Anda di halaman 1dari 46

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.

pdf, Flat 1 of 46 - Pages: 92, 1, 06/27/11 01:19 PM

616.979.2
Ind
t
KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

TES
TESDAN
DANKONSELING
KONSELING
HIVHIV
TERINTEGRASI
TERINTEGRASI
DI SARANA
DI SARANA
KESEHATAN
KESEHATAN
/ PITC
/ PITC

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

KON

616.979.2
616.979.2
Ind Ind
t t

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI


PETUGAS KESEHATAN

me
kas
sem
pas
ber
me

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTES
TESHIV
HIVATAS
ATASINISIASI
INISIASI
PETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Tes
kes
ter

Pelatihan bagi Petugas Kesehatan

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Pelatihan
Pelatihanbagi
bagiPetugas
PetugasKesehatan
Kesehatan

Kem
me
ten
dis

MODUL BAGI PESERTA


MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

pen

Ketua Umum PB IDI

Direkorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan


Direkorat
DirekoratJenderal
JenderalPengendalian
Pengendalian
Penyakit
Penyakit
dan
dan
Penyehatan
Penyehatan
Lingkungan,
Kementerian
Kesehatan
RI,RI,
2010
Lingkungan,
Lingkungan,
Kementerian
Kementerian
Kesehatan
Kesehatan
RI,
2010
2010
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 82

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

MODUL
MODUL
BAGI
BAGI
PESERTA
PESERTA

MODUL BAGI PESERTA


Cyan

Magenta

Yellow

Black

Auto

ii

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 2 of 46 - Pages: 2, 91, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

Ketua Umum PB IDI

Beberapa kita dalam merujuk yang efekatif adalah sebagai berikut:


Lakukan rujukan ke sumber yang sudah dikenal dan terpercaya: rujukan yang
paling efektif adalah rujukan kepada penyelenggara layanan yang telah bekerja
sama baik dengan anda atau lembaga anda;
Tawarkan rujukan sebagai salah satu pilihan: dalam pendekatan yang berpusat
kepada pasien, pasien ditawari rujukan sebagai salah satu sumber yang
mungkin dapat dimanfaatkannya;
Nilai reaksi pasien atas rujukan: perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang
pasien punya pengalaman buruk dengan salah satu lembaga tempat mereka
akan dirujuk, seperti stigma atau diskriminasi;
Minta pasien dan persiapkan pasien untuk menyetujui pelayanan lembaga
yang anda beri rujukan: berikan informasi khusus tentang yang perlu dibawa,
kendaraan yang harus dinaiki untuk ke sana, dan dukungan yang dapat
diperoleh dari lembaga tersebut;
Nilai jenis bantuan yang diperlukan pasien agar rujukannya efektif: Kadang,
pasien yang sudah berdaya hanya perlu sedikit arahan dan sudah mampu
untuk mengikutinya, tapi ada pasien lain yang perlu dibantu membuat janji
pertemuan atau disusunkan rencana bantuan yang diperlukannya.
Lakukan tindak lanjut dengan pasien dan sumber rujukan seperlunya: tentukan
mekanisme untuk mengetahui bahwa pasien memang mengikuti arahannya
dan sejauh mana keberhasilan rujukannya baik dari pasien atau institusi
rujukan.
Kadang-kadang lembaga/institusi mau menerima atau mungkin tidak mau
menerima pasien atau mungkin saja menghambat pasien dalam memperoleh
layanan yang diperlukan. Dengan bertindak sebagai pembela pasien, akan
membuat perbaikan sistem layanan, atau penerimaan pasien yang mungkin
sudah jauh tertimpa tangga" akan mulai terbuka. Meskipun mungkin hal tersebut
bukan merupakan tugas pokok atau fungsi petugas kesehatan perawatan dasar,
kebutuhan tersebut tetap harus dipenuhi oleh seseorang yang berasal dari
anggota tim kerja perawatan yang sifatnya komprehensif.

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

SELAMAT BEKERJA
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii

Cyan

MODUL BAGI PESERTA

Magenta

Yellow

MODUL BAGI PESERTA

Black

81

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 3 of 46 - Pages: 90, 3, 06/27/11 01:19 PM

Kementerian Kesehatan telah selesai menyusun Pedoman Penerapan Layanan


Tes dan Konseling HIV Atas Inisiasi Petugas Kesehatan yang memberikan pedoman
bagi petugas kesehatan dalam menginisiasi konseling dan tes HIV bagi pasien yang
datang untuk mendapatkan layanan kesehatan atas keluhan mereka.
Seperti perlu disadari bahwa apabila seseorang yang datang ke sarana layanan
kesehatan menunjukkan adanya gejala yang mengarah ke HIV maka tanggung jawab
dasar dari petugas kesehatan adalah menawarkan tes dan konseling HIV kepada pasien
tersebut sebagai bagian dari tatalakasana klinis guna memberikan kesempatan ODHA
untuk memanfaatkan layanan kesehatan yang memadai. Namun mengingat besarnya
kecenderungan akan terjadinya pemaksaan dalam tes HIV sehubungan PITC yang akan
memberikan dampak negatif pada pasien maka perlu pelatihan dan bimbingan,
pemantauan dan evaluasi yang memadai dari penerapan PITC dan program konseling
di sarana kesehatan
Modul pelatihan yang disusun berdasarkan buku pedoman penerapan tes dan
konseling HIV Kementerian Kesehatan RI sarana bantu penerapannya dan dimaksudkan
untuk digunakan dalam pelatihan bagi petugas yang terkait di sarana kesehatan.
Penghargaan kepada tim penyusun dan para kontributor yang telah memberikan
sumbang saran sehingga modul pelatihan ini dapat diterbitkan.
Semoga dapat dimanfaatkan dengan sebaik baiknya.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

Direktur Jenderal PP & PL,

pen

Kami
kondom
klinik
dan
anda kami
persilakan
Masalah
HIV menyediakan
AIDS di Indonesia
adalahdisalah
satu
masalah
kesehatan
nasionaluntuk
yang
membawanya.
(Sebutkan
nama
lembaga
pusat
KTS
atau
lembaga
lainnya)
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
menyediakan
kondom.
kasus AIDS dijuga
Indonesia
mengalami
lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
Contoh
Naskah
komunikasi
untuk
hasiladalah
reaktifkonseling dan tes HIV yang
pasien HIV AIDS.
Salah
satu bentuk
layanan
tersebut
bertujuan tidak
hanyates
untuk
menegakkan
diagnosis
namun
memberikan konseling
"Hasil
anda
menunjukkan
reaktif,
yangjuga
mengisyaratkan
bahwa untuk
anda
mendapatkanmemang
terapi dan
menangani
berbagai
masalah
yang
dihadapi
oleh
pasien.
memiliki HIV di dalam sistem darah anda.
Layanan
tes
dan
HIVdan
saatdorongan
ini masih dari
dilakukan
dalam
Konseling
dan
Disampingkonseling
dukungan
keluarga
danbentuk
rekan-rekan
anda,
Tes HIV Sukarela
HIV Counselling
and
Testing/VCT),
sarana
anda(Voluntary
perlu perawatan
medis yang
dapat
membantuyang
andadilakukan
agar andadimerasa
kesehatan (RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
lebih baik dan hidup lebih lama sekali pun anda terkena infeksi HIV. telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Anda perlu datang ke klinik yang memberikan perawatan dan pengobatan
JumlahHIV
cakupan
layanan
tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
jangka
panjang.
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
Bawalah surat pengantar rujukan ini, berikan kepada petugas kesehatan di
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
klinik tersebut. Klinik akan memberitahu bahwa anda dirawat di salah satu
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
pusat terapi TB, dan bahwa anda telah menjalani tes HIV.
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
Juga,dan
seandainya
anda/pasangan
hamil
atau dengan
merencanakan
untuk
penatalaksanaan,
sudah berkembang
luas di anda
sejumlah
negara
tingkat epidemi
hamil, maka sampaikan kepada petugas klinik tempat pemeriksaan
HIV yang tinggi.
kehamilan dan klinik KTS, untuk membahas cara melindungi janin anda dari
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
penularan infeksi HIV.
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
Jika anda
tidak
maubagi
orang
mengetahui
status
HIV anda
saat
ini, maka
melakukan konseling
dan
tes HIV
klienlain
atau
pasien. Kami
berharap
melalui
panduan
ini,
berhati-hatilah
dalam
menyimpan
surat
anda
ini
sampai
anda
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
menyampaikannya
petugas
kesehatan di klinik HIV.
diskriminasi tidak
lagi ada dalam kepada
pelayanan
kesehatan.
Penting terima
bagi anda
untuk
berkunjung
ke klinik
tersebut sesegera
Kami ucapkan
kasih
kepada
semua pihak
yangrujukan
telah berkontribusi
dalam
mungkin.
berharap
sebelum
kunjungan
berikutnya
sudah
penyusunan panduan
iniSaya
dan juga
kepada pihak
GF-ATM
yang telah
mendukunganda
kegiatan
ini.
mengunjungi klinik tersebut. Kita akan bahas kembali masalah kita hari ini
pada kunjungan anda berikutnya.
Ketua Umum PB IDI
Pokok Bahasan 3.
Langkah Efektif Dalam Merujuk

KON

KATA PENGANTAR

- KATA
Atau dengan
menggunakan
kondom
secara benar
setiap kali anda
PENGANTAR
KETUA
UMUM
PB IDI
berhubungan seks.

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama


NIP 195509031980121001

Rujukan yang efektif perlu diberikan dan perlu untuk mengoptimalkan


kemungkinan pasien mematuhi rujukan kita. Merujuk pasien merupakan hal yang
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
sangat kritis bagi pasien reaktif HIV yang memerlukan evaluasi bagi perawatan dan
pengobatan.
ii 80

Cyan

MODUL BAGI PESERTA

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

Black

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 4 of 46 - Pages: 4, 89, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA
KATAPENGANTAR
PENGANTARKETUA
KETUAUMUM
UMUMPB
PBIDI
IDI
Masalah
MasalahHIV
HIVAIDS
AIDSdidiIndonesia
Indonesiaadalah
adalahsalah
salahsatu
satumasalah
masalahkesehatan
kesehatannasional
nasionalyang
yang
memerlukan
memerlukanpenanganan
penangananbersama
bersamasecara
secarakomprehensif.
komprehensif.Sejak
Sejak1010tahun
tahunterakhir,
terakhir,jumlah
jumlah
kasus
kasusAIDS
AIDSdidiIndonesia
Indonesiamengalami
mengalamilonjakan
lonjakanyang
yangbermakna.
bermakna.Hal
Haliniinimenuntut
menuntutperhatian
perhatian
semua
semuapihak,
pihak,terutama
terutamapara
paratenaga
tenagakesehatan
kesehatanyang
yangmemberikan
memberikanlayanan
layanankesehatan
kesehatanbagi
bagi
pasien
pasienHIV
HIVAIDS.
AIDS.Salah
Salahsatu
satubentuk
bentuklayanan
layanantersebut
tersebutadalah
adalahkonseling
konselingdan
dantestesHIV
HIVyang
yang
bertujuan
bertujuan
tidak
tidak
hanya
hanya
untuk
untuk
menegakkan
menegakkan
diagnosis
diagnosis
namun
namun
juga
juga
memberikan
memberikan
konseling
konseling
untuk
untuk
mendapatkan
mendapatkanterapi
terapidan
danmenangani
menanganiberbagai
berbagaimasalah
masalahyang
yangdihadapi
dihadapioleh
olehpasien.
pasien.
Layanan
Layanantestesdan
dankonseling
konselingHIV
HIVsaat
saatiniinimasih
masihdilakukan
dilakukandalam
dalambentuk
bentukKonseling
Konselingdan
dan
Tes
TesHIV
HIVSukarela
Sukarela(Voluntary
(VoluntaryHIV
HIVCounselling
Counsellingand
andTesting/VCT),
Testing/VCT),yang
yangdilakukan
dilakukandidisarana
sarana
kesehatan
kesehatan(RS,
(RS,Puskesmas
Puskesmasdan
danKlinik)
Klinik)maupun
maupundidiLSM
LSMpeduli
peduliAIDS.
AIDS.Hingga
Hinggatahun
tahun2008
2008telah
telah
terdapat
terdapat468
468pusat
pusatlayanan
layananuntuk
untukVCT
VCTdidi133
133kabupaten/kota
kabupaten/kotadidiseluruh
seluruhIndonesia.
Indonesia.
Jumlah
Jumlahcakupan
cakupanlayanan
layanantersebut
tersebutmasih
masihtergolong
tergolongrendah
rendahuntuk
untukmenjangkau
menjangkaupopulasi
populasi
berisiko
berisikodan
danmengetahui
mengetahuistatus
statusHIV
HIVmereka.
mereka.Peran
Perantenaga
tenagakesehatan
kesehatan(dokter,
(dokter,perawat
perawatdan
dan
bidan)
bidan)dalam
dalammelakukan
melakukandeteksi
deteksiHIV
HIVmenjadi
menjadisemakin
semakinpenting
pentingkarena
karenabanyak
banyakODHA
ODHAyang
yang
membutuhkan
membutuhkanlayanan
layananmedis
medisdan
danbelum
belumdiketahui
diketahuistatus
statusHIVnya.
HIVnya.Layanan
LayananPITC
PITC(Provider
(Provider
Initiated
InitiatedTesting
Testingand
andCounselling)
Counselling)memudahkan
memudahkandan
danmempercepat
mempercepatdiagnosis,
diagnosis,
penatalaksanaan,
penatalaksanaan,dan
dansudah
sudahberkembang
berkembangluas
luasdidisejumlah
sejumlahnegara
negaradengan
dengantingkat
tingkatepidemi
epidemi
HIV
HIVyang
yangtinggi.
tinggi.
Oleh
Olehkarena
karenaituituOrganisasi
OrganisasiProfesi
ProfesiKesehatan
Kesehatan(IDI,
(IDI,IBI,
IBI,PPNI,
PPNI,ISFI,
ISFI,IAKMI)
IAKMI)membantu
membantu
Kementerian
Kementerian
Kesehatan
Kesehatan
menyusun
menyusun
panduan
panduan
ringkas
ringkas
untuk
untuk
membantu
membantu
tenaga
tenaga
kesehatan
kesehatan
dalam
dalam
melakukan
melakukankonseling
konselingdan
dantestesHIV
HIVbagi
bagiklien
klienatau
ataupasien.
pasien.Kami
Kamiberharap
berharapmelalui
melaluipanduan
panduanini,ini,
tenaga
tenagakesehatan
kesehatantidak
tidakakan
akanragu
ragudalam
dalammendorong
mendorongpasien
pasienuntuk
untuktestesHIV
HIVsehingga
sehinggastigma/
stigma/
diskriminasi
diskriminasitidak
tidaklagi
lagiada
adadalam
dalampelayanan
pelayanankesehatan.
kesehatan.
Kami
Kamiucapkan
ucapkanterima
terimakasih
kasihkepada
kepadasemua
semuapihak
pihakyang
yangtelah
telahberkontribusi
berkontribusidalam
dalam
penyusunan
penyusunanpanduan
panduaniniinidan
danjuga
jugakepada
kepadapihak
pihakGF-ATM
GF-ATMyang
yangtelah
telahmendukung
mendukungkegiatan
kegiatanini.ini.

Ketua
KetuaUmum
UmumPBPBIDIIDI

Dr.Dr.Prijo
PrijoSidipratomo,
Sidipratomo,Sp.Rad(K)
Sp.Rad(K)

ii ii

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

Mintalah dan siapkan pasien untuk rujukan ke suatau layanan lembaga


Jajagi jenis dukungan yang dibutuhkan untuk keperluan rujukan aktif
Lakukan konseling tindak lanjut bersama sumber rujukan yang diperlukan.

b) Memahami langkah penyampaian hasil tes HIV


Baca kalimat dalam kotak pada bagian atas pada Buku Pedoman Penerapan
Konseling dan Tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan halaman 36. Bagan
tersebut memberikan panduan tentang berbagai langkah penyampaian hasil
tes HIV yang harus dipahami.
Baca contoh komunikasi hasil negatif di bawah ini.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

Contoh Naskah komunikasi hasil Negatif


'Hasil tesnya non reaktif, artinya bahwa dalam darah anda belum dikenali
alat laboratorium adanya virus HIV."
Artinya ada peluang bahwa virus HIV sudah masuk tubuh karena ada
paparan infeksi terbaru, namun belum menghasilkan antibodi sehingga
belum terdeteksi oleh pemeriksaan laboratorium. Jadi saya sarankan agar
anda menjalani tes lagi di (sebutkan nama pusat KTS nya) dalam jangka
waktu tiga bulan ini. Mereka juga dapat memberi anda informasi lebih
banyak mengenai cara yang dapat anda lakukan untuk tetap tidak terinfeksi,
jika memang virus HIV belum masuk dalan tubuh anda"
Sementara itu, infeksi HIV memang lazim di dalam masyarakat kita. Anda
perlu mengambil berbagai langkah untuk memastikan bahwa anda tidak
akan terinfeksi di masa yang akan datang.
Mungkin anda sudah faham bahwa penularan dapat terjadi dari hubungan
seksual dengan orang yang sudah terinfeksi. Karena itu anda perlu meminta
pasangan anda untuk dites.
Jika pasangan anda juga tidak terinfeksi HIV, anda berdua harus saling setia
dan tidak berhubungan seksual dengan orang lain agar anda berdua
terlindung dari kemungkinan tertular HIV.
Jika pasangan anda mengidap HIV, atau anda tidak mengetahui statusnya,
atau jika anda berhubungan seks dengan lebih dari satu orang, anda dapat
melindungi diri anda dari risiko tertular HIV dengan cara:
- Tidak melakukan hubungan seks sampai pasangan anda dites dan anda
telah memastikan bahwa pasangan anda mengidap HIV atau tidak
MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

79

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 5 of 46 - Pages: 88, 5, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

dengan
mengenaiKETUA
makna hasil
tes tersebut.
Salah satu strategi
KATApenjelasan
PENGANTAR
UMUM
PB IDI
komunikasi yang efektif adalah:
Hasilnya adalah non reaktif yang mengisyarat bahwa anda MEMANG atau TIDAK
Masalah
HIV AIDSHIV
di Indonesia
adalahdarah
salah anda".
satu masalah
nasional
yang
mengidap
di dalam sistem
Melaluikesehatan
cara ini pasien
menerima
memerlukan hasil
penanganan
bersama
secara
komprehensif.
Sejakbahasa
10 tahun
jumlah
tes, dengan
lebih baik
karena
menggunakan
yangterakhir,
dimengerti,
dan
kasus AIDS ditidak
Indonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
hanya mengandalkan kata-kat seperti reaktif/non reaktif atau bahkan
semua pihak,istilah-istilah
terutama para
tenaga
yangmungkin
memberikan
layanan
kesehatan bagi
positif
ataukesehatan
negatif yang
saja malah
membingungkan.
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Beri
kesempatan
meledaknya
reaksi emosional:
heningkonseling
sejenak untuk
setelah
bertujuan tidak
hanya
untuk menegakkan
diagnosis
namun jugaDengan
memberikan
menyampaikan
hasil,
pasien
diberi
kesempatan
untuk
mengolah
gejolak
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
emosinya. Khususnya untuk hasil reaktif. Berikan komentar simpatik (misalnya:"
Layanan
dan konseling
HIV
saat ini akan
masihmemberi
dilakukanpasien
dalamberpeluang
bentuk Konseling
dan
Inites
merupakan
berita
buruk")
membahas
Tes HIV Sukarela
(Voluntaryyang
HIVmungkin
Counselling
Testing/VCT),
yang meyakinkan
dilakukan di lagi.
sarana
perasaannya,
sajaand
bentuknya
ingin lebih
Jika
kesehatan (RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
anda memiliki cukup waktu dan merasa nyaman, penggunaan pertanyaan
terdapat 468 terbuka
pusat layanan
untuk
VCT di 133
kabupaten/kota
seluruhyang
Indonesia.
mengenai
perasaan
mereka
merupakandistrategi
sangat baik.
Jumlah
cakupan
layanan
tersebut
masih
tergolong
rendah
untuk
menjangkau
populasi
Berikan arahan tindak lanjut/informasi medis seperlunya. Mungkin penting bagi
berisiko dan mengetahui
HIV mereka.
Peran
tenaga paparan-paparan
kesehatan (dokter,terakhir
perawatpasien
dan
anda untuk status
mengingatkan
pasien
mengenai
bidan) dalamdengan
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
faktor risiko, dan perlunya dilakukan tes ulang jika hasil tes mereka non
membutuhkan
layanan
medis
dan belum
diketahui
statusdiberi
HIVnya.
Layanan
PITC (Provider
reaktif.
Pasien
dengan
hasil tes
reaktif perlu
konseling
mengenai
perlunya
Initiated Testing
and
Counselling)
memudahkan
dan
mempercepat
diagnosis,
tindak lanjut medis, adanya berbagai layanan pendukung tambahan, dan
penatalaksanaan,
dan memberi
sudah berkembang
luas disehingga
sejumlahpasangan
negara dengan
tingkat
epidemi
perlunya
tahu pasangan
juga perlu
dites.
HIV yang tinggi.
Catatan: laporan terakhir mengenai penyakit IMS terbaru dan paparan HIV
Oleh karena
itumengisyaratkan
Organisasi Profesibahwa
Kesehatan
(IDI,
PPNI, ISFI,
IAKMI)
membantu
terakhir
pasien
iniIBI,
mungkin
sangat
menular
karena
Kementerian Kesehatan
menyusun
panduan
ringkas
untuk
membantu
tenaga
kesehatan
dalam
terjadinya viremia kadar tinggi setelah terjadinya pajanan. Temuan ini,
melakukan konseling
dan tes HIV
bagi klien
atau pasien.
Kami
berharap
mengisyaratkan
perlunya
penekanan
khusus
pada
deteksimelalui
infeksipanduan
HIV akutini,
dan
tenaga kesehatan
tidak
akan raguperlunya
dalam mendorong
untuk tes HIV sehingga stigma/
edukasi
mengenai
melakukanpasien
tes ulang.
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Tawarkan rujukan dan pilihan tindak lanjut: Perkenalkan Lembaga Swadaya
Kami ucapkan
terima
kasih
kepada
semua pihak
yang telahpermasalahan
berkontribusi dalam
Masyarakat
yang
dapat
membantu
memecahkan
pasien,
penyusunan panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
khususnya bagi ODHA, yang merupakan dukungan yang sangat mendasarini.
bagi
layanan kesehatan yang melakukan konseling dan tes HIV. Ingatkan kembali
pasien akan jenis layanan lain yang terkait di sarana anda sendiri, atau kenalkan
Ketua Umum PB IDI
RS untuk rujukan lebih tinggi.
Langkah:
Beri rujukan ke institusi/lembaga yang kompeten dan terpercaya
Tawaran rujukan merupakan salah satu pilihan
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
Nilailah reaksi pasien terhadap tawaran rujukan

ii 78

Cyan

Yellow

DAFTAR KONTRIBUTOR

Masna Pita, SKM


Dr. Sri Pandam Pulungsih, MSc
Dr. Ayie Sri Kartika
Nurjannah, SKM, M.Kes

Arta Saragi
Dr. Artini
Dr. Asik Surya, MPPM
Dr. Ayie Sri Kartika
Dr. Bambang Subagyo, SpPD, MM
Dr. Dasril Nizam
Dr. Diah Setia Utami, SpKJ
Dr. Ekarini, SpOG
Dr. Endang Budi Hastuti
Dr. Endang Lukitosari
Dr. Endang P., M.Epid
Dr. Ervina Luki Damayanti
Dr. Euis Maryani
Kekek Apriana
Komaria Siregar, SKM, M.Epid
Kurniawan Rachmadi, SKM, MSi
Dr. Maryono
Masna Pita, SKM
Nelly Yardes
Dra. Neni Nuraini, M.Kes
Dr. Nirmala Kesumah, MHA
Nurjannah, SKM, M.Kes
Dr. Pandu Riono, MPH, PhD
Dr. Ratna Mardiati, SpKJ
Dr. Ronald Jonathan
Dr. Rudi Rusli
Dr. Sri Pandam Pulungsih, MSc
Prof. DR. Sudarto Ronoatmodjo, MPH

MODUL BAGI PESERTA

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

TIM EDITOR

Black

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

iii

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 6 of 46 - Pages: 6, 87, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

KATADAFTAR
PENGANTAR
KETUADAN
UMUM
PB IDI
SINGKATAN
ISTILAH
VII. URAIAN MATERI
Masalah
AIDS di Indonesia
adalahepidemi
salah satu
kesehatan
nasional
yang
Low-level
HIVHIV
epidemis
Tingkatan
HIVmasalah
yang rendah,
dengan
prevalensi
memerlukan penanganan bersama
secara
komprehensif.
Sejak
10 tahun
terakhir,
jumlah
secara
tetap
tidak pernah
lebih
dari 5%
yang terbatas
kasus AIDS di Indonesia mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
pada kelompok tertentu yang berperilaku berisiko seperti
semua pihak, terutama para tenaga
kesehatan
yang memberikan
penjaja
seks komersial,
penasun,layanan
LSL. kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Concentrated
HIV epidemis
Tingkatan
epidemi
HIV terkonsentrasi
dengan
prevalensi
bertujuan
tidak hanya
untuk menegakkan
diagnosis
namun
juga memberikan
konseling
untuk
lebih
dari
5%
secara
tetap,
namun
terbatas
pada
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
kelompok tertentu yang berperilaku berisiko seperti
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
penjaja seks komersial, penasun, LSL, namun prevalensi
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
masih kurang dari 1% pada ibu hamil di daerah perkotaan.
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
Generalized
HIV epidemis
HIV meluas
di masyarakat
terdapat
468 pusat
layanan untukTingkatan
VCT di 133epidemi
kabupaten/kota
di seluruh
Indonesia. umum,
sebagai
proksi
dinyatakan
apabila
ditemukan
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkauprevalensi
populasi
lebih
dari
1%
secara
menetap
pada
kelompok
ibu
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawathamil.
dan
bidan)
dalam
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
ANC
Ante Natal Care (lihat KIA)
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
ART
Antiretroviral
Therapynegara
- terapi
HIVtingkat
dengan
obat
penatalaksanaan,
dan sudah berkembang
luas di sejumlah
dengan
epidemi
Antiretroviral
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Kementerian
Profesi Kesehatan
(IDI, IBI,Republik
PPNI, ISFI,
IAKMI) membantu
KEMENKES
Kesehatan
Indonesia
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
HIV
Human Immunodeficiency Virus
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
IMS kesehatan tidak akan raguInfeksi
secara
Seksual
tenaga
dalam Menular
mendorong
pasien
untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi
tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
KIA
Kesehatan Ibu dan Anak (lihat ANC)
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
KTS - VCT
Konseling dan Tes HIV secara Sukarela (lihat juga VCT)
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
ODHA
Orang Dengan HIV/ AIDS
PDP

Perawatan Dukungan dan Pengobatan HIV


Ketua Umum PB IDI
Provider Initiated HIV Testing and Counselling - Layanan
Tes dan Konseling HIV terintegrasi di sarana kesehatan,
yaitu tes dan konseling HIV di inisiasi oleh petugas
kesehatan ketika pasien mencari layanan kesehatan
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

PITC

Pokok Bahasan 1.
Menafsirkan Hasil
Tinjau kembali informasi produk reagen tes kit HIV yang digunakan. Setiap tes kit
mempunyai metode masing-masing dalam menafsirkan hasil tesnya. Masingmasing jenis tes HIV, berbeda cara menfasirkan hasil reaktif, non reaktif dan tidak
valid. Semua tes cepat memiliki tolok ukur dan kontrolnya masing-masing , sebagai
penjaminan mutunya. Bahaslah perbedaan masing-masing tes kit yang ada di
tempat saudara. Pelajari pula "BAGAN ALUR TES CEPAT HIV DI LAYANAN TES
DAN KONSELING HIV" di dalam Buku Pedoman Penerapan Konseling dan Tes
HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan halaman 40.
Dari bagan tersebut jelas bahwa hasil dari satu tes cepat saja belum dapat
disimpulkan. dilakukan terlebih dahulu tes konfirmasi (baik dengan menggunakan
algoritma sekuensial maupun parallel) sebelum menyampaikan hasilnya kepada
pasien. Cermati Bagan alur tersebut, urutan tes cepat dalam cara serial dibuat
berdasarkan sensitifitas dan spesifisitas dari masing-masing reagen tes HIV
tersebut dan harus sesuai dengan pedoman nasional, tidak boleh terbalik.
Pokok Bahasan 2.
Penyampaian Hasil
Tugas pertama petugas kesehatan yang menyampaikan hasil tes HIV adalah
memikirkan reaksi emosional yang kemungkinan ditampilkan pasien saat
menerima hasil tes HIV.

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

a) Langkah penyampaian hasil tes HIV

Nilailah kesiapan pasien menerima hasil tes. Perlu diingat bahwa hampir semua
pasien pada dasarnya sangat siap untuk mendengar berita mengenai hasil tes
mereka, sehingga tidak perlu mengulur-ulur waktu lagi. Lakukan pengecekan
singkat (misalnya: "Anda sudah siap mendengar hasil tes anda?") akan
memungkinkan pasien untuk dapat mengendalikan proses tersebut dan beri
peluang pasien untuk bertanya atau mendapat informasi lainnya.
Sampaikan dan tafsirkan hasil tes HIV: Sampaikan hasil tes dengan segera,

MODUL BAGI PESERTA

Black

Tes
kes
ter

pen

ii iv

me
kas
sem
pas
ber
me

77

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 7 of 46 - Pages: 86, 7, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

a.KATA
Bagaimana
ia diberi tahuKETUA
hasil tes reaktif
oleh petugas;
PENGANTAR
UMUM
PB IDI
b. Bagaimana perasaannya pada saat itu;
c. HIV
ApaAIDS
yang
konselor/petugas
kesehatan
setelahnasional
memberikan
Masalah
di dikatakan
Indonesia adalah
salah satu masalah
kesehatan
yang
hasil
tes;
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
Apa yang
seharusnya
konselor/petugas
kesehatan
sampaikan
namun
kasus AIDS did.Indonesia
mengalami
lonjakan
yang bermakna.
Hal ini menuntut
perhatian
tidak
pernah
disampaikan
pada
saat
itu;
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
Praktik
Penyampaian
tes tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
pasien HIV2.AIDS.
Salah
satu bentukHasil
layanan
bertujuan tidak
hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Seorang peserta atau fasilitator EPT sedang menunggu hasil tes. Pasien
mendapatkan terapi
dan menangani
berbagai
masalah
dihadapi
oleh untuk
pasien.menunggu
tersebut
telah diberi
informasi
pra yang
tes dan
ditinggal
Layanan tes
dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
hasil.
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
Counselling
andkembali
Testing/VCT),
yanguntuk
dilakukan
di sarana

Panggil
satuHIV
pasien
yang akan
dibimbing
mendengarkan
kesehatan (RS, Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
hasilnya.
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Beberapa kelompok berlatih memberikan hasil non reaktif dan yang lain
Jumlah cakupan
layanan
dengan
hasil tersebut
reaktif. masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan

Lakukan praktik dalam 10 menit dan fasilitator akan memberikan umpan


bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
balik dari hasil praktik di depan kelas dan memandu diskusi selanjutnya.
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider

Adakah
kemungkinanmemudahkan
dukungan tambahan
dari layanan
berbasis
Initiated Testing
and Counselling)
dan mempercepat
diagnosis,
masyarakat
atau
perawatan
medis
yang
diperlukan
oleh
pasien?
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi

Selanjutnya, pada situasi sesungguhnya, seberapa banyak pasien yang


HIV yang tinggi.
memerlukan
dukungan
atau layanan
dariIAKMI)
saranamembantu
kesehatan.
Oleh karena
itu Organisasi
Profesi Kesehatan
(IDI,kesehatan
IBI, PPNI, ISFI,
Kementerian
menyusun panduan
untuk
membantu
tenaga(dalam
kesehatan
dalamini
3. Kesehatan
Berikan kesempatan
kepadaringkas
peserta
untuk
tanya jawab
proses
melakukan konseling
dan
tes
HIV
bagi
klien
atau
pasien.
Kami
berharap
melalui
panduan
ini,
fasilitator tetap perlu mengklarifikasi pendapat peserta yang telah tertuang
tenaga kesehatan
tidak akan
ragu dalam
mendorong
pasien untuk dengan
tes HIV sehingga
stigma/
saat curah
pendapat,
dengan
membandingkannya
materi yang
telah
diskriminasi tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
disajikan)
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
SESI 3. REFLEKSI
DAN
penyusunan
panduan ini
danRANGKUMAN
juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
Langkah-langkah pembelajaran:

PMTCT

Prevention on Mother to Child Transmission

SDM

Sumber Daya Manusia

TB

Tuberkulosis

three C

Azas dalam penyelenggaraan konseling dan tes HIV


yang harus selalu diterapkan. Tes HIV hanya akan
dilaksanakan setelah mendapatkan informed consent
dari klien, disertai dengan counselling terutama pada
saat pemberian hasil tes HIV dan dengan menjaga
confidentiality (hasil tes tidak akan diungkapkan kepada
orang lain yang tidak terkait dengan perawatan klien
tanpa seizing klien).

UNAIDS

Joint United Nations Programme on HIV and AIDS

UNGASS

United Nation General Assembly Special Session

VCT - KTS

HIV Voluntary Counseling and Testing (lihat juga KTS)

WHO

World Health Organization - Organisasi Kesehatan


Sedunia

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

3. Fasilitator mengajak seluruh peserta untukKetua


melakukan
refleksi
Umum PB
IDI bersama
tentang pembahasan materi ini. Apakah tujuan pembelajaran yang
ditetapkan sudah tercapai?.
4. Dilanjutkan dengan menutup sesi ini dengan memberikan apresiasi atas
keterlibatan aktif seluruh peserta.
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 76

Cyan

MODUL BAGI PESERTA

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

Black

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 8 of 46 - Pages: 8, 85, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KON

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI

DAFTAR ISI
HIV AIDS
di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang i
KATAMasalah
PENGANTAR
.........................................................................................................
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI ..................................................................... ii
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
TIM EDITOR
.................................................................................................................
semua
pihak, terutama
para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagiiii
pasien
HIV KONTRIBUTOR
AIDS. Salah satu
bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yangiii
DAFTAR
..............................................................................................
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
DAFTAR SINGKATAN
ISTILAHberbagai
...............................................................................
iv
mendapatkan
terapi danDAN
menangani
masalah yang dihadapi oleh pasien.
DAFTAR
ISI ..................................................................................................................
Layanan
tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling danvi
Tes
HIV Sukarela
HIVPENANGGULANGAN
Counselling and Testing/VCT),
dilakukan di
sarana 1
MODUL
DASAR.(Voluntary
KEBIJAKAN
HIV AIDSyang
DI INDONESIA
.............
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah 1
I. Deskripsi Singkat ...........................................................................................
terdapat
pusat layanan
untuk VCT
di 133
kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
II. 468Tujuan
Pembelajaran
Umum:
.......................................................................
2
Jumlah
cakupan
layanan tersebut
masih
tergolong rendah untuk menjangkau populasi 2
III. Tujuan
Pembelajaran
Khusus
........................................................................
berisikoIV.danPokok
mengetahui
status
HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan 2
Bahasan
..............................................................................................
bidan) V.
dalam
melakukan
deteksi
HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang 3
Metode .........................................................................................................
membutuhkan
layanan
belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider 3
VI. Media
Alat medis
Bantudan
..........................................................................................
Initiated
and Counselling)
memudahkan.....................................................
dan mempercepat diagnosis, 3
VI. Testing
Langkah-langkah
Kegiatan Pembelajaran
penatalaksanaan,
sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi 5
VIII. Uraiandan
Materi................................................................................................
HIV yang tinggi.
1. Tujuan Program......................................................................................... 5
2. Kebijakan
ProgramProfesi
Pengendalian
HIV
dan
Sektor
Kesehatan
.......... 6
Oleh karena
itu Organisasi
Kesehatan
(IDI,
IBI,AIDS
PPNI,
ISFI, IAKMI)
membantu
3.
Strategi
Program
Pengendalian
HIV
dan
AIDS
Sektor
Kesehatan
.............
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam 8
4. Targetdan
Umum
Program
Pengendalian
dan
AIDS Sektor
... 9
melakukan konseling
tes HIV
bagi klien
atau pasien.HIV
Kami
berharap
melaluiKesehatan
panduan ini,
5.
Kegiatan
Program
Pengendalian
HIV
dan
AIDS
Sektor
Kesehatan
...........
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/ 9
diskriminasi
tidak1. lagi
ada dalam PITC..........................................................................
pelayanan kesehatan.
MODUL INTI
PENGANTAR
10
Kami
ucapkan terima
kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam10
I. Deskripsi
Singkatkasih
.........................................................................................
penyusunan
panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.10
II. Tujuan Pembelajaran Umum:
.....................................................................
III. Tujuan Pembelajaran Khusus ...................................................................... 10
IV. Pokok Bahasan ............................................................................................ 11
Ketua Umum PB IDI
V. Metode .......................................................................................................
11
VI. Media Alat Bantu ........................................................................................ 11
VI. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran ................................................... 11
VIII. Uraian Materi.............................................................................................. 13
1. PITC Konseling dan Tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan.............. 13
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
2. Tantangan dalam Tes HIV ........................................................................ 15

ii vi

Cyan

Yellow

3. Jika masih belum cukup, tanyakan:"Emosi apa saja dari emosi tersebut yang
akan menjadi reaksi anda pada saat anda mendengar seseorang mengatakan
kepada anda bahwa tes HIV anda ternyata reaktif?"
____________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________________________________________
____________________

Black

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kepekaan kita atas emosi pasien, informasi medis yang akurat dan rujukan
merupakan dasar bagi penyampaian hasil tes HIV yang efektif.

Kem
me
ten
dis

Pokok Bahasan 3.
Langkah-langkah merujuk pasien secara efektif
1. Fasilitator memberikan salam pembuka dan menjelaskan tujuan dari topik
pada sesi ini.
2. Peserta berlatih dengan Pasien terlatih (EPT)

pen

LATIHAN 5-3
1. Berlatih dengan pasien terlatih:
Seorang Pasien Terlatih fasilitator Anda akan berbagi pengalamannya pada
saat menerima hasil tes HIV kepada peserta latih:

MODUL BAGI PESERTA

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
________________________________________________________________________________________________________________
____________________

75

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 9 of 46 - Pages: 84, 9, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


LATIHAN 5-1
KasusHIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
Masalah
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
__________________________________mengalami
_____________________________________lonjakan
______________________________yang
_________________bermakna.
_______________________________________Hal
_____________ini
__________menuntut
___________________________________perhatian
________________________________
kasus AIDS di______Indonesia
________________________________para
_________________tenaga
_________________________kesehatan
___________________________________yang
__________________memberikan
___________________________________________layanan
___________________________kesehatan
___________________________________bagi
________________
semua pihak,_____terutama
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_______________
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
__________________________________________diagnosis
______________________________namun
________________________juga
______________memberikan
__________________________________________konseling
_______________________________untuk
____________________
________hanya
_____________________untuk
___________________menegakkan
bertujuan tidak
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Pokok
Bahasan
Layanan
tes dan2.konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
CaraSukarela
Penyampaian
HasilHIV
tesCounselling
HIV kepadaand
Pasien
Tes HIV
(Voluntary
Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan1.
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
Hingga tahun
2008
Fasilitator memberikan salam pembuka
danAIDS.
menjelaskan
tujuan
daritelah
topik
terdapat 468 pada
pusatsesi
layanan
ini untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah
cakupanmelakukan
layanan tersebut
masihdengan
tergolong
rendah untuklatihan
menjangkau
populasi
2. peserta
keigatan
menggunakan
penyampaian
berisiko dan mengetahui
status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
hasil
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
pertama
petugas kesehatan
yang menyampaikan
hasil tesdiagnosis,
HIV adalah
Initiated Tugas
Testing
and Counselling)
memudahkan
dan mempercepat
memikirkan
reaksi
emosional
yang
kemungkinan
ditampilkan
pasien
saat
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
menerima hasil tes HIV.
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
LATIHAN 5-2
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan
tidak dalam
akan ragu
dalam
mendorong
pasien
untuk
tes mengantisipasi
HIV sehingga stigma/
1. Bahaslah
diskusi
dalam
kelompok
Anda
untuk
emosi
diskriminasi tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
yang mungkin timbul atau yang pernah mereka lihat dari pasien dengan
hasil testerima
negatif.kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
Kami ucapkan
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________Ketua
______________________Umum
__________________________PB
___________IDI
___________________________________________
____________________
2. Bahaslah dalam diskusi dalam kelompok Anda untuk mengantisipasi emosi
yang mungkin timbul atau yang pernah mereka lihat dari pasien dengan
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
hasil tes reaktif.

ii 74

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

MODUL INTI 2. INISIASI TES HIV .......................................................................... 19


I. Deskripsi Singkat ......................................................................................... 19
II. Tujuan Pembelajaran Umum: ..................................................................... 19
III. Tujuan Pembelajaran Khusus ...................................................................... 19
IV. Pokok Bahasan ............................................................................................ 20
V. Metode ....................................................................................................... 20
VI. Media Alat Bantu ........................................................................................ 20
VI. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran ................................................... 21
VIII. Uraian Materi.............................................................................................. 23
1. Manfaat dan Hambatan Tes HIV ............................................................. 23
2. Model Tes dan Konseling atas Inisiasi Petugas Kesehatan...................... 25
3. Informasi dasar HIV dan stadium klinis .................................................. 29
MODUL INTI 3. PEMERIKSAAN HIV ...................................................................... 36
I. Deskripsi Singkat ......................................................................................... 36
II. Tujuan Pembelajaran Umum: ..................................................................... 38
III. Tujuan Pembelajaran Khusus ...................................................................... 38
IV. Pokok Bahasan ............................................................................................ 39
V. Metode ....................................................................................................... 39
VI. Media Alat Bantu ........................................................................................ 39
VI. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran ................................................... 40
VIII. Uraian Materi.............................................................................................. 49
1. Tes Diagnostik: ........................................................................................ 49
2. Tes HIV Pelayanan Rutin ........................................................................ 49
3. Berikan Informasi Kunci Mengenai HIV/AIDS ........................................ 50
4. Prosedur untuk Menjamin Konfidensialitas .......................................... 56
a. Kukuhkan Kesediaan Pasien Untuk Menjalani tes HIV ....................... 56
b. memberikan Informasi Tambahan ..................................................... 57
c. Memadukan Informasi dan Edukasi Pra-Tes....................................... 57

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

MODUL INTI 4. PEMERIKSAAN HIV ...................................................................... 59


I. Deskripsi Singkat ......................................................................................... 59
II. Tujuan Pembelajaran .................................................................................. 59
a. Tujuan Pembelajaran Umum .................................................................. 59
b. Tujuan Pembelajaran Khusus .................................................................. 60
IV. Pokok Bahasan ............................................................................................ 60
V. Metode ....................................................................................................... 60
VI. Media Alat Bantu ........................................................................................ 60

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

vii

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 10 of 46 - Pages: 10, 83, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN


KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

VI. Langkah-langkah
Kegiatan Pembelajaran
...................................................
61
KATA PENGANTAR
KETUA UMUM
PB IDI
VIII. Uraian Materi.............................................................................................. 62
1. Tes HIV bagian dari Pelayanan ............................................................... 47
Masalah
HIV AIDSpemeriksaan
di Indonesia dan
adalah
salahmetoda
satu masalah
kesehatan
yang51
2. Strategi
ragam
pemeriksaan
HIVnasional
.................
memerlukan
penanganan
bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah69
VIII. Referensi
.....................................................................................................
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
MODUL INTI 5. MENYAMPAIKAN HASIL TES DAN RUJUKAN YANG EFEKTIF ........... 70
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
I. Deskripsi Singkat ......................................................................................... 70
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
II. Tujuan Pembelajaran Umum: ..................................................................... 72
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
III. Tujuan Pembelajaran Khusus ...................................................................... 72
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
IV. Pokok Bahasan ............................................................................................ 72
Layanan
tes dan
konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan72
V. Metode
.......................................................................................................
Tes HIVVI.Sukarela
Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana73
Media(Voluntary
Alat BantuHIV
........................................................................................
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di LSM peduli
AIDS. Hingga tahun 2008 telah73
VI. Langkah-langkah Kegiatan
Pembelajaran
...................................................
terdapat
468Uraian
pusat Materi..............................................................................................
layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
VIII.
77
Jumlah
cakupan
layanan
tersebut
masih
tergolong
rendah
untuk
menjangkau
populasi
1. Menafsirkan Hasil .................................................................................. 77
berisiko dan2.mengetahui
statusHasil
HIV .................................................................................
mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan77
Penyampaian
bidan) dalam
melakukan
deteksi
HIV
semakin
penting karena banyak ODHA yang80
2. Langkah Efektif dalammenjadi
Merujuk
.............................................................
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

Ketua Umum PB IDI

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


VI. MEDIA DAN ALAT BANTU
Masalah
HIV AIDS di disampaikan
Indonesia adalah
salahmenggunakan
satu masalah kesehatan
yang:
Pembelajaran
dengan
media dannasional
alat bantu
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
Indonesia
Komputer
kasus AIDS di
mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
LCD
semua pihak, terutama
para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS.
Salahtayang
satu bentuk
layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Bahan
(slide powerpoint)
bertujuan tidak
hanya
untuk
menegakkan
diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Modul
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Whiteboard/filpchart + spidol
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
VII.
PEMBELAJARAN
terdapat
468LANGKAH-LANGKAH
pusat layanan untuk VCT di 133 KEGIATAN
kabupaten/kota di
seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
PENGKONDISIAN
berisikoSESI
dan1.
mengetahui
status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam1.melakukan
HIV menjadi
banyak ODHA
yang
Fasilitatordeteksi
menyapa
pesertasemakin
denganpenting
ramahkarena
dan hangat.
Apabila
belum
membutuhkan layanan
medis
dan dengan
belum diketahui
statusSampaikan
HIVnya. Layanan
PITC (Provider
berkenalan
mulai
perkenalan.
tujuan pembelajaran
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
2. Menggali pendapat/pemahaman peserta tentang Penyampaian hasil tes dan
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
rujukan efektif
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian
menyusun
panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
SESI 2.Kesehatan
PEMBAHASAN
MATERI
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga Pokok
kesehatan
tidak akan
Bahasan
1. ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi
tidak
lagi
ada
pelayanan kesehatan.
Menafsirkan hasil dalam
tes HIV
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
1. Fasilitator
meminta
peserta
informasi
mengenai
penyusunan panduan
ini dan
juga kepada
pihakutntuk
GF-ATMmeninjau
yang telahkembali
mendukung
kegiatan
ini.
reagen tes kit HIV yang digunakan secara rinci
2. Fasilitator meminta peserta untuk membahas kasus dengan berpedoman
Ketua Umum
PB IDIhalaman 40
pada bagan Alur Tes cepat , pada buku pedoman
Penerapan

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii viii

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii

Black

KON

MODUL BAGI PESERTA

MODUL BAGI PESERTA

73

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 11 of 46 - Pages: 82, 11, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN


KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


II. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM:
Masalah
HIVmengikuti
AIDS di Indonesia
satu menyampaikan
masalah kesehatan
nasional
yang
Setelah
sesi ini adalah
pesertasalah
mampu
hasil
tes HIV
dan
memerlukan
bersama
secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
merujukpenanganan
pasien secara
efektif.
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
III. TUJUAN
PEMBELAJARAN
bertujuan
tidak hanya untuk
menegakkan diagnosisKHUSUS
namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Setelah selesai mengikuti sesi peserta latih mampu:
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
1. Menafsirkan
hasil
HIV
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIVtes
Counselling
and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
Mengkomunikasikan
tes HIV
kepada
pasien
kesehatan2.
(RS,
Puskesmas dan Klinik)hasil
maupun
di LSM
peduli
AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468
pusat layanan
untuk VCT di 133
kabupaten/kota
di seluruh
3. Melakukan
langkah-langkah
merujuk
pasien HIV
denganIndonesia.
efektif
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
IV. POKOK BAHASAN
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated 1.Testing
and Counselling)
Menafsirkan
hasil tes HIV memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
2. Cara penyampaian Hasil Tes HIV
HIV yang tinggi.
Langkah-langkah
merujuk
HIV(IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Oleh3.karena
itu Organisasi
Profesi pasien
Kesehatan
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
V. kesehatan
METODE
tenaga
tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Metode
yang
digunakan
dalam proses
yaitu
:
Kami
ucapkan
terima
kasih kepada
semua pembelajaran
pihak yang telah
berkontribusi
dalam
panduan
Tugas baca
sebelum
masukpihak
kelasGF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
penyusunan
ini dan
juga kepada
Curah pendapat
Ceramah Tanya Jawab (CTJ)
Ketua Umum PB IDI
Diskusi Kelompok

KATA PENGANTAR
KETUADASAR
UMUM PB IDI
MODUL
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
I. DESKRIPSI SINGKAT
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIV mengancam
Counselling and
Testing/VCT),
yang dilakukan
di sarana
Epidemi
HIV yang
kesehatan
dan kehidupan
generasi
penerus
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
bangsa, yang secara langsung membahayakan perkembangan sosial dan ekonomi,
terdapatserta
468 pusat
layanan
untukOleh
VCT di
133 kabupaten/kota
di seluruh Indonesia.
keamanan
negara.
karena
itu, upaya penanggulangannya
harus dilakukan
sebagai
upayalayanan
penting
dan merupakan
program
yang
dilaksanakan
jangka
Jumlah
cakupan
tersebut
masih tergolong
rendah
untuk
menjangkaudalam
populasi
yang dilaksanakan
secara terkoordinasi
melibatkan
berbagai
pihak,
berisiko panjang
dan mengetahui
status HIV mereka.
Peran tenagadengan
kesehatan
(dokter, perawat
dan
sertamelakukan
dengan memobilisasi
sumber
daya penting
yang intensif
dari seluruh
lapisan
bidan) dalam
deteksi HIV menjadi
semakin
karena banyak
ODHA yang
masyarakat
untuk
mempercepat
dan memperluas
jangkauan
program.
membutuhkan
layanan
medis
dan belum diketahui
status HIVnya.
Layanan
PITC (Provider
Initiated Testing
and Counselling)
memudahkan
dan mempercepat
diagnosis,
Pemerintah
menjamin bahwa
dengan mobilisasi
semua sumber
daya yang
penatalaksanaan,
dan
sudah
berkembang
luas
di
sejumlah
negara
dengan
tingkat
epidemi
disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan keadaan Negara, penanggulangan
HIV yangAIDS
tinggi.
akan memberikan dampak positif terhadap kelangsungan pembangunan suatu
Oleh
karena
itu Organisasi
Kesehatan (IDI,
IBI, PPNI, ISFI,
IAKMI) jawab
membantu
Negara. Pemerintah
jugaProfesi
telah mendorong
meningkatkan
tanggung
keluarga
Kementerian
Kesehatan menyusun
panduan
untuk upaya
membantu
tenaga
kesehatan dalam
dan masyarakat
terhadap
ODHA.ringkas
Sebaliknya,
untuk
meningkatkan
tanggung
melakukan
konseling
tes HIV
bagi klien
atau pasien.
Kami berharap
melalui
panduan
ini,perlu
jawab
ODHAdan
untuk
menjaga
keluarga
dan masyarakat
agar tidak
tertular
juga
tenaga kesehatan
tidak Mengingat
akan ragu dalam
mendorong
pasien
untukmasalah
tes HIV sehingga
stigma/
di tingkatkan.
epidemi
HIV sudah
menjadi
global, pemerintah
diskriminasi
tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
Indonesia berkomitmen menjalankan kesepakatan internasional untuk
penanggulangan
AIDS,mempromosikan
dan bilateral,
Kami
ucapkan terima
kasih kepada semua kerja
pihaksama
yangmultilateral
telah berkontribusi
dalamserta
memperluas
kerja
denganpihak
negara
tetangga
Program Penanggulangan
penyusunan
panduan ini
dansama
juga kepada
GF-ATM
yang dalam
telah mendukung
kegiatan ini.
AIDS.

KEBIJAKAN PENGENDALIAN HIV AIDS


DI INDONESIA

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

ii

Black

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Dasar hukum pengendalian tertuang antara lain dalam: Keputusan Presiden


Ketua Umum PB IDI
Nomor 36, tahun 1994 tentang Pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)
dan KPA Daerah sebagai lembaga pemerintah yang mengkoordinasikan pelaksanaan
penanggulangan AIDS, dimana Pemerintah telah membentuk Komisi
Penanggulangan AIDS (KPA) di tingkat Pusat disusul dengan terbentuknya KPA di
beberapa provinsi di Indonesia.
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS (1994) merupakan respons

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 72

KON

MODUL BAGI PESERTA

MODUL BAGI PESERTA

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 12 of 46 - Pages: 12, 81, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

yang sangat
penting
pada periode tersebut,
KPA telah
KATA
PENGANTAR
KETUAdimana
UMUM
PB mengkoordinasikan
IDI
upaya penanggulangan baik yang dilaksanakan pemerintah, LSM serta sektor-sektor
lainnya. Sementara itu bantuan dari luar negeri baik bantuan bilateral maupun
Masalah
HIVmulai
AIDS berperan
di Indonesia
adalah salahupaya
satu masalah
kesehatandiberbagai
nasional yang
multi
lateral
meningkatkan
penanggulangan
level.
memerlukan
penanganantersebut
bersamasemakin
secara komprehensif.
tahun besarannya
terakhir, jumlah
Bantuan-bantuan
meningkat baikSejak
jenis10
maupun
pada
kasus masa-masa
AIDS di Indonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
berikutnya.
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2006 mengamanatkan perlunya peningkatan
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
upaya penanggulangan HIV dan AIDS di seluruh Indonesia. Respons harus ditujukan
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
untuk mengurangi semaksimal mungkin peningkatan kasus baru dan kematian.
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Salah satu langkah strategis yang akan ditempuh adalah memperkuat Komisi
Layanan tes dan konseling
saat ini
masih dilakukan
dalam
dan
Penanggulangan
AIDS diHIV
semua
tingkat.
Anggaran
daribentuk
sektorKonseling
pemerintah
Tes HIV
Sukarela (Voluntary
Counselling
and Testing/VCT),
yang dilakukan
di sarana
diharapkan
juga akanHIV
meningkat
sejalan
dengan kompleksitas
masalah
yang
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
dihadapi. Sektor-sektor akan meningkatkan sumber daya dan cakupan program
terdapat
468 pusat layanan
untuk VCT
di 133
kabupaten/kota
seluruh Indonesia.
masing-masing.
Masyarakat
sipil
termasuk
LembagadiSwadaya
Masyarakat (LSM)
Jumlah
cakupan
layanan
tersebut
masih
tergolong
rendah
untuk
menjangkau
populasi
akan meningkatkan perannya sebagai mitra pemerintah.
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
II. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM:
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan,
sudah berkembang
luas di sejumlah
negara
dengandan
tingkat
epidemi
Setelah dan
mengikuti
pelatihan peserta
memahami
kebijakan
strategi
proHIV yang
tinggi.
gram
pengendalian HIV dan AIDS
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
III. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi
lagi ada dalam
1. tidak
Menjelaskan
Tujuanpelayanan
programkesehatan.
Kami
terimaKebijakan
kasih kepada
semua
pihak yang telah berkontribusi dalam
2. ucapkan
Menjelaskan
program
nasional
penyusunan
panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang telah mendukung kegiatan ini.
3. Menjelaskan Strategi program
4. Menjelaskan Target program
5. Menjelaskan Kegiatan Program
Ketua Umum PB IDI

Konseling bagi perempuan hamil dengan HIV reaktif juga harus meliputi masalah
berikut:

IV. POKOK BAHASAN

Jelaskan layanan perawatan lanjutan yang tersedia di sarana kesehatan dan


masyarakat, khususnya ketersediaan layanan pengobatan, PMTCT dan
layanan perawatan serta dukungan.
Berikan informasi tentang cara mencegah penularan HIV, termasuk
pemberian kondom laki-laki ataupun perempuan dan cara menggunakannya.
Beri informasi cara pencegahan lain yang relevan terkait dengan cara
menjaga kesehatan seperti informasi tentang gizi, terapi profilaksis
kotrimoksasol, dan mencegah malaria dengan kelambu di daerah endemis
malaria.
Bahas kemungkinan untuk mengungkapkan hasil tes HIV, waktu dan cara
mengungkapkannya serta mereka yang perlu mengetahui.
Dorong dan tawarkan rujukan untuk tes HIV dan konseling bagi pasangan
dan anaknya.
Lakukan penilaian kemungkinan mendapatkan tindak kekerasan atau
kemungkinan bunuh diri dan bahas langkah-langkah untuk mencegahnya,
terutama pasien perempuan yang didiagnosis HIV reaktif.
Rencanakan waktu khusus untuk kunjungan tindak lanjut mendatang atau
rujukan untuk pengobatan, perawatan, konseling, dukungan dan layanan
lain yang diperluklan oleh pasien (misalnya, skrining dan pengobatan TB,
terapi profilaksis untuk IO, pengobatan IMS, KB, perawatan hamil, terapi
rumatan pengguna opioid, akses pada layanan jarum suntik steril - LJSS).

Rencana persalinan
Penggunaan antiretroviral bagi kesehatannya sendiri manakala ada indikasi,
dan untuk pencegahan penularan dari ibu ke anak.
Dukungan gizi yang memadai, termasuk pemenuhan kebutuhan zat besi dan
asam folat
Pilihan tentang makanan bayi dan dukungan untuk melaksanakan pilihannya
Tes HIV bagi bayinya kelak dan tindak lanjut yang mungkin diperlukan
Tes HIV bagi pasangan

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan


sebagai
berikut :Sp.Rad(K)
Dr. Prijo
Sidipratomo,
1. Tujuan program Kebijakan
ii 2

Cyan

MODUL BAGI PESERTA

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

Black

71

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 13 of 46 - Pages: 80, 13, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATA PENGANTAR
KETUA
UMUM
MODUL
INTI
5 PB IDI
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang

PENYAMPAIAN
HASIL
TES Sejak
DAN
RUJUKAN
memerlukan
penanganan bersama secara
komprehensif.
10 tahun
terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
YANG
EFEKTIF
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
I. DESKRIPSI SINGKAT
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
Counselling
andintegral
Testing/VCT),
yang tes
dilakukan
di sarana
Konseling
pasca tesHIV
merupakan
bagian
dari proses
HIV. Semua
pasien
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
yang menjalani tes HIV harus mendapatkan konseling pasca tes pada saat hasil tes
terdapat
468 pusat layanan
untuk VCT di 133
di seluruh Indonesia.
disampaikan,
tanpa memandang
hasilkabupaten/kota
tes HIV nya. Konseling
bagi yang hasilnya
non
reaktif,
minimal
harus
meliputi
haltergolong
sebagai rendah
berikut:untuk menjangkau populasi
Jumlah
cakupan
layanan
tersebut
masih
berisiko dan
HIVhasil
mereka.
Perantermasuk
tenaga kesehatan
(dokter,
perawat
dan
mengetahui
Penjelasan status
tentang
tesnya,
penjelasan
tentang
periode
bidan) dalamjendela,
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
yaitu belum terdeteksinya antibodi HIV dan anjuran untuk menjalani
membutuhkan
layanan
medis
dan belum
status HIVnya.
Layanan
PITC (Provider
tes kembali
manakala
sudahdiketahui
terjadi pajanan
HIV pada
akhir-akhir
ini.
Initiated Testing
and
Counselling)
memudahkan
dan
mempercepat
diagnosis,
Nasehat dasar tentang cara mencegah terjadinya penularan HIV
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
Pemberian kondom laki-laki atau perempuan
HIV yang tinggi.
petugas
kesehatan
maupun
pasien(IDI,
selanjutnya
menilai
OlehBaik
karena
itu Organisasi
Profesi
Kesehatan
IBI, PPNI, membahas
ISFI, IAKMI) dan
membantu
perlunya
rujukanmenyusun
untuk mendapatkan
konseling
tes lebih
jauh
atau dukungan
Kementerian
Kesehatan
panduan ringkas
untuk pasca
membantu
tenaga
kesehatan
dalam
pencegahan
lainnya.
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan
tidakdengan
akan ragu
dalam
untuk
tes HIV
sehingga
stigma/
Bagi pasien
hasil
tes mendorong
HIV reaktif,pasien
tindakan
yang
harus
dilakukan
oleh
diskriminasi
tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
petugas kesehatan adalah sebagai berikut:
Kami
terimainformasi
kasih kepada
yang
telahsecara
berkontribusi
dalam
ucapkan
Memberikan
hasil semua
tes HIVpihak
kepada
pasien
sederhana
dan
penyusunan panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.
jelas, dan beri kesempatan kepada pasien sejenak untuk mencerna informasi
tersebut.
Yakinkan bahwa pasien mengerti akan arti hasil tes HIV
Ketua Umum PB IDI
Beri kesempatan pasien untuk bertanya
Bantu pasien untuk mengatasi emosi yang timbul karena hasil tes reaktif
Bahas masalah yang perlu perhatian segera dan bantu pasien menemukan
jejaring sosial yang mungkin dapat memberikan dukungan dengan segera
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
dan dapat diterima.

ii 70

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

2.
3.
4.
5.

Kebijakan program nasional


Strategi program
Target Program
Kegiatan program

me
kas
sem
pas
ber
me

V. METODE
Metode yang digunakan dalam proses pembelajaran yaitu :
Tugas baca sebelum masuk kelas
Curah pendapat
Ceramah Tanya Jawab (CTJ)
Diskusi Kelompok

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

VI. MEDIA DAN ALAT BANTU


Pembelajaran disampaikan dengan menggunakan media dan alat bantu :
Komputer
LCD
Bahan tayang (slide powerpoint)
Modul
Whiteboard/filpchart + spidol

Kem
me
ten
dis

pen

VII. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN


SESI 1. PENGKONDISIAN
1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Apabila belum
berkenalan mulai dengan perkenalan. Sampaikan tujuan pembelajaran,
sebaiknya dengan menggunakan bahan tayang.
2. Menggali pendapat/pemahaman peserta terkait Kebijakan Penanggulangan
HIV AIDS di Indonesia
MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 14 of 46 - Pages: 14, 79, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

SESI 2. PEMBAHASAN
MATERI
KATA PENGANTAR

KON

KETUA UMUM PB IDI


VIII. REFERENSI

Pokok Bahasan 1.
Masalah
HIV AIDS
di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
Tujuan
program
kebijakan
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
1. Fasilitator menyampaikan materi dengan menggunakan tayangan power point
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
2. Fasilitator
terkait layanan
materi diatas
semua pihak,
terutama melakukan
para tenagakegiatan
kesehatantanya
yangjawab
memberikan
kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Pokoktidak
Bahasan
bertujuan
hanya2.
untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Kebijakan
Program
Nasional berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
mendapatkan terapi dan menangani
Layanan
tes dan kembali
konseling
HIV saat inidengan
masih dilakukan
bentuk
Konseling
dan
1. Fasilitator
melanjutkan
penjelasandalam
mengenai
Kebijakan
program
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
2. Fasilitator melakukan kegiatan tanya jawab terkait materi kebjiakan program
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
dan permasalahannya
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah
cakupan3.layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
Pokok
Bahasan
berisiko
dan mengetahui
Strategi
Program status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan
layanan kembali
medis dan
belum diketahui
HIVnya.mengenai
Layananstrategi
PITC (Provider
1. Fasilitator
melanjutkan
denganstatus
penjelasan
program
Initiated 2.Testing
and
Counselling)
memudahkan
dan
mempercepat
diagnosis,
Fasilitator melakukan proses tanya jawab mengenai bentuk apa saja yang
penatalaksanaan,
sudahsebagai
berkembang
luasefektif
di sejumlah
dengan
tingkat epidemi
dapatdan
dipakai
strategi
untuknegara
program
penanggulangan
HIV
HIV yang tinggi.
AIDS di wilayah peserta.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian
Kesehatan
Pokok Bahasan
4.menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan
konseling
dan
tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
Target Program
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
1. tidak
Fasilitator
kembali
dengan penjelasan mengenai Target program
diskriminasi
lagi ada
dalammelanjutkan
pelayanan kesehatan.
2. ucapkan
Fasilitator
melakukan
prosessemua
tanya pihak
jawabyang
mengenai
target apa saja
yang
Kami
terima
kasih kepada
telah berkontribusi
dalam
diharapkan
darijuga
program
HIVtelah
AIDSmendukung
di wilayah kerja
peserta
penyusunan panduan
ini dan
kepadaPenanggulangan
pihak GF-ATM yang
kegiatan
ini.
Pokok Bahasan 5.
Kegiatan Program

1. HIV Rapid Test Training Module, CDC Atlanta

me
kas
sem
pas
ber
me

2. Pedoman Kewaspadaan Universal, 2008


3. Pedoman Konseling dan Tes HIV secara sukarela, 2006
4. Pedoman standar pelayanan laboratorium untuk pemeriksaan HIV dan
infeksi oportunistik, tahun 2006

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Ketua Umum PB IDI

1. Fasilitator kembali melanjutkan dengan penjelasan mengenai Kegiatan program


2. Fasilitator melakukan proses tanya jawab mengenai Kegiatan apa saja yang
telah dilaksanakan di wilayah kerja peserta
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 4

Cyan

MODUL BAGI PESERTA

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

Black

69

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 15 of 46 - Pages: 78, 15, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Persiapan
KATASampel
PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI
Pengambilan sampel darah vena dilakukan oleh Flebotomis atau tenaga yang
berkompetensi melakukan pengambilan sampel darah vena
Masalah
HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
Sampel darah vena harus dilakukan pengolahan misalnya sentrifugasi
memerlukan sebelum
penanganan
bersama
secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
dilakukan
pemeriksaan
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
Prosedur pengambilan dan pengolahan sampel darah harus mengikuti
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
Prosedur Kerja Standar (SOP).
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan Pemeriksaan
tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan
terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Harus mengikuti strategi 3 untuk diagnosis
Pemeriksaan
Layanan
tes dan konseling
HIV saat
ini masih
Menggunakan
reagensia
secara
serialdilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes
HIV Sukarela
(Voluntary
Counselling
and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
Harus
mengikuti
strategi HIV
3 untuk
diagnosis
Mengikuti SOP dan sesuai leaflet.
Menggunakan
reagensia
serial di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
kesehatan
(RS, Puskesmas
dansecara
Klinik) maupun
Hasil
bisa di leaflet.
interpretasikan bila garis kontrol keluar garis/dot, namun
Mengikuti
SOPbaru
dan sesuai
terdapat
468 pusat
layanan
untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
bila
tidak
hasil
invalid
diulang
Hasil baru bisa dinterpretasikansehingga
bila garisharus
control
keluarpemeriksaan
garis/dot, namun
Jumlah
cakupan
layanan
tersebut
masih
tergolong
rendah untuk menjangkau populasi
bila tidak hasil invalid sehingga harus diulang pemeriksaan.
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Tes 1
Tes 2
Tes 3
Status HIV
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Non-reaktif
Non Reaktif
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
Reaktifdan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap?????
melakukan konseling
melalui panduan ini,
tenaga kesehatan
tidak akan ragu
dalam
mendorong
untukIndeterminate
tes HIV sehingga stigma/
Reaktif
Non
Reaktif
Nonpasien
Reaktif
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Reaktif
Non Reaktif
Reaktif
Indeterminate
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
Reaktifini dan juga
Reaktif
Non Reaktif
penyusunan panduan
kepada pihak GF-ATM
yang telahIndeterminate
mendukung kegiatan ini.

Kemungkinan Hasil dalam Algoritma


Serial

Reaktif

Reaktif

Reaktif

Reaktif

Ketua Umum PB IDI


Petugas lab

Tenaga kesehatan

Konselor

48

Hasil Pemeriksaan
Serial,
bila hanya ada
Hasil
Pemeriksaan harus
harusmenggunakan
menggunakanStrategi
Strategi3 secara
3 secara
Serial,
1 bila
atau
2 jenis
hasil
tidak dapat
dan harus
dilakukan
hanya
adareagensia,
1 atau 2 jenis
reagensia,
hasil
tidak
dikeluarkan
Dr.dikeluarkan
Prijo dapat
Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
dan harus dilakukan
pemeriksaan
lanjutanpemeriksaan
ke reagensialanjutan
ke tiga. ke reagensia ke tiga.

ii 68

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

SESI 3. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN


1. Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk melakukan refleksi bersama
tentang pembahasan materi ini. Apakah tujuan pembelajaran yang
ditetapkan sudah tercapai?.
2. Dilanjutkan dengan menutup sesi ini dengan memberikan apresiasi atas
keterlibatan aktif seluruh peserta.

VII. URAIAN MATERI

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

Pokok Bahasan 1.
Tujuan program
Memahami tujuan program sangat penting bagi seorang manajer dan pengelola
program untuk mengarahkan dan memprioritaskan kegiatan yang memiliki dampak
besar terhadap pencapaian tujuan program. Tujuan program secara umum juga
dapat menjadi kompas jalannya suatu program dan indikator dalam melakukan
monitoring dan evaluasi kemajuan program. Pada tingkat nasional tujuan program
dirumuskan sebagai berikut:

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Tujuan Umum
Mencegah dan mengurangi penularan HIV, meningkatkan kualitas hidup ODHA
serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS pada individu,
keluarga dan masyarakat.
Tujuan Khusus
1) Menyediakan dan meningkatkan mutu pelayanan perawatan, pengobatan,
dan dukungan kepada ODHA yang terintegrasi dengan upaya pencegahan.
2) Menyediakan dan menyebarluaskan informasi dan menciptakan suasana
kondusif untuk mendukung upaya penanggulangan HIV dan AIDS, dengan
menitik beratkan pencegahan pada sub-populasi berperilaku resiko tinggi
dan lingkungannya dengan tetap memperhatikan sub-populasi lainnya.
3) Meningkatkan peran serta remaja, perempuan, keluarga dan masyarakat
umum termasuk ODHA dalam berbagai upaya penanggulangan HIV dan AIDS.

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 16 of 46 - Pages: 16, 77, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
DAN
TES
HIV
ATAS
INISIASI
PETUGAS
KESEHATAN
KONSELING
KONSELING
DAN
DAN
TESTESHIV
HIVATAS
ATAS
INISIASI
INISIASI
PETUGAS
PETUGAS
KESEHATAN
KESEHATAN

Penjelasan
: PENGANTAR
4) Mengembangkan
dan meningkatkan
kemitraan
antara
KATA
KETUA
UMUM
PBlembaga
IDI pemerintah,
LSM, sektor swasta dan dunia usaha, organisasi profesi, dan mitra
1.internasional
Sampel diperiksa
dengan
(yangmeningkatkan
sensitifitasnya respons
tinggi) bila
hasilnya
di pusat
dan reagensia
di daerah 1untuk
nasional
negatif
dilaporkan
Nonadalah
Reaktif.
Masalah
HIV AIDS
di dan
Indonesia
salah satu masalah kesehatan nasional yang
terhadap
HIV
AIDS.
memerlukan
penanganan
bersama
secara
komprehensif.
Sejak
10 tahun
terakhir,
jumlah
Bila reagensia
1 Reaktif
dilanjutkan
dengan
reagensia
kedua,
5)2.Meningkatkan
koordinasi
kebijakan
nasional
dan
daerah
serta
inisiatif
dalam
kasus AIDS dipenanggulangan
Indonesia mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
HIV
danhasilnya
AIDS. Non Reaktif, diulangi dengan sampel baru
3. terutama
Bila Reagensia
kedua
semua pihak,
para tenaga
kesehatan yang
memberikan layanan kesehatan bagi
secara
bersamaan
Reagensia
1
dan
2.
pasien
HIV Bahasan
AIDS. Salah
Pokok
2. satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan
tidak
hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
namunSektor
juga
4. Bila
reagensia
1 dan 2 Reaktif
dilanjutkan
ke memberikan
reagensia
3,konseling untuk
Kebijakan
Program
Pengendalian
HIV dan
AIDS
Kesehatan
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
5. Bila reagensia 1, dan 2 dan 3 Reaktif- Hasil dilaporkan Reaktif
Sebagian
besar
kasus HIV
terjadi
pada kelompok
perilaku
resiko tinggi
Layanan
tes dan
konseling
HIVdan
saatAIDS
ini masih
dilakukan
dalam bentuk
Konseling
dan
6.
Bila
reagensia
1
Reaktif
dan
reagensia
kedua
atau
ketiga
salah
satu
yang
merupakan
kelompok
yang dimarginalkan,
program-program
Tes HIV
Sukarela
(Voluntary
HIV Counselling
and Testing/VCT),maka
yang dilakukan
di saranaNon
Reaktif,
hasil
dilaporkan
Indeterminate.
pencegahan
dan penanggulangan
danpeduli
AIDSAIDS.
memerlukan
pertimbangan
kesehatan
(RS, Puskesmas
dan Klinik) maupunHIV
di LSM
Hingga tahun
2008 telah
keagamaan,
adat-istiadat
dan
yang
berlaku
disamping
terdapat
4687.pusat
layanan
untuk
VCTnorma-norma
di 133 kabupaten/kota
di seluruh
Indonesia.
Untuk
bahan
pemeriksaan
yang masyarakat
memberikan
hasil
indeterminate,
pertimbangan
kesehatan.
Penularan
dan
penyebaran
HIV
dan
AIDS
sangat14
pemeriksaan
diulang
bahan
baru
yang
diambil minimal
Jumlah cakupan
layananperlu
tersebut
masihdengan
tergolong
rendah
untuk
menjangkau
populasi
berhubungan
dengan
perilaku
beresiko,
oleh
karena
itu penanggulangan
harus
hari sesudah
pengambilan
yang
pertama.
Bila
hasil
pemeriksaan
kedua
berisiko
dan mengetahui
status
HIV mereka.
Peran
tenaga
kesehatan
(dokter, perawat
danjuga
faktor-faktor
berpengaruh
terhadap
perilaku
tersebut.
indeterminate,
perlu
dipantau
ulang lebih
lamakarena
yaitu
pada
3, 6ODHA
atau Respon
12
bulan.
bidan)memperhatikan
dalam melakukan
deteksi
HIVyang
menjadi
semakin
penting
banyak
yang
pemerintah
dan
tututan
masyarakat
tehadap
akses
dan
ketersediaan
layanan
harus
hasilmedis
tetap dan
menunjukan
"indeterminate"
setelah
1 tahun,
individu
membutuhkan Bila
layanan
belum diketahui
status HIVnya.
Layanan
PITCmaka
(Provider
mendapatkan
perhatian
dan
komitmen
yang
memadai
agar
dapat
tersebut
dianggap
sebagai
anti
HIV
non
reaktif.
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
berkesinambungan
sesuai
dengan kebutuhan.
Berikut
ini dipaparkan
kebijakan
propenatalaksanaan,
dan penentuan
sudah
berkembang
di atau
sejumlah
negara
dengan
tingkat
epidemi
8. Untuk
resiko luas
tinggi
rendah
hanya
dapat
dilakukan
oleh
gram
pengendalian HIV dan AIDS sektor kesehatan baik kebijakan secara umum
HIV yang
tinggi.
dokter penanggung jawab yang berwenang.
dan kebijakan operasional program yang bersifat khusus
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
9. Petugas laboratorium bertugas memeriksa sesuai kualitas.
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
Kebijakan Umum
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
1. Upaya
penanggulangan
HIVmendorong
dan AIDS harus
nilai-nilai
agama
tenaga kesehatan
tidak
akan ragu dalam
pasienmemperhatikan
untuk tes HIV sehingga
stigma/
RAGAM METODA PEMERIKSAAN HIV
dan budaya/norma
kemasyarakatan
diskriminasi tidak
lagi ada dalam pelayanan
kesehatan.dan kegiatannya diarahkan untuk
mempertahankan
memperkokoh
ketahanan
dan
keluarga;
Kami Daftar
ucapkan
kepada
semua
yang umum
telahkesejahteraan
berkontribusi
dalam tes
di terima
bawahkasih
inidan
menunjukkan
tespihak
HIV yang
dipakai. Beberapa
2.
Mengingat
luasnya
respon
dan
permasalahan,
maka
upaya
penanggulangan
penyusunan
panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.lain
bertujuan diagnostik, seperti EIA, tes cepat, Western Blot, dan p24. Tes
AIDS harus
dilakukan
melalui
suatu gerakan
secara nasional
sektor
merupakan
tambahan
dalam
memantau
perkembangan
penyakit,bersama
seperti CD4
dan
dan
komponen
lain.
Viral Load.
Ketua
Umum PB IDIharkat dan
3.Upaya
penanggulangan
HIV dan AIDS harus
menghormati
Diagnosis
HIV (Tes Antibodi/Antigen)
martabat
manusia
serta memperhatikan
keadilan dan kesetaraan gender;
- Enzyme
Immunoassays
(EIAs)
4. Upaya
pencegahan
- Tes
cepat HIV dan AIDS pada anak sekolah, remaja dan masyarakat
umum
diselenggarakan
- Western Blot (WB)melalui kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi
mendorong
kehidupan
guna
Diagnosis
awal untuk
bayi yang lebih
Dr.sehat;
Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
5. Upaya
pencegahan
yang
efektif
termasuk
penggunaan kondom 100% pada
- Antigen p24

MODUL
BAGI
PESERTA
ii 6 66 MODUL
MODUL
BAGI
BAGI
PESERTA
PESERTA

Cyan

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

- PCR DNA/RNA
Menginisiasi dan memantau pengobatan
- CD4
- Viral Load

me
kas
sem
pas
ber
me

TANTANGAN TES HIV


Ada beberapa tantangan terkait Tes HIV:

Tes antibodi terhadap HIV tudak dapat dipakai untuk menegakkan diagnosis pada bayi usia kurang dari 18 bulan.
Beberapa tes mungkin tidak mampu mendeteksi antibodi terhadap semua
subtipe HIV. Contoh, generasi tes HIV pertama tidak mampu mendeteksi
grup O.
Reaksi silang dengan kondisi penyakit atau infeksi lain menurunkan
spesifisitas tes, contoh, virus sitomegalovirus dan Epstein-Barr.
Beberapa tehnologi membutuhkan peralatan khusus yang harus dirawat
dengan tepat.
Petugas harus mempunyai keahlian tertentu untuk menginterpretasikan hasil
tes dengan akurat (dari mudah hingga yang sulit)

PEMERIKSAAN HIV
Persiapan Pasien
Setiap pasien yang akan melakukan pemeriksaan HIV harus sudah melalui
prosedur konseling baik VCT maupun PITC.
Pasien menandatangani lembar inform consent sebagai tanda persetujuan
pemeriksaan.

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Persiapan Petugas
Petugas yang melakukan pemeriksaan HIV sudah mendapatkan pelatihan
dan pemeriksaan HIV harus memenuhi syarat 3 C, Consent, Counselling dan
confidential

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

67

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 17 of 46 - Pages: 76, 17, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELING
KONSELING
DAN
DAN
DAN
TESTESHIV
TES
HIVATAS
HIV
ATAS
ATAS
INISIASI
INISIASI
INISIASI
PETUGAS
PETUGAS
PETUGAS
KESEHATAN
KESEHATAN
KESEHATAN

Penjelasan
Penjelasan
: :
KATA

PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI

1.1.Sampel
Sampel
diperiksa
diperiksa
dengan
dengan
reagensia
reagensia
1 (yang
1 (yang
sensitifitasnya
sensitifitasnya
tinggi)
tinggi)
bila
bila
hasilnya
hasilnya
negatif
negatif
dilaporkan
dilaporkan
Non
NonReaktif.
Reaktif.
Masalah
HIV AIDS
di Indonesia
adalah
salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan
penanganan
bersama
secara
komprehensif.
Sejak
10 tahun
terakhir, jumlah
2.2.Bila
Bila
reagensia
reagensia
11
Reaktif
Reaktif
dilanjutkan
dilanjutkan
dengan
dengan
reagensia
reagensia
kedua,
kedua,
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
3.3.Bila
BilaReagensia
Reagensia
kedua
keduahasilnya
hasilnyaNon
NonReaktif,
Reaktif,diulangi
diulangi
dengan
dengan
sampel
sampel
baru
baru
semua pihak,
terutama
para tenaga
kesehatan
yang
memberikan
layanan
kesehatan
bagi
secara
secara
bersamaan
bersamaan
Reagensia
Reagensia
dan
1 dan
2.2. adalah konseling dan tes HIV yang
pasien HIV AIDS.
Salah
satu bentuk
layanan1 tersebut
bertujuan 4.
tidak
hanya
untuk menegakkan
diagnosis
namun ke
juga
memberikan
4.Bila
Bila
reagensia
reagensia
1 dan
1 dan
2 Reaktif
2 Reaktif
dilanjutkan
dilanjutkan
ke
reagensia
reagensia
3,3,konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
5.5.Bila
Bila
reagensia
reagensia
1,1,
dan
dan
2 dan
2 dan
3 Reaktif3 ReaktifHasil
Hasil
dilaporkan
dilaporkan
Reaktif
Reaktif
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
6.6.Bila
Bilareagensia
reagensia1HIV
1Reaktif
Reaktif
dan
danreagensia
reagensia
kedua
keduaatau
atauketiga
ketigasalah
salah
satuNon
Non
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
Counselling
and
Testing/VCT),
yang
dilakukan
disatu
sarana
Reaktif,
Reaktif,
hasil
hasil
dilaporkan
dilaporkan
Indeterminate.
Indeterminate.
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468
pusat
layanan
untuk
VCT di 133 kabupaten/kota
di seluruh
Indonesia.
7.7.Untuk
Untuk
bahan
bahan
pemeriksaan
pemeriksaan
yang
yangmemberikan
memberikan
hasil
hasil
indeterminate,
indeterminate,
pemeriksaan
perlu
perlu
diulang
diulang
dengan
dengan
bahan
bahan
baru
baru
yang
yang
diambil
diambilminimal
minimal
Jumlahpemeriksaan
cakupan
layanan
tersebut
masih
tergolong
rendah
untuk
menjangkau
populasi1414
hari
hari
sesudah
sesudah
pengambilan
pengambilan
yang
yang
pertama.
pertama.
Bila
Bila
hasil
hasil
pemeriksaan
pemeriksaan
kedua
kedua
juga
juga
berisiko dan mengetahui
status
HIV mereka.
Peran
tenaga
kesehatan
(dokter, perawat
dan
indeterminate,
perlu
perlu
dipantau
dipantau
ulang
lebih
lebih
lama
lama
yaitu
yaitu
pada
pada
3,3,
6 atau
6ODHA
atau
1212
bulan.
bulan.
bidan) dalamindeterminate,
melakukan
deteksi
HIV
menjadiulang
semakin
penting
karena
banyak
yang
Bila
Bila
hasil
hasil
tetap
tetap
menunjukan
menunjukan
"indeterminate"
"indeterminate"
setelah
setelah
1 tahun,
1 tahun,
maka
maka
individu
individu
membutuhkan
layanan
medis
dan
belum diketahui
status HIVnya.
Layanan
PITC
(Provider
tersebut
tersebut
dianggap
dianggap
sebagai
sebagai
anti
anti
HIV
HIV
non
non
reaktif.
reaktif.
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan,
danpenentuan
sudah berkembang
luas
di
sejumlah
negara
dengan
tingkat
epidemi
8.8.Untuk
Untuk
penentuan
resiko
resikotinggi
tinggi
atau
atau
rendah
rendah
hanya
hanya
dapat
dapat
dilakukan
dilakukan
oleh
oleh
HIV yang tinggi.
dokter
dokterpenanggung
penanggungjawab
jawabyang
yangberwenang.
berwenang.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
9.9.Petugas
Petugaslaboratorium
laboratoriumbertugas
bertugasmemeriksa
memeriksasesuai
sesuaikualitas.
kualitas.
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
RAGAM
RAGAMMETODA
METODAPEMERIKSAAN
PEMERIKSAANHIV
HIV
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami
ucapkan
terima
kasih
kepada semua
pihak
yang
telah dipakai.
berkontribusi
dalam
Daftar
Daftar
didibawah
bawahini
inimenunjukkan
menunjukkan
testesHIV
HIVyang
yang
umum
umum
dipakai.Beberapa
Beberapa
testes
penyusunan
panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.
bertujuan
bertujuandiagnostik,
diagnostik,seperti
sepertiEIA,
EIA,testescepat,
cepat,Western
WesternBlot,
Blot,dan
danp24.
p24.Tes
Teslain
lain
merupakan
merupakan
tambahan
tambahan
dalam
dalam
memantau
memantau
perkembangan
perkembangan
penyakit,
penyakit,
seperti
seperti
CD4
CD4
dan
dan
Viral
ViralLoad.
Load.
Ketua Umum PB IDI
Diagnosis
DiagnosisHIV
HIV(Tes
(TesAntibodi/Antigen)
Antibodi/Antigen)
- - Enzyme
EnzymeImmunoassays
Immunoassays(EIAs)
(EIAs)
- - Tes
Tescepat
cepat
- - Western
WesternBlot
Blot(WB)
(WB)
Diagnosis
Diagnosisawal
awaluntuk
untukbayi
bayi
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
- - Antigen
Antigenp24
p24

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

setiap hubungan seks berisiko, semata-mata hanya untuk memutus rantai


penularan HIV;
6. Upaya penanggulangan HIV and AIDS merupakan upaya-upaya terpadu dari
peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan dan
perawatan berdasarkan data dan fakta ilmiah serta dukungan terhadap
ODHA.
7. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat,
pemerintah, dan LSM berdasarkan prinsip kemitraan. Masyarakat dan LSM
menjadi pelaku utama sedangkan pemerintah berkewajiban mengarahkan,
membimbing dan menciptakan suasana yang mendukung terselenggaranya
upaya penanggulangan HIV dan AIDS;
8. Upaya penanggulangan HIV and AIDS diutamakan pada kelompok
masyarakat berperilaku risiko tinggi tetapi harus pula memperhatikan
kelompok masyarakat yang rentan, termasuk yang berkaitan dengan
pekerjaannya dan kelompok marginal terhadap penularan HIV and AIDS;

Kebijakan Operasional

ii 6666 MODUL
MODUL
MODUL
BAGI
BAGI
BAGI
PESERTA
PESERTA
PESERTA

Cyan

Magenta

Yellow

Pemerintah pusat bertugas melakukan regulasi dan standarisasi secara


nasional kegiatan program AIDS dan pelayanan bagi ODHA,
Penyelenggaran dan pelaksanaan program dilakukan sesuai azas desentralisasi
dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program
Pemerintah berkewajiban menjamin tersedianya ARV maupun reagen
pemeriksaan secara berkesinambungan.
Pengembangan layanan bagi ODHA dilakukan melalui pengkajian
menyeluruh dari berbagai aspek yang meliputi : situasi epidemi daerah,
beban masalah dan kemampuan, komitmen, strategi dan perencanaan,
kesinambungan, fasilitas, SDM dan pembiayaan. Sesuai dengan
kewenangannya pengembangan layanan ditentukan oleh Dinas Kesehatan.
Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV and AIDS harus didahului
dengan penjelasan yang benar dan mendapat persetujuan yang
bersangkutan (informed consent). Konseling yang memadai harus diberikan
sebelum dan sesudah pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan diberitahukan
kepada yang bersangkutan tetapi wajib dirahasiakan kepada fihak lain.
Setiap pemberi pelayanan berkewajiban memberikan layanan tanpa
diskriminasi kepada ODHA
Keberpihakan kepada ODHA dan masyarakat (patient and community centered)
MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 18 of 46 - Pages: 18, 75, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Upaya
mengurangi
infeksi HIVKETUA
pada pengguna
napzaPB
suntik
KATA
PENGANTAR
UMUM
IDImelalui kegiatan
pengurangan dampak buruk (harm reduction) dilaksanakan secara
komprehensif dengan juga mengupayakan penyembuhan dari
Masalah
HIV AIDS di Indonesia
adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
ketergantungan
pada napza.
memerlukan
penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
Penguatan dan pengembangan program diprioritaskan bagi peningkatan
kasus AIDS dimutu
Indonesia
mengalami
lonjakan yangakses
bermakna.
Hal pencegahan,
ini menuntut perhatian
pelayanan,
dan kemudahan
terhadap
pelayanan
semua pihak,dan
terutama
para tenaga
kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pengobatan
bagi ODHA
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Layanan
bagi ODHA
dilakukan
secara
holistik,
komprehensif
dan integratif
bertujuan tidak
hanya untuk
menegakkan
diagnosis
namun
juga memberikan
konseling
untuk
sesuai
dengan
konsep
layanan
perawatan
yang
berkesinambungan.
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Pengembangan layanan dilakukan secara bertahap pada seluruh pelayanan
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
yang ada sesuai dengan fungsi dan strata pelayanan dengan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
mempertimbangkan kemampuan dan kesiapan sarana, tenaga dan dana.
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
Pencapaian
nasional
juga memperhatikan
komitmen dan
terdapat 468
pusat layanantarget
untukprogram
VCT di 133
kabupaten/kota
di seluruh Indonesia.
target internasional
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
Pokok Bahasan 3.
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
Strategi Program Pengendalian HIV dan AIDS Sektor Kesehatan
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Strategi
Testingmerupakan
and Counselling)
memudahkan
mempercepat
diagnosis,
langkah-langkah
yang harusdan
dilakukan
untuk mencapai
tujuan.
penatalaksanaan,
dan
sudah
berkembang
luas
di
sejumlah
negara
dengan
tingkat
epidemi
Secara umum strategi meliputi:
HIV yang tinggi.
1. Meningkatkan dan mengembangkan program (Program Expansion Strategy)
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
dengan memfokuskan akses layanan bermutu (KTS, PDP, IMS, PDB, PMTCT, dll),
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
penguatan jejaring layanan, pelibatan semua penyedia layanan (care provider)
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
dan merespon tantangan baru seperti drug resistance, kolaborasi TB-HIV
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
2. tidak
Meningkatkan
dan memperkuat
kebijakan dan kepemilikan program melalui
diskriminasi
lagi ada dalam
pelayanan kesehatan.
regulasi, standarisasi layanan program, mobilisasi dan harmonisasi sumber daya
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
dan alokasi pembiayaan.
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
3. Meningkatkan dan memperkuat sistem kesehatan dan manajemen program,
melalui peningkatan kapasitas program, pengembangan SDM program yang
profesional, manajemen logistik, kegiatan M & Ketua
E program
danPB
promosi
Umum
IDI program
4. Meningkatkan dan menguatkan sistem informasi strategis melalui
pengembangan kegiatan surveilans generasi kedua, penelitian operasional untuk
memperoleh data dan informasi bagi pengembangan program penanggulangan
HIV dan AIDS
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
5. Memberdayakan ODHA dan masyarakat dalam upaya pencegahan, perawatan,
dukungan, pengobatan dan upaya kegiatan program lainnya.

ii 8

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Harus melakukan PMI (Pemantapan Mutu Internal)


Harus mengikuti PME (Pemantapan Mutu Eksternal)
Reagensia yang digunakan harus sudah lulus evaluasi dari LRN RSCM.

Untuk dilayanan PITC, pada keadaan dimana dokter curiga pada pasien yang sudah
dengan tanda - tanda klinis (TB, Candidiasis Oral) dicurigai adanya infeksi
oportunistik namun hasil pemeriksaan laboratorium Non Reaktif (walaupun hal ini
jarang terjadi) perlu dilihat adanya kemungkinan Non Reaktif disebabkan oleh
Negatif Palsu untuk mengatasinya perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan
Viral Load.
Window period (masa jendela) pada hasil laboratorium yang Non Reaktif dapat
terjadi pada pasien - pasien yang menderita IMS dan Layanan Methadon yang belum
menunjukkan gejala adanya infeksi oportunistik.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ALUR STRATEGI 3 PEMERIKSAAN HIV UNTUK DIAGNOSIS

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

A1
A1 positif

A1 negatif

A2

A1 pos, A2 pos

Lapor sebagai
"Non-reaktif"

A1 pos, A2 neg

Ulangi
A1 & A2

A1 pos, A2 pos

Kem
me
ten
dis

A1 neg, A2 neg

A1 pos, A2 neg
Lapor sebagai
"Non-reaktif"
A3

pen
A1 pos
A2 pos
A3 pos

Lapor sebagai
"Reaktif"

A1 pos A2 neg A3 neg


A1 pos A2 pos A3 neg
or
A1 pos A2 neg A3 pos

Lapor sebagai
"Indeterminate"

Risiko
tinggi

Risiko
rendah

Lapor sebagai
"Indeterminate"

Lapor sebagai
"Non-reaktif"

Rujuk ke laboratorium rujukan regional atau


laboratorium rujukan nasional

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

65

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 19 of 46 - Pages: 74, 19, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

disimpulkan
sebagai
terinfeksi HIV. Namun
jika hasil
pemeriksaan
yang kedua adalah
KATA
PENGANTAR
KETUA
UMUM
PB IDI
non reaktif, maka pemeriksaan harus diulang dengan ke-2 reagensia tersebut. Bila
hasil tetap tidak sama, maka dilaporkan sebagai indeterminate.
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
Strategi ketiga, diawali seperti pada strategi dua dan dilanjutkan dengan
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
pemeriksaan ketiga menggunakan reagensia yang berbeda dari dua pemeriksaan yang
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
sebelumnya. Reagensia yang dipakai pada pemeriksaan ketiga harus memiliki nilai
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
spesifisitas yang lebih tinggi dari ada reagensia pertama dan kedua, serta menggunakan
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
antigen atau tehnik yang berbeda. Bila hasil ketiga pemeriksaan memberikan hasil yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
reaktif, maka dapat disimpulkan bahwa penderita tersebut memang terinfeksi HIV. Bila
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
dua hasil pemeriksaan reaktif dan satu hasilnya non reaktif, , maka keadaan ini disebut
Layananindeterminate.
tes dan konseling
HIV saat
masih
dilakukan dalam
bentuksedangkan
Konselingkedua
dan
sebagai
Bila hanya
satuinihasil
pemeriksaan
yang reaktif,
Tes HIV
Sukarela (Voluntary
HIV
Counselling
Testing/VCT),
dilakukan
di sarana
pemeriksaan
selanjutnya
non
reaktif danand
bila penderita
yangyang
diperiksa
memiliki
riwayat
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
pemaparan terhadap HIV atau berisiko tinggi tertular HIV, maka dapat dilaporkan sebagai
terdapat
468 pusat layanan
untukbila
VCThasil
di 133
kabupaten/kota
seluruh Indonesia.
indeterminate.
Sedangkan
seperti
yang disebutdisebelumnya
terjadi pada orJumlah
cakupan
layanan
tersebut
masih
tergolong
rendah
untuk
menjangkau
populasi
ang tanpa riwayat pemaparan terhadap HIV atau tidak berisiko tertular HIV, maka
hasil
berisiko
dan mengetahui
statussebagai
HIV mereka.
Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
pemeriksaan
dilaporkan
non reaktif.
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
Setelah pada pemeriksaan penyaring dijumpai hasil yang reaktif, pemeriksaan dapat
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi untuk memastikan adanya infeksi oleh HIV.
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
Di Indonesia
penggunaan
strategi
HIV adalah
sebagai
penatalaksanaan,
dan sudah
berkembang
luaspemeriksaan
di sejumlah negara
dengan
tingkatberikut
epidemi:
HIV yang tinggi.
1. Strategi 1 - digunakan untuk keamanan darah (skrining darah donor) hanya
Oleh karena
itu Organisasi
Profesi
Kesehatan
IBI, PPNI,
ISFI,
IAKMI)
menggunakan
satu
reagensia
dengan(IDI,
sensitifitas
yang
tinggi
> 99membantu
%.
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
2. Strategi 2 - digunakan untuk Surveilans dengan menggunakan dua macam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
reagensia dengan sensitifitas > 99 % dan spesifisitas > 98 %.
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
3. Strategi
3 -dalam
digunakan
untuk kesehatan.
diagnosis dengan menggunakan reagensia Rapid
diskriminasi tidak
lagi ada
pelayanan
atau Elisa
sesuai
241/Menkes/IV/2006
Standar
Kami ucapkan
terima
kasihdengan
kepada KepMenKes
semua pihaknoyang
telah berkontribusi- dalam
Pelayanan
Kesehatan
HIV/AIDSkegiatan
dan Infeksi
penyusunan panduan
ini danLaboratorium
juga kepada pihak
GF-ATMPemeriksaan
yang telah mendukung
ini.
Oportunistik, dengan syarat sebagai berikut :
Pemeriksaan dilakukan secara serial
Reagensia Pertama memiliki sensitivitas Ketua
99 % Umum PB IDI
Reagensia Kedua memiliki spesifisitas 98%
Reagensia Ketiga memiliki spesifisitas 99 % atau lebih dari reagensia kedua
Ketiga reagen memiliki preparasi antigen berbeda
Hasil Diskordan tidak boleh lebih Dr.
dariPrijo
5% Sidipratomo, Sp.Rad(K)
Petugas harus terlatih dan tersertifikasi

ii 64

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Pokok Bahasan 4.
Target Umum Program Pengendalian HIV dan AIDS Sektor Kesehatan
12 Scaling up program dijabarkan lebih lanjut menjadi beberapa sasaran kunci,
yang juga sejalan dengan upaya mewujudkan universal access, yaitu sebagai
berikut:
1. 100% ODHA yang ditemukan dan memenuhi syarat pengobatan menerima ARV
2. 95% ODHA patuh minum ARV selama 1 tahun

me
kas
sem
pas
ber
me

Pokok Bahasan 5.
Kegiatan Program Pengendalian HIV dan AIDS Sektor Kesehatan

Tes
kes
ter

a) Kegiatan Manajemen Program


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Perencanaan dan Pengembangan Program


Pengorganisasia dan Pelaksanaan Program
Pemantauan dan Penilaian Program
Pengembangan SDM Program
Manajemen Logistik
Informasi Strategis Program

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

b) Kegiatan Teknis Program


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Intervensi Perubahan Perilaku


Konseling dan Tes HIV
Perawatan, Dukungan dan Pengobatan
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak
Pengendalian IMS
Pengurangan dampak buruk Napza suntik
Kolaborasi TB-HIV
Kewaspadaan Universal
Pengamanan Darah

Kem
me
ten
dis

pen

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 20 of 46 - Pages: 20, 73, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATA PENGANTAR
KETUA
UMUM
MODUL
INTI
1 PB IDI
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
I. DESKRIPSI
bertujuan
tidak hanya untukSINGKAT
menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Pelatihan singkat ini dirancang untuk dokter, perawat, dan bidan di layanan
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
kesehatan primer dan sekunder, untuk meningkatkan ketrampilan dalam
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
meminisiasi atau menawarkan tes dan konseling HIV. Pelatihan merupakan bagian
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
dari pelatihan Perawatan, dukungan dan pengobatan ODHA, namun juga dapat
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
digunakan untuk pelatihan kolaborasi TB-HIV, klinik KIA, klinik IMS dan layanan
Jumlah cakupan
tersebut
masihtinggi
tergolong
rendah
untuk menjangkau
populasi
kesehatan
bagilayanan
populasi
berisiko
(PS,
Penasun,
LSL/ Waria).
Untuk
berisiko
dan
mengetahui
status
HIV
mereka.
Peran
tenaga
kesehatan
(dokter,
perawat
dan
memberikan konseling bagi pasien yang menolak untuk tes, perlu mengikuti
bidan)pelatihan
dalam melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
tambahan lain yaitu pelatihan konselor KTS/ VCT yang memerlukan waktu
membutuhkan
layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
lebih panjang.
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
II.OlehTUJUAN
PEMBELAJARAN UMUM:
karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian
Kesehatan
menyusun
panduan
ringkas untuk
membantu
tenagatantangan
kesehatan dalam
Setelah
mengikuti
sesi
ini peserta
mampu
memahami
untuk
melakukan
konseling
dan
tes
HIV
bagi
klien
atau
pasien.
Kami
berharap
melalui
panduan
melaksanakan tes HIV serta latar belakang penerapan konseling dan tes HIV ini,
atas
tenagainisiasi
kesehatan
tidakkesehatan
akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
petugas
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

PENGANTAR PITC

III. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS

Setelah selesai mengikuti sesi peserta latih mampu:


Ketua Umum PB IDI
1. Menjelaskan gambaran umum tentang konseling dan tes HIV atas inisiasi
petugas kesehatan.
2. Melaksanakan tantangan yang dihadapi untuk melaksanakan tes HIV
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 10

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Tes serial berarti contoh darah dites dengan tes pertama. Tes pertama
menentukan apakah tes tambahan diperlukan.
PEMERIKSAAN PENYARING
Sebagai penyaring biasanya digunakan tehnik ELISA, aglutinasi, dot-blot
immunobinding assay atau teknik immunoassay yang lain. World Health
Organization (WHO) menganjurkan pemakaian salah satu dari 3 strategi
pemeriksaan antibodi terhadap HIV di bawah ini, tergantung pada tujuan
penyaringan, keadaan populasi dan keadaan penderita (Tabel 1).

Tujuan pemeriksaan
Keamanan transfusi dan transplantasi

Surveillance
Diagnosis

Bergejala infeksi
HIV /AIDS
Tanpa gejala

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

Tabel 1: Penggunaan strategi pemeriksaan anti-HIV


Prevalensi infeksi
HIV

Strategi
pemeriksaan

Semua
prevalen

>10 %
10 %
>30 %
30 %
>10 %
10 %

I
II
I
II
II
III

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

Dikutip dari WHO/BTS/99.1

Pada strategi pertama dilakukan satu kali pemeriksaan antibodi. Bila hasil
pemeriksaan reaktif, maka dianggap sebagai kasus terinfeksi HIV dan bila hasil
pemeriksaan non reaktif dianggap tidak terinfeksi HIV. Reagensia yang dipakai untuk
pemeriksaan pada strategi ini harus memiliki sensitivitas yang tinggi (>99%).

pen

Strategi kedua menggunakan 2 kali pemeriksaan terhadap serum yang pada


pemeriksaan pertama memberikan hasil reaktif. Perlu diperhatikan bahwa pada
pemeriksaan pertama digunakan reagensia dengan sensitivitas tertinggi dan pada
pemeriksaan kedua dipakai reagensia yang memiliki nilai spesifisitas yang lebih
tinggi daripada reagensia pertama serta berbeda jenis antigen atau tehniknya
daripada reagensia pertama. Bila hasil pemeriksaan kedua juga reaktif, maka
MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

63

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 21 of 46 - Pages: 72, 21, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


VI. URAIAN MATERI
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan
Pokok Pembahasan
penanganan 1.
bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasusTes
AIDS
HIVdibagian
Indonesia
darimengalami
Pelayananlonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIVLayanan
AIDS. Salah
satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Tes HIV
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Pemeriksaan
dilaksanakan
dalam
: yang dihadapi oleh pasien.
mendapatkan
terapi danHIV
menangani
berbagai
masalah
1. Untuk Uji Saring Darah : dilayanan Transfusi Darah/PMI
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
2. Untuk Surveilans : di Balai Laboratorium Kesehatan.
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
3. Diagnosis (HCT): VCT dan PITC
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
Pelayanan
pemeriksaan
HIVdi
harus
semua
layanan seperti:
terdapat 468
pusat layanan
untuk VCT
133 diintergrasikan
kabupaten/kota dalam
di seluruh
Indonesia.
ANC,
TB
dan
IMS.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan
mengetahui
status HIV
mereka. Peran
kesehatan
(dokter,
dan
Untuk
memfasilitasi
pencapaian
tes tenaga
yang tinggi,
layanan
tesperawat
tradisional
bidan) dalam
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
digabungkan ke dalam strategi nasional. Layanan tes tradisional ini dapat
membutuhkan
layanan medis
dan
belum rujukan
diketahuilaboratorium
status HIVnya.
PITC (Provider
dihubungkan
dengan
jaringan
danLayanan
pengontrolan
kualitas.
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan,
dan sudah
berkembang
di sejumlah
negara
dengan tingkat epidemi
Penggunaan
Tehnologi
Tes HIVluas
dalam
Perawatan
Ber-kesinambungan
HIV yang tinggi.
Berbagai tes dilakukan di berbagai stadium. Tes cepat HIV memegang peranan
Olehpenting
karena dalam
itu Organisasi
Profesi Kesehatan
(IDI,terinfeksi
IBI, PPNI, HIV.
ISFI, IAKMI) membantu
mengidentifikasi
siapa yang
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
lain, contoh,
CD4
dan
viral
load, Kami
memegang
peranan
melakukanTes
konseling
dan tesjumlah
HIV bagi
klien
atau
pasien.
berharap
melaluipenting
panduanuntuk
ini,
menentukan
kapan
ART
akan
diinisiasi,
dan
sesudah
inisiasi,
apakah
ART
bekerja
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
atau
tidak.
diskriminasi
tidak
lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
Pokok Pembahasan 2.
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
Strategi pemeriksaan dan ragam metoda pemeriksaan HIV

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

IV. POKOK BAHASAN


1. Provider-Initiated HIV Counselling and Testing

me
kas
sem
pas
ber
me

2. Tantangan terkait Tes HIV

V. METODE
Metode yang digunakan dalam proses pembelajaran yaitu :

Tugas baca sebelum masuk kelas

Curah pendapat

Ceramah Tanya Jawab (CTJ)

Diskusi Kelompok

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

VI. MEDIA DAN ALAT BANTU


Pembelajaran disampaikan dengan menggunakan media dan alat bantu :

Komputer

LCD

Bahan tayang (slide powerpoint)

Modul

Whiteboard/filpchart + spidol

Kem
me
ten
dis

pen

Strategi dan Algoritma


Ketua Umum PB IDI
Strategi adalah pendekatan tes yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan
khusus, seperti, keamanan darah transfusi, surveilans, dan diagnosis. Untuk
keperluan ini, algoritma yang dipilih harus sesuai dengan tujuan pemeriksaan.

VII. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN


SESI 1. PENGKONDISIAN

Strategi tes HIV


Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
Tes serial adalah strategi yang direkomendasikan oleh Kementrian Kesehatan.

ii 62

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Apabila belum


berkenalan mulai dengan perkenalan. Sampaikan tujuan pembelajaran,

MODUL BAGI PESERTA

Black

11

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 22 of 46 - Pages: 22, 71, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

sebaiknya
dengan menggunakan
bahanUMUM
tayang. PB IDI
KATA PENGANTAR
KETUA
2. Menggali pendapat/pemahaman peserta terkait program PITC di Indonesia
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan
penanganan bersama
SESI 2. PEMBAHASAN
MATERIsecara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
Pokok Bahasan 1.
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Provider Initiated HIV Counselling and Testing / PITC
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan
terapi dan menyampaikan
menangani berbagai
masalah
yang dihadapi
oleh pasien.
1. Fasilitator
paparan
tentang
PITC dengan
menggunakan
Layanan
tes
dan
konseling
HIV
saat
ini
masih
dilakukan
dalam
bentuk
Konseling
dan
tayangan power point
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIV Counselling
and Testing/VCT),
dilakukan
saranaini
2. Berikan
kesempatan
kepada peserta
untuk tanyayang
jawab
(dalamdiproses
kesehatan (RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
fasilitator tetap perlu mengklarifikasi pendapat peserta yang telah tertuang
terdapat 468 saat
pusatcurah
layanan
untuk VCT
di 133membandingkannya
kabupaten/kota di seluruh
Indonesia.
pendapat,
dengan
dengan
materi yang telah
Jumlahdisajikan).
cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan
status
HIVmelakukan
mereka. Peran
tenaga
kesehatan
(dokter,
perawat dan :
3. mengetahui
Peserta diajak
utnuk
aktifitas
penugasan
dengan
menggunakan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated LATIHAN
Testing 1-1
and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Peserta dibagi dalam kelompok masing-masing terdiri dari 8-10 orang.
OlehDiskusikan
karena itudengan
Organisasi
Profesi Kesehatan
(IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
kelompok
saudara tentang:
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
1. Berapa persen dari pasien saudara yang memiliki risiko HIV.
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
2. Berapa
persen
daridalam
pasienmendorong
yang menganggap
bahwa
dirisehingga
merekastigma/
sendiri
tenaga kesehatan
tidak
akan ragu
pasien untuk
tes HIV
terkena
HIV. pelayanan kesehatan.
diskriminasi tidak
lagirisiko
ada dalam
3. ucapkan
Berapa persen
anda
yangpihak
merasa
berisiko
tersebut mengetahui
Kami
terima dari
kasihpasien
kepada
semua
yang
telah berkontribusi
dalam
status
HIV
nya?
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
Pokok Bahasan 2.
Tantangan Terkait Tes HIV

Ketua Umum PB IDI

1. Fasilitator menyampaikan paparan tentang Tantangan Terkait Tes HIV


2. Berikan kesempatan kepada peserta untuk tanya jawab (dalam proses ini
fasilitator tetap perlu mengklarifikasi pendapat peserta yang telah tertuang
Dr. Prijo Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
saat curah pendapat, dengan membandingkannya
dengan materi
yang telah
disajikan).

ii 12

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

VI. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN


Pada sesi materi ini, peserta akan mempelajari 3 (tiga) pokok bahasan.
Berikut ini merupakan pedoman bagi fasilitator dan peserta dalam melaksanakan pembelajaran.

SESI 1. PENGKONDISIAN
1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Apabila belum
berkenalan mulai dengan perkenalan. Sampaikan tujuan pembelajaran,
sebaiknya dengan menggunakan bahan tayang.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

2. Menggali pendapat/pemahaman peserta terkait pemeriksaan HIV


3. Tuliskan kata kunci pendapat mereka pada kertas flipchart atau metaplan

SESI 2. PEMBAHASAN MATERI PEMERIKSAAN HIV


1. Fasilitator menyampaikan paparan dengan menggunakan tayangan power point,
tentang :
a. Tes HIV bagian dari pelayanan
b. Strategi pemeriksaan dan ragam metoda pemeriksaan HIV
c. Cara membaca hasil pemeriksaan HIV.
2. Berikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya (dalam proses ini fasilitator
tetap perlu mengklarifikasi pendapat peserta yang telah tertuang saat curah
pendapat, dengan membandingkannya dengan materi yang telah disajikan)

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

SESI 3. REFLEKSI DAN RANGKUMAN


1. Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk melakukan refleksi bersama
tentang pembahasan materi ini. Apakah tujuan pembelajaran yang
ditetapkan sudah tercapai?.
2. Dilanjutkan dengan menutup sesi ini dengan memberikan apresiasi atas
keterlibatan aktif seluruh peserta.

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

61

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 23 of 46 - Pages: 70, 23, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

B.

Tujuan
pembelajaran
khusus:
KATA
PENGANTAR

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KETUA UMUM PB IDI

Pada akhir sesi ini, peserta mampu :


Masalah
HIV AIDS dites
Indonesia
adalahbagian
salah satu
kesehatan nasional yang
1. Menjelaskan
HIV menjadi
dari masalah
pelayanan
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
strategi pemeriksaan
ragam metoda
pemeriksaan
HIV.
kasus AIDS2. diMenjelaskan
Indonesia mengalami
lonjakan yangdan
bermakna.
Hal ini menuntut
perhatian
semua pihak,
terutama para
kesehatan
yang memberikan layanan kesehatan bagi
3. Memahami
hasiltenaga
pemeriksaan
HIV.
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
III. POKOK BAHASAN
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIV Counselling
andbahasan
Testing/VCT),
yang dilakukan di sarana
Dalam modul
ini akan
dibahas pokok
berikut:
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
Pokok Bahasan 1.
Tes HIV bagian dari pelayanan
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Pokok
Bahasan
2. tersebut
Strategi
pemeriksaan
dan ragam
pemeriksaan
Jumlah
cakupan
layanan
masih
tergolong rendah
untukmetoda
menjangkau
populasi
HIV
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam
melakukan
HIV
semakin
karenaHIV.
banyak ODHA yang
Pokok
Bahasandeteksi
3.
Caramenjadi
membaca
hasil penting
pemeriksaan
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan,
dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
IV. METODE
HIV yang tinggi.
Oleh1.karena
Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Curahitu
pendapat
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
2. Ceramah tanya jawab
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
V.KamiMEDIA
BANTU
ucapkan DAN
terima ALAT
kasih kepada
semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
1. Komputer
2. LCD
Ketua Umum PB IDI
3. Audio Visual Aid
4. Kertas metaplan

6. Spidol

Cyan

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

3. Peserta diajak melakukan aktifitas penugasan dengan menggunakan aktifitas


curah pendapat menggunakan :

LATIHAN 1-2
Tantangan melakukan tes HIV:
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________

SESI 3. REFLEKSI DAN RANGKUMAN


Langkah-langkah pembelajaran:
1. Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk melakukan refleksi bersama
tentang pembahasan materi ini. Apakah tujuan pembelajaran yang
ditetapkan sudah tercapai?.
2. Dilanjutkan dengan menutup sesi ini dengan memberikan apresiasi atas
keterlibatan aktif seluruh peserta

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

VIII.URAIAN MATERI

pen
Pokok Bahasan 1.
PITC - Konseling dan Tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan

Latar Belakang Pentingnya Konseling dan Tes HIV atas Inisiasi Petugas
Kesehatan

5. Flipchart

ii 60

KON

Yellow

Sejak tersedia tes antibody yang terjangkau secara luas, Program nasional
Pengendalian HIV/AIDS mendorong tes HIV dengan menerapkan konseling dan tes

MODUL BAGI PESERTA

Black

13

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 24 of 46 - Pages: 24, 69, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

HIV secara
sukarela
dengan mengembangkan
klinik KTS tersebar
KATA
PENGANTAR
KETUA UMUM
PB IDIdi daerah yang
membutuhkan dan melatih konselor KTS secara luas. KTS dalam hal tersebut
merupakan ujung tombak atau pintu masuk utama bagi ODHA untuk mendapatkan
MasalahPDP
HIVHIV.
AIDSTes
diHIV
Indonesia
adalah secara
salah satu
masalah kesehatan
yang
layanan
dilaksanakan
konfidensialitas,
dengannasional
mendapatkan
memerlukan
penanganan
bersama
komprehensif.
Sejak
tahun
jumlah
informed
consent dari
pasien,secara
disertai
konseling pra
dan10
pasca
testerakhir,
yang memadai.
kasus Meskipun
AIDS di Indonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
layanan KTS tersebut telah dilaksanakan sejak 2005 namun cakupannya
semuabelum
pihak,sesuai
terutama
paraharapan.
tenaga kesehatan
yang
memberikan
layanan kesehatan
dengan
Seperti kita
ketahui
dari permodelan
epidemicbagi
yang
pasiendikembangkan
HIV AIDS. Salah
satu
bentukRIlayanan
adalah yang
konseling
dan tesmasih
HIV yang
oleh
DEPKES
bahwatersebut
jumlah ODHA
terjangkau
jauh
bertujuan
tidak
hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
namun
juga
memberikan
konseling
untuk
dari jumlah yang diperkirakan ada. Sebagai contoh bahwa ODHA yang menjangkau
mendapatkan
dantahun
menangani
berbagaikumulatif
masalah yang
dihadapi
pasien. proyeksi
layanan terapi
sampai
2009 secara
adalah
43.118oleh
sementara
jumlah
pada
tahun HIV
2009saat
berdasarkan
data 2006
adalah
314.500
. Tampak
LayananODHA
tes dan
konseling
ini masih dilakukan
dalam
bentuk
Konseling
dan
bahwa
cakupan
layanan
masih
jauh dari
yang
diharapkan.
Terlebih
Indonesia
telah
Tes HIV
Sukarela
(Voluntary
HIV
Counselling
and
Testing/VCT),
yang
dilakukan
di sarana
mengikatkan
diri dan
dalam
kesepakatan
global
yaitu
Access,
untuk
kesehatan
(RS, Puskesmas
Klinik)
maupun di LSM
peduli
AIDS.Universal
Hingga tahun
2008 telah
memberikan
pencegahan,
perawatan
dan dukungan
bagi semua
terdapat
468 pusat akses
layanan
untuk VCT dipengobatan,
133 kabupaten/kota
di seluruh
Indonesia.
ODHA
yang
membutuhkan
pada
tahun
2010.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan
mengetahui
HIVdimereka.
Peran
tenaga kesehatan
(dokter,
perawat dan
Mengingat
halstatus
tersebut
atas maka
jangkauan
layanan tes
dan konseling
HIV
bidan)perlu
dalamditingkatkan,
melakukan deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
untuk meningkatkan jumlah orang yang mengetahui status
membutuhkan
layanan
medis
dan mendapatkan
belum diketahui
status
HIVnya.
Layananlebih
PITCdini.
(Provider
HIVnya agar yang HIV positif
akses
layanan
kesehatan
Upaya
Initiated
Testing
andlayanan
Counselling)
memudahkan
dan inisiasi
mempercepat
diagnosis,di
tersebut
adalah
konseling
dan tes HIV atas
petugas kesehatan
penatalaksanaan,
dan sudah berkembang
luas di sejumlah
dengan
tingkat epidemi
samping menguatkan
layanan konseling
dan tes negara
HIV secara
sukarela.
Langkah
HIV yang
tinggi.merupakan langkah penting dalam mencapai tujuan dari universal access
tersebut
bagi
OlehODHA.
karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian
Kesehatan
menyusun
panduan
ringkas
untuk membantu
tenaga
kesehatan
dalam
Lihatlah
kembali
tantangan
untuk
melakukan
tes HIV yang
sering
dihadapi
pada
melakukan
konseling
dan
tes
HIV
bagi
klien
atau
pasien.
Kami
berharap
melalui
panduan
ini,
bahan bacaan pokok bahasan A di atas.
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
Pedoman
PITC di sarana
kesehatan merekomendasikan Tes HIV
diskriminasi
tidak lagipelaksanaan
ada dalam pelayanan
kesehatan.
sebagai berikut:
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
1. panduan
Ditawarkan
kepada
semua pasien
yang menunjukkan
gejala dankegiatan
tanda klinis
penyusunan
ini dan
juga kepada
pihak GF-ATM
yang telah mendukung
ini.
yang mungkin mengindikasikan infeksi HIV, tanpa memandang tingkat epidemic daerahnya.
Ketua
Umum
PB semua
IDI
2. Sebagai bagian dari prosedur baku perawatan
medis
pada
pasien
yang datang di sarana kesehatan di daerah dengan tingkat epidemic yang
meluas.
3. Ditawarkan dengan lebih selektif kepada pasien di daerah dengan tingkat
epidemi terkonsentrasi atau rendah. Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
Persyaratan penting bagi penerapan PITC tersebut adalah adanya lingkungan
ii 14

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

MODUL INTI 4
PEMERIKSAAN HIV
I.

me
kas
sem
pas
ber
me

DESKRIPSI SINGKAT

Pemeriksaan HIV yang dilakukan harus disesuaikan dengan tujuannya, apakah


untuk uji saring darah donor, surveilans atau diagnosa. Pedoman ini membatasi
pemeriksaan HIV untuk kepentingan diagnosa.
Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan No 241/Menkes/SK/IV/2006
tentang Standar Pelayanan Laboratorium Kesehatan Pemeriksa HIV dan Infeksi
Oportunistik bahwa pemeriksaan HIV untuk kepentingan diagnosa pada pasien yang
asimptomatik harus menggunakan strategi III dimana pemeriksaan dilakukan
sebanyak tiga kali dengan persyaratan reagensia pertama memiliki sensitifitas > 99%,
reagensia kedua memiliki spesifisitas > 98% dan reagensia ketiga memiliki spesifisitas
>99%. Preparasi antigen atau prinsip tes dari ke tiga reagensia tersebut di atas tidak
boleh sama. Artinya reagensia yang dipakai pada pemeriksaan kedua dan ketiga
mempunyai prinsip pemeriksaan yang berbeda, misalnya Elisa, Rapid Dot Blot, Rapid
Imunkromatografi atau Aglutinasi atau memiliki jenis antigen yang berbeda misalnya
antigen asal lisat virus, antigen rekombinan atau sintetika peptida. Selain itu
perbedaan hasil pemeriksaan oleh dua jenis reagensia harus kurang dari 5%.
Pemeriksaan HIV untuk dilayanan PITC adalah menggunakan strategi 3 di
agnosis dengan metoda serial. Untuk interpretasi hasil dilakukan pemeriksaan HIV
dilaksanakan oleh dokter penanggung jawab.

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


A. Tujuan pembelajaran umum:
Pada akhir sesi, peserta mampu memahami strategi pemeriksaan HIV

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

59

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 25 of 46 - Pages: 68, 25, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Tes
HIV harus
dianjurkan kepada
pasienUMUM
TB karenaPB
pasien
KATA
PENGANTAR
KETUA
IDITB sangat besar
kemungkinannya mengalami infeksi HIV. Tes HIV pada pasien tersebut
merupakan "tes diagnostik" karena diagnosis HIV akan membantu petugas
Masalah
HIV AIDS perawatan
di Indonesiakesehatan
adalah salah
satu masalah
kesehatan
yang
pelayanan
memberikan
diagnosis
dannasional
merawat
TB.
memerlukan Namun
penanganan
bersama
secara
komprehensif.
Sejak
10
tahun
terakhir,
jumlah
dapat juga dianggap sebagai "penawaran rutin" karena itu setiap
kasus AIDS dipasien
Indonesia
mengalami
lonjakan
bermakna.
Hal menjalani
ini menuntut
perhatian
diduga
TB secara
rutinyang
dianjurkan
untuk
Tes
HIV. Hal
semua pihak,tersebut
terutamaterutama
para tenaga
kesehatan
yang
memberikan
layanan
kesehatan
terjadi pada kelompok dengan prevalensi HIV yang bagi
tinggi
pasien HIV AIDS.
Salah satu
bentuk
layanan
tersebut
adalah
konseling dan tes HIV yang
atau daerah
dengan
tingkat
epidemi
yang
meluas.
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Apa pun sebutannya, Tes HIV dapat dianjurkan dengan salah satu dari
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
berbagai cara yang memang telah dipraktikkan.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

ii 58

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

yang memungkinkan. PITC sendiri harus disertai dengan paket layanan pencegahan,
pengobatan, perawatan dan dukungan yang terkait HIV. Juga dilengkapi dengan
mekanisme rujukan pada konseling pasca tes HIV yang efektif kepada semua pasien
serta rujukan padan dukungan medis dan psikososial bagi mereka yang HIV reaktif.
Harus dipastikan bahwa PITC dengan menggunakan pendekatan model option out
dalam mendapatkan persetujuan pasien (contoh: "kami sarankan anda untuk
menjalani tes HIV. Bila anda tidak keberatan, kami akan laksanakan segera) tidak
mengesampingkan kesukarelaan pasien dalam mengambil keputusan untuk tes HIV
dan tidak berubah menjadi tes HIV mandatori.
Konseling pra tes sebagai komponen KTS disederhanakan tanpa sesi konseling
dengan paket edukasi yang lengkap, namun tetap diupayakan agar tersedia layanan
edukasi dan dukungan emosional di tatanan klinis bila diperlukan.

Cara menginisiasi tes HIV pada pasien.


1. Memberikan informasi penting tentang HIV/AIDS
2. Menjelaskan bahwa konfidensialitas akan terjaga dan jelaskan prosedurnya
3. Memastikan kesediaan pasien untuk menjalani tes HIV dan minta
persetujuannya
4. Informasi tambahan bila diperlukan dapat diberikan melalui rujukan untuk
konseling tambahan.
Pendekatan PITC dapat merupakan jalan keluar dalam mengatasi keterbatasan
waktu petugas kesehatan di tatanan klinis dan menyediakan anjuran yang jelas
dan langsung tentang cara intervensi.
Pokok Bahasan 2.
Tantangan Terkait Tes HIV

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Ketua Umum PB IDI

Pada layanan tes HIV di klinik Konseling dan Tes HIV secara sukarela, pasien
datang atas inisiasi sendiri. Pada layanan KTS tersebut tes HIV harus didahului
konseling pra tes. Kebijakan PBB menyatakan bahwa setiap konseling sukarela diikuti
dengan konseling pra tes, informed consent sebelum pemeriksaan darah HIV, tes
HIV dan konseling pasca tes yang keseluruhannya bersifat rahasia.

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

Keterbatasan waktu untuk setiap pasien sering menjadi kendala bagi konselor
dalam melaksanakan konseling pra tes. Setiap individu yang datang pada konselor
membawa banyak isu yang perlu dibicarakan. Untuk itu dibutuhkan ketersediaan
waktu yang cukup dalam mendiskusikannya.
MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

15

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 26 of 46 - Pages: 26, 67, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Di dalam
pra tes seorang
harus
KATAKonseling
PENGANTAR
KETUAkonselor
UMUM
PB mampu
IDI membuat
keseimbangan antara pemberian informasi, penilaian risiko dan merespon
kebutuhan emosi pasien. Banyak orang takut melakukan tes HIV karena berbagai
Masalah
HIV AIDSperlakuan
di Indonesia
adalah salah
masalah masyarakat
kesehatan nasional
yang
alasan
termasuk
diskriminasi
dansatu
stigmatisasi
dan keluarga.
memerlukan
bersama secara
Sejak 10 pasien
tahun terakhir,
jumlah
Karena penanganan
itu layanan konseling
dan teskomprehensif.
HIV harus melindungi
dengan menjaga
kasus kerahasiaan.
AIDS di Indonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
Seorang konselor harus mampu membangun kepercayaan pasien pada
semuakonselor
pihak, terutama
para tenaga
kesehatan
yang
memberikan
layanan sehingga
kesehatanterjalin
bagi
yang merupakan
dasar
utama bagi
terjaganya
kerahasiaan
pasienhubungan
HIV AIDS. baik
Salahdan
satuterbina
bentuksikap
layanan
tersebut
adalah konseling
dan tes
HIV yang
saling
memahami.
Hal tersebut
memerlukan
bertujuan
tidak
hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
namun
juga
memberikan
konseling
untuk
ketrampilan khusus dan membutuhkan pengalaman dari konselor.
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Banyak tantangan bagi petugas kesehatan untuk menawarkan dan
Layanan tes dantes
konseling
HIVpasien
saat iniyang
masih
dilakukan
dalam bentuk
Konseling
dan
melaksanakan
HIV pada
datang
ke sarana
kesehatan
mengingat
Tes HIV
Sukarela (Voluntary
HIV masalah
Counselling
and
Testing/VCT),
yangtes
dilakukan
di sarana
konsekuensi
dan dampak
yang
terkait
dengan hasil
HIV tersebut
bagi
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
pasien maupun petugas. Diantara tantangan tersebut adalah:
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Waktu: salah satu tugas penting tenaga kesehatan adalah menyadari adanya
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
keterbatasan waktu dari dokter dalam memberikan pelayanan medis karena
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
kesibukannya; juga perjalanan penyakit akan makin lanjut dengan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
berjalannya waktu. Menanggapi masalah tersebut, disarankan agar
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
melakukan langsung PITC begitu berhadapan dengan pasien yang
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
diperkirakan terkait HIV.
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
Sumber Daya Manusia: Pilihan melakukan konseling dan menawarkan tes
HIV yang tinggi.
oleh petugas
kesehatan
membuat (IDI,
petugas
kesehatan
lainnya
seperti
Oleh karena
itu Organisasi
Profesi Kesehatan
IBI, PPNI,
ISFI, IAKMI)
membantu
konselor dan
dokterpanduan
ahli dapat
bekerja
secara
berkesinambungan
mencegah
Kementerian Kesehatan
menyusun
ringkas
untuk
membantu
tenaga kesehatan
dalam
kecepatan
penularan.
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan
tidakSalah
akan ragu
mendorong
tes HIV sehingga
Stigma:
satudalam
alasan
pentingpasien
yang untuk
menyebabkan
para stigma/
petugas
diskriminasi tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
kesehatan menolak menawarkan tes HIV adalah ketidak nyamanan pasien.
Jika pasien
merasa
karena
ditawari
maka akandalam
sangat
Kami ucapkan
terima
kasihterstigma
kepada semua
pihak
yang tes
telahHIV,
berkontribusi
mengganggu
antara
dengan para
pasiennya.
penyusunan panduan
ini danhubungan
juga kepada
pihakpetugas
GF-ATM kesehatan
yang telah mendukung
kegiatan
ini.
Di lain pihak, jika pelayanan tersebut secara rutin ditawarkan kepada seluruh
atau hampir seluruh pasien di dalam suatu lingkungan tertentu, maka
Umum
PB IDI
prosedur dan penawaran prosedurnya akanKetua
dianggap
biasa.
Beragamnya kebutuhan pasien: Ada beberapa petugas kesehatan yang
mungkin akan menolak menawarkan tes HIV ketika pasien memiliki banyak
masalah medis atau psikologik lainnya. Dalam hal tersebut petugas kesehatan
merasa terbebani. Untuk mengatasiDr.
halPrijo
tersebut
dapat diperbantukan
Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
perawat konselor (termasuk konselor umum) untuk memberikan dukungan

ii 16

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Dalam tes dan konseling HIV ada 2 macam pendekatan yaitu: option out
dan option in. Sering kali dipertanyakan pendekatan yang mana yang paling
tepat untuk tatanan rumah sakit. Hal tersebut adalah perbedaan utama
antara KTS/ VCT dan PITC
Yang dimaksud dengan option in adalah bhawa pasien menyatakan
persetujuannya secara jelas atas pelaksanaan tes HIV setelah menerima
informasi pra tes. Informed consent yang diberikan dala hal tersebut analog
dengan yang dipersyaratkan pada tindakan khusus seperti pemeriksaan atau
tindakan di tatanan klinis (biopsi hati, atau tindakan bedah).
Dengan pendekatan option out berarti pasien harus secara jelas menyatakan
penolakan dilaksanakannya tes HIV setelah menerima informasi pra tes
apabila dia tidak meinginkan tes HIV tersebut. Informed consent yang
diberikan dalam hal tersebut analog dengan yang dipersyaratkan pada
tindakan-tindakan umum lain seperti pemeriksaan foto ronsen dada, tes
darah dan pemeriksaan non-invasif lain. Dalam hal ini petugas kesehatan
akan melaksanakan tindakan tersebut kecuali pasien menolaknya.
Namun demikian, apapun jenis pendekatan yang digunakan baik option in
ataupun option out, pada akhirnya harus sama, yaitu bahwa pasien atau
pasienlah yang membuat keputusan berdasarkan informasi yang memadai
untuk menerima atau menolak anjuran tes HIV dari petugas kesehatan.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

b. MEMBERIKAN INFORMASI TAMBAHAN


Bacalah Modul Pedoman Penerapan Konseling dan Tes HIV atas Inisiasi
Petugas Kesehatan halaman 26, kalimat dalam kotak yang berjudul: "Bila
pasien perlu informasi tambahan, bahas keuntungan dan pentingnya
mengetahui status HIV nya".

Kem
me
ten
dis

pen
c. MEMADUKAN INFORMASI DAN EDUKASI PRA-TES
Tinjaulah kembali 4 langkah dalam tes HIV dan konseling dalam Modul 2,
yang tergambar dalam bagan. Sampai pada tahap ini kita telah belajar
melaksanakan ke empat langkah tersebut, yaitu: Langkah 1: Petugas
kesehatan menganjurkan tes HIV, dan Langkah 2: berikan informasi pra tes,
mendapatkan izin tertulis dari pasien setelah informasi bahwa
konfidensialitas akan dijaga; Langkah 3: petugas melaksanakan pengambilan
sampel darah untuk tes HIV atau pasien dikirim ke laboratorium untuk
keperluan tersebut dan Langkah 4: pemberian hasil tes.
MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

57

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 27 of 46 - Pages: 66, 27, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

PENGANTAR
KETUA
UMUM PB IDI
Infeksi KATA
mikobakteria
non tuberkulosis
Toksoplasma susunan saraf pusat
diseminata
(umur > 1 bln)
Masalah
Progressive
multifocal
satu
Ensefalopati
HIV
HIV AIDS di Indonesia
adalah salah
masalah kesehatan
nasional yang
leucoencephalopathy
(PML)
Infeksi
sitomegalovirus
(CMV);jumlah
retinimemerlukan penanganan bersama secara komprehensif.
Sejak
10 tahun terakhir,
tis atau infeksi
pada organ
lain,
Kriptosporidiosis
kronik
kasus AIDS
di Indonesia mengalami
lonjakan yang bermakna.
Hal iniCMV
menuntut
perhatian
onsetlayanan
umur >kesehatan
1 bln
semua
pihak, terutama
para tenaga kesehatan yangdengan
memberikan
bagi
Isosporiasis
kronik
pasien
AIDS.diseminata
Salah satu (histoplasmosis
bentuk layanan tersebut
adalah konseling
dan
tes termasuk
HIV yang
Kriptokokosis
ekstra
paru
HIV
Mikosis
bertujuan
tidak
hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
namun
juga
memberikan
konseling
untuk
meningitis
ekstra paru, coccidiomymosis)
mendapatkan
terapi dan menangani berbagai masalah
yang dihadapi
oleh
pasien. (histo Mikosis
endemik
diseminata
Recurrent septicaemia (termsk nonplasmosis,
coccidiomycosis)
Layanan
tes Salmonella)
dan konseling HIV saat ini masih dilakukan
dalam
bentuk Konseling dan
typhoidal
Tes HIV
Sukarela (Voluntary
HIV Counselling
yang dilakukan
sarana
Kriptosporidiosis
kronik di(dengan
Limfoma
sel B non-Hodgkin
atauand Testing/VCT),
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
diare)
limfoma serebral
terdapat
468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota
di seluruh
Isosporiasis
kronikIndonesia.
Invasive cervical carcinoma
cakupan
layanan tersebut
masih tergolong
rendah
untuk menjangkau
populasi
Infeksi
mikobakteria
non tuberkulosis
Jumlah
Atypical
disseminated
leishmaniasis
berisiko
dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga
kesehatan (dokter, perawat dan
diseminata
Nefropati karena HIV
bidan)
dalam
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
banyak ODHA yang
Limfoma karena
sel B non-Hodgkin
atau
Kardiomiopati karena HIV
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status
HIVnya.
Layanan
PITC
(Provider
limfoma serebral
Initiated Testing and Counselling) memudahkan
dan mempercepat diagnosis,
Progressive multifocal leukoencephapenatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah
lopathynegara
(PML)dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Nefropati karena HIV
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan
(IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kardiomiopati karena HIV
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan
tidak
akan ragu dalam
mendorong
pasien
untuk
tes HIV
sehingga
Cepatnya
perkembangan
AIDS
dipengaruhi
oleh
muatan
virus
dalamstigma/
plasma
diskriminasi
tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
(viral load) dan jumlah sel T CD4. Makin tinggi viral load makin rendah jumlah CD4
dan
tinggi
perubahan
progresivitas
menjadi
menuju kematian.
Kamimakin
ucapkan
terima
kasih kepada
semua pihak
yangAIDS
telahdan
berkontribusi
dalam
Kematian
dapatinidisebabkan
olehpihak
HIV, GF-ATM
infeksi oportunistik
atau keganasan
dari
penyusunan
panduan
dan juga kepada
yang telah mendukung
kegiatan ini.
penyakit.

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

emosi, layanan sosial terkait dan perawatan tambahan lainnya yang berada
di luar ruang lingkup praktik para petugas kesehatan. Melihat perubahan
positif dalam perilaku pasien merupakan salah satu tanda keberhasilan, yang
juga akan membantu petugas kesehatan merasa nyaman. Perasaan
terbebani petugas kesehatan dapat diringankan melalui kerjasama dengan
konselor. Dengan demikian pasien bukan hanya diobati sakitnya tetapi juga
didukung mental emosionalnya.
Tidak ada pelatihan yang akan dapat menjawab semua permasalahan atau
hambatan dalam penerapan ketrampilan pada praktik nyata, meski berbagai
upaya telah dilakukan untuk mengembangkan sebuah pelatihan dan
menyusun protokol layanan. Perlu ditambahkan pula bahwa setiap intervensi
pencegahan HIV yang efektif harus memperhatikan masalah dan fokus
perhatian pasien.

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

Kegiatan berikutnya telah dirancang untuk memikirkan mengenai tes HIV


ditinjau dari sudut pandang pasien di setting klinis.

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Ketua Umum PB IDI


POKOK BAHASAN 4 .
Prosedur untuk memberikan jaminan konfidensialitas
a. KUKUHKAN KESEDIAAN PASIEN UNTUK MENJALANI TES HIV
Seperti halnya KTS, PITC pun harus mengedepankan "Three C - Informed
Dr. Prijo
Sp.Rad(K)
Consent, Counselling and Confidentiality
atau Sidipratomo,
suka rela, dengan
konseling
dan konfidensial.
ii 56

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

MODUL BAGI PESERTA

Black

17

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 28 of 46 - Pages: 28, 65, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Bagan 1:
Alur Layanan
Konseling KETUA
dan Tes HIV
atas Inisiasi
KATA
PENGANTAR
UMUM
PBPetugas
IDI Kesehatan

Kontak awal antara petugas dan pasien

MasalahKIE
HIVuntuk
AIDSpasien
di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
Petugas menginformasikan pentingnya tes HIV
memerlukan penanganan
(optional) bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
Banyak pasien tertentu juga mengidap HIV
kasusEdukasi
AIDS diberikan
di Indonesia
lonjakan yang
bermakna.
ini menuntut
perhatian
Diagnosis
HIV untukHal
kepentingan
perawatan
medis
selamamengalami
pasien
Sekarang tersedia obat untuk HIV
semuamenunggu
pihak, terutama
tenaga
giliran, pilih para
salah satu
cara:kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
kebijakan
UPK dan tes HIV yang
Edukasi
kelompok
petugas
ataulayanan Informasi
pasien HIV
AIDS.
Salaholeh
satu
bentuk
tersebuttentang
adalah
konseling
Semua pasien tertentu akan dites HIV nya kecuali
dengan AVA
bertujuan
tidak hanya untuk menegakkan diagnosis
namun juga memberikan konseling untuk
pasien menolak

Poster
mendapatkan
masalahmenjawab
yang dihadapi
olehpasien
pasien.
pertanyaan

Brosur terapi dan menangani berbagai Petugas


Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS,
Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli
AIDS.menolak
HinggaTes
tahun
Pasien
HIV 2008 telah
Pasien setuju Tes HIV
terdapat 468
pusat
layanan
untuk
di seluruh
Indonesia.
( dengan
informed
consent
) VCT di 133 kabupaten/kota
Petugas mengulang informasi
tentang
pentingnya tes HIV
masih menolak
Jumlah cakupan layanan tersebut masih Bila
tergolong
rendahjuga
untuk menjangkau populasi
Sarankan
sebagai
alternatif(dokter,
untuk ke klinik
KTS dan
berisiko dan mengetahui
status HIV mereka. Peran
tenaga
kesehatan
perawat
dan
Tes Cepat HIV
pulangkan
bidan)
dalam
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
Tes Cepat HIV dilaksanakan oleh Petugas
Pada kunjungan berikutnya diulangi informasi tentang
membutuhkan
layanan medis dan belum diketahui
statustesHIVnya.
Layanan PITC (Provider
atau di Laboratorium
pentingnya
HIV
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan,
dan sudah hasil
berkembang
luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
Petugas menyampaikan
tes
HIV yang tinggi.kepada pasien
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
Pasien dengan
hasildan
tes HIV
non reaktif
hasilmelalui
Tes HIV Reaktif
melakukan
konseling
tes HIV
bagi klien atau pasien.Pasien
Kamidengan
berharap
panduan ini,
Petugas memberikan hasil tes non reaktif
Petugas informasikan hasil tes HIV reaktif
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
Berikan dukungan kepada pasien dalam
Berikan pesan tentang pencegahan
diskriminasi
tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
menanggapi hasil tes
secara singkat

Informasikan
perlunya
dan
Sarankan
untuk ke klinik
KTS kasih
untuk kepada semua
Kami ucapkan
terima
pihak yang
telahperawatan
berkontribusi
dalam
pengobatan HIV
konseling pencegahan lebih lanjut
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.
Informasikan cara pencegahan penularan kepada

Anjurkan agar pasangannya mau


menjalani tes HIV karena ada
kemungkinan dia reaktif

pasangan
Sarankan agar pasangan di tes HIV
Tercatat di klinik
KTS Umum PB IDI
Ketua

Beri informasi tentang klinik KTS terdekat


atau layanan klinik terkait (klinik IMS,
PTRM dsb) sesuai kesepakatan dengan klien

ii 18

Cyan

Berikan surat rujukan ke PDP


Informasikan sumber dukungan yang ada di
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
masyarakat

STADIUM 4 (SEVERE)

Yellow

HIV wasting syndrome


Pneumonia pneumosistis (PCP)
Recurrent
severe
bacterial
penumonia
Chronic Herpes Simplex > 1 bln
(orolabial, genital, anorectal dll)
Kandidiasis esofagus (termsk trakea,
bronkus dan paru)
TB ekstra paru
Sarkoma Kaposi
Infeksi Cytomegalovirus (retinitis dll)
Toksoplasma susunan saraf pusat
Ensefalopati HIV
Kriptokokus ektra paru, termsk meningitis

masa 6-8 minggu pertama


kehidupan)
Oral hairy leukoplakia
Ginggivitis atau stomatitis ulseratif
nekrotikans akut
TB kelenjar
TB Paru
Pnemonia bakterial yg berat dan
berulang
Symptomatic lymphoid interstitial
pneumonitis
Peny paru berhubungan dg HIV,
termsk bronchiektasis
Anemia yg tdk dpt dijelaskan (<8.0 g/
dl ), neutropenia (<0.5 x 109/L3) atau
trombositopenia kronik (<50 x 109/
L3)
STADIUM 4 (SEVERE)

Malnutrisi, wasting dan stunnting


berat yg tdk dpt dijelaskan & tdk
berespons terhdp terapi standar
Pneumonia pneumosistis (PCP)
Infeksi bakterial berat yg berulang
(mis. empiema, piomiositis, infeksi
tulang dan sendi meningitis, kecuali
pneumonia)
Infeksi herpes simplex kronik;
(orolabial atau kutaneus > 1 bulan
atau viseralis dilokasi manapun)
TB ekstra paru
Sarkoma Kaposi
Kandidiasis esofagus (atau trakea,
bronkus atau paru)

MODUL BAGI PESERTA

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Rujukan

Rujukan

meningitis)
Ginggivitis atau stomatitis ulseratif
nekrotikans akut
Anemia,
netropenia,
trombositopenia

Black

55

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 29 of 46 - Pages: 64, 29, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATA (>12
PENGANTAR
DEWASA
TAHUN)

KETUA UMUM
PB TAHUN)
IDI
ANAK (<12

STADIUM
(ASYMPTOMATIC)
STADIUM
(ASYMPTOMATIC)
Masalah
HIV 1AIDS
di Indonesia adalah salah satu
masalah1kesehatan
nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
Asimptomatik
Asimptomatik
kasus AIDS
di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna.
Hal ini menuntut perhatian
Limfadenopati Generalisata Persisten
Limfadenopati Generalisata Persisten
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS.
Salah satu
bentuk layanan tersebut adalah
konseling
dan tes HIV yang
STADIUM
2 (MILD)
STADIUM
2 (MILD)
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan
terapi dan
menangani
berbagai
yang dihadapi oleh pasien.
Berat badan
menurun
< 10%
tanpamasalah
Hepatoslenomegali
persisten yang
Layanan
dalam
bentuk Konseling dan
sebab tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan
tidak dapat
dijelaskan
Tes HIV
Sukarela
(Voluntary
Counselling
yangpapular
dilakukan di sarana
Infeksi
saluran
napasHIV
atas
berulangandTesting/VCT),
Erupsi pruritik
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun 2008 telah
atau kronik (sinusitis, tonsilitis, otitis Infeksi virus wart luas
terdapatmedia,
468 pusat
layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota
di seluruh Indonesia.
faringitis)
Moluskum kontagiosum luas
rendah berulang
untuk menjangkau
populasi
Jumlah
Herpescakupan
zoosterlayanan tersebut masih tergolong
Sariawan
(2 atau lebih
dlm
berisiko
dan mengetahui
Keilitis
angularis status HIV mereka. Peran tenaga
6 bln) kesehatan (dokter, perawat dan
bidan)
melakukan
deteksi
menjadi
penting karena banyak ODHA yang
dalam
Sariawan
berulang
(2 HIV
atau
lebih semakin
Pembesaran kel parotis yg tdk dpt
membutuhkan
HIVnya. Layanan PITC (Provider
dalam 6layanan
bulan medis dan belum diketahui status
dijelaskan
Initiated
Testing and Counselling) memudahkan
dan mempercepat diagnosis,
Erupsi pruritik papular
Eritema ginggiva Linea
penatalaksanaan,
dan
sudah
berkembang
luas
di
sejumlah
negara dengan tingkat epidemi
Dermatitis seboroik
Herpes zoster
HIV yang tinggi.
Infeksi fungal pada kuku
Infeksi saluran nafas atas berulang
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI,
PPNI,(otitis
ISFI, IAKMI)
atauIBI,
kronik
media, membantu
otorrhoea,
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk
membantu
tenaga
kesehatan
dalam
sinusitis, tonsillitis )
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
Infeksi fungal pada kuku
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasiSTADIUM
tidak lagi 3ada
dalam pelayanan kesehatan. STADIUM 3 (ADVANCED)
(MODERATE)
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan
dan juga>10%
kepadatanpa
pihak GF-ATM
yang telah
mendukung
ini.
Beratpanduan
badan ini
menurun
Malnutrisi
sedang
yang kegiatan
tidak dapat
sebab
dijelaskan
Diare kronis tanpa sebab > 1 bulan
Diare persisten yang tidak dapat
Ketua
PB IDI
dijelaskan
(14Umum
hari/lebih
)
Demam tanpa sebab (intermiten atau
konstan) > 1 bulan
Demam persisten yg tdk dpt
dijelaskan (diatas 37.5 C,
Kandidiasis Oral (thrush)
intermiten or konstan lebih dari
Oral hairy leukoplakia
Dr.
sebulan)
TB paru
Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
Kandidiasis oral mpersisten (diluar
Infeksi bakteri berat (al. pnemonia,

ii 54

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

MODUL INTI 2
PERTIMBANGAN INISIASI TES HIV
I.

me
kas
sem
pas
ber
me

DESKRIPSI SINGKAT

Pada dasarnya semua layanan kesehatan harus berdasarkan atas kepentingan


pasien. Seseorang akan melakukan suatu tindakan apabila ia mengetahui bahwa
tindakannya mempunyai dampak baik bagi dirinya. Dan petugas kesehatan akan
berhasil memotivasi pasiennya untuk menjalani suatu tindakan medis apabila ia
mampu membantu menyelesaikan kendala yang dihadapi pasiennya.
Pada modul ini kita akan mencari tahu manfaat Tes HIV yang mendorong orang
untuk menjalaninya, serta hambatan yang mungkin di hadapi pasien sehingga ia
menolaknya meskipun banyak manfaat yang akan dapat ia petik.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM:


Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu melaksanakan teknik inisiasi tes HIV .

III. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Setelah selesai mengikuti sesi peserta latih mampu:


1. Menjelaskan manfaat inisiasi tes HIV
2. Mengidentifikasi hambatan tes HIV
3. Menjelaskan model tes konseling HIV dengan inisiasi petugas kesehatan
(PITC)
4. Memberikan informasi dasar tentang HIV AIDS
5. Mengidentifikasi tanda klinis terkait HIV AIDS dan menentukan stadium klinis

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

19

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 30 of 46 - Pages: 30, 63, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


IV. POKOK BAHASAN
Masalah
HIV AIDS
di Indonesia
salah satuTes
masalah
1. Manfaat
Inisiasi
Tes HIV adalah
dan Hambatan
HIV kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
Tes Konseling
dengan
Inisiasi
dari Petugas
Kesehatanperhatian
kasus AIDS2. diModel
Indonesia
mengalamiHIV
lonjakan
yang
bermakna.
Hal ini menuntut
3. Informasi
HIV AIDS
semua pihak,
terutama Dasar
para tenaga
kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
4.
Tanda
dan
Stadium
Klinis
Terkaittersebut
HIV AIDS
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan
adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
V.Layanan
METODE
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
yang digunakan
proses
pembelajaran
yaitu : tahun 2008 telah
kesehatanMetode
(RS, Puskesmas
dan Klinik)dalam
maupun
di LSM
peduli AIDS. Hingga
terdapat 468
pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Tugas baca sebelum masuk kelas
Jumlah
cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
Curah pendapat
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
Ceramah Tanya Jawab (CTJ)
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
Diskusi
Kelompok
membutuhkan
layanan
medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
VI. MEDIA DAN ALAT BANTU
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian
Kesehatan menyusun
panduan
ringkas
untuk membantu
tenaga
dalam
Pembelajaran
disampaikan
dengan
menggunakan
media
dankesehatan
alat bantu
:
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
Komputer
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
tidak
LCD lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
diskriminasi
ucapkan
Bahan tayang
Kami
terima(slide
kasihpowerpoint)
kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
panduan
Modul ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
penyusunan
Whiteboard/filpchart + spidol
Ketua Umum PB IDI

KON

dalam mulut, perdarahan gusi dan atau penyakit gigi mulut atau pada alat
genital.
2. Pajanan oleh darah terinfeksi, produk darah atau transplantasi organ dan
jaringan:
Penularan dari darah dapat terjadi jika darah donor tidak di lakukan uji saring
untuk antibodi HIV, penggunaan ulang jarum dan semprit suntikan, atau
penggunaan alat medik lainnya. Kejadian diatas dapat terjadi pada semua
pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, poliklinik, pengobatan tradisional
melalui alat tusuk / jarum, juga pada IDU. Pajanan HIV pada organ dapat
terjadi dalam proses transplantasi jaringan / organ di pelayanan kesehatan.
3. Penularan dari ibu-ke-anak:
Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari ibunya saat ia dikandung,
dilahirkan, dan sesudah lahir. Risiko penularan tanpa intervensi, sangat
bervariasi di satu negara dengan negara lain dan umumnya diperkirakan
antara 25-40% di negara berkembang dan 16 - 20% di Eropa dan Amerika
Utara.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

BAGAIMANA HIV TIDAK DITULARKAN


Perlu dicatat bahwa HIV TIDAK ditularkan dari orang ke orang melalui
bersalaman, berpelukan, bersentuhan atau berciuman. Tidak ada data
bahwa HIV dapat ditularkan melalui penggunaan toilet, kolam renang,
penggunaan alat makan atau minum secara bersama atau gigitan serangga
seperti nyamuk.

Kem
me
ten
dis

Pada tahun 1989, WHO mengajukan sistem pentahapan penyakit infeksi


HIV yang terjadi pada orang dewasa dan remaja dalam empat tahap klinis.
Kemudian pada tahun 2006 dilakukan revisi terhadap pentahapan tersebut.
Pada tahapan ini pasien diklasifikasikan sesuai dengan kondisi klinis dan
infeksi oportunistiknya. Tahapannya merupakan sebuah sistem hirarki: sekali
keadaan pasien di tempatkan, ia tak dapat meluncur ke tahap yang lebih
rendah, ia hanya dapat meningkat ke tahap diatasnya.

pen

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 20

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

MODUL BAGI PESERTA

Black

53

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 31 of 46 - Pages: 62, 31, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

pasien sangat
mudah menularkan
kepada orang
lain, meski hasil
KATAinfeksius,
PENGANTAR
KETUA UMUM
PB IDI
pemeriksaan laboratoriumnya masih non reaktif. Hampir 30-50% orang mengalami
masa infeksi akut pada masa infeksius ini yakni demam, pembesaran kelenjar getah
Masalahkeringat
HIV AIDSmalam,
di Indonesia
adalahsakit
salahkepala
satu masalah
kesehatan nasional yang
bening,
ruam kulit,
dan batuk.
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
Orang yang terinfeksi HIV dapat tetap tanpa gejala dan tanda untuk jangka
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
waktu cukup panjang bahkan sampai 10 tahun atau lebih. Orang tersebut mudah
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
menularkan infeksinya kepada orang lain, dan hanya dapat dikenali dari pemeriksaan
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
laboratorium serum antibodi HIV. Sesudah suatu jangka waktu, yang bervariasi dari
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
orang ke orang, virus memperbanyak diri secara cepat dan diikuti dengan perusakan
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
limfosit CD4 dan sel kekebalan lainnya sehingga terjadilah gejala berkurangnya daya
Layanan testubuh
dan konseling
HIV saat ini
masih dilakukan
dalam bentuk Konseling
dan
kekebalan
yang progresif
(progressive
immunodeficiency
syndrome).
Tes HIV
Sukarela (Voluntary
HIVpada
Counselling
andfaktor
Testing/VCT),
di sarana
Progresivitas
tergantung
beberapa
seperti: yang
usia dilakukan
kurang dari
5 tahun
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
atau diatas 40 tahun, infeksi lainnya, dan faktor genetik.
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Infeksi, penyakit, keganasan, terjadi pada individu yang terinfeksi HIV. Penyakit
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
yang berkaitan dengan menurunnya daya tahan tubuh seperti: infeksi TB, Oral
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
Hairy Cell Leukoplakia, oral candidiasis, Papular Pruritic Eruption, Pneumocystis
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
carinii pneumonia, Cryptococcal meningitis, Cytomegalovirus retinitis, dan
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Mycobacterium avium (lihat gambar I: Perjalanan infeksi HIV infection dan
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
common disease).
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
OlehPENULARAN
karena itu Organisasi
CARA
HIV Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukanPenularan
konseling dan
HIV bagi
klienkontak
atau pasien.
Kami
berharap
melalui
ini,
HIV tes
terjadi
melalui
seksual,
darah,
ibu ke
anak panduan
selama masa
tenagakehamilan,
kesehatan persalinan
tidak akan ragu
mendorong
dan dalam
pemberian
ASI. pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
1. ucapkan
Seksual terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
Kami
penyusunan panduan
inimelalui
dan jugahubungan
kepada pihak
GF-ATM yang
telahcara
mendukung
kegiatan
ini.
Penularan
heteroseksual
adalah
yang paling
dominan
dari semua cara penularan. Penularan melalui hubungan seksual dapat
terjadi selama sanggama laki-laki dengan perempuan atau laki-laki dengan
Ketua Umum
PB IDI
laki-laki. Sanggama berarti kontak seksual dengan
penetrasi
vaginal, anal,
oral seksual antara dua individu. Risiko tertinggi adalah penetrasi vaginal
atau anal yang tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV. Kontak seksual
langsung (mulut ke penis atau mulut ke vagina) masuk dalam kategori risiko
rendah tertular HIV. Tingkatan risiko tergantung pada jumlah virus yang
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
keluar dan masuk ke dalam tubuh seseorang, seperti pada luka sayat / gores

ii 52

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

VII. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN


SESI 1. PENGKONDISIAN
1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Apabila belum
berkenalan mulai dengan perkenalan. Sampaikan tujuan pembelajaran,
sebaiknya dengan menggunakan bahan tayang.
2. Menggali pendapat/pemahaman peserta terkait Pertimbangan Inisiasi Tes HIV

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

SESI 2. PEMBAHASAN MATERI


Pokok Bahasan 1.
Manfaat Inisiasi Tes HIV dan Hambatan Tes HIV
1. Fasilitator menyampaikan paparan mengenai manfaat Inisiasi Tes HIV dan
hambatan Tes HIV
2. Berikan kesempatan kepada peserta untuk tanya jawab (dalam proses ini fasilitator
tetap perlu mengklarifikasi pendapat peserta yang telah tertuang saat curah
pendapat, dengan membandingkannya dengan materi yang telah disajikan).
3. Peserta diajak untuk melakukan aktifitas penugasan dengan menggunakan :

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

LATIHAN 2-1
1. Berbagilah dalam kelompok terdiri dari 8 sampai 10 orang
2. Lakukan diskusi dalam kelompok, sebagian kelompok berdiskusi untuk
menjawab pertanyaan a) dan sebagian lainnya menjawab pertanyaan
b) berikut:
a. "Jika anda adalah pasien yang sedang mempertimbangkan diri untuk
menjalani tes HIV, apa perlu diketahui tentang keuntungan tes"
b. "Jika anda adalah pasien yang sedang mempertimbangkan diri untuk
menjalani tes HIV, maka pikirkan kemungkinan adanya hal buruk / risiko
menjalani tes HIV"

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

21

pen

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 32 of 46 - Pages: 32, 61, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

POKOK BAHASAN 4.
Tanda dan Stadium Klinis Terkait HIV AIDS

Perjalanan infeksi HIV


Fig. Natural course of HIV infection and common diseases
1000
900

CD4+
4+ cell Count
CD

KATA5 menit
PENGANTAR
KETUA
UMUM
IDIpendapat
Dalam
beri tahu fasilitator
untuk
memanduPB
curah
saudara.
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
2. mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
kasusPokok
AIDS Bahasan
di Indonesia
Model
Tes
Konseling
HIV
dengan
Inisiasi yang
darimemberikan
Petugas Kesehatan
semua pihak, terutama para
tenaga
kesehatan
layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
1. Fasilitator menyampaikan paparan mengenai model Tes konseling dengan
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Inisiasi dari Petugas Kesehatan
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
2. Tayangkan dengan power point bagan mengenai Penyelenggaraan Tes HIV
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
dan Konseling atas inisiasi petugas Kesehatan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
Beri
kesempatan
kepadamaupun
pesertadiuntuk
infasilitator
kesehatan3.(RS,
Puskesmas
dan Klinik)
LSM tanya
pedulijawab
AIDS. (dalam
Hingga proses
tahun 2008
telah
tetap
perlu
mengklarifikasi
pendapat
peserta
yang
telah
tertuang
saat
curah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
pendapat, dengan membandingkannya dengan materi yang telah disajikan).
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
4. mengetahui
Peserta diajak
untuk
melakukan
aktifitas
menjalankan
proses
konseling
dengan
berisiko dan
status
HIV
mereka. Peran
tenaga
kesehatan
(dokter,
perawat
dan
2 alur yang
barupenting
dipelajari,
tahapan
baca
bidan) dalammengikuti
melakukanproses
deteksibagan
HIV menjadi
semakin
karena
banyakkegiatan
ODHA yang
pada
uraian
di
pokok
bahasan
2
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
POKOK BAHASAN
3. berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
penatalaksanaan,
dan sudah
Informasi
HIV yang
tinggi.Dasar HIV AIDS
Oleh1.karena
itu Organisasi
Profesi Kesehatan
IBI, PPNI,dasar
ISFI, IAKMI)
membantu
Fasilitator
menyampaikan
paparan(IDI,
Informasi
HIV AIDS
dengan
Kementerian Kesehatan
menyusun
panduan
ringkas
untuk
membantu
tenaga
kesehatan
dalam
menggunakan tayangan power point
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
2. Berikan kesempatan kepada peserta untuk tanya jawab (dalam proses ini
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
fasilitator tetap perlu mengklarifikasi pendapat peserta yang telah tertuang
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
saat curah pendapat, dengan membandingkannya dengan materi yang telah
Kami ucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
disajikan).
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

CD4+ T cells

800
700
600
500
400
300

Acute HIV
Infection
Syndrome

TB

Asymptomatic

HZV
Window
period

OHL

Relative level of
Plasma HIV- RNA

200
100
0

Tes
kes
ter

OC
PPE

PCP
CM
CMV,
CMV, MAC

Antibody
0 1 2 3 4 5
11 Months ..
..

1
2
3
4
5
6
Years After HIV Infection

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

10

TB= Tuberculosis
OHL=Oral Hairy Cell Leukoplakia
OC=Oral candidiasis

Kem
me
ten
dis

PPE=Papular Pruritic Eruption


PCP = Pneumocystis carinii pneumonia
CM= Cryptococcal meningitis

pen

CMV= Cytomegalovirus retinitis


MAC= Mycobacterium avium infection

Ketua Umum PB IDI


1. Fasilitator menyampaikan paparan Tanda dan Stadium Klinis Terkait HIV AIDS
dengan menggunakan tayangan power point
2. Berikan kesempatan kepada peserta untuk tanya jawab (dalam proses ini
fasilitator tetap perlu mengklarifikasi pendapat
peserta yang Sp.Rad(K)
telah tertuang
Dr. Prijo Sidipratomo,
saat curah pendapat, dengan membandingkannya dengan materi yang telah
disajikan).
ii 22

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

Sesudah virus HIV memasuki tubuh seseorang, maka tubuh akan terinfeksi dan
virus mulai mereplikasi diri dalam sel orang tersebut (terutama sel T CD4 dan
makrofag). HIV akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan
antibodi untuk HIV. Masa antara masuknya infeksi dan terbentuknya antibodi yang
dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium adalah selama 2-12 minggu,
masa ini disebut sebagai masa jendela (window period). Selama masa jendela,
MODUL BAGI PESERTA

Black

51

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 33 of 46 - Pages: 60, 33, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Pokok Bahasan
KATA2.PENGANTAR
Tes HHIV Pelayanan Rutin

KETUA UMUM PB IDI

Yang dimaksudkan dengan menawarkan tes HIV dan konseling secara rutin
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
adalah menawarkan tes HIV kepada seorang pasien yang datang ke klinik tidak
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
dengan alasan kunjungan yang berkaitan dengan HIV.
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
Pokok Bahasan 3.
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Berikan Informasi Kunci Mengenai HIV/AIDS
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Apakah
& AIDS?
mendapatkan
terapiyang
dan dimaksud
menanganidengan
berbagaiHIV
masalah
yang dihadapi oleh pasien.
Layanan
tesImmunodeficiency
dan konseling HIV Virus
saat ini(HIV)
masih
dilakukan
bentuk Konseling
dan
Human
adalah
virus dalam
yang menyebabkan
penyakit
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIVkelompok
Counselling
and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
AIDS yang
termasuk
retrovirus.
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
Seseorang yang terinfeksi HIV, akan mengalami infeksi seumur hidup.
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Kebanyakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap asimtomatik (tanpa tanda
Jumlah
layanan
tersebut
masih
tergolong
rendah
menjangkau
populasi
dancakupan
gejala dari
suatu
penyakit
) untuk
jangka
waktuuntuk
panjang.
Meski demikian,
berisiko dan
mengetahui
statustelah
HIV mereka.
Peran tenaga
(dokter, perawat dan
sebetulnya
mereka
dapat menulari
orangkesehatan
lain.
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
AIDS layanan
adalah singkatan
Acquired
Immune
Syndrome.
membutuhkan
medis dandari
belum
diketahui
statusDeficiency
HIVnya. Layanan
PITC"Acquired"
(Provider
artinya
tidak
diturunkan,
tetapi
ditularkan
dari
satu
ke
orang
lainnya;
"Immune"
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
adalah dan
sistem
tangkal luas
ataudi kekebalan
tubuh
terhadap
penatalaksanaan,
sudahdaya
berkembang
sejumlah negara
dengan
tingkatpenyakit;
epidemi
"Deficiency"
artinya
tidak
cukup
atau
kurang;
dan
"Syndrome"
adalah
kumpulan
HIV yang tinggi.
tanda dan gejala penyakit. AIDS adalah bentuk lanjut dari infeksi HIV. Penyakit
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
yang membuat orang tak berdaya dan penyebab kematian yang disebabkan
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
oleh HIV. HIV berjalan sangat progresif merusak sistem kekebalan tubuh.
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
Kebanyakan orang dengan HIV akan meninggal dalam beberapa tahun setelah
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
tanda pertama AIDS muncul, bila tidak ada pelayanan dan terapi yang diberikan.
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

Ketua Umum PB IDI

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 50

Cyan

Magenta

Yellow

3. Fasilitator akan mengajak peserta berlatih menetapkan stadium Klinis pada


beberapa kasus yang terpapar pada slide, dengan mengunakan tayangan
power point

LATIHAN 2- 2
Anda akan diajak fasilitator untuk berlatih menetapkan Stadium Klinis HIV
pada beberapa kasus yang terpapar pada slide.
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
___________________________

SESI 3. REFLEKSI DAN RANGKUMAN


Langkah-langkah pembelajaran:
1. Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk melakukan refleksi bersama
tentang pembahasan materi ini. Apakah tujuan pembelajaran yang
ditetapkan sudah tercapai?.
2. Dilanjutkan dengan menutup sesi ini dengan memberikan apresiasi atas
keterlibatan aktif seluruh peserta.

Black

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

VIII. URAIAN MATERI

pen
Pokok Bahasan 1.
Manfaat Inisiasi Tes HIV dan Hambatan Tes HIV
Tes HIV mempunyai peran penting dalam program pencegahan yang berbasis
bukti (evidence based) dan dalam mengembangan akses pada perawatan, dan
pengobatan antiretroviral yang berkualitas. Sejak awal epidemi HIV AIDS tes HIV
sudah digunakan dalam kegiatan surveilans guna memantau kecenderungan epidemic tersebut. Dengan terus berkembangnya epidemic HIV, maka kebutuhan akan

MODUL BAGI PESERTA

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

KON

23

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 34 of 46 - Pages: 34, 59, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

tes HIV bagi


individu
yang ingin mengetahui
status HIVnya
KATA
PENGANTAR
KETUA UMUM
PB semakin
IDI meningkat
pula. Namun demikian masih banyak orang yang terinfeksi HIV tidak mengetahui
statusnya, sehingga tes dan konseling HIV menjadi unsur penting pada program
Masalah pencegahan,
HIV AIDS di Indonesia
adalah
satu masalah
kesehatanHIV
nasional
layanan
perawatan,
dansalah
pengobatan.
Penyebaran
akan yang
dapat
memerlukan
penanganan
bersama
secara
komprehensif.
Sejak
10
tahun
terakhir,
jumlah
dikurangi apabila ODHA menyadari status mereka sedini mungkin dan mendaptkan
kasus bantuan
AIDS di Indonesia
mengalami
lonjakaninfeksi
yang bermakna.
Hal ini menuntut perhatian
untuk mencegah
penularan
ke orang lain.
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
Access, maka
dan konseling
HIV yang
harus
pasien HIVUntuk
AIDS. mencapai
Salah satutarget
bentukUniversal
layanan tersebut
adalahtes
konseling
dan tes HIV
dilaksanakan
dan dalam
skala namun
besar dalam
tatanan perawatan
klinis
bertujuan
tidak hanyalebih
untukluas
menegakkan
diagnosis
juga memberikan
konseling untuk
bersamaan
dengan
perluasan
layanan
konseling
dan
tes
HIV
sukarela
(KTS/VCT)
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
yang mengandalkan pasien yang datang secara sukarela. Peningkatan akses KTS
Layanan
tes dan konseling
HIVorang
saat iniyang
masih
dilakukan dalam
Konseling
dan
akan
meningkatkan
jumlah
mengetahui
statusbentuk
mereka.
Jangkauan
Tes HIV
Sukarelates(Voluntary
HIV Counselling
andkini
Testing/VCT),
yanghingga
dilakukan
di sarana
terhadap
dan konseling
HIV tersebut
telah diperluas
ke layanan
ibu
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
hamil, klinik TB dan klinik IMS dan lainnya. Pada tes dan konseling atas inisiasi
terdapat
468 pusat
layanan
untukmaka
VCT dipara
133pengunjung
kabupaten/kota
di seluruh
Indonesia.
petugas
kesehatan
(PITC),
layanan
kesehatan
yang mungkin
Jumlah
cakupan
layanan
tersebut
masih
tergolong
rendah
untuk
menjangkau
dapat mengambil manfaat karena mengetahui status HIVnya, secara rutinpopulasi
ditawari
berisiko
dan
mengetahui
status
HIV
mereka.
Peran
tenaga
kesehatan
(dokter,
perawat
dan
untuk menjalani tes dan konseling HIV dengan pendekatan option out. Pendekatan
bidan)PITC
dalam
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
tersebut, setiap pertemuan pasien dengan petugas dianggap sebagai:
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Peluang
bagi
seseorang yang
belum pernah
tahu status HIVnya
untuk
Initiated Testing
and
Counselling)
memudahkan
dan mempercepat
diagnosis,
mengetahuinya
penatalaksanaan,
dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi

Peluang
bagi seseorang yang pernah menjalani tes HIV dengan hasil negaHIV yang tinggi.
tive untuk
mengulang
tes HIV
dengan(IDI,
frekwensi
yang
Oleh karena
itu Organisasi
Profesi
Kesehatan
IBI, PPNI,
ISFI,logis.
IAKMI) membantu

Peluang
bagi
seseorang
yang
ingin
menentukan
arah
kehidupannya
atau
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
keluarganya
sehubungan
dengan
status Kami
HIVnya
melakukan konseling
dan tes
HIV bagi klien
atau pasien.
berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan
tidakbagi
akan
ragu dalam
mendorong
untuk teslayanan
HIV sehingga
stigma/
Peluang
petugas
kesehatan
untukpasien
memberikan
perawatan
dan
diskriminasi tidak
lagi ada terbaik
dalam pelayanan
kesehatan.
pencegahan
sesuai dengan
status HIV bagi pasiennya
Kami
ucapkan
terima
kasihkesehatan
kepada semua
pihak yang
telahtes
berkontribusi
Pada
dasarnya
petugas
tahu tentang
manfaat
HIV, namundalam
kadang
penyusunan
panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
kadang tidak cukup peka akan hambatan atas tes HIV. Oleh karenanya makaini.
kita
memasukkan diskusi mengenai berbagai hambatan atas tes HIV
Pada awal epidemi banyak ceritera beredar bahwa
ODHA
selalu
mendapatkan
Ketua
Umum
PB IDI
perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat sekitarnya, bahkan dari
keluarganya. Potensi risiko yang sering dihadapi ODHA, seperti misalnya diskriminasi,
pengucilan, atau tindak kekerasan.
1

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)


Laporan Triwulan II Situasi Perkembangan HIV&AIDS di Indonesia sampai dengan 30 Juni 2009,
Departemen Kesehatan RI

ii 24

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

rahasia dan membocorkannya kepada siapa pun tanpa izin tertulis dari anda
akan sangat bertentangan dengan kebijakan lembaga kami. Apakah anda
ingin memberitahu orang lain mengenai hasil tes anda ini atau tidak,
sepenuhnya merupakan keputusan anda.
b. Apakah anda siap menjalani tes? Atau apakah anda memerlukan lebih banyak
waktu untuk membahas berbagai implikasi dari hasil reaktif atau non
reaktifnya bagi diri anda?"
c. Menurut Anda, apakah maksud dari komunikasi di atas?

Auto

me
kas
sem
pas
ber
me

d.
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________

3.

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Lakukan praktik komunikasi menawarkan tes HIV bagi penderita TB, tanpa
membaca naskahnya.

SESI 3. REFLEKSI DAN RANGKUMAN


Langkah-langkah pembelajaran:
1. Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk melakukan refleksi bersama
tentang pembahasan materi ini. Apakah tujuan pembelajaran yang
ditetapkan sudah tercapai?.
2. Dilanjutkan dengan menutup sesi ini dengan memberikan apresiasi atas
keterlibatan aktif seluruh peserta.

Kem
me
ten
dis

pen

VI. URAIAN MATERI


Pokok Bahasan 1.
Tes Diagnostik
Baca Pedoman Penerapan Konseling dan Tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan
halamana 20.

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

49

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 35 of 46 - Pages: 58, 35, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

kesehatan
orang tersebut sangat
terancam.
Dan seringkali
mengancam jiwa.
KATA PENGANTAR
KETUA
UMUM
PB IDI
Karena itu, diperlukan diagnosis dan tindakan segera dan tepat. Dengan
merawat HIV maka kesempatan untuk menjadi lebih baik dan hidup lebih
Masalah
HIVdapat
AIDS di
Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
lama
dijangkau.
memerlukan
penanganan
bersama
secara
komprehensif.
tahun terakhir,
jumlah
c. Demikian
pula,
jika kami
mengetahui
bahwaSejak
anda10
mengidap
HIV, maka
kami
kasus AIDS didapat
Indonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
merawat TB anda dengan cara yang lebih baik.
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
HIV merupakan
salah satu
virustersebut
yang hidup
dalam
sel pertahanan
dari
pasien HIVd.AIDS.
Salah satu bentuk
layanan
adalah
konseling
dan tes HIVdiri
yang
serangan
infeksimenegakkan
.Bila sel pertahanan
diduduki
maka tubuh
sulit bertahan
bertujuan tidak
hanya untuk
diagnosisdiri
namun
jugavirus
memberikan
konseling
untuk
dari
serangan
infeksi.
Tes
HIV
akan
menentukan
apakah
anda
telah
terinfeksi
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
oleh virus HIV. Tes ini merupakan tes darah sederhana yang akan dapat
Layanan
tes dan konseling
saatmemberikan
ini masih dilakukan
dalam
Konseling
dan
memungkinkan
kamiHIV
untuk
diagnosis
yangbentuk
lebih jelas.
Setelah
tes,
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIV
Counselling
and
Testing/VCT),
yang
dilakukan
di
sarana
kami akan memberikan berbagai layanan konseling untuk membahas secara
kesehatan (RS,
Puskesmas
dan lagi
Klinik)
maupunHIV
di LSM
peduli
Hingga
tahunreaktif,
2008 telah
lebih
mendalam
mengenai
AIDS.
Jika AIDS.
hasil tes
HIV anda
kami
terdapat 468 akan
pusatmemberi
layanan untuk
di 133 kabupaten/kota
di seluruh
Indonesia. penyakit
andaVCT
informasi
dan pengetahuan
untuk mengelola
Jumlahtersebut,
cakupan layanan
tersebut masih
rendah
untuk obat-obatan
menjangkau populasi
yang kemungkinan
jugatergolong
termasuk
pemberian
anti virus
berisiko dan mengetahui
statuslain
HIVyang
mereka.
Peran
tenaga untuk
kesehatan
(dokter,penyakit
perawat anda.
dan
dan obat-obatan
dapat
digunakan
mengobati
bidan) dalamDisamping
melakukanitu,
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
kami akan membantu anda untuk melakukan pencegahan dan
membutuhkan
layanan
medis
dan belum
diketahui
status
HIVnya.
PITC (Provider
membuka pengungkapan
diri.
Jika hasil
tes anda
nonLayanan
reaktif, maka
perhatian
Initiated Testing
and Counselling)
memudahkan
dan mempercepat
akan dipusatkan
pada akses
ke berbagai pelayanan
dan hal-haldiagnosis,
yang akan
penatalaksanaan,
dan sudah
luas di sejumlah
dengantersebut."
tingkat epidemi
membantu
andaberkembang
tetap mempertahankan
hasilnegara
non reaktif
HIV yang tinggi.
e. Dengan alasan inilah maka kami menganjurkan semua penderita TB
Oleh karena
itu Organisasi
Profesi
(IDI, IBI, PPNI,
ISFI,
IAKMI)
membantu
menjalani
tes HIV. Jika
andaKesehatan
tidak berkeberatan,
kami
akan
menjalankan
tes
Kementerian Kesehatan
menyusun
panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
HIV tersebut
hari ini."
melakukanf.konseling
tes HIV
bagi klien atau anjuran
pasien. Kami
panduan
ini,
Naskah dan
di atas
menggabungkan
untukberharap
tes HIVmelalui
pada semua
pasien
tenaga kesehatan
tidak akan
raguinformasi
dalam mendorong
TB dengan
semua
pra tes. pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
g. Menurut anda pendekatan mana yang terkandung dalam komunikasi di atas?
Kami ucapkan
terima
kasih kepada
pihak yang
telah berkontribusi dalam
Apakah "Tes
Diagnostik"
atausemua
"Penawaran
Rutin"?
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
h.
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________Ketua
______________________Umum
__________________________PB
___________IDI
___________________________________________
_____________________
2.

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Dasar pertimbangan pelatihan adalah mutlak demi kepentingan mereka yang


berisiko untuk mengetahui status HIV mereka. Dengan demikian, berbagai realita
kehidupan pasien serta berbagai stigma yang dikaitkan dengan tes HIV akan
mengingatkan kita bahwa program tes dan konseling HIV hanya akan efektif dan
bermanfaat jika diikuti dengan berbagai intervensi yang komprehensif, termasuk
rujukan konseling dan dukungan untuk pencegahan.
Kebijakan tes HIV harus selalu memperhatikan hak azasi manusia dan harus
mencakup "3 C" yaitu Counselling, Consent, Confidentiality, atau konseling,
persetujuan pasien, dan kerahasiaan. Meskipun konseling tidak dianggap wajib
dalam PITC, tetapi konseling tetap diperlukan bagi mereka yang membutuhkan
dan perlu dirujuk kepada konselor yang berpengalaman. Pada tempat tes HIV dan
konseling yang terpisah, maka kesempatan pertemuan dengan pasien merupakan
waktu berharga untuk dimanfaatkan memberi komunikasi pencegahan secara dini.
Untuk membantu pasien menanggulangi berbagai hambatan menjalani tes HIV,
maka perlu diberikan perhatian yang sangat cermat atas berbagai kebutuhan pasien
pada saat menyarankan dilakukannya tes HIV. Pertimbangkan kemungkinan rujukan,
kemungkinan pasien mau menjalani rujukan , karena itu hubungan kerja antar
petugas dan pasien serta petrugas kesehatan lainnya harus terjalin dengan baik.
Pokok Bahasan 2.
Model Tes dan Konseling atas Inisiasi Petugas Kesehatan
Model PITC yang terpapar pada bagan di bawah dapat menjadi acuan dalam
meminisiasi tes dan konseling HIV secara rutin. Bagan alur tersebut menggambarkan
terbatasnya peran dan waktu yang dibutuhkan dari seorang dokter (dalam kotak
gelap). Petugas kesehatan meinisiasii tes HIV dengan pendekatan option out,
menjamin konfidensialitas, dan meminta informed consent. Konseling pra tes dapat
diberikan secara singkat oleh petugas kesehatan yang merawat, namun kadangkadang diperlukan konseling pra tes yang lebih mendalam dan dukungan konseling
pasca tes dan konseling perubahan perilaku yang dapat diberikan oleh petugas
lain seperti konselor terlatih di KTS sebelum pasien bertemu dokternya. Sering kali
juga informasi pra tes diberikan secara kelompok. Sementara menunggu hasil tes
pasien dapat diberikan konseling untuk pengurangan risiko. Tergantung dari cara
yang dipakai, namun biasanya memakan waktu 5 - 30 menit.

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Bacalah naskah komunikasi berikutnya:


a. "Hasil tes HIV ini hanya akan kami sampaikan
kepada andaSp.Rad(K)
saja dan tim
Dr. Prijo Sidipratomo,
medis yang akan merawat anda, artinya adalah bahwa hasilnya bersifat

ii 48

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

MODUL BAGI PESERTA

Black

25

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 36 of 46 - Pages: 36, 57, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Menurut anda pendekatan mana yang terkandung dalam komunikasi di atas?


Apakah "Tes Diagnostik" atau "Penawaran Rutin"?

Petugas memberikan informasi tentang rujukan,


dan jika positif, merujuk pengobatan dan
perawatan dan anjuran perihal pentingnya
pengungkapan status.

Saran/ rujukan pasca tes

Lihat Panduan Komunikasi pada Pedoman PITC

Petugas kesehatan memberikan hasil tes HIV dan


mengartikannya

Petugas kesehatan membuka hasil

Lihat Panduan Komunikasi pada Pedoman PITC

Anjurkan Tes HIV


Informasi pra-tes
Jaminan Kerahasiaan
Berikan informed-consent (gunakan bahasa
opt-out bila tidak menolak dan lakukan test HIV)

Tes HIV dan Konseling Prakarsa Petugas

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI

Cyan

Magenta

Yellow

Lihat Panduan Komunikasi pada Pedoman PITC

Konselor memberikan dukungan emosional,


menekankan kembali rencanapengurangan risiko,
dan bila + rujuk ke perawatan dan terapi dan
menekankan kembali perlunya mengunkapkan hasil
kepada orang lain

Dukungan/ rujukan pasca tes

Lihat Panduan Komunikasi pada Pedoman PITC

Spesimen untuk Tes HIV


dikumpulkan oleh petugas
laboratorium
(5-30 menit menunggu hasil).
Jika tes pertama positif, sample
kedua diambil dan dilakukan tes lain
Konselor memberikan hasil tes HIV dan
mengintepretasikan artinya

Konselor melakukan Pengkajian Risiko HIV


Konselor menawarkan rencana pengurangan
risiko individu
o
o

Konseling Pengurangan Risiko HIV

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Konselor membuka hasil

Lihat Panduan Komunikasi pada


Pedoman PITC

Pengambilan specimen dan


melaksanakan tes

o
o
o
o

Konseling manfaat testing


Indentifikasi hambatan testing
Berikan dukungan emosional
Kaji ulang keinginan test
o
o
o
o

o
o
o

Penjelasan HIV/AIDS
Tinjauan tindakan pencegahan
Test HIV ditawarkan

Bagi pasien yang menolak tes

Edukasi Kelompok Pra -tes

Alur Penyelenggaraan Tes HIV dan Konseling oleh Petugas Kesehatan

Bagan 2

Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

ii 26

Ketua Umum PB IDI

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________
2. Bacalah naskah komunikasi berikutnya:
"Hasil tes HIV ini hanya akan kami sampaikan kepada anda saja dan tim
medis yang akan merawat anda, artinya adalah bahwa hasilnya bersifat
rahasia dan membocorkannya kepada siapa pun tanpa izin tertulis dari anda
akan sangat bertentangan dengan kebijakan lembaga kami. Apakah anda
ingin memberitahu orang lain mengenai hasil tes anda ini atau tidak,
sepenuhnya merupakan keputusan anda.
Apakah anda siap menjalani tes? Atau apakah anda memerlukan lebih banyak
waktu untuk membahas berbagai implikasi dari hasil positif atau negatifnya bagi diri anda?"
Menurut Anda, apakah maksud dari komunikasi di atas?
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________

3. Lakukan praktik komunikasi menawarkan tes HIV bagi penderita TB, tanpa
membaca naskahnya.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen
LATIHAN 3-9
1. Bacalah naskah komunikasi di bawah ini :
a. Ada satu masalah sangat penting yang perlu kita bahas hari ini. Para
penderita TB juga memiliki kemungkinan besar terinfeksi HIV. Kenyataannya,
sebagian besar infeksi HIV memunculkan gejala TB. Hal ini disebabkan karena
pengidap HIV tidak dapat menangkal penyakit infeksi.
b. Ketika TB dan HIV secara bersama-sama diderita oleh seseorang, maka

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

47

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 37 of 46 - Pages: 56, 37, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


LATIHAN 3 8
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
1. Bacalah
naskah
komunikasi
bawah.
memerlukan
penanganan
bersama
secara di
komprehensif.
Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
satu masalah
penting
yang perluHalkita
bahas hariperhatian
ini. Para
kasus AIDS di"Ada
Indonesia
mengalamisangat
lonjakan
yang bermakna.
ini menuntut
juga
memiliki
kemungkinan
besar terinfeksi
HIV.kesehatan
Kenyataannya,
semua pihak,penderita
terutama TB
para
tenaga
kesehatan
yang memberikan
layanan
bagi
sebagian
besar
infeksi
HIV
memunculkan
gejala
TB.
Hal
ini
disebabkan
karena
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
pengidap
HIV menegakkan
tidak dapat diagnosis
menangkal
penyakit
infeksi.
bertujuan tidak
hanya untuk
namun
juga memberikan
konseling untuk
mendapatkanKetika
terapi TB
dandan
menangani
berbagai
masalah yangdiderita
dihadapioleh
oleh seseorang,
pasien.
HIV secara
bersama-sama
maka
Layanan
tes
dan
konseling
HIV
saat
ini
masih
dilakukan
dalam
bentuk
Konseling
kesehatan orang tersebut sangat terancam. Dan seringkali mengancamdan
jiwa.
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIV Counselling
anddan
Testing/VCT),
yang dilakukan
di sarana
Karena
itu, diperlukan
diagnosis
tindakan segera
dan tepat.
Dengan
kesehatan (RS,
Puskesmas
Klinik)
maupun di untuk
LSM peduli
AIDS.lebih
Hingga
merawat
HIVdan
maka
kesempatan
menjadi
baiktahun
dan 2008
hiduptelah
lebih
terdapat 468 lama
pusatdapat
layanan
untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
dijangkau.
JumlahDemikian
cakupan layanan
tersebut
masih tergolong
rendah
untuk
menjangkau
populasi
pula, jika
kami mengetahui
bahwa
anda
mengidap
HIV, maka
kami
berisiko dan mengetahui
status
HIV
mereka.
Peran
tenaga
kesehatan
(dokter,
perawat
dan
dapat merawat TB anda dengan cara yang lebih baik.
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
HIV
merupakan
satu virus
yangstatus
hidupHIVnya.
dalam sel
pertahanan
diri dari
membutuhkan
layanan
medis salah
dan belum
diketahui
Layanan
PITC (Provider
serangan
Bila sel pertahanan
diri dan
diduduki
virus makadiagnosis,
tubuh sulit
Initiated Testing
andinfeksi.
Counselling)
memudahkan
mempercepat
bertahan
dari
serangan
infeksi.
Tes
HIV
akan
menentukan
apakah
telah
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkatanda
epidemi
terinfeksi oleh virus HIV. Tes ini merupakan tes darah sederhana yang akan
HIV yang tinggi.
dapat memungkinkan kami untuk memberikan diagnosis yang lebih jelas.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Setelah tes, kami akan memberikan berbagai layanan konseling untuk
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
membahas secara lebih mendalam lagi mengenai HIV AIDS. Jika hasil tes
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
HIV anda reaktif, kami akan memberi anda informasi dan pengetahuan untuk
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
mengelola penyakit tersebut, yang kemungkinan juga termasuk pemberian
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
obat-obatan anti virus dan obat-obatan lain yang dapat digunakan untuk
Kami ucapkan
terima
kasihanda.
kepada
semua pihak
yangakan
telahmembantu
berkontribusi
dalam
mengobati
penyakit
Disamping
itu, kami
anda
untuk
penyusunan panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.
melakukan pencegahan dan membuka pengungkapan diri. Jika hasil tes anda
non reaktif, maka perhatian akan dipusatkan pada akses ke berbagai
pelayanan dan hal-hal yang akan membantu anda tetap mempertahankan
Ketua Umum PB IDI
hasil non reaktif tersebut."
Dengan alasan inilah maka kami menganjurkan semua penderita TB
menjalani tes HIV. Jika anda tidak berkeberatan, kami akan menjalankan tes
HIV tersebut hari ini."
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
Naskah di atas menggabungkan anjuran untuk tes HIV pada semua pasien
TB dengan semua informasi pra tes.
ii 46

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Pelajari Bagan 2 : Alur Penyelenggaraan Tes HIV dan Konseling oleh Petugas
Kesehatan di halaman 12

Langkah 1: sarankan untuk menjalani tes HIV. Garis bawahi tanda dan gejala
yang disajikan pasien, hubungkan dengan gaya hidup dirinya atau
pasangannya . Bawa pasien kearah menghubungkan tanda dan gejala tadi
dengan infeksi oportunistik terkait AIDS. Untuk meyakinkan adanya
hubungan, perlu dilakukan tes HIV. Tekankan pentingnya pertimbangan
medis petugas kesehatan, dan betapa bermanfaatnya untuk bertukar pikiran
dengan pasien
Langkah 2 : Diberikan penjelasan ringkas mengenai informasi pra tes, petugas
kesehatan memberi jaminan kerahasiaan dan memperoleh pernyataan tidak
berkeberatan (informed consent). Katakan bahwa pada Langkah 2,
diharapkan agar mereka memberikan penjelasan mengenai penularan HIV,
tes HIV, dan cara pencegahannya. Catatlah bahwa hal ini merupakan
intervensi yang lebih sederhana dibandingkan dengan konseling pra-tes yang
biasanya dilaksanakan pada KTS/ VCT. Juga, untuk beberapa lingkungan
tertentu, informasi pra-test ini dapat diberikan oleh para petugas kesehatan
lainnya di klinik atau dalam sesi edukasi kelompok. Ingatkan para peserta
mengenai 3 C's dengan menekankan bahwa pada tahapan ini petugas
kesehatan memusatkan perhatian kepada pernyataan tidak keberatan secara
suka rela (informed consent) dan dengan menjamin konfidensialitas .
Catatlah bahwa setidak-tidaknya petugas kesehatan menjalankan Langkah 1.
Langkah 3 : Pengambilan contoh darah untuk tes HIV. Pelatihan ini
mengasumsikan bahwa tes cepat memang dapat dilakukan, dan bahwa
sampel yang diambil adalah sampel dalam bentuk serum yang diambil
melalui tusukan pada jari tangan. Perlu dicatat bahwa semakin sempurnanya
teknologi telah memungkinkan adanya tes cepat yang efektif .
a. Diperkirakan bahwa di layanan yang banyak dikunjungi, dan juga banyak
mengambil sample melalui pendekatan PITC adalah Puskesmas atau
layanan kesehatan primer.
b. Catatlah bahwa pelatihan ini akan memberikan sekilas mengenai tes
cepat HIV, tapi bukan merupakan pengganti bagi pelatihan pemeriksaan
laboratorium yang membahas mengenai penjaminan mutu dan masalahmasalah laboratorium yang HARUS dilakukan sebelum dapat
dijalankannya intervensi tes HIV cepat yang efektif.

MODUL BAGI PESERTA

Black

KON

27

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 38 of 46 - Pages: 38, 55, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Langkah
: diskusi penurunan
risiko: Lakukanlah
penurunan risiko.
KATA 3b
PENGANTAR
KETUA
UMUM diskusi
PB IDI
Atau lakukan diskusi komunikasi petugas kesehatan-pasien tentang risiko
dalam gaya kehidupan pasien.
Masalah
AIDS di Indonesia adalah
salahkesehatan
satu masalah
kesehatan
nasionaldengan
yang
- HIV
Komunikasi/diskusi
petugas
perlu
dilanjutkan
memerlukan penanganan
secara
komprehensif.
Sejak 10 tahun
terakhir,
jumlah
konselingbersama
KTS/ VCT.
Diskusi
petugas kesehatan
dengan
pasien
akan
kasus AIDS di Indonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
membuka wawasan pasien tentang sakitnya, sementara konseling akan
semua pihak, terutama
paragejolak
tenaga mental
kesehatan
yang memberikan
layananmembuat
kesehatankognisi
bagi
mengolah
emosional
yang seringkali
pasien HIV AIDS.pasien
Salah terhambat
satu bentukuntuk
layanan
tersebut adalah konseling
dan tesJika
HIVpetugas
yang
diimplementasikan
pada perilaku.
bertujuan tidak hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
namun
juga
memberikan
konseling
untuk
kesehatan tidak memiliki cukup banyak waktu untuk melakukan
mendapatkan terapi
dan menangani
berbagaidilakukan
masalah yang
oleh pasien.
konseling,
maka konseling
olehdihadapi
konselor.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Langkah 4 : Hasil tes HIV disampaikan kepada pasien, dilanjutkan dengan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
pemberian konseling pasca-tes, dan diberikan pula rujukan. Pada langkah 4
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
ini, kepada pasien diberikan hasil tes HIV mereka; diberikan penjelasan
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
mengenai hasil tes dan kemungkinan rujukannya agar pasien memperoleh
Jumlahdukungan
cakupan layanan
masih tergolongatau
rendah
untuk menjangkau
secaratersebut
berkesinambungan
keperluan
dukunganpopulasi
lainnya.
berisiko dan mengetahui
HIVdapat
mereka.
tenagaoleh
kesehatan
(dokter,
perawat
dan
Meski pun status
hasil ini
sajaPeran
diberikan
petugas
kesehatan
lainnya,
bidan) dalamsangat
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
dianjurkan agar petugas kesehatan pelaku PITC yang menyampaikan
membutuhkan
layanan
medisini.
danCatatlah
belum diketahui
status HIVnya.
Layanan
PITC (Provider
hasil
tes HIV
bahwa setiap
tes yang
disarankan
petugas
Initiated Testing
and
Counselling)
memudahkan
dan
mempercepat
diagnosis,
kesehatan primer mempunyai dasar pertimbangan medis yang berbeda.
penatalaksanaan,
sudah berkembang
luasjika
di sejumlah
negara
tingkat epidemi
Olehdan
karenanya
akan logis
hasil-hasil
ini dengan
perlu ditafsirkan
dan
HIV yang tinggi.
diberitahukan pula rencana kerja tindak lanjutnya - oleh petugas kesehatan
Oleh karena
itu Organisasi
Profesi Kesehatan
(IDI, IBI,
PPNI,
ISFI, IAKMI)
membantu
yang memang
merupakan
orang pertama
yang
memulai
proses
tersebut
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

Ketua Umum PB IDI

KON

Penjelasan prosedur untuk menjamin konfidensialitas


Katakan: "Hasil tes HIV ini bersifat rahasia dan hanya Anda dan tim medis yang
akan memberikan perawatan kepada anda yang tahu. Artinya, petugas kami tidak
diizinkan untuk memberi tahukan hasil tes anda kepada orang lain tanpa seizin
anda. Untuk memberitahukannya kepada orang lain sepenuhnya menjadi hak Anda.

LATIHAN 3-5

me
kas
sem
pas
ber
me

Praktekkanlah kalimat di atas dengan teman peserta latih lain.

Tes
kes
ter

LATIHAN 3-6
Buatlah kalimat yang baik untuk mengukuhkan atau meyakinkan kesediaan
pasien untuk menjalani tes dan meminta persetujuannya.
Lihat contoh kalimat dalam kotak no 3. buku Pedoman Penerapan Konseling dan
Tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan , halaman 22 yang berjudul: "Menyakinkan
Kesediaan pasien untuk menjalani tes, dan mintalah persetujuan".

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

LATIHAN 3-7
Apakah yang dapat anda sampaikan kepada pasien apabila ada pasien yang
memilliki pertanyaan seperti di bawah ini? Gunakan kalimat sederhana, singkat
dan jelas.
1. "Saya benar-benar tidak tahu untuk apa sebenarnya tes yang anda katakan
tersebut. Apa manfaat tes ini?"

Kem
me
ten
dis

pen
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
________________________________________________________________

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 28

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

MODUL BAGI PESERTA

Black

45

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 39 of 46 - Pages: 54, 39, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Bagaimana
rasanya kalau rahasia
kita diceriterakan
kepada
KATA PENGANTAR
KETUA
UMUM PB
IDIorang lain?

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

PokokPOKOK
Bahasan
3.
BAHASAN
3:
INFORMASI
DASAR
DAN STADIUM
KLINIS
Informasi Dasar HIV dan HIV
Stadium
Klinis

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Masalah
_________HIV
______________AIDS
_________________di
_________Indonesia
__________________________________adalah
________________________salah
___________________satu
________________masalah
_____________________________kesehatan
___________________________________nasional
______________________________yang
_________________
memerlukan __penanganan
__________________________________________bersama
_______________________________secara
_______________________komprehensif.
__________________________________________________Sejak
____________________10
__________tahun
______________________terakhir,
_____________________________jumlah
_______________________
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak,Meskipun
terutama para
tenaga
kesehatan
yang kesehatan
memberikanterikat
layananuntuk
kesehatan
bagi
semua
institusi
layanan
menjaga
pasien HIV AIDS.
Salah satupasien
bentuk
layanan
tersebut
adalah konseling
HIV yang
konfidensilitas
mereka,
namun
adakalanya
informasi dan
perlutes
disampaikan
bertujuan tidak
hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
namun
juga
memberikan
konseling
kepada petugas medik lainnya guna kepentingan layanan kesehatanuntuk
yang
mendapatkandibutuhkan
terapi dan menangani
masalah
dihadapidengan
oleh pasien.
pasien HIV.berbagai
Karena itu
perlu yang
dibicarakan
serius akan hal
tersebut
mencegah
timbulnya
dikemudian
hariKonseling dan
Layanan
tes danguna
konseling
HIV saat
ini masihmasalah
dilakukan
dalam bentuk
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas
dan Klinik)
maupun
di LSM
peduli
AIDS. Hingga
tahun
1. Fasilitator
meminta
peserta
untuk
berlatih
dengan
: 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan LATIHAN
mengetahui3-4
status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan
layanan pertanyaan
medis dan belum
diketahui
status
HIVnya.dengan
Layanan
PITC (Provider
Jawablah
di bawah
ini dan
diskusikan
kelompok
Initiated Testing
andkemungkinan
Counselling)
memudahkanpasien
dan harus
mempercepat
diagnosis,
1. Kapan
konfidensialitas
diungkap kepada
pihak
penatalaksanaan,lain?
dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena
__________________________Kesehatan
_____________________________________(IDI,
_________________IBI,
_____________PPNI,
_____________________ISFI,
________________IAKMI)
__________________________membantu
_______________________________________
__________itu
____________Organisasi
____________________________________Profesi
Kementerian Kesehatan
_______________________menyusun
____________________________________panduan
_______________________________ringkas
_________________________untuk
____________________membantu
______________________________________tenaga
______________________kesehatan
___________________________________dalam
_______________________
melakukan konseling
dan
tes
HIV
bagi
klien
atau
pasien.
Kami
berharap
melalui
panduan
________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ini,
____________
tenaga kesehatan_____________________
tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami
terima
kepada
semuatimbulnya
pihak yang
telah berkontribusi
dalam
2. ucapkan
Bagaimana
carakasih
untuk
mencegah
masalah
karena mengungkap
penyusunan panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.
kerahasiaan pasien?

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Ketua Umum PB IDI
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________
Dr. Prijo
Laporkan kepada fasilitator bila sudah
siap Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 44

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

MODUL BAGI PESERTA


28

Cyan

Magenta

Yellow

Black

29

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 40 of 46 - Pages: 40, 53, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

anda tetap mempertahankan kondisi non reaktif tersebut."


Sesi informasi pra tes mencakup informasi mengenai tes, memberikan informasi
pokok, yaitu: penularan dan pencegahan, membahas pentingnya pengungkapan,
dan menjelaskan dukungan tindak lanjut yang akan diberikan kepada mereka,
khususnya jika tes mereka reaktif. Kesemuanya perlu dilakukan dengan cara
yang jelas dan seringkas mungkin.
2. Fasilitator meminta peserta untuk melakukan kegiatan dengan menggunakan :

ii 30

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Cyan

Magenta

Yellow

Black

Tes
kes
ter

Praktikanlah kalimat di atas dengan teman peserta latih lain


_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Pokok Bahasan 4.
Prosedur untuk memberikan jaminan konfidensialitas
a. Cara mengukuhkan kesediaan pasien untuk menjalani tes HIV
b. Pemberian informasi tambahan
c. Paduan Semua Informasi dan edukasi pra tes

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

1. Diskusikan dengan kelompok anda tentang kerahasiaan dengan tema


Rahasia Pribadi
Membahas masalah sensitive
Masalah yang mungkin timbul bila mengungkap status HIV ke orang lain
Diskusikan cara mengatasi masalah tersebut
Bagaimana perasaan seseorang ketika ia terlanjur menceriterakan rahasia
pribadinya kepada seseorang?

pen

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

MODUL BAGI PESERTA


29

me
kas
sem
pas
ber
me

LATIHAN 3-3

____________________________________________________________________
Ketua Umum PB IDI
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
________________________________________

KON

43

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 41 of 46 - Pages: 52, 41, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


LATIHAN 3-2
Masalah
HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
Pertanyaan:
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
beberapa
kondisi
pasienyang
yang
mengindikasikan
ia perlu perhatian
menjalani
kasus AIDSSebutkan
di Indonesia
mengalami
lonjakan
bermakna.
Hal ini menuntut
tes HIV:
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
___________________________________________________________________________________________________________________________
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
Counselling
Testing/VCT),
dilakukan
sarana
3. Berikan
kepadaHIV
peserta
untuk and
tanya
jawab bila yang
ada yang
tidakdidipahami
kesehatan (RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
mengenai kegiatan tersebut
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko
danBahasan
mengetahui
Pokok
3. status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan)
dalam
melakukan
deteksi HIV
HIV menjadi
Informasi kunci mengenai
AIDS semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated 1.Testing
andmeminta
Counselling)
dan
mempercepat
diagnosis,
Fasilitator
pesertamemudahkan
untuk membaca
naskah
dalam Modul
Pedoman
penatalaksanaan,
dan
sudah
berkembang
luas
di
sejumlah
negara
dengan
tingkat
epidemi
Penerapan Konseling dan Tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan mengenai
HIV yang tinggi.
pembahasan keuntungan dan pentingnya mengetahui status HIV nya yang
berjudul:
tes dan
edukasi(IDI,
untukIBI,
pasien
padamembantu
kotak ke dua
Oleh karena
itu "Informasi
Organisasi pra
Profesi
Kesehatan
PPNI,dewasa"
ISFI, IAKMI)
bernomor menyusun
1: "Memberikan
informasi
penting
HIV", atau
naskah
di bawah
ini.
Kementerian Kesehatan
panduan
ringkas untuk
membantu
tenaga
kesehatan
dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
"HIV tidak
merupakan
salah
satumendorong
virus yang pasien
hidup dalam
sel HIV
. Selsehingga
tempatnya
hidup
tenaga kesehatan
akan ragu
dalam
untuk tes
stigma/
adalahlagi
selada
yangdalam
bertugas
mempertahankan
diskriminasi tidak
pelayanan
kesehatan. tubuh dari serangan berbagai penyakit
infeksi. Tes
HIV akan
menentukan
apakah
andayang
telahtelah
terinfeksi
oleh virus dalam
HIV. Tes
Kami ucapkan
terima
kasih
kepada semua
pihak
berkontribusi
ini merupakan
tes darah
yangyang
akan
memungkinkan
kami untuk
penyusunan panduan
ini dan juga
kepadasederhana
pihak GF-ATM
telah
mendukung kegiatan
ini.
memberikan diagnosis yang lebih jelas. Setelah tes, kami akan memberikan
berbagai layanan konseling untuk membahas secara lebih mendalam lagi
mengenai HIV AIDS. Jika hasil tes HIV anda reaktif,
akan
kamiPB
berikan
Ketua
Umum
IDI informasi
untuk mengelola penyakit anda tersebut, yang kemungkinan juga termasuk
pemberian obat-obatan anti virus dan obat-obatan lain yang dapat digunakan
untuk mengatasi penyakit anda. Disamping itu, kami akan membantu anda dengan
dorongan untuk mencegah dan mengungkapkan status anda kepada orang yang
Dr. Prijo
Sp.Rad(K)
anda cintai. Jika hasil tes anda non reaktif,
makaSidipratomo,
pusat perhatian
kami adalah
memberi anda akses ke berbagai layanan dan hal-hal yang akan membantu
ii 42

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

MODUL BAGI PESERTA


30

Cyan

Magenta

Yellow

Black

31

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 42 of 46 - Pages: 42, 51, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


LATIHAN 3-1
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

Ketua Umum PB IDI


____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
_________

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 32

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

Sebutkan beberapa kondisi pasien yang mengindikasikan ia perlu menjalani


tes HIV:
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________
5. Berikan kesempatan kepada peserta untuk melakukan kegiatan tanya jawab
(dalam proses ini fasilitator tetap perlu mengklarifikasi pendapat peserta
yang telah tertuang saat curah pendapat, dengan membandingkannya
dengan materi yang telah disajikan).
Pokok Bahasan 2.
Tes HIV Pelayanan Rutin
1. Fasilitator meminta peserta untuk membaca Buku Pedoman Penerapan Konseling
dan Tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan halaman 21: naskah dalam kotak
"Penawaran tes HIV secara rutin"
2. Fasilitator meminta peserta untuk menggunakan naskah untuk menawarkan tes
HIV kepada pasien dengan cara sebagai berikut seperti contoh didalam kotak
"Salah satu dari kebijakan rumah sakit kami adalah memberikan peluang kepada
siapa pun untuk menjalani tes HIV sehingga kami dapat merawat dan mengobati
anda selama anda di sini dan akan menghubungi anda jika diperlukan tindak
lanjut setelah anda keluar dari sini. Kecuali jika anda berkeberatan, kami akan
melaksanakan tes tersebut dan memberi anda konseling serta menyampaikan
hasil tesnya."

Black

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Kedua naskah tersebut di atas (tes diagnostik dan penawaran rutin) merupakan
cara untuk menyarankan tes HIV kepada seseorang pasien. Seringkali kedua
naskah tersebut dapat digunakan pada situasi yang sama.

MODUL BAGI PESERTA


31

Cyan

Pertanyaan:

41

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 43 of 46 - Pages: 50, 43, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


VII. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN

KON

POKOK BAHASAN 4 :

Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
SESI 1. PENGKONDISIAN
memerlukan
penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Apabila belum
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
berkenalan mulai dengan perkenalan. Sampaikan tujuan pembelajaran,
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
sebaiknya dengan menggunakan bahan tayang.
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
2. Menggali
peserta
tentang
Inisiasi
Tes HIV
mendapatkan
terapi danpendapat/pemahaman
menangani berbagai masalah
yang
dihadapi
oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
SESI 2. PEMBAHASAN MATERI
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Pokok Bahasan 1.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
Tes Diagnostik HIV
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam
melakukanmeminta
deteksi HIV
menjadi
semakinbuku
penting
karena penerapan
banyak ODHA
yang
1. Fasilitator
peserta
membaca
pedoman
halaman
membutuhkan
belum
diketahui
HIVnya. Layanan PITC (Provider
20,layanan
naskahmedis
dalamdan
kotak
dengan
judulstatus
"tes diagnostik"
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
2. Fasilitator kembali meminta peserta untuk membaca ulang mengenai tandapenatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
tanda klinis HIV pada buku pedoman penerapan; lampiran 1 hal 41
HIV yang tinggi.
3. Gunakan naskah dalam kotak dibawah ini untuk menawarkan tes HIV kepada
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
pasien dengan dengan tanda gejala diawah ini
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
Agartidak
kamiakan
mampu
mendiagnosis
danpasien
kemudian
penyakit
anda,
tenaga kesehatan
ragu dalam
mendorong
untuk merawat
tes HIV sehingga
stigma/
makalagi
anda
infeksi TB dan infeksi HIV. Kecuali jika anda
diskriminasi tidak
adaperlu
dalammenjalani
pelayanantes
kesehatan.
berkeberatan atas tes ini"
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
4. Peserta diminta untuk melakukan kegiatan dengan menggunakan

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Ketua Umum PB IDI

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 40

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

MODUL BAGI PESERTA


32

Cyan

Magenta

Yellow

Black

33

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 44 of 46 - Pages: 44, 49, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


IV. POKOK BAHASAN
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

1.
2.
3.
4.

ii 34

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Cyan

Magenta

Yellow

Tes
kes
ter

Metode yang digunakan dalam proses pembelajaran yaitu :

Black

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Tugas baca sebelum masuk kelas


Curah pendapat
Ceramah Tanya Jawab (CTJ)
Diskusi Kelompok

Kem
me
ten
dis

VI. MEDIA DAN ALAT BANTU


Pembelajaran disampaikan dengan menggunakan media dan alat bantu :

Komputer
LCD
Bahan tayang (slide powerpoint)
Modul
Whiteboard/filpchart + spidol

pen

MODUL BAGI PESERTA


33

me
kas
sem
pas
ber
me

V. METODE

____________________________________________________________________
Ketua Umum PB IDI
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
______________________________
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

Tes HIV Diagnostik


Tes HIV Pelayanan Rutin
Informasi kunci mengenai HIV AIDS
Prosedur untuk memberikan jaminan konfidensialitas
a. Cara mengukuhkan kesediaan pasien untuk menjalani tes HIV
b. Pemberian informasi tambahan
c. Paduan Semua Informasi dan edukasi pra tes

39

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 45 of 46 - Pages: 48, 45, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

PadaKATA
umumnya
dengan komunikasiKETUA
verbal sudah
cukup memadai
untuk memberikan
PENGANTAR
UMUM
PB IDI
informasi dan mendapatkan informed consent untuk melaksanakan tes HIV.
Ada beberapa kelompok masyarakat yang lebih rentan untuk mendapatkan dampak
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
buruk seperti diskriminasi, tindak kekerasan pengucilan atau penahanan. Dalam hal
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
tersebut maka perlu diberi informasi lebih dari yang minimal di atas, untuk meyakinkan
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
informed consent nya.
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pra-tes
bagi
perempuan
kemungkinan
akan hamildan
harus
pasien HIVInformasi
AIDS. Salah
satu
bentuk
layananyang
tersebut
adalah konseling
tes meliputi:
HIV yang
bertujuan tidak
hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
namun
juga
memberikan
konseling
untuk

Risiko penularan HIV kepada bayi yang dikandungnya kelak


mendapatkan terapi
menangani
berbagai
masalah
yang dihadapi
oleh pasien.
Caradan
yang
dapat dilakukan
guna
mengurangi
risiko penularan
HIV dari ibu ke
Layanan tesanaknya,
dan konseling
HIV
saat
ini
masih
dilakukan
dalam
bentuk
Konseling
dan
termasuk terapi antiretroviral profilaksis dan konseling tentang
Tes HIV Sukarelamakanan
(Voluntary
HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
bayi.
kesehatan (RS,
Puskesmas
dan
Klinik) maupun
di LSM
Hingga

Keuntungan melakukan
diagnosis
HIVpeduli
secaraAIDS.
dini bagi
bayitahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Perlu ada pertimbangan khusus bagi anak dan remaja di bawah umur secara hukum
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
(pada umumnya <18 tahun). Sebagai individu di bawah umur yang belum punya hak
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
untuk membuat/memberikan informed consent, mereka punya hak untuk terlibat
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
dalam semua keputusan yang menyangkut kehidupannya dan mengemukakan
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIVnya. Layanan PITC (Provider
pandangannya sesuai tingkat perkembangan umurnya. Dalam hal ini diperlukan
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
informed consent dari orang tua atau walinya.
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
Penolakan untuk menjalani tes HIV tidak boleh mengurangi kualitas layanan lain yang
HIV yang tinggi.
terkait
status
HIVnya.
Olehtidak
karena
itu dengan
Organisasi
Profesi
Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga
tidak PEMBELAJARAN
akan ragu dalam mendorong
pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
II. kesehatan
TUJUAN
UMUM:
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Setelah
mengikuti
sesi inikepada
peserta
mampu
menawarkan
HIV kepadadalam
pasien.
Kami
ucapkan
terima kasih
semua
pihak
yang telahtes
berkontribusi
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

III. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS


Ketua Umum PB IDI
Setelah selesai mengikuti sesi peserta latih mampu:
1.
2.
3.
4.
ii 38

Menjelaskan alur tes HIV diagnostik


Menjelaskan tes HIV sebagai bagian pelayanan medis rutin
Dr.HIV/AIDS
Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
Memberikan informasi kunci mengenai
Menjelaskan berbagai prosedur untuk memberikan jaminan konfidensialitas

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

MODUL BAGI PESERTA


34

Cyan

Magenta

Yellow

Black

35

ii

Buku Modul Bagi Peserta 25-6-2011.pdf, Flat 46 of 46 - Pages: 46, 47, 06/27/11 01:19 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATA PENGANTAR
KETUA
UMUM
MODUL
INTI
3 PB IDI
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
I. DESKRIPSI
bertujuan
tidak hanya untukSINGKAT
menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Konseling
tes HIVHIV
atas
petugas
ataudalam
provider-initiated
tesdan
and
Layanan
tes dandan
konseling
saatinisiasi
ini masih
dilakukan
bentuk Konseling
counselling
(PITC) bukan
counseling
and testing
(VCT).
Tes HIV
Sukarela (Voluntary
HIV menggantikan
Counselling andvoluntary
Testing/VCT),
yang dilakukan
di sarana
Disamping
menawarkan
tes
sukarela,
program
yang
komprehensif
ditawarkan
dalam
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
PITC,
dukungan
pencegahan
yang
rujukan
ke berbagai proterdapat
468
pusat layanan
untuk VCT
di berkesinambungan,
133 kabupaten/kota didan
seluruh
Indonesia.
gram lainnya. Dengan demikian dapat mendorong pasien untuk mengambil pilihan
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
yang lebih sehat. Idealnya, pasien yang ternyata seropositif akan dirujuk untuk
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
menjalani pengobatan dan perawatan.
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
PITC yang
direkomendasikan
oleh
WHO/UNAIDS
memiliki
duaPITC
kategori
membutuhkan
layanan
medis dan belum
diketahui
status HIVnya.
Layanan
(Provider
yang
berbeda:
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi

Tes diagnostik:
HIV yang
tinggi.
diagnostik
adalah Profesi
bagian Kesehatan
dari proses
klinis
menentukan
diagnosis
OlehTeskarena
itu Organisasi
(IDI,
IBI, untuk
PPNI, ISFI,
IAKMI) membantu
pasien,
dan mengacu
kondisi
medis
dari
pasien (misalnya
TB) ataudalam
gejala
Kementerian
Kesehatan
menyusunpada
panduan
ringkas
untuk
membantu
tenaga kesehatan
(misalnya
IOHIV
atau
pengurangan
berat Kami
badan
yang tidak
dapat
dijelaskan
melakukanklinis
konseling
dan tes
bagi
klien atau pasien.
berharap
melalui
panduan
ini,
penyebabnya)
yang
secara
kuat
HIVtessebagai
penyakit
yang
tenaga kesehatan
tidak akan
ragumengidikasikan
dalam mendorong
pasien
untuk
HIV sehingga
stigma/
mendasarinya.
diskriminasi
tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam

Penawaran
penyusunan
panduan inirutin:
dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
Penawaran rutin untuk tes dan konseling artinya menawarkan tes HIV kepada
semua pasien dewasa yang berobat ke sarana kesehatan tanpa memandang
Ketua Umum PB IDI
alasan berobatnya.

INISIASI TES HIV

Persyaratan penting dalam menerapkan PITC adalah tersedianya layanan


konseling pasca tes bagi semua pasien yang menjalani tes HIV serta rujukan ke
layanan perawatan medis dan dukungan psikososial bagi pasien dengan HIV
reaktif. Dengan diterapkannya model option
out, (contoh:"saya
sarankan anda
Dr. Prijo
Sidipratomo, Sp.Rad(K)
untuk menjalani tes HIV. Bila anda tidak keberatan maka saya akan laksanakan")

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

harus dipastikan bahwa persetujuan yang diberikan benar-benar sukarela, maka


harus selalu mendapatkan informed consent sebelum melakukan tes HIV dan
tes HIV mandatori tidak dibenarkan. Harus dijelaskan pula bahwa pasien berhak
untuk menolak tes HIV tanpa mempengaruhi kualitas layanan atau perawatan
yang tidak terkait dengan diagnosis HIVnya.
Ketika menerapkan model penawaran tes HIV secara rutin, maka konseling prates yang biasa diberikan pada KTS disederhanakan tanpa sesi edukasi dan
konseling yang lengkap. Informasi yang diberikan sekedar untuk meyakinkan
bahwa persetujuan pasien didasarkan atas pemahaman yang memadai. Namun
harus diantisipasi perlunya konseling tambahan yang lebih mendalam bagi
pasien tertentu, melalui rujukan kepada konselor khusus.
Sesuai dengan kondisi setempat, informasi prates dapat diberikan secara individual atau kelompok. Persetujuan untuk menjalani tes HIV (informed consent)
harus selalu diberikan secara individual, pribadi dengan kesaksian petugas
kesehatan.
Informasi minimal yang perlu disampaikan oleh petugas kesehatan ketika
menawarkan tes HIV kepada pasien adalah sebagai berikut:

ii 36

Cyan

MODUL
MODULBAGI
BAGIPESERTA
PESERTA

Magenta

Yellow

Alasan menawarkan tes HIV dan konseling


Keuntungan dari aspek klinis dan pencegahan dari tes HIV dan potensi risiko
yang akan dihadapi, seperti misalnya diskriminasi, pengucilan, atau tindak
kekerasan.
Layanan yang tersedia bagi pasien baik yang hasil tes HIV non reaktif ataupun
reaktif, termasuk ketersediaan terapi antiretroviral
Informasi bahwa hasil tes akan diperlakukan secara konfidensial dan tidak
akan diungkapkan kepada orang lain selain petugas kesehatan yang terkait
langsung pada perawatan pasien tanpa seizin pasien
Kenyataan bahwa pasien mempunyai hak untuk menolak menjalani tes HIV.
Tes akan dilakukan kecuali pasien menggunakan hak tolaknya tersebut.
Kenyataan bahwa penolakan untuk menjalani tes HIV tidak akan
mempengaruhi akses pasien terhadap layanan yang tidak tergantung pada
hasil tes HIV.
Dalam hal hasil tes HIV reaktif, maka sangat dianjurkan untuk mengungkapkannya kepada orang lain yang berisiko untuk tertular HIV dari pasien
tersebut.
Kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada petugas kesehatan
MODUL BAGI PESERTA

Black

37

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii