan kemampuanya sebagai
seorang ibu.
Jadi pada dasarnya depresi menyerang siapa aja,tetapi terutama orang-orang usia tengan
baya (usia 35-50 tahun) .Misalnya gagalnya mencapai sasaran-sasaran yang telah di rencanakan
anak-anak mulai meningalkan rumah dan lain-lain,semua ini bisa menyebabkan depresi.Menurut

catatan psikiater orang-prang yang menikah lebih banyak mengalami depresi dari pada
yang yang tidak menikah.Para ahli mengatakan hal ini di sebabkan oleh konflik-konflik
interpersonal yang timbul dalam relasi yang dekat didalam perkawinan.
Di samping itu perempuan dua kali lebih banya di diagnosa sebagai memngalami depresi
dari pada laki-laki penyeba masie belum di ketahui dengan pasti.Apakah mungkin karena
bedanya biologis karena wanita lebih mudah menyatakan perasaanya atau karena perempuan
lebih banyak mengalami stress sosial karena tidak berhasil memenuhi keinginan mereka di
masyarakat.
Predisposisi
Faktor terjadinya depresi post partum diantaranya adalah ada di dalam keluara penderita
penyakit mental ; kurangnya dukungan sosial dan dukungan keluarga serta teman; kekhawatiran
akan bayi yang sebetulnya sehat;kesulitan selama persalinan dan melahirkan;merasa terasing dan
tidak mampu; masalah/perselisihan perkawinan atau keuangan;kehamilan yang tidak di inginkan
Etiologi
Penyebab kesedihan atau depresi atau sehabias melahirkan tidak jelas.Penurunan tingakt
hormon yang tiba-tiba,terutama sekali estrogen dan progesteron dapat berperan. Depresi yang
hadir sebelum kehamilan lebih mungkin berkembang ke dalam depresi post partum wanita yang
telah memiliki depresi sebelum hamil harus memberitahukan kepada dokter atau bidan mengenal
hal tersebut selama kehamilam. Depresi juga merupakan sebuah penyakit yang berlangsung di
dalam sebuah keluarga.Kadangkalah tidak jelas penyebab dari depresi itu sendiri.
Faktor penyebab depresi post partum di sebabkan oleh 4 faktor yaitu sebagai berikut :
1. Faktor kostitusional: ganguan post partum berkaitan dengan status paritas riwayat obstetri
pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin serta ada komplikasi dari kehamilan dan

persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara.Primipara lebih umum
menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara berada dalam proses
adaptasi,kalau dulu hanya memikirkn diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham
perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap di rawat.
2. Faktor fisik: Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya ganguan mental
slama 2 minggu pertama menunjukan bahwa faktor fisik di hubungkan dengan kelahiran
pertama merupakan faktor penting.Perubahan hormon scara drastis setelah melahirkan dan
periode laten selama 2 hari diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat
berpengaruh pada keseimbangan.Kadang-kadang progesteron naik dan estrogen menurun
secara cepat setelah melahirkan merupakan penyebab yang sudah pasti.
3. Faktor psikologis: Peralihan yang cepat dari keadaan dua dalam satu pada akhir kehamilan
menjadi dua induvidu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian pesikologis induvidu.
Klaus dan kennel mengindikasikan pentingnya cinta dan penangulangan masa peralihan ini
untuk memulai hubungan baik antara ibu dan anak.
4. Faktor sosial : Paykel mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering
menimbulkan depresi pada ibu-ibu selain kurangnya dukungan dalam perkawinan.

Klasifikasi
Ada 3 tipe depresi post partum diantaranya yaitu :
1. Depresi ringan (Kemurungan): inilah tipe depresi yang paling umum.Biasanya singkat dan
tidak terlalu mengangu-mengangu kegiatan-kegiatan normal.
2. Depresi sedang/moderat(perasaan tak berpengharapan: Geja;anya hampir sama dengan
depresi ringan tetapi lebih kuat dan lebih lama berakhir.
3. Depresi berat (terpisah dari realita): Kehilangan interesdari dunia luar dan perubahan tingkah
laku yang serrius dan berkepanjangan merupakan karakteristiknya.

Psikosa Post Partum


Psikosa pospartum Merupakan gangguan jiwa yang berat yang ditandai dengan waham,
halusinasi dan kehilangan rasa kenyataan ( sense of reality ) yang terjadi kira-kira 3-4 minggu
pasca persalinan. Merupakan gangguan jiwa yang serius, yang timbul akibat penyebab organic
maupun emosional ( fungsional ) dan menunjukkan gangguan kemampuan berfikir, bereaksi
secara emosional, mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan tindakan sesuai
kenyataan itu, sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan hidup sehari-hari sangat
terganggu.
Psikosa postpartum adalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu
setelah melahirkan.Psikosa terbagi dalam dua golongan besar, yaitu :
1. Psikosa fungsional
Merupakan gangguan psikologis yang faktor penyebabnya terletak pada aspek kejiwaan,
disebabkan karena sesuatu yang berhubungan dengan bakat keturunan, bisa juga disebabkan
oleh perkembangan atau pengalaman yang terjadi dalam kehidupan seseorang.
2. Psikosa organic
Disebabkan oleh kelainan atau gangguan pada aspek tubuh, kalau jelas sebab-sebab dari
suatu psikosa fungsional adalah hal-hal yang berkembang dalam jiwa seseorang.
Faktor resiko
1.
2.
3.
4.

Riwayat psikosis, gangguan bipolar (GB) atau skizofrenia


Riwayat keluarga psikosis, gangguan bipolar, atau skizofrenia
Berulang pada 20 50 % kasus.
Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifatepisodik dan ditandai oleh
gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat

berlangsung seumur hidup


5. Skizofrenia : gejala-gejala psikotik yang khas dan oleh kemunduran fungsi sosial, fungsi
kerja, dan perawatan diri.

6. Skizofrenia Tipe I ditandai dengan menonjolnya gejala-gejala positif seperti halusinasi,


delusi, dan asosiasi longgar, sedangkan pada
7. Skizofrenia Tipe II ditemukan gejala-gejala negative seperti penarikan diri, apati, dan
perawatan diri yang buruk.
Wanita dengan riwayat pribadi psikosis, gangguan bipolar atau skizofrenia memiliki peningkatan
risiko mengembangkan psikosis postpartum. Demikian juga, wanita yang memiliki riwayat
keluarga psikosis, gangguan bipolar atau skizofrenia memiliki kesempatan lebih besar untuk
mengembangkan gangguan tersebut. Additonally, wanita yang telah memiliki insiden masa lalu
postpartum psikosis adalah antara 20% dan 50% lebih mungkin mengalami lagi dalam masa
kehamilan.

Etiologi
1. Faktor sosial kultural ( dukungan suami dan keluarga, kepercayaan atau etnik )
2. Faktor obstetrik dan ginekologik ( kondisi fisik ibu dan kondisi fisik bayi )
3. Faktor psikososial ( adanya stresor psikososial, faktor kepribadian, riwayat mengalami
4.
5.
6.
7.
8.

depresi, penyakit mental, problem emosional dll )


Faktor keturunan
Karakter personal seperti harga diri yang rendah.
Perubahan hormonal yang cepat.
Masalah medis dalam kehamilan ( pre-eklampsia, DM ).
Marital disfungsion atau ketidak mampuan membina hubungan dengan orang lain yang

mengakibatkan kurangnya dukungan.


9. Unwanted pregnancy atau kehamilan tidak di inginkan
10. Merasa terisolasi.
11. Kelemahan, gangguan tidur ( imsomnia ), ketakutan terhadap suatu masalah, ketakutan akan
melahirkan anak cacat atau tidak sempurna.
Disamping itu, disebabkan karena wanita menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik
lainnya yang disebut schizoaffektif disorder. Wanita tersebut mempunyai resiko tinggi untuk
terkena post partum psikosa.

Patofisiologi
Kesehatan jiwa wanita sangat mempengaruhi kesehatan wanita. Pada usia produktif
gangguan kesehatan wanita sering berhubungan dengan perannya sebagai istri, ibu dan pekerja,
kondisi kesehatan fisik terutama kondisi bagian tubuh yang menjadi simbol kewanitaan,
penganiayaan fisik dan mental. Proses berduka, kemurungan dan psikosa pasca melahirkan, serta
bunuh diri yang merupaka reaksi negatif dari ganggguan terhadap kesehatan jiwa.
Penelitian psikodinamik menunjukkan, pada gangguan psikiatrik pasca persalinan
terdapat konflik antar ibu dengan perannya sebagai ibu yang harus mengasuh anaknya, dengan
kelahiran anaknya dan hubungan dengan suaminya. Konflik ini mempunyai peranan dalam
menentukan identitas dirinya sebagai ibu yang tidak dapat berkomunikasi dengan bayinya,
menghambat ibu menemukan jati dirinya, dan merupakan hambatan dini hubungan timbal balik
antara ibu dan anak.
Gangguan psikoatrik yang terjadi pada masa pascapersalinan bukan suatu sindrom
psikiatrik yang baru, tapi merupakan gangguan yang biasa didapat, antara lain postpartum blues,
depresi postpartum dan psikosis postpartum. Gangguan ini dapat terjadi mulai sejak hari pertama
sampai 4-6 minggu pasca melahirkan. Bahkan marce sosiety mengemukakan psikosa ini dapat
terjadi sampai 1 tahun setelah melahirkan.
Gejala yang dapat timbul pada masa ini sangat berat, berbahaya dan merupakan kondisi
darurat

sebab

penderita

dapat

membahayakan

diri

sendiri

dan

mengganggu

lingkungannya,seperti tindakan bunuh diri dan membunuh bayinya. Gangguan nonpsikotik pada
periode pascapersalinan cukup tinggi, penelitian menunjukkan 20-40% wanita hamil mengalami
gangguan emosional atau disfungsi kognitif, ataupun keduanya. Angka kejadian psikosis

pascapersalinan adalah 1-2 per 1000 kelahiran dari seluruh wanita pascapersalinan.Umumnya
gangguan psikiatrik pasca melahirkan timbul setelah hari ke 3 pasca persalinan.

Tanda dan Gejala


Gejala awal:
1. Perasaan sedih, kecewa dan putus asa
2. Sulit tidur atau imsomnia
3. Sering menangis
4. Gelisah, cemas dan iritable yang berlebihan
5. Merasa Letih dan lelah
6. Semangat menurun ataupun kehilangan sensasi menyenangkan
7. Mudah tersinggung / labil
8. Sakit kepala
9. Peningkatan ataupun penurunan berat badan secara tiba-tiba
10. Memperlihatkan penurunan minat pada bayinya
11. Menolak makan dan minum
Gejala lanjutan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Curiga berlebihan
Kebingungan
Sulit konsentrasi
Bicara meracau atau inkoheren\
Irasional
Pikiran obsesif ( pkiran yang menyimpang dan berulang-ulang )
Agresif
Impulsif ( bertindak diluar kesadaran )
Walaupun banyak wanita pasca melahirkan mengalami depresi postpartum tapi tidak

semuanya berlanjut menjadi psikosa postpartum. Tapi setiap psikosa postpartum pasti di awali
oleh depresi pospartum dan bisa sampai melukai diri sendiri bahkan membunuh anak-anaknya.
Gejala yang sering terjadi adalah:
1. Delusi

2. Halusinasi
3. Gangguan saat tidur
4. Obsesi mengenai bayi
Penanganan
Respon yang terbaik dalam menangani kasus psikosis pospartum ini adalah kombinasi
antara psikoterapi, lingkungan sekitar ibu dan medikasi seperti antidepresan, jika tidak
memungkinkan untuk ibu dirawat dirumah sebaiknya ibu dirawat dirumah sakit. Libatkan
anggota keluarga dalam penanganan terutama suami sehingga dapat dibangun pemahaman dari
orang-orang terdekat ibu terhadap apa yang dirasakan dan dibutuhkan ibu.
EVALUASI
ESSAY
1. Bagaimana peran anda sebagai bidan sebagai seorang bidan dalam menghadapi kasus
bendungan ASI?
2. Sebutkan penyebab dan gejala post partum blues!
3. Bagaimana peran bidan dalam mencegah terjadinya postpartum blues?

REFERENSI
Sari, E.P & Rimandhini K. D. (2014) Asuhan Kebidanan pada Masa NIfas dan Menyusui.
Jakarta Cv: Trans info Medika.
REKOMENDASI
Marlitalia, D. (2012) Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.