Anda di halaman 1dari 11

1

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR

DISUSUN OLEH
WINDHY OKTIFANI PUTRI
2013.1176

YAYASAN PERGURUAN TINGGI ISLAM


AKADEMI KEPERAWATAN MAMBAUL ULUM SURAKARTA
2016

LAPORAN PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
Fraktur merupakan istilah dari hilangnya kontuinitas tulang, tulang
rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian. Secara ringkas, fraktur
adalah patah tulang yang disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan
dan sudut tenaga fisik, keadaaan tulang itu sendiri, serta jaringan lunak
disekitar tulang yang menentukan apakah fraktur yang terjadi lengkap atau
tidak lengkap (Zairin, Noor Helmi, 2013 : 24).
Menurut Musliha (2010, 130) Terdapat beberapa pengertian mengenai
fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literature
yaitu:
1. Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya atau terputusnya
kontuinitas tulang
2. Menurut boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000) fraktur
adalah pemisahan atau patahnya tulang
3. Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya (Smeltzer & Bare, 2001)
4. Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves C.J,
Roux G & Lockhart R, 2001)
5. Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang, retak atau patahnya tulang
yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma/ rudapaksa atau tenaga
fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma (Lukman,Nurna Ningsih,
2011 : 26).
B.

JENIS FRAKTUR
a. Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya
mengalami pergeseran.
b. Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
c. Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
d. Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa
sampai ke patahan tulang.

e. Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya
membengkak.
f. Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
g. Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen
h. Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
i. Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada
tulang belakang)
j. Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau
tendo pada daerah perlekatannnya.
C.

ETIOLOGI
Pada beberapa keadaan, kebanyakan proses fraktur terjadi karena
kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar,
dan terikan (Zairin, NoorHelmi, 2013:24)
Menurut Musliha (2010 : 131) penyebab dari fraktur ada beberapa hal
yaitu:
a. Trauma
Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan
yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran
atau penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah
pada tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut
rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan
ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan
kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran kemungkinan akan
menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang
luas.
b. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda
lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering
dikemukakan pada tibia, fibula atau metatarsal terutama pada atlet,
penari, atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak
jauh.
c. Fraktur petologik karena kelemahan pada tulang

Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut
lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang tulang tersebut sangat rapuh.
Penyebab fraktur meliputi pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan
puntiran mendadak, dan kontraksi otot ekstrem. Fraktur terjadi jika tulang
dikenai stres yang lebih besar daripada yang diabsorbsinya. Fraktur pada
tulang dapat menyebabkan edema jaringan lemak, persyarafan ke otot dan
sendi terganggu, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf, dan kerusakan
pembuluh darah (Suratun, 2008 : 148).
D. MANIFSTASI KLINIK
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,
pemendekan ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan
warna (Lukman, Nurna Ningsih, 2011:30).
Gejala umum fraktur menurut Lukman, Nurna Ningsih, (2011:3031)adalah rasa sakit, pembengkakan, dan kelainan bentuk.
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimbolisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya
tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan
atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba)
ekstermitas yang bisa diketahui dengan membandingkan ekstermitas
normal. Ekstermitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi
normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot.
3. Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.
Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 5 cm (1-2
inchi)
4. Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan
lunak yang lebih berat.

5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai


akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru
terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.
E. PATOFISIOLOGIS
Menurut Black dan Matassarin (1993) serta Patrick dan Woods (1989).
Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan dikorteks, pembuluh darah,
sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi
perdarahan,

kerusakan

tulang

dan

jaringan

sekitarnya.Keadaan

ini

menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah


periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur.Terjadinya respon
inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan
vasodilatasi dari plasama dan leukoit. Ketika terjadi kerusakana tulang, tubuh
mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini
menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematom yang terbentuk bisa
menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian
merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam
pembuluh darah yang mensuplai organ-organ lain. Hematom menyebabkan
dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian
menstimulasi histamin pada otot yang iskemik dan menyebabkan protein
plasma hilang dan masuk ke interstitial.Hal ini menyebabkan terjadinya
edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf, yang bila
berlangsung lama bisa menyebabkan syndroma comportement (Musliha,
2010: 131-132).

F. PATYWAYS
Trauma langsung

trauma tidak langsung

kondisi patologis

FRAKTUR
Diskontinuitas tulang

pergeseran frakmen tulang

Perub jaringan sekitar


Pergeseran frag Tlg
Kerusakan
integritas

deformitas

kulit

nyeri

kerusakan frakmen tulang


laserasi kulit:
putus vena/arteri
perdarahan

spasme otot

tek. Ssm tlg > tinggi dr kapiler

peningk tek kapiler


pelepasan histamin

reaksi stres klien


melepaskan katekolamin

gg. fungsi
protein plasma hilang
kehilangan volume cairan
edema
Gg mobilitas
Shock
hipivolemik

fisik

memobilisai asam lemak


bergab dg trombosit
emboli

penekn pem. drh


menyumbat pemb drh
penurunan perfusi jar

(Lukman, Nurna Ningsih,


2011:32)

Gg. Perfusi jaringan

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap
c. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
d. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens
ginjal

Musliha (2010:134)

H. KOMPLIKASI
Komplikasi akibat fraktur yang mungkin terjadi menurut Musliha (2010:134)
antara lain:
1. Shock
2. Infeksi
3. Nekrosis divaskuler

4. Cidera vaskuler dan saraf


5. Mal union
6. Borok akibat tekanan
I. FOKUS PENGKAJIAN
Fokus pengkajian menurut Lukman, Nurna Ningsih, (2011: 36-37) adalah
sebagai berikut:
1. Aktivitas/ Istirahat
Tanda:
Keterbatasan gerak/ kehilangan fungsi motorik pada bagian
yang terkena (dapat segera atau sekunder, akibat pembengkakan/ nyeri)
Adanya kesulitan dalam istirahat-tidur akibat dari nyeri
2. Sirkulasi
Tanda:
Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/
ansietas) atau hipotensi (hipovolemia).
Takikardia (respon stress, hipovolemia)
Penurunan/ tak teraba nadi distal, pengisian kapiler lamabt (capillary
refill), kulit dan kuku pucat/ sianostik
Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera
3. Neurosensori
Gejala
: hilangnya gerak/ sensasi otot
Kebas/ kesemutan (parestesi)
Tanda: Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi,
krepitasi, spasme otot, kelemahan/ hilangnya fungsi.
Agitasi berhubungan dengan nyeri, ansietas, trauma lain.

4. Nyeri/ Kenyamanan
Gejala
:
Nyeri berat tiba-tiba saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area
jaringan/ kerusakan tulang, dapat berkurang pada immobilisasi), tak ada
nyeri akibat kerusakan syaraf.
Spasme/ kram otot (setelah immobilisasi)
5. Keamanan
Tanda:
Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, dan perubahan warna kulit
Pembengkakan lokal (dapat meningkat secar bertahap atau tiba-tiba)

J. PENATALAKSANAAN
a. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmenfragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak
semula.
b. Imobilisasi fraktur
Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna
1. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
a. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan
b. Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
c. Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan
gerakan) dipantau
d. Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk
meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah
Musliha (2010:136)
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1. Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jaringan sekitasr fraktur, kerusakan
rangka neuromuskuler
Tujuan : kerusakn mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan
tindakan keperaawatan
Kriteria hasil:
a. Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
b. Mempertahankan posisi fungsinal
c. Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit
d. Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas
Intervensi:
1. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan
2. Tinggikan ekstrimutas yang sakit
3. Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas
yang sakit dan tak sakit

4. Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur


ketika bergerak
5. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
6. Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lingkup
keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan
7. Awasi tekanan darah, nadi dengan melakukan aktivitas
8. Ubah psisi secara periodikKolabirasi fisioterai/okuasi terapi
2. Nyeri b.d spasme otot , pergeseran fragmen tulang
Tujuan ; nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan
Kriteria hasil:
a. Klien menyatajkan nyei berkurang
b. Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat
dengan tepat
c. Tekanan darahnormal
d. Tidak ada eningkatan nadi dan RR
Intervensi:
1. Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri
2. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
3. Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk
melakukan aktivitas hiburan
4. Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi
5. Jelaskanprosedu sebelum memulai
6. Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif
7. Dorong menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi,
latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan
8. Observasi tanda-tanda vital
3. Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaikan
Tujuan: kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan
Kriteria hasil:

10

a. Penyembuhan luka sesuai waktu


b. Tidak ada laserasi, integritas kulit baik
Intervensi:
1. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau
drainae
2. Monitor suhu tubuh
3. Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang
menonjol
4. Lakukan alihposisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh
5. Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan
6. Masage kulit ssekitar akhir gips dengan alkohol
7. Gunakan tenaat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
8. Kolaborasi emberian antibiotik.
Lukman, Nurna Ningsih . 2011

DAFTAR PUSTAKA
Harnowo, Sapto . 2001 . Keperawatan Medikel Bedah Untuk Akademi
Keperawatan.Jakarta : Widya Medika.

Lukman, Nurna Ningsih . 2011. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan


Gangguan Sistem Muskulosketetal. Jakarta : Salemba Medika.

11

Musliha. 2010.Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta : Nuha Medika.

Suratun, dkk . 2008 . Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Muskuloskeletal . Jakarta : EGC.

Zairin, Noor Helmi . 2013 . Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta :


Salemba Medika.

Rafani

2010

Asuhan

Keperawatan

Klien

dengan

fraktur

4rafani.files.wordpress.com/2010/07/askepfraktur.doc. diakses pada 20


Januari 2016 pukul 20.00 wib