Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Banjir Lumpur Panas Sidoarjo atau Lumpur Lapindo atau Lumpur
Sidoarjo (Lusi) , adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi
pengeboran Lapindo Brantas Inc di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo,
Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak tanggal 29 Mei 2006.
Lumpur Lapindo merupakan salah satu permasalahan Masyarakat
Indonesia yang sampai saat ini belum teratasi dengan baik. Permasalahan ini
sudah seharusnya mendapatkan penanganan serius dari berbagai pihak. Selain
semburan lumpur akibat pengeboran milik Lapindo Brantas, terlihat tanda-tanda
geologi yang menunjukkan luapan lumpur pada zaman dahulu di lokasi Sumur
Porong 1,7 km sebelah timur Sumur Banjar Panji 1. Semburan lumpur
diperkirakan akan berhenti dalam rentang waktu puluhan hingga ratusan tahun
lagi (Rovicky Dwi Putrohari, 2006).
Kerugian akibat Lumpur Lapindo sebesar Rp. 27,4 triliun (Bappenas,
2006). Kerugian tersebut terjadi sepanjang tahun 2006 dengan rincian Rp. 11
triliun kerugian langsung dan Rp. 16,4 triliun kerugian tidak langsung. Bappenas
juga memperkirakan kerugian akan terus meningkat, bahkan bisa mencapai dua
kali lipat. Kerugian tersebut antara lain berupa kerusakan jalan, telekomunikasi,
tergusurnya warga dari hunian, terhentinya sebanyak 20 pabrik serta gagalnya
pertanian (Bappenas, 2006)
Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan dalam skala laboratorium,
sangat memungkinkan bahwa Lumpur Lapindo dapat dimanfaatkan untuk batu
bata dan paving block. Hal ini dikarenakan batu bata yang terbuat dari Lumpur
Lapindo mempunyai kekuatan yang lebih besar daripada batu bata yang terbuat
dari lempung (Totok Noerwasito, 2006). Nilai ekonomis lumpur sebagai bahan
bangunan diharapkan dapat menjadi alternatif bagaimana pembuangan lumpur
dilakukan. Dari beberapa uji coba tersebut dimungkinkan Lumpur Lapindo dapat
digunakan sebagai bahan dasar pembuatan bata ringan.
Dilain pihak, kemajuan teknologi di Indonesia mengarahkan pembangunan
infrastruktur pada penggunaan struktur pada material ringan tanpa mengurangi

kekuatannya. Penggunaan material ringan sebagai bahan pembentuk struktur akan


mengurangi berat total dari suatu bangunan. Hal tersebut dapat mengurangi
penggunaan material bagian pendukung dan pondasi sehingga biaya keseluruhan
konstruksi bangunan akan berkurang.
Bata ringan merupakan salah satu material ringan pembentuk struktur.
Bata ringan lebih banyak menggunakan agregat ringan daripada agregat alam
karena memiliki banyak keuntungan, seperti sifatnya yang lebih ringan, konduksi
panas lebih rendah serta berdurabilitas (Bardhan Roy, 1995; Helgesen, 1995;
Ikeda, 1995). Berdasarkan penelitian dan karakteristiknya, Lumpur Lapindo
berpotensi dijadikan sebagai agregat ringan. Hal ini sangat diharapkan dapat
menjadi salah satu alternatif baru dalam pembuatan beton ringan, mengurangi
eksploitasi batu alam (split) yang merupakan non-renewable resource serta
membantu mengatasi permasalahan Lumpur Lapindo.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan diatas, penyusun
merumuskan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Apa kelebihan dari batu bata ringan yang menggunakan lumpur
Lapindo?
2. Bagaimana cara pembuatan batu bata ringan menggunakan lumpur
Lapindo?
1.3.Tujuan
1. Menggunakan potensi lumpur Lapindo secara optimal.
2. Melakukan pengembangan terhadap material beton.
3. Mengembangkan bahan bangunan yang ramah lingkungan.
1.4.Manfaat
1. Diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah terhadap perkembangan
ilmu pengetahuan dalam bidang rekayasa struktur bangunan, terutama
pada pengembangan beton.

2. Menggali potensi ekonomis Lumpur Lapindo sebagai bahan dasar beton.


3. Diharapkan dapat memberikan solusi dari permasalahan Lumpur Lapindo
baik dari segi lingkungan, sosial maupun ekonomi.
1.5.Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode browsing pada internet.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Bata Ringan
Bata ringan atau disebut hebel atau celcon. Material bata ringan ini
pembuatannya sudah sangat modern dimana material ini dibuat dengan
menggunakan mesin pabrik. Bata ini cukup ringan, halus dan memilki tingkat
kerataan yang baik. Bata ringan yang umumnya memiliki ukuran 60 cm

20

cm dan ketebalan 8-10 cm ini diciptakan agar dapat memperingan beban struktur
dari sebuah bangunan konstruksi dengan menambahkan gelembung udara ke
dalam mortar yang akan mengurangi berat beton yang dihasilkan secara drastis.
Selain itu agar mempercepat pelaksanaan, serta meminimalisasi sisa material yang
terjadi pada saat proses pemasangan dinding berlangsung.
2.1.1.
Jenis-jenis Bata Ringan
Berdasarkan proses pengeringannya, terdapat dua jenis bata ringan, yaitu
Autoclaved Aerated Concrete (AAC) dan Cellular Lightweight Concrete (CLC).
1. Bata Ringan AAC
Bata ringan AAC adalah beton selular dimana gelembung udara yang ada
disebabkan oleh reaksi kimia, adonan AAC umumnya terdiri dari pasir
kwarsa, semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan alumunium pasta sebagai
bahan pengembang (pengisi udara secara kimiawi).
Setelah adonan tercampur sempurna, nantinya akan mengembang selama
7-8 jam. Alumunium pasta yang digunakan dalam adonan tadi, selain
berfungsi sebagai pengembang ia berperan dalam mempengaruhi kekerasan
beton. Volume aluminium pasta ini berkisar 5-8 persen dari adonan yang
dibuat, tergantung kepadatan yang diinginkan.
Adonan beton aerasi ini lantas dipotong sesuai ukuran. Adonan beton
aerasi yang masih mentah ini, kemudian dimasukkan ke autoclave chamber
atau diberi uap panas dan diberi tekanan tinggi. Suhu di dalam autoclave
chamber sekitar 183 derajat celsius. Hal ini dilakukan sebagai proses
pengeringan atau pematangan.
Saat pencampuran pasir kwarsa, semen, kapur, gypsum, air, dan
alumunium pasta, terjadi reaksi kimia. Bubuk alumunium bereaksi dengan

kalsium hidroksida yang ada di dalam pasir kwarsa dan air sehingga
membentuk hidrogen. Gas hidrogen ini membentuk gelembung-gelembung
udara di dalam campuran beton tadi. Gelembung-gelembung udara ini
menjadikan volumenya menjadi dua kali lebih besar dari volume semula. Di
akhir proses pengembangan atau pembusaan, hidrogen akan terlepas ke
atmosfir dan langsung digantikan oleh udara. Rongga-rongga udara yang
terbentuk ini yang membuat beton ini menjadi ringan.
2. Bata Ringan CLC
Bata ringan CLC adalah beton selular yang mengalami proses curing
secara alami, CLC adalah beton konvensional yang mana agregat kasar
(kerikil) diganti dengan gelembung udara, dalam prosesnya mengunakan
busa organik yang kurang stabil dan tidak ada reaksi kimia ketika proses
pencampuran adonan, foam/busa berfungsi hanya sebagai media untuk
membungkus udara.
Pabrikasi dan peralatan yang digunakan untuk menghasilkan CLC juga
standard, sehingga produksi dengan mudah dapat pula diintegrasikan ke
dalam pabrikasi beton konvensional. Hanya pasir, semen, air dan foam yang
digunakan dan kepadatan yand didapatkan dapat disesuaikan mulai dari 350
kg/m sampai 1.800 kg/m dan kekuatan dapat juga dicapai dari serendah
1,5 sampai lebih 30 N/mm.
Pasir sungai berukuran 2, 4, 6 dan 8mm dapat digunakan, tergantung
pada kepadatan yang diinginkan. Semen portland menawarkan kinerja
paling optimal tetapi kebanyakan jenis lain semen juga bisa digunakan.
kepadatan beton bisa disesuaikan, berbagai ukuran dan maupun panel prefab
dapat diproduksi, di atas kepadatan dari 1.200 kg / m (setengah dari berat
beton konvensional) untuk aplikasi struktural dapat mengunakan rangka
baja.
Pada CLC, gelembung udara yang dihasilkan benar-benar terpisah satu
sama lain, sehingga penyerapan air jauh lebih sedikit dan baja tidak perlu
dilapisi dengan lapisan anti korosi, beton dengan kepadatan diatas 1.200
kg/m3 juga tidak memerlukan pla-ster, seperti pada AAC, hanya cukup di
cat saja. Penyerapan air lebih rendah daripada di AAC dan masih cukup baik
dibandingkan dengan beton konvensional.

CLC sama halnya dengan beton konvensional kekuatan akan bertambah


seiring dengan waktu melalui kelembapan alamiah pada tekanan atmosfir
saja. Meskipun tidak seringan AAC, CLC tetap menawarkan penurunan
berat badan yang cukup besar dibandingkan dengan beton konvensional dan
isolasi termal 500% lebih tinggi dan tahan api.
Paku dan Sekrup dapat dengan mudah dipaku ke CLC terus tanpa harus
menggunakan pen, CLC juga dapat dipotong atau digergaji. Bahkan panel
dinding rumah seluruhnya dapat dicetak hanya dalam sekali tuang.
Beton CLC menawarkan banyak ruang lingkup pengaplikasian, mulai
dari isolasi atap rumah pada kepadatan serendah 350 kg / m sampai dengan
produksi panel dan lantai beton dengan kepadatan 1800 kg / m.
2.1.2.

Bahan Baku Bata Ringan

Bahan baku untuk pembuatan adonan bata ringan antara lain terdiri dari
pasir kwarsa, semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan alumunium pasta sebagai
bahan pengembang (pengisi gelembung udara secara kimiawi). Setelah adonan
tercampur sempurna, nantinya akan mengembang selama 7-8 jam. Alumunium
pasta yang digunakan dalam adonan tadi selain berfungsi sebagai pengembang, ia
berperan juga dalam mempengaruhi kekerasan bata. Volume alumunium pasta ini
berkisar 5-8 persen dari adonan yang dibuat, tergantung kepadatan yang
diinginkan.
2.1.3.

Kelebihan dan Kekurangan Bata Ringan

Jika dibandingkan dengan bata merah, bata ringan memiliki kelebihan


yaitu kedap air sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya rembesan air,
pemasangan lebih cepat, penggunaan rangka beton pengakunya lebih luas (antara
9-12), ringan, tahan api, dan mempunyai kekedapan suara yang baik. Hanya saja
tidak semua tukang pernah memasang bata ini.
Adapun kelebihan dan kekurangan bata ringan dari jenis-jenisnya sebagai
berikut.
1. Bata Ringan AAC
Kelebihan
a. Tahan panas dan api, karena berat jenisnya rendah.
b. Kedap suara

c. Tahan lama kurang lebih sama tahan lamanya dengan beton


konvensional
d. Kuat tetapi ringan, karena tidak sekuat beton. Perlu perlakuan khusus.
dibebani AC menggunakan fisher FTP, Wastafel fisher plug FX6/8,

e.
f.
g.
h.

panel dinding fisher sistem injeksi.


Anti jamur
Tahan gempa
Anti serangga
Biaya perawatan yang sedikit, bangunan tak terlalu banyak mengalami

perubahan atau renovasi hingga 20 tahun.


i. Nyaman

j. Aman, karena tidak mengalami rapuh, bengkok, berkarat, korosi.


Kekurangan:
a. Karena ukurannya yang besar, untuk ukuran yang tanggung, akan
memakan waste yang cukup besar.
b. Perekat yang digunakan harus

disesuaikan

dengan

ketentuan

produsennya. Umumnya adalah semen instan, yang saat ini sudah


tersedia di lapangan.
c. Diperlukan keahlian tambahan untuk tukang yang akan memasangnnya,
karena dampaknya berakibat pada waste dan mutu pemasangan.
d. Jika terkena air, maka untuk menjadi benar-benar kering dibutuhkan
waktu yang lebih lama dari bata biasa. Kalau tetap dipaksakan diplester
sebelum kering maka akan timbul bercak kuning pada plesterannya.
2. Bata Ringan CLC
Kelebihan:
a. Memiliki bentuk yang presisi tinggi dan seragam dalam jumlah yang

b.
c.
d.
e.
f.
g.

banyak.
Tidak memerlukan siar yang banyak untuk perekat.
Pemasangannya lebih cepat sehingga menghemat biaya pelaksanaan.
Lebih ringan sehingga memperkecil beban struktur.
Kuat tekan tinggi.
Pengangkutan ke lokasi proyek lebih mudah.
Tidak menggunakan pasir untuk pekerjaan plesteran dan perekat

sehingga area proyek lebih bersih.


h. Lebih kedap suara.

i. Tidak membutuhkan plesteran yang tebal.


Kekurangan:
a. Membutuhkan perekat khusus yaitu dengan semen instan yang sudah
tersedia banyak dipasar
b. Membutuhkan tenaga pemasang yang sudah berpengalaman memasang
bata ringan
c. Pada pekerjaan
d.
e.
f.
g.
h.

yang

membutuhkan

pemotongan

bata,

dapat

menyisakan bata yang terbuang


Jika terkena air proses pengeringannya lama
Harga bata ringan lebih mahal dibanding dengan yang biasa
Hanya di toko besar atau distributor yang menyediakan
Pembeliannya harus dengan jumlah yang banyak.
Harus menggunakan roskam bergerigi untuk menempelkan semen
mortar

i. Bata ringan dengan kualitas rendah dapat menyebabkan air rembes


sehingga bisa merusak cat.
2.1.4.
Pembuatan Bata Ringan
Pembuatan bata ringan atau kerap disebut beton ringan ini pada prinsipnya
membuat rongga udara di dalam beton. Ada tiga macam cara membuat beton
aerasi,

yaitu

Pertama

yang

paling

sederhana

dengan

memberikan

agregat/campuran isian beton ringan. Agregat itu bisa berupa batu apung,
stereofoam, batu alwa, atau abu terbang yang dijadikan batu. Cara kedua
menghilangkan agregat halus (agregat halusnya disaring, contohnya debu/abu
terbangnya dibersihkan). Dan cara terakhir meniupkan atau mengisi udara di
dalam beton. Cara ketiga ini terbagi lagi menjadi secara mekanis dan secara
kimiawi.
Proses pembuatan beton ringan secara kimiawi kini lebih sering
digunakan. Sebelum beton diproses secara aerasi dan dikeringkan secara
autoclave, dibuat dulu adonan beton ringan ini. Adonannya terdiri dari pasir
kuarsa, Semen, Kapur, Gypsum, Aluminium pasta (Zat Pengembang). Untuk
memproduksi 1 m3 beton ringan hanya dibutuhkan bahan sebanyak 0,5 0,6
m3 saja, karena nantinya campuran ini akan mengembang. Dalam komposisinya,
secara umum pasir kuarsa memiliki persentase yang cukup tinggi yaitu berkisar

60%, kemudian perekat yang terdiri dari semen dan kapur sebanyak 30%, dan
sisanya sebanyak 10% yaitu campuran gypsum dan aluminium pasta.
Semen yang digunakan merupakan semen tipe I. Semen tipe I merupakan
yang biasanya digunakan untuk segala macam jenis konstruksi. Untuk proses
produksi, dalam 1 hari dapat dihasilkan beton ringan sebanyak 300 400 m3.
Pembuatan beton ringan ini sepenuhnya dikerjakaan dengan mesin. Mesin yang
digunakan seperti mesin penggiling, mesin mixxing, mesin cutting, autoclaved
chamber. Untuk proses awal semua bahan baku ditempatkan didalam tangki
masing masing untuk mempermudah proses pencampuran. Khusus untuk pasir
kuarsa harus dimasukkan kedalam mesin penggiling terlebih dahulu sebelum
dimasukkan ke dalam tangki, untuk menghaluskan butiran butiran pasir.
Kemudian melalui ruang control, diatur kadar campuran yang akan dibuat. Kadar
campuran dapat berubah ubah tergantung dari keadaan bahan baku yang ada.
Kemudian campuran beton ringan tersebut dituangkan kedalam cetakan yang
memiliki ukuran 4,20 x 1,20 x 0,60 m. Adonan tersebut diisikan sebanyak
bagian saja. Kemudian didiamkan sekitar 3 4 jam, sehingga adonan dapat
mengembang.
Dalam proses pengembangan ini, terjadi reaksi kimia. Saat pencampuran
pasir kuarsa, semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan dicampur alumunium pasta
ini terjadi reaksi kimia. Bubuk alumunium bereaksi dengan kalsium hidroksida
yang ada di dalam pasir kwarsa dan air sehingga membentuk hidrogen. Gas
hidrogen ini membentuk gelembung-gelembung udara di dalam campuran beton
tadi. Gelembung-gelembung udara ini menjadikan volumenya menjadi dua kali
lebih besar dari volume semula. Di akhir proses pengembangan atau pembusaan,
hidrogen akan terlepas ke atmosfir dan langsung digantikan oleh udara. Ronggarongga udara yang terbentuk ini yang membuat beton ini menjadi ringan.
Meskipun hidrogennya hilang, tekstur beton tetap padat tetapi lembut. Sehingga
mudah dibentuk balok, atau palang sesuai kebutuhan. Setelah mengembang,
adonan dipotong untuk memperoleh ukuran yang persisi, karena pada saat
pengembangan ukurannya tidak dapat dikontrol sehingga dipotong setelah proses
pengembangan selesai.
Setelah melalui proses pemotongan, beton ringan dimasukkan kedalam
autoclave chamber selama 12 jam. Didalam autoclaved ini pasir kwarsa bereaksi

dengan kalsium hidroksida menjadi kalsium hidrat silika. Dalam proses ini beton
ringan diberi tekanan sebesar 11 bar atau sebesar 264 psi ( = 1,82 Mpa) dengan
suhu setinggi 374 F. Sehingga terbentuk kalsium silikat dan beton ringan berubah
warna menjadi putih. Pada saat didalam autoclaved ini, semua reaksi kimia
dituntaskan dan dibersihkan pada suhu tinggi, sehingga nantinya pada saat
digunakan tidak mengandung reaksi kimia yang berbahaya. Kenapa tidak dijemur
saja? Karena kalau adonan ini dijemur di bawah terik matahari hasilnya kurang
maksimal, karena tidak bisa stabil dan merata hasil kekeringannya.
Setelah keluar dari autoclave chamber, beton ringan aerasi ini sudah siap
untuk dipasarkan dan digunakan sebagai konstruksi bangunan.
2.2.Lumpur Lapindo
Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa lumpur Lapindo bisa
dibuat bahan bangunan seperti bata, paving block, dan genteng (Noerwasito,
2006). Pengujian lumpur lapindo ini berdasarkan karakteristik mekanik antara
lain:
Tabel Hasil Pengujian Lumpur Lapindo.
Batas Cair (LL)
Batas Plastis (PL)
Indeks Plastisitas (PI)
Berat Jenis (Gs)

56.80 %
36.04 %
20.76 %
3
2,36 gr/ cm

Persen lolos ayakan 200


75,62 %
Kadar Air
98 %
Sumber : Hasil Penelitian dan Pengamatan Universitas Muhammadiyah Malang
Dari Klasifikasi di atas maka lumpur lapindo memiliki :
a. Tanah berbutir halus yaitu tanah yang lebih dari 50 % berat total contoh
tanah lolos ayakan no 200.
b. Tanah yang jenuh air (saturated) ), yaitu ruang pori terisi penuh dengan air.
sehingga pada saat pembuatan batu bata tidak memerlukan air yang terlalu
banyak, karena dari kadar air yang dikandung oleh kedua bahan sudah
cukup tinggi.
c. Sedangkan hasil pemeriksaan ukuran butiran lumpur dengan menyaring
pada ayakan no 200, > 50 % lolos, yang tertahan berupa gumpalan yang
jika diremas masih dapat terurai. Dapat disimpulkan bahwa butiran lumpur

10

masuk klasifikasi gradasi butiran halus atau masuk kategori lempung


(Clay) dan fraksi lanau (silt).
d. Dari parameter pengujian batas-batas Atterberg untuk mengetahui
plastisitas tanah lumpur tersebut digolongkan dalam jenis lempung
anorganik dengan plastisitas tinggi atau CH menurut klasifikasi tanah
UNIFIED.
Berdasarkan penelitian terdahulu tentang penambahan lumpur Lapindo
terhadap kuat tekan bata, nilai kuat tekan bata mengalami peningkatan. Ada pun
hasil pengujian Depudi Bidang TPSA-BPPT, hasil analisa lumpur Lapindo
memiliki kandungan mineral dan kimia yang cocok untuk pembuatan bahan
keramik dan bahan berdasar semen, terutama dengan kandungan silika yang
sangat tinggi. Hasil analisa kimia lumpur Lapindo di lokasi Siring adalah sebagai
berikut:
Tabel 2 Hasil analisa kimia lumpur Lapindo dengan metode SEM-EDX di lokasi
Siring
Elemen

(keV)

tO
Na K
Mg K
Al K

1.041
1.253
1.486

mass
%
45.88
1.17
1.75
13.27

Si K

1.739

Cl K
KK
Ca K
Fe K

2.621
3.312
3.690
6.398

Error
%

At %

1.10
1.00
1.09

1.71
4.84
16.54

Na2O
MgO
Al2O3

1.57
2.90
25.07

mass
%
0.43
0.60
4.12

25.67

1.18

61.46

SiO2

54.92

7.65

0.91
1.93
1.54
7.89

0.65
0.98
1.31
2.54

1.72
1.66
2.58
9.50

Cl
K2O
CaO
FeO

0.91
2.32
2.16
10.15

0.00
0.41
0.32
1.18

Compound

Cation
K
1.8924
2.5165
22.596
0
44.629
2
1.9770
4.6320
3.9388
17.818
0

Total

100.0

100.0

100.0

14.71

Sumber: Depudi Bidang TPSA-BPPT


Berdasarkan pengujian toksikologis di 3 laboratorium terakreditasi
(Sucofindo, Corelab dan Bogorlab) diperoleh kesimpulan ternyata lumpur

11

Lapindo tidak termasuk limbah B3. Sehingga pemanfaatan lumpur Lapindo


sebagai bahan bangunan, aman bagi kesehatan (Mukono, 2006).
Tabel 3 Hasil pengujian toksikologis
Beberapa Hasil Pengujian
Parameter

Hasil uji maksimum

Arsen
Barium
Boron
Timbal
Raksa
Sianida Bebas

0,045 Mg/L
1,066 Mg/L
5,097 Mg/L
0,05 Mg/L
0,004 Mg/L
0,02 Mg/L

Trichlorophenol

0,017 Mg/L

Baku Mutu
(PP Nomor 18/1999)
5 Mg/L
100 Mg/L
500 Mg/L
5 Mg/L
0,2 Mg/L
20 Mg/L
2 Mg/L (2,4,6 Trichlorophenol)
400 Mg/L (2,4,4 Trichlorophenol)

Sumber: http://id.wikipedia.org

12

BAB III
PEMBAHASAN
3.1.

Bata Ringan Menggunakan Lumpur Lapindo


Pada umumnya material penyusun bata ringan berupa semen, air, serta

bahan tambahan kimia. Berdasarkan beratnya bata ringan memiliki berat jenis
kurang dari 1800 kg/ m

(Abdullah, 2008).

Dari analisa yang dilakukan, lumpur Lapindo dapat dimanfaatkan sebagai


campuran beton ringan, mengingat ketersediaan lumpur Lapindo yang sangat
melimpah dengan volume semburan lumpur yang dihasilkan mencapai 126.000
m3

per hari. (http://ridho2009.wordpress.com/)


Selain itu, yang optimal untuk digunakan sebagai campuran tambahan

pada beton ringan adalah fiber alam (serat kenaf). Fiber alam (Naturally occurring
fibers) adalah serat alami yang berasal dari alam, baik itu dari hewan maupun
tumbuhan. Serat alami terbukti dapat memperbaiki sifat mekanis bata seperti kuat
tekan yang lebih tinggi dari bata konvensional.
Penambahan foam (buih) kedalam adukan dapat menjadikan reaksi kimia
dengan melepas sejumlah gas tertentu yang dapat membuat bata menjadi
mengembang dan membentuk struktur berpori sehingga bata akan lebih ringan
dengan berkurangnya berat jenis pada beton.( Byun,@all, 2007)
3.2.

Cara Pembuatan Bata Ringan Menggunakan Lumpur Lapindo


Pembuatan bata ringan menggunakan lumpur Lapindo atau sering disebut

Lusicon, tidak jauh berbeda dengan pembuatan bata ringan biasanya. Hanya saja
lumpur Lapindo disini harus dibakar terlebih dahulu dalam suhu 800C agar
madapatkan lumpur yang baik sebagai material alternative. Setelah itu dibuatlah
adukan dengan bahan-bahan lumpur bakar Lapindo, semen portland, buih, serat
alam, dan air.
Adukan dapat dibuat dengan langkah menyiapkan bahan-bahan terlebih
dahulu, kemudian menentukan komposisi adukan dan masukkan kedalam mikser,
baru kemudian memasukkan air ke dalam adukan tadi.

13

Setelah adukan teraduk dengan rata, maka bata ringan dapat dicetak.
Kemudian dilakukan pemeliharaan awal dengan meletakkan bata ringan pada
tempat yang terlindung dari cuaca luar.
3.3.

Kelebihan dari Bata Ringan Menggunakan Lumpur Lapindo]


Sampai kini hasil penelitian yang dilakukan oleh ITS menunjukan bahwa

bata ringan ramah lingkungan yang berbahan campuran lumpur Lapindo berunjuk
kerja baik. Berat jenisnya hanya sekitar 800 kg/m3. Ini berarti bahwa keunggulan
bata ringan ramah lingkungan tersebut dapat mengapung pada air.
Dari hasil uji, batu ringan ramah lingkungan tersebut memiliki kuat tekan
yang sudah mendekati 4 Mpa. Spesifikasi dan kinerja bata ringan berbahan
lumpur Lapindo setara dengan produk bata ringan yang di produksi oleh pabrikan
yang sudah ada dan jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan produk bata
ringan yang ramai diproduksi industri kecil sekarang ini. Agar nantinya produk
bata ringan ramah lingkungan dari lumpur Lapindo mampu bersaing dengan
produk bata merah yang sudah ada di pasaran, maka ukurnnya modular.
Perbandingan performa (kuat tekan dan berat volume) antara Lusicon
dengan produk bata ringan yang ada dipasaran, hasilnya cukup memuaskan.
Adapun grafik perbandingan antara Lusicon dengan produk bata ringan komersial
yang dilakukan di Laboratorium Beton ITS sebagai berikut:

14

Apabila
sistem
maka
Lusicon

melihat

dari

pemasangannya,
bata

ringan

dan

lebih

cepat

jika

dengan

bata

dibandiongkan

merah. Dengan pemasangan yang lebih cepat, maka akan sangat mempengaruhi
efisiensi biaya. Berikut tabel perbandingan antara bata merah, bata ringan, dan
Lusicon.

15

BAB IV
PENUTUP
4.1.

Kesimpulan
Bata ringan yang menggunakan lumpur lapindo sangatlah bermanfaat

untuk mengurangi limbah akibat lumpur lapindo tersebut. Selain itu dengan
pemanfaatan lumpur Lapindo dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di
sekitar kawasan lumpur Lapindo dan telah terbukti juga bahwa lumpur Lapindo
aman untuk dijadikan material alternatif sehingga menjadikan batu bata ringan
tersebut ramah lingkungan.
4.2.

Saran
Saat ini banyak masyarakat yang masih memilih material dinding untuk

rumah menggunakan bata merah. Kebanyakan dari masyarakat tersebut


menganggap bahwa performa bata merah lebih baik dari bata ringan yaitu lebih
dingin dan awet. Selain itu produksi bata ringan yang masih sedikit menjadikan
bata ringan ini belum siap diedarkan di pasaran. Oleh sebabnya produksi bata
ringan ini perlu dikembangkan lagi agar lebih siap untuk diperjual belikan di
masyarakat.

16

DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bata
http://www.megatrussglobal.com/2014/04/perbandingan-hargabiaya-bataringan.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Bata_ringan
http://www.jasasipil.com/2014/09/kelebihan-dan-kekurangan-bata-ringan.html
http://www.jasasipil.com/2013/01/beton-ringan.html
http://konstruksiplus.blogspot.co.id/2009/01/material-batu-bata-versus-aacblock.html
http://bebas-unik.blogspot.co.id/2014_06_01_archive.html
http://www.sementigaroda.com/read/20150730/190/menggunakan-bahanmaterial-lusicon-si-bata-ringan-ramah-lingkungan-bag-1
http://www.sementigaroda.com/read/20150730/183/bahan-material-bangunanbata-ringan-lusicon-yang-ramah-lingkungan-bag-3