Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN
1. 1

Latar Belakang
Pengolahan limbah cair pada umumnya dilakukan dengan menggunakan
metode Biologi. Metode ini merupakan metode yang paling efektif
dibandingkan dengan metode Kimia dan Fisika. Proses pengolahan limbah
dengan metode Biologi adalah metode yang memanfaatkan mikroorganisme
sebagai katalis untuk menguraikan material yang terkandung di dalam air
limbah. Mikroorganisme sendiri selain menguraikan dan menghilangkan
kandungan material, juga menjadikan material yang terurai tadi sebagai tempat
berkembang biaknya.
Dalam pengolahan limbah cair secara aerobik mikroorganisme
mengoksidasi dan mendekomposisi bahan-bahan organik dalam limbah air
limbah dengan menggunakan oksigen yang disuplai oleh aerasi dengan bantuan
enzim dalam mikroorganisme. Pada waktu yang sama mikroorganisme
mendapatkan energi sehingga mikroorganisme baru dapat bertumbuh. Proses
pengolahan secara biologi yang paling sering digunakan adalah proses
pengolahan dengan menggunakan metode lumpur aktif.
Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses pertumbuhan mikroba
tersuspensi. Proses ini pada dasarnya merupakan pengolahan aerobik yang
mengoksidasi material organik menjadi CO2 dan H2O, NH4. dan sel biomassa
baru. Proses ini menggunakan udara yang disalurkan melalui pompa blower
(diffused) atau melalui aerasi mekanik. Sel mikroba membentuk flok yang akan
mengendap di tangki penjernihan. Kemampuan bakteri dalam membentuk flok
menentukan keberhasilan pengolahan limbah secara biologi, karena akan
memudahkan pemisahan partikel dan air limbah.
Dengan menerapkan sistem ini didapatkan air bersih yang tidak lagi
mengandung senyawa organik beracun dan bakteri yang berbahaya bagi
kesehatan. Air tersebut dapat dipergunakan kembali sebagai sumber air untuk
kegiatan industri selanjutnya. Diharapkan pemanfaatan sistem daur ulang air
limbah akan dapat mengatasi permasalahan persediaan cadangan air tanah demi
kelangsungan kegiatan industri dan kebutuhan masyarakat akan air. Metode

pengolahan lumpur aktif (activated sludge) adalah merupakan proses


pengolahan air limbah yang memanfaatkan proses mikroorganisme tersebut.
Air tersebut dapat dipergunakan kembali sebagai sumber air untuk
kegiatan industri selanjutnya. Air daur ulang tersebut dapat dimanfaatkan dengan
aman untuk kebutuhan konsumsi air seperti cooling tower, boiler laundry, toilet
flusher, penyiraman tanaman, general cleaning, fish pond car wash dan
kebutuhan air yang lainnya.
Dalam hal ini metode lumpur aktif merupakan metode pengolahan
lumpur (slurry) yang paling banyak dipergunakan, termasuk di Indonesia, hal ini
mengingat metode lumpur aktif dapat dipergunakan untuk mengolah air limbah
dari berbagai jenis industri seperti industri pangan, pulp, kertas, tekstil, bahan
kimia dan obat-obatan.
Teknik Pengolahan lumpur ini banyak ragamnya. Salah satu dari teknik
lumpur adalah proses lumpur aktif dengan aerasi oksigen murni. Pengolahan ini
termasuk pengolahan biologi, karena menggunakan bantuan mikroorganisma
pada proses pengolahannya.
Proses lumpur aktif merupakan proses pengolahan secara biologis
aerobik dengan mempertahankan jumlah massa mikroba dalam suatu reaktor dan
dalam keadaan tercampur sempurna. Suplai oksigen adalah mutlak dari peralatan
mekanis, yaitu aerator dan blower, karena selain berfungsi untuk suplai oksigen
juga dibutuhkan pengadukan yang sempurna. Perlakuan untuk memperoleh
massa mikroba yang tetap adalah dengan melakukan resirkulasi lumpur dan
pembuangan lumpur dalam jumlah tertentu.
1.2 Perumusan Masalah
Dalam makalah ini yang menjadi permasalahan adalah pengolahan lumpur dari
pengolahan limbah cair.
1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini ditulis bertujuan untuk mengetahui defenisi lumpur aktif dan
memahami proses lumpur aktif tersebut berlangsung.
1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan makalah ini yaitu memberikan informasi dan mengetahui
tentang pengolahan lumpur dari pengolahan limbah cair.

BAB II
3

TINJAUAN PUSTAKA
Industri tekstil merupakan industri yang dapat ditemukan di banyak Negara
terutama di Asia dan jumlahnya semakin meningkat. Di Indonesia, industri ini
membawa dampak positif terhadap pemenuhan kebutuhan akan sandang dalam negeri
dan menambah devisa negara. Namun dampak negatif yang timbul sampai saat ini
masih perlu perhatian khusus. Salah satu dampak negatif yang timbul adalah
pencemaran limbah industri. Seiring dengan meningkatnya industri ini, masalah
pencemaran pun semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh penanganan yang kurang
baik terhadap limbah cair dari proses pembuatan tekstil. Penurunan kualitas lingkungan
akan berdampak pada kehidupan akuatik yang terdapat dalam badan air penerima yang
akibatnya akan dirasakan oleh masyarakat yang berada di sekitar industri tekstil
tersebut.
Limbah cair industri tekstil merupakan salah satu jenis air buangan yang sukar
diolah, karena proses yang digunakan dalam industri tekstil sangat bervariasi, sehingga
karakteristik limbah cair yang dihasilkannya pun sangat bervariasi. Umumnya limbah
cair industri tekstil memiliki warna yang pekat, bersifat basa, kandungan padatan
tersuspensi (TSS) yang tinggi, temperatur tinggi, konsentrasi Chemical Oxygen
Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) yang tinggi
Pengolahan air limbah pada umumnya dilakukan dengan menggunakan metode
Biologi. Metode ini merupakan metode yang paling efektif dibandingkan dengan
metode Kimia dan Fisika. Proses pengolahan limbah dengan metode Biologi adalah
metode yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai katalis untuk menguraikan
material yang terkandung di dalam air limbah. Mikroorganisme sendiri selain
menguraikan dan menghilangkan kandungan material, juga menjadikan material yang
terurai tadi sebagai tempat berkembang biaknya.
Dalam pengolahan air limbah secara aerobik mikroorganisme mengoksidasi dan
mendekomposisi bahan-bahan organik dalam limbah air limbah dengan menggunakan
oksigen yang disuplai oleh aerasi dengan bantuan enzim dalam mikroorganisme. Pada
waktu yang sama mikroorganisme mendapatkan energi sehingga mikroorganisme baru
dapat bertumbuh. Proses pengolahan secara biologi yang paling sering digunakan
adalah proses pengolahan dengan menggunakan metode lumpur aktif.

Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses pertumbuhan mikroba


tersuspensi. Proses ini pada dasarnya merupakan pengolahan aerobik yang
mengoksidasi material organik menjadi CO2 dan H2O, NH4. dan sel biomassa baru.
Proses ini menggunakan udara yang disalurkan melalui pompa blower (diffused) atau
melalui aerasi mekanik. Sel mikroba membentuk flok yang akan mengendap di tangki
penjernihan. Kemampuan bakteri dalam membentuk flok menentukan keberhasilan
pengolahan limbah secara biologi, karena akan memudahkan pemisahan partikel dan air
limbah.
Pengolahan limbah dengan sistem lumpur aktif mulai dikembangkan di Inggris
pada tahun 1914 oleh Ardern dan Lockett, dan dinamakan lumpur aktif karena
prosesnya melibatkan massa mikroorganisme yang aktif, dan mampu menstabilkan
limbah secara aerobik. Istilah lumpur aktif diterapkan baik pada proses maupun padatan
biologis di dalam unit pengolahan.
Proses lumpur aktif merupakan proses pengolahan secara biologis aerobic
dengan mempertahankan jumlah massa mikroba dalam suatu reaktor dan dalam keadaan
tercampur sempurna. Suplai oksigen adalah mutlak dari peralatan mekanis, yaitu aerator
dan blower, karena selain berfungsi untuk suplai oksigen juga dibutuhkan pengadukan
yang sempurna. Perlakuan untuk memperoleh massa mikroba yang tetap adalah dengan
melakukan resirkulasi lumpur dan pembuangan lumpur dalam jumlah tertentu.

BAB III
ISI
5

3.1

Pengertian Lumpur Aktif


Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses pertumbuhan mikroba tersuspensi

yang pertama kali dilakukan di Ingris pada awal abad 19. Sejak itu proses ini diadopsi
seluruh dunia sebagai pengolah air limbah domestik sekunder secara biologi. Proses ini
pada dasarnya merupakan pengolahan aerobik yang mengoksidasi material organik
menjadi CO2 dan H2O, NH4. dan sel biomassa baru. Udara disalurkan melalui pompa
blower (diffused) atau melalui aerasi mekanik. Sel mikroba membentuk flok yang akan
mengendap di tangki penjernihan.
Pengolahan air limbah pada umumnya dilakukan dengan menggunakan metode
Biologi. Metode ini merupakan metode yang paling efektif dibandingkan dengan
metode Kimia dan Fisika. Proses pengolahan limbah dengan metode Biologi adalah
metode yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai katalis untuk menguraikan
material yang terkandung di dalam air limbah. Mikroorganisme sendiri selain
menguraikan dan menghilangkan kandungan material, juga menjadikan material yang
terurai tadi sebagai tempat berkembang biaknya. Metode pengolahan lumpur aktif
(activated sludge) adalah merupakan proses pengolahan air limbah yang memanfaatkan
proses mikroorganisme tersebut.
Dengan menerapkan sistem ini didapatkan air bersih yang tidak lagi
mengandung senyawa organik beracun dan bakteri yang berbahaya bagi kesehatan. Air
tersebut dapat dipergunakan kembali sebagai sumber air untuk kegiatan industri
selanjutnya. Diharapkan pemanfaatan sistem daur ulang air limbah akan dapat
mengatasi permasalahan persediaan cadangan air tanah demi kelangsungan kegiatan
industri dan kebutuhan masyarakat akan air.
Air tersebut dapat dipergunakan kembali sebagai sumber air untuk kegiatan
industri selanjutnya. Air daur ulang yang kami kerjakan dapat dimanfaatkan dengan
aman untuk kebutuhan konsumsi air seperti cooling tower, boiler laundry, toilet flusher,
penyiraman tanaman, general cleaning, fish pond car wash dan kebutuhan air yang
lainnya.
3.2

Proses Pengolahan Limbah Cair

Proses pengolahan air limbah terbagi menjadi tiga tahap pemrosesan, yaitu :

1. Proses primer, Proses primer merupakan perlakuan pendahuluan yang meliputi :


a). Penyaringan kasar
b). Penghilangan warna
c). Ekualisasi
d). Penyaringan halus
e). Pendinginan
2. Proses sekunder ( Proses biologi dan sedimentasi ).
3. Proses tersier (merupakan tahap lanjutan setelah proses biologi dan sedimentasi).
A. Proses primer
a) Penyaringan kasar
Air limbah dari hasil proses produksi dibuang melalui saluran
pembuangan terbuka menuju pengolahan air limbah. Saluran tersebut terbagi
menjadi dua bagian, yakni saluran air berwarna dan saluran air tidak berwarna.
Untuk mencegah agar sisa-sisa kotoran padat dan sampah dalam air limbah
terbawa pada saat proses, maka air limbah disaring dengan menggunakan
saringan kasar berdiameter 50 mm dan 20 mm.
b) Penghilangan warna
Limbah cair berwarna yang berasal dari proses produksi setelah melewati
tahap penyaringan ditampung dalam dua bak penampungan, air tersebut
kemudian dipompakan ke dalam tangki koagulasi pertama yang terdiri atas tiga
buah tangki, yaitu : Pada tangki pertama ditambahkan koagulasi FeSO 4 (Fero
Sulfat) konsentrasinya 600 - 700 ppm untuk pengikatan warna. Selanjutnya
dimasukkan ke dalam tangki kedua dengan ditambahkan kapur (lime)
konsentrasinya 150 - 300 ppm, gunanya untuk menaikkan pH yang turun setelah
penambahan FeSO4. Dari tangki kedua limbah dimasukkan ke dalam tangki
ketiga pada kedua tangki tersebut ditambahkan polimer berkonsentrasi 0,5 - 0,2
ppm,

sehingga

akan

terbentuk

gumpalan-gumpalan

besar

(flok)

dan

mempercepat proses pengendapan.


Setelah gumpalan-gumpalan terbentuk, akan terjadi pemisahan antara
padatan hasil pengikatan warna dengan cairan secara gravitasi dalam tangki
sedimentasi. Meskipun air hasil proses penghilangan warna ini sudah jernih,
tetapi pH-nya masih tinggi yaitu 10, sehingga tidak bisa langsung dibuang ke
perairan.

Untuk

menghilangkan

unsur-unsur

yang

masih

terkandung

didalamnya, air yang berasal dri koagulasi I diproses dengan sistem lumpur
7

aktif. Cara tersebut merupakan perkembangan baru yang dinilai lebih efektif
dibandingkan cara lama yaitu air yang berasal dari koagulasi I digabung dalam
bak ekualisasi.
c) Ekualisasi
Bak ekualisasi atau disebut juga bak air umum yang menampung dua
sumber pembuangan yaitu limbah cair tidak berwarna dan air yang berasal dari
mesin pengepres lumpur. Kedua sumber pembuangan pengeluarkan air dengan
karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu untuk memperlancar proses
selanjutnya air dari kedua sumber ini diaduk dengan menggunakan blower
hingga mempunyai karakteristik yang sama yaitu pH 7 dan suhunya 32oC.
Sebelum kontak dengan sistem lumpur aktif, terlebih dahulu air melewati
saringan halus dan cooling tower, karena untuk proses aerasi memerlukan suhu
32oC. Untuk mengalirkan air dari bak ekualisasi ke bak aerasi digunakan dua
buah submerble pump atau pompa celup.
d) Penyaringan halus
Air hasil ekualisasi dipompakan menuju saringan halus untuk
memisahkan padatan dan larutan, sehingga air limbah yang akan diolah bebas
dari padatan kasar berupa sisa-sisa serat benang yang masih terbawa.
e) Pendinginan
Karakteristik limbah produksi tekstil umumnya mempunyai suhu antara
35-40oC, sehingga memerlukan pendinginan untuk menurunkan suhu yang
bertujuan mengoptimalkan kerja bakteri dalam sistem lumpur aktif. Karena suhu
yang diinginkan adalah berkisar 29-30oC.

B. Proses sekunder
a) Proses Biologi
Pada umumnya dalam proses biologi ini membutuhkan tiga bak aerasi,
yang pertama berbentuk oval mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan
dengan bentuk persegi panjang. Karena pada bak oval tidak memerlukan blower
sehingga dapat menghemat biaya listrik, selain itu perputaran air lebih sempurna
dan waktu kontak bakteri dengan limbah lebih merata serta tidak terjadi

pengendapan lumpur seperti layaknya terjadi pada bak persegi panjang.. Pada
masing-masing bak aerasi ini terdapat sparator yang mutlak diperlukan untuk
memasok oksigen ke dalam air bagi kehidupan bakteri. Parameter yang diukur
dalam bak aerasi dengan sistem lumpur aktif adalah DO, MLSS, dan suhu.
parameter-parameter tersebut harus terus dijaga sehingga penguraian polutan
yang terdapat dalam limbah dapat diuraikan semaksimal mungkin oleh bakteri.
Oksigen terlarut yang diperlukan berkisar 0,5 2,5 ppm, MLSS berkisar 4000
6000 mg/l, dan suhu berkisar 29 30oC.
b) Proses Sedimentasi
Bak sedimentasi II biasanya mempunyai bentuk bundar pada bagian
atasnya dan bagian bawahnya berbentuk kronis yang dilengkapi dengan
pengaduk (agitator) dengan putaran 2 rph. Desain ini dimaksudkan untuk
mempermudah pengeluaran endapan dari dasar bak. Pada bak sedimentasi ini
akan terjadi settling lumpur yang berasal dari bak aerasi dan endapan lumpur ini
harus segera dikembalikan lagi ke bak aerasi (return sludge=RS), karena kondisi
pada bak sedimentasi hampir mendekati anaerob. Besarnya RS ditentukan
berdasarkan perbandingan nilai MLSS dan debit RS itu sendiri. Pada bak
sedimentasi ini juga dilakukan pemantauan kaiment (ketinggian lumpur dari
permukaan air) dan MLSS dengan menggunakan alat MLSS meter.
C. Proses tersier
Pada proses pengolahan ini ditambah bahan kimia, yaitu Alumunium Sulfat
(Al2(SO4)3), Polimer dan Antifoam (Silicon Base); untuk mengurangi padatan
tersuspensi yang masih terdapat dalam air. Tahap lanjutan ini diperlukan untuk
memperoleh kualitas air yang lebih baik sebelum air tersebut dibuang ke perairan.
Air hasil proses biologi dan sedimentasi selanjutnya ditampung dalam bak
interdiet yang dilengkapi dengan alat yang disebut inverter untuk mengukur level air,
kemudian dipompakan ke dalam tangki koagulasi

dengan menggunakan pompa

sentrifugal. Pada tangki koagulasi ditambahkan alumunium sulfat (konsentrasi antara


150 300 ppm) dan polimer (konsentrasi antara 0,5 2 ppm), sehingga terbentuk flok
yang mudah mengendap. Selain kedua bahan koagulan tersebut juga ditambahkan tanah
yang berasal pengolahan air baku (water teratment) yang bertujuan menambah partikel
padatan tersuspensi untuk memudahkan terbentuknya flok.

Pada tangki koagulasi ini terdapat mixer (pengaduk) untuk mempercepat proses
persenyawaan kimia antara air dan bahan koagulan, juga terdapat pH kontrol yang
berfungsi untuk memantau pH effluent sebelum dikeluarkan ke perairan. Setelah
penambahan koagulan dan proses flokulasi berjalan dengan sempurna, maka gumpalangumpalan yang berupa lumpur akan diendapkan pada tangki sedimentasi III. Hasil
endapan kemudian dipompakan ke tangki penampungan lumpur yang selanjutnya akan
diolah dengan belt press filter machine.

3.3

Sistem Lumpur Aktif


Di dalam limbah yang mengandung bahan organik terdapat zat-zat yang

merupakan makanan dan kebutuhan-kebu-tuhan lain bagi mikroorganisme yang akan


digunakan dalam proses lumpur aktif. Proses lumpur aktif adalah salah satu proses
pengolahan air limbah secara biologi, dimana air limbah dan lumpur aktif dicampur
dalam suatu reaktor atau tangki aerasi. Padatan biologis aktif akan mengoksidasi
kandungan zat di dalam air limbah secara biologis, yang di akhir proses akan dipisahkan
dengan sistem pengendapan. Proses lumpur aktif mulai dikembangkan di Inggris pada
tahun 1914 oleh Ardern dan Lockett dan dinamakan lumpur aktif karena prosesnya
melibatkan massa mikroorganisme yang aktif, dan mampu menstabilkan limbah secara
aerobik. Istilah lumpur aktif diterapkan baik pada proses maupun padatan biologis di
dalam unit pengolahan.

Proses lumpur aktif terdiri dari dua tangki (gambar 2), yaitu :
- Tangki aerasi : di dalam bak ini terjadi reaksi penguraian zat organik oleh
mikroorganisme dengan bantuan oksigen terlarut.

10

- Bak pemisah (Clarifier): yaitu tempat lumpur aktif dipisahkan dari cairan untuk
dikembalikan ke tangki aerasi, kelebihannya dibuang.
Gambar 1 : Kegiatan dan alat proses sistem lumpur aktif

3.4

Deskripsi Proses Lumpur Aktif

Aliran umpan air limbah/ subtrat, bercampur dengan aliran lumpur aktif yang
dikembalikan sebelum masuk rektor. Campuran lumpur aktif dan air limbah membentuk
suatu campuran yang disebut cairan tercampur (mixed liquor ). Memasuki aerator,
lumpur aktif dengan cepat memanfaatkan zat organik dalam limbah untuk mendegradasinya.
Kondisi lingkungan aerobic diperoleh dengan memberikan oksigen ke tangki
aerasi. Pemberian oksigen dapat dilakukan dengan penyebaran udara tekan, aerasi
permukaan secara mekanik, atau injeksi oksigen murni. Aerasi dengan difusi udara
tekan atau aerasi mekanik mempunyai dua fungsi, yaitu pemberi udara dan pencampur
agar terjadi kontak yang sempurna antara lumpur aktif dan senyawa organik di dalam
limbah.
Pada tangki pengendapan (clarifier ), padatan lumpur aktif mengendap dan
terpisah dengan cairan sebagai effluent. Sebagian lumpur aktif dari dasar tangki
pengendap dipompakan kembali ke reaktor dan dicampur dengan umpan (subtrat) yang
masuk, sebagian lagi dibuang.

Dalam reaktor mikroorganisme mendegradasi bahan-bahan organik dengan


persamaan stoikiometri pada reaksi di bawah ini (Metcalf dan Eddy,1991):

11

BAB IV
PENUTUP
12

4. 1

Kesimpulan
Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses pertumbuhan mikroba

tersuspensi. Proses ini pada dasarnya merupakan pengolahan aerobik yang


mengoksidasi material organik menjadi CO2 dan H2O, NH4. dan sel biomassa baru.
Proses ini menggunakan udara yang disalurkan melalui pompa blower (diffused) atau
melalui aerasi mekanik. Sel mikroba membentuk flok yang akan mengendap di tangki
penjernihan. Kemampuan bakteri dalam membentuk flok menentukan keberhasilan
pengolahan limbah secara biologi, karena akan memudahkan pemisahan partikel dan air
limbah.
Proses pengolahan air limbah terbagi menjadi tiga tahap pemrosesan, yaitu :
1. Proses primer, Proses primer merupakan perlakuan pendahuluan yang meliputi :
a). Penyaringan kasar
b). Penghilangan warna
c). Ekualisasi
d). Penyaringan halus
e). Pendinginan
2. Proses sekunder ( Proses biologi dan sedimentasi ).
3. Proses tersier (merupakan tahap lanjutan setelah proses biologi dan sedimentasi).
4.2

Saran
Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal pada pengolahan limbah cair

perlu dilakukan perbaikanperbaikan terhadap penelitian lanjutan yaitu:


1. Penempatan sistem aerasi yang merata dengan meletakkan aerator pada posisi dimana
udara bisa terdistribusikan ke seluruh bak aerasi agar pengadukan berlangsung secara
sempurna.
2. Penentuan intensitas pengembalian lumpur aktif yang teratur dan efektif agar
mikroorganisme tidak terlalu lama dalam bak pengendapan.

DAFTAR PUSTAKA

13

Anonim1.

Pengolahan

Limbah

Dengan

Metode

Lumpur

Aktif.

http://www.scribd.com/doc/27085719/Pengolahan-Limbah-Dengan-MetodeLumpur-Aktif-Pengolahan. Diakses tanggal 22-03-2016.


Anonim2.

Makalah

Lumpur

Aktif.

http://www.scribd.com/doc/76996397/Final-

Makalah-Lumpur-Aktif. Diakses tanggal 22-03-2016.


Anonim3. Lumpur Aktif. http://www.scribd.com/doc/78487584/TUGAS-2-LUMPURAKTIF. Diakses tanggal 22-03-2016.
C.A. Papadimitriou. 2006. Coke Oven Wastewater Treatment By Two Activated Sludge
Systems http://www.gnest.org/journal/Vol8_No1/paper_3. Diakses tanggal 2203-2016.
Dini Mardini. 2004. Penggunaan Metode Lumpur Aktif Sebagai Salah Satu Pengolahan
Sekunder Terhadap Limbah Cair Industri Tekstil Pt. Cagm Dengan
Sistem Flow Skala

Laboratorium.

http://repository.upi.edu/operator/upload/pro_2004_kimia_mardini_penggunaa
n_metode_lumpur_aktif.pdf. Diakses tanggal 22-03-2016.
Ignasius D. A. Sutapa.1999. LUMPUR AKTIF : ALTERNATIF PENGOLAH LIMBAH
CAIR. http://www.scribd.com/doc/100744182/Alternatif-Pengolah-LimbahCair. Diakses tanggal 22-03-2016.

14