Anda di halaman 1dari 25

STUDI KASUS HUKUM PERIKATAN

PT GORBY PUTRA UTAMA DAN PT KURNIA SENTOSA ENERGI


(Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Hukum Perdata)

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur marilah kita haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan

rahmat,

taufik,

hidayah,

dan

inayah-Nya,

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan tugas karya tulis Hukum Perdata dengan judul Studi Kasus Hukum
Perikatan PT Gorby Putra Utama dan PT Kurnia Sentosa Energi. Karya tulis ini berisi
tentang keterkaitan kasus dengan Undang-Undang Hukum Perdata beserta analisis
kasusnya. Karya tulis ini dapat kami selesaikan berkat bantuan beberapa pihak yang tidak
dapat kami sebutkan satu-persatu, termasuk Bapak Totok selaku dosen pengampu
matakuliah Hukum Perdata serta teman-teman yang telah membantu dalam pembuatan.
Kami sadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
kami mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi perbaikan pembuatan
karya tulis dikemudian hari. Semoga karya tulis ini dapat memberi manfaat bagi para
pembaca. Amin.

DAFTAR ISI

Contents
STUDI KASUS HUKUM PERIKATAN...........................................................................1
KATA PENGANTAR................................................................................................... 2
DAFTAR ISI............................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. 4
1.1

Latar Belakang............................................................................................. 4

1.2

Rumusan Masalah........................................................................................ 4

1.3

Tujuan Penulisan.......................................................................................... 5

1.4

Manfaat Penulisan........................................................................................ 5

1.5

Metode Penulisan......................................................................................... 5

1.6

Sistematika Pembahasan..............................................................................6

BAB II PEMBAHASAN............................................................................................... 7
2.1

Landasan Teori di dalam Undang-Undang Hukum Perdata.................................7

2.1.1

Pengertian Perikatan..............................................................................7

2.1.2

Sumber Hukum Perikatan.......................................................................7

2.1.3

Macam-macam Perikatan........................................................................8

2.1.4

Asas-Asas Hukum Perikatan...................................................................9

2.1.5

Hapusnya Perikatan.............................................................................11

2.1.6

Wanprestasi........................................................................................ 14

2.2

Analisis Kasus........................................................................................... 15

2.2.1
Penjelasan mengenai PT GPU (Gorby Putra Utama) dan PT SKE (Sentosa
Kurnia Energi................................................................................................... 15
2.2.2

Kronologi Kasus................................................................................... 16

2.2.3

Penyelesaian Kasus.............................................................................18

BAB III PENUTUP................................................................................................... 24


3.1

Kesimpulan............................................................................................... 24

3.2

Saran....................................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 25

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Terjadinya prestasi, wanprestasi, keadaan memaksa, fidusia, dan tanggungan
bisa terjadi dikarenakan adanya hukum perikatan. Hukum tersebut memiliki pengertian
menurut buku III BW adalah suatu hubungan hukum (mengenai kekayaan harta
benda) antar dua orang (pihak pertama dan pihak kedua) , yang memberi hak pada
pihak pertama untuk menuntut barang sesuatu dari pihak kedua, sedangkan pihak
kedua diwajibkan untuk memenuhi tuntutan itu. Menurut Pasal 1234 BW, prestasi
dapat berupa memberi sesuatu, berbuat sesuatu dan tidak berbuat sesuatu.
Sedangkan wanprestasi biasa terjadi di dalam sebuah perikatan apabila suatu
perikatan tersebut didasari dengan niat Itikad buruk dari salah satu pihaknya.
Kasus wanprestasi, pelanggaran syarat-syarat atau ketentuan dalam sebuah
perikatan banyak terjadi di negara kita, untuk itu penulis mencoba membahas sebuah
kasus mengenai hukum perikatan yang terjadi wanprestasi di dalamnya,

yaitu

permasalahan antara PT. GPU (Gorby Putra Utama) dengan PT.SKE (Sentosa Kurnia
Energi) yang belum terselesaikan sampai sekarang, dengan maksud untuk
mengetahui apakah benar terjadi wanprestasi di dalam kasus ini, dan agar kita
mengetahui keadaan seperti apa yang dianggap wanprestasi.

1.2

Rumusan Masalah
1. Apa dasar

hukum/landasan teori berkaitan dengan Undang-undang

Hukum

Perdata yang digunakan untuk menyelesaikan kasus hukum perikatan tersebut ?


2. Bagaimana kronologi terjadinya kasus tersebut ?
3. Pihak mana sajakah yang terlibat di dalamnya ?
4. Bagaimanakah langkah-langkah yang ditempuh oleh pihak yang terlibat dalam
menyelesaikan kasus ini ?

1.3 Tujuan Penulisan


Penulisan ini memiliki beberapa tujuan, antara lain :
1. Mengetahui
dasar hukum atau landasan teori yang digunakan untuk
menyelesaikan masalah atau kasus antara PT GPU dan PT SKE
2. Mengetahui kronologi terjadinya kasus antara PT GPU dengan PT SKE dari awal
hingga akhir penyelesaian perkara
3. Mengetahui pihak yang terlibat dalam kasus hukum perikatan ini
4. Mengetahui langkah langkah yang ditempuh pihak yang terlibat dalam
menyelesaikan kasus ini.

1.4 Manfaat Penulisan


Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat berupa :
1. Penulis mendapat penilaian yang baik dari pembuatan karya tulis ini sebagai
pemenuhan tugas mata kuliah Hukum Perdata
2. Pembaca dapat menjadikan sebagai bahan referensi dalam pembuatan makalah
atau karya tulis ilimiah lain yang behubungan dengan hukum perikatan yang
sejenis.

1.5 Metode Penulisan


Dalam pengumpulan data, penulis melakukan pengumpulan data-data yang
relevan dengan pokok bahasan. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data
adalah sebagai berikut:
1. Studi Literatur
Penelitian dilakukan dengan membaca buku-buku, literatur-literatur, peraturan
perundang-undangan, dan artikel-artikel yang relevan dengan pembahasan
untuk memperoleh pemahaman secara tertulis sebagai dasar pengumpulan data
dan analisis dalam melakukan evaluasi selanjutnya.
2. Focus group discussion
Penelitian ini juga dilakukan dengan melakukan diskusi dengan pihak yang
berkompeten

serta

anggota

kelompok

untuk

mendapatkan

pandangan-

pandangan mengenai kasus hukum yang kami bahas.

1.6 Sistematika Pembahasan


Untuk mempermudah pembaca dalam memahami serta memperoleh gambaran
secara menyeluruh mengenai isi penulisan, dibawah ini penulis sajikan secara ringkas
sistematika pembahasan yang terbagi atas tiga bab. Uraian singkat mengenai
pembahasan yang terdapat pada masing-masing bab tersebut adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini penulis akan menguraikan mengenai latar belakang penelitian,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penulisan serta
sistematika pembahasan mengenai kasus hukum perikatan. Melalui bab ini
diharapkan pembaca dapat memahami garis besar dan batasan penelitian.
BAB II PEMBAHASAN
Berisi tentang pembahasan dari data yang sudah diperoleh dan dikaitkan
dengan ilmu atau teori yang sudah ada.Jika ada kesesuaian dibahas lebih lanjut dan
dapat

pula

dimasukkan

pendapat

pribadi

yang

berkaitan

erat

dengan

tema/usulan/saran/gagasan/ide.
BAB III PENUTUP
Berisi tentang simpulan akhir dari pembahasan yang diperoleh mengenai
analisis kasus yang telah dilakukan. Selain itu, bab ini juga akan memberikan
saran/masukan-masukan positif mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kasus
tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Landasan Teori di dalam Undang-Undang Hukum Perdata


2.1.1 Pengertian Perikatan
Perikatan adalah terjemahan dari bahasa belanda verbintenis. Perikatan
menurut H. Riduan Syahrani adalah hubungan hukum antara dua pihak di dalam
lapangan harta kekayaan, fimana pihak yang satu (kreditur) berhak atas prestasi dan
pihak yang lain (debitur) berkewajiban memenuhi prestasi itu. Berdasarkan pengertian
perikatan di atas ini, dalam satu perikatan terdapat hak di satu pihak dan kewajiban
di pihak lain. Jadi, dalam perjanjian timbal-balik dimana hak dak kewajiban di satu
pihak saling berhadapan di pihak lain terdapat dua perikatan misalnya jual beli,
hutang-piutang, dapat pula berupa kejadian, seperti kelahiran, kematian, dan dapat
pula berupa keadaan, seperti pekarangan berdampingan dan rumah bersusun.
Subekti mengatakan yang dimaksud perikatan oleh Buku III BW itu adalah
Suatu hukum (mengenai kekayaan harta benda) antara dua orang, yang memberi hak
pada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya, sedangkan orang
yang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu. Ia menambahkan bahwa dalam
Buku III B.W itu isinya bersifat selalu berupa tuntut-menuntut, maka isi Buku III juga
dinamakan Hukum Perutangan. Pihak yang menuntut dinamakan pihak yang
berpiutang, sedangkan pihak yang wajib memenuhi tuntutan disebut sebagai pihak
yang berhutang. Adapun yang dapat dituntut dinamakan prestasi.
Prestasi yang dimaksudkan menurut Buku III Bab ke satu bagian ke satu pasal
(1234) KUH Perdata dapat berupa:
1.

Menyerahkan suatu barang

2.

Melakukan suatu perbuatan

3.

Tidak melakukan suatu perbuatan.

2.1.2 Sumber Hukum Perikatan


Menurut ketentuan Pasal 1233 BW perikatan bersumber dari perjanjian dan
undang-undang. Perikatan yang bersumber dari perjanjian diatur dalam titel II (Pasal
1313 s.d. 1351) dan titel V s.d XVIII (Pasal 1457 s.d. 1864) Buku III BW. Sedangkan
perikatan yang bersumber dari undang-undang diatur dalam titel III (Pasal 1352 s.d.
1380) Buku III BW.

Pada umumnya, para ahli hukum perdata sependapat bahwa sumber perikatan
sebagaimana disebut Pasal 1233 BW yaitu perjanjian dan undang-undang adalah
kurang lengkap. Sumber perikatan lainnya adalah Ilmu Pengetahuan Hukum Perdata,
hukum tidak tertulis dan keputusan hakim (yurisprudensi).

2.1.3 Macam-macam Perikatan


Bentuk perikatan yang paling sederhana ialah suatu perikatan yang masingmasing pihak hanya ada satu orang dan satu prestasi yang seketika juga dapat ditagih
pembayarannya. Disamping bentuk yang paling sederhana ini, menurut undangundang perikatan terdapat beberapa macam perikatan lain sebagai berikut:
a. Perikatan Bersyarat (Voorwaardelijk)
Perikatan bersyarat adalah suatu perikatan yang digantungkan pada suatu
kejadian dikemudian hari, yang masih belum tentu akan atau tidak terjadi.
Contoh misalnya: saya mengijinkan seorang mendiami rumah saya, dengan
ketentuan perjanjian itu akan berakhir bila secara mendadak saya diperhentikan
dari pekerjaan saya. Oleh undang undang ditetapkan, bahwa suatu perjanjian
sejak semula sudah batal jika ia mengandung suatu ikatan yang digantungkan
pada suatu syarat yang mengharuskan suatu pihak untuk melakukan suatu
perbuatan

yang

sama

sekali

tidak

mungkin

dilaksanakan

atau

yang

bertentangan dengan undang-undang atau kesusilaan. Dalam tiap perjanjian


yang

meletakkan

(wanprestasi)

selalu

kewajiban
dianggap

timbal-balik,
sebagai

kelalaian

suatu

syarat

salah

satu

pembatalan

pihak
yang

dicantumkan dalam perjanjian (pasal 1266)


b. Perikatan yang Digantungkan Pada Suatu Ketetapan Waktu (Tijdsbepaling)
Perbedaan antara suatu syarat dengan suatu ketetapan waktu ialah yang
pertama berupa suatu kejadian atau peristiwa yang belum tentu atau tidak akan
terlaksana, sedangkan yang kedua adalah suatu hal yang pasti akan datang,
meskipun mungkin belum dapat ditentukan kapan datangnya, misalnya
meninggalnya seseorang.
c. Perikatan yang Membolehkan Memilih (Alternatief)
Ini adalah suatu perikatan dimana terdapat dua atau lebih macam prestasi,
sedangkan kepada si berhutang diserahkan yang mana ia akan lakukan.
9

Misalnya, ia boleh memilih apakah ia akan memberikan kuda atau mobilnya atau
uang satu juta rupiah
d. Perikatan Tanggung-Menanggung (Hoofdelijk atau Solidair)
Suatu perikatan dimana beberapa orang bersama-sama sebagai pihak yang
berhutang berhadapan dengan satu orang yang menghutangkan, atau
sebaliknya. Beberapa orang sama-sama berhak menagih suatu piutang dari satu
orang, tetapi perikatan semacam ini sedikit sekali dalam praktek.
e. Perikatan yang Dapat Dibagi dan yang Tidak Dapat Dibagi
Suatu perikatan dapat dibagi atau tidak, tergantung pada kemungkinan tidaknya
membagi prestasi. Pada hakekatnya tergantung pula dari kehendak atau
maksud kedua belah pihak yang membuat suatu perjanjian. Persoalan tentang
dapat atau tidaknya dibagi suatu perikatan, barulah tampil kemuka, jika salah
satu pihak dalam perjanjian telah digantikan oleh beberapa orang lain. Hal mana
biasanya terjadi karena meninggalnya satu pihak yang menyebabkan ia
digantikan dalam segala hak-haknya oleh sekalian ahli warisnya.
f.

Perikatan dengan Penetapan Hukuman (Strafbeding)


Untuk mencegah jangan sampainya si berhutang dengan mudah saja melalaikan
kewajibannya, dalam praktek banyak dipakai perjanjian dimana si berhutang
dikenakan suatu hukuman, apabila ia tidak menepati kewajiabannya. Hukuman
ini biasanya ditetapkan dalam suatu jumlah uang tertentu yang sebenarnya
merupakan suatu pembayaran kerugian yang sejak semula sudah ditetapkan
sendiri oleh para pihak yang membuat perjanjian itu.

2.1.4 Asas-Asas Hukum Perikatan


Di dalam hukum perikatan, dikenal dengan tiga asas penting yaitu :
a. Asas Konsensualisme
Perkataan konsensualisme berasal dari perkataan lain consensus yang berarti
sepakat. Arti asas konsensualisme pada dasarnya perjanjian dan perikatan yang
timbul karenanya itu sudah dilahirkan sejak detik tercapainya kesepakatan.
Sedangkan asas konsensualisme sebagaimaa yang telah disimpulkan dalam

10

pasal 1320 ayat (1) KUHPerdata yang berbunyi: Untuk sahnya suatu perjanjian
diperlukan empat syarat :
1. Sepakat mereka yang mengikat dirinya
2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian
3. Suatu hal tertentu
4. Suatu sebab yang halal.
b. Asas Pacta Sunt Servanda
Ini berhubungan dengan akibat perjanjian. Hal ini dapat disimpulkan dalam pasal
1338 ayat (1) KUHPerdata yang berbunyi, Perjanjian yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang. Dalam perkembangannya, asas Pacta Sunt
Servanda diberi arti Pactum yang berarti sepakat tidak perlu dikuatkan dengan
sumpah dan tindakan formalitas lainnya. Sedangkan Nudus Pactum sudah
cukup dengan sepakat saja.
c. Asas Kebebasan Berkontrak
Dapat dianalisis dari ketetuan pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yang berbunyi,
Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka. Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan
suatu kebebasan kepada para pihak untuk :
1. Membuat atau tidak membuat perjanjian
2. Mengadaka perjanjian dengan siapapun
3. Menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya
4. Menenukan bentuknya perjanjian, yaitu tertulis dan lisan.
Disamping ketiga asas itu, di dalam lokakarya hukum perikatan yang
diselenggarakan oleh Badan Pembina Hukum Nasional, Departemen Kehakiman dar
tanggal 17-19 November 1985 telah berhasil dirumuskan delapan asas hukum
perikatan nasional, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Asas Kepercayaan
Asas Persamaan Hukum
Asas Keseimbangan
Asas Kepastian Hukum
Asas Moral
Asas Kepatuhan
Asas Kebiasaan, dan
Asas Perlindungan

2.1.5 Hapusnya Perikatan


Pasal 1381 KUH Perdata menyebutkan sepuluh cara hapusnya suatu perikatan.
Cara-cara tersebut adalah:

11

1. Pembayaran
2. Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau penitipan
3. Pembaharuan utang
4. Perjumpaan utang atau kompensasi
5. Percampuran utang
6. Pembebasan utang
7. Musnahnya barang yang terutang
8. Batal atau pembatalan
9. Berlakunya suatu syarat batal
10. Lewatnya waktu (Daluawarsa).
Sepuluh cara tersebut masih belum lengkap, karena masih ada cara-cara yang
tidak disebutkan berakhirnya suatu ketetapan waktu dalam suatu perjanjian atau
meninggalnya salah satu pihak dalam beberapa macam perjanjian, seperti
meninggalnya seorang pesero dalam suatu perjanjian firma dari pada umumnya dalam
perjanjian-perjanjian dimana prestasi hanya dapat dilaksanakan oleh debitur sendiri
dan tidak boleh oleh orang lain.
1.

Pembayaran.
Pembayaran

dimaksudkan

sebagai

pemenuhan

perjanjian

secara

sukarela.Pihak Yang wajib membayar suatu utang, bukan saja yang berutang, tetapi
juga seorang penanggung utang. Dalam pasal 1332 KUHPer diterangkan bahwa suatu
perikatan dapat dipenuhi juga oleh seorang pihak ketiga yang tidak mempunyai
kepentingan, jika pihak ketiga tersebut bertindak atas nama dan untuk melunasi
utangnya si berutang, atau jika ia bertindak atas namanya sendiri, ia tidak
menggantikan hak-hak si berpiutang.
2.

Penawaran pembayaran tunai diikuti oleh penyimpanan atau penitipan

Merupakan cara pembayaran yang harus dilakukan apabila si berpiutang (kreditur)


menolak pembayaran. Cara itu adalah sebagai berikut :
a. Barang atau uang yang akan dibayarkan, ditawarkan secara resmi oleh seorang
notaris atau seorang juru sita pengadilan kepada kreditur atas nama debitur,
pembayaran akan dilakukan dengan menyerahkan (membayarkan) barang atau
uang yang telah diperinci.
b. Apabila kreditur menerima barang atau uang yang ditawarkan, selesailah
perkara pembayaran tersebut.
c. Apabila kreditur menolak, notaris/juru sita akan mempersilahkan kreditur
menandatangani proses perbal. Dengan demikian ada bukti yang resmi bahwa si
berpiutang telah menolak pembayaran.

12

d. Langkah berikutnya: Debitur memberikan permohonan kepada Pengadilan


Negeri supaya pengadilan mengesahkan penawaran pembayaran yang telah
dilakukan.
e. Setelah itu, barang atau uang yang akan dibayarkan, disimpan atau dititipkan
kepada Panitera Pengadilan Negeri yang berarti

utang piutang itu sudah

dihapuskan. Barang atau uang tersebut disimpan oleh Kepaniteraan Pengadilan


Negeri atas tanggungan (resiko) si berpiutang. Si berpiutang sudah bebas dari
utangnya. Segala biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan penawaran
pembayaran tunai dan penyimpanan, harus dipikul oleh si berutang.
3.

Pembaharuan utang atau Novasi


Menurut pasal 1413 KUHPer, ada 3 cara untuk melakukan pembaharuan utang

atau novasi, yaitu:


a. Apabila seorang yang berutang membuat perikatan utang baru yang
diperuntukan bagi orang yang menghutangkannya untuk menghapuskan utang
yang lama. Disebut dengan novasi objektif karena yang diperbaharui adalah
objeknya perjanjian.
b. Apabila seorang yang berutang ditunjuk untuk menggantikan utang orang
lain,sehingga pihak yang berpiutang membebaskan orang tersebut dari
perikatannya. Disebut novasi subjektif passif karena yang diganti adalah
debiturnya
c. Apabila terdapat suatu perjanjian, seorang kreditur baru ditunjuk untuk
menggantikan kreditur lama, maka pihak yang berutang dibebaskan dari
perikatannya. Disebut sebagai novasi subjektif aktif karena yang diganti adalah
krediturnya.

4.

Perjumpaan utang
Merupakan cara penghapusan utang dengan cara memperhitungkan utang

piutang secara timbal balik antara kreditur dan debitur. Jika dua orang saling berutang
satu pada yang lain, terjadilah suatu perjumpaan di antara mereka. Sehingga utangutang antara kedua orang tersebut dihapuskan.
5.

Pencampuran utang

13

Apabila seorang yang berpiutang (kreditur) dan orang yang berutang (debitur)
bersatu ke dalam satu ikatan, terjadilah hukum pencampuran utang yang
menyebabkan

utang-piutang itu dihapuskan. Misalnya, seorang debitur menikah

dengan krediturnya dalam suatu persatuan harta perkawinan.


6.

Pembebasan utang
Apabila pihak yang berpiutang dengan tegas menyatakan tidak mengakui lagi

prestasi dari pihak yang berutang dan melepaskan haknya atas pembayaran atau
pemenuhan perjanjian, maka perikatan yaitu hubungan utang piutangdihapuskan.
7.

Musnahnya barang yang terutang


Musnahnya barang yang terutang Jika barang yang menjadi objek perjanjian

musnah, tak lagi dapat diperdagangkan, atau hilang,hingga sama sekali tidak
diketahui apakah barang itu masih ada, maka hapuslah perikatannya, asal barang tadi
musnah atau hilang di luar kesalahan si berutang dan sebelum ia lalai
menyerahkannya.
8.

Batal/pembatalan
Perjanjian yang kekurangan syarat objektifnya (sepakat atau kecakapan) dapat

dimintakan pembatalan oleh orang tua atau wali dari pihak yang tidak cakap itu atau
oleh pihak yang memberikan perizinannya secara tidak bebas karena terdapat
paksaan atau karena khilaf atau ditipu.

Pembatalan perjanjian dapat dilakukan

dengan dua cara:


a. Pertama, secara aktif menuntut pembatalan perjanjian di depan hakim.
b. Kedua, secara pembelaan, yaitu menunggu sampai digugat di depan hakim
untuk memenuhi perjanjian dan di situlah baru mengajukan kekurangan
perjanjian itu.
9.

Berlakunya syarat batal


Syarat batal adalah suatu syarat yang apabila terpenuhi, menghentikan

perjanjian dan membawa segala sesuatu kembali pada keadaan semula seolah-olah
tidak pernah terjadi perjanjian. Dengan begitu, syarat batal itu mewajibkan si berutang
untuk mengembalikan apa yang telah diterimanya.

14

10.

Lewat waktu (Daluwarsa)


Menurut pasal 1946 KUHPerdata, yang dinamakan daluwarsa atau lewat waktu

ialah upaya untuk memperoleh sesuatu atau untuk dibebaskan dari suatu perikatan
dengan lewatnya suatu waktu tertentu dan atas syarat-syarat yang ditentukan oleh
undang-undang.Menurut pasal 1967, segala tuntutan hukum, baik yang bersifat
kebendaan, maupun yang bersifat perseorangan hapus karena daluwarsa apabila
telah lewat waktunya tiga puluh tahun.

2.1.6 Wanprestasi
Prestasi adalah suatu yang wajib harus dipenuhi oleh debitur dalam setiap
perikatan.Prestasi merupakan isi daripada perikatan. Apabila debitur tidak memenuhi
prestasi sebagaimana yang telah ditentukan dalam perjanjian, ia dikatakan
wanprestasi (kelalaian).
Wanprestasi seorang debitur dapat berupa 4 macam, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Sama sekali tidak memenuhi prestasi


Tidak tunai memenuhi prestasi
Terlambat memenuhi prestasi
Keliru memenuhi prestasi
Wanprestasi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan somasi.seorang

debitur baru dikatakan wanprestasi apabila ia telah diberi somasi oleh kreditur
sebanyak tiga kali. Apabila setelah diberi somasi tidak diindahkan, maka kreditur
berhak membawa persoalan itu ke pengadilan, dan pengadilanlah yang akan
memutuskan apakah debitur wanprestasi atau tidak.
Tidak dipenuhinya kewajiban oleh debitur karena disebabkan oleh dua
kemungkinan alasan, yang pertama adalah karena kesalahan debitur, baik dengan
sengaja tidak dipenuhi kewajiban maupun kareana kelalaian.Yang kedua karena
keadaan memaksa (overmacht), jadi diluar kemampuan debitur.Debitur tidak bersalah
melakukan wanprestasi, perlu ditentukan dalam keadaan bagaimana debitur dikatakan
sengaja atau lalai tidak memenuhi prestasi.
Adapun beberapa akibat hukum bagi Debitur yang telah melakukan wanprestasi
adalah hukuman atau sanksi hukum sebaimana berikut:
a. Debitur diwajibkan membayar ganti kerugian yang diderita oleh kreditur (pasal
1243 KUHPerdata)
15

b. Apabila perikatan itu timbal balik, kreditur dapat menuntut pemutusan atau
pembatalan perikatan melalui hakim (pasal 1266 KUHPerdata)
c. Dalam perikatan untuk memberikan sesuatu, resiko beralih kepada Debitur sejak
terjadi wanprestasi (pasal 1273 ayat 2 KUHPerdata)
d. Debitur diwajibkan memenuhi perikatan jika masih dapat dilakukan atau
pembatalan disertai pembayaran ganti-kerugian (pasal 1267 KUHPerdata)
e. Debitur wajib membayar biaya perkara jika diperkarakan dimuka pengadilan
negeri dan Debitur dinyatakan bersalah.

2.2

Analisis Kasus
2.2.1 Penjelasan mengenai PT GPU (Gorby Putra Utama) dan PT SKE (Sentosa
Kurnia Energi
PT Gorby Putra Utama merupakan anak perusahaan dari PT Atlas yang
bergerak di bidang pertambangan batu bara di Kabupaten Musi Rawas (Mura). Selain
bergerak dibidang pertambangan batu bara, PT GPU juga mempunyai usaha
sampingan yaitu penyediaan peralatan kebutuhan perkebunan. Sedangkan PT
Sentosa Kurnia Energi merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang
pengelolaan perkebunan kelapa sawit dalam wilayah hukum kabupaten Musi
Banyuasin (Muba). Kerja sama antara kedua perusahaan ternama ini dimulai sejak
tahun 2011 dengan wujud PT SKE yang melakukan pembelian peralatan perkebunan
kepada PT GPU.
Pada mulanya, hubungan kerja sama antara keduanya terjalin dengan baik.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu muncullah beberapa permasalahan yang
membuat salah satu pihaknya merasa dirugikan. Berawal dari permasalahan lahan
yang timbul dan tak kunjung mereda maka muncul masalah-masalah lainnya yang
menjadikan hubungan antara keduanya semakin memburuk. PT SKE sebagai pihak
yang menjadi konsumen seharusnya tidak melakukan pembelian untuk kedua kalinya
pada tahun 2012 dikarenakan sudah terindikasi adanya itikad buruk dari PT GPU atas
wanprestasi yang telah dilakukan sebelumnya.

2.2.2 Kronologi Kasus


PT GPU salah satu perusahaan yang memiliki usaha di bidang penambangan
batu bara dan usaha sampingan berupa penyediaan peralatan kebutuhan perkebunan
tersandung masalah dengan PT SKE. Kasus ini muncul saat keduanya menjalin
kerjasama pada bulan maret 2012. Kala itu, PT SKE memesan peralatan mesin traktor
16

dan peralatan kebun lainnya dari PT.GPU, kemudian pada bulan mei tahun 2012
peralatan mesin perkebunan itu datang secara bertahap dan pada bulan juni 2012
pemesan peralatan mesin perkebunan itu usai atau telah tuntas.
Menurut Sindonews.com, pada tahun yang sama tersebut kedua perusahaan
tersebut juga mengalami perseteruan dengan kasus yang berbeda. Kasus tersebut
mengenai konflik perbatasan antara PT SKE yang berada di Kabupaten Musi
Banyuasin (Muba) di Desa Suban Jaya dan PT GPU yang berada di Kabupaten Musi
Rawas (Mura) di Desa Pauh. Kedua perusahaan sama-sama ngotot memiliki izin
pengelolaan lahan. Akibatnya kerap terjadi sejumlah warga dan pekerja yang
terintimidasi.
Seperti diketahui, PT SKE mengaku telah mengantongi izin dari Bupati Muba.
Sedangkan PT GPU mengaku telah mendapatkan izin dari Bupati Mura. Namun
sejumlah lahan yang diduga diserobot PT GPU diklaim merupakan lahan yang berapa
di kabupaten Muba. Sehingga Bupati Muba, H. Pahri Azhari bersama instansi terkait
pernah melakukan pencopotan patok yang diduga dipasang PT GPU karena dianggap
telah memasuki wilayah kabupaten Muba.
Namun kita sudah keterangan dari Pemprov Sumsel pada rapat bersama
bahwa lahan yang dipatok PT GPU berada diwilayah Kabupaten Muba, jelas
pimpinan PT SKE Joko. Sementara itu, Dilokasi sengketa, aktivitas kedua perusahaan
tetap dilakukan yakni PT GPU tetap melakukan penambangannya dengan alat
beratnya, sedangkan PT SKE tetap melakukan aktifitas dengan penanaman bibik
sawitnya. Kapolres Muba AKBP Toto Wibowo menuturkan, dilokasi sengketa memang
dijaga anggota kepolisian dibantu TNI. Hal ini ditujukan hanya untuk pengamanan
sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Melihat dari riwayat kasus yang terjadi antara kedua perusahaan tersebut, dapat
disimpulkan bahwa hubungan keduanya memang kurang baik dari awalnya. Kembali
pada permasalahan mengenai pembelian peralatan perkebunan yang dilakukan oleh
PT SKE, tepat pada tanggal 23 september 2012 peralatan mesin perkebunan tersebut
telah rusak setelah dipakai beberapa bulan. PT SKE menuding perusahaan PT.GPU
ini mengingkari kontrak perbaikan mesin perkebunan mereka yang menurut perjanjian
memiliki garansi perbaikan hingga 1 tahun. Saat itu PT SKE meminta mesin tersebut
diservis kembali lantaran baru dipakai selama 3 bulan, akan tetapi PT.GPU menolak.
Alasannya, kerusakan itu di luar yang diperjanjikan. Dalam kontrak, garansi diberikan
jika kerusakan karena kesalahan pengerjaan. Ini yang membuat pihak PT SKE naik
pitam. Pada bulan desember 2012 PT SKE pun menggugat ke PT.GPU dengan ganti
17

rugi sebesar US$ 5 juta atau sekitar Rp 76 miliar ke Pengadilan Negeri Tangerang.
Mediasi memang sempat dilakukan, tapi menemui jalan buntu.
Dengan dasar itu, pada maret 2013 PT SKE mengalihkan gugatannya ke
Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pengadilan Niaga adalah
pengadilan khusus yang dibentuk di lingkungan yang berwenang memeriksa,
mengadili, dan memberi putusan terhadap perkara kepailitan dan penundaan
kewajiban dan pembayaran utang (KPPU). Tapi ternyata gugatan itu ditolak oleh
pengadilan. Padahal di sisi lain, PT GPU memiliki hutang penyerahan barang kepada
PT SKE sejak Agustus 2011 dan tiba-tiba di tengah transaksi perjanjian tersebut, PT
GPU memutuskan secara sepihak beberapa kontrak perjanjian pembelian peralatan
perkebunan, padahal peralatatan perkebunan itu sudah siap untuk diserahkan
sehingga kerugian di pihak PT SKE mencapai ratusan juta rupiah dikarenakan PT SKE
yang telah membayar uang muka untuk pembelian peralatan tersebut dan atas ini
yang kemudian menjadi akumulasi hutang yang harus dibayar oleh PT GPU. Hutang
tersebut telah jatuh tempo sejak awal 2012 dan tak kunjung dilunasi oleh PT.GPU
hingga pertengahan tahun 2012.
Pada mulanya pihak PT SKE tidak ingin memperkeruh permasalahan ini, namun
setelah dilakukan melalui cara kekeluargaan oleh pihak PT SKE dengan cara
mendatangi pihak PT GPU, tetap saja tidak ada respon timbal-balik dari PT GPU. Jika
dilihat dari perlakuan yang dilakukan oleh PT SKE dengan membawa perkara
peralatan mesin perkebunan itu ke pengadilan, hal itu berbanding terbalik dengan
PT.GPU yang ingin menyelesaikan perkara hutang PT SKE dengan cara kekeluargaan
tanpa di bawa ke pengadilan walaupun pada kenyataannya

PT GPU melakukan

penundaan pelunasan hutang tersebut. Namun setelah pihak PT SKE bertenggang


rasa selama tiga bulan, akhirnya permasalahan ini diserahkan kepada kuasa
hukumnya Sugeng Riyono,S.H.
Menurut Sugeng PT.GPU sebagai salah satu perusahaan yang memiliki usaha
menyediakan peralatan perkebunan, telah melakukan transaksi hutang yang semenamena dengan didasarkan itikad buruk, tidak pernah memikirkan kondisi dan
kepentingan klien yang diajak bekerja sama bahkan tiga somasi yang telah
dilayangkan oleh pihak PT SKE terhadap PT GPU pun masih tidak ada konfirmasi
balik kepada pihak PT SKE, dengan dasar ini pula Sugeng selaku kuasa hukum PT
SKE akan menggugat PT GPU ke pengadilan, begitulah dengan PT.GPU yang benarbenar berada dalam keadaan siaga satu.

18

2.2.3 Penyelesaian Kasus


Perseteruan yang terjadi antara PT.GPU milik perusahaan ternama di bidang
peralatan perkebunan dengan PT.SKE tidak kunjung usai, hal ini disebabkan karena:
1.

Kerjasama yang dilakukan oleh pihak PT.GPU dengan PT.SKE dilakukan


dengan transaksi bisnis berlandaskan itikad buruk.

2.

Pihak PT.GPU tidak melaksanakan apa yang diperjanjikan, dalam hal ini PT.GPU
sebagai debitur dinyatakan ingkar janji (wanprestassi).

3.

Pihak PT.GPU telah mengadakan pembatalan pembelian atas pemesanan


peralatan mesin perkebunan, padahal peralatan perkebunan sudah selesai
dikerjakan dan siap untuk diserahkan, hal ini menyebabkan kerugian ratusan juta
(tak terhingga) oleh PT.SKE.

4.

Pembayaran hutang perawatan oleh pihak PT.GPU yang melampaui tempo yang
diperjanjikan.
Sebelum menganalisis poin-poin di atas yang akan dihubungkan dengan pasal-

pasal dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, akan dipaparkan mengenai


pengertian perjanjian yang sesuai dengan Pasal 1313 B.W, yang berbunyi, Suatu
perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan
dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.
Dalam Pasal 1313 B.W dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pasal ini
menurut pakar hukum perdata (pada umumnya) bahwa definisi perjanjian terdapat di
dalam ketentuan di atas tidak lengkap karena hanya bersifat sepihak saja, kata
perbuatan mencakup juga tanpa konsensus, pengertian perjanjian terlalu luas, dan
tanpa menyebut tujuan, akan tetapi berdasarkan alasan tersebut perjanjian dapat
dirumuskan, yaitu perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau
lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal mengenai harta kekayaan.
Pada poin pertama di atas disebutkan bahwa, Kerjasama yang dilakukan oleh
pihak PT.GPU dengan PT.SKE dilakukan dengan transaksi bisnis berlandaskan itikad
buruk. Pada dasarnya, sebelum mengadakan perjanjian diwajibkan atas pihak-pihak
yang mengadakan perjanjian untuk mengetahui dengan seksama akan pentingnya
asas-asas perjanjian, yang mana hal ini dapat mencegah adanya permasalahan yang
akan terjadi diantara kedua belah pihak.Asas-asas tersebut antara lain:
1. Asas Kebebasan Berkontrak
2. Asas Pacta Sunt Servanda
19

3. Asas Konsensualisme
Asas ketiga diatas merupakan sektor utama yang harus ditonjolkan. Karena
asas ini merupakan syarat mutlak bagi hukum perjanjian yang modern dan bagi
terciptanya kepastian hukum. Ketentuan yang mengharuskan orang dapat dipegang
adalah ucapannya, adalah suatu tuntutan kesusilaan dan memanglah benar bahwa
kalau orang ingin dihormati sebagai manusia, ia harus dapat dipegang perkataannya
namun hukum yang harus menyelenggarakan ketertiban dan menegakkan keadilan
dalam masyarakat, memerlukan asas konsesualisme itu demi tercapainya Kepastian
Hukum. Asas konsesulaisme tersebut dapat dikatakan sudak merupakan asas
universal, dalam B.W disimpulkan dari Pasal 1320 jo Pasal 1338 (1): Semua perjajian
yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya. Dengan istilah semua maka pembuat undang-undang menunjukkan
bahwa perjanjian yang dimaksudkan bukanlah hanya semata-mata perjanjian
bernama, tetapi juga perjanjian yang tidak bernama. Dengan istilah secara sah
pembentuk undang-undang menunjukkan bahwa pembuatan perjanjian harus
menurut. Semua persetujuan yang dibuat menurut hukum atau secara sah adalah
mengikat, maksudnya secara sah disini ialah bahwa pembuatan perjanjian (pasal
1320) KUH Perdata harus diikuti, perjanjian yang telah dibuat secara sah mempunyai
kekuatan atau mengikat pihak-pihak sebagai undang-undang, disini juga akan
tersimpulkan bahwa asas yang tercantum adalah asas kepastian hukum. Disebutkan
dalam Pasal 1320 B.W untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat:
1.
2.
3.
4.

Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya


Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
Suatu hal tertentu
Suatu sebab yang halal
Kedua syarat yang pertama dinamakan syarat subjektif, karena kedua syarat

tersebut mengenai subjek pejanjian, sedangkan kedua syarat yang terakhir disebutkan
syarat objektif, karena mengenai objek dari perjanjian akan tetapi dalam analisis ini
terfokus pada subjek perjanjian. Sebagaimana pernyataan kuasa hukum PT SKE,
Sugeng Riyono S.H, PT GPU sebagai salah satu perusahaan peralatan perkebunan
telah melakukan transaksi hutang yang semena-mena dengan didasarkan itikad
buruk, tidak pernah memikirkan kondisi dan kepentingan klien yang diajak
bekerjasama, bahkan tiga somasi yang telah dilayangkan oleh pihak PT.SKE terhadap
PT.GPU pun masih tidak ada konfirmasi balik. Itikad baik diwaktu membuat perjanjian
berarti kejujuran. Orang yang beritikad baik akan menaruh kepercayaan sepenuhnya
kepada pihak lawan, yang dianggapnya jujur dan tidak menyembunyikan sesuatu yang
20

buruk yang dikemudian hari dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan. Itikad baik


diwaktu membuat perjanjian berarti kejujuran, maka itikad baik ketika dalam tahap
pelaksanaan perjanjian adalah kepatuhan, yaitu suatu penilaian baik terhadap
tindakan suatu pihak dalam hal melaksanakan apa yang telah diperjanjikan,
pernyataan ini sesuai dengan Pasal 1338 B.W yang berbunyi, Suatu perjanjian harus
dilaksanakan dengan Itikad baik. Maka, sesuai dengan isi pasal diatas, diperintahkan
supaya perjanjian dilaksanakan dengan itikad baik, bertujuan mencegah kelakuan
yang tidak patut atau sewenang-wenang dalam hal pelaksanaan tersebut.
PT.GPU tidak melaksanakan apa yang diperjanjikan, dalam hal ini PT.GPU
sebagai debitur dinyatakan ingkar janji (wanprestasi). Wanprestasi yang dilakukan
PT.GPU merupakan sesuatu yang disebabkan dengan apa yang dijanjikan akan tetapi
terlambat, sebagaimana menurut Subekti, Wanprestasi berarti kelalaian seorang
debitur, dalam hal:
1.
2.
3.
4.

Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan


Melaksanakan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan
Melakukan apa yang dijanjikan akan tetapi terlambat
Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya
Kelalaian PT.GPU terhadap PT.SKE menjadikan terhambatnya kinerja produksi

lain yang akan dibuat oleh PT.KSE. Sesuai dengan Pasal 1243 B.W yang
berbunyi,Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak dipenuhinya perikatan
barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi
perikatannya, tetap melalaikannya atau jika sesuatu yang harus diberikan atas
dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah
dilampaukannya. Adapun yang merupakan model-model dari prestasi adalah seperti
dalam Pasal 1243 B.W yaitu:
1. Memberikan sesuatu
2. Berbuat sesuatu
3. Tidak berbuat sesuatu
Tindakan wanprestasi membawa konsekuensi terhadap timbulnya hak pada
pihak dirugikan untuk menuntut pihak yang melakukan wanprestasi untuk memberikan
ganti rugi dan bunga, sehingga oleh hukum diharapkan agar tidak ada satu pihak pun
yang dirugikan karena wanprestasi tersebut. Tindakan-tindakan tersebut terjadi
karena:
1. Kesengajaan
2. Kelalaian
3. Tanpa kesalahan (tanpa kesengajaan atau kelalaian)
21

Untuk adanya kewajiban ganti rugi bagi debitur maka undang-undang


menentukan bahwa debitur harus terlebih dahulu dinyatakan dalam keadaan lalai.
Pernyataan lalai inimerupakan upaya hukum untuk sampai kepada suatu fase, dimana
debitur dinyatakan ingkar janji wanprestasi. Jadi maksudnya adalah peringatan atau
pernyataan dari kreditur tentang saat selambat-lambatnya debitur wajib memenuhi
prestasi. Dalam Pasal 1238 B.W disebutkan bahwa,Si berutang adalah lalai, apabila
ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai,
atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa ia berutang harus
dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang telah ditentukan. Bahwasanya peryataan
lalai diperlukan dalam hal orang meminta ganti rugi atau meminta pemutusan
perikatan dengan membuktikan adanya ingkar janji. Hal ini digunakan untuk
mengantisipasi kemungkinan agar debitur tidak merugikan kreditur.
Disebutkan dalam poin ketiga adalah pihak PT.GPU telah mengadakan
pembatalan sepihak hutang pembelian peralatan perkebunan sehari setelah peralatan
tersebut selesai dibuat, hal ini menyebabkan produksi yang akan dibuat oleh PT.KSE
menjadi terbengkalai. Pembatalan ini tanpa ada alasan yang jelas dari PT.GPU.
Disebutkan dalam Pasal 1338 (2) B.W bahwa, suatu perjanjian tidak dapat ditarik
kembali selain dengan kesepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang
oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Pasal ini menjelaskan bahwa
perjanjian tidak dapat ditarik kembali secara sepihak kecuali dengan sepakat antara
keduanya, dan apabila seseorang telah tidak melaksanakan prestasinya sesuai
ketentuan dalam kontrak, maka pada umumnya (dengan beberapa pengecualian)
tidak dapat dengan sendirinya dia telah melakukan wanprestasi. debitur dinyatakan
lalai oleh kreditor yakni dengan dikeluarkannya akta lalai (somasi) oleh pihak kreditor
(pasal 1238 B.W). Dikeluarkannya akta ini berdasarkan mekanisme yang telah
ditentukan oleh undang-undang. Dalam hal ketentuan di atas maka PT.GPU
dikenakan beberapa pasal, antara lain:
1. Pasal 1243 B.W : Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak dipenuhinya
perikatan barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai
memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya atau jika sesuatu yang harus
diberikan atas dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang
waktu yang telah dilampaukannya.
2. Pasal 1246 B.W : Biaya, rugi dan bunga yang oleh si berpiutang boleh dituntut
akan penggantiannya, terdirilah pada umumnya atas rugi yang telah dideritanya

22

dan untung yang sedianya harus dapat dinikmatinya, dengan tak mengurangi
pengecualian-pengecualian serta perubahan-perubahan yang akan disebut.
3. Pasal 1247 B.W : Si berutang hanya diwajibkan mengganti biaya, rugi dan
bunga yang nyata telah, atau sedianya harus dapat diduganya sewaktu
perikatan dialahirkannya, kecuali jika hal tidak dipenuhinya perikatan itu
disebabkan sesuatu tipu daya yang dialakukan olehnya.
4. Pasal 1249 B.W : Jika dalam perikatan ditentukannya, bahwa si yang lalai
memenuhinya, sebagai ganti rugi harus membayar suatu jumlah uang tertentu,
maka kepada pihak yang lain tak boleh diberikan suatu jumlah yang lebih
maupun kurang dari pada jumlah itu.
5. Pasal 1250 B.W : Dalam tiap-tiap perikatan yang semata-mata berhubungan
denga pembayaran sejumlah uang, penggantian biaya, rugi dan bunga sekedar
disebabkan terlambatnya pelaksanaannya, hanya terdiri atas bunga yang
ditentukan undang-undang, dengan tidak mengurangi peraturan undang-undang
khusus. Penggantian biaya, rugi dan bunga tersebut wajib dibayar dengan tidak
usah dibuktikannya sesuatu kerugian oleh si berpiutang.
Putusan Pengadilan Negeri yang mengangani masalah ini menyebutkan bahwa
PT GPU harus melakukan ganti rugi materiil yakni berupa penyitaan peralatan mesin
perkebunan milik PT GPU yang bernilai Rp18,3 milliar mungkin sudah memadai
kerugian yang diderita si berpiutang akibat tidak dipenuhinya perjanjian oleh si
berutang, namun rasa kecewa tidak mungkin dapat ditebus, sebagaimana PT GPU
yang tidak merespon baik ketika pihak PT.KSE datang menemui PT.GPU di kantornya
untuk menagih utang PT.GPU yang tersendat menimbulkan dampak pada produksi
lain, mengingat hubungan baik PT.GPU dengan PT.KSE mengundang rasa kecewa
dikarenakan akhir cerita kerjasama yang dilakukannya mengalami permasalahan
hukum. Dengan demikian, ganti rugi hanyalah merupakan obat atas derita yang
dialami karena apa yang diinginkan itu tidak datang atau diberikan oleh pihak lawan.

23

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian dan analisis kasus di atas, tampaklah adanya hubungan perjanjian
dan perikatan antara PT SKE dan PT GPU di tahun 2011 dan 2012. Hubungan ini
bermula dari PT. SKE yang membeli peralatan perkebunan dari PT GPU pada tahun
2011 yang justru mengakibatkan PT GPU mempunyai hutang penyerahan barang
dikarenakan PT SKE yang telah membayar uang muka kepada PT GPU atas
pembelian yang dilakukannya tersebut, tetapi PT. GPU tidak mengirimkan peralatan
mesin perkebunan yang telah dipesan oleh PT SKE, yang kala itu penyerahannya
sudah siap seratus persen sehari sebelumnya. Dari hal ini jelas bahwa PT GPU telah
melakukan wanprestasi dengan tidak mengirimkan barang tersebut dan pembatalan
kontrak secara sepihak
Setelah itu, pada tahun 2012 PT SKE melakukan pembelian kedua kalinya
kepada PT GPU dan alhasil PT GPU melakukan wanprestasi lagi dengan menolak
memberikan perbaikan pada mesin perkebunan yang rusak setelah beberapa bulan
diterima oleh PT SKE. Wanprestasi yang dilakukan debitur (PT GPU) ini telah
mengakibatkan banyak kerugian pada kreditur (PT KSE). Sehingga, kreditur dapat
menunutut debitur melalui mekanisme somasi. Selain itu, juga dilakukan penyitaan
peralatan mesin perkebunan milik PT GPU yang bernilai Rp18,3 milliar sebagai ganti
rugi.
24

3.2 Saran
Seperti yang telah penulis bahas sebelumya, PT KSE seharusnya tidak
melakukan pembelian peralatan perkebunan untuk kedua kalinya pada tahun 2012.
Padahal permasalahan pada tahun 2011 belum terselesaikan. Begitu juga dengan PT
GPU, seharusnya melakukan prestasi terhadap perjanjian yang telah disepakati antara
perusahaannya dengan PT KSE agar kerja sama tetap terjalin dengan baik dengan
tidak mendatangkan kerugian di salah satu pihaknya. Oleh karena itu, sebelum
melakukan perjanjian, hendaknya sudah paham dengan segala akibat dan
konsekuensi yang timbul dari adanya perjanjian tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
1. H. Riduan Syahrani, S.H. 2004. Seluk-Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata
2. http://koirula.blogspot.co.id/2014/03/studi-kasus-hukum-perikatan.html
3. http://daerah.sindonews.com/read/689337/24/konflik-muba-pt-gpu-vs-pt-skekukuh-1353242847

25