Anda di halaman 1dari 13

REFERAT

STRESS DAN PENCERNAAN

Pembimbing:
dr. Noer Saelan Tadjudin, Sp.KJ

Oleh:
Grace Juniaty
406148112

KEPANITERAAN ILMU GERIATRI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
PANTI WERDHA HANA, CIPUTAT
PERIODE 28 MARET 29 APRIL 2016

BAB 1
PENDAHULUAN
Hubungan antara psikis (jiwa) dan soma (badan) telah menjadi perhatian para ahli dan
para peneliti sejak dahulu. Keduanya (psikis dan soma) saling terkait secara erat dan tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan lainnya. Kedua aspek saling mempengaruhi yang selanjutnya
tercermin dengan jelas dalam ilmu kedokteran psikosomatik. Dalam perkembangannya tidak
hanya aspek fisis dan psikis saja yang menjadi titik perhatian, tetapi juga aspek spiritual (agama)
dan lingkungan merupakan faktor yang harus diperhatikan untuk mencapai keadaan kesehatan
yang optimal. Hal ini sesuai dengan definisi WHO tentang pengertian sehat yang meliputi
kesehatan fisis, psikologis, sosial, dan spiritual. Dalam pengertian kedokteran psikosomatik
secara luas, aspek bio-psiko-sosio-spiritual tersebut sangat perlu dipahami untuk melakukan
pendekatan dan pengobatan terhadap pasien secara holistik yaitu pendekatan psikosomatik.1
Gangguan psikosomatis adalah faktor psikologis yang merugikan, mempengaruhi kondisi
medis pasien. Faktor psikologis tersebut dapat berupa gangguan mental, gejala psikologis, sifat
kepribadian atau gaya mengatasi masalah, dan prilaku kesehatan yang maladaptif. Menurut The
National Academy Science tahun 1978 definisi psikosomatis adalah bidang interdisiplin yang
memperhatikan perkembangan dan integrasi ilmu pengetahuan perilaku, biomedis dan
teknik yang relevan dengan kesehatan dan penyakit serta penerapan pengetahuan, dan teknikteknik tersebut untuk mencegah, mendiagnosis dan rehabilitasi. 2 Kedokteran

psikosomatis

menyadari kesatuan dari pikiran dan tubuh serta interaksi diantara keduanya, dimana
faktor psikologis penting dalam perkembangan semua penyakit, namun apakah peranan hal
tersebut dalam memulai, memperberat dan membuay eksaserbasi penyakit, predisposisi atau
reaksi terhadap suatu penyakit masih dalam perdebatan. Dengan demikian kedokteran prilaku
adalah istilah yang khusus untuk kedokteran psikosomatis. 2,3 Sesuatu yang jarang diulas yaitu
tentang gangguan saluran cerna yang dipengaruhi faktorpsikologis. Bahkan mungkin banyak
yang heran ternyata kedua hal tersebut saling berpengaruh. Dengan kenyataan-kenyataan
tersebut, sangat penting untuk mengulas faktor psikologis yang berpengaruh terhadap sistem
saluran gastrointestinal.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Psikosomatis berasal dari dua kata yaitu psiko yang artinya psikis, dan somatis
yangartinya tubuh. Dalam Diagnostic And Statistic Manual Of Mental Disorders edisi ke empat
(DSM IV) istilah psikosomatis telah digantikan dengan kategori diagnostik faktor psikologis
yang mempengaruhi kondisi medis.2,3 Menurut Wittkower psikosomatis secara luas
didefinisikan sebagai usaha untuk mempelajari hubungan antara aspek-aspek psikologis dan
aspek-aspek fisis semua faal jasmani dalam keadaan normal maupun abnormal. Ilmu ini
mencoba mempelajari, menemukan interelasi daninteraksi antara fenomena kehidupan psikis
(jiwa) dan somatis (raga) dalam keadaan sehat maupun sakit.3 Stress adalah suatu stimulus,
keadaan internal, situasi, atau kejadian dengan berbagai reaksi setiap individu yang dapat
diamati, biasanya dalam bentuk adaptasi positif atau negatif, beradaptasi dengan yang baru atau
berbeda. Suatu konsep yang pada umumnya mengacu pada suatu pengalaman, yang dihasilkan
dari interaksi antara orang dengan konteks lingkungan. Umumnya, stress adalah peristiwa
kehidupan seperti gangguan sehari-hari, tekanan di rumah atau di tempat kerja, perselisihan
perkawinan dan konflik, darurat, kendaraan bermotor, kecelakaan, penyakit dan cedera.4
2.2. Klasifikasi
Gangguan psikosomatik biasanya digolongkan menurut organ yang terkena, yaitu:

Gangguan kulit misalnya neurodermatitis dan hiperhidrosis (kulit kering


Gangguan pernafasan misalnya asma bronchial, hiperventilasi (bernafas sangat

cepat seringkali menjadi pingsan)


Gangguan kardiovaskular misalnya migraine dan hipertensi
Gangguan gastrointestinal misalnya luka lambung

Berdasarkan penyebabnya stress dapat digolongkan sebagai berikut :

Stress fisik, disebabkan oleh suhu atau temperatur yang terlalu tinggi atau rendah,

suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau tersengat arus listrik.
Stress kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat beracun,
hormon, atau gas.

Stress mikrobiologik, disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang

menimbulkan penyakit.
Stress fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan, organ, atau

sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.


Stress proses pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh gangguan

pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua.


Stress psikis/emosional, disebabkan oleh gangguan hububgan interpersonal,
sosial, budaya, atau keagamaan.

Stress dipengaruhi oleh faktor biologis dan faktor psikoedukatif/sosio kultural. Faktor
fisiologis berupa herediter, konstitusi tubuh, kondisi fisik, neurofsilogik, dan neurohormonal.
Sedangkan faktor psikoedukatif/sosio kultural berupa perkembangan kepribadian, dan kondisi
lain yang memengaruhinya. Paparan stress menyebabkan perubahan dari interaksi otak-usus
("axis otak-usus") akhirnya mengarah ke pengembangan yang luas gangguan pencernaan
termasuk penyakit radang usus (Inflammatory Bowel Disease), sindrom iritasi usus
(Inflammatory Bowel Syndrome), ulkus peptikum dan penyakit gastroesophageal reflux (GERD).
2.3. Patofisiologi
Saluran pencernaan dan sistem kekebalan tubuh yang responsif terhadap stressor yang
berbeda. Stres dapat mempengaruhi fisiologis yang berbeda fungsi saluran pencernaan termasuk
sekresi lambung, motilitas lambung, permeabilitas mukosa, sensitivitas aliran darah dan mukosa
darah Dalam beberapa tahun terakhir, interaksi penting antara stres dan mikrobiota usus
ditampilkan. Menariknya, bakteri dapat merespon langsung ke sinyal yang berhubungan dengan
stress, ada beberapa bukti bahwa katekolamin dapat mengubah pertumbuhan, motilitas dan
virulensi patogen dan bakteri komensal. Dengan demikian, stres dapat mempengaruhi hasil
infeksi oleh bakteri di banyak host5.

Efek utama dari stres pada fisiologi sistem pencernaan meliputi:

Perubahan dalam motilitas gastrointestinal


Meningkatkan persepsi viseral

Perubahan dalam sekresi pencernaan


Meningkatkan permeabilitas usus
Efek negatif pada kapasitas regeneratif dari mukosa gastrointestinal dan aliran
darah mukosa dan efek negatif pada mikrobiota usus

PeGa
Gambar 1. Pengaruh stres pada fungsi pencernaan. Stres memiliki dampak pada fisiologis
penting fungsi usus termasuk motilitas usus, sekresi, sensitivitas viseral, mukosa dan aliran
darah. Sebagai tambahan, stres memodifikasi mikrobiota usus dan meningkatkan
permeabilitas selular.

Gambar
2.
Dampak
stres
pada axis
otak-usus-mikrobiota. Ada hubungan dua arah yang menunjukkan sebuah interaksi antara
axis otak-usus-mikrobiota
Mengenai hubungan antara stres dan gangguan gastrointestinal, banyak orang menyadari
fakta bahwa terdapat hubungan yang erat antara pusat sistem saraf dan usus. Diketahui juga
bahwa paparan stres dapat menyebabkan manifestasi gejala yang berbeda dalam saluran
pencernaan seperti dispepsia, diare atau nyeri perut. Otak berhubungan dengan usus melalui
beberapa jalur paralel termasuk sistem saraf otonom (SSO), hipotalamus-hipofisis-adrenal axis
(HPA), dan hubungan lainnya, yang disebut axis otak-usus (brain-gut-axis). Berdasarkan
penelitian sebelumnya ada bukti kuat bahwa paparan stres mungkin bertanggung jawab untuk
disregulasi dari axis otak-usus.
Salah satu koordinator penting endokrin, respon perilaku dan kekebalan terhadap stres
adalah corticotropin releasing factor (CRF). CRF adalah peptida yang terdapat dalam SSP dan di
dalam usus dan mempunyai efek biologis yang poten. CRF memiliki efek kuat pada usus melalui
modulasi peradangan, peningkatan usus permeabilitas, hipersensitivitas usus (meningkat persepsi
rasa sakit) dan modulasi motilitas usus. Pengeluaran CRF di hipotalamus adalah langkah pertama
dalam aktivasi HPA yang terlibat dalam respon stres. Hal ini merupakan respon sistem endokrin
utama pada stress. Kelenjar hipofisis merespon CRF dengan melepaskan hormon

adrenokortikotropik (ACTH) untuk merangsang kelenjar adrenal sekresi hormon stres kortisol
(12).
Hubungan antara mikrobiota usus, sistem kekebalan tubuh dan sumbu otak-usus
memainkan peran penting dalam modulasi dari respon stres dari usus dalam konteks gangguan
dalam sistem pencernaan (13). Beberapa bukti menunjukkan bahwa bakteri usus membantu
untuk menjaga kontak dua arah antara komponen otak dan pencernaan. Dengan kata lain paparan
stres memodifikasi flora normal bakteri yang mungkin memiliki efek pada BGA dan dapat
memodulasi motilitas, permeabilitas dan sensitivitas viseral. Mikrobiota usus dapat memodulasi
sensasi rasa sakit dan beberapa probiotik dalam usus dapat menghambat hipersensitivitas dan
meningkatkan permeabilitas usus yang disebabkan oleh paparan tubuh terhadap stres. Akhirnya,
paparan stres kronis dikaitkan dengan aktivasi berkepanjangan dan berlebihan respon stresdalam
SSP. Paparan ini dapat menyebabkan perubahan di daerah otak bahkan bersifat ireversibel yang
bertanggung jawab untuk persepsi nyeri dalam usus. (18).

Gambar 3. Patofisiologi dari konsekuensi gangguan axis otak-usus-mikrobiota


oleh stres. Paparan stres menyebabkan gangguan axis otak-usus(BGA) yang dapat menyebabkan
pengembangan penyakit saluran gastrointestinal yang berbeda termasuk gastroesophageal reflux
ulkus peptikum, iritasi usus, radang usus dan alergi makanan.
2.4. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Telah terbukti bahwa seseorang yang mengalami stres berkepanjangan lebih mungkin
untuk mengeluhkan gejala-gejala GERD. Bradley et al. melakukan penelitian antara hubungan
stress, sifat-sifat psikologis yang terkait dengan kecemasan kronis dan gejala-gejala GERD. Para
peneliti ini menemukan bahwa pasien GERD yang mempunyai kecemasan tingkat kronis dan
terkena rangsangan stres berkepanjangan lebih cenderung untuk merasakan gejala-gejala GERD.
Oleh karena itu, bahkan paparan asam esofagus yang normal dapat memicu keluhan gejala
GERD, bukan karena gangguan kejiwaan tertentu yang dapat menyebabkan gangguan
pencernaan tetapi pasien dengan tekanan psikologis juga cenderung memiliki manifestasi klinis
GERD. Bukti terbaru adalah peran utama relaksasi spontan yang bersifat sementara dari sfinger
esophagus bagian bawah lower esophageal dalam mediasi patologis GERD. Perubahan fungsi
diafragma terkait dengan stres yang disebabkan pola pernapasan juga telah dibuktikan. Selain itu
stress juga dapat memperlambat pengosongan lambung sehingga terjadi hambatan regulasi
lambung yang dapat meyebabkan terjadinya GERD.
Penyakit gastroesophageal reflux (GERD) merupakan salah satu manifestasi penting dari
paparan stres pada saluran pencernaan. Stress dapat meyebabkan GERD karena terjadi
penghambatan sfingter esofagus bagian bawah dan terjadi peningkatan kepekaan terhadap asam
yaitu persepsi peningkatan refluks asam terlambat. Di sisi lain pengurangan stres dapat
menyebabkan peningkatan perbaikan gejala GERD (22). Menariknya, paparan selama stress
jumlah refluks tidak selalu meningkat, tapi gejala heart burn sebagai akibat dari reflux
meningkat.
2.5. Irritable bowel syndrome (IBS)
Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan gangguan sistem gastrointestinal bersifat
kronis yang ditandai oleh nyeri atau sensasi tidak nyaman pada abdomen, kembung dan
perubahan kebiasaan buang air besar. Penyakit ini didasari oleh perubahan psikologis dan
fisiologis yang mempengaruhi regulasi sistem gastrointestinal, persepsi viseral dan integritas
mukosa. Salah satu penyakit yang paling penting dari saluran GI yang terkait dengan paparan
stres usus adalah IBS, yang merupakan gangguan pencernaan dengan prevalensi di seluruh dunia
antara 10-20%. Wanita lebih sering terlibat daripada laki-laki dengan rasio 2:1. IBS adalah
penyakit fungsional dan ditandai dengan periode flare-up dan periode remisi. Gejala yang paling
umum adalah diare, sembelit, sakit perut dan kembung (40-41). Di antara faktor-faktor risiko

yang ada, yang terpenting adalah kerentanan genetik dan stres kronis (peristiwa kehidupan)
sedangkan faktor pemicu utama termasuk faktor psikososial dan paparan dari infeksi usus atau
terlalu sering menggunakan antibiotik menyebabkan perubahan negatif dalam flora usus. Ada
bukti kuat tentang peran dari mikrobiota usus dalam gangguan axis otak-usus pada penyakit IBS.
IBS bukan kelainan psikiatrik atau psikologis, tetapi faktor psikologis dapat berperan penting
dalam persistensi dan berat keluhan abdomen .
IBS adalah kelainan fungsional usus kronis berulang dengan nyeri atau rasa tidak nyaman
abdomen yang berkaitan dengan defekasi atau perubahan kebiasaan buang air besar setidaknya
selama 3 bulan. Rasa kembung, distensi, dan gangguan defekasi merupakan ciri-ciri umum IBS.
Untuk membedakan IBS dari gejala gastrointestinal lain, digunakan kriteria Roma III . Kriteria
IBS didasarkan pada kriteria Roma III adalah jika:
Nyeri abdomen atau sensasi tidak nyaman berulang paling tidak selama 3 hari dalam satu
bulan pada 3 bulan terakhir dengan 2 atau lebih gejala berikut:

Perbaikan dengan defekasi


Onset terkait dengan perubahan frekuensi buang air besar
Onset terkait dengan perubahan bentuk atau tampilan feses
Kriteria diagnosis terpenuhi dalam 3 bulan ter akhir dengan onset gejala
setidaknya 6 bulan sebelum diagnosis

Patofisiologi IBS belum sepenuhnya dipahami, dapat disebabkan oleh berbagai faktor
meliputi diet, mutasi gen, faktor psikososial (stres kronis), infeksi enterik, dan sistem kekebalan
tubuh.8 Respons stres akan mengaktivasi aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) dan sistem
autonom. Ansietas kronis akan meningkatkan aktivitas amygdala untuk menstimulasi aksis HPA
yang menginduksi hiperalgesia visceral.12,13 Hipersensitivitas viseral merupakan salah satu
faktor utama yang mencetuskan gejala pada IBS dan berperan pada patofi siologi IBS. Dari
sudut pandang diagnostik, sangat penting untuk menghubungkan gejala ke paparan stres yang
berbeda (fisiologis atau fisik seperti infeksi) yang dapat menyebabkan gejala eksaserbasi.
Gastroenteritis mungkin memainkan peran penting sebagai pemicu dalam pengembangan IBS,
dokter harus bertanya apakah pasien memiliki gastroenteritis dalam sejarah masa lalu. Kadangkadang, pasien IBS mungkin mengeluh tentang gejala ekstraintestinal.
Diagnosis banding gejala IBS sangat luas dan dapat menyebabkan beberapa tes
laboratorium yang sering tidak perlu, tes diagnostik. Pada pasien yang dicurigai IBS harus
mencakup beberapa tes diagnostik, antara lain:

tes darah rutin (darah lengkap, kimia, CRP);


tes tinja;
serologi penyakit celiac (deteksi transglutaminase-IgA),
deteksi dari calprotectin / laktoferin dalam tinja.
Ultrasonografi
kolonoskopi (harus dilakukan, terutama pada pasien lebih usia 50 untuk menyingkirkan
penyakit organik dari usus besar)
Beberapa orang dengan IBS melaporkan gejala psikologis seperti depresi atau

kecemasan. Hal ini terjadi terutama pada orang dengan gejala yang lebih berat dan pada pasien
dalam perawatan tersier yang sangat khusus. Tidak semua orang dengan gejala IBS memiliki
gejala psikologis, faktor psikologis bukan penyebab utama IBS. Tekanan emosional dapat
memperburuk gejala IBS. Banyak orang mengalami sakit perut dan sembelit atau diare tanpa
bukti kecemasan, depresi, atau gejala psikologis lainnya. Peristiwa stress seperti kehilangan
pekerjaan atau menjadi terlibat dalam sebuah pertengkaran adalah peristiwa yang dapat
menyebabkan perubahan sementara dalam kebiasaan buang air besar dan sakit bahkan perut bagi
kebanyakan orang.
Ada beberapa teori tentang hubungan antara IBS dan stres dan kecemasan yaitu meskipun
masalah psikologis seperti kecemasan tidak menyebabkan IBS, orang-orang dengan IBS
mungkin lebih sensitif terhadap masalah emosional, stress dan kecemasan dapat membuat
pikiran lebih sadar terhadap sesuatu yang terjadi di usus besar, IBS mungkin dipicu oleh sistem
kekebalan tubuh, yang dipengaruhi oleh stres. Setidaknya dua pertiga pasien IBS dirujuk ke ahli
gastroenterologi dengan distres psikologis, paling sering anxietas. Stresor (anxietas) penting
untuk diidentifi kasi karena dapat mengganggu respons terapi. Gejala klinis sering kali
merupakan manifestasi somatisasi.
Anxietas dan depresi merupakan kondisi psikologis yang paling sering ditemukan pada
pasien IBS. Pemberian terapi perilaku dapat dipertimbangkan pada pasien IBS dengan gejala
stres. Hipnosis dan psikoterapi dapat membantu mengurangi tingkat ansietas,38-42 terapi fisik
seperti masase dan akupunktur pada beberapa penelitian dapat mengurangi gejala dan tanda
emosional.43 Beberapa penelitian lain menunjukkan efi kasi akupunktur sama dengan placebo.
Antidepresan trisiklik (tricyclic antidepressant, TCA) dan penghambat ambilan serotonin selektif
(selective serotonin reuptake inhibitor, SSRI) dapat digunakan sebagai terapi IBS karena efek
hiperalgesianya. Penggunaan TCA imipramine memperlambat migrasi di jejunum dan

memberikan efek inhibisi motorik.49 SSRI paroxetine/ fl uoxetine mempercepat transit makanan
orocaecal, sehingga sangat berguna pada pasien dengan gejala utama konstipasi.
2.5. Inflammatory Bowel Disease (IBD)
Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah sekelompok penyakit saluran pencernaan
kronis yang kambuh dan memiliki periode remisi; istilah terutama penyakit ini terdiri penyakit
Crohn (Crohns Disease) dan ulcerative colitis (UC). Prevalensi penyakit ini telah meningkat
dalam dekade terakhir, hingga 120-200 / 100000 dan 50-200 / 100.000 orang untuk masingmasing penyakit Crohn dan ulcerative colitis, [1]. Sampai saat ini, tidak ada obat tertentu untuk
IBD, dan pengobatan ditujukan untuk mengelola respon inflamasi dan mempertahankan remisi
dengan fokus pada terapi [2]. Etiologi IBD tidak diketahui, tetapi genetik, kekebalan tubuh, dan
faktor lingkungan masing-masing berpikir untuk memainkan peran dalam penyebab nya [1, 3, 4].
Faktor-faktor ini berinteraksi bersama-sama, sehingga pada orang yang memiliki predisposisi
genetik, faktor lingkungan memicu disfungsi kekebalan dan gejala usus [5]. Salah satunya
pemicu lingkungan mungkin faktor psikologis stres terutama psikologis.
Stres psikologis telah lama dilaporkan dapat meningkatkan inflamasi aktivitas penyakit di
usus (IBD), akhir-akhir ini sebuah studi telah mengkonfirmasi bahwa peristiwa hidup yang
merugikan, stres kronis, dan depresi dapat meningkatkan kekambuhan pada pasien dengan IBD.
Data penelitian terbaru menunjukkan bahwa stres yang disebabkan perubahan dalam peradangan
gastrointestinal dapat dimediasi melalui perubahan fungsi aksis hipotalamus - hipofisis - adrenal
( HPA ) dan perubahan dalam interaksi bakteri - mukosa , dan melalui sel mast mukosa dan
mediator seperti corticotrophin releasing factor (CRF). Baik kolitis ulseratif dan penyakit Crohn
adalah penyakit yang kronis, kambuh, dan penyakit remisi. Etiologi kedua penyakit melibatkan
interaksi kompleks antara gen dan environment.1,2 Ada kemajuan dalam identifikasi gen yang
bertanggung jawab untuk kecenderungan untuk IBD3 tetapi faktor lingkungan yang memicu
presentasi awal penyakit, kekambuhan penyakit, dan mekanisme bagaimana penyakit ini terjadi
kurang dipahami dengan jelas. Stres psikologis adalah salah satu faktor lingkungan yang telah
lama dilaporkan memiliki hubungan dengan penyakit IBD, 4 dan telah ada penelitian terbaru
yang membuktikan hubungan dan menjelaskan bagaimana mekanisme ini yang terjadi.
Stress kronis, dalam bentuk peristiwa kehidupan yang merugikan, dan stres eksperimental
akut dapat mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh dan inflamasi sistemik, dan meningkatkan
aktivitas penyakit pada manusia dengan IBD. Kami juga meninjau bukti stres eksperimental

mampu baik memulai dan mengaktifkan peradangan gastrointestinal pada hewan model kolitis.
Peran mungkin fungsi berubah sumbu HPA dan peningkatan permeabilitas usus juga dibahas.
Akhirnya, kami meninjau implikasi terapeutik potensi kesadaran bahwa stres psikologis dapat
memperburuk aktivitas penyakit di IBD.
Untuk mempertahankan homeostasis, organisme hidup terus harus beradaptasi pada
tingkat molekuler, seluler, fisiologis, dan perilaku untuk perubahan lingkungan. Stres dapat
didefinisikan sebagai ancaman untuk homeostasis. Fungsi respon stres adalah untuk
mempertahankan homeostasis dan mungkin melibatkan baik adaptasi fisiologis dan perilaku.
Respon stres melibatkan integrasi kompleks serangkaian daerah yang saling berhubungan dalam
otak, terutama hipotalamus, amigdala, dan hippocampus.6 Jaringan ini menerima masukan dari
serabut aferen baik visceral dan somatik, dan dari struktur kortikal yang lebih tinggi. Secara
bergiliran, hal itu mengatur respon stres neuroendokrin melalui dua jalur yang saling
berhubungan efektor yaitu sumbu HPA dan sistem saraf otonom (SSO).
Stres merangsang pelepasan CRF dari hipotalamus menyebabkan pelepasan hormon
adrenokortikotropik (ACTH) dari kelenjar hipofisis anterior. Hal ini pada gilirannya merangsang
sekresi kortisol, yang glukokortikoid utama, dari korteks adrenal. Stres mengaktifkan langsung
jalur saraf dari hipotalamus ke inti pontomedullaris yang mengontrol respon otonom. Stimulasi
sistem saraf simpatik dalam respon terhadap stres menyebabkan pelepasan adrenalin dan
noradrenalin dari medula adrenal. Neuron dari SSO simpatik juga mempersarafi seluruh usus
secara langsung sementara N.vagus memberikan masukan sistem saraf parasimpatis ke usus
bagian atas dan ke usus distal dan rektum.7 Sistem saraf eferen mengandung 100 juta neuron
yang berfungsi untuk mengatur motilitas, fungsi endokrin, eksokrin, dan mikrosirkulasi dari
saluran pencernaan. Efek stres psikologis pada sistem kekebalan tubuh dan inflamasi sistemik
yang kompleks tergantung pada durasi dan intensitas stressor.23 Kedua stres kronis dan stres
akut berhubungan dengan perubahan dalam fungsi kekebalan tubuh dan inflamasi sistemik yang
mungkin memiliki relevansi dengan patogenesis IBD.
Pada tahun 1950, IBD diklasifikasikan sebagai gangguan psikosomatik 60,61 dengan
banyak studi awal menemukan hubungan antara IBD dan diagnoses kejiwaan. Sebuah penelitian
oleh Mittermeier et al yang pada tahun 2004, melaporkan bahwa pasien dengan IBD secara
signifikan mempunyai kesempatan untuk kambuh selama 18 bulan ke depan apabila skor depresi

Beck mereka meningkat.66 Respon stres setiap individu tergantung pada persepsi mereka
tentang pentingnya stressor.
Beberapa studi menemukan bahwa fungsi axis HPA dapat diubah pada pasien dengan
IBD dan ini mungkin penting dalam kaitannya dengan meningkatnya stres disebabkan aktivitas
penyakit. Biasanya, pelepasan kortisol, ditingkatkan oleh sitokin inflamasi, terutama IL-6.
Pemberian anti-inflamasi dalam hal ini memberikan umpan balik negatif yang dapat mengurangi
peradangan. Stres psikologis akut memiliki efek pada motilitas gastrointestinal dan sekresi ion.
Meskipun ini adalah perubahan non-inflamasi, mereka bisa berkontribusi untuk menekankan
peningkatan induksi pada pasien dengan IBD.
Apabila stres psikologis memang merupakan faktor patogen dalam IBD, maka terapi
pengurangan stres mungkin dapat memiliki manfaat terapeutik. Gangguan psikologis, seperti
kecemasan dan depresi pada pasien dengan IBD, dapat dilakukan terapi psychopharmacological
khusus seperti antidepresan sebagai pengobatan alternatif untuk pasien ini. Mikocka-Walus et al.
[96], berdasarkan penelitia mereka tentang antidepresan dan IBD, melaporkan bahwa
antidepresan trisiklik (misalnya, amitriptilin, dotiepin, prothiaden, doksepin, imipramine, dan
nortriptyline) tidak hanya meringankan tekanan psikologis, tetapi juga memiliki beberapa efek
positif pada status somatik dari pasien IBD bahkan wa antidepresan memiliki efek positif pada
radang usus pada pasien IBD.
Schwarz dan Blanchard menemukan bahwa gabungan perawatan medis komplementer,
termasuk terapi perilaku kognitif, teknik relaksasi otot, dan edukasi kepada pasien, berhasil
mengurangi stres tapi tidak memperbaiki gejala IBD.143 Penelitian prospektif oleh Jantschek et
al selama 2 tahun dengan subjek 108 paisen dengan penyakit Crohn juga gagal untuk
menemukan hubungan antara terapi psikososial dapat

menyebabkan pengurangan jumlah,

durasi, atau keparahan relaps. 144 Berbagai uji coba lebih lanjut diperlukan untuk dapat
membuktikan apakah terapi pengurangan stres dapat memberikan manfaat bagi pasien dengan
IBD.