Anda di halaman 1dari 10

Prosedur Audit

Menurut Mulyadi (2001:5) Prosedur audit adalah instruksi rinci untuk


mengumpulkan tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada saat audit
tertentu.
Menurut Agoes (2004:105) Prosedur audit adalah langkah-langkah yang
dijalankan auditor dalam melaksanakan pemeriksaannya dan sangat diperlukan
oleh asisten agar tidak melakukan penyimpangan dan dapat bekerja secara efisien
dan efektif.
Menurut Boynton (2002:238) prosedur audit adalah metode dan teknik yang
digunakan oleh para auditor untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti
yang mencukupi dan kompeten. Berikut ini adalah sepuluh jenis prosedur audit
yang digunakan:
1. Prosedur Analitis (analytical procedurs)
Prosedur ini terdiri dari penelitian dan perbandingan hubungan diantara data.
Prosedur ini meliputi perhitungan dan penggunaan rasio-rasio sederhana,
analisis vertikal atau laporan persentase, perbandingan jumlah yang sebenarnya
dengan data historis atau anggaran, serta penggunaan model matematis dan
statistik, seperti analisis regresi.
2. Inspeksi (inspecting)
Prosedur ini meliputi pemeriksaan rinci terhadap dokumen dan catatan serta
pemeriksaan sumberdaya berwujud. Prosedur ini digunakan secara luas dalam
auditing terutama dalam mengumpulkan dan mengevaluasi bukti untuk
menentukan ketetapatan persyaratan dalam faktur atau kontrak yang
memerlukan pengujian.
3. Konfirmasi (confirming)
Prosedur ini adalah bentuk permintaan keterangan yang memungkinkan auditor
memperoleh informasi secara langsung dari sumber independen di luar
organisasi klien.
4. Permintaan keterangan (inquiring)
Prosedur ini meliputi permintaan keterangan secara lisan atau tertulis oleh
auditor. Permintaan keterangan tersebut biasanya ditujukan kepada manajemen
atau karyawan, umumnya berupa pertanyaan-pertanyaan yang timbul setelah
dilaksanakannya prosedur analitis atau permintaan keterangan yang berkaitan
dengan keuangan persediaan atau piutang yang dapat ditagih.
5. Penghitungan (counting)

Dua aplikasi yang paling umum dari perhitungan adalah perhitungan fisik
sumberdaya berwujud seperti jumlah kas dan persediaan yang ada dan yang
kedua yaitu akuntansi seluruh dokumen dengan nomor urut yang telah dicetak.
6. Penelusuran (tracing)
Pada prosedur ini auditor memilih dokumen yang dibuat pada saat transaksi
dilaksananakan, dan menentukan bahwa informasi yang diberikan oleh dokumen
tersebut telah dicatat dengan benar dalam catatan akuntansi.
7. Pemeriksaan bukti pendukung (vouching)
Prosedur ini meliputi pemilihan ayat jurnal dalam catatan akuntansi, dan
mendapatkan serta memeriksa dokumentasi yang digunakan sebagai dasar ayat
jurnal tersebut untuk menentukan validitas dan ketelitian pencatatan akuntansi.
8. Pengamatan (observing)
Prosedur ini berkaitan dengan memperhatikan dan menyaksikan pelaksanaan
beberapa kegiatan atau proses yang dapat berupa pemrosesan rutin jenis
transasksi tertentu seperti penerimaan kas, untuk melihat penerapan kebijakan
dan prosedur perusahaan.
9. Pelaksanaan ulang (reperforming)
Prosedur ini adalah perhitungan dan rekonsiliasi yang dibuat oleh klien. Misalnya
menghitung ulang total jurnal, beban penyusutan, bunga akrual diskon atau
premi obligasi, perhitungan kuantitas dikalikan harga per unit pada lembar
ikhtisar persediaan serta total pada skedul pendukung dan rekonsiliasi.
10.Teknik audit berbantuan computer (computer-assisted audit techniques)
Apabila catatan akuntansi klien dilaksanakan melalui media elektronik, maka
auditor dapat menggunakan teknik audit berbantuan computer untuk membantu
melaksanakan beberapa prosedur yang telah diuraikan sebelumnya.
Audit dalam konteks teknologi informasi adalah memeriksa apakah sistem komputer
berjalan semestinya. Tujuh langkah proses audit:
1. Implementasikan sebuah strategi audit berbasis manajemen risiko
serta control practice yang dapat disepakati semua pihak.
2. Tetapkan langkah-langkah audit yang rinci.
3. Gunakan fakta/bahan bukti yang cukup, handal, relevan, serta bermanfaat.
4. Buatlah laporan beserta kesimpulannya berdasarkan fakta yang dikumpulkan.
5. Telaah apakah tujuan audit tercapai.
6. Sampaikan laporan kepada pihak yang berkepentingan.
7. Pastikan bahwa organisasi mengimplementasikan managemen risiko serta
control practice.

Sebelum menjalankan proses audit, tentu saja proses audit harus direncanakan
terlebih dahulu. Audit planning (perencanaan audit) harus secara jelas
menerangkan tujuan audit, kewenangan auditor, adanya persetujuan managemen
tinggi, dan metode audit. Metodologi audit:
1. Audit subject. Menentukan apa yang akan diaudit.
2. Audit objective. Menentukan tujuan dari audit.
3. Audit Scope. Menentukan sistem, fungsi, dan bagian dari organisasi yang
secara spesifik/khusus akan diaudit.
4. Preaudit Planning. Mengidentifikasi sumber daya dan SDM yang
dibutuhkan, menentukan dokumen-dokumen apa yang diperlukan untuk
menunjang audit, menentukan lokasi audit.
5. Audit procedures and steps for data gathering. Menentukan cara
melakukan audit untuk memeriksa dan menguji kendali, menentukan siapa
yang akan diwawancara.
6. Evaluasi hasil pengujian dan pemeriksaan. Spesifik pada tiap organisasi.
7. Prosedur komunikasi dengan pihak manajemen. Spesifik pada tiap
organisasi.
8. Audit Report Preparation. Menentukan bagaimana cara memeriksa hasil
audit, yaitu evaluasi kesahihan dari dokumen-dokumen, prosedur, dan
kebijakan dari organisasi yang diaudit.
Struktur dan isi laporan audit tidak baku, tapi umumnya terdiri atas:
1. Pendahuluan. Tujuan, ruang lingkup, lamanya audit, prosedur audit.
2. Kesimpulan umum dari auditor.
3. Hasil audit. Apa yang ditemukan dalam audit, apakah prosedur dan kontrol
layak atau tidak
4. Rekomendasi. Tanggapan dari manajemen (bila perlu).
5. Exit interview. Interview terakhir antara auditor dengan pihak manajemen
untuk membicarakan temuan-temuan dan rekomendasi tindak lanjut.
Sekaligus meyakinkan tim manajemen bahwa hasil audit sahih

Program Audit

Tak ada standar program audit untuk IT ataupun prosedur audit umum yang
diterapkan pada hardware dan software klien, arsitek dan tipologi jaringan, dan
juga host lingkungan dan industry dengan tujuan spesifik.
Program Audit yang kita sajikan di bab ini adalah program audit yang umum, dan
untuk detailnya disesuaikan dengan kebutuhan auditor.
Program Audit yang umum termasuk dalam komponen di bawah ini:

1.
2.
3.
4.

Lingkup Audit
Tujuan Audit
Prosedur Audit
Detail Administratif seperti perencanaan dan pelaporan

Program Audit, yang mana harus didokumentasikan dalam kertas kerja, menyajikan
suatu template for the work to be performed. Setelah audit lengkap, program audit
menyajikan dokumentasi as to who performed individual audit procedures and
references pada kertas kerja dimana hasil masing-masing test dan langkah audit
dapat dilihat.
Program Kerja Audit , atau cukup disebut program audit, merupakan rencana dan
langkah kerja yang harus dilakukan/ diikuti oleh auditor dalam melaksanakan tugas
audit, yang didasarkan atas tujuan dan sasaran yang ditetapkan serta informasi
yang ada tentang program/ aktivitas yang di audit. Ada beberapa manfaat dari
penyusunan program kerja audit, antara lain:

Merupakan suatu rencana yang sistematis tentang setiap tahap kegiatan


yang bisa dikomunikasikan kepada semua tim audit.
Merupakan landasan yang sistematis dalam memberikan tugas kepada para
auditor dan supervisornya.
Sebagai dasar untuk membandingkan pelaksanaan kegiatan dengan rencana
yang telah disetujui dan dengan standar serta persyaratan yang telah
ditetapkan.
Dapat membantu auditor yang belum berpengalaman dan membiasakan
mereka dengan ruang lingkup, tujuan, serta langkah-langkah kegiatan audit.
Dapat membantu auditor
untuk mengenali sifat pekerjaan yang telah
dikerjakan sebelumnya.
Dapat mengurangi kegiatan pengawasan langsung oleh supervisor.

Program kerja audit disusun untuk setiap tahap audit yang dilakukan. Program
kerja audit pendahuluan mencakup pengumpulan informasi umum tentang objek
yang diaudit, cara pelaksanaan prosedur, serta system operasional yang diterapkan
dalam perusahaan tersebut.
tahap audit ini, auditor harus melakukan pengujian pendahuluan (preliminary
test) atas informasi yang diperoleh untuk mengidentifikasi aktivitas yang masih
memerlukan perbaikan. Identifikasi ini disebut possible audit objective . Hasil
identifikasi ini kemudian di analisis untuk menentukan informasi yang dapat
berkembang menjadi tujuan audit sementara (tentative audit objective). Dari buktibukti sasaran sementara ini auditor kemudian menetapkan langkah-langkah kerja
spesifik yang diperlukan untuk tahap audit berikutnya.
Menyiapkan program audit pendahuluan merupakan wilayah yang penting dalam
proses perencanaan dalam rangka menyusun program audit. Program ini
merupakan daftar detail dari langkah analitis yang dilaksanakan selama proses

audit. Persiapan dalam hal ini merupakan hal penting dalam memanajemen waktu
untuk audit secara keseluruhan. Produktifitas auditor akan sangat tergantung pada
kemampuan dan pengetahuan auditor individual atas area yang di review.
Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan dalam menyiapkan program
audit pendahuluan adalah daftar pertanyaan yang akan ditanyakan. Contoh
program audit yang jelek adalah langkah dalam menentukan apakah semua order
pembelian sudah jelas di tandatangani?. Langkah yang lebih baik adalah: membuat
statistic yang signifikan atas contoh dari order pembelian dan membandingkan
tandatangan dengan daftar tandatangan pemilik otoritas dalam rangka untuk
menentukan apakah semua order pembelian telah pasti ditandatangani oleh yang
berhak.
Pada tahap audit pengujian dan review atas pengendalian manajemen, program
kerja audit biasanya memuat langkah-langkah audit yang bertujuan untuk
menemukan bagian-bagian yang mengandung kelemahan pada System
Pengendalian Manajemen yang diterapkan objek audit. Langkah-langkah kerja pada
tahap audit ini harus mengarahkan auditor tidak hanya memperoleh informasi
tentang keandalan system pengendalian manajemen tetapi juga memperoleh buktibukti yang diperlukan untuk merumuskan secara tepat tujuan audit sementara
menjadi tujuan audit yang sesungguhnya(definitive audit objective).
Sedangkan program kerja audit untuk tahap audit lanjutan, memuat langkahlangkah rinci untuk mendapatkan bukti yang cukup, material dan relevan dalam
mendukung temuan-temuan yang menjadi dasar rekomendasi (perbaikan). Program
kerja audit pada tahap audit ini, harus memberikan panduan kepada auditor dalam
pengembangan temuan yang dilakukannya.
Setiap program kerja audit biasanya mengandung 4 hal pokok , yaitu:
1. Informasi Pendahuluan
Informasi latar belakang mengenai program/ aktivitas yang diaudit
yang berguna bagi para auditor dalam memahami dan melaksanakan
program kerja auditnya. Bagian ini harus disajikan seringkas mungkin.
Komentar berbagai pihak yang berkompeten berkaitan dengan tujuan
audit , termasuk komentar auditor sendiri.
2. Pernyataan tujuan audit, menyajikan tentang:
Tujuan yang ingin dicapai berkaitan dengan permasalahan yang
dihadapi dan perbaikan yang diharapkan dapat tercapai.
Cara pendekatan audit yang dipilih
Pola pelaporan yang dikehendaki
3. Instruksi-instruksi khusus
4. Langkah-langkah kerja
Langkah-langkah kerja memuat tentang pengarahan-pengarahan khusus
pelaksanaan tugas audit, sesuai dengan tahap auditnya, yaitu:

a) Audit pendahuluan meliputi:


a) Pembicaraan pendahuluan dengan objek yang diaudit
b) Pengumpulan informasi umum, penelaahan peraturan, evaluasi
prosedur kerja, dan system operasional.
c) Test pendahuluan atas informasi yang diperoleh guna identifikasi
tujuan audit sementara.
d) Pembuatan ikhtisar hasil audit pendahuluan
b) Review dan pengujian pengendalian manajemen.
(a) Pengujian pengendalian manajemen
(b) Pembuatan ikhtisar hasil temuan pengujian pengendalian
manajemen.
c) Audit Lanjutan
(a) Pengembangan temuan hasil pengujian pengendalian manajemen.
(b) Penyajian hasil audit lanjutan (daftar temuan)
(c) Pembahasan temuan dengan penanggung jawab audit
(d) Pembahasan hasil audit lanjutan dengan objek audit
(e) Penyusunan rekomendasi

3. Mengembangkan Program Audit Untuk Pengujian Substantif


a. Penggunaan Teknologi Informasi Untuk Mendukung Pengujian Substantif
Pada saat klien menggunakan teknologi informasi untuk aplikasi akuntansi yang
signifikan, auditor mempunyai kesempatan untuk menggunakan paket perangkat lunak
audit untuk membuat audit lebih efektif dan lebih efisien.
Perangkat Lunak Audit yang Umum
Satu jenis perangkat lunak audit yang biasa digunakan pada saat ini dikenal sebagai
perangkat lunak audit yang umum. Perangkat lunak tersebut dapat digunakan oleh
auditor untuk arsip-arsip computer klien yang dihasilkan dalam berbagai data organisasi
dan metode-metode pemrosesan, sehingga hal tersebut dapat dihubungkan dari satu
klien ke klien lainnya. Tergantung pada aplikasi, satu atau lebih fase berikut ini tercakup
dalam penggunaan paket perangkat lunak audit :
Pengidentifikasian tujuan auditor dan tujuan pengujian yang dilakukan.
Penentuan kelayakan penggunaan paket perangkat lunak tersebut dengan sistem

klien.
Perancangan aplikasi, yang meliputi logika, perhitungan, dan bentuk outputnya.
Pengkodean dan pengujian aplikasi, termasuk pembuatan bentuk-bentuk standar

dan informasi penting.


Pemrosesan aplikasi pada data arsip actual klien dan me-riview hasil-hasilnya.

Penggunaan perangkat lunak audit memungkinkan auditor mengerjakan data dalam


jumlah yang besar dengan efektif. Hal tersebut juga mengurangi ketergantungan
auditor kepada personel teknologi informasi klien. Beberapa contoh aplikasi
pengujian substantive akan dijelaskan dalam bagian berikut.
PEMILIHAN DAN PENCETAKAN SAMPEL-SAMPEL AUDIT computer dapat
diprogram untuk memilih sampel audit sesuai criteria yang dispesifikasikan oleh
auditor. Sampel-sampel tersebut dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Piutang
usaha pelanggan secara individual mungkin dipilih untuk konfirmasi, atau auditor
mungkin tertarik dalam memperoleh daftar seluruh item yang nilainya melebihi
jumlah normal tertentu. Sampel-sampel tersebut dipilih berdasarkan berbagai
criteria. Dalam kasus permintaan konfirmasi tersebut, komputer juga dapat
digunakan untuk mencetak surat dam amplop permintaan konfrmasi. Auditor juga
dapat menggunakan perangkat lunak audit untuk item-item sampel yang mungkin
berisi beberapa kesalahan.
PENGUJIAN KALKULASI DAN PEMBUATAN PERHITUNGAN kegunaan umum
lainnya dari computer adalah untuk menguji keakuratan perhitungan dalam mesin
yang dapat membaca arsip data. Pengujian penjumlahan ke samping, penjumlahan
ke bawah atau perhitungan lain dapat dilakukan. Kuantitas persediaan dapat
dihitung dengan biaya per unit dan jumlah persediaan yang dikalkulasi ulang;
piutang usaha pelanggan dapat dijumlah ke bawah ecara individual dan total seluruh
akun yang dibuat. Jika arsip klien menyediakan informasi yang cukup, kalkulasi
ulang ayat jurnal penyesuaian di akhir tahun dapat dilakukan. Kerna kecepatan
pemrosesan computer, perhitungan ulang dapat dilakukan secara lebih luas
dibandingkan pemrosesan tanpa computer.
PERINGKASAN

DATA

DAN

PELAKSANAA

ANALISIS

Auditor

biasanya

menginginkan data klien disusun kembali dalam cara yang akan sesuai dengan
tujuan tertentu. Sebagai contoh, auditor ingin menentukan pos-pos persediaan yang
bergerak lambat, saldo debet hutang usaha, atau piutang usaha yang telah jatuh
tempo. Demikian juga, dalam melakukan prosedur analitis, auditor dapat
menggunakan computer untuk menghitung rasio yang diinginkan dan data
komparatif lainnya.

PERBANDINGAN DATA AUDIT DENGAN CATATAN-CATATAN KOMPUTER Data


audit yang dihasilkan dari pekerjaan yang dilakukan oleh auditor dapat dibandingkan
dengan informasi dalam catatan computer. Tentu saja, pertama-tama data audit
harus dikonversi ke dalam bentuk yang dapat dibaca mesin. Uji hitung yang dibuat
oleh auditor atas kuantitas persediaan di tangan dapat dibandingkan dengan
kuantitas yang ditunjukkan pada catatan persediaan perpetual atau kuantitas yang
ditentukan oleh perusahaan sebagai hasil dari perhitungan fisik persediaan.
b. Hubungan antara asersi, tujuan audit khusus, dan pengujian substantive
.Adalah biasa untuk mengembangkan sejumlah tujuan audit khusus untuk setiap akun
berdasarkan lima kategori dalam asersi laporan keuangan. Dalam perancangan
pengujian substantive, auditor harus menentukan bahwa pengujian yang sesua tela
diidentifikasi untuk mencapai tujuan audit khusus yang ada salam setiap asersi. Jika hal
tersebut dilakukan untuk setiap akun, tujuan menyeluruhnya akan terpenuhi.
Dalam beberapa kasus, suatu pengujian didaftar lebih dari sekali karena bukti
dari pengujian tersebut berhubungan dengan lebih dari satu tujuan audit khusus atau
asersi.
c. Program Audit Ilustratif Untuk Pengujian Substantif
Keputusan auditor mengenai pada rancangan pengujian substantive diperlukan untuk
pendokumentasian pada kertas kerja dalam bentuk program audit tertulis. Program audit
merupakan daftar prosedur audit yang akan dilakukan. Prosedur tersebut umumnya
tidak didaftar dengan asersi atau tujuan audit spesifik untuk menghindari daftar ganda
prosedur yang akan diterapkan pada lebih dari satu asersi atau tujuan.
Selain untukdaftar prosedur audit, setiap program audit harus mempunyai kolom
untuk (1) referensi silang kertas kerja lainnya yang berisi bukti yang diperoleh dari setiap
prosedur,(2) titik awal auditor yang melakukan setiap prosedur, dan (3) tampilan tanggal
pada prosedur yang telah diselesaikan.
Dalam praktik, auditor mempunyai sudut pandang yang berbeda tentang luasnya
rincian yang ditunjukkan dalam program audit. Sebagai ontoh, rincian tertentu dari
rancangan sampel, termasuk didalamnya ukuran sampel, untuk berbagai pengujian
dapat ditunjukkan pada program audit itu sendiri dalam kertas kerja pendukung yang
dapat dilakukan referensi silang dengan program audit. Dalam bebrapa kasus, program
audit harus cukup rinci memberikan
- Garis besar pekerjaan yang akan dilakukan
- Dasar koordinasi, supervisi, dan pengendalian audit
- Catatan pekerjaan yang dilakukan

d. Kerangka Kerja Umum Pengembangan Program Audit Untuk Pengujian Substantif


Pemahaman mengani signifikansi kelompok transaksi dan pemicu ekonomi yang
mendasari kelompok transaksi tersebut, memberikan konteks paling penting untuk
melakukan dan mengevaluasi pengujian substantive. Sebagai contoh, pengetahuan
tentang proses perakitan computer, perputaran persediaan dalam pabrik, harga pokok
suku cadang, dan pengembangan teknologi yang bersaing, memberikan sebuah
konteks untuk menguji kuantitas persediaan yang dapat direalisasi. Akhirnya, auditor
menggunakan pemahaman tentang bisnis dan industry tersebut untuk mengevaluasi
kewajaran bukti yang mendukung asersi manajemen dalam laporan keuangan.
Karena pengujian substantive berikutnya sering dilakukan pada catatan-catatan
buku pembantu, skedul pendukung, atau sampel-sampel yang ditarik darinya, maka
merupakan hal yang logis untuk memulai dengan memastikan bahwa catatan
pendukung dikerjakan sesuai dengan buku besar. Ketika diterapkan, adalah logis untuk
menetapkan kesesuaian saldo awal dengan jumlah yang di audit dalam kertas kerja
tahun-tahun sebelumnya, sehingga pengujian yang dilakukan dalam audit saat ini dapat
difokuskan pada pengaruh transaksi yang terjadi dalam periode berjalan dan saldo akhir.
Dua contoh tambahan mengenai langkah-langkah tersebut di bidang audit lain adalah
sebagai berikut: (1) verifikasi jumlah total dan penentuan kesesuaian akun pengendali
buku besar piutang usaha dan buku pembantu piutang usaha serta (2) pemverifikasian
total dan pnentuan kesesuaian akun buku besar investasi portofolio dengan daftar
kertas kerja atau spreadsheet rinci dari investasi yang berkaitan.
Spesifikasi prosedur analitis dipertimbangkan berikutnya karena ketersediaan
prosedur yang efektif dapat mengurangi atau menghilangkan kebutuhan pengujian
rincian yang lebih mahal. Pengujian rincian atas transaksi biasanya dilakukan berikutnya
karena dalam beberapa kasus hal tersebut akan lebih murah untuk dilakukan daripada
pengujian rincian atas saldo.auditor kemudian harus melakukan pengujian rincian atas
saldo untuk memperoleh bukti secara langsung tentang kewajaran penyiapanbsaldo
yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Pada akhirnya, program ini harus
menspesifikasikan persyaratan khusus yang sebelumnya tidak ada dan prosedur untuk
menentukan bahwa penyajian dan pengungkapan yang ada dalam asersi tersebut
dikupas oleh program yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.
e. Program Audit Dalan Perikatan Awal
Dalam perikatan awal, spesifikasi rinci dari pengujian substantive dalam program audit
umumnya tidak sempurna hingga penulis memperoleh pemahaman tentang bisnis dan
industry di mana perusahaan beroperasi, studi dan evaluasi pengendalian intern telah

sempurna, dan tingkat resiko deteksi yang dapat diterima telah ditentukan untuk setiap
asersi sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Dua hal yang memerlukan pertimbangan
khusus dalam merancang program audit untuk audit awal adalah (1) menentukan
ketepatan saldo-saldo akun pada periode awal audit, dan (2) memastikan prinsip
akuntansi yang digunakan dalam periode awal sebelumnya sebagai dasar untuk
menentukan konsistensi penerapan prinsip semacam itu dalam periode berjalan.
f.

Program Audit Dalam Perikatan Berulang


Dalam perikatan berulang, auditor mempunyai akses ke program audit yang digunakan
dalam periode sebelumnya dan kertas keja yang berkaitan dengan program tersebut.
Dalam kasusu ini, strategi audit pendahuluan auditor sering didasarkan pada asumsi
awal bahwa tingkat risiko dan program audit untuk pengujian substantive yang
digunakan dalam periode sebelumnya akan sesuai dalam periode berjalan. Dengan
demikian, program audit untuk perikatan saat ini sering dipersiapkan sebelum auditor
menyelesaikan penelitian dan evaluasinya terhadap struktur pengendalian intern. Jika
informasi yang diperoleh dalam periode berjalan menunjukkan asumsi awal tingkat risiko
dan program yang dibuat tidak sepenuhnya sesuai, akan dilakukan modifikasi program.