Anda di halaman 1dari 17

PEMERIKSAAN ANALISA SPERMA

1. Penerangan dan cara penampungan sperma manusia


Sebelum melakukan analisis sperma perlu terlebih dahulu untuk
memberikan penerangan sejelas-jelasnya kepada pria yang akan diperiksa
tersebut mengenai maksud dan tujuan analisis sperma dan juga untuk
menjelaskan

cara

pengeluaran

dan

penampungan

sperma

tersebut.

Penerangan mengenai cara pengeluaran, penampungan dan pengiriman


sperma ke laboraturium. Sebelum pemeriksaan dilakukan sebaiknya pasien
dianjurkan untuk memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Melakukan abstinensia selam 3 5 hari, paling lama selama 7 hari.
b. Pengeluaran ejakulat sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan harus
dikeluarkan di laboratorium. Bila tidak mungkin,harus tiba di laboraturium
paling lambat 2 jam dari saat pengeluaran.
c. Ejakulat ditampung dalam wadah / botol gelas bemulut besar yang bersih
dan steril ( jangan sampai tumpah ), Kemudian botol ditutup rapat-rapat
dan diberi nama yang bersangkutan.
d. Pasien mencatat waktu pengeluaran mani, setelah itu langsung di serahkan
pada petugas laboraturium untuk pemeriksaan dan harus diperiksa
sekurang-kurangnya 2 kali dengan jarak antara waktu 1-2 minggu. Analisis
sperma sekali saja tidak cukup karena sering didapati variasi antara
produksi sperma dalam satu individu.
e. Sperma dikeluarkan dengan cara : rangsangan tangan (onani/masturbasi),
bila tidak mungkin dapat dengan cara rangsangan senggama terputus
(koitus interuptus) dan jangan ada yang tumpah.
f. Untuk menampung sperma tidak boleh menggunakan botol plastik atau
kondom.
1.1.

Beberapa cara memperoleh sperma


a. Masturbasi / Onani
Cara ini merupakan methode yang paling dianjurkan untuk memperoleh
sperma, biasanya dengan tangan (baik tangan sendiri maupun tangan
istrinya) atau dengan suatu alat tertentu. Kebaikan cara ini menghindari
kemungkinan tumpah ketika menampung sperma, menghindari dari
pencemaran

sperma

dengan

zat-zat

yang

lain.

b. Coitus Interuptus ( CI )
Adalah melakukan persetubuhan secara terputus, hal ini kurang baik
dianjurkan sebab :
Memungkinkan sperma dapat tercampur dengan cairan vagina,
sehingga banyak mengandung epitel, leukosit, eritosit, bakteri,
parasit, jamur dll.
Dalam jumlah penampungannya kurang, karena sperma sebagian
dapat mesuk ke vagina. Disamping itu terjadi kesalahan pada
pemeriksaan PH dan konsentrasi.
c. Coitus Condomatosus
Pengeluaran sperma dangan cara ini dilarang dan sangat tidak
diperkenankan. Karena sebagian besar karet kondom mengandung
bahan spermiacidal, yaitu bahan yang dapat mematikan sperma
d. Reflux poscital
Adalah suatu cara Coitus dimana setelah sperma keluar dan masuk
kevagina, sperma tersebut dibilas demga pz atau cairan lainnya. Hal ini
akan timbul kekeliruan dalam volume konsentrasi dan viskositas.
e. Massage prostat
Adalah suatu cara pengeluaran dengan cara memijat kelenjar prostat
lewat rectum, disini jelas akan timbul kekeliruan dalam penafsiran pH,
konsentrasi dan sebagainya yang keluar adalah cairan prostat.
Jadi cara memperoleh sperma yang paling baik adalah dengan onani
meskipun faktor psikis ada pengaruhnya. Hal ini dapat terjadi pada
orang desa, orang tertentu yang tidak bisa melakukan onani atau orang
yang tidak mengerti tentang onani.
Biasanya orang kota lebih gampang dari pada orang desa, orang muda
lebih mudah dari pada orang tua, orang yang tidak di sunat lebih
gampang daripada orang yang di sunat, juga pengaruh religius.
Cara memperoleh sperma sebagai pilihan kedua adalah dengan cara

Coitus

Interuptus

bila

alasan

religius

cara

pertama

tidak

memungkinkan.
1.2 Tempat Penampung Sperma
Sebenarnya semua alat boleh dipakai asalkan tempat tersebut tidak
mengandung

spermatotoxic.

Sperma

sangat

tidak

dianjurkan

ditampung pada tempat-tempat yang terbuat dari :


1. Logam, sebab logam bisa mengganggu muatan listrik dan sperma,
sehingga pergerakannya tergaggu.
2. Plastik sebab plastik umumnya mengandung gugus fenol
(C6H5OH)

sehingga

sperma

akan

rusak.

Pada umumnya tempat yang digunakan menampung sperma terbuat


dari gelas yang bersih . tidak mengandung spermatotoxic. Tetapi
sperma dilarang ditempat yang terbuat dari :
Tempat penampung sperma dianjurkan ditampung pada tempat
yang terbuat dari bahan yang tidak bereaksi apa-apa.
Tempat penampung sperma harus bermulut lebar supaya muat
pada penis.
Tempat diberi penutup agar tidak terkontaminasi
Ukuran tempat penampung sperma 50 ml 100 ml.
2. Pelaksanaan Analisa Sperma
Spermiogram memuat data-data tentang :
1. Volume sperma.
2. Bau.
3. pH
4. Warna.
5. Liquefaction.
6. Viskositas.
7. Aglutinasi.
8. Jumlah sperma / lapangan pandang.
9. Pergerakan spermatozoa.
10. Leucocyte.
11. Fruktosa.

2.1. Analisa sperma Secara Makroskopis


Sperma yang baru keluar selalu menunjukan adanya gumpalan atau
koagolum diantara lendir putih yang cair. Pada sperma yang normal
gumpalan ini akan segera mencair pada suhu kamar dalam waktu 15
20 menit. Peristiwa ini dikatakan sperma mengalami pencairan
(Liquefaction).
Liquefaction terjadi karena daya kerja dari enzim enzim yang
diproduksi oleh kelenjar prostat, enzim ini disebut enzim seminim.
Pemeriksaan

makroskopis

antara

lain

meliputi

a. Pengukuran Volume
Dilakukan setelah sperma mencair, cara kerja :
Sperma ditampung seluruhnya dalam botol penampung yang bermulut

lebar untuk sekali ejakulasi


Volume diukur dengan gelas ukur yang mempunyai skala volume 0,1

ml.
Kemudian

baca

hasil.

Volume normal sperma belum jelas sampai sekarang, disebabkan lain


bangsa lain volume. Bagi orang indonesia volume yang normal 2 3
ml. Volume yang lebih dari 8 ml disebut Hyperspermia, Sedangkan
yang

kurang

dari

ml

disebut

Hypospermia.

Hypospermia disebabkan oleh :


Ejakulasi yang berturut-turut
Vesica seminalis kecil ( buntu cabstuksi )
Penampung sperma tidak sempurna

Hyperspermia disebabkan oleh :

Kerja kelenjar prostat dan vesika seminalis terlalu giat.


Minum obat hormon laki laki.

Kesan volume ini menggambarkan kerja kelenjar prostat dan vesika


seminalis.
b. PH

Sperma yang normal tidak banyak berbeda dengan pH darah, untuk


mengukur pH cukup dengan menggunakan kertas pH kecuali dalam satu
penelitian dapat digunakan pH meter. Cara kerjanya :
Celupkan kertas pH dalam sperma yang homogen yang terdapat dalam
botol penampung, baca hasil. Sperma yang normal pH menunjukan sifat
yang agak basa yaitu 7,2 7,8. pengukuran sperma harus segera dilakukan
segera setelah sperma mencair karena akan mempengaruhi pH sperma.
Juga bisa karena sperma terlalu lama disimpan dan tidak segera diperiksa
sehingga tidak dihasilkan amoniak ( terinfeksi oleh kuman gram (-),
mungkin juga karena kelenjar prostat kecil, buntu, dan sebagainya.
pH yang rendah terjadi karena keradangan yang kronis dari kelenjar
prostat, Epididimis, vesika seminalis atau kelenjar vesika seminalis kecil,
buntu dan rusak.
c. Bau Sperma
Spermatozoa yang baru keluar mempunyai bau yang khas atau
spesifik, untuk mengenal bau sperma, seseorang harus telah mempunyai
pengalaman untuk membaui sperma. Sekali seorang telah mempunai
engalaman, maka ia tidak akan lupa akan bau sperma yang khas tersebut.
Baunya Sperma yang khas tersebut disebabkan oleh oksidasi spermin
(suatu poliamin alifatik) yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat.
Cara pemeriksaannya :
Sperma yang baru keluar pada botol penampung dicium baunya
Dalam laporan bau dilaporkan : khas / tidak khas
Dalam keadaan infeksi sperma berbau busuk / amis. Sacara biokimia
sperma

mempunyai

bau

seperti

klor

kaporit.

d. Warna sperma
Memeriksa warna sperma sekaligus memeriksa kekeruhan,
sperma yang normal biasanya berwarna putih keruh seperti air kanji
kadang-kadang agak keabu-abuan. Adanya lekosit yang disebabkan oleh
infeksi traktus genitalia dapat menyebabkan warna sperma menjadi putih
kekuningan.
kemerahan.
Cara kerja :

Adanya

perdarahan

menyebabkan

sperma

berwarna

Sperma yang ada dalam tabung reaksi diamati dengan


menggunakan latar belakang warna putih menggunakan penerangan yang
cukup.
e. Liquefection
Liquefaction dicheck 20 menit setelah ejakulasi (setelah
dikeluarkan).

Dapat

dilihat

dengan

jalan

melihat

coagulumnya.

Bila setelah 20 menit belum homogen berarti kelenjar prostat ada


gangguan (semininnya jelek).
Bila sperma yang baru diterima langsung encer mungkin :
Tak mempunyai coagulum oleh karena saluran pada kelenjar vesica
seminalis buntu atau memang tak mempunyai vesika seminalis.
f. Viskositas (Kekentalan)
Kekentalan atau viskositas sperma dapat diukur setelah likuifaksi sperma
sempurna. Pemeriksaan viskositas ini dapat dilakukan dengan dua cara :
1. Cara subyektif
Dengan menyentuh permukaan sperma dengan pipet atau batang
pengaduk, kemudian ditarik maka akan terbentuk benang yang
panjangnya 3 5 cm. Makin panjang benang yang terjadi makin
tinggi viskositasnya.
2. Cara Pipet Elliason
Syaratnya sperma harus homogen dan pipet yang digunakan harus
kering. Mengukur vikositas dengan menggunakan pipet elliason.
Prosedurnya cairan sperma dipipet sampai angka 0,1, kemudian atas
pipet ditutup dengan jari. Setalah itu arahkan pipet tegak lurus dan
stopwath dijalankan, jika terjadi tetesan pertama stopwath dimatikan
dan hitung waktunya dengan detik. Vikositas sperma normal < 2 detik.
Semakin kental sperma tersebut semakin besar vikositasnya.
Hal ini mungkin disebabkan karena :
- Spermatozoa terlalu banyak
- Cairannya sedikit
- Gangguan liquedaction
- Perubahan komposisi plasma sperma
- Pengaruh obat-obatan tertentu.
g. Fruktosa Kualitatif

Fruktosa sperma diproduksi oleh vesica seminalis. Bila tidak didapati


fruktosa dalam sperma, hal ini dapat disebabkan karena
- Azospermia yang disebabkan oleh agenesis vas deferens
- Bila kedua duktus ejakulatorius tersumbat
- Kelainan pada kelenjar vesika seminalis
Cara pemeriksaan fruktosa :
- 0.05 ml sperma + 2 ml larutan resolsinol ( 0.5 % dalam alkohol 96% )
-

campur sampai rata.


Panaskan dalam air mendidih 5 menit.
Bila sperma mengandung fruktosa maka campuran diatas menjadi

merah coklat atau merah jingga.


Bila tidak ada fruktosa maka tidak menjadi perubahan warna.
Pemeriksaan fruktosa kualitatif ini harus merupakan pemeriksaan rutin
pada sperma azoospermia

2.2

Analisa Sperma Secara Mikroskopik


Sebelum pemeriksaan mikroskopik, sperma tersebut harus diaduk
dengan baik, untuk pemeriksaan mikroskopik maka 1 tetes sperma,
diameter sekitar 2 3 mm, diletakan diatas gelas objek yang bersih dan
kemudian ditutup dengan gelas penutup, Setelah itu siap di periksa
dibawah pembesaran 100 X atau 400-600 X.
1. Jumlah Sperma Perlapang Pandang / Perkiraan densitas sperma
Sebelum menentukan atau menghitung konsentrasi sperma perlu
dilakukan perkiraan kasar jumlah sperma agar dapat menentukan
prosedur

pengenceran

mempersiapkan

sediaan

yang
apus

akan

digunakan

untuk

analisis

dan

untuk

morfologi.

Cara Pemeriksaanya :
- Diaduk sperma hingga homogeny
- Diambil 1 3 tetes cairan sperma ditaruh diatas obyek glass
-

lalu ditutup dengan cover glass(ukuran standar)


Kemudian dilihat dibawah mikroskop dengan perbesaran 40 X
Dihitung berapa banyak spermatozoa pada beberapa lapang
pandang

Misalnya dihitung berturut-turut : lapang pandang


I = 10 Spermatozoa
II = 5 Spermatozoa

III = 7 Spermatozoa
IV = 8 Spermatozoa
Disini dalam laporan dituliskan terdapat 5 10 spermatozoa
perlapang pandang. Perkiraan konsentrasi spermatozoa dikalikan
dengan 106 berarti perkiraan konsentrasi spermatozoa adalah 5
10 juta/ml
Kalau spermatozoanya banyak dihitung perkwadran (1/4 lapang
pandang). Misalnya Lapang pandang = 50 spermatozoa, jadi
perlapang pandang 200 spermatozoa. Perkiraan konsentrasi
spermatozoa dikalikan dengan 106 berarti perkiraan konsentrasi
spermatozoa adalah 200 juta/ml.
Kalau dilihat perlapang pandang didapatkan nol spermatozoa maka
tidak usah dilakukan pemeriksaan konsentrasi, jadi disini
menghemat tenaga dan reagensia, bila didapatkan nol spermatozoa
disebut Azoospermia.
Azoospermia dapat disebabkan oleh karena :
-

Testisnya kecil atau rusak


Salurannya testis buntu (obstruksi)
Vasectomy bila diperlukan untuk check up

Apabila Azoospermia, ini menggambarkan operasi vasectomy


tersebut berhasil dan ini sangat menggembirakan pasien
- Over dosis Androgen dan corticosteroid
2. Pergerakan Sperma
Pada pemeriksaan perlapang pandang sekaligus kita memeriksa
pergerakan spermatozoa dalam memeriksa pergerakan spermatozoa
sebaiknya diperiksa setelah 20 menit karena dalam waktu 20 menit
sperma tidak kental sehingga spermatozoa mudah bergerak akan
tetapi jangan lebih dari 60 menit setelah ejakulasi sebab dengan
bertambahnya waktu maka :
- spermatozoa akan memburuk pergerakannya.
- pH dan bau mungkin akan berubah .
- spermatozoa yang bergerak baik adalah gerak kedepan dan
arahnya lurus, gerak yang kurang baik adalah gerak zig-zag,
berputar-putar dan lain-lain

Jangan sekali-kali menyebut spermatozoa itu mati yang betul

adalah spermatozoa tidak bergerak


Pemeriksaan sebaiknya dilakukan pada suhu kamar (20OC - 25
OC).

Perhitungan

Dihitung dulu spermatozoa yang tidak bergerak kemudian dihitung


yang bergerak kurang baik, lalu yang bargerak baik misal :
-

yang tidak bergerak = 25%


yang bergerak kurang baik = 50%
yang bergerak baik = 100% - 25% - 50% = 25%
Prosentase pergerakan cukup ditulis dengan angka bulat
(umumnya

kelipatan

misalnya

10%,15%,

20%)

Kalau sperma yang tidak bergerak > 50% maka perlu


dilakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui viabilitas
sperma (banyaknya sperma yang hidup) sebab sprermatozoa
yang tidak bergerakpun kemungkinan masih hidup.
Sebab menurunnya motilitas spermatozoa
Dilakukan pemeriksaan yang terlalu lama sejak sperma
dikeluarkan.
Cara penyimpanan sampel yang kurang baik.
3. Perhitungan Jumlah Sperma
Perhitungan konsentrasi spermatozoa dapat ditentukan dengan
mengunakan metode hemositometer atau electronic coulter
counter. Metode hemositometer lebih sering digunakan untuk
sperma yang mempunyai perkiraan spermatozoa yang sangat
rendah (misalnya 10 juta/ml) atau pemeriksaan sperma yang
memerlukan

penentuan

jumlah

dengan

segera.

Metode

hemositometer ini dipergunakan di sebagian besar negara.


Sperma yang telah diaduk dengan baik diencerkan 1 :10,
1:20,1:50,atau

1:100

tergantung

pada

perkiraan

jumlah

spermatozoa yang telah dilakukan sebelumnya. Sebagai pengencer


berisi 50 gr NaHCO3, 10 ml 35% formalin, 5 ml cairan gentian
violet pekat dan aquadestilita sampai 1000 ml. Pewarnaan tidak
diperlukan bila dipergunakan mikroskop fase kontras. Perlu

digunakan 2 pengenceran untuk setiap sperma. Meskipun sering


digunakan pipet leukusit tidak cukup tepat untuk digunakan sebagai
alat pengenceran dan karena itu disarankan sebagai alat
pengenceran dipergunakan pipet mikro modern (10, 50, 100 atau
200ul). Sperma yang diencerkan harus diaduk lebih dahulu dan
segera dipindahkan ke hemositometer (kamar hitung Neubauer)
yang

telah

ditutup

dengan

gelas

penutup.

hemositometer ini diletakan kamar lembab selama 15 menit sampai


20 menit agar semua sel mengendap kemudian dihitung dibawah
mikroskop cahaya atau mikroskop fase kontras dan pembesaran
100 atau 100X spermatozoa (sel benih yang matang yang
mempunyai ekor yang dihitung). Perbedaan antara jumlah sperma
dari kedua pengenceran tadi tidak boleh lebih dari 10 % pada
sperma yang mempunyai densitas rendah atau 20% pada sperma
yang

mempunyai

densitas

tinggi

(>

60

juta/ml).

Perlu dipahami bahwa yang disebut konsentrasi sperma adalah


jumlah spermatozoa/ml sperma. Sedangkan jumlah spermatozoa
total
Prosedur

ialah

jumlah

perhitungan

spermatozoa
spermatozoa

dalam

dengan

ejakulat.

menggunakan

hemositometer (kamar hitung Neubauer) adalah sebagai berikut :


Hitung jumlah sperma dengan objek 40 x pada daerah leukosit,
cukup

satu

Kamar

hitung

bidang
Neubeur

saja

(tidak

untuk

perlu

menghitung

bidang)

spermatozoa

Perhitungan :
Luas = 1 mm2
Tinggi = 0,1 mm
Vol = 0,1 mm3
Jumlah sperma dalam 1 mm3 = 1/0,1 X pengenceran X N
=
=

10
10

X
N

N
X

X
Pengenceran

pengenceran
/mm3

Jumlah spermatozoa / cc = 10 N X Pengenceran x 1000


N = Jumlah sperma yang dihitung dalam kotak W

Morfologi
Pemeriksaan morfologi berdasarkan kepala dari spematozoa dapat
dilakukan

dengan

cara

Membuat preparat hapusan diatas obyek glass keringkan selama 5


menit, lalu di fixasi dengan larutan metilalkohol selama 5 menit,
kemudian selanjutnya dilakukan pewarnaan dengan larutan giemsa,
wright, atau zat warna yang lain menurut kesukaan sendiri.
Bentuk

Normal

Bentuk

Bentuk

spermatozoa

Piri

Bentuk

oval

abnormal
Seperti

buah

pir

Brntuk terato ( tidak beraturan dan berukuran besar )

Bentuk

Bentuk

Mikro

lepto

Kepala

seperti

ceking

jarum

pentul

Bentuk

Bentuk

Strongyle

Lose

seperti

Hezel

larva

stongyloides

Tanpa

kepala

Bentuk Immature ( spermatozoa belum dewasa, terdapat

cytoplasmic

Cytoplasmic

droplet

Arti

klinik

1. Banyak kepala normal / oval berarti fungsi testis baik


2.

banyak

bentuk

3.

banyak

sel

bukan

imatur,

oval
epidemis

fungsi
banyak

testis

jelek

gangguan.

Misalnya : radang varicocle atau abstinensia seksualitasnya kurang


lama.
5.

Lekosit

Leukosit di laporkan per lapang pandang seperti halnya dalam


sedimen urin, misalnya 3 8 perlapang pandang. Jumlah lekosit
yang besar erat hubunganya dengan infeksi organ organ

spermiogenesis.
2.3.

Analisa

Sperma

Secara

Kimia

Pemeriksaan kimia terbatas pada perhitungan kadar fruktosa, nilai


normal fruktosa adalah : Fruktosa tersebut berasal dari vesiculze
Seminalis
Cara

pemeriksaan

Fruktosa

Regensia

1.

Larurtan

2.

Larutan

Ba(OH)2

0,3N

SO4

0,175M

Zn

3. Larutan Resorcinol 0,1% dalam 100ml alkhohol 95%.


4. Standar fruktosa stock 50 mg fruktosa larut dalam 100 ml asam
benzoat

0,2

Standar fruktosa 1 ml standar fruktosa stock diencerkan dengan


H2O

100ml.

Konsentrasi

200

mg

fruktosa

dalam

Prosedur

mani.
Kerja

1. Lakukan diproteinsasi mani yang akan diperiksa dengan terlebih


dahulu mengencerkan 0.1 ml mani dengan 2.9 ml air. Kemudian
tambah 0.5 ml larutan Ba(OH)2 campur tambahan 0.5 ml Zn SO4.
kemudian

dicentrifuqe.

2. Sediakan 3 tabung , satu tabung Tt (test) S (standar) dan B


(banko)
Tabung
Tabung
Tabung

diisi
S

ml

cairan

ml

sebagai

fruktosa

ml

aquadest

diisi
B

diisi

pada

langkah

3. Ketiga tabung ditambah masing - masing 2 ml recorcinol dan 6


ml

HCl

4. Campur isi tabung, panasi dalam weter bath 900 C selama 10


menit

5. Baca aboubusi T terhadap S pada 490 mm dengan


spektrofotometer
6. Hitung kadar fruktosa dengan rumus AT / AS x 200 = mg/dl
Kadar

Fruktosa

3.

sperma

normal

Interprestasi

120

Hasil

450

mg/dl

Analisa

Sperma

NO
ISTILAH

Jumlah

Spermatozoa
(juta/ml)

Motil

Normal
(%)

Morfologi

Normal
(%)
1

Normozoospermia

Oligozoospermia

Ekstrim

Asthenozoospermia

Teratozoospermia

Oligo
Oligi

>
>

Asthenozoospermia
Astheno

Oligo

Astheno

10

<

Oligozoospermia

4
6

>

20

>

80

>

50

20

>

50

>

50

<

50

20

Teratozoospermia
Teratozoospermia

Polizoospermia

>

<

20

>

<

20

Teratozoospermia
<

>

20

20

>

20

250

>

>

50

50

>

50

50

<

50

<

<

>

50

50
<

<
50

>

50

<

50
50

50

<

50

50

<

50

>

50

11 Azoospermia Bila tidak ada spermatozoa dalam cairan sperma


12 Nekrozoospermia Bila semua sperma tidak ada yang hidup
13 Aspermia Tidak ada cairan semen yang keluar saat ejakulasi

Diposkan oleh AMIR GOZALIdi Senin, Januari 26, 2009


1 komentar:
1.
RayadiS.com17 Agustus 2012 12.19
Suami saya beberapa hari yang lalu melakukan analisis
sperma dan hasilnya sangat buruk spermanya memiliki
volume 1 ml dan pH 8, motilitasnya dibawah normal hanya
19%,kemudian banyaknya sperma hanya 2,8 juta, untuk
morfologinya

hanya

23%.

apakah masih memungkinkan untuk menghasilkan keturunan?


trims
Balas
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Blog Amir Gozali

Profil

Buat Lencana Anda


Pengikut
Arsip Blog

2009 (7)

April (1)

Januari (6)
SAMPLING DARAH KAPILER Prinsip : Melakukan

pen...

PEWARNAAN

pewarnaan dif...

Foto Keluarga

Analisa Sperma

GRAM

Prinsip

Merupakan

Pengambilan darah Vena

Info Analis
Mengenai Saya

AMIR GOZALI
DEPOK, JAWA BARAT, Indonesia
Staf pengajar SMK Tunas Harapan, Karyawan RSKD. Duren Sawit
Lihat profil lengkapku