Anda di halaman 1dari 42

BAB I

LATAR BELAKANG
1.1. Latar Belakang
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek
adalah radang kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada
gendang telinga (membran timpani) dan riwayat keluarnya cairan (sekret) dari
telinga (otore) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret
mungkin serous, mukous, atau purulen. Terjadi OMSK hampir selalu dimulai
dengan otitis media berulang pada anak, jarang dimulai setelah dewasa.1,2
Prevalensi OMSK di dunia adalah 65.000.000-330.000.000 jiwa, 94%
diantaranya terdapat di negara berkembang. Jumlah pasien OMSK tipe maligna
adalah 64 setiap tahunnya. Jumlah penderita ini kecil kemungkinan untuk
berkurang bahkan mungkin bertambah setiap tahunnya mengingat kondisi
ekonomi yang masih buruk kesadaran masyarakat akan kesehatan yang masih
rendah dan pengobatan yang tidak tuntas. Otitis media supuratif kronik
merupakan penyakit THT yang paling banyak ditemukan di negara sedang
berkembang. Secara umum, insiden OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor
sosioekonomi. Prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan termasuk dalam
klasifikasi tinggi dibandingkan dengan beberapa negara lain. Berdasarkan Survei
Nasional Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran oleh Departemen
Kesehatan RI tahun 1994-1996, angka kesakitan (morbiditas) Telinga, Hidung,
dan Tenggorok (THT) di Indonesia sebesar 38,6% dengan prevalensi morbiditas
tertinggi pada kasus telinga dan gangguan pendengaran yaitu sebesar 38,6% dan
prevalensi otitis media supuratif kronis antara 2,1-5,2%. 3,4
OMSK dapat terbagi atas 2 yaitu OMSK tipe aman dan OMSK tipe
bahaya. Peradangan pada OMSK tipe aman terbatas hanya pada mukosa dan
biasanya tidak mengenai tulang. Perforasinya terletak sentral dan jarang
menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Sedangkan OMSK tipe bahaya dapat
mengenai tulang, ditandai dengan adanya kolesteatom dan dapat menimbulkan
komplikasi intrakranial yang antara lain seperti meningitis, abses otak otogenik,
1

empiema subdural, abses extradural, ensefalitis dan trombosis sinus lateralis.


Komplikasi ekstrakranial yang dapat timbul adalah labirintis, paresis nervus
fasialis, mastoiditis, petrositis.5
Komplikasi ke intrakranial merupakan penyebab utama kematian pada
OMSK di negara sedang berkembang, yang sebagian besar kasus terjadi karena
penderita mengabaikan keluhan telinga berair. Kematian terjadi pada 18,6% kasus
OMSK dengan komplikasi intrakranial seperti meningitis.3

BAB II
LAPORAN KASUS
Identitas Penderita
Nama

: Tn. H bin S

Umur

: 43Tahun

Status Poliklinik : 21 Maret 2016

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan

Alamat

: Pedagang

: Jl. Tembok baru

Anamnesis
Keluhan Utama
Keluhan Tambahan

: Keluar cairan dari telinga kanan


:Nyeri,

telinga

suka

berdenging,

pendengaran menurun
Riwayat Perjalanan Penyakit

: Pasien datang ke poli THT RSUD


Palembang BARI dengan keluhan sejak
4 minggu yang lalu, cairan berwarna
putih kekuningan dan mengeluarkan bau
tidak

sedap.

Kadang-kadang

os

merasakan nyeri pada telinganya. Pasien


mengeluh telinganya sering berdenging
dan pendengarannya menurun. Demam
(+), Batuk pilek (+)
Penyakit yang pernah diderita

: Pasien memiliki keluhan yang sama pada


telinga kiri saat pasien belum masuk SD.
Keluhan ini dirasakan sampai pasien
masuk

SMP.

Kemudian

keluhan

berulang kembali pada saat pasien


kuliah. Riwayat mengalami pilek 1
minggu sebelum mengalami keluhan
pada telinga . Riwayat alergi disangkal
oleh pasien, riwayat Diabetes Mellitus
disangkal,

Riwayat

sakit

jangtung

disangkal,

riwayat

penyakit

asma

disangkal.
Pemeriksaan
Status Generalis
Kesadaran Umum

: Compos Mentis

Kesadaran

: E4, V5, M6

Gizi

: Cukup

Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 84 kali/menit

Pernapasan

: 22 kali/menit

Suhu

: 36,6C

Jantung

: SI-SII normal, murmur (-), gallop (-)

Paru-Paru

: Vesikuler normal (+), wheezing (-), rhonki (-)

Abdomen

: Datar, lemas, nyeri epigastrium (-), BU (+)


normal, pembesaran hepar dan lien (-)

Ekstremitas

: Hangat, edema (-), sianosis (-)

Status Lokalis
Telinga
I. Telinga Luar
Regio Retroaurikula

Kanan

Kiri

Aurikula

Abses
Sikatrik
Pembengkakan
Fistula
Jaringan Granulasi

Regio Zigomatikus
-

Kista Brankial Klep


Fistula
Lobulus Aksesorius
Mikrotia
Efusi Perikondrium

Keloid
Nyeri tarik aurikula
Nyeri tekan tragus

Meatus Akustikus Eksternus


-

Lapang/sempit
Odeme
Hiperemis
Pembengkakan
Erosi
Krusta
sekret

(serous/seromukous/mukopus/pus)
Perdarahan
Bekuan darah
Cerumen plug
Epithelial plug
Jaringan Granulasi
Debris
Benda asing
Sagging
Exostosis

Lapang

Lapang

++

TAK

TAK

Bulat

Bulat

II. Membran timpani


-

Warna

(putih/suram/hiperemis/hematoma)
Bentuk (oval/bulat)
Reflek cahaya
Retraksi
Bulging
Bulla
Rupture
Perforasi

(sentral/perifer/marginal/attic)
Pulsasi
Sekret
(serous/seromukous/mukopus/pus)

Sentral

T.A.K

T.A.K

(kecil/besar/subtotal/total)
-

Tulang pendengaran
Kolesteatoma
Polip
Jaringan granulasi

Gambar Membran Timpani


Kanan

III. Tes khusus


1. Tes garpu tala
Tes Rinne
Tes Weber
Tes Scwabach
2.

Tes Audiometri

Kiri

Kanan
-

Kiri
-

Audiogram
Frekuensi (Hz)
125

250

500

1000

2000

4000

8000

Tingkat
Pendengaran
Dalam
Desibles (dB)

3. Tes Fungsi Tuba


- Tes Valsava
- Tes Toynbee

Kanan
-

Kiri
-

4. Tes Kalori
- Tes Kobrak

Kanan
-

Kiri
-

Hidung
I. Tes Fungsi Hidung
- Tes aliran udara
- Tes penciuman
Teh
Kopi
Tembakau

Kanan
+

Kiri
+

Kanan
T.A.K

Kiri
T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K
Kanan

T.A.K
Kiri

- Sikatrik

- Stenosis

- Atresia

- Furunkel

- Krustas

- Sekret

- Utuh/tidak utuh

T.A.K

T.A.K

- Sikatrik

T.A.K

T.A.K

- Ulkus

T.A.K

T.A.K

II. Hidung luar


- Dosum nasi
- Akar hidung
- Puncak hidung
- Sisi hidung
- Ala nasi
- Deformitas
- Hematoma
- Pembengkakan
- Krepitasi
- Hiperemis
- Erosi kulit
- Vulnus
- Ulkus
- Tumor
- Duktus nasolakrimalis
(Tersumat/tidak tersumbat)

III. Hidung Dalam


1. Rinoskopi Anterior
a. Vestibulum nasi

(serous/seromukus/mukopus/pus)
b. Kolumela

c. Cavum nasi
- Luasnya (lapang/cukup/sempit)
- Sekret

Lapang

Lapang

Eutropi

Eutropi

(serous/seromukus/mukopus/
Pus)
- Krusta
- Bekuan darah
- Perdarahan
- Benda asing
- Rinolit
- Polip
- Tumor
d. Konka Inferior
- Mukosa
(erutropi/hipertrofi/atropi)
(basah/kering)
( licin/tak licin)
- Warna (merah
muda/hiperemis/pucat/livide)
- Tumor
i. Septum nasi
- Mukosa
(erutropi/hipertropi/atropi)
( basah/kering)
(licin/tak licin)
- Warna (merah
muda/hiperemis/pucat/livide)
- Tumor
- Deviasi ( ringan/sedang/berat)
(kanan/kiri)
(Superior/inferior)
(Anterior/Posterior)
(bentuk C/bentuk S)
- Krista
- Spina
- Abses
- Hematoma
- Perforasi

10

- Erosi Septum Anterior


-

Kanan
-

Kiri
-

Gambar Dinding Lateral Hidung Dalam

Gambar Hidung Dalam Potongan Frontal

2. Rinoskopi Posterior
- Postnasal drip
-

Mukosa (licin/tak licin)


(merah muda/hiperemis)

Adenoid

11

Tumor

Koana (sempit/lapang)

Fossa Russenmullery

(tumor/tidak)
-

Torus tobarius (licin/tak licin)

Muara tuba (tertutup/terbuka)

Kanan

Kiri

- Infraorbitalis

- Frontalis

- Kantus medialis

Pembengkakan

Transluminasi
- Region infraorbitalis

- Region palatum durum

(secret/tuba)
Gambaran Hidung Bagian Posterior

IV. Pemeriksaan Sinus Paranasal


- Nyeri tekan/ketok

Tenggorok
I. Rongga Mulut
- Lidah
(hiperemis/edema/ulkus/fissure)

Kanan
T.A.K

Kiri
T.A.K

12

( mikroglosia/makroglosia)
( leukoplakia/gumma)
( papiloma/kista/ulkus)
- Gusi (hiperemis/edema/ulkus)

T.A.K

T.A.K

- Bukal (hiperemis/edema)

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

(vesikel/ulkus/mukolel)
- Palatum durum
(utuh/terbelah/pistel)
(hiperemis/ulkus)
(pembengkakan/abses/tumor)
(rata/tonus palatinus)
- Kelenjar ludah
(pembengkakan/litiasisi)
(striktur/ranula)
- Gigi geligi
(mikrodontia/makrodontia)
(anadontia/supernumeri)
(kalkulus/karies)
II. Faring
- Pallatum molle

Kanan
T.A.K

Kiri
T.A.K

Simetris

Simetris

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

T.A.K

(hiperemis/edema/asimetris/ulkus)
-

Uvula (edema/asimetris/bifida/elongating)

Pilar anterior ( hiperemis/edema/perlengketan)


( pembengkakan/ulkus)

Pilar posterior(hiperemis/edema/perlengketan)
(pembengkakan/ulkus)

Dinding belakang faring ( hiperemis/edema)


( granuler/ulkus)
( secret/membrane)

Lateral band ( menebal/tidak)

13

Tonsil palatina ( derajat pembesaran)

T1

T1

( permukaan rata/tidak)
( konsistensi kenyal/tidak)
( lekat/tidak)
( kripta lebar/tidak)
( detritus/membrane)
( hiperemis/edema)
( ulkus/tumor)
Gambar Rongga Mulut dan Faring

Rumus Gigi-Geligi

III. Laring
1. Laringoskopi tidak langsung
(indirect
- Dasar lidah (tumor/kista)
- Tonsila Lingualis (eutropi /
hipertropi)

Kanan
-

Kiri
-

14

Valekula (benda asing/tumor)


Fosa piriformis(benda asing

/tumor)
Epiglotis (hiperemis/ udem/

ulkus/ membran)
Aritenoid
(hiperemis/udem/ulkus/memb

ran)
Pita Suara
(hiperemis/udem/menebal),
(nodus/polip/tumor), (gerak

simetris/asimetris)
Pita suara palsu

(hiperemis/udem)
Rima glotis (lapang/sempit)
- Trakea
2. laringoskopi langsung (direct)
-

Gambaran laringoskopi tidak langsung

Pemeriksaan laboratorium

Darah : Tidak dilakukan


Urine : Tidak dilakukan
Feses : Tidak dilakukan
Mikrobiologi kultur dan resistensi
Tidak dilakukan
Tes Alergi (Prick Test)
Tidak dilakukan

Pemeriksaan Radiologi

CT-Scan

15

Rontgen os mastoid

Diagnosis Banding

Otitis Media akut


Otitis Media supuratif kronik Banigna
Otitis Media Supuratif kronik Maligna

Diagnosis kerja

Otitis Media Supuratif Kronik Banigna

Pengobatan
I

Medikamentosa
Tatalaksana medikamentosa antara lain pemberian obat penuci telinga H 2O2
3% selama 3-5 hari. Setelah secret berkurang, maka terapi dilanjutkan
dengan pemberian antibiotik spektrum luas seperti klorampenikol 1% tetes
telinga, 3x1 tetes sehari dan antibiotik sistemik yang berspektrum luas dari
golongan ampisilin atau eritromisin namun tidak boleh lebih dari 1 minggu.
Pada infeksi yang dicurigai resisten terhadap ampisilin diberikan ampisilin

II

asam klauvanat.
Operatif
Pendekatan ganda miringoplasti atau timpanoplasti untuk menghentikan
infeksi secara permanen, memperbaiki membrane timpani yang perforasi
dan mencegah komplikasi.

III

Nasihat
Kontrol jika obat habis. Minum obat secara teratur dan sesuai dosis.
Untuk antibiotik harus dihabiskan. Tatalaksana non medikamentosa yang
dapat dilakukan yaitu jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga
sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera berobat bila menderia infeksi

VI

saluran nafas.
Pemeriksaan Anjuran
Pemeriksaan photo rontgen ataupun CT-Scan os mastoid

16

VII Prognosis
Quo ad vitam: Bonam
Quo ad functionam: Dubia e bonam

17

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba eustakhius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. 5 Otitis Media
Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek adalah radang
kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang
telinga (membran timpani) dan riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga
(otore) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret
mungkin serous, mukous, atau purulen.1,2,3
Otitis Media Akut (OMA) dengan perforasi membran timpani dapat
menjadi otitis media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2
bulan. Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK, antara
lain: terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi
kuman yang tinggi, daya tahan tubuh pasien yang rendah (gizi kurang), dan
higiene yang buruk.5
2.2. Anatomi Telinga Tengah
Telinga tengah berbentuk kubus dengan :5
Batas luar

: membran timpani

Batas depan

: tuba eustakhius

Batas bawah

: vena jugular (bulbus jugularis)

Batas belakang

: aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis

Batas atas

: tegmen timpani (meningen/ otak)

Batas dalam

: berturut-turut dari atas ke bawah kanalis


semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap
lonjong (oval window), tingkap bundar (round
window) dan promontorium.

18

Gambar 1. Anatomi Telinga.7

Gambar 2. Anatomi Telinga Tengah7


Telinga tengah terdiri atas: membran timpani, kavum timpani,
prosesus mastoideus, dan tuba eustakhius.1,5,6
1. Membran Timpani
Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan
memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membran ini
memiliki panjang vertikal rata-rata 9-10 mm, diameter antero-posterior
kira-kira 8-9 mm, dan ketebalannya rata-rata 0,1 mm .Letak membran
timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga akan tetapi miring yang

19

arahnya dari belakang luar ke muka dalam dan membuat sudut 45 0 dari
dataran sagital dan horizontal. Membran timpani berbentuk kerucut,
dimana bagian puncak dari kerucut menonjol ke arah kavum timpani
yang dinamakan umbo. Dari umbo ke muka bawah tampak refleks
cahaya (cone of ligt).
Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu :1
a. Stratum kutaneum (lapisan epitel) berasal dari liang telinga.
b. Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani.
c. Stratum fibrosum (lamina propria) yang letaknya antara stratum
kutaneum dan mukosum.
Secara Anatomis membran timpani dibagi dalam 2 bagian :1
a. Pars tensa
Bagian terbesar dari membran timpani yang merupakan permukaan
yang tegang dan bergetar, sekelilingnya menebal dan melekat pada
anulus fibrosus pada sulkus timpanikus bagian tulang dari tulang
temporal.
b. Pars flaksida atau membran Shrapnell.
Letaknya di bagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa. Pars
flaksida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu :
Plika maleolaris anterior (lipatan muka).
Plika maleolaris posterior (lipatan belakang).
Membran timpani terletak dalam saluran yang dibentuk oleh tulang
dinamakan sulkus timpanikus. Akan tetapi bagian atas muka tidak
terdapat sulkus ini dan bagian ini disebut insisura timpanika (rivini).
Permukaan luar dari membran timpani disarafi oleh cabang nervus
aurikulo temporalis dari nervus mandibula dan nervus vagus. Permukaan
dalam disarafi oleh nervus timpani cabang dari nervus glossofaringeal.
Aliran darah membran timpani berasal dari permukaan luar dan
dalam. Pembuluh-pembuluh epidermal berasal dari aurikula yang
merupakan cabang dari arteri maksilaris interna. Permukaan mukosa
telinga tengah didarahi oleh arteri timpani anterior cabang dari arteri

20

maksilaris interna dan oleh stilomastoid cabang dari arteri aurikula


posterior.

Gambar 3. Telinga kanan. Membran Timpani Normal1


2. Kavum Timpani
Kavum timpani terletak di dalam pars petrosa dari tulang temporal,
bentuknya bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter anteroposterior atau vertikal 15 mm, sedangkan diameter transversal 2-6 mm.
Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap, lantai, dinding
lateral, medial, anterior, dan posterior.
Kavum timpani terdiri dari :1,5
a.

Tulang-tulang pendengaran, terbagi atas: malleus (hammer/martil),

b.

inkus (anvil/landasan), stapes (stirrup/pelana)


Otot, terdiri atas: otot tensor timpani (muskulus tensor timpani) dan

otot stapedius (muskulus stapedius).


c.
Saraf korda timpani.
d.
Saraf pleksus timpanikus.
Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap, lantai, dinding
lateral, dinding medial, dinding anterior, d inding posterior.
1. Atap kavum timpani.
Dibentuk oleh lempengan tulang yang tipis disebut tegmen timpani.
Tegmen timpani memisahkan telinga tengah dari fosa kranial dan lobus
temporalis dari otak. Bagian ini juga dibentuk oleh pars petrosa tulang
temporal dan sebagian lagi oleh skuama dan garis sutura petroskuama.
Dinding ini hanya dibatasi oleh tulang yang

21

tipis atau ada kalanya tidak ada tulang sama sekali ( dehisensi). Pada
anak-anak, penulangan dari sutura petroskuamosa belum terbentuk pada
daerah tegmen timpani, sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran
infeksi dari kavum timpani ke meningen dari fosa kranial media. Pada
orang dewasa bahkan vena-vena dari telinga tengah menembus sutura ini
dan berakhir pada sinus petroskuamosa dan sinus petrosal superior
dimana hal ini dapat menyebabkan penyebaran infeksi dari telinga tengah
secara langsung ke sinus-sinus venosus kranial.
2. Lantai kavum timpani
Dibentuk oleh tulang yang tipis memisahkan lantai kavum timpani dari
bulbus jugularis, atau tidak ada tulang sama sekali hingga infeksi dari
kavum timpani mudah merembet ke bulbus vena jugularis.
3. Dinding medial.
Dinding medial ini memisahkan kavum timpani dari telinga dalam, ini
juga merupakan dinding lateral dari telinga dalam. Dinding ini pada
mesotimpanum

menonjol

kearah

kavum

timpani,

yang

disebut

promontorium Tonjolan ini oleh karena didalamnya terdapat koklea.


Didalam promontorium terdapat beberapa saluran-saluran yang berisi
saraf-saraf yang membentuk pleksus timpanikus. Dibelakang dan atas
promontorium terdapat fenestra vestibuli atau foramen ovale (oval
windows), bentuknya seperti ginjal dan berhubungan pada kavum
timpani dengan vestibulum, dan ditutupi oleh telapak kaki stapes dan
diperkuat oleh ligamentum anularis. Foramen ovale berukuran 3,25 mm x
1,75 mm. Diatas fenestra vestibuli, sebagai tempat jalannya nervus
fasialis. Kanalis ini didalam kavum timpani tipis sekali atau tidak ada
tulang sama sekali ( dehisensi). Fenestra koklea atau foramen rotundum (
round windows), ditutupi oleh suatu membran yang tipis yaitu membran
timpani sekunder, terletak dibelakang bawah. Foramen rotundum ini
berukuran 1,5 mm x 1,3 mm pada bagian anterior dan posterior 1,6 mm.
Kedua lekukan dari foramen ovale dan rotundum berhubungan satu sama
lain pada batas posterior mesotimpanum melalui suatu fosa yang dalam

22

yaitu sinus timpanikus. Suatu ruang secara klinis sangat penting ialah
sinus posterior atau resesus fasial yang didapat disebelah lateral kanalis
fasial dan prosesus piramidal. Dibatasi sebelah lateral oleh anulus
timpanikus posterosuperior, sebelah superior oleh prosesus brevis inkus
yang melekat kefosa inkudis. Lebar resesus fasialis 4,01 mm dan tidak
bertambah semenjak lahir. Resesus fasialis penting karena sebagai
pembatas antara kavum timpani dengan kavum mastoid sehingga bila
aditus as antrum tertutup karena suatu sebab maka resesus fasialis bisa
dibuka untuk menghubungkan kavum timpani dengan kavum mastoid.
4. Dinding posterior
Dinding posterior dekat keatap, mempunyai satu saluran disebut aditus,
yang menghubungkan kavum timpani dengan atrum mastoid melalui
epitimpanum. Dibawah aditus terdapat lekukan kecil yang disebut fosa
inkudis yang merupakan
suatu tempat prosesus brevis dari inkus dan melekat pada serat-serat
ligamen. Dibawah fosa inkudis dan dimedial dari korda timpani adalah
piramid, tempat terdapatnya tendon muskulus stapedius, tendon yang
berjalan keatas dan masuk kedalam stapes. Diantara piramid dan anulus
timpanikus adalah resesus fasialis. Dibelakang dinding posterior kavum
timpani adalah fosa kranii posterior dan sinus Sigmoid. Disebelah dalam
dari piramid dan nervus fasialis merupakan perluasan kearah posterior
dari mesotimpani adalah sinus timpani. Perluasan sel-sel udara kearah
dinding posterior dapat meluas seperti yang dilaporkan Anson dan
Donaldson (1981), bahwa apabila diukur dari ujung piramid, sinus dapat
meluas sepanjang 9 mm kearah tulang mastoid. Dinding medial dari
sinus timpani kemudian berlanjut ke bagian posterior dari dinding medial
kavum timpani dimana berhubungan dengan dua fenestra dan
promontorium.
5. Dinding anterior

23

Dinding anterior kavum timpani agak sempit tempat bertemunya dinding


medial dan dinding lateral kavum timpani. Dinding anterior bawah
adalah lebih besar dari bagian atas dan terdiri dari lempeng tulang yang
tipis menutupi arteri karotis pada saat memasuki tulang tengkorak dan
sebelum berbelok ke anterior. Dinding ini ditembus oleh saraf timpani
karotis superior dan inferior yang membawa serabut-serabut saraf
simpatis kepleksus timpanikus dan oleh satu atau lebih cabang timpani
dari arteri karotis interna1. Dinding anterior ini terutama berperan
sebagai muara tuba eustachius. Tuba ini berhubungan dengan nasofaring
dan mempunyai dua fungsi. Pertama menyeimbangkan tekanan membran
timpani pada sisi sebelah dalam, kedua sebagai drainase sekresi dari
telinga tengah, termasuk sel-sel udara mastoid. Diatas tuba terdapat
sebeuah saluran yang berisi otot tensor timpani. Dibawah tuba, dinding
anterior biasanya tipis dimana ini merupakan dinding posterior dari
saluran karotis.
6. Dinding lateral
Dinding lateral kavum timpani adalah bagian tulang dan membran.
Bagian tulang berada diatas dan bawah membran timpani. Kavum
timpani dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
a. Epitimpanum.
Berada dibagian atas membran timpani. Merupakan bagian superior
kavum timpani, disebut juga atik karena terletak diatas membran
timpani. sebagian besar atik diisi oleh maleus inkus. Dibagian superior
epitimpanum dibatasi oleh suatu penonjolan tipis os posterior. Dinding
medial atik dibentuk oleh kapsul atik yang ditandai oleh penonjolan
kanalis semisirkularis lateral. Pada bagian anterior terdapat ampula
kanalis superior, dan lebih anterior ada ganglion genikulatum, yang
merupakan tanda ujung anterior ruang atik.
Dinding anterior terpisah dari maleus oleh suatu ruang yang sempit,
disini dapat dijumpai muara sel-sel udara yang membuat pneumatisasi
pangkal tulang pipi (zygoma). Dinding lateral atik dibentuk oleh os

24

skuama yang berlanjut kearah lateral sebagai dinding liang telinga luar
bagian tulang sebelah atas. Diposterior, atik menyempit menjadi jalan
masuk ke antrum mastoid, yaitu aditus ad antrum.
b. Mesotimpanum
Terletak kearah medial dari membran timpani. Disebelah medial
dibatasi oleh kapsul otik, yang terletaknya lebih rendah dari pada
nervus fasialis pars timpani. Dinding anterior mesotimpani terdapat
orifisium timpani tuba eustachius pada bagian superior dan
membentuk bagian tulang dinding saluran karotis asendens pada
bagian inferior. Dinding ini biasanya mengalami pneumatisasi yang
baik dan dapat dijumpai bagian-bagian tulang lemah.
c. Hipotimpanum atau resesus hipotimpanikus
Terletak dibawah membrana timpani, berhubungan dengan bulbus
jugulare.
Kavum timpani terdiri dari :
1. Tulang-tulang pendengaran ( maleus, inkus, stapes).
2. Dua otot.
3. Saraf korda timpani.
4. Saraf pleksus timpanikus.
3. Prosesus mastoideus
Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak
mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding
medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak
di bawah duramater pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid
terdapat aditus ad antrum.
4. Tuba eustakhius.1,5,6
Tuba eustakhius disebut juga tuba auditori atau tuba faringotimpani
berbentuk seperti huruf S. Tuba ini merupakan saluran yang
menghubungkan kavum timpani dengan nasofaring. Pada orang dewasa

25

panjang tuba sekitar 36 mm berjalan ke bawah, depan dan medial dari


telinga tengah dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm.
Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu :
a. Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian).
b. Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3
bagian).
Fungsi Tuba Eustakhius adalah ventilasi, drenase sekret dan
menghalangi masuknya sekret dari nasofaring ke telinga tengah.Ventilasi
berguna untuk menjaga agar tekanan di telinga tengah selalu sama dengan
tekanan udara luar. Adanya fungsi ventilasi tuba dapat dibuktikan dengan
melakukan perasat Valsava dan perasat Toynbee.5
Perasat Valsava meniupkan dengan keras dari hidung sambil mulut
dipencet serta mulut ditutup. Bila Tuba terbuka maka akan terasa ada udara
yang masuk ke telinga tengah yang menekan membran timpani ke arah
lateral. Perasat ini tidak boleh dilakukan kalau ada infeksi pada jalur nafas
atas.5
Perasat Toynbee dilakukan dengan cara menelan ludah sampai hidung
dipencet serta mulut ditutup. Bila tuba terbuka maka akan terasa membran
timpani tertarik ke medial. Perasat ini lebih fisiologis.5
2.3Epidemiologi
Otitis media supuratif kronik merupakan penyakit THT yang paling
banyak ditemukan di negara sedang berkembang. Secara umum insiden
OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor sosioekonomi. Misalnya, OMSK
lebih sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika, anak-anak
aborigin Australia dan orang kulit hitam di Afrika Selatan. Walaupun
demikian, lebih dari 90% beban dunia akibat OMSK ini dipikul oleh negaranegara di Asia Tenggara, daerah Pasifik Barat, Afrika, dan beberapa daerah
minoritas di Pasifik. Kehidupan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan
kumuh, dan status kesehatan serta gizi yang jelek merupakan faktor yang
menjadi dasar untuk meningkatnya prevalensi OMSK pada negara yang
sedang berkembang.3

26

Survei prevalensi di seluruh dunia menunjukkan bahwa beban dunia


akibat OMSK melibatkan 65330 juta orang dengan telinga berair, dimana
60% di antaranya (39200 juta) menderita kurangnya pendengaran yang
signifikan.
Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan
termasuk dalam klasifikasi tinggi dalam tingkatan klasifikasi insidensi.
Pasien OMSK meliputi 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik
THT rumah sakit di Indonesia. Berdasarkan Survei Nasional Kesehatan
Indera Penglihatan dan Pendengaran oleh Departemen Kesehatan R.I tahun
1994-1996, angka kesakitan (morbiditas) Telinga, Hidung, dan Tenggorok
(THT) di Indonesia sebesar 38,6% dengan prevalensi morbiditas tertinggi
pada kasus telinga dan gangguan pendengaran yaitu sebesar 38,6% dan
prevalensi otitis media supuratif kronis antara 2,1-5,2%. 4 Data poliklinik
THT RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2006 menunjukkan pasien OMSK
merupakan 26% dari seluruh kunjungan pasien.3
2.4

Klasifikasi
OMSK dapat dibagi atas 2 tipe, yaitu :1,3
a. Tipe tubotimpani (tipe jinak/tipe aman/tipe rinogen)
Proses peradangan pada OMSK tipe tubotimpani hanya terbatas
pada mukosa saja dan biasanya tidak mengenai tulang. Tipe tubotimpani
ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik
yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa faktor lain
yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustakhius, infeksi
saluran nafas atas, pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada
pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah. Disamping itu campuran
bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta
migrasi

sekunder

dari

epitel

skuamosa

juga

berperan

dalam

perkembangan tipe ini. Sekret mukoid kronis berhubungan dengan


hiperplasia goblet sel, metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tipe
respirasi dan mukosiliar yang jelek.

27

b. Tipe atikoantral (tipe ganas/tipe tidak aman/tipe tulang)


Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya.
Perforasi tipe ini letaknya marginal atau di atik yang lebih sering
mengenai pars flaksida. Karakteristik utama dari tipe ini adalah
terbentuknya kantong retraksi yang berisi

tumpukan keratin sampai

menghasilkan kolesteatom.
2.5

Patogenesis
OMSK dimulai dari episode infeksi akut terlebih dahulu. Patofisiologi
dari OMSK dimulai dari adanya iritasi dan inflamasi dari mukosa telinga
tengah yang disebabkan oleh multifaktorial, diantaranya infeksi yang dapat
disebabkan oleh virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi, kekebalan
tubuh turun, lingkungan dan sosial ekonomi. Kemungkinan penyebab
terpenting mudahnya anak mendapat infeksi telinga tengah adalah struktur
tuba pada anak yang berbeda dengan dewasa dan kekebalan tubuh yang
belum berkembang sempurna sehingga bila terjadi infeksi jalan napas atas,
maka lebih mudah terjadi infeksi telinga tengah berupa Otitis Media Akut
(OMA).1,3
Respon inflamasi yang timbul adalah berupa udem mukosa. Jika
proses inflamasi ini tetap berjalan, pada akhirnya dapat menyebabkan
terjadinya ulkus dan merusak epitel. Mekanisme pertahanan tubuh penderita
dalam menghentikan infeksi biasanya menyebabkan terdapatnya jaringan
granulasi yang pada akhirnya dapat berkembang menjadi polip di ruang
telinga tengah. Jika lingkaran antara proses inflamasi, ulserasi, infeksi dan
terbentuknya jaringan granulasi ini berlanjut terus akan merusak jaringan
sekitarnya.berikut patogenesisnya: 1

Sembuh/ normal
Fgs.tuba tetap
terganggu
Infeksi (-)
Gangguan
tuba

Tekanan negatif

efusi

OME

28

Tuba tetap terganggu


+ ada infeksi

Perubahan tekanan tiba-tiba


Alergi
Infeksi
Sumbatan : Sekret
Tampon
Tumor

Sembuh sempurna

Otitis Media Akut


(OMA)

Otitis Media
Supuratif Kronik
(OMSK)

OMSK tipe benigna

2.6

Otitis media Efusi


(OME)

OMSK tipe maligna

Faktor Risiko
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang
pada anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal
dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis) dan mencapai telinga
tengah melalui tuba eustakhius. Fungsi tuba eustakhius yang abnormal
merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan palatoskisis
dan sindrom down. Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi
nasofaring yang merupakan faktor insiden OMSK yang tinggi di Amerika
Serikat. Faktor host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang relatif
tinggi adalah defisiensi imun sistemik. Kelainan humoral, seperti
hipogammaglobulinemia dan cell-mediated (infeksi HIV) dapat timbul
sebagai infeksi telinga kronis.
Faktor-faktor risiko OMSK antara lain :
1. Lingkungan1,3
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas, tetapi
terdapat hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosio ekonomi,

29

dimana kelompok sosio ekonomi rendah memiliki insiden yang lebih tinggi.
Tetapi sudah hampir dipastikan, bahwa hal ini berhubungan dengan
kesehatan secara umum, diet, dan tempat tinggal yang padat.
2. Genetik1,3
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah
insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan
sebagai faktor genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada
penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau
sekunder.
3. Otitis media sebelumnya1,3
Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis
media akut dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor
apa yang menyebabkan satu telinga dan berkembangnya penyakit ke arah
keadaan kronis.
4. Infeksi1,3
Proses infeksi pada otitis media supuratif kronis sering disebabkan oleh
campuran mikroorganisme aerobik dan anaerobik yang multiresisten
terhadap standar yang ada saat ini. Kuman penyebab yang sering dijumpai
pada OMSK ialah Pseudomonas aeruginosa sekitar 50%, Proteus sp. 20%
dan Staphylococcus aureus 25%.
Jenis bakteri yang ditemukan pada OMSK agak sedikit berbeda dengan
kebanyakan infeksi telinga lain, karena bakteri yang ditemukan pada OMSK
pada umumnya berasal dari luar yang masuk ke lubang perforasi tadi.
5. Infeksi saluran nafas atas1,3
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran
nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah
menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang
secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan
pertumbuhan bakteri.
6. Autoimun1,3

30

Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insidens lebih besar


terhadap otitis media kronis.
7. Alergi1,3
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi
dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian
penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau
toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti kebenarannya.
8. Gangguan fungsi tuba eustakhius1,3
Hal ini terjadi pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustakhius sering
tersumbat oleh edema. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi
membran timpani menetap pada OMSK :1
a) Infeksi

yang

menetap

pada

telinga

tengah

mastoid

yang

mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut.


b) Berlanjutnya obstruksi tuba eustakhius yang mengurangi penutupan
spontan pada perforasi.
c) Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan
melalui mekanisme migrasi epitel.
Pada pinggir perforasi, epitel skuamous dapat mengalami
pertumbuhan yang cepat di atas sisi medial dari membran timpani yang
hal ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.
2.7 Gejala Klinis
1.

Telinga berair (otore)


Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan
encer) tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh
aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe
ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang
karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Suatu sekret yang encer
berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.1,3

2.

Gangguan pendengaran

31

Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran.


Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran.
Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat
hebat, karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom dapat menghantar
bunyi dengan efektif

ke fenestra ovalis. Pada OMSK tipe maligna

biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang


pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai
penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus
diinterpretasikan secara hati-hati.
Penurunan fungsi koklea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan
berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen
rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila
terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat. Hantaran tulang
dapat menggambarkan sisa fungsi koklea.1,3
3.

Otalgia (nyeri telinga)


Adanya nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK dan bila ada
merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat
karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman
komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau
dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri
telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder.
Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti petrositis,
subperiosteal abses, atau trombosis sinus lateralis.3

4.

Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya.
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin
akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Pada penderita yang sensitif,
keluhan vertigo dapat terjadi karena perforasi besar membran timpani
yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan
suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan menyebabkan
keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum.

32

Fistula merupakan temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat


berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul
labirinitis dan dari sana mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula
perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini
memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada membran
timpani.1
Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :
a.

Adanya abses atau fistel retroaurikular

b.

Jaringan granulasi atau polip di liang telinga yang berasal dari


kavum timpani.

c.

Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom)

d.

Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

2.8 Diagnosis
Diagnosis OMSK ditegakan dengan cara:
Anamnesis (history-taking) 1,3,6

1.

Penyakit telinga kronis ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita


seringkali datang dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap.
Gejala yang paling sering dijumpai adalah telinga berair. Pada tipe
tubotimpani sekretnya lebih banyak dan seperti benang, tidak berbau
bususk, dan intermiten. Sedangkan pada tipe atikoantral sekretnya lebih
sedikit, berbau busuk, kadangkala disertai pembentukan jaringan granulasi
atau polip, dan sekret yang keluar dapat bercampur darah. Ada kalanya
penderita datang dengan keluhan kurang pendengaran atau telinga keluar
darah.
2.

Pemeriksaan otoskopi1,3,6
Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan letak perforasi. Dari
perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah.

3.

Pemeriksaan audiologi1,3,6
Evaluasi audiometri dan pembuatan audiogram nada murni untuk menilai
hantaran tulang dan udara penting untuk mengevaluasi tingkat penurunan

33

pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang. Audiometri


tutur berguna untuk menilai speech reception threshold pada kasus
dengan tujuan untuk memperbaiki pendengaran.
Pemeriksaan radiologi1,3

4.

Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis


memiliki nilai diagnostik yang terbatas bila dibandingkan dengan manfaat
otoskopi dan audiometri. Pemeriksaan radiologi biasanya memperlihatkan
mastoid yang tampak sklerotik dibandingkan mastoid yang satunya atau
yang normal. Erosi tulang yang berada di daerah atik memberi kesan
adanya kolesteatom. Proyeksi radiografi tyang sekarang biasa digunakan
adalah proyeksi schuller dimana pada proyeksi ini akan memperlihatkan
luasnya pnematisasi mastoid dari arah lateral dan atas.
Pada CT scan akan terlihat gambaran kerusakan tulang oleh kolesteatom,
ada atau tidaknya tulangtulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat
fistula pada kanalis semisirkularis horizontal.1,3
5.

Pemeriksaan bakteriologi
Walaupun perkembangan dari OMSK merupakan kelanjuan dari mulainya
infeksi akut, bakteri yang ditemukan pada sekret yang kronis berbeda
dengan yang ditemukan pada otitis media supuratif akut. Bakteri yang
sering

dijumpai

pada

OMSK

adalah

Pseudomonas

aeruginosa,

Staphylococcus aureus, dan Proteus sp. Sedangkan bakteri pada otitis


media supuratif akut adalah Streptococcus pneumonie dan H. influenza.9
Infeksi telinga biasanya masuk melalui tuba dan berasal dari hidung, sinus
paranasal, adenoid, atau faring. Dalam hal ini penyebab biasanya adalah
pneumokokus, streptokokus atau H. influenza. Akan tetapi, pada OMSK
keadaan ini agak berbeda karena adanya perforasi membran timpani maka
infeksi lebih sering berasal dari luar yang masuk melalui perforasi tadi.
2.9 Penatalaksanaan
Pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang
menyebabkan penyakit menjadi kronis, perubahan-perubahan anatomi yang

34

menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi, dan proses infeksi yang


terdapat di telinga. Bila didiagnosis kolesteatom, maka mutlak harus
dilakukan operasi, tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol
infeksi sebelum operasi.1,3,5,6
Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luas infeksi, yang
dapat dibagi atas: konservatif dan operasi
A.

Otitis media supuratif kronik benigna


a. Otitis media supuratif kronik benigna tenang
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk
jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi,
dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran
nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi
rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi
berulang serta gangguan pendengaran.
b. Otitis media supuratif kronik benigna aktif
Prinsip pengobatan OMSK adalah :
1.

Membersihkan liang telinga dan kavum timpani (toilet telinga)


Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai
untuk perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga
merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme.
Cara pembersihan liang telinga (toilet telinga):1
a) Toilet telinga secara kering (dry mopping).
Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril, setelah dibersihkan
dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. Pembersihan liang telinga
dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering.

b) Toilet telinga secara basah (syringing).

35

Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan


nanah, kemudian dibersihkan dengan kapas lidi steril dan diberi
serbuk antibiotik. Toilet telinga dengan pengisapan ( suction toilet)
Pembersihan dengan suction pada nanah dengan bantuan
mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini.
Setelah itu dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan
polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Pencucian
telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan
dengan displacement methode seperti yang dianjurkan oleh
Mawson dan Ludmann.
2.

Pemberian antibiotika :1,3


a) Antibiotik topikal
Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang
banyak tanpa dibersihkan dulu adalah tidak efektif. Bila sekret
berkurang atau tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang
mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Irigasi dianjurkan
dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam yang merupakan
media yang buruk untuk tumbuhnya kuman.
Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik
adalah :
1. Polimiksin B atau polimiksin E
Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif.
2. Neomisin
Obat bakterisid pada kuman gram positif dan negatif. Toksik
terhadap ginjal dan telinga.
3. Kloramfenikol
Obat ini bersifat bakterisid terhadap basil gram positif dan
negatif kecuali Pseudomonas aeruginosa.
b) Antibiotik sistemik.1,3

36

Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya


berdasarkan kultur kuman penyebab. Pemberian antibiotika tidak
lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus.
Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu diperhatikan faktor
penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut.
Untuk bakteri aerob dapat digunakan golongan kuinolon
(siprofloksasin dan ofloksasin) atau golongan sefalosforin generasi
III (sefotaksim, seftazidin, dan seftriakson) yang juga efektif untuk
Pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral.
Untuk bakteri anaerob dapat digunakan metronidazol yang bersifat
bakterisid. Pada OMSK aktif dapat diberikan dengan dosis 400 mg
per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4
minggu.
B.

Otitis media supuratif kronik maligna.1,3,5


Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi.
Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan
terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses
subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum
kemudian dilakukan mastoidektomi. Ada beberapa jenis pembedahan atau
teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis
kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain :5
1. Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan pengobatan
konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan
pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya adalah
supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Pada operasi ini
fungsi pendengaran tidak diperbaiki.

37

2. Mastoidektomi radikal
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe bahaya dengan infeksi atau
kolesteatom yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan
kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patolgik. Dinding batas
antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid
diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu
ruangan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua jaringan
patologik dan mencegah komplikasi intrakranial, sementara fungsi
pendengaran tidak diperbaiki. Kerugian operasi ini ialah pasien tidak
boleh berenang seumur hidupnya dan harus kontrol teraut ke dokter.
Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur pada rongga
operasi serta membuat meatoplasti yang lebar sehingga rongga operasi
kering permanen, tetapi terdapat cacat anatomi, yaitu meatus liang
telinga luar menjadi lebar.
3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi
Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik,
tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid
dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. Tujuan
operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari
rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada.
4. Miringoplasti
Operasi ini merupakan operasi timpanoplasti yang paling ringan,
dikenal juga dengan timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya dilakukan
di membran timpani. Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya
infeksi telinga tengah pada OMSK tipe aman dengan perforasi yang
menetap. Operasi ini dilakukan pada AMSK tipe aman fase tenang
dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran
timpani.
5. Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang
lebih berat atau OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenagkan dengan

38

pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan


penyakit serta memperbaiki pendengaran.
Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali harus
dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan bentuk
rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan maka dikenal istilah
timpanoplasti tipe II, III, IV, dan V. Sebelum rekonstruksi dikerjakan
lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani dengan atau tanpa
mastoidektomi, untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak jarang
operasi ini harus dilakukan 2 tahap dengan jarak waktu 6 s/d 12 bulan.
6. Pendekatan ganda timpanoplasti (combined approach tympanoplasty)
Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan
pada kasus OMSK tipe aman dengan jaringan granulasi yang
luas.Tujuan operasi ini ialah untuk menyembuhkan penyakit dan
memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi
radikal

(tanpa

meruntuhkan

dinding

posterior

liang

telinga).

Membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di membran timpani,


dikerjakan melalui 2 jalan (combine approach) yaitu melalui liang
telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timppanotomi posterior.
Teknik operasi ini pada OMSK tipe bahaya belum disepakati oleh para
ahli, oleh karena sering kambuhnya kolesteatom kembali.
2.10 Komplikasi
Komplikasi di telinga tengah :
1. Perforasi membran timpani oersisten
2. Erosi tulang pendengaran
3. Paralisis nervus fasialis
Komplikasi di telinga dalam :
1. Fistula Labirin
2. Labirinitis Supuratif
3. Tuli saraf (sensoneural)
Komplikasi ekstradural :
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sius lateralis
3. Petrositis
Komplikasi ke susunan saraf pusat :

39

1. Menigitis
2. Abses Otak
3. Hidrosefalus otitis
2.11 Prognosis
Pasien dengan OMSK memiliki prognosis yang baik apabila
dilakukan kontrol yang baik terhadap proses infeksinya. Pemulihan dari
fungsi pendengaran bervariasi dan tergantung dari penyebab. Hilangnya
fungsi pendengaran oleh gangguan konduksi dapat dipulihkan melalui
prosedur pembedahan, walaupun hasilnya tidak sempurna.10
Keterlambatan dalam penanganan karena sifat tidak acuh dari pasien
dapat menimbulkan kematian yang merupakan komplikasi lanjut OMSK
yang tidak ditangani dengan segera. Kematian akibat OMSK terjadi pada
18,6% pasien karena telah mengalami komplikasi intrakranial yaitu
meningitis.3,10

BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan laporan kasus yang telah dilaporkan seorang pasien lakilaki, usia 43 tahun datang ke poli THT RSUD Palembang BARI dengan keluhan

40

sejak 4 minggu yang lalu telinga sebelah kanan keluar cairan, cairan berwarna
putih kekuningan. Keluhan disertai dengan nyeri pada telinga sebelah kanan,
penurunan pendengaran dan kadang-kadang suka berdenging. Pasien mengaku
keluhan disertai dengan demam dan batuk serta pilek.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pada telinga dextra didapatkan
membran timpani yang mengalami perforasi sentral, reflex cahaya (+).
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka pasien
didiagnosis menderita Otitis media supuratif kronik Banigna.
Otitis media supuratif kronik adalah radang kronis telinga tengah dengan
adanya lubang (perforasi) pada gendang telinga (membran timpani) dan riwayat
keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otore) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus
atau hilang timbul. Faktor- faktor yang bisa menyebabkan OMSK adalah terapi
yang diberikan terlambat diberikan, terapi yang tidka adkuat, virulensi kuman
yang tinggi, daya tahan tubuh pasien yang rendah dan higiene yang buruk.
Tatalaksana medikamentosa antara lain pemberian obat penuci telinga H2O2
3% selama 3-5 hari. Setelah secret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan
pemberian antibiotik spektrum luas seperti klorampenikol 1% tetes telinga, 3x1
tetes sehari dan antibiotik sistemik yang berspektrum luas dari golongan ampisilin
atau eritromisin namun tidak boleh lebih dari 1 minggu. Pada infeksi yang
dicurigai resisten terhadap ampisilin diberikan ampisilin asama klauvanat. Dan
bisa dilakukan tindakan operasi pendekatan miringoplasti atau timpanoplasti pada
kasus OMSK Banigna tipe aman, namun harus dikonfirmasi terlebih dahulu
dengan SC-Scan atau rontgen mastoid.
Tatalaksana non medikamentosa yang dapat dilakukan yaitu jangan
mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang
dan segera berobat bila menderia infeksi saluran nafas.

DAFTAR PUSTAKA
1. Nursiah S. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan Terhadap
Beberapa Antibiotika di Bagian THT FK USU/RSUP. H. Adam Malik
Medan. Medan : FK USU. 2003.

41

2. WHO. Chronic suppurative otitis media burden off illness and management
options. Child and Adolescent Health and Development Prevention of
Blindness and Deafness. Geneva Switzerland. 2004.
3. Aboet A. Radang Telinga Tengah Menahun. Pidato Pengukuhan Guru Besar
Tetap Bagian Ilmu Kesehatan Hidung Telinga Tenggorok Bedah Kepala
Leher. Kampus USU. 2007.
4. Farida et al. Alergi Sebagai Faktor Resiko Terhadap Kejadian Otitis Media
Supuratif Kronik Tipe Benigna. Medical Faculty of Hasanuddin. 2009.
5. Djaafar ZA. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
leher. Edisi 6. Jakarta : FKUI.2007.
6. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid.
Boies, Buku Ajar Penyakit THT Ed. 6. Jakarta:EGC;88-119.
7. Anonim.

Otitits

Media

Kronis.

2009.

Diunduh

dari

http://www.medicastore.com pada tanggal 1 Januari 2015.


8. Meyer TA, Strunk CL, Lambert PR. Cholesteatoma. In : Newlands SD et.al
(editor). Head & neck surgery otolaryngology. 4th ed. 2006. Philadelphia :
Lippincolt williams & wilkins. h. 2081-91.
9. Anonim.

Ear

Discharge.

2008.

Diunduh

dari

http://www.myhealth.gov.my/myhealth pada tanggal 1 Januari 2015


10. Lutan R, Wajdi F. Pemakaian Antibiotik Topikal Pada Otitis Media Supuratif
Kronik Jinak Aktif. Cermin Dunia Kedokteran No. 132.2001.
11. Parry D. Middle Ear, Chronic Suppurative Otitis, Medical Treatment:FollowUp. Diunduh dari http://www.emedicine.medscape/otolaryngology pada
tanggal 1 Januari 2015
12. Helmi, Djaafar ZA, Restuti RD. Komplikasi otitis media supuratif. Dalam :
Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD (editor). Buku ajar

42

ilmu kesehatan telinga, hidung, tenggorok, kepala, dan leher. Edisi 6.


2009. Jakarta : FKUI. h.86.