Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem perkemihan merupakan organ vital dalam melakukan ekskresi dan
melakukan eliminasi sisa-sisa hasil metabolisme tubuh. Aktivitas sistem perkemihan
dilakukan secara hati-hati untuk menjaga komposisi darah dalam batas yang bisa diterima
(Muttaqin, Arif 2011).
Penyakit yang terjadi pada sistem perkemihan bervariasi, salah satunya yaitu
Urolitiasis. Urolitiasis adalah suatu keadaan terdapatnya batu dalam saluran kemih baik
dalam ginjal, ureter maupun buli-buli. Kondisi ini memberikan gangguan pada sistem
perkemihan dan memberikan masalah keperawatan pada pasien (Robbins, 2007). Batu
Saluran Kemih (Urolithiasis) merupakan keadaan patologis karena adanya masa keras
seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kencing dan dapat menyebabkan nyeri,
perdarahan, atau infeksi pada saluran kencing. Terbentuknya batu disebabkan karena air
kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih
kekurangan materi-materi yang dapat menghambat pembentukan batu, kurangnya
produksi air kencing, dan keadaan-keadaan lain yang idiopatik (Dewi, 2007). Lokasi batu
saluran kemih dijumpai khas di kaliks atau pelvis (nefrolitiasis) dan bila akan keluar akan
terhenti di ureter atau di kandung kemih (vesikolitiasis) (Robbins, 2007).
Penyakit ini menyerang sekitar 4% dari seluruh populasi, dengan rasio pria-wanita
4:1 dan penyakit ini disertai morbiditas yang besar karena rasa nyeri. Di Amerika Serikat
5-10% penduduknya menderita penyakit ini, sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat
1-2% penduduk yang menderita batu saluran kemih. Di Indonesia diperkirakan
insidensinya lebih tinggi dikarenakan adanya beberapa daerahyang termasuk daerah stone
belt dan masih banyaknya kasus batu endemik yang disebabkan diet rendah protein,
tinggi karbohidrat dan dehidrasi kronik. Penyakit ini merupakan tiga penyakit terbanyak
dibidang urologi disamping infeksi saluran kemih dan pembesaran prostat (Purnomo,
2011).
Penyakit batu ginjal merupakan masalah kesehatan yang cukup bermakna, baik di
Indonesia maupun di dunia. Prevalensi penyakit ini diperkirakan 13% pada laki-laki
dewasa dan 7% pada perempuan dewasa, dengan puncak usia dekade ketiga dan keempat.
Angka kejadian batu ginjal berdasarkan data yang dikumpulkan dari rumah sakit di
seluruh Indonesia tahun 2002 adalah sebesar 37.636 kasus baru, dengan jumlah
1

kunjungan sebesar 58.959 orang. Selain itu jumlah pasien yang dirawat mencapai 19.018
orang, dengan mortalitas 378 orang (Rully, M. Azharry 2010).
Berdasarkan hal di atas di dalam makalah ini penulis akan menguraikan konsep
dasar medis batu ginjal beserta asuhan keperawatan pada pasien yang menderita batu
ginjal sehingga diharapkan dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai batu ginjal
khususnya bagi pemberi pelayanan kesehatan dan pemberi asuhan keperawatan serta
dapat memberikan pedoman bagi pemberi asuhan keperawatan dalam memberikan
pelayanan asuhan keperawatan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian urolitiasis dan batu ginjal?
2. Apa etiologi dari batu ginjal?
3. Bagaimana patofisiologi terjadinya urolitiasis dan batu ginjal?
4. Apa manifestasi klinik dari batu ginjal?
5. Apa klasifikasi dari batu ginjal?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang pada urolitiasis dan batu ginjal?
7. Apakah komplikasi dari batu ginjal?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari batu ginjal?
9. Bagaimana pencegahan timbulya batu ginjal?
10. Bagaimanakah konsep asuhan keperawatan dari batu ginjal?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian urolitiasis dan batu ginjal.
2. Mengetahui etiologi dari batu ginjal.
3. Mengetahui patofisiologi terjadinya urolitiasis dan batu ginjal.
4. Mengetahui manifestasi klinik dari batu ginjal.
5. Mengetahui klasifikasi dari batu ginjal.
6. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada urolitiasis dan batu ginjal.
7. Mengetahui komplikasi dari batu ginjal.
8. Mengetahui penatalaksanaan dari batu ginjal.
9. Mengetahui pencegahan timbulnya batu ginjal.
10. Mengetahui konsep asuhan keperawatan dari batu ginjal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Batu di dalam saluran kemih (Urinary Calculi) adalah massa keras seperti batu
yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan,
penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu
ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan
batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis) ( Elizabeth J. Corwin, 2009)
Batu ginjal atau kalkulus renal (nefrolitiasis) dapat terbentuk dimana saja di dalam
traktus urinarius kendati paling sering ditemukan pada piala ginjal (pelvis renis) atau
kalises. Batu ginjal memiliki ukuran yang beragam dan bias soliter atau multiple. Batu
ginjal lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan pada wanita dan jarang ditemukan
pada anak-anak. Batu kalsium umumnya ditemukan pada laki-laki berusia pertengahan
dengan riwayat pembentukan batu di dalam keluarga (Kowalak, 2011).
Batu ginjal merupakan suatu kondisi terbentuknya material keras yang
menyerupai batu di dalam ginjal. Material tersebut berasal dari sisa zat-zat limbah di
dalam darah yang dipisahkan ginjal yang kemudian mengendap dan mengkristal seiring
waktu (Anonim, 2015).
Dari penjelasan para ahli di atas, dapat disimpulkan batu ginjal adalah suatu
keadaan penyakit pembetukan batu (kalkuli) yang dapat ditemukan di setiap bagian ginjal
yang terjadi akibat endapan zat-zat sisa di ginjal sehingga menyebabkan terganggunya
sistem perkemihan.

Gambar 1: Batu ginjal dalam kalises mayor, kalises minor


ginjal dan dalam ureter
3

B. Etiologi
Meskipun penyebab pasti tidak diketahui, factor predisposisi terjadinya batu ginjal
meliputi (Kowalak, 2011):
1. Dehidrasi
2. Infeksi
3. Perubahan pH urin (batu kalsium karbonat terbentuk pada pH yang tinggi, batu asam
urat terbentuk pada pH yang rendah)
4. Obstruksi pada aliran urin yang menimbulkan stasis di dalam traktus urinarius.
5. Imobilisasi yang menyebabkan kalsium terlepas ke dalam darah dan tersaring oleh
6.
7.
8.
9.

ginjal.
Factor metabolic
Factor makanan
Factor penyakit renal
Factor penyakit gout
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan

aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan
lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara epidemiologis terdapat beberapa
faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor
intrinsik dan faktor ekstrinsik, yaitu (Purnomo, 2011):
a. Faktor intrinsik, meliputi:
1) Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.
2) Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun karena terjadinya
penurunan kerja organ sistem perkemihan
3) Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita
dapat dikatakan karena perbedaan aktivitas.
b. Faktor ekstrinsik, meliputi:
a. Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi
daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt.
b. Iklim dan temperatur
Tempat yang bersuhu dingin (ruang AC) menyebabkan kulit kering dan
pemasukan cairan kurang. Tempat yang bersuhu panas misalnya di daerah tropis,
di ruang mesin menyebabkan banyak keluar keringat, akan mengurangi produksi
urin.
c. Asupan air
Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat meningkatkan
insiden batu saluran kemih.
d. Diet

Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran
kemih. Kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi kalsium seperti susu, keju,
kacang polong, kacang tanah dan coklat. Tinggi purin seperti : ikan, ayam, daging,
jeroan. Tinggi oksalat seperti : bayam, seledri, kopi, teh, dan vitamin D.
e. Pekerjaan
Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau
kurang aktivitas fisik (sedentary life). Pekerjaan dengan banyak duduk lebih
memungkinkan terjadinya pembentukan batu dibandingkan pekerjaan seorang
buruh atau petani.
f. Infeksi
Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan menjadi
inti pembentukan batu.
C. Patofisiologi
Tipe batu ginjal yang utama adalah kalsium oksalat dan kalsium fosfat yang
menempati 75% hingga 80% dari semua kasus batu ginjal; batu struvit (magnesium,
ammonium, dan fosfat) 15% dan asam urat 7%. Batu sistin relative jarang terjadi dan
mewakili 1% dari semua batu ginjal (Kowalak, 2011).
Batu ginjal terbentuk ketika terjadi pengendapan substansi yang dalam keadaan
normal larut dalam urin, seperti kalsium oksalat dan kalsium fosfat. Dehidrasi dapat
menimbulkan batu ginjal karena peningkatan konsentrasi substansi yang membentuk batu
di dalam urin. Pembentukan batu terjadi di sekeliling suatu nucleus atau nidus pada
lingkungan yang sesuai. Kristal terbentuk dengan adanya substansi yang membentuk batu
(kalsium oksalat, kalsium karbonat, magnesium, ammonium, fosfat atau asam urat) dan
kemudian terperangkap dalam traktus urinarius. Di tempat ini, kristal tersebut menarik
Kristal lain untuk membentuk batu. Urin yang sangat pekat dengan substansi ini akan
memudahkan pembentukan Kristal dan mengakibatkan pembentukan batu (Kowalak,
2011).
Secara teoritis batu dapat terbentuk diseluruh saluran kemih terutama pada
tampat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (statis urine), yaitu pada
sistem kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises (stenosis
uretro-pelvis), divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada hyperplasia prostate
benigna, striktura, dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang
memudahkan terjadinya pembentukan batu. Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun
5

oleh bahan-bahan organik maupun anorganik yang terlarut di dalam urine. Kristal-kristal
tersebut tetap berada dalam keadaan metastable (tetap terlarut) dalam urine jika tidak ada
keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal. Kristal-kristal
yang saling mengadakan presipitasi membentuk inti batu (nukleasi) yang kemudian akan
mengadakan agregasi, dan menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih
besar. Meskipun ukurannya cukup besar, agregat kristal masih rapuh dan belum cukup
mampu membuntukan saluran kemih. Untuk itu agregat kristal menempel pada epitel
saluran kemih (membentuk retensi kristal), dan dari sini bahan-bahan lain diendapkan
pada agregat itu sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk menyumbat saluran
kemih. Kondisi metastabel dipengaruhi oleh pH larutan, adanya koloid di dalam urine,
konsentrasi solute di dalam urine, laju aliran urine di dalam saluran kemih, atau adanya
korpus alienum di dalam saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu. Lebih dari 80%
batu saluran kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan dengan oksalat maupan
dengan fosfat, membentuk batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat; sedangkan sisanya
berasal dari batu asam urat, batu magnesium ammonium fosfat (batu infeksi), batu
xanthyn, batu sistein, dan batu jenis lainnya. Meskipun patogenesis pembentukan batubatu diatas hampir sama, tetapi suasana didalam saluran kemih yang memungkinkan
terbentuknya jenis batu itu tidak sama. Dalam hal ini misalkan batu asam urat mudah
terbentuk dalam asam, sedangkan batu magnesium ammonium fosfat terbentuk karena
urine bersifat basa (Lina, 2008).
Batu ginjal dapat terjadi pada papilla renal, tubulus renal, kalises, piala ginjal,
ureter atau dalam kandung kemih. Banyak batu berukuran kurang dari 5 mm dan biasanya
batu dengan ukuran kecil ini akan keluar sendiri ke dalam urin. Batu staghorn bias terus
tumbuh dalam piala ginjal dan meluas ke dalam kalises sehingga terbentuk batu yang
bercabang-cabang dan akhirnya menimbulkan batu ginjal jika tidak diangkat dengan
pembedahan. Batu kalsium memiliki ukuran paling kecil. Sebagian besar diantaranya
adalah kalsium oksalat atau campuran oksalat dengan fosfat (Kowalak, 2011).
Meskipun 80% kasus bersidat idiopatik, umumnya kasus-kasus tersebut terjadi
bersama hiperurikosuria (keadaan terdapatnya asam urat dengan kadar yang tinggi di
dalam urin). Imobilisasi yang lama dapat menimbulkan dimineralisasi tulang,
hiperkalsiuria, dan pembentukan kalkulus. Disamping itu, hiperparatiroidisme, asidosis
tubulus renal dan asupan vitamin D atau kalsium yang berlebihan dari makanan dapat
menjadi factor predisposisi terbentuknya batu ginjal. Batu struvit secara khas mengendap
karena infeksi, khususnya oleh spesies pseudomonas atau proteus. Mikroorganisme
6

pemecah ureum ini lebih sering dijumpai pada wanita. Batu struvit dapat menghancurkan
parenkim renal (Kowalak, 2011).
Penyakit gout mengakibatkan produksi asam urat yang tinggi, hiperurikosuria, dan
batu asam urat. Diet tinggi purin (seperti daging, ikan, dan unggas) akan menaikkan kadar
asam urat di dalam tubuh. Enteritis regional dan colitis ulserativa dapat memicu
pembentukan batu asam urat. Penyakit ini sering terjadi pada keadaan kehilangan cairan
dan bikarbonat yang dapat menimbulkan asidosis metabolic. Urin yang asam akan
meningkatkan pembentukan batu asam urat (Kowalak, 2011).
Sistinuria merupakan gangguan herediter langka, dan pada kondisi ini terdapat
kekeliriuan metabolic yang menyebabkan penurunan reabsorpsi sistin di dalam tubulus
renal. Keadaan ini menyebabkan peningkatan jumlah sistin dalam urin. Karena sistin
merupakan substansi yang relative insoluble, keberadaannya turut menyebabkan
pembentukan kalkulus atau batu (Kowalak, 2011).
Jaringan parut yang terinfeksi merupakan tempat ideal bagi pembentukan batu.
Disamping itu, kalkulus yang terinfeksi (biasanya batu magnesium ammonium fosfat atau
batu staghorn) dapat terbentuk apabila bakteri menjadi nucleus dalam pembentukan batu.
Stasis urin memudahkan penimbunan unsur-unsur pembentukan batu yang kemudian
saling melekat dan mendorong timbulnya infeksi yang menambah obstruksi. Batu dapat
masuk ke dalam ureter atau tetap tinggal di dalam piala ginjal. Di dalam piala ginjal, batu
tersebut merusak atau menghancurkan parenkim renal dan dapat menimbulkan nekrosis
karena penekanan (Kowalak, 2011).
Di dalam ureter, pembentukan batu menyebabkan obstruksi dalam bentuk
hidronefrosis dan cenderung timbul kembali. Nyeri yang membandel dan perdarahan
serius juga dapat terjadi karena batu ginjal dan kerusakan yang ditimbulkan. Batu yang
besar dan kasar akan menyumbat lubang sambungan uteropelvic dan meningkatkan
frekuensi serta kekuatan kontraksi peristaltic sehingga terjadi hematuria akibat trauma.
Biasanya pasien batu ginjal melaporkan nyeri yang menjalar dari sudut kostovertebral
kebagian pinggang kemudian kearah suprapubik serta genetalia eksterna (kolik renal yang
klasik). Intensitas nyeri berfluktuasi dan dapat luar biasa sakitnya ketika intensitas nyeri
tersebut mencapai puncaknya. Pasien dengan batu ginjal di dalam piala ginjal dan kalises
dapat melaporkan nyeri konstan yang tumpul (rasa pegal). Ia juga dapat melaporkan nyeri
punggung jika batu tersebut menyebabkan sumbatan dalam ginjal dan nyeri abdomen
yang hebat bila batu tersebut berjalan ke bawah disepanjang ureter. Infeksi dapat terjadi
dalam urin yang mengalami stasis atau sesudah trauma jika batu ini menimbulkan
7

mengikis permukaan saluran kemih. Jika batu atau kalkulus terperangkap dan menyumbat
aliran urin maka dapat terjadi hidronefrosis (Kowalak, 2011).
Beberapa teori pembentukan batu adalah (Purnomo, 2011) :
a) Teori Nukleasi
Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu (nukleus). Partikel-partikel
yang berada dalam larutan yang terlalu jenuh (supersaturated) akan mengendap di
dalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti batu dapat berupa kristal
atau benda asing di saluran kemih.
b) Teori Matriks
Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin, globulin, dan mukoprotein)
yang merupakan kerangka tempat diendapkannya kristal-kristal batu.
c) Penghambatan kristalisasi
Urine orang normal mengandung zat penghambat pembentuk kristal, antara lain :
magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu
atau beberapa zat itu berkurang, akan memudahkan terbentuknya batu di dalam
saluran kemih.
Pathway (Terlampir)
D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala batu ginjal yang mungkin meliputi (Kowalak ,2011):
1. Nyeri hebat akibat obstruksi
2. Nausea dan vomitus
3. Demam dan menggigil karena infeksi
4. Hematuria jika batu tersebut menimbulkan abrasi ureter
5. Distensi abdomen
6. Anuria akibat obstruksi bilateral atau obstruksi pada ginjal yang tinggal satu-satunya
dimiliki pasien.
Secara umum pasien urolithiasis datang ke pelayanan kesehatan dengan keluhan
utama nyeri pada pinggang dan hematuria. Keluhan yang disampaikan oleh pasien
tergantung pada posisi atau letak batu, besar batu, dan penyulit yang telah terjadi.
Keluhan yang paling dirasakan oleh pasien adalah nyeri pada pinggang. Nyeri ini
mungkin bisa berupa nyeri kolik maupun bukan kolik. Nyeri kolik terjadi karena aktivitas
peristaltik otot polos sistem kalises ataupun ureter meningkat dalam usaha untuk
mengeluarkan batu dari saluran kemih. Peningkatan peristaltik ini menyebabkan tekanan
intraluminalnya meningkat sehingga terjadi peregangan dari terminal saraf yang
memberikan sensasi nyeri. Nyeri non kolik terjadi akibat peregangan kapsul ginjal karena
terjadi hidonefrosis atau infeksi pada ginjal (Kuntarti, 2009).
Hematuria sering kali dikeluhkan oleh pasien akibat trauma pada mukosa saluran
kemih yang disebabkan oleh batu. Kadang-kadang hematuria didapatkan dari
8

pemeriksaan urinalisis berupa hematuria mikroskopik. Jika didapatkan demam harus


dicurigai suatu urosepsis dan ini merupakan kedaruratan di bidang urologi. Dalam hal ini
harus secepatnya ditentukan letak kelainan anatomik pada saluran kemih yang mendasari
timbulnya urosepsis dan segera dilakukan terapi berupa drainase dan pemberian
antibiotika (Kuntarti, 2009).
Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam dan disuria)
dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu menyebabkan sedikit
gejala namun secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal (Kuntarti, 2009).
E. Klasifikasi Batu Ginjal
Menurut Kowalak (2011) komposisi yang menyusun batu ginjal adalah batu
kalsium (80%) dengan terbesar berbentuk kalsium oksalat dan terkecil berbentuk
kalsium fosfat. Adapun macam-macam batu ginjal dan proses terbentuknya, antara lain:
a. Batu Oksalat/Kalsium Oksalat
Asam oksalat di dalam tubuh berasal dari metabolisme asam amino dan asam
askorbat (vitamin C). Asam askorbat merupakan prekursor oksalat yang cukup besar,
sejumlah 30%, 50% yang lain dikeluarkan sebagai oksalat urine. Manusia tidak dapat
melakukan metabolisme oksalat, sehingga dikeluarkan melalui ginjal. Jika terjadi
gangguan fungsi ginjal dan asupan oksalat berlebih di tubuh (misalkan banyak
mengkonsumsi nenas), maka terjadi akumulasi okalat yang memicu terbentuknya
batu oksalat di ginjal/kandung kemih.
b. Batu Struvit
Batu struvit terdiri dari magnesium ammonium fosfat (struvit) dan kalsium karbonat.
Batu tersebut terbentuk di pelvis dan kalik ginjal bila produksi ammonia bertambah
dan pH urin tinggi, sehingga kelarutan fosfat berkurang. Hal ini terjadi akibat infeksi
bakteri pemecah urea (yang terbanyak dari spesies Proteus dan Providencia,
Peudomonas eratia, semua spesies Klebsiella, Hemophilus, Staphylococus, dan
Coryne bacterium) pada saluran urin. Enzim urease yang dihasikan bakteri di atas
menguraikan urin menjadi amonia dan karbonat. Amonia bergabung dengan air
membentuk amonium sehingga pH urine makin tinggi. Karbon dioksida yang
terbentuk dalam suasana pH basa/tinggi akan menjadi ion karbonat membentuk
kalsium karbonat.Batu struvit (campuran dari magnesium, amoniak dan fosfat) juga
disebut batu infeksi karena batu ini hanya terbentuk di dalam air kemih yang
terinfeksi. Ukuran batu bervariasi, mulai dari yang tidak dapat dilihat dengan mata
9

telanjang sampai yang sebesar 2.5 sentimeter atau lebih. Batu yang besar disebut
kalkulus staghorn. Batu ini mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan kalises
renalis.
c. Batu Urat
Batu urat terjadi pada penderita gout (sejenis rematik). Batu urat dapat juga terbentuk
karena pemakaian urikosurik (misal probenesid atau aspirin). Penderita diare kronis
(karena kehilangan cairan, dan peningkatan konsentrasi urine) serta asidosis (pH urin
menjadi asam sehingga terjadi pengendapan asam urat) dapat juga menjadi pemicu
terbentuknya batu urat.
d. Batu Sistina
Sistin merupakan asam amino yang kelarutannya paling kecil. Kelarutannya semakin
kecil jika pH urin turun/asam. Bila sistin tak larut akan berpresipitasi (mengendap)
dalam bentuk kristal yang tumbuh dalam sel ginjal/saluran kemih membentuk batu.
e. Batu Kalium Fosfat
Batu ginjal berbentuk batu kalium fosfat dapat terjadi pada penderita hiperkalsiurik
(kadar kalsium dalam urine tinggi). Batu kalium fosfat juga dapat terjadi karena
asupan kalsium berlebih (misal susu dan keju) ke dalam tubuh. Hal ini dikarenakan
adanya endapan kalium di dalam tubuh yang akan menyebabkan timbulnya batu
ginjal.
Batu yang terbentuk di ginjal dapat menetap pada beberapa tempat di bagian
ginjal, seperti di kalix minor atas dan bawah, di kalix mayor, di daerah pyelum, dan di
ginjal bagian atas (up junction). Berikut ini adalah klasifikasi berdasarkan posisi batu
saluran ginjal:
a.

Batu di kalix minor atas : batu ini kemungkinan silent stone dengan symptom stone.

b. Batu di kalix monir bawah : batu yang terdapat pada bagian ini biasanya merupakan
batu koral (staghorn stone) dan berbentuk seperti arsitektur dari kalices. Batu ini
makin lama akan bertambah besar dan mendesak pharencim ginjal sehingga
pharencim ginjal semakin menipis. Jadi batu ini potensial berbahaya bagi ginjal.
c. Batu di kalix mayor : jenis batu ini adalah batu koral (staghorn stone), tetapi tidak
menyumbat. Batu pada daerah ini sering tidak menimbulkan gejala mencolok / akut,
tetapi sering ditemukan terjadinya pielonefritis karena infeksi yang berulang-ulang.
Batu ini makin lama akan semakin membesar dan mendesak pharencim ginjal
sehingga pharencim ginjal akan semakin menipis dan berbahaya bagi ginjal.
10

d. Batu di pyelum ginjal : batu-batu ini kadang-kadang dapat menyumbat dan


menimbulkan infeksi sehingga dapat menyebabkan kolik pain dan gejala lain.
Tindakan pengobatannya sebaiknya dilakukan dengan pengangkatan batu ginjal,
karena batu dapat tumbuh terus ke dalam kalix mayor sehingga tindakan operasi
nantinya akan lebih sulit untuk dilaksanakan.
e. Batu di atas Up Junction : daerah up junction merupakan salah satu tempat
penyempitan ureter yang fisiologis, sehingga besarnya batu diperkirakan tidak dapat
melalui daerah tersebut.
f. Batu ureter : tanda dan gejalanya adalah secara tiba-tiba timbul kolik pain mulai dari
pinggang hingga testis pria atau ovarium pada wanita, pada posisi apapun klien
sangat kesakitan, kadang-kadang disertai perut kembung, nausea, muntah, gross
hematuria.
g. Batu buli-buli : batu buli-buli terdapat pada semua golongan umur dari anak sampai
orang dewasa.
F. Komplikasi
Komplikasi meliputi (Kowalak, 2011):
1. Kerusakan atau destruksi parenkim renal
2. Nekrosis tekanan
3. Obstruksi oleh batu
4. Hidronefrosis
5. Perdarahan
6. Rasa nyeri
7. Infeksi
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat menunjang diagnostic batu ginjal antara lain (Rasad, Sjahriar.
2010):
a. Urinalisa
Warna normal adalah kekuning-kuningan, sedangkan warna abnormal dalah coklat
gelap, merah, berdarah yang menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine,
kalkulus renalis, tumor,kegagalan ginjal). Secara umum menunjukkan adanya sel
darah merah, sel darah putih dan kristal serta serpihan, mineral, bakteri, pus, pH urine
asam (asam meningkatkan sistin dan batu asam urat). Pada Urine 24 jam didapatkan
kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat atau sistin meningkat.
b. Pemeriksaan hematologi:
1. Sel darah putih : meningkat menunjukkan adanya infeksi.
2. Sel darah merah : biasanya normal.
3. Hb, Ht : abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia.
11

c. Pemeriksaan Imaging

Urografi
Pemeriksaan radiologis yang digunakan harus dapat memvisualisasikan saluran
kemih yaitu ginjal, ureter dan vesika urinaria (KUB). Tetapi pemeriksaan ini
mempunyai kelemahan karena hanya dapat menunjukkan batu yang radioopaque.
Batu asam urat dan ammonium urat merupakan batu yang radiolucent. Tetapi batu
tersebut terkadang dilapisi oleh selaput yang berupa calsium sehingga gambaran
akhirnya radioopaque. Pelapisan adalah hal yang sering, biasanya lapisan tersebut
berupa sisa metabolik, infeksi dan disebabkan hematuri sebelumnya.

Cystogram/ intravenous pyelografi


Jika pada pemeriksaan secara klinik dan foto tidak dapat menunjukkan adanya
batu, maka langkah selanjutnya adalah dengan pemeriksaan IVP. Adanya batu
akan ditunjukkan dengan adanya filling defek.

Ultrasonografi (USG)
Batu akan terlihat sebagai gambaran hiperechoic, efektif untuk melihat batu yang
radiopaque atau radiolucent.

CT scan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk banyak kasus pada pasien yang nyeri perut,
massa di pelvis, suspect abses, dan menunjukkan adanya batu yang tidak dapat
ditunjukkan pada IVP. Batu akan terlihat sebagian batu yang keruh.

MRI
Pemeriksaan ini akan menunjukkan adanya lubang hitam yang semestinya tidak
ada/yang seharusnya terisi penuh, ini diassosiasikan sebagai batu.

H. Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan
jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan mengurangi obstruksi
yang terjadi. Untuk Indikasi pengeluaran batu saluran kemih yaitu obstruksi jalan kemih,
infeksi, nyeri menetap atau nyeri berulang-ulang, batu yang akan menyebabkan infeksi
atau obstruksi, batu metabolic yang tumbuh cepat (Kowalak, 2011).
Penatalaksanaan pada batu ginjal, sebagai berikut (Rully, M. Azharry S, 2010):
12

a. Diet
Diet atau pengaturan makanan sesuai jenis batu yang ditemukan :
1) Batu kalsium oksalat
Makanan yang harus dikurangi adalah jenis makanan yang mengandung kalsium
oksalat seperti bayam, daun seledri, kacang-kacangan, kopi, teh, dan coklat serta
mengurangi makanan yang mengandung kalsium tinggi seperti : ikan laut, kerang,
daging, sarden, keju dan sari buah.
2) Batu asam urat
Makanan yang dikurangi adalah daging, kerang, gandum, kentang, tepungtepungan, saus dan lain-lain.
3) Batu struvite
Makanan yang dikurangi adalah keju, telur, buah murbai, susu dan daging.
4) Batu cysti
Makanan yang dikurangi adalah sari buah, susu, kentang. Serta menganjurkan
pasien banyak minum yaitu 3-4 liter/hari dan olahraga yang teratur.
b. Pengurangan nyeri
Tujuan segera dari penanganan kolik renal atau ureteral adalah untuk mengurangi
nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan; morfin atau meperidin diberikan untuk
mencegah syok dan sinkop akibat nyeri yang luar biasa. Mandi air hangat di area
panggul dapat bermanfaat. Cairan diberikan, kecuali pasien mengalami muntah atau
menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang memerlukan pembatasan
cairan. Ini meningkatkan tekanan hidrostatik pada ruang di belakang batu sehingga
mendorong pasase batu tersebut ke bawah. Masukan cairan sepanjang hari
mengurangi konsentrasi kristaloid urin, mengencerkan urin dan menjamin haluaran
urin yang besar.
c. Kolaborasi pemmberian antibiotik untuk mengatasi infeksi.
d. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)
Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada
tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal, atau buli-buli
tanpa melalui tindakan invasif atau tanpa ada pembiusan dengan mengkonsentrasikan
gelombang kejut dari lokasi batu dari luar tubuh. Batu dipecah menjadi fragmenfragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. Tidak jarang
pecahan-pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik dan
menyebabkan hematuria. Setelah batu tersebut pecah menjadi bagian yang kecil
seperti pasir, sisa batu-batu tersebut dikeluarkan secara spontan.
e. Metode Endourologi Pengangkatan Batu
Mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor. Nefrostomi perkutan (atau
nefrolitotomi perkutan) dilakukan dan nefroskop dimasukkan ke traktus perkutan
yang sudah dilebarkan ke dalam parenkim ginjal.
13

f. Ureteroskopi
Mencakup visualisasi dan aksis ureter dengan memasukkan suatu alat ureteroskop
melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan menggunakan laser, lithotripsy
elektrohidraulik atau ultrasound kemudian diangkat.
g. Pelarutan batu
Infus cairan kemolitik (misal: agen pembuat asam dan basa) untuk melarutkan batu
dapat dilakukan sebagai alternative penanganan untuk pasien kurang beresiko
terhadap terapi lain dan menolak metode lain, atau mereka yang memiliki batu yang
mudah larut (struvit).
h. Pengangkatan batu
Jika batu terletak di dalam ginjal, pembedahan dilakukan dengan nefrolitotomi (insisi
pada ginjal untuk mengangkat batu) atau nefrektomi, jika ginjal tidak berfungsi akibat
infeksi atau hidronefrosis. Batu dalam piala ginjal diangkat dengan pielolitotomi.
I. Pencegahan
Untuk

pencegahan batu ginjal terdapat makanan dan minuman yang harus

dibatasi (Kowalak, 2011).:


1. Makanan kaya vitamin D harus dihindari (vitamin D meningkatkan reabsorpsi
kalsium).
2. Garam meja dan makanan tinggi natrium harus dikurangi (Na bersaing dengan Ca
dalam reabsorpsinya diginjal).
3. Produk susu: semua keju (kecuali keju yang lembut dan keju batangan); susu dan
produk susu (lebih dari cangkir per hari); krim asam (yoghurt).
4. Daging, ikan, unggas: otak, jantung, hati, ginjal, sardine, sweetbread, telur.
5. Sayuran: bit hijau, lobak, mustard hijau, bayam, lobak cina, buncis kering, kedelai,
seledri.
6. Buah: kelembak, semua jenis beri, kismis, buah ara, anggur.
7. Roti, sereal, pasta: roti murni, sereal, keripik, roti gandum, semua roti yang dicampur
pengembang roti, oatmeal, beras merah, sekam, benih gandum, jagung giling, seluruh
sereal kering (kecuali keripik nasi, com flakes).
8. Minuman: teh, coklat, minuman berkarbonat, bir, semua minuman yang dibuat dari
susu atau produk susu.
9. Lain-lain: kacang, mentega kacang, coklat, sup yang dicampur susu, semua krim,
makanan pencuci mulut yang dicampur susu atau produk susu (kue basah, kue kering,
pie).

14

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN BATU GINJAL

A. Pengkajian
Pengkajan adalah data dasar utama proses keperawatan yang tujuannya adalah untuk
memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan klien yang
memungkinkan perawat asuhan keperawatan kepada klien.
a. Identitas pasien yaitu: mencakup nama, umur, agama, alamat, jenis kelamin,
pendidikan, perkerjaan, suku, tanggal masuk, no. MR, identitas keluarga, dll.
b. Riwayat Kesehatan
Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya klien mengeluh nyeri pinggang kiri hilang timbul, nyeri muncul dari
pinggang sebelah kiri dan menjalar ke depan sampai ke penis. Penyebab nyeri

tidak di ketahui.
Riwayat Penyakit Dahulu
Kemungkinan klien sering mengkonsumsi makanan yang kaya vit D, klien suka
mengkonsumsi garam meja berlebihan, dan mengkonsumsi berbagai macam

makanan atau minuman dibuat dari susu/ produk susu.


Riwayat Penyakit Keluarga
Dikaji apakah keluarga klien mengalami batu ginjal atau penyakit lainnya.

Berdasarkan klasifikasi Doenges, riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:


a. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih banyak duduk
Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi
Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya

(cedera

serebrovaskuler, tirah baring lama)


15

b. Sirkulasi
Tanda:

Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal)


Kulit hangat dan kemerahan atau pucat

c. Eliminasi
Gejala:

Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya


Penrunan volume urine
Rasa terbakar, dorongan berkemih
Diare

Tanda:
Oliguria, hematuria, piouria
Perubahan pola berkemih
d. Makanan dan cairan:
Gejala:

Mual/muntah, nyeri tekan abdomen


Riwayat diet tinggi purin, kalsium oksalat dan atau fosfat
Hidrasi yang tidak adekuat, tidak minum air dengan cukup

Tanda:
Distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus
Muntah
e. Nyeri/kenyamanan:
Gejala:
Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik), lokasi nyeri tergantung lokasi batu (batu
ginjal menimbulkan nyeri dangkal konstan)
Tanda:
Perilaku berhati-hati, perilaku distraksi
Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit
f. Keamanan:
Gejala:
Penggunaan alkohol
Demam/menggigil
g. Penyuluhan/pembelajaran:
Gejala:

16

Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK

kronis
Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme
Penggunaan antibiotika, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinul, fosfat,
tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.

B. Diagnosa Keperawatan (NANDA)


Pre-operasi
1. Nyeri (akut) berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi
ureteral
2. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh
batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
3. Risiko

tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan

mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis
pasca obstruksi.
4. Ansietas berhubungan dengan kurang terpajan informasi tentang penyakit
5. Kurang

pengetahuan

tentang

kondisi,

prognosis

dan

kebutuhan terapi

berhubungan dengan kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi,


keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.
Post-operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
2. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan tindakan invasif
C. Intervensi
Pre-operasi
Diagnosa

Keperawatan/

Masalah Kolaborasi
Nyeri akut
Definisi :

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC :
NIC :

Pain Level, Pain Management

pain

Pengalaman sensori yang


tidak

menyenangkan

dan

pengalaman emosional yang

control,
comfort

level

Lakukan

pengkajian

komprehensif

nyeri

termasuk

secara
lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas


dan faktor presipitasi
17

muncul secara aktual atau Kriteria hasil:

Observasi

potensial kerusakan jaringan

Mampu

atau

menggambarkan

nyeri

adanya kerusakan (Asosiasi

nyeri,

Studi Nyeri Internasional):

menggunakan

tehnik

pasien

serangan
pelan

mengontrol

(tahu

reaksi

nonverbal

dari

ketidaknyamanan

penyebab

Gunakan teknik komunikasi terapeutik

mampu

untuk mengetahui pengalaman nyeri

mendadak

atau

nonfarmakologi

untuk

Kaji kultur yang mempengaruhi respon

intensitasnya

dari

mengurangi

nyeri,

nyeri

ringan sampai berat yang

mencari bantuan)

dapat diantisipasi dengan


akhir yang dapat diprediksi

Melaporkan

nyeri berkurang dengan

kesehatan lain tentang ketidakefektifan

dan dengan durasi kurang

menggunakan

kontrol nyeri masa lampau

dari 6 bulan.

manajemen nyeri

bahwa

Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau


Evaluasi

Bantu

bersama

pasien

pasien

dan

dan

keluarga

tim

untuk

Mampu mengenali nyeri

Batasan karakteristik :

mencari dan menemukan dukungan

(skala,

Laporan secara verbal

Kontrol

frekuensi

intensitas,
dan

tanda

lingkungan

mempengaruhi

nyeri

yang

dapat

seperti

suhu

atau non verbal


Fakta dari observasi
Posisi antalgic untuk

nyeri)

menghindari nyeri
Gerakan melindungi
Tingkah laku berhati-

nyaman setelah nyeri


berkurang

Pilih dan lakukan penanganan nyeri

Tanda

personal)

hati
Muka topeng
Gangguan tidur (mata
sayu,

tampak

capek,

sulit atau gerakan kacau,


menyeringai)
Terfokus
pada
sendiri
Fokus
(penurunan

diri

ruangan, pencahayaan dan kebisingan

Menyatakan

rasa

vital

rentang normal
Tidak

dalam

mengalami

gangguan tidur

Kurangi faktor presipitasi nyeri

(farmakologi, non farmakologi dan inter


Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi

Ajarkan tentang teknik non farmakologi

Berikan analgetik untuk mengurangi


nyeri

Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

menyempit

Tingkatkan istirahat

persepsi

Kolaborasikan dengan dokter jika ada

waktu, kerusakan proses

keluhan

berpikir,

berhasil

penurunan

interaksi dengan orang


dan lingkungan)
Tingkah laku distraksi,

dan

tindakan

nyeri

tidak

Monitor penerimaan pasien tentang


manajemen nyeri

18

contoh

jalan-jalan,

menemui

orang

dan/atau

lain

aktivitas,

Analgesic Administration

aktivitas berulang-ulang)
Respon autonom (seperti
diaphoresis,

perubahan

tekanan

dan dilatasi pupil)


Perubahan
autonomic
dalam

dan derajat nyeri sebelum pemberian


obat

darah,

perubahan nafas, nadi

tonus

Cek riwayat alergi

Pilih analgesik yang diperlukan atau


kombinasi

merintih,

gelisah,

panjang/berkeluh kesah)
Perubahan dalam nafsu
makan dan minum
Faktor yang berhubungan :
Agen injuri (biologi, kimia,
fisik, psikologis)

Diagnosa

Keperawatan/

Masalah Kolaborasi

analgesik

ketika

Tentukan pilihan analgesik tergantung


tipe dan beratnya nyeri

menangis,

waspada, iritabel, nafas

dari

pemberian lebih dari satu

(mungkin dalam rentang

(contoh

Cek instruksi dokter tentang jenis obat,


dosis, dan frekuensi

otot

dari lemah ke kaku)


Tingkah laku ekspresif

Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas,

Tentukan

analgesik

pilihan,

rute

pemberian, dan dosis optimal

Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk


pengobatan nyeri secara teratur

Monitor vital sign sebelum dan sesudah


pemberian analgesik pertama kali

Berikan analgesik tepat waktu terutama


saat nyeri hebat

Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan


gejala (efek samping)

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil

19

Resiko

defisit

volume NOC:

NIC :

Fluid balance
Fluid management
Hydration
popok/pembalut
jika
Definisi :
Nutritional Status : Timbang
diperlukan
Berisiko
mengalami
Food and Fluid Intake
Pertahankan catatan intake dan output
dehidrasi vaskular,seluler, Kriteria Hasil :
yang akurat
atau intraseluler.
Mempertahankan
Monitor status hidrasi ( kelembaban
cairan

urine

output

sesuai

membran

mukosa,

nadi

adekuat,

Faktor risiko:

dengan usia dan berat

tekanan

badan,

diperlukan
Monitor vital sign
Monitor masukan makanan / cairan

Kehilangan cairan aktif


Kurang pengetahuan
Penyimpangan yang
mempengaruhi absorp

cairan
Penyimpangan yang
mempengaruhi akses

cairan
Penyimpangan yang
mempengaruhi asupan

cairan
Kehilangan berlebihan
melalui rute normal

misalnya diare
Usia lanjut
Berat badan ekstrim
Faktor yang
mempengaruhi

BJ

urine

normal, HT normal
Tekanan darah, nadi,
suhu

tubuh

dalam

batas normal

Tidak ada tanda tanda


dehidrasi, Elastisitas

turgor kulit baik,

membran
mukosa
lembab, tidak ada rasa
haus yang berlebihan

darah

ortostatik

hipermetabolik)
Kegagalan fungsi

regulator
Kehilangan cairan

sesuai output
Dorong keluarga untuk membantu

pasien makan
Tawarkan snack ( jus buah, buah

segar )
Kolaborasi dokter jika tanda cairan

berlebih muncul meburuk


Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi

melalui rute abnormal


(misalnya selang
-

jika

dan hitung intake kalori harian


Lakukan terapi IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan
Berikan cairan IV pada suhu ruangan
Dorong masukan oral
Berikan
penggantian
nesogatrik

kebutuhan cairan (status


-

),

menetap)
Agen fermasutikal
(misalnya diuretik)

20

Diagnosa

Rencana keperawatan

Keperawatan/

Tujuan dan Kriteria

Masalah Kolaborasi
Ketidakseimbangan
nutrisi

kurang

NOC:
dari

kebutuhan tubuh
Definisi:

Asupan

nutrisi

tidak

cukup

untuk

memenuhi

Intervensi

Hasil

kebutuhan

metabolik.

Nutritional

status:

menentukan jumlah kalori dan nutrisi

Nutritional Status :

yang dibutuhkan pasien

Weight Control

Kram abdomen
Nyeri abdomen
Menghindari makanan
Berat badan 20% atau
lebih di bawah berat

badan ideal
Kerapuhan kapiler
Diare
Kehilangan
rambut

berlebihan
Bising usus hiperaktif
Kurang makanan
Kurang informasi
Kurang minat pada

makanan
Penurunan berat badan
dengan asupan makanan

adekuat
Kesalahan konsepsi
Kesalahan informasi
Membran mukosa pucat
Ketidakmampuan
memakan

Yakinkan

diet

mengandung

Kriteria Hasil:

yang

tinggi

dimakan

serat

untuk

mencegah konstipasi

Adanya peningkatan
Batasan karakteristik:

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk

Adequacy of nutrient
food and Fluid Intake

Kaji adanya alergi makanan

berat badan sesuai


dengan tujuan

Ajarkan pasien bagaimana membuat


catatan makanan harian.

Berat badan ideal

Monitor adanya penurunan BB dan


gula darah

sesuai dengan tinggi

Monitor lingkungan selama makan

badan

Jadwalkan pengobatan dan tindakan

Mampu

tidak selama jam makan

mengidentifikasi

Monitor turgor kulit

kebutuhan nutrisi

Monitor kekeringan, rambut kusam,

Tidak ada tanda


tanda malnutrisi
Menunjukkan
peningkatan
pengecapan

penurunan

Monitor mual dan muntah

Monitor

fungsi

terjadi
berat

pucat,

kemerahan,

dan

kekeringan jaringan konjungtiva

dari

menelan
Tidak

total protein, Hb dan kadar Ht

Monitor intake nuntrisi


Informasikan pada klien dan keluarga
tentang manfaat nutrisi

badan yang berarti

Kolaborasi dengan dokter tentang


kebutuhan suplemen makanan seperti
NGT/ TPN sehingga intake cairan
yang adekuat dapat dipertahankan.

Atur posisi semi fowler atau fowler


21

Tonus otot menurun


Mengeluh
gangguan
sensasi rasa
Mengeluh

asupan

makanan berkurang dari


RDA

(recommended

daily allowance)
Cepat kenyang setelah

tinggi selama makan

Kelola pemberan anti emetik:.....

Anjurkan banyak minum

Pertahankan terapi IV line

Catat

adanya

edema,

hiperemik,

hipertonik papila lidah dan cavitas


oval

makan
Sariawan rongga mulut
Steatorea
Kelemahan
otot
pengunyah
Kelemahan otot untuk
menelan
Faktor-faktor

yang

berhubungan:
Faktor biologis
Faktor ekonomi
Ketidakmampuan untuk
mengabsorpsi nutrien
Ketidakmampuan untuk
mencerna makanan
Ketidakmampuan untuk
menelan makanan
Faktor psikologis

Diagnosa

Keperawatan/

Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil

22

Ansietas

NOC :

NIC :

Definisi:

Anxiety self control

Anxiety

Anxiety level

kecemasan)

koping

Perasaan ketidaknyamanan
atau

kekhawatiran

samar

disertai

yang
respon

autonom (sumber sering kali


tidak spesifik atau tidak
diketahui

oleh

individu;

perasaan

takut

yang

disebabkan

oleh antisipasi

terhadap bahaya. Hal ini


merupakan

isyarat

kewaspadaan
memperingatkan

yang
individu

akan adanya bahaya dan


memampukan

individu

untuk bertindak menghadapi

Kriteria hasil:
Klien

menunjukkan
untuk

harapan

Jelaskan semua prosedur dan apa


Temani pasien untuk memberikan

Berikan informasi faktual mengenai


Libatkan

keluarga

untuk

Instruksikan

pada

pasien

untuk

menggunakan tehnik relaksasi

wajah, bahasa tubuh

ancaman.

jelas

mendampingi klien

normal
Postur tubuh, ekspresi

dengan

diagnosis, tindakan prognosis

cemas
Vital sign dalam batas

Nyatakan

keamanan dan mengurangi takut

tehnik

mengontol

yang

yang dirasakan selama prosedur

Mengidentifikasi,
mengungkapkan dan

pendekatan

terhadap pelaku pasien

mengungkapkan
gejala cemas

Gunakan

(penurunan

menenangkan

mampu

mengidentifikasi dan

Reduction

dan tingkat aktivitas

Dengarkan dengan penuh perhatian

menunjukkan

Identifikasi tingkat kecemasan

Batasan karakteristik:

berkurangnya

Bantu pasien mengenal situasi yang

kecemasan

Perilaku:
-

Penurunan

produktivitas
-

Gerakan

menimbulkan kecemasan
Dorong

pasien

untuk

mengungkapkan perasaan, ketakutan,


yang

ireleven
-

Gelisah

Melihat sepintas

Insomnia

Kontak mata yang

persepsi

Berikan

obat

untuk

mengurangi

kecemasan

buruk
-

Mengekspresikan
kekhwatiran karena
23

perubahan

dalam

peristiwa hidup

Agitasi

Mengintai

Tampak waspada

Afektif:
-

Gelisah,distres

Kesedihan

yang

mendalam
-

Ketakutan

Perasaaan

tidak

adekuat
-

Berfokus pada diri


sendiri

Peningkatan
kewaspadaan

Iritabilitas

Gugup

senang

berlebihan
-

Rasa

nyeri

yang

meningkatkan
ketidakberdayaan
-

Peningkatan

rasa

ketidakberdayaan
yang persisten
-

Bingung, menyesal.

Ragu

atau

tidak

percaya diri

Khawatir

Fisiologis
-

Wajah

tegang,
24

tremor tangan
-

Peningkatan keringat

Peningkatan
ketegangan

Gemetar atau tremor

Suara bergetar

Simpatik
-

Anoreksia

Eksitasi
kardiovaskuler

Diare,mulut kering

Wajah merah

Jantung

berdebar-

debar
-

Peningkatan tekanan
darah

Peningkatan refleks

Peningkatan
frekuensi pernafasan

Pupil melebar

Kesulitan bernafas

Vasokontriksi
superfisial

Lemah,

kedutan

pada otot

Parasimpatik
-

Nyeri abdomen

Penurunan

tekanan

darah
-

Penurunan

denyut

nadi
25

Diare, mual,vertigo

Letih,

gangguan

tidur
-

Kesemutan

pada

ekstremitas
-

Sering berkemih

Anyang-anyangan

Dorongan

segera

berkemih

Kognitif
-

Menyadari

gejala

fisiologis
-

Bloking

pikiran,

konfusi
-

Penurunan

lapang

persepsi
-

Kesulitan
berkonsentrasi

Penurunan
kemampuan

untuk

belajar
-

Penurunan
kemampuan

untuk

memecahkan
masalah
-

Ketakutan terhadap
konsekuensi

yang

tidak spesifik
-

Lupa,

gangguan

perhatian
-

Khawatir, melamun

Cenderung
26

menyalahkan orang
lain.
Faktor yang berhubungan:

Perubahan dalam(status
ekonomi,

lingkungan,

status kesehatan, pola


interaksi,fungsi

peran,

status peran)

Pemajanan toksin

Terkait keluarga

Herediter

Infeksi/kontaminan
interpersonal

Penularan

penyakit

interpersonal

Krisis maturasi

Krisis situasional

Stres, ancaman kematian

Penyalahgunaan zat

Ancaman pada (status


ekonomi,

lingkungan,

status kesehatan, pola


interaksi, fungsi peran,
status

peran,

konsep

diri)

Konflik tidak disadari


mengenai tujuan penting
hidup

Konflik tidak disadari


mengenai

nilai

yang

esensial atau penting.


27

Kebutuhan yang tidak


dipenuhi

Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Deficit Pengetahuan

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC:
NIC :
Knowledge : disease

Definisi: Ketiadaan atau

process

defisiensi informasi kognitif Knowledge : health


yang berkaitan dengan topic

Teaching: disease process

pengetahuan pasien tentang proses

Behavior

penyakit yang spesifik.

tertentu.

Kriteria hasil:
Batasan karakteristik:

dengan anatomi dan fisiologi, dengan

Perilaku hiperbola
Ketidakakuratan

menyatakan
pemahaman

tentang

mengikuti perintah
Ketidakakuratan

penyakit,

kondisi,

mengikuti tes
Perilaku tidak tepat

pengobatan

cara yang tepat.

prognosis dan program


Pasien dan keluarga
mampu melaksanakan

apatis)
Pengungkapan masalah

prosedur

yang

dijelaskan secara benar


Pasien dan keluarga
mampu

Gambarkan tanda dan gejala yang


biasa muncul pada penyakit, dengan
cara yang tepat

bermusuhan, agitasi,

Factor yang berhubungan:

Jelaskan patofisiologi dari penyakit


dan bagaimana hal ini berhubungan

Pasien dan keluarga

(mis., hysteria,

Berikan penilaian tentang tingkat

menjelaskan

Gambarkan proses penyakit, dengan


cara yang tepat
Identifikasi kemungkinan penyebab,
dengan cara yang tepat
Sediakan

informasi

pada

pasien

tentang kondisi, dengan cara yang


tepat
28

Keterbatasan kognitif
Salah interpretasi

kembali

dijelaskan perawat/tim

tentang kemajuan pasien dengan cara

informasi
Kurang pajanan
Kurang minat dalam

kesehatan lainnya

yang tepat

belajar
Kurang dapat mengingat
Tidak familier dengan

apa

yang

Sediakan bagi keluarga informasi

Diskusikan perubhan gaya hidup yang


mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan dating
dan

sumber informasi.

atau

proses

pengontrolan

pilihan

terapi

penyakit.

Diskusikan

atau

penanganan

Dukung pasien untuk mengeksplorasi


atau mendapatkan second opinion
dengan

cara

yang

tepat

atau

diindikasikan

Rujuk pasien pada grup atau agensi di


komunitas lokal dengan cara yang
tepat.

Instruksikan pasien mengenai tanda


gejala

untuk

melaporkan

pada

pemberi perawatan kesehatan dengan


cara yang tepat.

Post operasi
Diagnosa

Keperawatan/

Masalah Kolaborasi
Nyeri akut
Definisi :
Sensori

yang

tidak

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC :
NIC :

Pain Level, Pain Management

pain

Lakukan

pengkajian

komprehensif

nyeri

termasuk

secara
lokasi,

29

menyenangkan

dan

pengalaman emosional yang

control,
comfort

muncul secara aktual atau

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas


dan faktor presipitasi

level

potensial kerusakan jaringan


atau

Observasi

reaksi

nonverbal

dari

ketidaknyamanan

menggambarkan Kriteria hasil:

adanya kerusakan (Asosiasi

Mampu

Studi Nyeri Internasional):

nyeri

serangan

mengontrol

(tahu

penyebab

Gunakan teknik komunikasi terapeutik


untuk mengetahui pengalaman nyeri
pasien

mendadak

atau

nyeri,

intensitasnya

dari

menggunakan

tehnik

nyeri

ringan sampai berat yang

nonfarmakologi

untuk

Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau

dapat diantisipasi dengan

mengurangi

nyeri,

Evaluasi

akhir yang dapat diprediksi

mencari bantuan)

dan dengan durasi kurang


dari 6 bulan.

Melaporkan

pelan

Batasan karakteristik :

menghindari nyeri
Gerakan melindungi

Tingkah laku berhatihati


Muka topeng
Gangguan tidur (mata
tampak

capek,

sulit atau gerakan kacau,


menyeringai)
Terfokus
pada
sendiri
Fokus
(penurunan

bersama

pasien

dan

tim

kontrol nyeri masa lampau

nyeri berkurang dengan

Bantu

menggunakan

mencari dan menemukan dukungan

pasien

Kontrol

dan

keluarga

lingkungan

untuk

yang

dapat

seperti

suhu

Mampu mengenali nyeri

mempengaruhi

(skala,

ruangan, pencahayaan dan kebisingan

intensitas,

frekuensi

dan

nyeri)

tanda

Menyatakan

rasa

nyeri

Kurangi faktor presipitasi nyeri


Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan inter

nyaman setelah nyeri

personal)

berkurang

Kaji tipe dan sumber nyeri untuk

Tanda

vital

rentang normal
Tidak

dalam

menentukan intervensi

Ajarkan tentang teknik non farmakologi

mengalami

Berikan analgetik untuk mengurangi

gangguan tidur
diri

Kaji kultur yang mempengaruhi respon

kesehatan lain tentang ketidakefektifan


bahwa

manajemen nyeri

Laporan secara verbal


atau non verbal
Fakta dari observasi
Posisi antalgic untuk

sayu,

mampu

nyeri

Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

menyempit

Tingkatkan istirahat

persepsi

Kolaborasikan dengan dokter jika ada

waktu, kerusakan proses

keluhan

berpikir,

berhasil

penurunan

dan

tindakan

nyeri

30

tidak

interaksi dengan orang

dan lingkungan)
Tingkah laku distraksi,
contoh

manajemen nyeri

jalan-jalan,

menemui

orang

dan/atau

lain

Analgesic Administration

aktivitas,

perubahan

tekanan

Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas,


dan derajat nyeri sebelum pemberian

aktivitas berulang-ulang)
Respon autonom (seperti
diaphoresis,

Monitor penerimaan pasien tentang

obat

Cek instruksi dokter tentang jenis obat,


dosis, dan frekuensi

darah,

perubahan nafas, nadi

Cek riwayat alergi

dan dilatasi pupil)


Perubahan
autonomic

Pilih analgesik yang diperlukan atau

dalam

tonus

otot

(mungkin dalam rentang


dari lemah ke kaku)
Tingkah laku ekspresif
(contoh

merintih,

kombinasi

waspada, iritabel, nafas


panjang/berkeluh kesah)
Perubahan dalam nafsu

Keperawatan/

Masalah Kolaborasi

Tentukan

analgesik

pilihan,

rute

Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk


pengobatan nyeri secara teratur

Monitor vital sign sebelum dan sesudah


pemberian analgesik pertama kali
Berikan analgesik tepat waktu terutama
saat nyeri hebat

Faktor yang berhubungan :

Diagnosa

Tentukan pilihan analgesik tergantung

pemberian, dan dosis optimal

fisik, psikologis)

ketika

tipe dan beratnya nyeri

makan dan minum

Agen injuri (biologi, kimia,

analgesik

pemberian lebih dari satu

gelisah,
menangis,

dari

Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan


gejala (efek samping)

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil

31

Kerusakan integritas kulit

NOC :

Definisi:

Perubahan atau gangguan,

NIC : Pressure Management

Tissue Integrity : Skin Anjurkan pasien untuk menggunakan


and

epidermis dan/atau dermis


-

Mucous

Membranes
Hemodialis akses

Hindari kerutan pada tempat tidur


Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih

Batasan karakteristik:

Kerusakan lapisan kulit

atau dermis
Gangguan permukaan

kulit atau epidermis


Invasi struktur tubuh

dan kering

Kriteria hasil:
Integritas kulit yang
baik

bisa

dipertahankan
(sensasi,

elastisitas,

temperatur,
Faktor yang berhubungan:

pakaian yang longgar

hidrasi,

Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)


setiap dua jam sekali
Monitor kulit akan adanya kemerahan
Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada
derah yang tertekan
Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

pigmentasi)

Eksternal :

Zat kimia, radiasi

Tidak ada luka/lesi Monitor status nutrisi pasien


Memandikan pasien dengan sabun dan air
pada kulit

Usia yang ekstrim

Perfusi jaringan baik

Kelembaban

Menunjukkan

Hipertermia

atau

Kaji lingkungan dan peralatan yang


dalam

menyebabkan tekanan

(misalnya gaya gunting

perbaikan Observasi luka : lokasi, dimensi,


kedalaman luka, karakteristik,warna
kulit dan mencegah
cairan, granulasi, jaringan nekrotik,
terjadinya
sedera

atau shearing forces)

berulang

hipotermia
-

pemahaman

hangat

Faktor

proses
mekanik

tanda-tanda

infeksi

lokal,

formasi

traktus

Medikasi

Mampu

Lembab

kulit

Imobilitasi fisik

Internal :

dan Ajarkan pada keluarga tentang luka dan


perawatan luka
mempertahankan
kelembaban kulit dan Kolaburasi ahli gizi pemberian diae

Perubahan status cairan

perawatan alami

Perubahan pigmentasi

Cegah kontaminasi feses dan urin

Perubahan

Lakukan tehnik perawatan luka dengan

turgor

(elastisitas kulit)
-

Faktor perkembangan

Ketidakseimbangan

melindungi

TKTP, vitamin

steril
Berikan posisi yang mengurangi tekanan
pada luka

status nutrisi (obesitas,


emasiasi)
32

Penurunan imunologi

Penurunan sirkulasi

Kondisi

gangguan

metabolik
-

Gangguan sensasi

Tonjolan tulang

D. Implementasi
Menurut Nursalam (2011), implementasi adalah pelaksanaan dari rencana intervensi
untuk mencapai tujuan yang spesifi. Tahap implementasi dimulai setelah rencana
intervensi disusun dan ditujukan pada nursing ordersuntuk membantu klien mencapai
tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana intervensi yan spesifik dilaksanakan
utuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. Tujuan
dari implementasi adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, dan
memfasilitasi koping.

E. Evaluasi
Menurut Zaidin Ali (2009) Evaluasi keperawatan adalah suatu proses menentukan nilai
keberhasilan yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan keperawatan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Terdapat 3 komponen penting dalam evaluasi keperawatan,
yakni :
1. Pengkajian Ulang
Pengkajian ulang merupakan pemantauan status klien yang konstan dengan melihat
respons klien terhadap intervensi keperawatan dan kemajuan kearah pencapaian hasil
yang diharapkan dan dilaksanakan terus menerus sampai klien pulang dari rumah
sakit/sembuh.
2. Modifikasi rencana keperawatan
Hasil pengkajian ulang merupakan informasi yang sangat penting dalam
memodifikasi rencana keperawatan. Apabila telah terpenuhi kebutuhan fisiologis
dasar, seperti udara, air, makanan, dan keamanan, asuhan keperawatan beralih ke
tingkat yang lebih tinggi, misalnya harga diri. Apabila kebutuhan dasar belum
terpenuhi, kebutuhan dasar dipenuhi dahulu dan kebutuhan yang lebih tinggi ditunda.
3. Penghentian pelayanan
Apabila hasil yang diharapkan telah tercapai dan tujuan yang lebih luas telah
terpenuhi, penghentian pelayanan keperawatan dapat direncanakan. Akan tetapi, hal
33

ini agak sulit bagi pemecah masalah yang lama, misalnya perubahan nutrisi. Apabila
penghentian pelayanan keperawatan selesai, perhatian pelayanan berfokus pada
kemandirian klien dalam mengatasi masalah sendiri.
Ada dua macam evaluasi keperawatan, yakni evaluasi formatif dan evaluasi
sumatif.
a. Evaluasi formatif, yakni hasil observasi/pengamatan dan analisis perawat terhadap
respons klien pada saat pelaksanaan asuhan keperawatan atau sesudahnya.
b. Evaluasi sumatif, yaitu rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisis status
kesehatan klien sesuai dengan kerangka waktu yang telah ditetapkan. Kesimpulan
evaluasi sumatif menunjukkan adanya perkembangan kesehatan klien atau adanya
masalah baru.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Urolithiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam sistem urinarius.
Urolithiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius. Batu terbentuk
dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat,
kalsium fosfat, dan asam urat meningkat sedangkan nefrolitiasis adalah adanya batu
pada atau kalkulus dalam velvis renal.
Etiolgi dari urolithiasis dan nefrolitiasis terbagi dua, yaitu faktor instrinsik dan
ekstrinsik. Perjalanan penyakit urolithiasis dan nefrolitiasis hampir sama, yang
berawal dari faktor-faktor pada penyebab pembentukan batu yang dapat
berujung dapat terjadi penyakit ginjal kronis yang dapat menyebabkan kematian.
Penderita urolithiasis dan nefrolitiasis biasanya datang ke pelayanan kesehatan
dengan keluhan nyeri pada pinggang (kolik maupun bukan kolik). Sehingga untuk
memastikan dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosa yang
tepat. Dan melaksanakan penatalaksanaan yang bertujuan untuk menghilangkan batu,
menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan
mengurangi obstruksi yang terjadi.
34

Tujuan dasar penatalaksanaan batu ginjal adalah untuk menghilangkan batu,


menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan
mengurangi obstruksi yang terjadi. Penatalaksanaan batu ginjal dapat dilakukan
secara konservatif yaitu dengan obat-obatan dan diet maupun dilakukan pembedahan.
Diagnose keperawatan pada batu ginjal antara lain:
Pre-operasi
1. Nyeri (akut) berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi
ureteral
2. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh
batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
3. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan
mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter,
diuresis pasca obstruksi.
4. Ansietas berhubungan dengan kurang terpajan informasi tentang penyakit
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi
berhubungan dengan kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap
informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang
ada.
Post-operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
2. Kerusakan integritas jaringan/kulit berhubungan dengan tindakan invasif
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penyusun mengambil saran dalam rangka
meningkatkan pelayanan asuhan keperawatan. Adapun saran-saran adalah sebagai
berikut:
1. Perawat
Bagi seorang perawat sebaiknya harus memahami dan mengerti baik secara
teoritis maupun praktek tentang penyakit batu ginjal agar dapat melakukan
tindakan keperawatan.
2. Rumah Sakit
Bagi rumah sakit hendaknya melengkapi fasilitas rumah sakit sehingga pada
penderita batu ginjal mendapatkan ruangan dan fasilitas medis yang seharusnya

35

ada sehingga dapat melakukan tindakan keperawatan untuk mengurangi dari


gejala dan komplikasi penyakit batu ginjal.
3. Mahasiswa
Untuk mahasiswa sebaiknya memperdalam ilmu dalam perawatan pasien batu
ginjal agar dapat membantu pasien untuk mencapai kesembuhan dan pengobatan
dan agar mahasiswa lebih paham tentang pengertian, pencegahan, pengobatan
serta cara-cara perawatannya sehingga dapat memberikan pendidikan kesehatan
kepada pasien dan keluarganya.
4. Institusi pendidikan
Untuk institusi pendidikan diharapkan dapat melengkapi atau menambah bukubuku yang berkaitan dengan bidang keilmuan keperawatan seperti buku
keperawatan medikal bedah, asuhan keperawatan, dan lain-lain sebagai literatur
dalam menambah ilmu bagi mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. 2009. Dasar-dasar Dokumentasi Keperawatan. Jakarta : EGC.


Anonim. 2015. Batu Ginjal. [internet] tersedia dalam http://www.alodokter.com/batu-ginjal
diakses pada 8 Oktober 2015 pukul 18.00 WITA.
Elizabeth J. Corwin. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Kowalak, Jennifer P., dkk. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Kuntarti, 2009. Fisiologi Ginjal dan Sistem Saluran Kemih. Jakarta: Bagian Urologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Lina N, 2008. Faktor-Faktor Kejadian Batu Saluran Kemih Pada Laki-Laki. Tesis
Mahasiswa Pasca Sarjana Epidemiologi Universitas Diponegoro. [internet] tersedia
dalam http://eprints.undip.ac.id/18458/1/Nur_Lina.pdf

diakses pada 8 Oktober

2015 pukul 18.00 WITA.


Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC. Edisi Revisi Jilid 2. Yogyakarta: Penerbit
Mediaction.

36

Nursalam. 2011. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta : Salemba Medika.
Purnomo, B.B. 2011. Dasar-Dasar Urologi. Edisi ke 3. Jakarta: CV. Sagung Seto.
Rasad, Sjahriar. 2010. Radiologi Diagnostik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Rully, M. Azharry S. 2010. Batu Staghorn Pada Wanita: Faktor Risiko dan Tata Laksananya.
Vol. 1 No. 01. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia, Jakarta

37