Anda di halaman 1dari 60

TUGAS PROMOSI KESEHATAN

UPAYA-UPAYA KESEHATAN

DISUSUN OLEH:
Kelompok: 4
1) Ni Putu Amelia Rosalita Dewi
2) Ni Kadek Ariyastuti
3) Putu Epriliani

P07120214003
P07120214007
P07120214010

DIV KEPERAWATAN
TINGKAT 1 SEMESTER II

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
TAHUN 2015

BAB

A. PENDAHULUAN
1. KONSEP-KONSEP KUNCI
2. PETUNJUK
3. TUJUAN PEMBELAJARAN
a. Tujuan Pembelajaran Umum
b. Tujuan Pembelajaran Khusus
B. PENYAJIAN MATERI
C. TUGAS DAN LATIHAN
D. PENUTUP
1. RANGKUMAN
2. TES AKHIR BAB
Soal
Kunci Jawaban
E. DAFTAR PUSTAKA

BAB I
UPAYA KESEHATAN
A. PENDAHULUAN
Perhatian utama dalam promosi kesehatan adalah mengetahui visi serta
misi yang jelas. Dalam konteks promosi kesehatan Visi merupakan sesuatu atau
apa yang ingin dicapai dalam promosi kesehatan sebagai salah satu bentuk
penunjang program-program kesehatan lainnya. Tentunya akan mudah dipahami
bahwa visi dari promosi kesehatan tidak akan terlepas dari koridor UndangUndang Kesehatan Nomor 23 tahun 1992 serta organisasi kesehatan dunia WHO
(World Health Organization).
Adapun visi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut:

1.

Meningkatnya

kemampuan

masyarakat

untuk

memelihara

dan

meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga


produktif secara ekonomi maupun sosial.
2.

Pendidikan kesehatan disemua program kesehatan, baik pemberantasan


penyakit menular, sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan
kesehatan, maupun program kesehatan lainnya dan bermuara pada
kemampuan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan individu, kelompok,
maupun masyarakat.
Dalam mencapai visi dari promosi kesehatan diperlukan adanya suatu

upaya yang harus dilakukan dan lebih dikenal dengan istilah Misi . Misi
promosi kesehatan merupakan upaya yang harus dilakukan dan mempunyai
keterkaitan dalam pencapaian suatu visi.
Secara umum Misi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Advokasi (Advocation)
Advokasi merupakan perangkat kegiatan yang terencana yang
ditujukan kepada para penentu kebijakan dalam rangka mendukung suatu isyu
kebijakan yang spesifik. Dalam hal ini kegiatan advokasi merupakan suatu
upaya untuk mempengaruhi para pembuat keputusan (decission maker) agar
dapat mempercayai dan meyakini bahwa program kesehatan yang ditawarkan
perlu mendapat dukungan melalui kebijakan atau keputusan.
2. Menjembatani (Mediate)
Kegiatan pelaksanaan program-program kesehatan perlu adanya suatu
kerjasama dengan program lain di lingkungan kesehatan, maupun lintas sektor
yang terkait. Untuk itu perlu adanya suatu jembatan dan menjalin suatu
kemitraan (partnership) dengan berbagai program dan sektor-sektor yang
memiliki kaitannya dengan kesehatan. Karenanya masalah kesehatan tidak
hanya dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga
perlu peduli terhadap masalah kesehatan tersebut. Oleh karena itu promosi
kesehatan memiliki peran yang penting dalam mewujudkan kerjasama atau
kemitraan ini.
3. Kemampuan/Keterampilan (Enable)
Masyarakat diberikan suatu keterampilan agar mereka mampu dan
memelihara serta meningkatkan kesehatannya secara mandiri. Adapun tujuan

dari pemberian keterampilan kepada masyarakat adalah dalam rangka


meningkatkan pendapatan keluarga sehingga diharapkan dengan peningkatan
ekonomi keluarga, maka kemapuan dalam pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan keluarga akan meningkat. Dalam perkembangan selanjutnya untuk
mengatasi masalah kesehatan termasuk penyakit di kenal tiga tahap
pencegahan:
1. Pencegahan primer: promosi kesehatan (health promotion) dan
perlindungan khusus (specific protection).
2. Pencegahan sekunder: diagnosis dini dan pengobatan segera (early
diagnosis and prompt treatment), pembatasan cacat (disability
limitation)
3. Pencegahan tersier: rehabilitasi.
Kesehatan Masyarakat (Public Health) adalah ilmu & seni mencegah
penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik, mental & efisiensi
melalui usaha masyarakat yang terorganisasi untuk meningkatkan sanitasi
lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan
perorangan, pengorganisasian pelayanan medis & perawatan, untuk melakukan
diagnosa dini, pencegahan penyakit & pengembangan aspek sosial, yang akan
mendukung agar setiap warga masyarakat mempunyai standar kehidupan yang
kuat untuk menjaga kesehatannya. (Fitramaya Yuni, 2008. Kesehatan Reproduksi.
Yogyakarta).
Ruang Lingkup Promosi Kesehatan Menurut Prof. Dr. Soekidjo
Notoadmodjo, ruang lingkup promosi kesehatan dapat dilihat dari 2 dimensi yaitu:
a).dimensi aspek pelayanan kesehatan, dan b).dimensi tatanan (setting) atau
tempat pelaksanaan promosi kesehatan. Jadi pelayanan kesehatan adalah sub
sistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah promotif (memelihara
dan meningkatkan kesehatan), preventif ( pencegahan), kuratif (penyembuhan),
dan rehabilitasi (pemulihan) kesehatan perorangan, keluarga, kelompok atau
masyarakat, lingkungan.
1. KONSEP-KONSEP KUNCI
a. Pengertian Promosi Kesehatan
b. Upaya Kesehatan Preventif
c. Upaya Kesehatan Promotif

d.
e.
f.
g.

Upaya Kesehatan Kuratif


Upaya Kesehatan Rehabilitatif
Sasaran PROMKES
Contoh Program preventif dan promotif

2. PETUNJUK
1. Pelajari materi BAB I dengan tekun dan disiplin
2. Penyajian setiap bab meliputi judul bab dan konsep-konsep
kunci, petunjuk, kerangka isi, tujuan pembelajaran umum,
tujuan pembelajaran khusus, paparan materi, tugas dan latihan,
rangkuman dan soal-soal akhir bab yang disertai dengan kunci
jawaban dan umpan balik untuk untuk mengetahui sejauh mana
materi telah dikuasai, dan di akhir bab diberikan sumber
pendukung.
3. Dalam uraian materi terdapat tes sambil jalan (embedded
tests).tes ini dapat menjadi tuntunan pembaca dalam memahami
uraian bahan ajar bagian demi bagian. Bila terdapat keraguan
terhadap jawaban tes ini, maka membaca diulangi lagi pada
bagian yang belum dipahami.
4. Kerjakan soal-soal latihan dan soal-soal akhir bab dengan tekun
dan disiplin!
5. Bacalah sumber-sumber pendukung untuk memperdalam
pengetahuan dan wawasan anda!
6. Ikuti urutan penyajian setiap bab tahap demi tahap
7. Selamat belajar, semoga sukses!
3. TUJUAN PEMBELAJARAN
a. Tujuan Pembelajaran Umum
Untuk mengetahui upaya-upaya kesehatan apa saja yang dilakukan di
Indonesia
b. Tujuan Pembelajaran Khusus
i. Untuk mengetahui pengertian promosi kesehatan
ii. Untuk mengetahui upaya kesehatan promotif
iii. Untuk mengetahui upaya kesehatan preventif
iv. Untuk mengetahui upaya kesehatan kuratif
v. Untuk mengetahui upaya kesehatan rehabilitatif
vi. Untuk mengetahui sasaran promosi kesehatan
vii. Untuk mengetahui program promotif dan preventif khususnya
di Indonesia

B. PENYAJIAN MATERI
Usaha Kesehatan Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif
A. Pengertian Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu health
promotion. Sesungguhnya, penerjemahan kata health promotion atau tepatnya
promotion of health kedalam bahasa Indonesia pertama kali dilakukan ketika
para ahli kesehatan masyarakat di Indonesia menerjemahkan lima tingkatan
pencegahan (five levels of prepention) dari H.R.Leavell dan E. G. Clark dalam
buku preventive medicine for the doctor in his community. Menurut leavell
dan clark (1965), dari sudut pandang kesehatan masyarakat, terdapat 5 tingkat
pencegahan terhadap penyakit, yaitu : 1.promotion of healt 2.specifik
protection 3.early diagnosis and prompt treatment 4.limitation of disability
dan 5.rehablitation.
Tingkat pencegahan yang pertama, yaitu promotion of healt oleh para
ahli kesehatan masyarakat di Indonesia diterjemahkan menjadi peningkatan
kesehatan,bukan promosi kesehatan.mengapa demikian? Tidak lain karena
makna yang terkandung dalam istilah promotion of health disini adalah
meningkatkan kesehatan seseorang, yaitu melalui asupan gizi seimbang,o
lahraga teratur, dan lain sebagainya agar orang tersebut tetap sehat, tidak
terserang penyakit.
Menurut WHO Promosi Kesehatan adalah proses untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental,
dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan
aspirasinya,

kebutuhannya,

dan

mampu

mengubah

atau

mengatasi

lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan sebagainya). Promosi


Kesehatan (Health Promotion) adalah ilmu dan seni membantu masyarakat
menjadikan gaya hidup mereka sehat optimal.
Kesehatan yang optimal didefinisikan sebagai keseimbangan kesehatan
fisik, emosi, sosial, spiritual, dan intelektual. Agar promosi kesehatan dapat
berjalan secara sistematis, terarah dan terencana sesuai konsep promosi
kesehatan bahwa individu dan masyarakat bukan hanya sebagai objek/sasaran
yang pasif menunggu tetapi juga sebagai pelaku maka perlu pengelolaan

program promosi kesehatan mulai dari pengkajian, perencanaan, penggerakan


pelaksanaan, pemantauan dan penilaian. Dan agar promosi kesehatan berjalan
secara efektif dan efesien maka pesan harus sesuai dengan karakteristik serta
kebutuhan / masalah sasaran. Sasaran utama promosi kesehatan adalah
masyarakat khususnya perilaku masyarakat. Karena terbatasnya sumber daya,
akan tidak efektif apabila upaya atau kegiatan promosi kesehatan langsung
dialamatkan kepada masyarakat, oleh karena itu perlu dilakukan pentahapan
sasaran promosi kesehatan. Sedangkan pelayanan kesehatan menurut Prof.
DR. Soekidjo Notoadmojo adalah sub system pelayan kesehatan yang tujuan
utamanya adalah preventif (prncegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan)
dengan sasaran masyarakat. Menurut Levey dan Loomba (1973) palayanan
kesehatan adalah uapaya yang diselenggarakan sendiri/secara bersama-sama
dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah, dan menyambuhakan penyakit serta memulihkan kesehatan
perorangan, keluarga, kelompok, atau masyarakat.
Namun demikian, bukan berarti bahwa peningkatan kesehatan tidak
ada hubungannya dengan promosi kesehatan. Leavell dan Clark dalam
penjelasannya tentang promotion of health menyatakan bahwa selain melalui
peningkatan gizi, peningkatan kesehatan juga dapat dilakukan dengan
memberikan pendidikan kesehatan (health education) kepada individu dan
masyarakat.
Organisasi kesehatan dunia WHO telah merumuskan suatu bentuk
definisi mengenai promosi kesehatan: Health promotion is the process of
enabling people to increase control over, and improve, their health. To reach a
state of complete physical, mental, and social, well-being, an individual or
group must be able to identify and realize aspirations, to satisfy needs, and to
change or cope with the environment. (Ottawa Charter,1986).
Jadi, dapat disimpulkan dari kutipan di atas bahwa Promosi Kesehatan
adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan
yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu
mengenal serta mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu

mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan


sebagainya). Dalam konferensi ini ,health promotion dimaknai sebagai
perluasan dari health education atau pendidikan kesehatan.
1. UPAYA PROMOTIF
a. Pengertian Upaya Promotif
Upaya Promotif adalah usaha mempromosikan kesehatan kepada
masyarakat. Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Setiap individu berhak untuk
menentukan nasib sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk berperan
di segala aspek pemeliharaan kesehatannya. Usaha ini merupakan pelayanan
terhadap pemeliharaan kesehatan pada umumnya.
Upaya promotif adalah upaya promosi kesehatan yang ditujukan untuk
meningkatkan status/ derajad kesehatan yang optimal. Sasarannya adalah
kelompok orang sehat. Tujuan upaya promotif adalah agar masyarakat mampu
meningkatkan

kesehatannya.

Dalam

suatu

survey

di

negara-negara

berkembang, dalam suatu populasi hanya terdapat antara 80%-85% orang


yang benar-benar sehat. Apabila kelompok ini tidak memperoleh promosi
kesehatan

bagaimana memelihara kesehatan,maka kelompok ini akan

menurun jumlahnya, dan kelompok orang yang sakit akan meningkat.


b. Macam- macam Usaha Promotif
Beberapa usaha diantaranya :
1. Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kuantitasnya.
2. Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, seperti : penyediaan air rumah
tangga yang baik, perbaikan cara pembuangan sampah, kotoran dan air
3.
4.
5.
6.
7.
8.

limbah dan sebagainya.


Pendidikan kesehatan kepada masyarakat sesuai kebutuhannya.
Usaha kesehatan jiwa agar tercapai perkembangan kepribadian yang baik.
Meningkatkan KIE tentang HIV AIDS.
Promosi Perilaku Seksual Aman (Promotng Safer Sexual Behavior).
Promosi dan distribusi kondom (Promoting and Distributing Cndom).
Norma Sehat di Tempat Kerja : tidak merokok, tidak mengkonsumsi

Napza.
9. Penggunaan alat suntik yang aman (Promoting and Safer Drug Injection
Behavior).
2. UPAYA PENCEGAHAN (UPAYA PREVENTIF)

Dalam garis besarnya usaha-usaha kesehatan, dapat dibagi dalam 3


golongan, yaitu :
1.

Usaha pencegahan (usaha preventif)

2.

Usaha pengobatan (usaha kuratif)

3.

Usaha rehabilitasi

Dari ketiga jenis usaha ini, usaha pencegahan penyakit mendapat tempat
yang utama, karena dengan usaha pencegahan akan diperoleh hasil yang lebih
baik, serta memerlukan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan usaha
pengobatan maupun rehabilitasi. Dapat kita mengerti bahwa mencegah agar kaki
tidak patah akan memberikan hasil yang lebih baik serta memerlukan biaya yang
lebih murah dibandingkan dengan mengobati kaki yang sudah patah ataupun
merehabilitasi kaki patah dengan kaki buatan.
Upaya preventif adalah sebuah usaha yang dilakukan individu dalam
mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Prevensi secara etimologi
berasal dari bahasa latin, pravenire yang artinya datang sebelum atau antisipasi
atau mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang sangat luas,
prevensi diartikan sebagai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah
terjadinya gangguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang atau masyarakat.
Upaya preventif adalah upaya promosi kesehatan untuk mencegah
terjadinya penyakit. Bentuk kegiatannya adalah imunisasi, pemeriksaan antenatal
care, postnatal care, perinatal dan neonatal. Sasaran promosi kesehatan pada aspek
ini adalah kelompok masyarakat yang berisiko tinggi

(high risko), misalnya

kelompok ibu hamil dan menyusui,BBL, para perokok, obesitas (orang-orang


kegemukan), para pekerja seks (wanita atau pria), dan sebagainya. Tujuan upaya
promosi kesehatan pada kelompok ini adalah agar mereka tidak jatuh sakit atau
terkena penyakit (primary prevention).
Upaya preventif adalah sebuah usaha yang dilakukan individu dalam
mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Prevensi secara etimologi
berasal dari bahasa latin, pravenire yang artinya datang sebelum atau antisipasi
atau mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang sangat luas,
prevensi diartikan sebagai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah
terjadinya gangguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang atau masyarakat

(Notosoedirjo dan Latipun, 2005 : 145 ). Contoh upaya preventif yang dilakukan
dalam pelayanan kesehatan:
Upaya preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit dan
gangguan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
1. Usaha-usaha yang dilakukan, yaitu :
a. Pemeriksaan kesehatan secara berkala (balita, bumil, remaja, usila,dll)
melalui posyandu, puskesmas, maupun kunjungan rumah
b. Pemberian Vitamin A, Yodium melalui posyandu, puskesmas, maupun
dirumah
c. Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan menyusui
d. Deteksi dini kasus dan factor resiko (maternal, balita, penyakit).
e. Imunisasi terhadap bayi dan anak balita serta ibu hamil
Contoh Pelayanan Preventif
2. Pelayanan Preventif dapat meliputi:
1. Peningkatan gaya hidup sehat (Reducing Vulnerability of Spesific Pop)
2. Memahami penyakit HIV AIDS, bahaya dan pencegahannya.
3. Memahami penyakit IMS, bahaya dan cara pencegahannya.
4. Diadakannya konseling tentang HIV AIDS pada pekerja secara
sukarela dan tidak dipaksa
5. Imunisasi terhadap bayi dan anak balita serta ibu hamil
6. Pemeriksaan kesehatan secara berkala ( balita, bumil, remaja,
Lansia,dll ) melalui posyandu, puskesmas, maupun kunjungan rumah
7. Posyandu untuk penimbangan dan pemantauan kesehatan balita
8. Pemberian Vitamin A, Yodium melalui posyandu, puskesmas, maupun
dirumah
9. Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan menyusui
10. Pemberian tablet Fe pada ibu hamil dan remaja agar terhindar dari
anemia
11. Mobilisasi tubuh pada ibu hamil untuk mengatasi kekakuan dan
melancarkan sirkulasi ibu
12. Pencegahan terjadinya komplikasi pada saat persalinan
13. Pencegahan komplikasi pada saat nifas
14. Pemeriksaan secara rutin dan berkala pada lansia
3. Tingkat-Tingkat Usaha Pencegahan
Upaya pencegahan menurut teori Leavel dan Clark (Maulana, 2009)
dibedakan menjadi 3 yaitu:
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah peningkatan kesehatan dan perlindungan
umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu adalah usaha-usaha

yang dilakukan sebelum sakit (pre pathogenesis), dan disebut dengan


pencegahan primer.
Pencegahan primer dilakukan pada masa individu yang belum
menderita sakit. Pencegahan primer terdiri dari promosi kesehatan (health
promotion) dan perlindungan khusus (spesifiic protection).
a)

Promosi Kesehatan
Health promotion bertujuan untuk meningkatkan, memajukan dan

membina koordinasi sehat yang sudah ada hingga dipertahankan dan


dijauhkan dari ancaman penyebab penyakit atau agent secara umum.
Pendidikan kesehatan yang diperlukan antara lain: Meningkatnya gizi,
Perbaikan sanitasi lingkungan, Ph(derajat keasaman), Pendidikan sifat
umum, Nasihat perkawinan, Penyuluhan kehidupan sex, Olahraga dan
kebugaran jasmani, Pemeriksaan secara berkala, Meningkatnya standar
hidup dan kesejahteraan keluarga, Nasihat tentang keturunan, Penyuluhan
tentang PMS, Penyuluhan AIDS. Meningkatkan dan memperbaiki program
kesehatan ibu :
1) Layanan dan terdesentralisasi
2) Menyusun standar pelayanan dan pastikan adanya supervise
3) Mengembangkan dan menggunakan panduan tetap untuk manajemen
komplikasi kebidanan
4) Memperbaiki sistem pelatihan dan memperbaharui keterampilan
5)
6)
7)
8)

penyediaan pelayanan
Memperbaiki infrastruktur dan memperbaharui fasilitas
Menetapkan/memperkuat system rujukan
Menetapkaan/memperkuat mekanisme evaluasi kualitas pelayanan
Mengembangkan dan menggunakan instrumen untuk memperbaiki

kualitas pelayanan
9) Home base maternal records
10) Partograf
11) Melakukan audit dan meninjau kembali kasus-kasus kematian ibu
hamil.
Ruang lingkup promosi kesehatan :
1)
2)
3)
4)
5)

Pendidikan Kesehatan (Health education)


Pemasaran sosial (sosial marketing)
Penyuluhan
Upaya peningkatan (Promotif)
Advokasi di bidang kesehatan

6)

Pengorganisasian,

pengembangan,

pergerakan,

pemberdayaan

masyarakat.
Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan tatanan pelaksanaan :
1)

Promosi kesehatan tatanan keluarga

2)

Pendidikan kesehatan pada tatanan sekolah

3)

Pendidikan kesehatan di tempat kerja

4)

Pendidikan kesehatan di tempat-tempat umum

5)

Pendidikan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan

Tujuan promosi kesehatan meliputi :


1)

Membangun kebijakan masyarakat sehat

2)

Membangun keterampilan personal

3)

Memperkuat partisipasi komunitas

4)

Menciptakan lingkungan yang mendukung

5)

Reorientasi pelayanan kesehatan

Tindakan pencegahan meliputi :

b)

1)

Perlindungan balita, ibu hamil

2)

Pemberian makanan

3)

Perlindungan terhadap ancaman akibat kerja

4)

Perlindungan khusus yang bersifat karsinogenik

5)

Menghindari terhadap zat-zat alergi

6)

Menghindari minuman berakohol

7)

Menghindari merokok

Spesific Protection
Spesific protection adalah upaya spesifik untuk mencegah
terjadinya penularan penyakit tertentu. Spesific protection terdiri dari
(Efendi, 1998 ; Maulana, 2009 ) :
1) Memberikan imunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah
terhadap penyakit-penyakit tertentu. Contohnya : imunisasi hepatitis
diberikan kepada mahasiswi kebidanan yang akan praktek di rumah
sakit.
2) Isolasi terhadap penderita penyakit menular. Contohnya : isolasi
terhadap pasien penyakit flu burung.

3) Perlindungan terhadap kemungkinan kecelakaan di tempat-tempat


umum dan di tempat kerja. Contohnya : di tempat umum, misalnya
adanya rambu-rambu zebra cross agar pejalan kaki yang akan
menyebrang tidak tertabrak oleh kendaraan yang sedang melintas.
Sedangkan di tempat kerja : para pekerja yang memakai alat
perlindungan diri.
4) Peningkatan keterampilan

remaja

untuk

mencegah

ajakan

menggunakan narkotik. Contohnya : kursus-kursus peningkatan


keterampilan, seperti kursus menjahit, kursus otomotif.
5) Penanggulangan stress. Contohnya : membiasakan pola hidup yang
sehat , dan seringnya melakukan relaksasi.
2. Pencegahan sekunder
Penegakan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat,
disebut pencegahan sekunder (seconder preventive). Pencegahan sekunder
dilakukan pada masa individu mulai sakit. Pencegahan sekunder bentuknya upaya
diagnosis dini dan pengobatan segera ( early diagnosis and prompt treatment ).
a. Early diagnosis
Early

diagnosis

mengandung

pengertian diagnosa

dini

atau tindakan pencegahan pada seseorang atau kelompok yang memiliki


resiko terkena penyakit.
b. Prompt treatment
Prompt treatment memiliki pengertian pengobatan yang dilakukan
dengan tepat dan segera untuk menangani berbagai masalah yang terjadi.
Prompt treatment merupakan tindakan lanjutan dari early diagnosis.
Pengobatan segera dilakukan sebagai penghalang agar gejala tidak
menimbulkan komplikasi yang lebih parah.
3. Pencegahan tersier
Pembatasan kecacatan dan pemulihan kesehatan disebut pencegahan
tersier

(tertiary

prevention).

ketidakmampuan/kecacatan

Pencegahan
(disability

tersier
limitation)

bentuknya
dan

membatasi
pemulihan

kesehatan (rehabilitation). Pada proses ini diusahakan agar cacat yang diderita
tidak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi
optimal secara fisik, mental dan sosial.

a. Pembatasan kecacatan
Pencegahan dilakukan dalam taraf penyakit sudah nyata bahkan sudah
lanjut sehingga penderita dalam keadaan disable (tidak sanggup
melakukan aktivitas yang biasa dikerjakan walau tidak sakit). Sehingga
penderita bisa sembuh.
b. Rehabilitasi (pemulihan)
1) Ruang dokter, yaitu

pemulihan

fungsi

organ

yang

baru

sembuh/mengalami kelainan yang menetap/cacat.


2) Ruang biang diklat keterampilan, yaitu berupaya memulihkan kembali
kemampuan profesionalnya sehingga dapat bekerja kembali di
masyarakat.
3) Ruang sosial, yaitu memulihkan kembali kehidupan sosial masyarakat
sehingga masyarakat mau menerima kembali. Misalnya, sembuh dari
penyakit kusta.
4) Ruang kejiwaan (psikologi), yaitu upaya memulihkan kepercayaan dan
harga diri penderita setelah sembuh dari penyakit. Misalnya :
a)
Tempat pendidikan untuk tuna netra dan rungu
b)
Tempat pendidikan untuk anak cacat
c)
Bedah rekonstruksi untuk mantan penderita kusta
d)
Fisioterapi dan latihan untuk penderita polio
3. UPAYA KURATIF
a. Pengertian Upaya Kuratif
Upaya kuratif dalah upaya promosi kesehatan untuk mencegah
penyakit menjadi lebih parah melalui pengobatan. Sasarannya adalah
kelompok orang sakit (pasien) terutama penyakit kronis sperti asma, DM,
TBC, rematik, hipertensi dan sebagainya. Tujuannya kelompok ini mampu
mencegah penyakit tersebut tidak lebih parah (secondary prevention). Bentuk
kegiatannya adalah pengobatan.
Upaya kuratif pada umumnya dilakukan terhadap sasaran secara
individual, kontak terhadap sasaran (pasien) pada umumnya hanya sekali saja.
Jarak antara petugas kesehatan (dokter, perawat, bidan, dan sebagainya)
dengan pasien atau sasaran cenderung jauh. Upaya kuratif cenderung bersifat
reaktif, artinya kelompok ini pada umumnya hanya menunggu masalah datang.
Seperti misalnya dokter yang menunggu pasien datang di Puskesmas atau
tempat praktek. Jika tidak ada pasien datang, berarti tidak ada masalah, maka
selesailah tugas mereka, bahwa masalah kesehatan adalah adanya penyakit.

Upaya kuratif cenderung melihat dan menangani klien atau pasien


lebih kepada sistem biologis manusia atau pasien hanya dilihat secara parsial,
padahal manusia terdiri dari kesehatan bio-psikologis dan sosial, yang terlihat
antara aspek satu dengan yang lainnya. Program kesehatan yang menekankan
upaya kuratif adalah Health program for survival. Upaya kesehatan dalam
pelayanan kebidanan melalui kuratif. Pelayanan diberikan pada pekerja yang
sudah mengalami gangguan kesehatan Pelayanan diberikan meliputi
pengobatan terhadap penyakit umum maupun penyakit akibat kerja. Terapi
PAK dengan terapi kasual/utama & terapi simtomatis.
b. Upaya Promosi Kesehatan Kuratif
1. Bayi
a) Mandiri
- Pemberian vitamin K
- Obat tetes mata.
b) Kolaborasi:
- Pengobatan pada kasus asfiksia berat
- Pengobatan mata pada kasus bayi dengan ibu yang menderita
-

gonore
Pengobatan pada kasus perdarahan intracranial
Pengobatan path kasus hipoglikemia
Pengobatan Dada penyakit-penyakit infeksi lainnya seperti
ISPA. diare dll. Contoh: Pada kasus bayi yang menderita
gonoblenorhoe (ibu menderita gonore) dilakukan kolaborasi

untuk pemberian terapi pengobatan antibiotika.


2. Balita
a) Mandiri:
- Pengobatan diare tanpa dehidrasi.
- Balita dengan kasus BGM.
b) Kolaborasi
- Pengobatan path kasus ISPA
- Pengobatan Dada kasus cacmgan
- Pengobatan pada kasus gizi buruk
- Pengobatan pada penyakit-penyakit mfeksi lainnya.
Contoh : Pada kasus diare dengan dehidrasi, selain rehidrasi,
pemenuhan nutrisi dilakukan kolaborasi untuk pemberian
therapi obat antibiotika.
3. Remaja
a) Mandiri:
- Pengobatan path kasus dismenorhoe
- Pengobatan pada kasus anemia ringan.

Pada remaja korban perkosaan dengan ruftur pada serviks atau

mukosa
- vagina dilakukan tindakan hecting.
b) Kolaborasi:
- Pengobatan path kasus anemia berat.
- Pengobatan pada kasus plour arbus Contoh : Pada kasus
dismenorhoe dilakukan kolaborasi untuk pemberian therapi
hormonal.
4. PUS/WUS
a) Mandiri:
- Pengobatan pada efek samping alat kontrasepsi
b) Kolaborasi:
- Pengobatan pada kasus Penyakit Menular Seksual
- Pengobatan pada kasus radang panggul ( PRP)
Contoh : Pada kasus radang panggul dilakukan kolaborasi
untuk pemberian terapi obat antibiotika dan symptomatic.
5. Ibu hamil
a) Mandiri:
- Pengobatan pada kasus hiperemesis tmgkat I dan tmgkat II.
- Pengobatan pada kasus anemia ringan.
b) Kolaborasi:
- Pengobatan pada kasus hiperemesis tmgkat Ill.
- Pengobatan path abortus inleksiousus
- Pengobatan pada kasus anemia berat.
- Pengobatan pada kasus APB
- Pengobatan pada kehamilan dengan penyakit yang menyertai
seperti jantung DM dll
Contoh : Pada kasus ibu hamil dengan anemia ringan diberikan
obat tambah darah (Fe) dan nutrisi yang adekuat.
6. Ibu Bersalin
a) Mandiri:
- Manajemen Aktif Kala Ill
- Pengobatan path kasus atonia uteri.
- Ibu
bersalin
dengan
ruftur
pada servik

slmukosa

vagina/perineum dilakukan tindakan hecting.


b) Kolaborasi:
- Pengobatan pada kasus inersia uteri
- Pengobatan path kasus perdarahan ( HPP primer). Contoh :
Pada Manajemen Aktif Kala III diberikan injeksi oksitosin.
7. Ibu Nifas
a) Mandiri:
- Pengobatan pada sub involusi
b) Kolaborasi:
- Pengobatan pada mastitis

- Pengobatan pada HPP sekunder


- Pengobatan pada kasus vaginitis
- Pengobatan path kasus abses payudara
Contoh : Pada mastitis selain perawatan yang adekuat, dilakukan
kolaborasi untuk pemberian therapi obat antibiotika (Kloksasillin
atau Eritromysin).
8. Klimakterium Menopause
a) Kolaborasi:
- Terafi Sulih Hormon (TSH) Contoh upaya kuratif dalam
-

pelayanan kesehatan
Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis
Perawatan payudara yang mengalami masalah, seperti : mastitis

dan bendungan ASI


Perawatan tali pusat terkendali pada bayi baru lahir
Perawatan bayi, balita dan anak sakit dirumah
Pemberian vitamin E yang merupakan upaya pengobatan

penyakit tertentu
Pemeriksaan dan pengobatan yang tepat pada ibuhamil yang

sakit
Melakukan rujukan bila diperlukan
Penatalaksanan dini terhadap komplikasi dalam kehamilan,
misalnya pada ibu hamil dengan anemia bidan dapat
memberikan tablet Fe sebagai penatalaksanaan dininya.

4. UPAYA REHABILITATIF
Upaya Rehabilitatif adalah upaya promosi kesehatan untuk
memelihara dan memulihkan kondisi/ mencegah kecacatan. Sasarannya
adalah kelompok orang yang baru sembuh dari penyakit. Tujuannya adalah
pemulihan dan pencegahan kecacatan (tertiary prevention). Rehabilitasi ini
terdiri atas :
a. Rehabilitasi fisik
Yaitu agar bekas penderita memperoleh perbaikan fisik semaksimalnya.
Misalnya, seorang yang karena kecelakaan, patah kakinya, perlu
mendapatkan

rehabilitasi

dari

kaki

yang

patah

yaitu

denganmempergunakan kaki buatan yang fungsinya sama dengan kaki


yang sesungguhnya.
b. Rehabilitasi mental

Yaitu agar bekas penderita dapat menyusuaikan diri dalam hubungan


perorangan dan social secara memuaskan. Seringkali bersamaan dengan
terjadinya cacat badania muncul pula kelainan-kelaianan atau gangguan
mental.untuk hal ini bekas penderita perlu mendapatkan bimbingan
kejiwaan sebelum kembali kedalam masyarakat
c. Rehabilitasi social vokasional
Yaitu agar bekas penderita menempati suatu pekerjaan/jabatan dalam
masyarakat dengan kapasitas kerja yang semaksimalnya sesuai dengan
kemampuan dan ketidak mampuannya.
d. Rehabilitasi aesthetis
Usaha rehabilitasi aesthetis perlu dilakukan untuk mengembalikan rasa
keindahan, walaupun kadang-kadang fungsi dari alat tubuhnya itu
sendiri tidak dapat dikembalikan misalnya: misalnya penggunaan mata
palsu.
Usaha pengembalian bekas penderita ini kedalam masyarakat,
memerlukan bantuan dan pengertian dari segenap anggota masyarakat untuk
dapat mengerti dan memahami keandaan mereka (fisik mental dan
kemampuannya) sehingga memudahkan mereka dalam proses penyesuian
dirinya dalam masyarakat dalam keadan yang sekarang ini. Sikap yang
diharapkan dari warga masyarakat adalah sesuai dengan falsafah pancasila
yang berdasarkan unsur kemanusian dan keadailan social. Mereka yang
direhabilitasi ini memerlukan bantuan dari setiap warga masyarakat, bukan
hanya berdasarkan belas kasian semata-mata, melainkan juga berdasarkan hak
asasinya sebagai manusia. Sedangkan peran bidan dalam rehabilitasi
(pemulihan) yaitu:
1.

Mengembangkan lembaga-lembaga

rehabilitasi

dengan

melibatkan

2.
3.

masyarakat
Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali
Mengusahakan perkampungan rehabilitasi sosial sehingga setiap

4.

penderita yang telah cacat mampu mempertahankan diri.


Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan

5.
6.

seseorang setelah ia sembuh dari suatu penyakit


Memberikan konseling pada penderita kecacatan
Memberikan keyakinan dalam kesembuhan, menumbuhkan kepercayaan

7.

diri untuk bersosialisasi dgn masyarakat


Memberikan pendidikan kesehatan

Contoh pelaksanaan upaya rehabitatif dalam bidang kesehatan yaitu:


1. Pemuliahan keadaan pasca sakit pada bayi dan balita
2. Latihan fisik yang tepat, teratur dan rutin pada remaja pasca sakit
sebagai usaha pemeliharaan kesehatan
3. Istirahat yang cukup dan pengaturan diet yang tepat pada ibu hamil
pasca sakit
4. Mobilisasi dini pada ibu pasca bersalin sebagai pemulihan dengan
cara ibu dapat mengubah posisi dan

berjalan-jalan sekurang-

kurangnya 6 jam setelah melahirkan


5. Latihan fisik pada ibu pasca bersalin, seperti melakukan senam
nifas atau senam kegel untuk membantu pemulihan alat kandungan
ibu setelah melahirkan
6. Pemenuhan gizi pada ibu nifas
B. Sasaran Promosi Kesehatan
Berdasarklan pentahapan upaya promosi kesehatan, maka sasaran dibagi
dalam tiga kelompok sasaran, yaitu :
1. Sasaran Primer
Sasaran primer (utama) upaya promosi kesehatan sesungguhnya
adalah pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai
komponen dari masyarakat. Mereka ini diharapkan mengubah perilaku
hidup mereka yang tidak bersih dan tidak sehat menjadi perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS). Akan tetapi disadari bahwa mengubah
perilaku bukanlah sesuatu yang mudah. Perubahan perilaku pasien,
individu sehat dan keluarga (rumah tangga) akan sulit dicapai jika tidak
didukung oleh: Sistem nilai dan norma-norma sosial serta normanorma hukum yang dapat diciptakan/dikembangkan oleh para pemuka
masyarakat,

baik

pemuka

informal

maupun

pemuka

formal.

Keteladanan dari para pemuka masyarakat, baik pemuka informal


maupun pemuka formal, dalam mempraktikkan PHBS. Suasana
lingkungan sosial yang kondusif (social pressure) dari kelompokkelompok masyarakat dan pendapat umum (public opinion). Sumber

daya dan atau sarana yang diperlukan bagi terciptanya PHBS, yang
dapat diupayakan atau dibantu penyediaannya oleh mereka yang
bertanggung jawab dan berkepentingan (stakeholders), khususnya
perangkat pemerintahan dan dunia usaha.
Berikut ini adalah sasaran dan indikator dari PHBS yang dimiliki
oleh setiap tempat.
1) Indikator PHBS di Institusi Pendidikan
Indikator PHBS di institusi pendidikan/sekolah meliputi (Depkes, 2008):
1. Mencuci tangan dengan Air yang Mengalir dan Menggunakan Sabun
Siswa dan guru mencuci tangan dengan sabun dan air bersih yang
mengalir sebelum makan dan sesudah buang air besar. Perilaku cuci tangan
dengan air mengalir dan menggunakan sabun mencegah penularan
penyakit seperti diare, kolera, disentri, typus, cacingan, penyakit kulit,
hepatitis A, ISPA, flu burung, dan lain sebagainya. WHO menyarankan
cuci tangan dengan air mengalir dan sabun karena dapat meluruhkan
semua kotoran dan lemak yang mengandung kuman. Cuci tangan ini dapat
dilakukan pada saat sebelum makan, setelah beraktivitas diluar sekolah,
bersalaman dengan orang lain, setelah bersin atau batuk, setelah
menyentuh hewan, dan sehabis dari toilet. Usaha pencegahan dan
penanggulangan ini disosialisasikan di lingkungan sekolah untuk melatih
hidup sehat sejak usia dini. Anak sekolah menjadi sasaran yang sangat
penting karena diharapkan dapat menyampaikan informasi kesehatan pada
keluarga dan masyarakat.
2. Mengkonsumsi Jajanan Sehat di Kantin Sekolah
Di Sekolah siswa dan guru membeli

atau

konsumsi

makanan/jajanan yang bersih dan tertutup di warung sekolah sehat.


Makanan yang sehat mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral dan
vitamin. Makanan yang seimbang akan menjamin tubuh menjadi sehat.
Makanan yang ada di kantin sekolah harus makanan yang bersih, tidak
mengandung bahan berbahaya, serta penggunaan air matang untuk
kebutuhan minum.
3. Menggunakan Jamban yang Bersih dan Sehat

Jamban yang digunakan oleh siswa dan guru adalah jamban yang
memenuhi syarat kesehatan (leher angsa dengan septictank, cemplung
tertutup) dan terjaga kebersihannya. Jamban yang sehat adalah yang tidak
mencemari sumber air minum, tidak berbau kotoran, tidak dijamah oleh
hewan, tidak mencemari tanah di sekitarnya, mudah dibersihkan dan aman
digunakan.
4. Olahraga yang Teratur dan Terukur
Aktivitas fisik adalah salah satu wujud dari perilaku hidup sehat
terkait dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Kegiatan olah
raga di sekolah bertujuan untuk memelihara kesehatan fisik dan mental
anak agar tidak mudah sakit. Dalam rangka meningkatkan kesegaran
jasmani, perlu dilakukan latihan fisik yang benar dan teratur agar tubuh
tetap sehat dan segar. Dengan melakukan olahraga secara teratur akan
dapat memberikan manfaat antara lain: meningkatkan kemampuan jantung
dan paru, memperkuat sendi dan otot, mengurangi lemak atau mengurangi
kelebihan berat badan, memperbaiki bentuk tubuh, mengurangi risiko
terkena penyakit jantung koroner, serta memperlancar peredaran darah.
5. Memberantas Jentik Nyamuk
Kegiatan ini dilakukan dilakukan untuk memberantas penyakit
yang disebabkan oleh penularan nyamuk seperti penyakit demam berdarah.
Memberantas jentik nyamuk dilingkungan sekolah dilakukan dengan
gerakan 3 M (menguras, menutup, dan mengubur) tempat-tempat
penampungan air (bak mandi, drum, tempayan, ban bekas, tempat air
minum, dan lain-lain) minimal seminggu sekali. Hasil yang didapat dari
pemberantasan jentik nyamuk ini kemudian di sosialisasikan kepada
seluruh warga sekolah.
6. Tidak Merokok di Sekolah
Siswa dan guru tidak ada yang merokok di lingkungan sekolah.
Timbulnya kebiasaan merokok diawali dari melihat orang sekitarnya
merokok. Di sekolah siswa dapat melakukan hal ini mencontoh dari teman,
guru, maupun masyarakat sekitar sekolah. Banyak anak-anak menganggap

bahwa dengan merokok akan menjadi lebih dewasa. Merokok di


lingkungan sekolah sangat tidak dianjurkan karena rokok mengandung
banyak zat berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan anak sekolah.
7. Menimbang Berat Badan dan Mengukur Tinggi Badan
Siswa menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap
bulan. Kegiatan penimbangan berat badan di sekolah untuk mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan anak serta status gizi anak sekolah. Hal
ini dilakukan untuk deteksi dini gizi buruk maupun gizi lebih pada anak
usia sekolah.
8. Membuang Sampah pada Tempatnya.
Tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga agar lingkungan
selalu terjaga dari sampah adalah sebagai berikut: 1) Guru memberi contoh
pada siswa-siswi membuang sampah selalu pada tempatnya, 2) Guru wajib
menegur dan menasehati siswa yang mebuang sampah di sembarang
tempat, 3) Mencatat siswa-siswi yang membuang sampah di sembarang
tempat pada buku/kartu pelanggaran, dan 4) Membuat tata tertib baru yang
isinya tentang pemberian denda terhadap siswa-siswi yang membuang
sampah di sembarang tempat.
2) Indikator PHBS di Tempat Umum
1) Menggunakan air bersih.
a) Alasan harus menggunakan air bersih
Air yang kita pergunakan sehari-hari untuk minum, memasak,
mandi, berkumur, membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur,
mencuci pakaian dan sebagainya haruslah air bersih, agar kita tidak
terkena penyakit atau terhindar dari sakit.
b) Syarat-syarat air bersih
Air bersih secara fisik dapat dibedakan melalui indera (dapat dilihat,
dirasa, dicium dan diraba) antara lain :
Air tidak boleh berwarna harus bening / jernih.
Air tidak boleh keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur,

sampah, busa dan kotoran lainnya.


Air tidak boleh berasa, harus bebas dari bahan kimia beracun,
tidak berasa asin, tidak berasa asam, tidak payau, dan tidak
pahit.

Air tidak boleh berbau seperti bau amis, anyir, busuk atau bau

belerang.
Air tersebut segar, artinya suhu air tidak melebihi suhu udara

luar.
c) Manfaat menggunakan air bersih
Terhindar dari gangguan penyakit seperti Diare, Kolera,
Disentri, Thypus, kecacingan, penyakit mata, penyakit kulit

atau keracunan.
Terhindar dari gangguan teknis seperti pipa air tersumbat, pipa
berkarat, bak air berlumut, lantai kamar mandi berkarat dan

berlumut.
Masyarakat pengunjung di tempat-tempat umum terpelihara

kebersihan dirinya.
d) Sumber air bersih
Mata air
Air sumur atau air sumur pompa.
Air ledeng / perusahaan air minum.
Air hujan
Air dalam kemasan.
e) Cara menjaga kebersihan sumber air bersih
Jarak letak sumber air dengan jamban minimal 10 meter.
Sumber mata air harus dilindungi dari bahan pencemar.
Sumur gali, sumur pompa, kran umum dan mata air harus
dijaga bangunannya agar tidak rusak seperti lantai sumur tidak

boleh retak, bibir sumur harus diplester.


Harus dijaga kebersihannya seperti tidak ada genangan air
sekitar sumber air, tidak ada bercak-bercak kotoran pada lantaidinding sumur. Ember / gayung pengambil air tidak berlumut,
harus tetap bersih dan tidak diletakan di lantai (ember/gayung

digantung di tiang sumur).


f) Mengapa air bersih harus dimasak mendidih bila ingin diminum?
Meski terlihat bersih, air belum tentu bebas kuman penyakit.
Kuman penyakit dalam air mati pada suhu 100 oC (saat
mendidih).
2) Menggunakan jamban.
a) Pengertian jamban

Jamban

adalah

suatu

ruangan

yang

mempunyai

fasilitas

pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau


tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa
(cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan
air untuk membersihkannya.
b) Jenis jamban
Jamban cemplung
Jamban yang penampungannya berupa lubang berfungsi
menyimpan dan meresapkan cairan kotoran / tinja ke dalam
tanah dan mengendapkan kotoran ke dasar lubang. Untuk

jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau.


Jamban tangki septik / leher angsa
Jamban berbentuk leher angsa yang penampungannya berupa
tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses
penguraian / dekomposisi kotoran manusia yang dilengkapi

dengan resapannya.
c) Alasan harus menggunakan jamban
Menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau.
Tidak mencemari sumber air yang ada disekitarnya.
Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat
menjadi penular penyakit Diare, Kolera, Disentri, Thypus,
kecacingan, penyakit infeksi saluran pencernaan, penyakit
kulit dan keracunan.
d) Syarat jamban sehat
Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air
minum dengan lubang penampungan minimal 10 meter).
Tidak berbau.
Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus.
Tidak mencemari tanah disekitarnya.
Mudah dibersihkan dan aman digunakan.
Dilengkapi dinding dan atap pelindung.
Penerangan dan ventilasi cukup.
Lantai kedap air dan luas ruangan memadai.
Tersedia air, sabun dan alat pembersih.
e) Cara memelihara jamban sehat
Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan tidak ada
genangan air.

Bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban

dalam keadaan bersih.


Di dalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat.
Tidak ada serangga (kecoa, lalat) dan tikus yang berkeliaran.
Tersedia alat pembersih (sabun, sikat dan air bersih).
Bila ada kerusakan, segera diperbaiki.
f) Menggunakan jamban dengan benar
Ada dua model jamban yaitu jamban jongkok dan duduk.
Bila kita menggunakan jamban duduk jangan berjongkok
karena kaki kita akan mengotori jamban apalagi bila kita
memakai alas kaki. Perilaku kita sangat merugikan pengguna

jamban berikutnya.
Buang air besar dan buang air kecil haruslah di jamban untuk
mencegah penularan penyakit, karena tinja dan urine (air

kencing) banyak mengandung kuman penyakit.


Menyiram hingga bersih setelah buang air besar atau buang

air kecil.
Buanglah sampah ditempatnya, agar jamban tidak tersumbat

dan penuh dengan sampah.


Pengelola Tempat-tempat Umum untuk mengawasi dan
memastikan bahwa jamban yang tersedia selalu dalam
keadaan bersih.

3) Membuang Sampah pada Tempatnya.


a) Definisi Sampah
Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari
sumber hasil aktivitas manusia maupun alam.
b) Jenis-Jenis Sampah
Sampah anorganik/kering, yang tidak dapat mengalami
pembusukan secara alami, contoh : logam, besi, kaleng,

plastik, karet, atau botol.


Sampah organik/basah, yang dapat mengalami pembusukan
secara alami, contoh : sampah dapur, sampah restoran, sisa

sayuran, rempah-rempah atau sisa buah.


Sampah berbahaya, contoh : batere, botol racun nyamuk, atau

jarum suntik bekas.


c) Akibat membuang sampah sembarangan

Sampah menjadi tempat berkembang biak dan sarang

serangga dan tikus.


Sampah menjadi sumber polusi dan pencemaran tanah, air

dan udara.
Sampah menjadi sumber dan tempat hidup kuman-kuman

yang membahayakan kesehatan.


Sampah dapat menimbulkan kecelakaan dan kebakaran.
d) Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan memusnahkan atau
memanfaatkannya. Beberapa cara pemusnahan sampah yang dapat
dilakukan secara sederhana sebagai berikut :
Penumpukan
Dengan metode ini, sebenarnya sampah tidak dimusnahkan
secara langsung, namun dibiarkan membusuk menjadi bahan
organik. Metode penumpukan bersifat murah, sederhana,
tetapi menimbulkan risiko karena berjangkitnya penyakit
menular, menyebabkan pencemaran udara, terutama bau,

sumber penyakit dan mencemari sumber-sumber air.


Pengkomposan
Cara pengkomposan merupakan cara sederhana dan dapat

menghasilkan pupuk yang mempunyai nilai ekonomi.


Pembakaran
Metode ini dapat dilakukan hanya untuk sampah yang dapat
dibakar habis. Harus diusahakan jauh dari pemukiman untuk

menghindari pencemaran asap, bau dan kebakaran.


Sanitary Landfill
Metode ini hampir sama dengan pemupukan, tetapi cekungan
yang telah penuh terisi sampah ditutupi tanah, namun cara ini
memerlukan areal khusus yang sangat luas.

Dalam pemanfaatan sampah, sampah basah dapat dijadikan kompos


dan makanan ternak, sampah kering dapat dipakai kembali dan di
daur ulang seperti sampah kertas dapat didaur ulang. Daur ulang
adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas
kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan
pembuatan produk/material bekas pakai. Material yang dapat didaur
ulang :

Botol bekas wadah kecap, saos, sirup, creamer dll baik yang
putih bening maupun yang berwarna terutama gelas atau kaca

yang tebal.
Kertas, terutama kertas bekas di kantor, koran, majalah,

kardus kecuali kertas yang berlapis minyak.


Aluminium bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan

kue dll.
Besi bekas rangka meja, besi rangka beton dll.
Plastik bekas wadah shampo, air mineral, jerigen, ember, dll.
Sampah basah dapat diolah menjadi kompos.
e) Manfaat pengelolaan sampah
Menghemat sumber daya alam.
Menghemat energi.
Mengurangi uang belanja.
Menghemat lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Lingkungan asri (bersih,sehat dan nyaman).
4) Tidak Merokok di Tempat-tempat Umum.
a) Alasan tidak boleh merokok di Tempat-tempat Umum
Tempat-tempat umum penuh dengan pengunjung, mulai dari bayi
sampai usia lanjut, akan terpapar asap rokok yang berbahaya untuk
kesehatannya.
b) Yang diharapkan tidak merokok di tempat-tempat umum
Seluruh orang yang sedang berada di tempat-tempat Umum.
Perokok Aktif dan Perokok Pasif
Perokok Aktif adalah orang yang merokok secara rutin
dengan sekecil apapun walaupun itu cuma 1 batang dalam
sehar. Atau orang yang menghisap rokok walau tidak rutin
sekalipun atau hanya sekedar coba-coba dan cara menghisap
rokok cuma sekedar menghembuskan asap walau tidak diisap
masuk ke dalam paru-paru.
Perokok Pasif adalah orang yang bukan perokok tapi
menghirup asap rokok orang lain atau orang yang berada
dalam satu ruangan tertutup dengan orang yang sedang
merokok.
c) Bahaya Merokok
Rokok ibarat pabrik bahan kimia. Dalam satu batang rokok yang
diisap akan dikeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya

diantaranya yang paling berbahaya adalah Nikotin, Tar dan CO.


Nikotin menyebabkan ketagihan dan merusak jantung dan aliran
darah. Tar menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan kanker. CO
menyebabkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen,
sehingga sel-sel tubuh akan mati.
d) Akibat Merokok
Menyebabkan kerontokan rambut.
Gangguan pada mata, seperti katarak.
Kehilangan pendengaran lebih awal dibanding bukan
perokok.
Menyebabkan penyakit paru-paru, jantung dan Kanker.
Merusak gigi dan menyebabkan bau mulut yang tidak sedap.
Tulang lebih mudah patah.
e) Kawasan Tanpa Rokok
Saat ini pemerintah telah mengeluarkan peraturan tentang
Penetapan Kawasan Tanpa Rokok sebagai upaya perlindungan
untuk masyarakat terhadap risiko ancaman gangguan kesehatan
karena lingkungan tercemar asap rokok. Kawasan Tanpa Rokok
adalah

ruangan

atau

area

yang

dinyatakan dilarang untuk kegiatan produksi, penjualan, iklan,


promosi dan/atau penggunaan rokok. Penetapan Kawasan Tanpa
Rokok diselenggarakan di berbagai tempat, yaitu :
Tempat umum, seperti terminal busway, bandara, stasiun
kereta api, mal, pusat perbelanjaan, pasar serba ada, hotel,

restoran, tempat rekreasi dan sejenisnya.


Tempat ibadah, seperti mesjid, mushola, gereja, kapel, pura

wihara dan klenteng.


Arena kegiatan anak-anak, seperti tempat penitipan anak,
tempat pengasuhan anak, arena bermain anak-anak atau

sejenisnya.
Tempat proses belajar mengajar, seperti Tempat-tempat
Umum, tempat pelatihan, termasuk perpustakaan, ruang

praktik atau laboratorium, musium dan sejenisnya.


Tempat pelayanan kesehatan, seperti Posyandu, Puskesmas,
dan rumah sakit.

Tempat kerja, seperti perkantoran, pabrik, ruang rapat, ruang

sidang / seminar.
Angkutan umum, seperti bus, busway, mikrolet, kereta api,
kapal laut dan pesawat udara.

5) Tidak Meludah Sembarangan.


Ludah bisa mengandung bibit penyakit terutama pada orang yang
sedang

sakit,

contohnya

penderita

penyakit

TBC,

dahaknya

mengandung kuman TBC. Untuk menghindari diri dari penyakit,


masyarakat di tempat-tempat umum haruslah membuang ludah di
tempat sampah atau pergi ke toilet.
6) Memberantas Jentik di Tempat-tempat Umum.
a) Alasan memberantas jentik di Tempat-tempat Umum.
Tempat-tempat umum menjadi bebas jentik dan para warga dapat
terhindar dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui nyamuk
seperti Demam Berdarah, Malaria dan Kaki Gajah.
b) Pengertian memberantas jentik di Tempat-tempat Umum
Memberantas jentik di Tempat-tempat Umum adalah kegiatan
memeriksa tempat-tempat penampungan air bersih yang ada di
Tempat-tempat Umum (bak mandi, kolam, dll) apakah bebas dari
jentik nyamuk atau tidak.
c) Kegiatan memberantas jentik.
Lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara
3 M plus (Menguras, Menutup, Mengubur, plus Menghindari
gigitan nyamuk).
PSN merupakan kegiatan memberantas telur, jentik dan
kepompong nyamuk penular berbagai penyakit seperti
Demam Berdarah, Demam Dengue, Chikungunya, Malaria,
Filariasis

(Kaki

Gajah)

di

tempat-tempat

perkembangbiakannya. 3 M Plus adalah tiga cara plus yang


dilakukan pada saat PSN yaitu:
1. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan
air seperti bak mandi, kolam, tatakan pot kembang, dll.
2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti
lubang bak kontrol, lubang pohon, lekukan-lekukan
yang dapat menampung air hujan.

3. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas


yang dapat menampung air seperti ban bekas, kaleng
bekas, plastik-plastik yang dibuang sembarangan (bekas
botol/gelas air kemasan, plastik kresek,dll).
4. Plus Menghindari gigitan nyamuk, yaitu :
Memakai obat yang dapat mencegah gigitan
nyamuk,

misalnya

memakai

obat

nyamuk

oles/diusap ke kulit, dll.


Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi yang
memadai.
Memperbaiki saluran dan talang air yang rusak.
Menaburkan larvasida (bubuk pembunuh jentik) di
tempat-tempat yang sulit dikuras misalnya di talang
air atau di daerah sulit air.
Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak
penampung air, misalnya ikan cupang, ikan nila,dll.
Menanam tumbuhan pengusir nyamuk misalnya,
Zodia, Lavender, Rosemary dll.
d) Manfaat Tempat-tempat Umum Bebas Jentik

Populasi nyamuk menjadi terkendali sehingga penularan


penyakit dengan perantara nyamuk dapat dicegah atau
dikurangi.

Kemungkinan terhindar dari berbagai penyakit semakin besar


seperti

Demam

Berdarah

Dengue

(DBD),

Malaria,

Chikungunya, atau Kaki Gajah.

Lingkungan Tempat-tempat Umum menjadi bersih dan sehat.

e) Cara Pemeriksaan Jentik Berkala

Menggunakan senter untuk melihat keberadaan jentik.

Jika ditemukan jentik, para warga diminta untuk ikut


menyaksikan/melihat jentik, kemudian langsung dilanjutkan
dengan PSN melalui 3 M atau 3 M plus

Mencatat hasil pemeriksaan jentik.

3) Indikator PHBS di Tempat Kerja

Semua

Perilaku

Hidup

Bersih

dan

Sehat

(PHBS)

diharapkan

dilaksanakankaryawan/pegawai di lingkungan tempat kerja. Ada 9 (sembilan)


perilakupenting

yang

diharapkan

dilakukan

oleh

karyawan/pegawai

danmasyarakat tempat kerja agar lingkungan tempat kerja termasuk


kategoritempat kerja sehat yaitu :
1. Memelihara kebersihan, kerapihan lingkungan tempat kerja
2. Menggunakan air bersih
Air yang kita pergunakan sehari-hari untuk minum, memasak,
mandi, berkumur, membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur, mencuci
pakaian dan sebagainya haruslah air bersih, agar kita tidak terkena
penyakit atau terhindar dari sakit.
a.
Syarat-syarat air bersih
Air bersih secara fisik dapat dibedakan melalui indera (dapat dilihat,
dirasa, dicium dan diraba) kita, antara lain :
Air tidak berwarna harus bening/jernih.
Air tidak keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah,

busa dan kotoran lainnya.


Air tidak berasa, tidak berasa asin, tidak berasa asam, tidak

payau, dan tidak pahit, harus bebas dari bahan kimia beracun.
Air tidak berbau seperti bau amis, anyir, busuk atau bau
belerang. Air bersih yang sehat adalah air bersih yang tidak
mengandung kuman penyakit seperti bakteri Entamoeba Coli

yang menyebabkan Diare.


Air tersebut segar, artinya suhu air tidak melebihi suhu udara

luar.
b. Manfaat menggunakan air bersih
1. Terhindar dari gangguan penyakit seperti Diare, Kolera Disentri,
Thypus, kecacingan, penyakit mata, penyakit kulit atau keracunan.
2. Masyarakat pengunjung di tempat kerja terpelihara kebersihan
dirinya.
c.

Sumber air bersih


1. Mata air

2. Air sumur atau air sumur pompa


3. Air ledeng / perusahaan air minum
4. Air hujan
5. Air dalam kemasan
d.

Cara menjaga kebersihan sumber air bersih


1. Jarak letak sumber air dengan jamban dan tempat pembuangan
sampah minimal 10 meter.
2. Sumber mata air harus dilindungi dari bahan pencemar.
3. Sumur gali, sumur pompa, kran umum harus dijaga bangunannya
agar tidak rusak, seperti lantai sumur sebaiknya kedap air dan tidak
boleh retak, bibir sumur harus diplester dan sumur sebaiknya diberi
penutup.
4. Harus dijaga kebersihannya, seperti tidak ada genangan air
disekitar sumber air dan dilengkapi dengan saluran pembuangan
air, tidak ada bercak-bercak kotoran, tidak berlumut, pada
lantai/dinding

sumur.

Ember/gayung

pengambil air harus tetap bersih dan tidak diletakkan di lantai


(ember/gayung digantung di tiang sumur).
3. Menggunakan jamban sehat
a. Pengertian jamban
Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan
kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk
dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi
dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya.
b. Jenis jamban
1. Jamban cemplung
Jamban yang penampungannya berupa lubang berfungsi
menyimpan dan meresapkan cairan kotoran / tinja ke dalam tanah

dan mengendapkan kotoran ke dasar lubang. Untuk jamban


cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau.
2. Jamban tangki septik / leher angsa
Jamban berbentuk leher angsa yang penampungannya berupa tangki
septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses penguraian /
dekomposisi kotoran manusia yang dilengkapi dengan resapannya.
a. Alasan harus menggunakan jamban
1.Menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau.
2.Tidak mencemari sumber air yang ada disekitarnya.
3.Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat
menjadi penular penyakit Diare, Kolera, Disentri, Thypus, kecacingan,
penyakit infeksi saluran pencernaan, penyakit kulit dan keracunan.
b. Syarat jamban sehat
1. Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air
minum dengan lubang penampungan minimal 10 meter).
2. Tidak berbau.
3. Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus.
4. Tidak mencemari tanah disekitarnya.
5. Mudah dibersihkan dan aman digunakan.
6. Dilengkapi dinding dan atap pelindung.
7. Penerangan dan ventilasi cukup.
8. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai.
9. Tersedia air, sabun dan alat pembersih.
c. Cara memelihara jamban sehat
1. Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan tidak ada genangan
air.

2. Bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban


dalam keadaan bersih.
3. Di dalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat.
4. Tidak ada serangga (kecoa, lalat) dan tikus yang berkeliaran.
5. Tersedia alat pembersih (sabun, sikat dan air bersih).
6. Bila ada kerusakan, segera diperbaiki.
d. Menggunakan jamban dengan benar
1. Ada dua model jamban yaitu jamban jongkok dan duduk. Bila kita
menggunakan jamban duduk jangan berjongkok karena kaki kita
akan mengotori jamban apalagi bila kita memakai alas kaki.
Perilaku kita sangat merugikan pengguna jamban berikutnya.
2. Buang air besar dan buang air kecil haruslah di jamban untuk
mencegah penularan penyakit, karena tinja dan urine (air kencing)
banyak mengandung kuman penyakit.
3. Menyiram hingga bersih setelah buang air besar atau buang
air kecil.
4. Buanglah sampah ditempatnya, agar jamban tidak tersumbat dan
penuh dengan sampah.
5. Penjaga jamban di tempat kerja harus mengawasi dan memastikan
bahwa jamban yang tersedia selalu dalam keadaan bersih.
4. Membuang sampah pada tempatnya
a. Pengertian
Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber
hasil aktivitas manusia maupun alam.Secara garis besar, sampah
dibedakan menjadi tiga jenis yaitu :
b. Secara garis besar, sampah dibedakan menjadi tiga jenis yaitu :

1. Sampah

anorganik/kering,

yang

tidak

dapat

mengalami

pembusukan secara alami, contoh : logam, besi, kaleng, plastik,


karet, atau botol.
2. Sampah organik/basah, yang dapat mengalami pembusukan
secara alami, contoh : sampah dapur, sampah restoran,
sisasayuran, rempah-rempah atau sisa buah.
3. Sampah berbahaya, contoh : batere, botol racun nyamuk, atau
jarum suntik bekas. Selain kotor, tidak sedap dipandang mata,
sampah

juga

mengundang kuman penyakit. Oleh karena itu sampah harus


dibuang di tempat sampah.
c. Akibat membuang sampah sembarangan
1. Sampah menjadi tempat berkembang biak dan sarang serangga
dan tikus.
2. Sampah menjadi sumber polusi dan pencemaran tanah, air dan
udara.
3. Sampah menjadi sumber dan tempat hidup kuman-kuman yang
membahayakan kesehatan.
4. Sampah dapat menimbulkan kecelakaan dan kebakaran.
d.Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan memusnahkan atau
memanfaatkannya.Beberapa cara pemusnahan sampah yang dapat
dilakukan

secara

sederhana sebagai berikut:


1. Penumpukan
Dengan metode ini, sebenarnya sampah tidak dimusnahkan
secara langsung, namun dibiarkan membusuk menjadi bahan
organik. Metode penumpukan bersifat murah, sederhana, tetapi
menimbulkan risiko karena berjangkitnya penyakit menular,
menyebabkan pencemaran udara, terutama bau, sumber penyakit
dan mencemari sumber-sumber air.
2. Pengkomposan
Cara
pengkomposan
merupakan

cara

sederhana

dapatmenghasilkan pupuk yang mempunyai nilai ekonomi.


3. Pembakaran

dan

Metode ini dapat dilakukan hanya untuk sampah yang dapat


dibakar habis. Harus diusahakan jauh dari pemukiman untuk
menghindari pencemaran asap, bau dan kebakaran.
4. Sanitary Landfill
Metode ini hampir sama dengan pemupukan,

tetapi

cekungan yang telah penuh terisi sampah ditutupi tanah,


namun cara ini memerlukan areal khusus yang sangat luas.
Dalam pemanfaatan sampah, sampah basah dapat dijadikan kompos
dan makanan ternak, sampah kering dapat dipakai kembali dan di
daur ulang seperti sampah kertas dapat didaur ulang.Daur ulang
adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri
atas

kegiatan

pemilahan,

pengumpulan,

pemrosesan,

pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas pakai.


e. Manfaat pengelolaan sampah
1. Menghemat sumber daya alam.
2. Menghemat energi.
3. Mengurangi uang belanja.
4. Menghemat lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
5. Lingkungan asri (bersih,sehat dan nyaman).
5. Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir memakai sabun
Air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri
penyebab penyakit. Bila digunakan, kuman berpindah ke tangan. Pada saat
makan, kuman dengan cepat masuk ke dalam tubuh, yang bisa
menimbulkan

penyakit.Sabun

dapat

membersihkan

kotoran

dan

membunuh kuman, karena tanpa sabun, kotoran dan kuman masih


tertinggal di tangan.
Saat harus mencuci tangan
A. Setiap kali tangan kita kotor (setelah memegang binatang, -memegang
uang, berkebun dan lain-lain).
B. Setelah buang air besar.
C. Sebelum memegang makanan.
Manfaat mencuci tangan

1. Membunuh kumah penyakit yang ada di tangan.


2. Mencegah penularan penyakit seperti Diare, Disentri, Kolera, Typhus,
kecacingan, penyakit kulit, Flu Burung atau Severe Acute Respiratory
Syndrome (SARS).
3. Tangan menjadi bersih dan penampilan lebih menarik.
6. Mengonsumsi makanan dari kantin di lingkungan tempat kerjadan/atau
membawa bekal dari rumah.
Alasan mengonsumsi makanan bergizi dari kantin di tempat kerja :
Makanan dan minuman yang dijual cukup bergizi, terjamin
kebersihannya, terbebas dari zat-zat berbahaya dan terlindung dari

serangga dan tikus.


Makanan yang bergizi akan meningkatkan kesehatan dan bekerja

menjadi lebih optimal.


Tersedianya air bersih yang mengalir dan sabun untuk mencuci tangan

dan peralatan makan.


Tersedianya tempat sampah yang tertutup dan saluran pembuangan air

kotor.
Adanya pengawasan secara teratur oleh pengelola tempat keja.

7. Memberantas jentik di tempat kerja


Alasan memberantas jentik di Tempat Kerja. :
Tempat kerja menjadi bebas jentik dan masyarakat di tempat kerja terhindar
dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti Demam
Berdarah, Malaria dan Kaki Gajah.
a. Pengertian memberantas jentik di Tempat Kerja
Memberantas jentik di tempat kerja adalah kegiatan memeriksa tempattempat penampungan air bersih yang ada di tempat kerja (bak mandi,
tempat penampungan air bersih dll) apakah bebas dari jentik nyamuk
atau tidak.
b. Kegiatan memberantas jentik.
Lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3 M
plus (Menguras, Menutup, Mengubur, plus Menghindari gigitan
nyamuk).PSN merupakan kegiatan memberantas telur, jentik dan
kepompong nyamuk penular berbagai penyakit seperti Demam
Berdarah, Demam Dengue, Chikungunya, Malaria, Filariasis (Kaki
Gajah) di tempat-tempat perkembangbiakannya.3 M Plus adalah tiga
cara plus yang dilakukan pada saat PSN yaitu:

Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air


seperti bak mandi, kolam, tatakan pot kembang, dll.
Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti lubang bak
kontrol, lubang pohon, lekukan-lekukan yang dapat menampung

air hujan.
Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat
menampung air seperti ban bekas, kaleng bekas, plastik-plastik
yang dibuang sembarangan (bekas botol/gelas air kemasan,

plastik kresek,dll).
Plus Menghindari gigitan nyamuk, yaitu :
1. Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk, misalnya
memakai obat nyamuk oles/diusap ke kulit, dll.
2. Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi yang memadai.
3. Memperbaiki saluran dan talang air yang rusak.
4. Menaburkan larvasida (bubuk pembunuh jentik) di tempat
tempat yang sulit dikuras misalnya di talang air atau di daerah
sulit air.
5. Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak penampung
air, misalnya ikan cupang, ikan nila,dll.
6. Menanam tumbuhan pengusir nyamuk misalnya, Zodia,

Lavender, Rosemary dll.


c. Manfaat Tempat Kerja Bebas Jentik
Populasi nyamuk menjadi terkendali sehingga penularanpenyakit

dengan perantara nyamuk dapat dicegah ataudikurangi.


Kemungkinan terhindar dari berbagai penyakit

semakin

besarseperti

(DBD),

Demam

Berdarah

Dengue

Malaria,Chikungunya, atau Kaki Gajah.


Lingkungan Tempat Kerja menjadi bersih dan sehat.
d. Cara Pemeriksaan Jentik Berkala
Menggunakan senter untuk melihat keberadaan jentik.
Jika ditemukan jentik, warga Tempat Kerja dan masyarakat
Tempat Kerja diminta untuk ikut menyaksikan/melihat jentik,
kemudianlangsungdilanjutkan dengan PSN melalui 3 M atau 3 M

plus
Mencatat hasil pemeriksaan jentik.

8. Melakukan olah raga secara teratur


a. Pengertian aktivitas fisik

Melakukan aktivitas fisik setiap hari adalah melakukan pergerakan


anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat
penting

bagi

pemeliharaan

kesehatan

fisik,

mental

dan

mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang


hari.
b. Lamanya melakukan aktivitas fisik
Aktivitas fisik dilakukan secara teratur paling sedikit 30
menitdalam

sehari,

sehingga,

dapat

menyehatkan

jantung,

paruparuserta alat tubuh lainnya.


Jika lebih banyak waktu yang digunakan untuk beraktivitasfisik

maka manfaat yang diperoleh juga lebih banyak.


Jika kegiatan ini dilakukan setiap hari secara teratur makadalam

waktu 3 bulan ke depan akan terasa hasilnya.


c. Manfaat aktivitas fisik
Terhindar dari penyakit jantung, Stroke,

Osteoporosis,

Kanker,tekanan darah tinggi, kencing manis, dan lain-lain.


Berat badan terkendali.
Otot lebih lentur dan tulang lebih kuat.
Bentuk tubuh menjadi ideal dan proporsional.
Lebih percaya diri.
Lebih bertenaga dan bugar.
Keadaan kesehatan menjadi lebih baik.
d. Melakukan aktivitas fisik dengan benar
Lakukan secara bertahap hingga mencapai 30 menit. Jika

belum terbiasa dapat dimulai dengan beberapa menit setiap

hari dan ditingkatkan secara bertahap.


Lakukan aktivitas fisik sebelum makan atau 2 jam sesudah

makan.
Awali aktivitas fisik dengan pemanasan dan peregangan.
Lakukan gerakan ringan dan secara perlahan ditingkatkan

sampai sedang.
Jika sudah terbiasa dengan aktivitas tersebut, frekuensi dan
intensitasnya dapat ditingkatkan.

e. Ada 3 macam aktivitas fisik yang dapat kita lakukan untuk


mempertahankan kesehatan tubuh, sesuai sifatnya yaitu :
1. Ketahanan (endurance)

Aktivitas fisik yang bersifat untuk ketahanan, dapat membantu


jantung, paru, otot dan sistem sirkulasi darah tetap sehat dan
membuat kita lebih bertenaga. Contoh beberapa kegiatan yang dapat
dipilih seperti: berjalan kaki, lari ringan, berenang, senam, bermain
tenis dan berkebun.
2. Kelenturan (flexibility)
Aktivitas fisik yang bersifat untuk kelenturan dapat membantu
pergerakan lebih mudah, mempertahankan otot tubuh tetap lemas
(lentur) dan sendi berfungsi dengan baik. Contohbeberapa kegiatan
yang dapat dipilih seperti: peregangan tangan dan kaki, Senam
Taichi, Senam Yoga, mencuci pakaian, mencuci mobil dan mengepel
lantai.
3. Kekuatan (strength)
Aktivitas fisik yang bersifat untuk kekuatan dapat membantu kerja
otot tubuh dalam menahan sesuatu beban yang diterima, tulang tetap
kuat,

dan

mempertahankan

bentuk

tubuh

serta

membantu

meningkatkan pencegahan terhadap penyakit seperti Osteoporosis.


Contoh beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti: push-up, naik
turun tangga, angkat berat/beban, membawa belanjaan serta
mengikuti kelas senam terstruktur dan terukur.
f. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan aktivitas fisik:
1. Melakukan aktivitas fisik langsung setelah makan.
2. Berhenti tiba-tiba, hendaknya tetap berjalan pelan atau berdiri,
kecuali merasa pusing atau sesak nafas.
3. Menahan nafas sewaktu melakukan aktivitas fisik.
4. Beraktivitas fisik di saat terik matahari.
5. Lakukanlah aktivitas fisik yang praktis dan disukai.
6. Mulailah beraktivitas fisik sejak usia muda hingga usia lanjut dan
setiap hari.
9. Tidak merokok di lingkungan tempat kerja.
Alasan tidak boleh merokok di Tempat Kerja :

Tempat kerja penuh dengan pegawai dan pengunjung, mulai dari bayi
sampai usia lanjut, akan terpapar asap rokok yang berbahaya untuk
kesehatannya. Rokok ibarat pabrik bahan kimia. Dalam satu batang
rokok yang diisap akan dikeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia
berbahaya diantaranya yang paling berbahaya adalah Nikotin, Tar dan
CO. Nikotin menyebabkan ketagihan dan merusak jantung dan aliran
darah.Tar menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan Kanker. CO
menyebabkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen,
sehingga sel-sel tubuh akan mati.Yang diharapkan tidak merokok di
Tempat Kerja yaitu seluruh orang yang sedang berada di tempat kerja.
Akibat Merokok
A. Menyebabkan kerontokan rambut.
B. Gangguan pada mata, seperti katarak.
C. Kehilangan pendengaran lebih awal dibanding bukan perokok.
D. Menyebabkan penyakit paru-paru, jantung dan Kanker.
E. Merusak gigi dan menyebabkan bau mulut yang tidak sedap.
F. Tulang lebih mudah patah.

Perokok Aktif dan Perokok Pasif


Perokok Aktif adalah orang yang merokok secara rutin dengan
sekecil apapun walaupun itu cuma 1 batang dalam sehar. Atau
orang yang menghisap rokok walau tidak rutin sekalipun atau
hanya sekedar coba-coba dan cara menghisap rokok cuma sekedar
menghembuskan asap walau tidak diisap masuk ke dalam paruparu.
Perokok Pasif adalah orang yang bukan perokok tapi menghirup
asap rokok orang lain atau orang yang berada dalam satu ruangan
tertutup dengan orang yang sedang merokok.

4. Indikator PHBS Tatanan Institusi Kesehatan

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai


PHBS di Institusi Kesehatan yaitu (Depkes RI, 2007) :
1. Mencuci tangan pakai sabun (hand rub/hand wash)
Pasien / Keluarga Pasien / Pengunjung / Petugas Kesehatan di
institusi kesehatan / Karyawan di institusi kesehatan selalu mencuci
tangan sebelum makan, sesudah buang air besar/sesudah buang air
kecil, sesudah beraktivitas, dan atau setiap kali tangan kotor dengan
memakai sabun dan air bersih yang mengalir. Air bersih yang
mengalir akan membuang kuman-kuman yang ada pada tangan yang
kotor, sedangkan sabun selain membersihkan kotoran juga dapat
membunuh kuman yang ada di tangan. Diharapkan tangan menjadi
bersih dan bebas dari kuman serta dapat mencegah terjadinya
penularan penyakit seperti: diare, disentri, kolera, tipus, kecacingan,
penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan flu
burung.
2. Penggunaan air bersih
Pasien / Keluarga Pasien / Pengunjung / Petugas Kesehatan di
institusi kesehatan / Karyawan di institusi kesehatan menggunakan
air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Sekolah diharapkan menyediakan sumber air yang bisa berasal dari
air sumur terlindung, air pompa, mata air terlindung, penampungan
air hujan, air ledeng, dan air dalam kemasan (sumber air berasal dari
smur pompa, sumur, mata air terlindung berjarak minimal 10 meter
dari tempat penampungan kotoran atau limbah/WC). Air diharapkan
tersedia dalam jumlah yang memenuhi kebutuhan dan tersedia setiap
saat.
a) Syarat air bersih
Air bersih secara fisik dapat dibedakan melalui indera kita, antara
lain (dapat dilihat, dirasa, dicium, dan diraba):
1. Air tidak berwarna harus bening/jernih.
2. Air tidak keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah,
busadan kotoran lainnya.
3. Air tidak berasa, tidak berasa asin, tidak berasa asam, tidak
payau,dan tidak pahit, harus bebas dari bahan kimia beracun.

4. Air tidak berbau seperti bau amis, anyir, busuk atau bau
belerang.
b) Manfaat menggunakan air bersih
1. Terhindar dari gangguan penyakit seperti diare, kolera,
disentri,thypus, kecacingan, penyakit mata, penyakit kulit atau
keracunan.
2. Setiap anggota keluarga terpelihara kebersihan dirinya.Mata air
Sumur gali Penampungan air hujan
c) Sumber air bersih
1. Mata air
2. Air sumur atau air sumur pompa
3. Air ledeng/perusahaan air minum
4. Air hujan
5. Air dalam kemasan
d) Cara menjaga kebersihan sumber air bersih
1. Jarak letak sumber air dengan jamban dan tempat pembuangan
sampah paling sedikit 10 meter.
2. Sumber mata air harus dilindungi dari bahan pencemaran.
3. Sumur gali, sumur pompa, kran umum dan mata air harus
dijaga bangunannya agar tidak rusak seperti lantai sumurtidak
boleh retak, bibir sumur harus diplester dan sumur sebaiknya
diberi penutup.
4. Harus dijaga kebersihannya seperti tidak ada genangan air di
sekitarsumber air, tidak ada bercak-bercak kotoran, tidak
berlumut pada lantai/dinding sumur. Ember/gayung pengambil
airharus

tetap

bersih

dan

tidak

diletakkan

di

lantai

(ember/gayung digantung ditiang sumur).


3. Penggunaan jamban sehat
Pasien / Keluarga Pasien / Pengunjung / Petugas Kesehatan di
institusi kesehatan / Karyawan di institusi kesehatan menggunakan
jamban/WC/kakus leher angsa dengan tangki septic atau lubang
penampungan kotoran sebagai pembuangan akhir saat buang air
besar dan buang air kecil. Menggunakan jamban yang bersih setiap
buang air kecil ataupun buang air besar dapat menjaga lingkungan di
sekitar sekolah menjadi bersih, sehat, dan tidak berbau. Disamping
itu tidak mencemari sumber air yang ada disekitar lingkungan
sekolah serta menghindari datangnya lalat atau serangga yang dapat

menularkan penyakit seperti: diare, disentri, tipus, kecacingan, dan


penyakit lainnya. Sekolah diharapkan menyediakan jamban yang
memenuhi syarat kesehatan dalam jumlah yang cukup untuk seluruh
siswa serta terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan.
Perbandingan jamban dengan pemakai adalah 1:30 untuk laki-laki
dan 1:20 untuk perempuan.
4. Membuang sampah pada tempatnya
Pasien / Keluarga Pasien / Pengunjung / Petugas Kesehatan di
institusi kesehatan / Karyawan di institusi kesehatan membuang
sampah ke tempat sampah yang tersedia. Diharapkan tersedia tempat
sampah yang terpilah antara sampah organik, non-organik, dan
sampah bahan berbahaya. Sampah selain kotor dan tidak sedap
dipandang

juga

mengandung

berbagai

kuman

penyakit.

Membiasakan membuang sampah pada tempat sampah yang tersedia


akan sangat membantu anak sekolah/guru/masyarakat sekolah
terhindar dari berbagai kuman penyakit.
5. Tidak merokok di Institusi Kesehatan
Pasien / Keluarga Pasien / Pengunjung / Petugas Kesehatan di
institusi kesehatan / Karyawan di institusi kesehatan tidak merokok
di lingkungan institusi kesehatan. Merokok berbahaya bagi kesehatan
perokok dan orang yang berada di sekitar perokok. Dalam satu
batang rokok yang diisap akan dikeluarkan 4000 bahan kimia
berbahaya diantaranya: Nikotin (menyebabkan ketagihan dan
kerusakan jantung serta pembuluh darah); Tar (menyebabkan
kerusakan sel paru-paru dan kanker) dan CO (menyebabkan
berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen sehingga sel-sel
tubuh akan mati).
6. Tidak meludah sembarangan
Pasien / Keluarga Pasien / Pengunjung / Petugas Kesehatan di
institusi kesehatan / Karyawan di institusi kesehatan tidak meludah
sembarangan di lingkungan institusi kesehatan. Selain mencegah

tertularnya penyakit hal tersebut dapat membuat lingkungan menjadi


kotor.
7. Pemberantasan jentik nyamuk
Upaya untuk memberantas jentik di lingkungan instansi
kesehatan juga sangat perlu dilakukan dengan dibuktikan dengan
tidak ditemukan jentik nyamuk pada: tempat-tempat penampungan
air, bak mandi, gentong air, vas bunga, pot bunga/alas pot bunga,
wadah pembuangan air dispenser, wadah pembuangan air kulkas, dan
barang-barang bekas/tempat yang bisa menampung air yang ada.
Memberantas jentik di lingkungan instansi kesehatan dilakukan
dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan:
menguras dan menutup tempat-tempat penampungan air, mengubur
barang-barang bekas, dan menghindari gigitan nyamuk. Dengan
lingkungan bebas jentik diharapkan dapat mencegah terkena penyakit
akibat gigitan nyamuk seperti demam berdarah, cikungunya, malaria,
dan kaki gajah.
5) Indikator PHBS di Rumah Tangga
PHBS di Rumah Tangga adalah upaya memberdayakan anggota rumah
tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat
serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan dimasyarakat.
Indikator PHBS di Rumah Tangga (Dinkes, 2006):
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
Adalah persalinan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan (bidan, dokter, dan tenaga para medis lainnya). Meningkatnya proporsi
ibu bersalin dengan bantuan tenaga kesehatan yang terlatih, adalah langkah awal
terpenting untuk mengurangi kematian ibu dan kematian neonatal dini. Persalinan
yang ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman, bersih
dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya.

2. Memberi ASI Eksklusif


Adalah bayi pada usia 0 6 bulan hanya diberi ASI sejak lahir sampai usia
6 bulan, tidak diberi makanan tambahan dan minuman lain kecuali pemberian air

putih untuk minum obat saat bayi sakit. Asi banyak mengandung nutrisi yang
dibutuhkan oleh tubuh. Zat gizi dalam ASI sesuai kebutuhan bayi untuk
pertumbuhan dan perkembangan fisik serta kecerdasan. ASI mengandung zat
kekebalan sehingga mampu melindungi bayi dari alergi.
Berdasarkan waktu produksinya, ASI digolongkan dalam tiga kelompok yakni:
2.1. Kolostrum
Kolostrum ( susu awal ) adalah ASI yang keluar pada hari pertama. Setelah
kelahiran bayi, berwarna kekuningan dan lebih kental, karena mengandung
banyak vitamin A, protein dan zat kekebalan yang penting untuk melindungi bayi
dari penyakit infeksi. Kolostrum mengandung vitamin A, E dan K serta beberapa
mineral seperti natrium dan Zn.
2.2. ASI transisi/ peralihan
ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum
menjadi matang. Biasanya diproduksi pada hari k2 4 10 setelah kelahiran.
Kandungan volume protein akam semakin rendahsedangkan kadar karbohidrat
dan lemak makin tinggi dibandingkan pada kolosrum, juga volume akan makin
meningkat.
2.3. Asi matang/ matur
ASI matang adalah ASI yang dikeluarkan pada sekitar pada hari ke -14 dan
seterusnya

komposisi

relatif

tetap.

Merupakan

suatu

cairan

berwarna

putihkekuningan yang diakibatkan warna dari gambar c-casenat riboflavin, dan


karoten yang terdapat di dalamnya. Pada ibu yang sehat dimana produksi ASI
cukup. ASI ini merupakan makanan satu satunya yang paling baik dan cukup
untuk bayi sampai berumur 6 bulan. Selama 6 bulan pertama, volume ASI
sekurang kurangnya sekitar 500-700 ml/hari, bulan kedua sekitar 400 600
ml/hari setelah bayi berusia satu tahun.
Keuntungan menyusui bagi bayi:
A. Ditinjau dari aspek gizi
Kandungan gizi lengkap dan sesuai dengan kebutuhan bayi untuk tumbuh
kembang yang optimal. Mudah diserap dan dicerna.
B. Ditinjau dari aspek imunologi

Bayi tidak sering sakit. ASI mengandung kekebalan antara lain imunitas seluler
yaitu leukosit sekitar 4000/ml, misal IgA- enzim pada ASI yang mempunyai efek
antibakteri misalnya lisozim, katalase dan peroksidase.
C. Ditinjau dari aspek psikologis
Bayi lebih sehat, lincah dan tidak cengang. Pemberian ASI mendekatkan
hubungan ibu dan bayi menimbulkan perasaan aman bagi bayi , yang penting
untuk mengembangkan dasar kepercayaan dengan mulai mempercayai orang
lain /ibu dan akhirnya mempunyai kepercayaan pada diri sendiri

3. Menimbang bayi dan balita setiap bulan


Adalah menimbang bayi dan balita mulai dari umur 0 sampai 59 bulan
setiap bulan dan dicatat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) berturut-turut dalam 3
bulan terakhir. Penimbangan balita dimaksudkan untuk memantau pertumbuhan
balita setiap bulan dan mengetahui apakah balita berada pada kondisi gizi kurang
atau gizi buruk. Setelah balita ditimbang di buku KIA atau KMS maka akan
terlihat berat badannya naik atau tidak turun. Naik apabila garis pertumbuhannya
naik mengikuti salah satu pita warna di atasnya. Tidak naik bila garis
pertumbuhannya mendatar dan garis pertumbuhannya naik tetapi warna yang lebih
muda. Bila balita mengalami gizi kurang maka akan dijumpai tanda tanda:
1. Berat badan tidak naik selama 3 bulan berturut turut, badannya kurus
2. Mudah sakit
3. Tampak lesu dan lemah
4. Mudah menagis dan rewel

4. Mencuci tangan dengan air dan sabun


Adalah tindakan membersihkan tangan dengan air bersih yang mengalir
dan memakai sabun untuk membersihkan kotoran/ membunuh kuman serta
mencegah penularan penyakit. Misalnya: mencuci tangan sebelum menyiapkan
makanan dan minuman, mencuci tangan sesudah buang air besar dengan sabun,
karena sabun dapat membersihkan kotoran dan membunuh kuman, karena tanpa
sabun kotoran dan kuman akan masih tertinggal.

Waktu yang tepat untuk mencuci tangan:


1. Setia kali tangan kita kotor ( setelah memegang uang , binatang dan
berkebun )
2. Setelah buang air besar
3. Setelah membersihkan kotoran bayi
4. Sebelum memegang makanan
5. Sebelum makan dan menyuapi makanan
6. Sebelum menyusui bayi
7. Sebelum menyuapi anak
8. Setelah bersin, batuk dan membuang ingus
Cara mencuci tangan yang benar adalah sebagai berikut:
1. Cuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun khusus anti bakteri
2. Gosok tangan setidaknya selama 15 20 detik
3. Bersihkan bagian pergelangan tangan, punggung tangan, sela sela jari dan
kuku
4. Basuh tangan sampai bersih dengan air mengalir
5. Keringkan dengan handuk bersih dan alat pengering
6. Gunakan tisu atau handuk sebagai penghalang ketika mematikan kran air.

5. Menggunakan air bersih


Air adalah sangat peting bagi kehidupan manusia. Manusia akan lebih
cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan. Di dalam
tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air, untuk anank anak
sekitar 65%, dan untuk bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan air sangat
kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci ( bermacam macam
cucian ).
Air yang kita pergunakan sehari-hari untuk minum, memasak, mandi, berkumur,
membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur, mencuci pakaian, membersihkan
bahan makanan haruslah bersih agar tidak terkena penyakit atau terhindar dari
penyakit. Air bersih secara fisik dapat dibedakan melalui indra kita, antara lain
(dapat dilihat, dirasa, dicium dan diraba). Meski terlihat bersih, air belum tentu

bebas kuman penyakit. Kuman penyakit dalam air mati pada suhu 100 derajat C
(saat mendidih).
Syarat syarat air minum yang sehat agar air inum itu tidak menyebabkan
penyakit, maka air itu hendaknya memenuhi persyaratan kesehatan sebagai
berikut:
a. Syarat fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening ( tidak
berwarna), tidak berasa, suhu di bawah suhu udara di luarnya, cara mengenal air
yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.
b. Syarat bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri.
Terutama bakteri pathogen. Cara ini untuk mengetahui apakah air minum
terkontaminasi oleh bakteri pathogen, adalah dengan memeriksa sampel air
tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E.
Coli maka air tersebut sudahmemenuhi kesehatan
c. Syarat kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat zat tertentu dalam jumlah
yang tertentu pula.

6. Menggunakan jamban sehat


Adalah rumah tangga atau keluarga yang menggunakan jamban/ WC
dengan tangki septic atau lubang penampung kotoran sebagai pembuangan akhir.
Misalnya buang air besar di jamban dan membuang tinja bayi secara benar.
Penggunaan jamban akan bermanfaat untuk menjaga lingkungan bersih, sehat dan
tidak berbau. Jamban mencegah pecemaran sumber air yang ada disekitarnya.
Jamban yang sehat juga memiliki syarat seperti tidak mencemari sumber air, tidak
berbau, mudah dibersihkan dan penerangan dan ventilasi yang cukup.

7. Rumah bebas jentik


Adalah melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk dirumah satu kali
seminggu agar tidak terdapat jentik nyamuk pada tempat-tempat penampungan air,

vas bunga, pot bunga/ alas pot bunga, wadah penampungan air dispenser, wadah
pembuangan air kulkas dan barang-barang bekas/ tempat-tempat yang bisa
menampung air. Pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M (menguras.
Menutup dan mengubur plus menghindari gigitan nyamuk)

8. Makan buah dan sayur setiap hari


Pilihan buah dan sayur yang bebas peptisida dan zat berbahaya lainnya.
Biasanya cirri-ciri sayur dan buah yang baik ada sedikit lubang bekas dimakan
ulat dan tetap segar. Adalah anggota keluarga umur 10 tahun keatas yang
mengkonsumsi minimal 3 porsi buah dan 2 porsi sayuran atau sebaliknya setiap
hari.

9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari


Adalah anggota rumah tangga umur 10 tahun keatas melakukan aktivitas
fisik 30 menit setiap hari misalnya jalan, lari, senam dan sebagainya. Aktifitas
fisik dilakukan secara teratur paling sedikit 30 menit dalam sehari , sehingga dapat
menyehatkan jantung, paru-paru alat tubuh lainnya. Lakukan aktifitas fisik
sebelum makan atau 2 jam sesudah makan.

10. Tidak merokok di dalam rumah


Adalah anggota rumah tangga tidak merokok di dalam rumah. Tidak boleh
merokok di dalam rumah dimaksudkan agar tidak menjadikan anggota keluarga
lainnya sebagai perokok pasif yang berbahaya bagi kesehatan. Karena dalam satu
batang rokok yang dihisap akan dikeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya
seperti nikotin, tar dan carbonmonoksida (CO).
2. Sasaran Sekunder (secondary target)
Sasaran sekunder adalah para pemuka masyarakat, baik pemuka
informal (misalnya pemuka adat, pemuka agama dan lain-lain) maupun
pemuka formal (misalnya petugas kesehatan, pejabat pemerintahan dan
lain-lain), organisasi kemasyarakatan dan media massa. Mereka

diharapkan dapat turut serta dalam upaya meningkatkan PHBS pasien,


individu sehat dan keluarga (rumah tangga) dengan cara:
-

Berperan sebagai panutan dalam mempraktikkan PHBS.

Turut

menyebarluaskan

informasi

tentang

PHBS

dan

menciptakan suasana yang kondusif bagi PHBS.


-

Berperan sebagai kelompok penekan (pressure group) guna


mempercepat terbentuknya PHBS.

3. Sasaran Tersier
Sasaran tersier adalah para pembuat kebijakan publik yang
berupa peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan dan bidangbidang lain yang berkaitan serta mereka yang dapat memfasilitasi atau
menyediakan sumber daya. Mereka diharapkan turut serta dalam upaya
meningkatkan PHBS pasien, individu sehat dan keluarga (rumah
tangga) dengan cara:
a. Memberlakukan kebijakan/peraturan perundangundangan yang
tidak merugikan kesehatan masyarakat dan bahkan mendukung
terciptanya PHBS dan kesehatan masyarakat.
b. Membantu menyediakan sumber daya (dana, sarana dan lainlain) yang dapat mempercepat terciptanya PHBS di kalangan
pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) pada
khususnya serta masyarakat luas pada umumnya.
C. Contoh Program Preventif dan Promotif
1. Program JKN ( Jaminan Kesehatan Nasioal )
Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah sebuah sistem jaminan
sosial yang ditetapkan di Indonesia dalam Undang-Undang nomor 40
tahun 2004. Jaminan sosial ini adalah salah satu bentuk perlindungan
sosial yang diselenggarakan oleh negara Republik Indonesia guna
menjamin warganegaranya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar yang
layak, sebagaimana dalam deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948 dan
konvensi ILO No.102 tahun 1952.
2. BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan)

BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan)


merupakan Badan Usaha Milik Negara yang ditugaskan khusus oleh
pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi
seluruh rakyatIndonesia, terutama untuk Pegawai Negeri Sipil, Penerima
Pensiun PNS dan TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta
keluarganya dan Badan Usaha lainnya ataupun rakyat biasa. BPJS
Kesehatan bersama BPJS Ketenagakerjaan (dahulu bernama Jamsostek)
merupakan program pemerintah dalam kesatuan Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) yang diresmikan pada tanggal 31 Desember 2013. Untuk
BPJS

Kesehatan

mulai

beroperasi

sejak

tanggal 1

Januari 2014, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi sejak 1


Juli 2014.
C. TUGAS DAN LATIHAN
1. Menurut Levey dan Loomba (1973) palayanan kesehatan adalah
a. Sub system pelayan kesehatan yang tujuan utamanya adalah preventif
(pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran
masyarakat.
b. Upaya yang diselenggarakan sendiri/secara bersama-sama dalam suatu
organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah,
dan

menyambuhakan

penyakit

serta

memulihkan

kesehatan

perorangan, keluarga, kelompok, atau masyarakat.


c. Sub sistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah promotif
(memelihara dan meningkatkan kesehatan), preventif ( pencegahan),
kuratif (penyembuhan), dan rehabilitasi (pemulihan) kesehatan
perorangan, keluarga, kelompok atau masyarakat, lingkungan.
d. Sub system pelayan kesehatan yang tujuan utamanya adalah preventif
(pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran
utama adalah perawat.
e. Sub system pelayan kesehatan yang tujuan utamanya adalah preventif
(pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran
utama adalah dokter.
2. Proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatan merupakan pengertian promosi kesehatan
menurut
a. UNICEF

b. WHO
c. ILO
d. Kementerian Kesehatan RI
e. UU Kesehatan RI tahun 1999
3. Usaha mempromosikan kesehatan kepada masyarakat dengan tujuan untuk
meningkatkan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
merupakan
a. Upaya Promotif
b. Upaya Preventif
c. Upaya Kuratif
d. Upaya Rehabilitatif
e. Upaya Sosiaisasi
4. Preventif berasal dari bahasa lain yaitu pravenire yang artinya
a. Penanggulangan suatu penyebab penyakit
b. Penindaklanjutan pengobatan
c. Upaya pemulihan
d. Upaya pengobatan
e. Datang sebelum atau antisipasi atau mencegah untuk tidak terjadi
sesuatu
5. Sasarannya utama dari upaya promotif adalah
a. Kelompok orang sakit
b. Keluarga pasien yang sakit
c. Kelompok orang sehat
d. Kelompok pejabat
e. Masyarakat pelosok
6. Pemberian Vitamin A, Yodium melalui posyandu, puskesmas, maupun
dirumah merupakan udaha dari tindakan
a. Promotif
b. Kuratif
c. Rehabilitative
d. Preventif
e. Sosialisasi kesehatan
7. Macam-macam pelayanan preventif kecuali
a. Peningkatan gaya hidup sehat (Reducing Vulnerability of Spesific Pop)
b. Memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS
c. Memahami penyakit HIV AIDS, bahaya dan pencegahannya.
d. Memahami penyakit IMS, bahaya dan cara pencegahannya.
e. Diadakannya konseling tentang HIV AIDS pada pekerja secara
sukarela dan tidak dipaksa
8. Pengobatan pada kasus gizi buruk merpakan suatu upaya tindakan kuratif

a.
b.
c.
d.

Tingkat balita
Tingka ibu hamil
Tingkat bayi
Tingkat usila

e. Tingkat remaja
9. Macam-macam tindakan promotif kecuali
a. Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kuantitasnya.
b. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat sesuai kebutuhannya
c. Meningkatkan KIE tentang HIV AIDS.
d. Promosi Perilaku Seksual Aman (Promotng Safer Sexual Behavior).
e. Memberikan obat kepada pasien yang sakit
10. Sasaran sekunder dalam upaya promosi kesehatan adalah
a. Para pemuka masyarakat
b. Masyarakat
c. Puskesmas
d. Rumah sakit
e. posyandu
D. PENUTUP
1. RANGKUMAN
Promosi kesehatan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu health
promotion. Sesungguhnya, penerjemahan kata health promotion atau tepatnya
promotion of health ke dalam bahasa Indonesia pertama kali dilakukan ketika
para ahli kesehatan masyarakat di Indonesia menerjemahkan lima tingkatan
pencegahan (five levels of prepention) dari H.R.Leavell dan E. G. Clark dalam
buku preventif medicine for the doctor in his community. Menurut leavell dan
clark (1965), dari sudut pandang kesehatan masyarakat, terdapat 5 tingkat
pencegahan terhadap penyakit, yaitu : 1.promotion of healt 2.specifik
protection 3.early diagnosis and prompt treatment 4.limitation of disability
dan 5.rehablitation. Upaya kesehatan secara garis besar, dapat dibagi menjadi
4, yaitu: upaya kesehatan promotif, upaya kesehatan preventif, upaya
kesehatan kuratif, dan upaya kesehatan rehabilitatif.
1. Upaya Promotif
adalah usaha mempromosikan kesehatan kepada masyarakat. Upaya
promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat. Setiap individu berhak untuk menentukan nasib
sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk berperan di segala
aspek pemeliharaan kesehatannya. Usaha ini merupakan pelayanan
terhadap pemeliharaan kesehatan pada umumnya.
2. Upaya preventif
adalah sebuah usaha yang dilakukan individu dalam mencegah terjadinya
sesuatu yang tidak diinginkan. Prevensi secara etimologi berasal dari

bahasa latin, pravenire yang artinya datang sebelum atau antisipasi atau
mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Upaya pencegahan menurut teori
Leavel dan Clark (Maulana, 2009) dibedakan menjadi 3 yaitu: pencegahan
primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
3. Upaya kuratif
adalah upaya promosi kesehatan untuk mencegah penyakit menjadi lebih
parah melalui pengobatan. Sasarannya adalah kelompok orang sakit
(pasien) terutama penyakit kronis sperti asma, DM, TBC, rematik,
hipertensi dan sebagainya. Tujuannya kelompok ini mampu mencegah
penyakit tersebut tidak lebih parah (secondary prevention). Bentuk
kegiatannya adalah pengobatan. Upaya kuratif pada umumnya dilakukan
terhadap sasaran secara individual, kontak terhadap sasaran (pasien) pada
umumnya hanya sekali saja. Jarak antara petugas kesehatan (dokter,
perawat, bidan, dan sebagainya) dengan pasien atau sasaran cenderung
jauh.
4. Upaya Rehabilitatif
adalah upaya promosi kesehatan untuk memelihara dan memulihkan
kondisi/ mencegah kecacatan. Sasarannya adalah kelompok orang yang
baru sembuh dari penyakit. Tujuannya adalah pemulihan dan pencegahan
kecacatan (tertiary prevention). Rehabilitasi ini terdiri atas :
a. Rehabilitasi fisik
e. Rehabilitasi mental
f. Rehabilitasi social vokasional
g. Rehabilitasi aesthetis
Berdasarklan pentahapan upaya promosi kesehatan, maka sasaran dibagi
dalam tiga kelompok sasaran, yaitu :
1. Sasaran Primer
Sasaran primer (utama) upaya promosi kesehatan sesungguhnya
adalah pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai
komponen dari masyarakat.
2. Sasaran Sekunder (secondary target)
Sasaran sekunder adalah para pemuka masyarakat, baik pemuka
informal (misalnya pemuka adat, pemuka agama dan lain-lain)
maupun pemuka formal (misalnya petugas kesehatan, pejabat

pemerintahan dan lain-lain), organisasi kemasyarakatan dan media


massa.
3. Sasaran Tersier
Sasaran tersier adalah para pembuat kebijakan publik yang berupa
peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan dan bidangbidang lain yang berkaitan serta mereka yang dapat memfasilitasi
atau menyediakan sumber daya.
Contoh Program Preventif dan Promotif
1. Program JKN ( Jaminan Kesehatan Nasioal )
2. BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan)
2. TES AKHIR BAB
Soal dan Kunci Jawaban
i. Menurut Levey dan Loomba (1973) palayanan kesehatan
adalah
a. Sub system pelayan kesehatan yang tujuan utamanya adalah
preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan)
dengan sasaran masyarakat.
b. Upaya yang diselenggarakan sendiri/secara bersama-sama
dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah, dan menyambuhakan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, atau
masyarakat.
c. Sub sistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah
promotif (memelihara dan meningkatkan kesehatan), preventif
(

pencegahan),

kuratif

(penyembuhan),

dan

rehabilitasi

(pemulihan) kesehatan perorangan, keluarga, kelompok atau


masyarakat, lingkungan.
d. Sub system pelayan kesehatan yang tujuan utamanya adalah
preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan)
dengan sasaran utama adalah perawat.
e. Sub system pelayan kesehatan yang tujuan utamanya adalah
preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan)
dengan sasaran utama adalah dokter.

ii. Proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam


memelihara
a.
b.
c.
d.
e.

dan

meningkatkan

kesehatan

merupakan

pengertian promosi kesehatan menurut


UNICEF
WHO
ILO
Kementerian Kesehatan RI
UU Kesehatan RI tahun 1999
iii. Usaha mempromosikan kesehatan kepada masyarakat dengan
tujuan untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga,

a.
b.
c.
d.
e.

a.
b.
c.
d.
e.

a.
b.
c.
d.
e.

kelompok dan masyarakat merupakan


Upaya Promotif
Upaya Preventif
Upaya Kuratif
Upaya Rehabilitatif
Upaya Sosiaisasi
iv. Preventif berasal dari bahasa lain yaitu pravenire yang artinya

Penanggulangan suatu penyebab penyakit


Penindaklanjutan pengobatan
Upaya pemulihan
Upaya pengobatan
Datang sebelum atau antisipasi atau mencegah untuk tidak
terjadi sesuatu
v. Sasarannya utama dari upaya promotif adalah
Kelompok orang sakit
Keluarga pasien yang sakit
Kelompok orang sehat
Kelompok pejabat
Masyarakat pelosok
vi. Pemberian Vitamin A, Yodium melalui posyandu, puskesmas,

maupun dirumah merupakan udaha dari tindakan


Promotif
Kuratif
Rehabilitative
Preventif
Sosialisasi kesehatan
vii. Macam-macam pelayanan preventif kecuali
a. Peningkatan gaya hidup sehat (Reducing Vulnerability of Spesific
a.
b.
c.
d.
e.

Pop)
b. Memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS
c. Memahami penyakit HIV AIDS, bahaya dan pencegahannya.
d. Memahami penyakit IMS, bahaya dan cara pencegahannya.

e. Diadakannya konseling tentang HIV AIDS pada pekerja secara


sukarela dan tidak dipaksa
viii. Pengobatan pada kasus gizi buruk merpakan suatu upaya
a.
b.
c.
d.
e.
a.
b.

c.
d.
e.
a.
b.
c.
d.
e.

tindakan kuratif
Tingkat balita
Tingka ibu hamil
Tingkat bayi
Tingkat usila
Tingkat remaja
ix. Macam-macam tindakan promotif kecuali
Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kuantitasnya.
Pendidikan kesehatan kepada masyarakat sesuai kebutuhannya
Meningkatkan KIE tentang HIV AIDS.
Promosi Perilaku Seksual Aman (Promotng Safer Sexual
Behavior).
Memberikan obat kepada pasien yang sakit
x. Sasaran sekunder dalam upaya promosi kesehatan adalah
Para pemuka masyarakat
Masyarakat
Puskesmas
Rumah sakit
Posyandu

Kunci Jawaban
1) B
2) B
3) A
4) E
5) C
6) D
7) B
8) C
9) E
10) A

E. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2014. Mencari Contoh Program Preventif. From:

http://www.academia.edu/9257408/TUGAS_Mencari_Contoh_Program_P
refentif (online.available), diakses pada Senin, 27 April 2015 pukul 19.56
wita
Anonim, 2014. Upaya Promkes. From:
http://www.academia.edu/10082175/Makalah_Upaya_promkes
(online.available), diakses pada Senin, 27 April 2015 pukul 19.45 wita
Anonim. SKK PHBS di Tempat Umum. Diambil dari :
https://sbhkendari.wordpress.com/materi-sbh/krida-bina-phbs/skk-phbs-ditempat-umum/ Diakses tanggal 15 Mei 2015 pukul 11.32 WITA
Asni

Lina,

2012.

Indikator

PHBS

di

Rumah

Tangga

(online)

https://www.scribd.com/doc/253036045/Indikator-PHBS-Di-RumahTangga
Diakses tanggal 15 Mei 2015 pukul 11.43 WITA
Author. 2014. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tatanan Rumah Tangga. (Online).
Available. http://dinkes.tabalongkab.go.id/2014/12/perilaku-hidup-bersihdan-sehat-tatanan-rumah-tangga-phbs/ Diakses tanggal 15 Mei 2015 pukul
11.35 WITA
Isom, 2012. Upaya Promotif Preventif Kuratif dan Rehabilitatif. From:
http://www.isomwebs.net/2012/09/upaya-promotif-preventif-kuratif-danrehabilitatif/ (online.available) diakses pada Selasa, 28 April 2015 pukul
17.20 WITA
Kristia, Ike. Perilaku Hidup Sehat di Tatanan Sekolah. Online : Available
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/130/jtptunimus-gdl-ikekristia-64943-babiip-s.pdf Diakses tanggal 15 Mei 2015 pukul 11.42 WITA

Lestari

Widhia,

2012.

Makalah

Upaya

Promotif

dan

Preventif.

http://widhialestari.blogspot.com/2012/09/makalah-upaya-promotif-danpreventif_25.html (online.available) diakses pada Selasa, 28 April 2015


pukul 17.10 WITA

Mitfah.

2010.

PHBS

di

Tempat

Kerja.

(Online).

Available.

http://drmiftah.blogspot.com/2010/01/phbs-di-tempat-kerja.html. Diakses
tanggal 15 Mei 2015 pukul 11.39 WITA
Notoatmojo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : PT.
Rineke Cipta.
Okti Oktaviani, 2013. Makalah Promosi Kesehatan. From:
http://oktioktaviani36.blogspot.com/2013/05/makalah-promosikesehatan.html (online.available), diakses pada Senin, 27 April 2015 pukul
19.17 wita
Prasetyo, Erwin Edhi dan Widjianto, Thomas Pudjo. 2012. Papua Kurang Ribuan
Bidan. Kompas.
Ubay

Ummi,

2011.

Makalah

Upaya

Promotif

dan

Preventif.

From:

http://ummiubay.blogspot.com/2011/11/makalah-upaya-promotif-danpreventif.html (online.available) diakses pada Selasa, 28 April 2015 pukul


17.00 WITA
Widyastuti, Yuni dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Fitramaya.
Yuni Via, 2013. Promotif Preventif Kuratif Kuratif Rehabilitatif. From:
http://yunivia88.blogspot.com/2013/05/promotif-preventif-kuratifrehabilitatif.html (online.available), diakses pada Senin, 27 April 2015
pukul 19.30 wita