Anda di halaman 1dari 20

KAT A PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan rahmat
dan karuniaNya lah saya dapat menyelesaikan makalah tentang SKOLIOSIS dengan lancar.
Dalam makalah ini, saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan juga
masih banyak kekurangannya.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat saya
harapkan. Mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, dan untuk
itu saya mengucapkan banyak terima kasih.

Medan , 13 Maret 2014


Penyusun

Esron Y. Butar-butar

SKOLIOSIS

A. PENGERTIAN
Skoliosis berasal dari kata Yunani yang berarti lengkungan, mengandung arti patologik.
Skolisosi merupakan deformitas tulang belakang yang mengalami deviasi ke arah lateral (lateral
curvature of the spine) (Buku ajar ilmu bedah, 2010). Kebanyakan penyebabnya tidak diketahui
(idiopatik). Penderita mengalami perubahan fisik tergantung kepada besar kecilnya sudut dan
lengkungan yang terjadi. Kelainan scoliosis ini sepintas terlihat sangat sederhana, namun apabila
diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi perubahan yang luar biasa pada tulang belakang akibat
perubahan bentuk tulang belakang secara tiga dimensi, yaitu perubahan struktur penyokong
tulang belakang seperti jaringan lunak dan sekitarnya dan struktur lainnya.
B. EPIDEMIOLOGI
Kasus scoliosis idiopatik cukup banyak ditemukan yaitu 0,5% dari jumlah penduduk atau
85% dari scoliosis struktural (tidak dapat kembali atau irreversible). Scoliosis terjadi kira-kira
dua kali lebih umum pada anak perempuan dari pada anak lelaki. Dapat dilihat pada semua umur,
namun lebih umum pada mereka yang umurnya lebih dari 10 tahun. Di Amerika serikat kasus
scoliosis lebih dari 25 derajat terdapat pada 1,5/1000 orang (Faisal,arif ,2012).
C. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI SKOLIOSIS
Secara umum dapat diterima bahwa tidak ada penyebab tunggal, tetapi multifaktorial.
Diantara penyebab adalah heriditer, kongenital, penyakit neuromuskuler, abnormalitas medulla
spinalis dan brainstem, hormon, gangguan fungsi vestibuler, melatonin dan struktur jaringan dan
sel darah. Klasisfikasi etiologi scoliosis adalah sebagai berikut (kumpulan kuliah ilmu bedah,
2012):
A.

Non-struktural : Skoliosis tipe ini bersifat reversibel (dapat dikembalikan ke bentuk


semula), dan tanpa perputaran (rotasi) dari tulang punggung
a.

Skoliosis postural : Disebabkan oleh kebiasaan postur tubuh yang buruk

b.

Spasme otot dan rasa nyeri, yang dapat berupa :

Nyeri pada spinal nerve roots : skoliosis skiatik

Nyeri pada tulang punggung : dapat disebabkan oleh inflamasi atau


keganasan


c.

B.

Nyeri pada abdomen

: dapat disebabkan oleh apendisitis

Perbedaan panjang antara tungkai bawah

Actual shortening

Apparent shortening :
1.

Kontraktur adduksi pada sisi tungkai yang lebih pendek.

2.

Kontraktur abduksi pada sisi tungkai yang lebih panjang.

Sruktural : Skoliosis tipe ini bersifat irreversibel dan dengan rotasi dari tulang punggung
a.

Idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) : 80% dari seluruh skoliosis

Bayi : dari lahir 3 tahun

Anak-anak : 4 9 tahun

Remaja : 10 19 tahun (akhir masa pertumbuhan)

Dewasa : > 19 tahun

b. Osteopatik
Kongenital (didapat sejak lahir)
1. Terlokalisasi :
a.

Kegagalan

pembentukan

tulang

punggung

(hemivertebrae)
b.

Kegagalan segmentasi tulang punggung (unilateral


bony bar)

2. General :
a.

Osteogenesis imperfecta

b.

Arachnodactily

Didapat
1. Fraktur dislokasi dari tulang punggung, trauma
2.

Rickets dan osteomalasia

3.

Torakogen - penyakit paru-paru unilateral (Emfisema) atau pasca operasi


paru-paru unilateral (thoracoplasty).

c. Neuropatik
Kongenital
1. Spina bifida
2. Neurofibromatosis
Didapat
1.

Poliomielitis

2. Paraplegia
3. Cerebral palsy
4. Friedreichs ataxia
5. Syringomielia

Skoliosis

Normal

Gambar 1. Bentuk tulang belakang scoliosis dan tulang belakang yang normal.
Gambar 2. memperlihatkan beberapa variasi bentuk skolosis sepanjang vertebra. Lokasi
skoliosis ditentukan berdasarkan regio vertebra, yaitu cervical, thoracal, thoracolumbal, lumbal
dan double major (terdapat 2 lengkungan ditempat yang berbeda).
Klasifikasi dari derajat kurva scoliosis adalah
Scoliosis ringan

: kurva kurang dari 200.

Scoliosis sedang

: kurva 200- 400/500. Mulai terjadi perubahan structural vertebra

dan costa.
Scoliosis berat

: lebih dari 400/500. Berkaitan dengan rotasi bertebra yang lebih

besar, sering disertai nyeri, penyakit sendi degenerative, dan pada sudut lebih dari
600-700 terjadi gangguan fungsi kardiopulmonal bahkan menurunnya harapan
hidup.
Klasifikasi Lippman-Cobb yang lebih rinci dari menurut Rajiah (2011) sebagai berikut
(Faisal,arif ,2012). :
Tingkat I

< 20

Tingkat II

21-30

Tingkat III

31-50

Tingkat IV

51-75

Tingkat V

76-100

Tingkat VI

101-125

Tingkat VII

> 125.

Gambar 2. A. Skoliosis diregio thoracal. B. Sko-liosis diregio thoracolumbal. C. Skoliosis di


regio lumbal. D. Skoliosis thoracal dan lumbal (double major curve)
Pada kasus skoliosis berat menimbulkan deformitas postur tubuh, punggung terlihat bengkok
dan ada bagian yang menonjol. Skoliosis diregio thoracal menyebabkan perubahan pada
kedudukan costa sehingga terdorong keposterior pada sisi yang konveks sedangkan costa depan
terdorong keanterior pada sisi konkav (Gambar 3). Pada foto toraks pasien skoliosis berat
memperlihatkan lengkungan skoliosis (Gambar 4).

Gambar 3. Perubahan posisi costa pada skoliosis thoracalis. Costa terdorong keposterior pada
sisi konkav dan terdorong keanterior pada sisi konveks. Rongga toraks menjadi asimetris.
Sumber: Anonim, 2012

Gambar 4. Foto toraks pasien skoliosis. Skoliosis berat dengan lengkungan kekanan. Rongga
toraks tampak asimetris, karena perubahan postur tubuh.

Jenis kelainan kongenital pada vertebra menghasilkan skoliosis bentuk tertentu (Gambar
5). Contoh lain foto toraks pada anak dengan hemivertebra terlihat pada Gambar 6.

Gambar 5. Kelainan kongenital vertebra yang membentuk skoliosis.


A. Wedge vertebra.
B. Hemivertebra.
C. Congenital bar.
D. Block vertebra.

Gambar 6. Foto toraks pada anak dengan skoliosis. Tampak kelainan kongenital hemivertebra
corpus thoracal 8 kiri.

D. GAMBARAN KLINIS SKOLIOSIS


Dari riwayat penyakitnya, pertama-tama tidak dikeluhkan adanya nyeri. Biasanya skoliosis
baru disadari oleh orangtua ketika anak beranjak besar, yaitu terlihat keadaan bahu yang tidak
sama tinggi, tonjolan skapula yang tidak sama, atau pinggul yang tidak sama.
E. PEMERIKSAAN FISIK DAN DIAGNOSTIK SKOLIOSIS
Pada pemeriksaan fisis, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan, antara lain :
1. Berdiri tegak, untuk melihat adanya :

Asimetri bahu, leher, tulang iga, pinggul, skapula

Plum line (kesegarisan antara leher dan pinggul)

Body arm distance (jarak antar lengan dengan badan)


2. Membungkuk, untuk melihat adanya :

Rotasi (perputaran dari tulang punggung)

Derajat pembungkukan (kifosis)

Mengukur perbedaan panjang tungkai bawah (leg length discrepancy)


3. Mencari :

Kelenturan sendi
Sinus-sinus pada kulit
Hairy Patches
Palpable midline defects

Pemeriksaan tambahan pada penderita scoliosis adalah pemeriksaan radiografi. Tujuan


pemeriksaan radiografi pada skoliosis untuk menegakkan diagnosis lengkungan skoliosis,
melihat abnormalitas lain yang kemungkinan menyertainya, memonitor progresivitas, menilai
maturitas tulang, menetapkan perlunya tindakan operatif, dan mengetahui komplikasi dan
follow-up setelah terapi. Pengukuran konvensional dilakukan pada hasil fotografi vertebra.
Tujuan pemeriksaan radiografi dan imejing pada skoliosis untuk menegakkan diagnosis
lengkungan skoliosis, melihat abnormalitas lain yang kemungkinan menyertainya, memonitor
progresivitas, menilai maturitas tulang, menetapkan perlunya tindakan operatif, dan mengetahui
komplikasi dan follow-up setelah terapi.

Kelainan vertebra pada skoliosis pada dasarnya meliputi 3 dimensi, karena itu dibuat foto:
I.

Posisi penderita berdiri AP, terlihat seluruh vertebra dan crista ilica. Disini untuk
menilai pengaruh gravitasi dan beban berat tubuh terhadap vertebra. Crista iliaca
digunakan untuk mengukur Rissers sign.

II.

Posisi supine AP, seluruh vertebra terlihat untuk penilaian lengkungan skoiliosis
tanpa pengaruh gravitasi dan beban berat tubuh.

III.

Posisi lateral berdiri, seluruh vertebra terlihat untuk melihat lordotik dan kifotik
regio vertebra.

Pemeriksaan radiografi klasik menurut Rajiah (2011) yang harus dilakukan adalah :
1. PA berdiri, terlihat dari cervical sampai sacral dan crista iliaca;
2. AP supine dari cervical sampai sacral;
3. Lateral yang memperlihatkan apeks lengkungan;
4. Stagnara dan Leeds view;
5. Vertebra dibengkokkan kekanan dan kekiri, untuk menyingkirkan skoliosis
postural;
6. Foto AP tangan kiri untuk menilai usia penulangan (bone age);
7. Bipalanar view;
8. Ferguson view (tegak lurus L5-S1);
9. Coned view (tempat anomali vertebra).
Teknik pengukuran konvensional paling sering dipakai untuk mengukur skoliosis, teknik
konvensional yang populer digunakan adalah:
A.Teknik Ferguson.
Teknik pengukuran skoliosis ini pertama dikembangkan oleh Ferguson tahun 1920 di New
York Orthopedic Hospital. Ada yang menamakan teknik ini the middle of curve method karena
pusat pengukuran terdapat pada corpus vertebra diapeks lengkungan. Teknik pengukuran
Ferguson sebagai berikut:
1.

Tentukan corpus vertebra pada apeks lengkungan dan dibuat titik ditengah

corpus (lebih tepat titik tersebut bukan potongan garis diagonal corpus)
2.

Tentukan corpus vertebra paling sedikit miringnya dibagian diatas dan


bawah lengkungan dan dibuat titik ditengah corpus

3.

Buat satu garis yang menghubungkan dari titik corpus atas ketitik corpus
apeks lengkungan dan satu garis lagi yang menghubungkan titik corpus apeks ketitik
corpus bawah. Sudut divergen yang terbentuk adalah besarnya sudut lengkungan
skoliosis (Gambar 7). Teknik Ferguson lebih sesuai pada lengkungan skoliosis dibawah
50 derajat.

Gambar 7. Teknik Ferguson. Sudut dibentuk oleh potongan kedua garis adalah sudut skoliosis.
B.Teknik Cobb.
Sebenarnya teknik ini diperkenalkan oleh Lippman pada tahun 1935, kemudian
dipopulerkan oleh Cobb dari New York tahun 1948. Teknik ini disebut juga the end of curve
method karena sudut Cobb dibentuk berdasarkan garis yang ditarik dari tepi corpus vertebra
paling atas dan paling bawah dari lengkungan. Teknik pengukuran Cobb sebagai berikut:
1.

Tentukan corpus vertebra paling miring dibagian paling atas dan paling bawah dari
lengkungan scoliosis.

2.

Tarik garis lurus ditepi atas corpus paling miring diatas, lalu dibuat garis tegak
lurus terhadap garis ini kearah bawah.

3.

Tarik garis lurus pada tepi bawah corpus paling miring dibawah, kemudian buat
garis tegak lurus garis ini kearah atas. Sudut yang terbentuk pada pertemuan kedua garis

tegak lurus tadi disebut Cobbs angle yang menunjukkan besarnya derajat skoliosis
(Gambar 8). Teknik pengukuran Cobb lebih sesuai pada lengkungan skoliosis 50 derajat
atau lebih.

Gambar 8. Teknik Cobb. A. Sudut yang terbentuk oleh dua garis disebut Cob angle atau
sudut skoliosis. B. Skoliosis pada 3 regio
C. Teknik VERTEBRAL CENTROID MEASUREMENT (VCM).
Teknik ini digunakan oleh Chen (1999)16 untuk mengukur lordosis lumbal yang
dibandingkan dengan teknik Cobb dan disimpulkan teknik VCM lebih handal dibandingkan
teknik Cobb. Basis teknik ini membuat garis diagonal pada 2 corpus vertebra paling atas dan 2
corpus vertebra paling bawah dari lengkungan yang diukur. Perpotongan garis diagonal setiap
corpus tadi menjadii titik sentral. Dibuat garis yang masing-masing menghubungkan 2 titik
sentral dari corpus diatas dan corpus dibawah. Garis tegak lurus terhadap garis yang
menghubungkan titik sentral tadi membentuk sudut VCM. Pada gambar 9 memperlihatkan sudut
VCM dan dibandingkan dengan sudut Cobb. Jika dibandingkan teknik Cobb dengan teknik
VCM pada skoliosis didapatkan sudut VCM lebih besar daripada sudut Cobb. Perbedaannya 1,15
derajat namun secara statistik angka tersebut bermakna. Keterbatasan teknik VCM adalah
pengukuran yang dilakukan masih berbasis satu dimensi seperti teknik Ferguson dan Cobb.

Gambar 9. Teknik VCM. Garis yang meng-hubungkan 2 titik sentral dibagian kranial
dan kaudal. Tarik garis tegak lurus terhadap garis tersebut, kemudian buat garis tegak
lurus kearah bawah dan atas, maka terbentuk sudut VCM yang lebih besar daripada
sudut Cobb
F. PENANGANAN SKOLIOSIS
Pengobatan pasien dengan scoliosis terdiri dari pengobatan konservatif dan pengobatan
operatif. Tujuan dilakukannya tatalaksana pada skoliosis meliputi 4 hal penting :
1. Mencegah progresifitas dan mempertahankan keseimbangan
2. Mempertahankan fungsi respirasi
3. Mengurangi nyeri dan memperbaiki status neurologis
4. Kosmetik
Pengobatan konservatif terdiri atas:
1. Observasi
Observasi diperlukan sebelum memutuskan apakah akan diterapi konservativ atau operatif.
Pemantauan dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu <25o pada tulang
yang masih tumbuh atau <50o pada tulang yang sudah berhenti pertumbuhannya. Rata-rata
tulang berhenti tumbuh pada saar usia 19 tahun.

Pada pemantauan ini, dilakukan kontrol foto polos tulang punggung pada waktu-waktu
tertentu. Foto kontrol pertama dilakukan 3 bulan setelah kunjungan pertama ke dokter.
Lalu sekitar 6-9 bulan berikutnya bagi yang derajat <20 dan 4-6 bulan bagi yang derajatnya
>20.
2. Braching
Bracing bertujuan untuk menghentikan progresifitas dari kurva tetapi tidak mengurangi
besarnya kurva yang telah terjadi. Kebanyakan progresifitas kurva terjadi selama fase
pertumbuhan, sehingga ketika anak telah berhenti bertumbuh, jarang kurva tetap progresif
sehingga pemakaian Brace dapat dihentikan. Biasanya dipakai pada anak perempuan
sekitar 11-13 tahun dan anak laki-laki sekitar 12-14 tahun. Pada umumnya bracing
diindikasikan pada anak dengan kurva antara 250- 450. Tujuan akhir pemasangan bracing
adalah penderita mencapai usia skeletal matur dengan kurva < 500. Contoh brace adalah:
Brace Milwauke, pada prinsipnya menopang daerah thoracal, tujuannya untuk mengurangi
lordosis lumbal dan menguatkan otot-otot di vertebra thoracal.
Boston Brace, berguna untuk menopang lumbal atau daerah dibawah thoracolumbal. Brace
yang baik dapat digunakan selama 24 jam dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari,
termasuk olahrga dan latihan fisik.

Gambar 10. Boston Brace

Gambar 11. Milawuke Brace


Pengobatan operatif
Tujuan dari operasi adalah untuk menegakkan kelengkungan termasuk komponen yang
berotasi dengan berbagai alat dan untuk menguatkan sendi pada semua kelengkungan primer.
Indikasi dilakukannya operasi adalah apabila sudut > 400 atau terjadi progresifitas dari sudut
sebelum usia penderita mencapai dewasa dengan patokan untuk melakukan operasi ini adalah
dengan melakukan follow up secara teratur. kemudian apabila terdapat deformitas yang
memberikan gangguan dan dilakukan jika pengobatan konservatif yang tidak berhasil.
Operasi yang dilakukan yaitu:

Sistem Harrington
Suatu alat berbentuk kotak diletakkan posterior sepanjang bagian cekung dari
kelengkungan, terdapat sambungan di alat tersebut yang disambung dibagian paling atas dan

paling bawah vertebrae untuk memeperbaiki kelengkungan. Jika kelengkungan fleksibel maka
akan dapat dikoreksi secara pasif dan bone graft dapat dipakai fusi dari panjang kelengkungan.
Kekurangannya tidak dapat mengoreksi kelainan rotasi dari kelengkungan di apex dan
penonjolan tulang iga tetap tidak berubah.

Gambar 12. Harrington Distraction Instrumentation


Rod and Sublaminar Wiring (luque)
Merupakan modifikasi dari sistem Harrington. Alat dipasang dibawah lamina vertebrae
dan difiksasi di bagian cekung dari kelengkungan, hal itu dapat mengontrol dan mengamankan
fiksasi. Teknik ini dapat mengurangi kelainan rotasi pada vertebrae, tetapi sangat berbahaya
karena dapat mencederai duramater dan resiko kerusakan neurologis

Gambar 13. Rod and Sublaminar Wiring (luque)


Sistem Cotrel Dubousset
Berguna untuk mengurangi kompresi dan derajat kelengkungan. Teknik ini diklaim dapat
mengatasi kelainan rotasi dan tidak perlu memakai bracing setelahnya.

Gambar 14. Sistem Cotrel Dubousset


Instrument Anterior (Zielke)

Gambar 15. Zielke instrument


G. PROGNOSIS SKOLIOSIS

Prognosis tergantung atas besarnya derajat kurva, deformitas, dan maturitas skeletal. Pada
derajat kurva yang ringan dengan skeletal yang sudah matur umumnya tidak mengalami
progresifitas.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Samsuhidajat, de jong, Buku Ajar Ilmu Bedah : Skoliosis idiopatik ,2010.

2.

Faisal, arif, Buletin Ilmiah Radiologi : Pengukuran scoliosis, volume 1,

halaman 90-97, FK UGM, 2012.


3.
Kumpulan kuliah ilmu bedah : skoliosis idiopatik : halaman 519, Staf
pengajar bagian bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012.
4.

Gambar diambil dari internet yang diakses pada tanggal 10 maret 2013.

TUGAS PAPER BEDAH ORTHOPEDI


SCOLIOSIS

Nama

: Esron Y. Butar-Butar

Pembimbing

: dr. S. Hilmi, Sp.OT

UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA


MEDAN
2014