Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam
tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (betina), terutama
menyerang anak remaja dan dewasa dan sering kali menyebabkan kematian
bagi penderita(Effendy, Skp, 2002). DHF dapat menimbulkan beberapa
masalah salah satunya adalah dehidrasi. Dehidrasi adalah gangguan dalam
keseimbangan cairan atau air pada tubuh. (Benjamin, 2014)
Berdasarkan hasil data dari BKKBN RUBRIK sekitar 2.5 milyar orang
(2/5 penduduk dunia) mempunyai resiko untuk terkena infeksi virus dengue.
Lebih dari 100 negara tropis dan sub tropis pernah mengalami letusan demam
dengue dan demam berdarah. Kurang lebih 500.000 kasus setiap tahun di
rawat di rumah sakit dan ribuan orang diantaranya meninggal dunia. Sejak
awal tahun 2009 hingga 9 Maret, penderita Demam Berdarah Dengue (DBD)
di Indonesia sekitar 1.500 kasus, 10 penderita diantaranya meninggal dunia.
Berbagai masalah keperawatan dapat terjadi pada pasien DHF adalah
hipotermi, kekurangan volume cairan (mual, muntah), kebutuhan nutrisi
kurang, dan resiko gangguan jaringan perifer. Mengingat banyaknya masalah
keperawatan yang dialami pasien maka perlu dilakukan asuhan keperawatan
dengan tepat, saat memberikan asuhan kaperawatan, perawat dapat berperan
memonitor

tanda-tanda

perdarahan,

memonitor

tanda-tanda

syok

hipovolemik, mampu melakukan rehidrasi, mampu menganalisa hasil laborat


yang signifikan terhadap DHF.
Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah
meningkatnya permeabilitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya
perembesan plasma ke ruang ekstra seluler. Hal pertama yang terjadi stelah

virus masuk ke dalam tubuh adalah viremia yang mengakibatkan penderita


mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh
tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia
tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar
getah bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa
(Splenomegali). Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan
berkurangnya volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan
hipoproteinemia

serta

efusi

dan

renjatan

(syok).

Hemokonsentrasi

(peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan adanya


kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting
untuk patokan pemberian cairan intravena. Adanya kebocoran plasma ke
daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan yang
tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum, pleura, dan pericard
yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus.
Setelah

pemberian

cairan

intravena,

peningkatan

jumlah

trombosit

menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan


intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah
terjadinya edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapatkan
cairan yang cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat
mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan. Jika
renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan,
metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik.
Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan
vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi. Pada otopsi penderita
DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh, seperti di
kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.
Akibat-akibat yang ditimbulkan dari dehidrasi diatas bukanlah
dehidrasi yang bersifat menahun namun hanyalah dehidrasi harian. Secara
tidak langsung Kitapun bisa meninggal dikarenakan dehidrasi. Ketika Kita
mengalami dehidrasi, fungsi tubuh kitapun akan mulai melambat dan tentu
saja bekerja dengan tidak efisien. Berikut situasi-situasi yang sering Kita

alami dan merupakan akibat dari dehidrasi, tekanan darah tinggi, peredaran
darah menurun,sistem imun menjadi rendah.
Berdasarkan fenomena diatas penulis ingin mengetahui asuhan
keperawatan pada pasien DHF yang mengalami dehidrasi di RS Tk. II dr.
Soepraoen Malang.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa data yang diperoleh dari pengkajian terhadap klien dengan DHF?
2. Apa diagnosis yang dapat di tegakkan terhadap klien dengan DHF?
3. Apa saja intervensi terhadap klien dengan DHF?
4. Bagaimanakah implementasi terhadap klien dengan DHF yang mengalami
dehidrasi?
5. Bagaimanakah evaluasi terhadap klien dengan DHF yang mengalami
dehidrasi?
6. Bagaimanakah cara mengatasi dehidrasi pada klien dengan DHF?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui asuhan keperawatan Dengue Hemorrhagic Fever ( DHF )
1.3.2

Tujuan khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada Nn. L dengan DHF.
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Nn. L dengan
DHF
c. Mampu merumuskan intervensi pada Nn. L dengan DHF.
d. Mampu melakukan rencana tindakan keperawatan pada Nn. L dengan
DHF.

e. Mampu melaksanakan evaluasi tindakan keperawatan pada Nn. L dengan


DHF.
f. Mampu mengatasi dehidrasi pada Nn. L dengan DHF.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Profesi keperawatan
Informasi yang diperoleh dari hasil studi kasus ini dapat dijadikan sebagai
masukan bagi petugas kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan
pada pasien DHF.
2. RS Tk. II dr. Soepraoen Malang
Hasil studi kasus dapat dijadikan masukan tentang gambaran dukungan
keluarga pada pasien DHF yang mengalami dehidrasi sehingga dapat
dijadikan rencana melakukan asuhan keperawatan yang baik kepada
pasien.
3. Masyarakat
Memberikan pendidikan pada masyarakat kususnya keluarga dalam
menghadapi pasien DHF.

1.5 Tempat Penelitian


Tempat penelitian dilakukan di RS Tk. II dr. Soepraoen Malang

1.6 Waktu Penelitian


Kegitaan penelitian ini dilakukan pada waktu xx xx- xxxx sampai xx
xx xxxx