Anda di halaman 1dari 15

STATUS PSIKIATRI

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny. IF
Jenis Kelamin
: Perempuan
Umur
: 23 tahun
Status Perkawinan
: Belum menikah
Suku Bangsa
: Jawa
Pendidikan
Terakhir
: Belum tamat SMA
Pekerjaan
: Tidak bekerja
Agama
: Islam
Alamat
: Harapan Jaya, Bekasi
Tanggal Masuk
: 20 Agustus 2015

II.

RIWAYAT PSIKIATRIK(Autoanamnesispada tanggal 3 September


2015 7September 2015, alloanamnesis dengan ibupasien pada tanggal 8
September 2015, dan data rekam medis)
Ibu
Nama
: Ny. M
Usia
: 54 tahun
Pekerjaan
: Ibu rumah tangga
Pendidikan terakhir
: SMEA
A. Keluhan utama:
Pasien marah-marah dan melakukan tindakan agresif sehingga
mengganggu tetangga sekitar.
B. Keluhan tambahan:
Pasien merasa ada orang yang mengikuti, menatap, dan
menyukai dirinya.
C. Riwayat Gangguan Sekarang:
Pada tahun 2013, pasien mulai merasa diikuti oleh bapak T.
Bapak T merupakan tetangga dekat rumah pasien yang diketahui telah
berkeluarga, memiliki seorang istri dan tiga orang anak.Pasien
mengaku membenci bapak tersebut dengan alasan tidak nyaman
disukai oleh pria yang berumur jauh lebih tua dari pasien dan telah
berkeluarga.Pasien mengatakan lebih baik disukai oleh pria yang
umurnya tidak jauh berbeda dengannya.

Pasien merasa takut untuk keluar rumah karena takut dirinya


akan diikuti dan diperkosa oleh bapak T. Menurut pasien, dirinya
menjadi lebih mudah emosi setelah merasa di sukai olah bapak T.
Apabila pasien sedang marah, pasien akanberteriak-teriak dan
memukul atau menendang barang-barang yang ada di sekelilingnya.
Pasien menyangkal pernah memukul orang apabila sedang marah.
Pada tahun 2015, pasien sering merasa ada yang memegangmegang lengannya, namun tidak ada orang di sekelilingnya.Pasien
merasa yakin bahwa bapak T yang seakan-akan meraba lengannya
walaupun pada kenyataannya bapak T tidak berada di dekatnya.
Pasien mengatakan sering mendengar suara bapak T yang
mengobrol dengan temannya di rumahnya dari kamarnya.Menurut
pasien, volume suara bapak T saat mengobrol sengaja dibesarkan agar
terdengar oleh pasien.Pasien tidak mengetahui isi pembicaraan bapak T
dengan temannya, namun pasien merasa yakin bahwa suara tersebut
adalah suara bapak T. Ibu pasien juga membenarkan bahwa rumah
pasien dengan bapak T memang berdekatan sehingga memungkinkan
suara dari bapak T terdengar dari kamar pasien.
Pasien sempat meneriaki bapak T agar tidak mengikuti pasien
dan berhenti menyukai pasien yang masih berusia muda. Menurut
pasien, bapak T menyangkal bahwa ia menyukai pasien. Menurut
pasien, bapak T marah karena hal tersebut sehingga kemudian bapak T
memecahkan kaca rumah pasien dan istri dari bapak T melempari
rumah pasien dengan batu.Ibu pasien membenarkan pernyataan
tersebut dan mengatakan bahwa bapak T dan istrinya yang terlebih
dahulu melempari rumah pasien dengan batu dan memecahkan kaca
rumah pasien.
Pasien merasa kesal karena selalu diikuti dan ditatap oleh
bapak T serta merasa kesal akibat rumahnya dilempari batu, sehingga
pasien kemudian melempar batu ke arah rumah bapak T. Alasan pasien
melempar rumah bapak T dengan batu adalah untuk memperingati
bapak T agar tidak mengikuti pasien lagi.
Pasien mengatakan bahwa istri bapak T tidak terima rumahnya
dilempari batu.Istri bapak T kemudian datang marah-marah ke rumah
pasien dan mengatakan bahwa pasien adalah orang yang tidak waras.

Ibu pasien membela pasien dengan mengatakan bahwa pasien tidak


akan melakukan hal tersebut bila bapak T tidak berulah.
Pasien juga mengatakan bahwa orang-orang di sekitarnya tidak
ada yang mempercayai cerita pasien tentang bapak T yang sering
menatap, mengikuti dan menyukai dirinya.Orang-orang tersebut
menganggap pasien tidak waras.
Setelah kejadian tersebut, tetangga bersama dengan ibu pasien
membawa pasien ke rumah sakit Duren Sawit untuk berobat.Pasien
sempat menolak untuk dibawa ke RS Duren Sawit, karena merasa
dirinya tidak gila. Namun, setelah diberitahu bahwa pasien hanya akan
mengobrol biasa dengan dokter, pasien setuju untuk dibawa ke rumah
sakit. Setelah diperiksa, dokter menyarankan pasien untuk dirawat di
rumah sakit.
D. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatrik
Setelah berhenti bersekolah pada tahun 2009, pasien menjadi lebih
mudah marah dan lebih mudah emosi. Pada saat itu pasien belum
memiliki perasaan bahwa dirinya sedang ditatap atau diikuti oleh orang
lain.
Pada tahun 2013, pasien mulai berasa diikuti, disukai dan selalu
ditatap oleh bapak T. Selain merasa ditatap dan disukai oleh bapak T,
pasien juga merasa disukai dan sering ditatap oleh adik lakilakinya.Hal

ini

menyebabkan

pasien

membenci

adiknya

tersebut.Pasien mengatakan bahwa adik pasien memiliki niat yang


buruk terhadap dirinya dan pasien merasa tidak nyaman berada dalam
satu kamar bersama dengan adiknya tersebut. Pasien juga pernah
bekerja membantu berdagang ketan susu di sebuah kios, namun pasien
hanya bekerja selama satu bulan karena merasa tidak nyaman terhadap
atasannya. Pasien merasa atasannya selalu menatap dan menyukai
dirinya.
2. Riwayat Gangguan Medik
Riwayat gangguan medis sebelumnya disangkal.
3. Riwayat Penggunaan Zat
Riwayat menggunakan zat-zat

seperti

NAPZA (narkotika,

psikotropika dan zat adiktif lainnya) disangkal

2010

2003

Grafik Perjalanan Penyakit

Tahun
2001

F. Onset
i

2009
17 tahun

2013
21 tahun

2015
23 tahun

( 6 thn yang lalu) ( 2 thn yang lalu) ( 4 bln yang lalu)


Stressor - Berhenti sekolah - Tidak diketahui
- Tidak diketahui

at

Klinis

- Marah-marah
- Gelisah
- Mood irritable

Marah-marah
Gelisah
Mood irritable
Waham kejar

- Marah-marah
- Gelisah
- Mood irritable
- Perilaku agresif
- Waham kejar
- Halusinasi (+)

Obat

Pengobatan di RS:
- Risperidone 2 x 2
mg
- THP 2 x 2 mg
- Clozapine 1 x 25

Efek

mg
-

Samping
Lama

3 minggu (sejak

konsumsi
obat
Fungsi

masuk RS hingga
-

Interaksi sosial

sekarang)
- Interaksi sosial

Interaksi sosial

terganggu
ADL terganggu -

terganggu

Perkembangan Pribadi
1. Riwayat Prenatal dan Perinatal

terganggu
Pekerjaan
terganggu
ADL terganggu

R
w
y

Pasien lahir secara spontan per vaginam dan cukup bulan di


bidan.Ibu pasien mengaku tidak pernah menderita penyakit selama
mengandung pasien dan merasa bahwa kebutuhan nutrisi pasien
selalu terpenuhi.Ibu pasien menyangkal penggunaan obat-obatan
selama masa kehamilan.
2. Riwayat Masa Kanak Awal (3-6 tahun)
Menurut keluarga pasien, pasien adalah anak yang pendiam dan
penurut dalam keluarga.Riwayat perkembangan motorik dan
bahasa tidak diketahui.
3. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (6-12 tahun)
Pasien mengaku tidak memiliki masalah dalam pergaulannya
selama sekolah SD dan memiliki beberapa orang teman dekat,
namun jumlah teman yang dimiliki tidaklah terlalu banyak.Pasien
mengaku tidak mempunyai masalah dengan lingkungan sekitarnya,
baik dengan keluarga, teman, dan guru.Ibu pasien mengatakan
bahwa pasien sering terlihat mudah kesal apabila sedang diberikan
nasehat oleh orang tuanya.Meskipun demikian, ibu pasien
mengatakan bahwa pasien masih mampu menahan amarahnya.
4. Riwayat Masa Remaja (12-18 tahun)
Pasien mengaku tidak memiliki masalah selama pergaulannya,
memiliki teman dekat, dan memiliki jumlah teman yang lebih
banyak dibandingkan masa kanak-kanak.Pasien mengaku tidak
mempunyai masalah dengan lingkungan sekitarnya, baik dengan
keluarga, teman, dan guru.
5. Riwayat Masa Dewasa
a. Riwayat Pendidikan
Pasien bersekolah sejak SD hingga kelas 2 SMA,
namun akhirnya terhenti karena pasien sering terlambat
sekolah dan memiliki masalah ekonomi sehingga tidak
dapat melanjutkan pendidikannya.Selama sekolah, pasien
mengaku memiliki prestasi yang biasa saja, tidak pernah
mendapat peringkat 10 besar, tetapi selalu naik kelas.
b. Riwayat Pekerjaan
5

Pada tahun 2013 pasien pernah bekerja membantu


berdagang di suatu kios ketan susu, namun satu bulan
kemudian pasien berhenti karena merasa disukai oleh
atasannya. Pasien juga pernah bekerja di warnet dan
membantu penjahit namun tidak lama kemudian pasien
keluar dari pekerjaannya karena merasa tidak cocok.Pasien
mengaku saat ini tidak bekerja dan hanya tinggal di
rumah.Pekerjaan sehari-hari di rumah adalah membaca
komik, kamus, dan mencuci bajunya sendiri.
c. Riwayat Perkawinan / Berpacaran / Berpasangan
Pasien belum kawin. Pasien juga mengaku belum
pernah berpacaran atau memiliki pasangan.
d. Riwayat Agama/ Kehidupan Beragama
Pasien memeluk agama Islam.Pasien mengaku jarang
menjalani sholat 5 waktu sejak kecil hingga saat ini.
e. Aktivitas Sosial
Pasien mengaku kurang aktif dalam mengikuti aktivitas
sosial di lingkungan rumah maupun sekolah.
f. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien

mengaku tidak pernah

memiliki riwayat

pelanggaran hukum sebelumnya.


g. Riwayat Militer
Pasien tidak pernah menjalani pembelajaran atau
kegiatan yang berkaitan dengan militer selama hidupnya.
G. Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien saat ini menjalani rawat inap di RSKD Duren Sawit.Pasien
menjalankan aktivitas sehari-hari sesuai dengan jadwal kegiatan di rumah
sakit. Pasien mampu berinteraksi dan bersikap baik dengan orang sekitar,
baik pasien lain maupun tenaga medis. Pasien juga tidak pernah terlibat
masalah. Isi pembicaraan pasien seputar kehidupan pasien sebelum masuk
rumah sakit.
Sebelum dirawat, pasien tinggal di sebuah rumah bersama ibu dan
adik-adik pasien yang masih bersekolah. Ayah pasien sudah meninggal
sejak tahun 2003, sedangkan kakak-kakak pasien sudah berkeluarga dan
6

tidak tinggal serumah lagi. Pasien tidur di kamar sendiri, terpisah dari
anggota keluarga yang lainnya.Hubungan antar saudara kurang harmonis,
khususnya dengan adik laki-lakinya.Pasien mengaku saudara-saudara
jarang berkumpul dan seringkali beradu pendapat.Sumber keuangan
berasal dari ibu pasien yang bekerja sebagai tukang cuci gosok di sekitar
rumahnya dan kakak-kakak pasien yang sudah bekerja sebagai karyawan
di perusahaan swasta.
H. Riwayat Psikoseksual
Pasien mengaku belum pernah melakukan hubungan seksual
dengan siapapun.
I. Riwayat Keluarga

J. Mimpi, Fantasi dan Nilai-nilai


Ketika ditanya mengenai cita-cita pasien, pasien menjawab ingin menjadi
dokter atau astronot.
III.
STATUS MENTAL(Pemeriksaan tanggal 3September 2015)
Nn. IF, 23 th
DESKRIPSI UMUM
1. Penampilan
Pasien seorang perempuan berusia 23 tahun, berpenampilan
sesuai usia, cara berpakaian baik dan rapi, menggunakan seragam
pasien rawat inap di RSKD Duren Sawit, kebersihan dan perawatan
diri baik.
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor

Sehari-hari

pasien

dapat

melakukan

aktivitas

tanpa

dibantu.Pasien dapat menyapa dan dapat berinteraksi dengan orang


disekitarnya.Pasien tenang dan sopan.Tidak ada gerakan berulang.
3. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien bersikap kooperatif dan tenang.Pasien berespon dan
menjawab pertanyaan dengan baik.Pasien dapat memanggil pemeriksa
dengan sebutan dokter.
MOOD DAN AFEK
Mood
: euthym
Afek
: terbatas
Keserasian
: tidak serasi
PEMBICARAAN
Pasien dapat berbicara secara spontan dan lancar.Kecepatan bicara
sedang, volume sedang, artikulasi cukup jelas.Isi pembicaraan koheren dan
dapat dimengerti.
GANGGUAN PERSEPSI
Ilusi
Halusinasi
Depersonalisasi
Derealisasi

: tidak ditemukan
: taktil (pasien merasa ada yang meraba lengannya)
: tidak ditemukan
: tidak ditemukan

PIKIRAN
1. Proses pikir / bentuk pikiran
a. Produktivitas
: cukup. Pasien mampu menjawab pertanyaan
dengan spontan. Ide-ide cukup.
b. Kontinuitas
: koheren
2. Isi pikiran
a. Preokupasi pikiran : tidak ditemukan
b. Waham
: ditemukan waham kejar
c. Obsesif Kompulsif : tidak ditemukan
d. Fobia
: tidak ditemukan
e. Ide bunuh diri
: tidak ditemukan
SENSORIUM DAN KOGNISI
1. Kesiagaan dan taraf kesadaran
: baik
2. Orientasi :
Waktu
: tidak terganggu
Tempat
: tidak terganggu
Orang
: tidak terganggu
3. Ingatan
:
Jangka panjang
: tidak terganggu
Jangka pendek
: tidak terganggu
Segera
: tidak terganggu

4.
5.
6.
7.
8.

Konsentrasi dan perhatian


Kemampuan membaca dan menulis
Kemampuan visuospasial
Pikiran asbtrak
Inteligensi dan daya informasi

: tidak terganggu
: tidak terganggu
: tidak terganggu
: tidak terganggu
: baik

PENGENDALIAN IMPULS
Tidak terganggu
DAYA NILAI DAN TILIKAN
Daya nilai realitas
: terganggu (ada waham dan halusinasi)
Tilikan derajat 1, yaitu penyangkalan sakit sama sekali
TARAF DAPAT DIPERCAYA
Secara keseluruhan, pembicaraan pasien dapat dipercaya.

IV.

PEMERIKSAAN

DIAGNOSTIK

LEBIH

LANJUT(Pemeriksaan tanggal 4 September 2015)


A. Status Internus
Keadaan Umum : baik, tampak tenang
Kesadaran
: compos mentis
Tekanan darah
: 100/70 mmHg
Nadi
: 80 x/menit
Pernafasan
: 20 x/menit
Suhu
: 37.0oC
Kepala
: tidak ada deformitas
Mata
: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat
isokor 3mm/3mm, refleks cahaya langsung dan tidak
langsung +/+
Hidung
: septum nasi di tengah, sekret -/Mulut
: mukosa oral basah
Leher
: tidak ada pembesaran KGB
Pulmo
: bunyi nafas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/Cor
: bunyi Jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
: supel, nyeri tekan (-), massa (-), bising usus 6x/menit
Ekstremitas
: CRT < 2 detik, akral hangat, edema (-)
B. Status Neurologik
GCS
Pemeriksaan Saraf Kranial
Rangsal meningeal
Refleks

: E4V5M6
: kesan dalam batas normal
: tidak ada
: refleks fisiologis +/+/+/+
refleks patologis -/-/-/: dalam batas normal
: dalam batas normal

Motorik dan sensorik


Otonom

C. Test psikologik, neurologik, laboratorium sesuai indikasi


Pemeriksaan Laboratorium tanggal 20 Agustus 2015
Leukosit : 12.88 ribu/mm3
9

Eritrosit
Hb
Ht
MCV
MCH
MCHC
Trombosit

V.

: 5.00 juta/mm3
: 13.5 g/dL
: 39.1 %
: 78.2 fL
: 27.0 pg
: 34.5 g/dL
: 277 ribu/mm3

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Anamnesis
Pasien perempuan berusia 23 tahun dibawa ke RSKD Duren Sawit pada
tanggal 20 Agustus 2015 oleh keluarga dan tetangga karena pasien marahmarah dan melakukan tindakan agresif. Pasien merasa ada orang yang
mengikuti, menatap, dan menyukai dirinya.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dan neurologis tidak ditemukan adanya

kelainan.
Status Mental
Pada pemeriksaan status mental ditemukan:
Mood
: euthym
Afek
: terbatas
Gangguan persepsi :
Halusinasi taktil
Isi pikir
:
Waham kejar
Daya nilai realitas
: terganggu

VI.

Tilikan

: Tilikan derajat 1, yaitu penyangkalan sakit sama sekali

FORMULASI DIAGNOSTIK

Pada pasien ditemukan sindrom atau pola perilaku atau psikologi yang bermakna
secara klinis yang menimbulkan penderitaan (distress) dan hendaya (disability) dalam
fungsi pekerjaan dan aktivitas kehidupannya sehari-hari untuk dirinya sendiri maupun
orang lain. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa adanya gangguan jiwa pada
pasien yang sesuai dengan definisi gangguan jiwa yang tercantum dalam PPDGJ III.
Diagnosis aksis I
Pada pemeriksaan status generalisas dan neurologis didapatkan
keadaan pasien yang compos mentis. Tidak terdapat adanya kelainan
fisik dan riwayat trauma, sehingga kita dapat menyingkirkan diagnosis
Gangguan Mental Organik (F0).
10

Pada anamnesis tidak didapatkan adanya riwayat penggunaan NAPZA


pada pasien sehingga diagnosis Gangguan Mental dan Perilaku akibat

Penggunaan NAPZA (F1) dapat disingkirkan


Pada pasien ditemukan halusinasi taktil, yang dirasakan seperti diraba
pada bagian lengan. Ditemukan waham kejar berupa perasaan bahwa
pasien diikuti, diamati dan disukai oleh seseorang yang dikenalnya

sebagai tetangga dekat rumahnya.


Menurut PPDGJ III, kasus ini memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia
karena ditemukan kriteria umum dari skizofrenia yaitu terdapatnya
halusinasi taktil dan waham kejar. Gejala tersebut telah berlangsung
selama lebih dari dua tahun dan terdapat gangguan bermakna dalam
melakukan kegiatan sehari-harinya dan fungsi sosial. Dari berbagai
jenis kriteria skizofrenia yang ada, pasien termasuk ke dalam jenis
skizofrenia paranoid (F20.0) karena waham dan halusinasi menonjol.
Pedoman diagnostic untuk skizofrenia paranoid menurut PPDGJ-III
adalah:
a. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
b. Sebagai tambahan:
1. Halusinasi dan/atau waham harus menonjol
a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi
perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa
bunyi pluit (whistling), mendengung (humming) atau bunyi
tawa (laughing).
b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa atau bersifat
seksual, atau lain-lain perasaan tubuh. Halusinasi visual
mungkin ada tetapi jarang menonjol.
c) Waham dapat berupa hamper setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan (delusion of influence) atau passivity (delusion of
passivity) dan keyakinan dikejar-kejar beraneka ragam adalah
yang paling khas.
2. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta
gejala katatonik secara relative nyata/tidak menonjol.
Berdasarkan data-data tersebut, maka sesuai dengan kriteria
PPDGJ III untuk aksis I ditegakkan diagnosis skizofrenia paranoid
(F20.0)

11

Diagnosis aksis II
Pada pasien tidak ditemukan adanya gangguan kepribadian atau
retardasi mental.
Diagnosis aksis III
Pada pasien tidak ditemukan adanya kelainan pada kondisi medis
secara umum.
Diagnosis aksis IV
Pada aksis ini ditemukan masalah berkaitan dengan keluarga, berupa
hubungan antar saudara yang kurang harmonis. Pasien mengaku
kakak-kakak pasien jarang berkumpul bersama keluarga lain, dan
ketika berkumpul sering terjadi perbedaan pendapat. Selain itu,
keluarga pasien memiliki masalah ekonomi. Sumber keuangan pasien
adalah dari ibu yang bekerja sebagai tukang cuci gosok rumahnya dan
kakak yang bekerja sebagai karyawan.
Diagnosis aksis V
- Current GAF

: 61 70 (Beberapa gejala ringan

& menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih


-

baik)
Highest GAF level past year

: 61 70 (Beberapa gejala ringan

& menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih


baik)

VII. EVALUASI MULTI AKSIAL


Aksis I
Aksis II
Aksis III
Aksis IV

: F20.0 Skizofrenia Paranoid


: Tidak ada diagnosis
: Tidak ada diagnosis
: masalah berkaitan dengan lingkungan sosial dan masalah

Aksis V

ekonomi
: GAF current
: 61-70
GAF highest level past year :61-70

VIII. DAFTAR MASALAH


1. Organobiologik
- Genetik
-

: tidak ada

Gangguan organik

: tidak ada

2. Psikologik
-Stresor

: masalah dalam keluarga

- Isi pikiran

: ditemukan adanya waham kejar


12

- Persepsi

: ditemukan adanya halusinasi taktil

- Manifestasi klinis

: tilikan derajat 1

3. Lingkungan dan sosial


Pasien saat ini berada dalam usia produktif, namun tidak dapat bekerja
untuk membantu mencukupi kebutuhan diri sendiri dan keluarga.

IX.

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanationam

X.

: bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

RENCANA PENATALAKSANAAN
1. Farmakoterapi
a. Risperidon 2 x 2 mg PO
b. Triheksifenidil 2 x 2 mg PO (bila perlu)
c. Clozapine 1 x 25 mg PO
2. Terapi non farmakologi
a. Edukasi Pasien
Pasien diedukasi mengenai penyakit pasien dan dengan minum obat secara
rutin sesuai petunjuk dokter, gejala-gejala yang dialami pasien dapat
berkurang.Pasien juga diedukasi mengenai efek samping obat yang mungkin
timbul, dan jika telah timbul pasien dapat segera ke dokter untuk mengatasi
efek samping yang telah timbul.Selain itu, pasien juga harus rajin kontrol ke
dokter.
b. Edukasi keluargapasien (family therapy)
Keluargapasien diedukasi mengenai jenis penyakit dan penyebab dari sakit
pasien.Keluarga dimotivasi untuk rutin membawa pasien berobat dan
mengawasi agar pasien dapat minum obat secara teratur, serta tidak boleh
putus obat.Keluarga juga diedukasi mengenai efek samping yang mungkin
timbul, dan memperhatikan jika telah timbul efek samping untuk segera
membawa pasien ke dokter.

c. Psikoterapi
Pada pasien dilakukan psikoterapi untuk membantu pasien membedakan
waham dan halusinasi, serta bagaimana mengatasi halusinasi timbul. Selain
itu psikoterapi yang dilakukan diharapkan dapat meningkatkan tilikan pasien
yang akan berpengaruh terhadap prognosis pasien.

13

XI. FOLLOW UP
-

Memantau perkembangan gejala, seperti halusinasi taktil dan

waham kejar.
Memantau kemungkinan efek samping obat seperti gejala
ekstrapiramidal.

XII. DISKUSI
Skizofrenia adalah sindrom klinis yang memilli banyak variabel, tetapi
sangat mengganggu, dengan psikopatologi yang melibatkan fungsi
kognitif, emosi, persepsi, dan aspek lain dari perilaku. Manifestasi dari
penyakit ini biasanya bervariasi pada seluruh pasien dari waktu ke waktu,
tetapi efek dari penyakit ini selalu berat dan biasanya bertahan lama.
Gangguan ini biasanya dimulai sebelum usia 25, menetap sepanjang hidup,
dan mempengaruhi semua orang dari semua kelas sosial. Baik pasien dan
keluarga sering mengalami perawatan yang buruk dan pengucilan sosial
karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang skizofrenia.
Skizofrenia paranoid ditandai dengan preokupasi terhadap satu atau
lebih delusi atau sering halusinasi auditorik.Klasik, jenis paranoid
skizofrenia ditandai terutama oleh adanya delusi penganiayaan atau
kebesaran. Episode pertama pasien dengan skizofrenia paranoid biasanya
terjadi pada usia yang lebih tua dibandingkan pasien dengan pada pada
pasien skizofrenia katatonik atau tidak teratur.
Penyebab skizofrenia paranoid tidak dapat dipastikan.Penelitian
menunjukkan bahwa kebanyakkan bentuk skizofrenia disebabkan oleh
disfungsi otak.Kemungkinan besar disfungsi otak ini disebabkan oleh
kombinasi faktor genetik dan pemicu lingkungan.
Pasien dengan skizofrenia paranoid biasanya tegang, curiga, merasa
selalu diawasi, dilindungi, dan kadang-kadang bermusuhan atau agresif,
tetapi mereka kadang-kadang dapat secara baik berbaur dalam kegiatan
sosial.Tidak terdapat gangguan kecerdasan, apabila daerah pada otak tidak
terserang oleh psikosis.
Untuk pengobatan farmakologis pada pasien ini adalah dengan anti
psikotik atipikal berupa Risperidone 4 mg/hari dan Clozapine 1 x 25

14

mg/hari. Mekanisme kerja obat anti psikosis atipikal adalah memblok


dopamine pada reseptor neuron pasca sinaps (Dopamine D2 Receptors)
dan memblok serotonin dengan berikatan pada reseptor Serotonine 5 HT
2.Selain itu, anti psikotik atipikal juga dapat secara efektif untuk gejala
negatif.Dosis anjuran untuk risperidone adalah 2-6 mg/hari, dimana pada
pasien diberikan sebanyak 4 mg/hari.Dosis anjuran untuk Clozapine
adalah 25 100 mg/hari, dimana pada pasien diberikan 25 mg/hari.
Diberikan

juga

Trihexyphenidyl

bila

muncul

gejala-gejala

ekstrapiramidal.Hal ini dikarenakan efek samping dari obat-obatan anti


psikosis ialah berupa gejala ekstrapiramidal seperti akathisia, tremor,
bradikinesia, rigiditas.Meskipun obat anti psikosis atipikal memiliki efek
gejala ekstrapiramidal lebih kecil dibandingkan anti psikosis tipikal,
diperlukan pemberian THP untuk mencegah timbulnya efek samping
tersebut.

15