Anda di halaman 1dari 26

GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF

BIMBINGAN COASS DEMENSIA

DOMAIN FUNGSI KOGNITIF


1. Atensi
2. Bahasa
3. Memori
4. Visuospasial
5. Fungsi eksekutif

BIMBINGAN COASS DEMENSIA

COGNITIVE CONTINUUM

BIMBINGAN COASS DEMENSIA

MILD COGNITIVE IMPAIRMENT


(MCI) :
Criteria for the clinical and cognitive
Ada keluhan perubahan fungsi kognitif
syndrome
Ada gangguan satu atau lebih domain
fungsi kognitif
Secara kemampuan fungsional masih
independen
Tidak demensia

Alzheimers Dement. 2011 May ; 7(3): 270279


BIMBINGAN COASS DEMENSIA

BIMBINGAN COASS DEMENSIA

PENGERTIAN
Demensia adalah sindrom penurunan
fungsi intelektual dibanding
sebelumnya yang cukup berat
sehingga mengganggu aktivitas sosial
dan profesional yang tercermin dalam
aktivitas hidup keseharian, biasanya
ditemukan juga perubahan perilaku
dan tidak disebabkan oleh delirium
maupun gangguan psikiatri mayor.
BIMBINGAN COASS DEMENSIA

ETIOLOGI
Penyakit Alzheimer
Demensia Vaskuler
Penyakit Lewy Body

Degenerasi Lobar Frontotemporal


Infeksi HIV
Penyakit Prion (Creutzfeld-Jacob Disease)
Penyakit Parkinson
Penyakit Huntington Trauma kepala
Penggunaan obat / substansi tertentu
Kondisi medik lain
Etiologi multipel
BIMBINGAN COASS DEMENSIA

Patofisologi Alzheimer's diseases


Mikroskopik:
Deposit zat-zat racun pada otak
seperti yang namanya:
AmyloidBeta Peptides (A)
Neurofibrillary tangle

Amyloid plaque in Alzheimer disease

beta-amyloid protein :
- too much sticky
amyloid
- forms plaques on the
outside of brain cells
immune-system cells
attack, killing innocent
nerve cells

Paired helical structure of neurofibrillatory


tangles
tau molecules :
- assembles microtubules that
support the structure of the
nerve cell
- chemical changes in the nerve
cells cause the tau molecules to
change shape so they no longer
hold the microtubules in place.
The railroad ties begin to
twist and tange. Cell shrinks and
dies.

GEJALA KLINIS
A.Keluhan kognisi :
Gangguan memori terutama
kemampuan belajar materi baru yang
sering merupakan keluhan paling dini.
Memori lama bisa terganggu pada
demensia tahap lanjut.
Disorientasi di sekitar rumah atau
lingkungan yang relatif baru.
Gangguan kemampuan membuat
keputusan (judgement) dan
pengertian diri tentang penyakit.
BIMBINGAN COASS DEMENSIA

12

GEJALA KLINIS
B. Keluhan non-kognisi :
keluhan neuropsikiatri agitasi,
tindakan agresif dan non-agresif
seperti wandering, disinhibisi,
sundowning syndrome dll.
Keluhan tersering adalah depresi,
gangguan tidur dan gejala psikosa
seperti delusi dan halusinasi.
BIMBINGAN COASS DEMENSIA

13

GEJALA KLINIS
C.Gejala fisik :
gangguan motorik kelumpuhan
anggota gerak, kesulitan berjalan,
bicara cadel dan gangguan gerak
lainnya.
Kejang dapat ditemukan sesuai
dengan etiologinya.

BIMBINGAN COASS DEMENSIA

14

Pemeriksaan neuropsikologi.
Tes penapisan sederhana:
Minimental State Examination (MMSE < 24)
Clock Drawing Test (CDT <4)
Montreal Congitive Assessment-INA
(MoCA-INA <24)
Tes neuropsikologi lengkap:

Consortium to established an Register for


Alzheimers Disease (CERAD)

BIMBINGAN COASS DEMENSIA

15

TATA LAKSANA
A. Intervensi Farmakologi
1. Terapi Farmakologi untuk Fungsi Kognisi
Penyekat Kolinesterase (Grade A, Level 1, good)
Donepezil
Rivastigmin
Galantamin
Efek samping : mual, muntah, diare dan bradikardi
2. Terapi Farmakologi Behavioral and Psychological
Symptoms of Dementia (BPSD)
B. Intervensi Non-Farmakologi

BIMBINGAN COASS DEMENSIA

16

BIMBINGAN COASS DEMENSIA

17

CLOCK DRAWING TEST


Untuk menilai :
Fungsi eksekutif (lobus frontalis)
Visuospasial (lobus parietalis)

Metode :
Minta pasien untuk menggambar sebuah

jam
Letakkan angka-angkanya pada tempat
yang tepat
Minta untuk menggambarkan jarum jam
pada posisi pukul 11.10

UIS
U

CLOCK DRAWING TEST (cont.d)


Lingkaran
tertutup

Sko
r1

Meletakkan angka Sko


pada posisi yang r 1
benar
Memasukkan
semua angka 12
Meletakkan jarum
pada posisi yang
benar

Sko
r1
Sko
r1

UISU 2011-2

UISU 2011-2

20

TERIMA KASIH

BIMBINGAN COASS DEMENSIA

21

DIAGNOSIS
Pemeriksaan Neurobehavior
A. Diagnosis klinis demensia :
gejala klinis
pemeriksaan fisik umum
pemeriksaan neurologis
pemeriksaan kognisi bedside
meliputi aspek atensi,
orientasi, memori, bahasa,
visuospasial dan
fungsi eksekutif
BIMBINGAN COASS DEMENSIA

22

DIAGNOSIS
B. Informant Questionnaire on Cognitive
Decline in
Elderly (IQCODE)
C. Pemeriksaan klinis terstruktur: Clinical
Dementia Rating (CDR)
D. Kriteria diagnosis:
Kriteria DSM-IV untuk demensia adalah pada
anamnesis yang didapatkan dari sumber
yang terpercaya seperti pengasuh atau
keluarga pasien dan harus didukung oleh
penilaian objektif melalui bedside cognitive
tests dan/atau penilaian neuropsikologis.
BIMBINGAN COASS DEMENSIA

23

Pemeriksaan laboratorium :
Pemeriksaan standar: hematologi rutin, gula darah sewaktu, fungsi ginjal
(ureum, kreatinin), fungsi hati (SGOT dan SGPT), fungsi tiroid, kadar
serum vitamin B12 dan asam folat.
Tes serologis Sifilis bersifat selektif dan hanya dilakukan sesuai indikasi
saja

Pemeriksaan EEG :
Hanya dilakukan pada kasus demensia dengan kejang, Creutzfeldt-Jakob
disease atau delirium

Tindakan LP dan pemeriksaan likuor serebrospinal :


hanya atas indikasi adanya dugaan infeksi.

Pemeriksaan marka genetik, dan APOE:


tidak direkommendasikan untuk keperluan klinis.

BIMBINGAN COASS DEMENSIA

24

Penentuan derajat keparahan

demensia
MMSE
(ringan skor 21-26, sedang 15-20,
sedangberat 10-14, dan berat 0-9)
atau
Clinical Dementia Rating (CDR)
(CDR 1 ringan, 2 sedang dan 3 berat)
Pencitraan otak:

MRI kepala atau CT sken kepala non


kontras
BIMBINGAN COASS DEMENSIA

25

Kriteria Diagnostik DSM-V untuk


Gangguan Neurokognisi Mayor
(demensia)

Adanya bukti signifikan penurunan kognisi dari sebelumnya

pada satu atau lebih domain kognisi (atensi kompleks, fungsi


eksekutif, kemampuan belajar dan memori, bahasa, persepsimotorik, atau kognisi sosial) berdasarkan
Keluhan individu, informan yang dapat dipercaya, atau
klinisi, bahwa terjadi penurunan yang signifikan pada
fungsi kognisi
Gangguan performa kognisi, yang didokumentasikan
dengan tes neuropsikologi, atau pemeriksaan kuantitatif
lainnya
Defisit kognisi mengganggu kemandirian dalam melakukan

aktivitas sehari-hari
Defisit kognisi tidak disebabkan oleh adanya delirium
Defisit kognisi tidak disebabkan kelainan mental yang lain

(contoh : depresi mayor, skizofrenia).


BIMBINGAN COASS DEMENSIA

26