Anda di halaman 1dari 43

HEMODIALISA (sudah 1)

Penderita GGK semakin meningkat jumlahnya, di Amerika pada tahun


2009 diperkirakan terdapat 116395 orang penderita GGK yang baru. Lebih
dari 380000 penderita GGK menjalani hemodialisis reguler (USRDS, 2011).
Pada tahun 2011 di Indonesia terdapat 15353 pasien yang baru menjalani HD
dan pada tahun 2012 terjadi peningkatan pasien yang menjalani HD
sebanyak 4268 orang sehingga secara keseluruhan terdapat 19621 pasien
yang baru menjalanai HD. Sampai akhir tahun 2012 terdapat 244 unit
hemodialisis di Indonesia (IRR, 2013).
Prevalensi penderita PGK yang mendapat terapi pengganti ginjal di
Negara

berkembang saat ini meningkat dengan cepat, seiring dengan

kemajuan ekonominya. Prevalensi penderita penyakit ginjal tahap akhir


(PGTA) yang menjalani HD rutin meningkat dari tahun ke tahun. Di seluruh
dunia saat ini hampir setengah juta penderita GGK menjalani tindakan HD
untuk memperpanjang hidupnya (Nissenson and Fine, 2008).
Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan
biokimiawi darah yang terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan
dengan menggunakan mesin hemodialisis. Hemodialisis merupakan salah
satu bentuk terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy/RRT) dan
hanya menggantikan sebagian dari fungsi ekskresi ginjal. Hemodialisis
dilakukan pada penderita PGK stadium V dan pada pasien dengan AKI
(Acute Kidney Injury) yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Menurut

prosedur yang dilakukan HD dapat dibedakan menjadi 3 yaitu: HD


darurat/emergency,

HD

persiapan/preparative,

dan

HD

kronik/reguler

(Daurgirdas et al., 2007).

GAGAL GINJAL KRONIK (sudah 2)


Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofifologis dengan etiologi
yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif. Pada
umumnya, penyakit ginjal kronis berakhir dengan gagal ginjal, yaitu suatu
keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel
dan memerlukan terapi pengganti fungsi ginjal yang tetap, berupa dialysis
atau transplantasi ginjal (Suwitra, 2009).
Penyakit gagal ginjal kronik merupakan penyakit yang diderita oleh
satu dari sepuluh orang dewasa. Tanpa pengendalian yang tepat dan cepat,
pada tahun 2015 penyakit ginjal diperkirakan bisa menyebabkan kematian
hingga 36 juta penduduk dunia. Di Amerika Serikat, prevalensi penderita
gagal ginjal kronis mengalami peningkatan. Menurut National and Nutrition
Examination Survey (NHANES) data dari tahun 1988-1994 menunjukkan
bahwa penderita gagal ginjal kronik adalah 10% dari populasi warga Amerika
Serikat. Survey yang

sama

yang

dilakukan

dari

tahun

1999-2004

menunjukkan peningkatan sebesar 13,1%. Peningkatan ini juga berdasarkan


dari jumlah penderita diabetes dan hipertensi yang berkontribusi dalam
peningkatan prevalensi penderita gagal ginjal kronik (Fox, 2008).

Angka kematian akibat gagal ginjal kronik terminal di Amerika Serikat


mencapai 71.000 pada tahun 2000 dan diperkirakan akan meningkat
mencapai 352.000 pada tahun 2030 (Coresh et al., 2007).
Sebagaimana di negara-negara berkembang lainnya, insidensi dan
prevalensi gagal ginjal kronik terminal di Indonesia juga belum diketahui
dengan pasti. Namun,besarnya prevalensi gagal ginjal kronik terminal di
Indonesia diperkirakan sebesar 200 250 orang tiap 1 juta penduduk
pertahun (Bakri, 2005).

(sudah 3)
The National Kidney Foundation (2002) mendefinisikan gagal ginjal
kronik sebagai adanya kerusakan ginjal, atau menurunnya tingkat fungsi
ginjal untuk jangka waktu tiga bulan atau lebih. Hal ini dapat dibagi lagi
menjadi 5 tahap, tergantung pada tingkat keparahan kerusakan ginjal dan
tingkat penurunan fungsi ginjal. Tahap 5 Chronic Kidney Disease (CKD)
disebut sebagai stadium akhir penyakit ginjal/gagal ginjal (End Stage Renal
Disease/ End Stage Renal Failure). Tahap ini merupakan akhir dari fungsi
ginjal. Ginjal bekerja kurang dari 15% dari normal (Corrigan 2011).
Kasus gagal ginjal kronik laporan The United States Renal Data
System (USRDS 2013) menunjukkan prevalensi rate penderita penyakit ginjal
kronik di Amerika Serikat pada tahun 2011 sebesar 1.901 per 1 juta
penduduk. Treatment of End-Stage Organ Failure in Canada, 2000 sampai

2009 menyebutkan bahwa hamper 38.000 warga Kanada hidup dengan


penyakit gagal ginjal kronik dan telah meningkat hamper 3x lipat dari tahun
1990, dari jumlah tersebut 59% (22.300) telah menjalani hemodialisis dan
sebanyak 3000 rang berada dijadwal tunggu untuk transplantasi ginjal
(Corrigan 2011). Sedangkan di Indonesia setiap tahunnya cukup tinggi,
mencapai 200-250/1 juta penduduk.
Ada beberapa treatment untuk menghadapi kasus gagal ginjal kronik.
Saat ini ada tiga terapi modalitas pengobatan yang tersedia untuk gagal ginjal
kronik yang telah mencapai derajat V (End Stage Renal Disease) yaitu
hemodialisis, peritoneal dialysis dan transplantasi ginjal (Corrigan 2011).
Terbatasnya jumlah donor ginjal yang tersedia untuk transpantasi, dialysis
(hemodialisis dan peritoneal dialysis) cenderung menjadi metode yang paling
umum dari pengobatan (Corrigan 2011). Menurut USRDS (2013) pada tahun
2011, jumlah pasien baru yang memulai hemodialisis mulai turun sebanyak
1,5% total kejadian pasien yang menjalani dialysis adalah sebanyak 112.788
orang, sementara 2.855 orang telah menerima dan melakukan transplantasi,
total dari semua pasien yang menjalani terapi pada end stage renal disease
pada tahun 2011 adalah sebanyak 115.643 orang. Sedangkan di RS Royal
Prima Medan yang menjalani terapi hemodialisis mencapai .
Hemodialisis adalah suatu bentuk tindakan pertolongan dengan
menggunakan alat yaitu dializer

yang bertujuan untuk menyaring dan

membuang sisa produk metabolisme toksik yang seharusnya dibuang oleh

ginjal. Hemodialisis merupakan terapi utama selain transplantasi ginjal pada


orang-orang dengan gagal ginjal kronik (Rahman 2013).
Studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal .. melalui
wawancara dengan kepala ruang Unit Hemodialisa RS Royal Prima Medan
yaitu Bp. Safrizal menyatakan bahwa ruang hemodialisis RS Royal Prima
memiliki kapasitas 6 tempat tidur 2 shift pagi dan siang hari yang berdiri 2
tahun terakhir, dengan jumlah perawat 5 orang. Shift pagi dan siang selalu
penuh dalam satu minggu. Terhitung sebanyak 40 orang yang menjalani
hemdialisis, baik satu minggu satu kali maupun satu minggu dua kali dan
lamanya hemodialisis selama 4-5 jam.
Sudah 4
Data yang di dapat dari Indonesian Renal Registry(IRR, 2013) jumlah
pasien baru yang menjalani hemodialisis pada tahun 2011 sebanyak 15353
pasien dan pada tahun 2012 terjadi peningkatan pasien yang menjalani
hemodialisis sebanyak 4268 orang sehingga secara keseluruhan terdapat
19621 pasien yang baru menjalani hemodialisis. Sampai akhir tahun 2012
terdapat 244 unit hemodialisis di Indonesia.
Sudah 5
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat
di seluruh dunia dan kini diakui sebagai suatu kondisi umum yang dikaitkan
dengan peningkatan risiko penyakit dan GGK. Berdasarkan estimasi Badan
Kesehatan Dunia (WHO), secara global lebih dari 500 juta orang mengalami

penyakit gagal ginjal kronik. Sekitar 1,5 juta orang harus menjalani hidup
bergantung pada cuci darah (hemodialisis).
Berdasarkan Pusat Data & Informasi Perhimpunan Rumah Sakit
Seluruh Indonesia, jumlah pasien gagal ginjal kronik diperkirakan sekitar 50
orang per satu juta penduduk, 60 % nya adalah usia dewasa dan usia lanjut.
Menurut Depkes RI 2009, pada peringatan Hari Ginjal Sedunia bahwa hingga
saat ini di Indonesia terdapat sekitar 70 ribu orang pasien gagal ginjal kronik
yang memerlukan penanganan terapi cuci darah dan hanya 7.000 pasien
gagal ginjal kronik atau 10% yang dapat melakukan cuci darah yang dibiayai
program Gakin dan PT. Askes.

Sudah 6
Penyakit gagal ginjal merupakan salah satu penyakit yang sering kita
temukan disekitar kita. Gagal ginjal merupakan masalah kesehatan dibelahan
dunia, baik gagal ginjal akut, kronis dan gagal ginjal terminal. Indonesia
sendiri pada tahun 2007 tercatat 6,7% penduduk Indonesia mengalami
gangguan fungsi ginjal baik dari tingkat sedang hingga berat pada tahun
2007 terdapat 70 ribu penderita gagal ginjal perlu dilakukan perawatan
dialysis secara rutin atau transplantasi ginjal.
Menurut laporan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada tahun
2009, tercatat sebanyak 5.450 penderita gagal ginjal yang menjalani
hemodialisis meningkat pada tahun 2010 menjadi 8.034 penderita dan

meningkat lagi pada tahun 2011 yaitu sebanyak 12.804 penderita. Data di
dunia menyebutkan bahwa Amerika Serikat jumlah penderita gagal ginjal akut
di rumah sakit meningkat dari tahun ke tahun sebesar 4,9% pada tahun 1983,
7,2% pada tahun 2002, 20% pada tahun 2012. Peningkatan insidensi terjadi
bukan hanya pada penderita gagal ginjal akut saj begitu juga pada gagal
ginjla kronik. Menurut data WHO secara dunia lebih dari 500 juta penduduk
mengalami gagal ginjal kronik dan sekitar 1,5 juta penduduk menjalani terapi
hemodialisis

sepanjang

hidupnya.

Data

di

Indonesia

menunjukkan

peningkatan insidensi penderita yang menjalani terapi hemodialisis dari tahun


2007 sampai 2012 yakni 6.862 pada tahun 2007, tahun 2008 sebanyak 7.328
penderita, tahun 2009 sebanyak 12.900 penderita, 2010 sebanyak 14.833
penderita, 2011 sebanyak 22.304 penderita dan 2012 sebanyak 28.782
penderita.

Sudah 7
Di negara maju ataupun negara berkembang penyakit kronik tidak
menular (cronic non-com-municable diseases) seperti penyakit kardiovaskuler, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit ginjal kronik, sudah
menggantikan penyakit me-nular (communicable diseases) sebagai masalah
kesehatan masyarakat utama.(Rindiastuti,2008).Di Indonesia, menurut WHO

penyakit hipertensi dan gagal ginjal selalu mengalami peningkatan tiap


tahunnya. (http://kesehatan.kompas.com).
Berdasarkan Pusat Data & Informasi Per-himpunan Rumah Sakit
Seluruh Indonesia, jumlah pasien gagal ginjal kronik diperkirakan sekitar 50
orang per satu juta penduduk, 60% nya adalah usia dewasa dan usia lanjut.
Berdasarkan data dari PT Askes tahun 2009 menunjukkan jumlah gagal ginjal
di Indonesia mencapai 350 per satu juta penduduk, saat ini terdapat sekitar
70000 pasien gagal ginjal kronik yang memerlukan cuci darah. (www.ikc.
or.id, diakses tanggal 16 September 2012).
Menurut The Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (K/DOQI) of
the National Kidney Foundation (NKF) pada tahun 2009, mendefenisi-kan
gagal ginjal kronis sebagai suatu kerusakan ginjal dimana nilai dari GFR nya
kurang dari 60 mL/min/1.73 m2 selama tiga bulan atau lebih. Dimana yang
mendasari etiologi yaitu kerusakan massa ginjal dengan sklerosa yang
irreversibel dan hilangnya nephrons ke arah suatu kemunduran nilai dari
GFR.
Tujuan dari hemodialisa adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang
toksik dari dalam darah pasien ke dializer tempat darah tersebut dibersihkan
dan kemudian dikembalikan ketubuh pasien. Ada tiga prinsip yang mendasari
kerja hemodialisa yaitu difusi, osmosis dan ultrafiltrasi. Bagi penderita gagal
ginjal kronis, hemodialisa akan mencegah kematian. Namun demikian,
hemodialisa tidak menyebabkan penyembuhan atau pemulihan penyakit

ginjal dan tidak mampu mengimbangi hilangnya aktivitas metabolik atau


endokrin yang dilaksanakan ginjal dan tampak dari gagal ginjal serta
terapinya terhadap kualitas hidup pasien (Cahyaningsih, 2009).
Jika kondisi ginjal sudah tidak berfungsi diatas 75 % (gagal ginjal
terminal atau tahap akhir), proses cuci darah atau hemodialisa merupakan
hal yang sangat membantu penderita. Proses tersebut merupakan tindakan
yang dapat dilakukan sebagai upaya memperpanjang usia penderita.
Hemodialisa tidak dapat menyembuhkan penyakit gagal ginjal yang diderita
pasien tetapi hemodialisa dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan
pasien yang gagal ginjal (Wijayakusuma, 2008).

Sudah 8
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan gangguan fungsi ginjal yang
bersifat progresif dan ireversibel. Gangguan fungsi ginjal ini terjadi ketika
tubuh gagal mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit sehingga menyebabkan retensi urea dan sampah nitrogen lain
dalam darah. Kerusakan ginjal ini mengakibatkan masalah pada kemampuan
dan kekuatan tubuh yang menyebabkan aktivitas kerja terganggu, tubuh jadi
mudah lelah dan lemas sehingga dapat memperburuk kualitas hidup pasien
(Brunner, et al., 2010).
Di masa mendatang penderita penyakit GGK digambarkan pasti akan
meningkat jumlahnya. Prediksi menyebutkan bahwa pada tahun 2015, tiga

juta penduduk dunia perlu menjalani pengobatan pengganti untuk GGK


dengan perkiraan peningkatan 5% per tahunnya. Tahun 2030, dua puluh
empat juta penduduk akan menderita GGK dengan perkembangan terbesar
di daerah Asia Pasifik yaitu rata-rata 10% per tahun (Roesma, 2008).
Menurut data Indonesian Nutrition Network (2007), penderita gagal ginjal di
Indonesia mencapai 150 ribu orang dan yang membutuhkan terapi pengganti
ada sebesar tiga ribu orang. Firmansyah (2010) juga menyatakan bahwa
diperkirakan insiden PGK berkisar 100-150 per 1 juta penduduk dan
prevalensi mencapai 200-250 kasus per juta penduduk.

Sudah 9
Penderita gagal ginjal kronik (GGK) di dunia sudah mencapai 26 juta
orang dan 20 juta diantaranya sudah masuk kedalam tahap akhir atau
terminal (Collins & Herzog, 2010). Di Amerika Serikat, pada tahun 2007 The
United States Renal Data System (USRDS) menunjukkan terdapat sekitar 2,9
juta pasien yang menderita GGK. The National Health and Nutrition
Examination Survey (NHANES) menunjukkan, 527.233 pasien menderita
gagal ginjal tahap akhir atau tahap V. Pada tahun 2010 jumlah penderita
gagal ginjal tahap akhir menjadi 651.000 (termasuk 382.343 pasien dialisis),
dan sebanyak 17.413 transplantasi ginjal telah dilakukan ( Clinfowiki, 2011).
Jumlah penderita GGK di Indonesia meningkat secara signifikan dari
tahun ke tahun. Insiden pasien gagal ginjal tahap akhir yang menjalani

hemodialisis pada tahun 2002 adalah sekitar 2077 pasien, dan pada tahun
2006 jumlah pasien meningkat menjadi 4344 pasien. Sementara itu jumlah
transplantasi ginjal yang telah dilakukan sejak tahun 1977 sampai tahun 2006
adalah 476 pasien. Data dari beberapa pusat dialisis melaporkan bahwa
penyebab Penyakit ginjal tahap akhir yang menjalani hemodialisis adalah
glomerulonefritis (36,4%), penyakit ginjal obstruksi (24,4%), nefropati diabetik
(19,9%), hipertensi (9,1%), penyebab lain (5,2%), penyebab yang tidak
diketahui (3,8%), dan penyakit ginjal polikistik (1,2%) (Prodjosudjadi &
Suhardjono, 2009).
Kualitas hidup adalah suatu paduan multidimesi yang merupakan
persepsi individual dari berbagai aspek kehidupan yang terdiri dari kesehatan
jasmani, kesehatan mental, derajat optimisme, serta kemampuan dalam
berperan aktif dan menikmati aktifitas sosial sehari-hari yang berhubungan
dengan pekerjaan, kehidupan rumah tangga, kehidupan sosial dan hobi.
Penilaian kualitas hidup penderita gagal ginjal dapat dilihat pada aspek
kesehatan fisik, kesehatan mental, fungsi sosial, fungsi peran dan perasaan
sejahtera (Fatayi, 2008). WHO telah merumuskan empat dimensi kualitas
hidup yaitu dimensi fisik, dimensi psikologis, dimensi sosial dan dimensi
lingkungan. Keempat dimensi tersebut dapat menggambarkan kualitas hidup
pasien gagal ginjal kronik dengan terapi hemodialisis yang mempunyai
agama, etnis dan budaya yang berbeda (WHO, 1994 dalam Desita, 2010
Pengaruh dukungan keluarga terhadap peningakatan kualitas hidup pasien

GGK yang menjalani hemodialisis). Faktor-faktor yang mempengaruhi


kualitas hidup pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis antara lain:
umur, jenis kelamin, etiologi gagal ginjal, status nutrisi, kondisi komorbid,
pendidikan, pekerjaan, lama menjalani hemodialisis, dan penatalaksanaan
medis (Desita, 2010; Yuliaw, 2010; Yuwono, 2000).

Sudah 10
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah penyakit dimana fungsi organ
ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama
sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga
keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam
darah atau produksi urine (Smeltzer & Bare, 2010). Ginjal juga berfungsi
untuk menjaga keseimbangan asam-basa darah, menjaga konsentrasi garam
di dalam tubuh dan memproduksi zat sejenis vitamin D yang penting untuk
menjaga kesehatan tulang. Gangguan pada ginjal ini dapat berlangsung
sangat lama dan menyebabkan beberapa kelainan pada tubuh pasien.
Penderita CKD di seluruh dunia mencapai 10% dari populasi. Pasien
CKD tersebut membutuhkan terapi untuk mengurangi atau menghilangkan
penyakitnya. Terapi CKD dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu terapi
konservatif dan terapi pengganti. Terapi konservatif merupakan pengaturan
asupan protein, yang bertujuan untuk memperlambat kerusakan ginjal lebih
lanjut. Terapi pengganti diberikan apabila terapi konservatif tidak memberikan

hasil yang diharapkan. Terapi pengganti ini dapat berupa dialisis dan
transplantasi ginjal. Metode yang terbanyak dilakukan adalah hemodialisis.
Tetapi kendala yang ada adalah biaya yang mahal (Suwitra K, 2009).

Sudah 11
Penyakit ginjal kronis saat ini merupakan masalah kesehatan yang
penting mengingat insidennya yang terus meningkat. Menurut United State
Renal Data System (USRDS) di Amerika Serikat prevalensi PGK meningkat
sebesar 20-25% setiap tahunnya. Pada tahun 2010, tercatat sebanyak
116.946 penderita yang memulai terapi pengganti ginjal dari total penderita
PGK yang mencapai 594.374 jiwa (USRDS, 2012).
Di Indonesia, penderita yang mengalami PGK dan menjalani terapi
hemodialisis mengalami peningkatan. Berdasarkan survei yang dilakukan
oleh Perhimpunan Nefrologi Indonesia terdapat 18 juta orang di Indonesia
menderita PGK (Wiguno & Suhardjono, 2009). Menurut laporan Indonesian
Renal Registry (2012) pada tahun 2009, tercatat sebanyak 5.450 pasien
gagal ginjal yang menjalani hemodialisis, meningkat pada tahun 2010
sebanyak 8.034 penderita dan meningkat lagi pada tahun 2011 sebanyak
12.804 penderita.
Dalam penatalaksanaan pasien hemodialisis, penilaian terhadap
kualitas hidup merupakan faktor penting karena kualitas hidup berhubungan
dengan morbiditas dan mortalitas pasien gagal ginjal (Al-Jumaih et al, 2011).

Pasien hemodialisis dengan kualitas hidup yang rendah akan meningkat


mortalitasnya dibandingkan dengan populasi normal. Penilaian tentang
kualitas hidup merupakan indikator penting untuk menilai efektivitas terapi
yang diberikan, sehingga kualitas hidup juga menjadi tujuan penting dalam
pengobatan

penyakit

ginjal

(Zadeh,

2001).

Pasien

yang

menjalani

hemodialisis lebih dari 5 tahun memiliki sindrom osteodistrofi renal yang lebih
banyak seperti gatal yang berlebihan, lelah, dan susah berjalan. Hal ini tentu
mempengaruhi aktivitas dalam aspek penilaian kualitas hidup seseorang
(Jonjic et al, 2008).
Aspek kualitas hidup pada pasien dapat diukur menggunakan
berbagai macam kuesioner. Kuesioner tersebut antara lain skala Karnofsky,
WHOQOL, SF 36 dan KDQOL. Beberapa aspek yang khusus pada penderita
PGK yang menjalani dialisis tidak dapat diukur dengan menggunakan
kuesioner yang dirancang untuk penyakit umum, sehingga memerlukan
kuesioner untuk mengukur kualitas hidup penderita PGK secara spesifik,
yaitu menggunakan kuesioner Kidney Disease Quality of Life Short Form
(KDQOL-SF) (Hays et al, 1997). Pertanyaan pada kuesioner ini terdiri dari 43
pertanyaan yang menggali kualitas hidup terkait dengan penyakit ginjal yang
menjalani dialisis dan 36 pertanyaan terkait kondisi kesehatan secara umum.

Sudah 12
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan gangguan fungsi ginjal yang
progresif dan irreversible, saat ginjal sudah tidak mampu menjalankan
fungsinya akan menyebabkan kegagalan ginjal. Gagal ginjal krnis ditandai
dengan peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Produk akhir
metabolism protein (yang normalnya dieksresikan kedalam urin) tertimbun
dalam darah (Smeltzer & Bare, 2002 : 1448). Prevalensi gagal ginjal kronik
terus meningkat setiap tahunnya. Tahun 2011 di Indonesia terdapat 15.353
pasien baru yang menjalani hemodialisis dan tahun 2012 terjadi peningkatan
pasien yang menjalani hemodialisis sebanyak 19.621 pasien baru yang
menjalani hemodialisis (IRR, 2013). Data Riskesdas 2013, prevalensi gagal
ginjal kronik berdasar diagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,2% dan di
Jawa Timur prevalensinya sebesar 0,3%.
Menurut data Riskesdas, rata-rata proporsi perokok saat ini di
Indonesia adalah 29,3% dan proporsi terbanyak perokok aktif setiap hari
pada umur 30-34 tahun sebesar 33,4% (Ejerblad et al., 2004). Orth (2002)
dalam penelitiannya menemukan bahwa merokok merupakan faktor risiko
penting pada GGK. Diperkirakan angka kematian pada tahun 2020 akan
mendekati dua kali lipat dari jumlah angka kematian saat ini jika kebiasaan
merokok seperti saat ini tetap terjadi (Rahmawati, 2009).
Riskesdas tahun 2007 yaitu terdapat 7,2% penduduk Indonesia
menderita penyakit Jantung dan tahun 2013 meningkat menjadi 14,6%.

Pasien gagal ginjal kronik dengan dialysis angka kematiannya lebih dari 20%
per tahun dan lebih dari setengah angka kematian tersebut berhubungan
dengan penyakit kardiovaskuler. Data epidemiologi menunjukkan 40-75%
pasien dialysis memiliki manifestasi kardiovaskuler (Widiana et al., 2008).
Dialisis atau transplantasi ginjal bukanlah tindakan yang murah. Biaya
perawatan dalam mempertahankan hidup pasien gagal ginjal kronik yang
telah mencapai tahap akhir tidaklah murah. Tahun 2000 terdapat sebanyak
2.617 pasien dengan hemodialisis dengan biaya yang ditanggung ASKES
menghabiskan biaya mencapai Rp 32,4 milyar dan pada tahun 2004 kedua
angka tersebut terus meningkat hingga mencapai angka 6.314 pasien
dengan hemodialisis yang ditanggung ASKES dengan biaya Rp 67,2 milyar
(Bakri S, 2005). Angka tersebut merupakan angka yang cukup tinggi dinegara
berkembang seperti Indonesia. Selain itu, hemodialisis terdapat banyak
komplikasi.

Sudah 13
Gagal ginjal kronik (GGK) menjadi ancaman tersendiri bagi masyarakat di
Indonesia. Pasalnya, populasi penyakit GGK di Indonesia dari tahun ke tahun
kian meningkat. Berdasarkan data dirilis PT. Askes pada tahun 2010 jumlah
pasien GGK ialah 17.507 orang. Kemudian tahun 2011 meningkat menjadi
23.261 pasien, pada tahun 2013 juga diduga akan mengalami peningkatan

mengikuti peningkatan populasi diabetes dan hipertensi sebagai pangkal


munculnya penyakit GGK (Okezone, 2013).

Sudah 14
Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013,
prevalensi Gagal Ginjal Kronik di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter
sebesar 0,2% sedangkan prevalensi Gagal Ginjal Kronik berdasarkan
diagnosis dokter di Jawa Tengah lebih tinggi yaitu sebesar 0,3%.
Berdasarkan data Persatuan Nefrologi Indonesia (Pernefri) pada tahun 2011
diperkirakan ada 70.000 penderita ginjal di Indonesia, namun yang terdeteksi
gagal ginjal tahap akhir yang menjalani terapi hemodialisis hanya 4.0005.000 orang.
Pembatasan cairan seringkali sulit dilakukan oleh pasien, terutama jika
pasien mengkonsumsi obat-obatan yang membuat membrane mukosa kering
seperti diuretik, sehingga menyebabkan rasa haus dan pasien berusaha
untuk minum. (Potter & Perry, 2008 dalam Kartika, 2009). Kepatuhan
terhadap

pembatasan

cairan

diperlukan

untuk

mencegah

terjadinya

kelebihan cairan yang dapat menyebabkan odema dan meningkatkan resiko


pada kardiovaskuler dan hipertensi (Barnet 2007).

Sudah 15
The Kidney Disease Outcome Initiative (KDOQI) of the national kidney
foundation (NKF) mendefinisikan penyakit gagal ginjal kronik sebagai
kerusakan pada parenkim ginjal dengan penurunan glomerular filtration rate
(GFR) kurang dari 60 mL/min/1,73 m2 selama atau lebih dari 3 bulan dan
pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal (Verelli, 2006). Kelainan fungsi
ginjal berdasarkan durasinya dibagi menjadi 2 yaitu gagal ginjal akut dan
gagal ginjal kronik. Gagal ginjal akut adalah kemunduran yang cepat dari
kemampuan ginjal dalam membersihkan darah dari bahan-bahan racun, yang
menyebabkan penimbunan limbah metabolik didalam darah (misalnya urea)
(Ayu, 2010).
Tahun 2015 diperkirakan ada 36 juta penduduk dunia yang meninggal
akibat penyakit ginjal. Penderita gagal ginjal kronik harus melakukan terapi
hemodialisa untuk memperpanjang usia harapan hidup. Berdasarkan data
Badan

Kesehatan

Dunia

atau

World

Health

Organization

(WHO)

memperlihatkan yang menderita gagal ginjal baik akut maupun kronik


mencapai 50% sedangkan yang diketahui dan mendapatkan pengobatan
hanya 25% dan 12,5% yang terobati dengan baik. Prevelansi gagal ginjal di
Indonesia tercatat mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun keatas
(Riskesdas, 2007).
Penyakit Gagal Ginjal Kronik (GGK) prevalensinya semakin meningkat
setiap tahun di Negara berkembang termasuk di Indonesia yang diperkirakan

ada sekitar 40 60 kasus per juta penduduk pertahun. Di Indonesia, dari


data di beberapa nefrologi (ilmu yang mempelajari bagian ginjal),
diperkirakan insiden penyakit gagal ginjal ginjal berkisar 100-150 per 1 juta
penduduk dan prevalensi mencapai 200-250 kasus per juta penduduk
(Firmansyah, 2010). Menurut data dari Yayasan Peduli Ginjal (Yadugi) di
Indonesia kini terdapat sekitar 40.000 penderita gagal ginjal kronik. Hanya
3.000 diantaranya yang memiliki akses pengobatan.
Hemodialisa dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan organ ginjal.
Pada organ ginjal yang mengalami kerusakan belum parah biasanya
intensitas hemodialisa dilakukan 1 bulan sekali. Sedangkan pada organ ginjal
yang mengalami kerusakan yang lebih parah intensitas untuk melakukan
hemodialisa kemungkinan bisa bertambah.misalnya, menjadi 3-5 kali
seminggu. Proses hemodialisis pada umumnya memerlukan waktu selama 45 jam. Salah satu komponen yang digunakan dalam proses hemodialisis
yakni dialist. Dialist merupakan cairan yang membantu mengeluarkan
sampah uremik dan juga dapat menggantikan substansi yang dibutuhkan
tubuh seperti natrium. System delivery dialistat dapat mengatur kadar natrium
dialisat selama tindakan hemodialisis. Kadar natrium dialisat diubah sesuai
dengan peresepan dari dokter. Hal ini disebut natrium modeling. Meskipun
demikian, penggunaan natrium modeling juga meningkatkan rasa haus dan
berat badan serta hipertensi diantara tindakan hemodialisis (Cahyaningsih,
2011).

Sesuai

dengan

kebijakan

pemerintah

yang

mengatur

tentang

pelayanan dialysis di Rumah Sakit yaitu tentang pasal 22 dan 23 Peraturan


Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

(PERMENKES

RI)

Nomor

138/MENKES/PB/II/2009 tahun 2009 yang isinya pelayanan hemodialisis


merupakan pelayanan proses pencucian darah dengan menggunakan mesin
cuci darah dan sarana hemodialisis lainnya. Selain itu, dalam Peraturan
Mentereri

Kesehatan

Republik

Indonesia

(PERMENKES

RI)

No.

812/MENKES/PER/VII/2010 pasal 1 ayat 3 menjelaskan bahwa salah satu


terapi pengganti ginjal yang menggunakan alat khusus dengan tujuan
mengeluarkan toksik uremik dan mengatur cairan, elektrolit tubuh.

Sudah 16
Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan
penurunan fungsi ginjal yang irreversibel dan memerlukan terapi pengganti
ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal (Sukandar, 2006).
Penyakit gagal ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal
mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali
dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan
cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium di dalam darah atau
produksi urin. Penyakit gagal ginjal berkembang secara perlahan kearah
yang semakin buruk dimana ginjal sama sekali tidak lagi mampu bekerja

sebagaimana fungsinya. Dalam dunia kedokteran dikenal 2 macam jenis


gagal ginjal, yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis (Anonim, 2010).
Menurut laporan dari 4th Report Renal Registry tahun 2011 jumlah
pasien yang baru terdiagnosis gagal ginjal di Indonesia setiap tahun selalu
mengalami kenaikan. Kenaikan sangat drastis terjadi pada tahun 2010 yaitu
sebanyak 9649 orang pasien gagal ginjal baru, dimana pada tahun 2011
meningkat drastis menjadi 15353 orang. Pada tahun 2011 penderita gagal
ginjal di Indonesia sebanyak 13619 orang mengalami gagal ginjal terminal,
1017 orang mengalami gagal ginjal akut dan sisanya 717 orang gagal ginjal
akut pada gagal ginjal kronis yang sudah stabil.

Sudah 17
Di

Indonesia,

yaitu

berdasarkan

data

survei

yang

dilakukan

PERNEFRI baru-baru ini mencapai 30,7 juta penduduk. Menurut data PT


ASKES, ada sekitar 14,3 juta orang penderita penyakit ginjal tingkat akhir
(PGTA) yang saat ini menjalani pengobatan yaitu dengan prevalensi 433
perjumlah penduduk menurut Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia
(PERNEFRI) dr. Dharmeizar (Kartika, 2013).
Pada tahun 2011, penyakit ginjal adalah penyebab utama kematian
kesembilan di Amerika Serikat . Lebih dari 10% (> 20 juta) dari US dewasa
berusia 20 tahun memiliki penyakit ginjal kronis/Chronic Kidney Deseases

(CKD), dan kebanyakan dari mereka tidak menyadari kondisi mereka. CKD
dapat menyebabkan gagal ginjal kronis, membutuhkan dialisa atau
transplantasi untuk bertahan hidup (CDC, 2013).
Insiden dan prevalensi modalitas untuk hemodialisa, peritoneal dialisa,
dan transplantasi ginjal pada tahun 2010 per satu juta penduduk yang
menjalani hemodialisa sejumlah 316, peritoneal dialisa 23,3, transplantasi
7,9. (U.S. Renal Data System, USRDS 2012).

Sudah 18
Kelainan ginjal adalah masalah kesehatan pada masyarakat yang
serius bagi tiapnegara, terutama pada negara-negara berkembang seperti
Indonesia, kelainan ginjal dapatterjadi akibat adanya kelainan pada ginjal
(penyakit ginjal primer) atau komplikasi penyakitsistematik (penyakit ginjal
sekunder) seperti penyakit ginjal sekunder), seperti kencing manis(diabetes).
Kelainan ringan pada ginjal dapat sembuh sempurna bila penyebabnya
sudahdiatasi. Kadang cukup dengan pengobatan dan pengaturan diet.
Namun, bila keadaanyamemburuk, kelainan itu bisa menjadi gagal ginjal
yang akut. Baru - baru ini kasus gagalginjal di dunia meningkat lebih dari
50%, di Indonesia sendiri sudah mencapai sekitar 20% (Lukman, 2009).

Di negara maju, angka penderita gangguan ginjal cukup tinggi. Di


Amerika Serikatmisalnya angka kejadian penyakit gagal ginjal meningkat
tajam dalam 10 tahun. Tahun 1996terjadi 166.000 kasus dan pada tahun
2000 menjadi 372.000 kasus. Pada tahun pada tahun2010 jumlahnya
diperkirakan lebih dari 650.000 kasus. Sekitar 6 juta hingga 20 juta individudi
Amerika diperkirakan mengalami GGK (Gagal Ginjal Kronis) tahap awal. Hal
yang samajuga terjadi di Jepang pada akhir tahun 1996 didapatkan sebanyak
167.000 penderita yang menerima terapi pengganti ginjal. Sedangkan tahun
2000 terjadi peningkatan lebih dari200.000 penderita (Djoko, 2008).

Prevalensi gagal ginjal kronik telah mengalami peningkatan pada awal


tahun 1990-an dan hanya menyerang lansia di Asia. Prevalensi gagal ginjal
kronik berkembang secaramerata. Gagal ginjal kronik tidak pandang bulu
menyerang golongan muda, yaitu pada usia15 tahun. Organisasi kesehatan
dunia (WHO) memperkirakan, bahwa 155 juta pendudukdunia tahun 2002
mengidap gagal ginjal kronik. Jumlah ini terus meningkat hingga melebihi200
juta pada tahun 2025 (Febrian, 2009).
Di Indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita gagal ginjal
kronik yang cukup tinggi. Menurut data dari Persatuan Nefrologi Indonesia
diperkirakan ada 70 ribupenderita gagal ginjal. Namun di Indonesia yang
terdeteksi menderita Gagal Ginjal Kronisyang menjalani cuci darah
(Hemodialisa) hanya sekitar 4000 sampai 5000 saja, dengan katalain 5,7%
sampai 7,1% dari total seluruh penderita gagal ginjal. Jumlah pasien Gagal
Ginjaldi Rumah Sakit Khusus Ginjal (RSKG) mencapai 4500 orang, banyak
pasien yangmeninggal akibat tidak mampu berobat dan cuci darah,
dikarenakan biayanya mahal. Gagalginjal bisa menyerang semua golongan
umur pria dan wanita yang mayoritas berusia 20-40tahun, tidak memandang
tingkatan ekonomi. Hingga tahun 2015 diperkirakan sebanyak 36 juta orang
warga meninggal akibat gagal ginjal, penyakit ginjal kronik merupakan
penyakityang diderita oleh satu dari sepuluh orang dewasa (Febrian, 2009).

Menurut data Yayasan Peduli Ginjal , saat ini di Indonesia terdapat


40.000 penderitaGGK. Namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar 3.000
penderita yang bisa menikmatipelayanan cuci darah atau hemodialisa.
Namun demikian, jumlah pasien gagal ginjal kronikyang melakukan
hemodialisa

jumlahnya

terus

meningkat

5%

sampai

10%

setiap

tahun.Berdasarkan data dari Indonesia Renal Registry, suatu kegiatan


registrasi dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia, pada tahun 2008 jumlah
pasien hemodialisis (cuci darah) mencapai2.260 orang dari 2.148 orang pada
tahun 2007. Kenaikan jumlah penderita gagal ginjal cukupbanyak, karena
dalam satu tahun kenaikan jumlah penderita sebanyak 112 pasien. Salah
satufaktor penyebab meningkatnya angka penderita gagal ginjal dari tahun ke
tahun di dunia ini,salah satunya disebabkan oleh kurangnya kesadaran
masyarakat terhadap deteksi dini penyakit tersebut (Antara Sumut, 2009).

Sudah 19
Menurut Kusmardanu (2010), data yang diperoleh dari The US Renal
Data System(USRDS) tahun 1999 terdapat 340.000 pasien yang menjalani
terapi hemodialisa sedangkantahun 2010 diperkirakan meningkat sampai
651.000 pasien. The Third National Health andExamination Survey (NHANES
III) mengestimasikan prevalensi penyakit ginjal kronik padaorang dewasa di
Amerika Serikat sekitar 11% (19,2 juta penduduk) terdiri dari 3,3% (5,3juta)

pada derajat satu, 3% (5,3 juta) pada derajat dua, 4,3% (7,6 juta) pada
derajat tiga, 0,2%(400.000) pada derajat empat, dan 0,2% (300.000) pada
derajat lima atau gagal ginjal. Skalainternasional, rata-rata insiden dari
penyakit ginjal kronik derajat lima mengalamipeningkatan terus menerus
sejak tahun 1989.

Pusat Data & Informasi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia


(PDPERSI)menunjukkan jumlah penderita gagal ginjal kronik di Indonesia
yang menjalani terapihemodialisa sekitar lima puluh orang per satu juta
penduduk. Menurut laporan tahunan dariYayasan Ginjal Diatrans Indonesia
(YGDI) tahun 2006, diperkirakan jumlah penderita gagal ginjal kronik di
Indonesia sebanyak 150 ribu pasien dan jumlah total pasien tersebut
21%berusia 15-34 tahun, 49% berusia 35-55 tahun, dan 30% berusia diatas
56
Gangguan ginjal yang telah berada pada tahap berat ditunjukkan
denganketidakmampuan ginjal membuang sisa-sisa zat metabolisme dari
dalam tubuh.Ketidakmampuan ginjal menyebabkan tubuh dipenuhi dengan
air dan racun sehingga timbulgejala seperti mual, muntah dan sesak napas
yang memerlukan hemodialisa darah sesegeramungkin (Indonesian Kidney
Care Club/IKCC, 2008). Proses perjalanan penyakit yangkronik dan bersifat
progresif

serta

dapatmenimbulkan

efek

samping

perubahan

pengobatan

pada

sistem

pada
tubuh

penyakit

sehingga

ini

dapat

menyebabkan terjadinyagangguan pemenuhan kebutuhan dasar manusia.


Hal ini menunjukkan adanya perbedaanantara kondisi sehat dan sakit yang
dapat menimbulkan gangguan konsep diri klien yangberhubungan dengan
kebergantungan pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan dasar
danpenurunan kemampuan berfungsi (Gandasentana, 2007).

Sudah 20
Prevalensi gagal ginjal kronik menurut United State Renal Data
System (USRDDS) pada tahun 2009 adalah sekitar 10-13 % didunia. Dalam
Kartika (2013), berdasakan survei dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia
(PERNEFRI) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan
prevalensi penyakit gagal ginjal kronik yang cukup tinggi, yaitu sekitar 30,7
juta penduduk. Menurut data PT Askes, ada sekitar 14,3 juta orang penderita
gagal ginjal tahap akhir saat ini menjalani pengobatan yaitu dengan
prevalensi 433 perjumlah penduduk, Jumlah ini akan meningkat hingga
melebihi 200 juta pada tahun 2025 ( Febrian, 2009 )
Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana ginjal tidak mampu
mengangkut sampah metabolic tubuh atau melakukan fungsi regulernya.
Suatu bahan yang biasanya dieliminasi di urin menumpuk dalam cairan tubuh
akibat gangguan ekskresi renal dan menyebabkan gangguan fungsi endokrin
dan metabolic, cairan, elektrolit, serta asam basa. Gagal ginjal merupakan
penyakit sistemik dan merupakan jalur akhir yang umum dari berbagai
penyakit traktus urinarius dan ginjal ( Yusuf Fikri, 2012 )

Sudah 21
Prevalensi penyakit ginjal kronik di Indonesia pada tahun 2013
meningkat sebesar 0,2%, sedangkan prevalensi penyakit ginjal kronik di

Gorontalo tahun 2013 sebesar 0,4% (Riskesdas 2013). Griva (2011) dalam
Rustiawati (2012) mengungkapkan bahwa prevalensi ketidakpatuhan dalam
asupan cairan antara 10% sampai 60%, ketidakpatuhan diet 2% sampai
57%, waktu dialisis terhambat 19%, ketidakpatuhan obat 9%. Hasil
wawancara dengan perawat di ruangan hemodialisa mengatakan bahwa dari
25 pasien yang menjalani hemodialisa pada bulan Agustus 2014 terdapat
40% pasien yang mengalami kenaikan berat badan interdialitik.

Sudah 22
Gagal ginjal kronik (GGK) juga dikenal sebagai penyakit gagal ginjal
tahap akhir, merupakan sindroma yang ditandai dengan kehilangan fungsi
ginjal secara progresif dan ireversibel, saat ini angka kejadian gagal ginjal
kronik meningkat secara pesat (Kizilcik et al., 2012). Insiden penyakit gagal
ginjal kronik meningkat setiap tahunnya. Meningkatnya jumlah pasien dengan
gagal ginjal kronik menyebabkan kenaikan jumlah pasien yang menjalani
hemodialisis. Pada akhir tahun 2004 angka kejadian gagal ginjal diseluruh
dunia meningkat sehingga mencapai jumlah 1.371.000 pasien yang
menjalani terapi hemodialisis (Grassmann, Giobere, Moeller, & Brown, 2005).
Di Amerika Serikat, insiden penyakit gagal ginjal kronik terjadi 268 kasus baru
per satu juta populasi setiap tahunnya (Black & Hawks, 2005). Gilbertson et
al. (2005) meramalkan bahwa pada tahun 2015 akan ada 136.166 insiden

pasien gagal ginjal kronik setiap tahunnya dan 107.760 angka kematian
gagal ginjal kronik setiap tahun khusus di negara Amerika Serikat. Di
Malaysia dengan populasi 18 juta, diperkirakan terdapat 1800 kasus baru
gagal ginjal pertahunnya. Dinegara berkembang lainnya, insiden diperkirakan
sekitar 40 60 kasus perjuta penduduk pertahun.
Indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita gagal ginjal
kronik yang cukup tinggi diperkirakan penderita gagal ginjal terjadi 100
persejuta penduduk atau sekitar 20.000 kasus dalam setahun (Litbang
Depkes, 2008). Data dari ASKES tahun 2012 sebanyak 24.141 orang
menderita gagal ginjal (Namawi, 2013). Data yang diperoleh dari RSUD Dr.
Pirngadi Kota Medan tahun 2012 berjumlah 126 orang, tahun 2013 berjumlah
184 orang dan diperkirakan meningkat setiap tahunnya (Catatan medical
record RSUD Dr.Pirngadi).

Sudah 23
Gagal ginjal kronik merupakan penurunan fungsi ginjal yang persisten
dan ireversibel. Gagal ginjal kronik adalah suatu sindrom klinis yang
disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung
progresif, dan cukup lanjut. Pada kasus tersebut, ginjal kehilangan
kemampuan untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh
dalam keadaan asupan makanan normal. Gagal ginjal kronik terjadi setelah
berbagai macam penyakit merusak massa nefron ginjal. Sebagian besar

penyakit ini adalah penyakit parenkim ginjal difus dan bilateral, meskipun lesi
obstuktif pada traktus urinarius juga dapat menyebabkan gagal ginjal kronis
(Mansjoer A., dkk, 2010: 32).
Gagal ginjal kronik merupakan penurunan ginjal tahap lanjut yang
terjadi secara perlahan, biasanya bulanan atau tahunan, berjalan progresif,
dan menetap. Fungsi ginjal yaitu sebagai sistem eksresi dan endokrin
mengalami gangguan. Terganggunya sistem eksresi ini menyebabkan
penumpukan zat-zat toksin dalam tubuh yang dapat menimbulkan sindrom
uremia. Pada pasien gagal ginjal kronis, gangguan juga terjadi pada sistem
tubuh yang lain seperti sistem kardiovasa, sistem pulmonal, sistem
gastroentistinal dan sistem lainnya. Gagal ginjal kronik merupakan sindroma
klinis yang disebabkan oleh penurunan fungsi yang lanjut yang disertai
dengan penurunan laju glomerulus filtrasi kurang dari 50 ml/menit/hari.
Penderita gagal ginjal kronik biasanya mengalami perubahan yang
mendadak seperti asidosis berat, hiperkalemia, sepsis, edema paru atau
infeksi berat lainnya yang membutuhkan tindakan terapi segera karena
keterlambatan penanganan dapat mengakibatkan kematian (Harrisson,
2011).
Gagal ginjal kronik pada saat ini merupakan suatu masalah kesehatan
yang penting, mengingat selain prevalensi dan angka kejadiannya semakin
meningkat juga pengobatan pengganti ginjal yang harus dialami oleh
penderita gagal ginjal merupakan pengobatan yang mahal, butuh waktu dan

kesabaran yang harus ditanggung oleh penderita gagal ginjal dan


keluarganya (Harrison, 2011).
Berdasarkan estimasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), secara global
lebih dari 545 juta orang mengalami penyakit gagal ginjal kronik. Sekitar 1,8
juta orang harus menjalani hidup bergantung pada hemodialisis. Berdasarkan
data dari Indonesia Renal Regestry (IRR) pada tahun 2012 jumlah pasien
hemodialisis di Indonesia 5560 orang dari 4148 orang pada tahun 2011. Dari
data PT Askes tahun 2012 menunjukkan insidensi gagal ginjal di Indonesia
mencapai 159 sampai dengan 212 per 1 juta penduduk, saat ini terdapat
sekitar 79.000 penderita gagal ginjal kronik yang memerlukan hemodialisis
(Sapri, 2013).

Sudah 24
Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi
yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan
irreversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal
yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal (Brenner & Lazarus,
2012).

Sudah 25 (tahun 2014)


Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pertumbuhan jumlah
penderita gagal ginjal pada tahun 2013 telah meningkat 50% dari tahun
sebelumnya. Di Amerika Serikat, kejadian dan prevalensi gagal ginjal
meningkat 50% di tahun 2014. Data menunjukkan bahwa setiap tahun
200.000 orang Amerika menjalani hemodialisis karena gangguan ginjal kronis
artinya 1140 dalam satu juta orang Amerika adalah pasien dialisis
(Widyastuti, 2014).
Penyakit ginjal kronik menurut Fakhrudin (2013) merupakan salah satu
masalah utama kesehatan di dunia. Pravalensi Penyakit ginjal kronik selama
sepuluh tahun terakhir semakin meningkat. Yagina (2014) mengemukakan
angka kejadian gagal ginjal di dunia secara global lebih dari 500 juta orang
dan yang harus menjalani hidup dengan bergantung pada cuci darah
(hemodialisis) 1,5 juta orang. Menurut Ismail, Hasanuddin & Bahar (2014)
Jumlah penderita gagal ginjal di Indonesia sekitar 150 ribu orang dan yang
menjalani hemodialisis 10 ribu orang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan
yang dilakukan pada tanggal 12 Agustus 2015 didapatkan hasil wawancara
dengan Kepala Ruang Hemodialisa RSUD Kabupaten Sukoharjo bahwa tiap
tahun pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa
mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 proporsi pasien yang rutin menjalani
terapi hemodialisa sebesar 0,02.

Pasien gagal ginjal menjalani proses hemodialisa 1-3 kali seminggu


dan setiap kalinya memerlukan waktu 2-5 jam, kegiatan ini akan berlangsung
terus menerus sepanjang hidupnya pengaturan pola makan atau diet pada
penderita gagal ginjal yang menjalani hemodialisa merupakan anjuran yang
harus dipatuhi oleh setiap penderita gagal ginjal selain terapi dialisis atau cuci
darah. Pentingnya pengaturan pola konsumsi pangan penderita gagal ginjal
dilakukan untuk membantu mengurangi kerja ginjal yang tidak dipatuhi dapat
meningkatkan angka mortalitas pasien gagal ginjal (Dewa, 2012).

Sudah 26
Gagal Ginjal Kronik (GGK) atau dikenal dengan End-Stage Renal
Disease (ESRD) telah menjadi masalah besar di dunia karena sulit
disembuhkan, biaya perawatan dan biaya pengobatannya mahal (Supriyadi,
2011). Angka penderita gangguan ginjal tergolong cukup tinggi dan menjadi
masalah kesehatan bukan hanya di Indonesia bahkan di negara maju (Dewi,
2011).
Data dalam National Kidney and Urologic Disease Information
Clearinghouse (NKUDIC, 2012) menunjukkan bahwa insidensi ESRD di suku
Asia terus mengalami peningkatan sejak tahun 1980 hingga tahun 2009 dan
menempati urutan ketiga dengan jumlah rasio insidensi sebanyak 400 per
juta penduduk. Jumlah penderita penyakit ginjal kronik di Indonesia
diperkirakan akan semakin meningkat (Wahyudi, 2012). Berdasarkan data

laporan tahunan dari Persatuan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) dalam


Indonesian Renal Registry (IRR) tahun 2011, jumlah pasien gagal ginjal di
Indonesia mencapai 12.466 orang (PERNEFRI, 2011).
Prevalensi penyakit GGK pada umur diatas 15 tahun berdasarkan data
dari hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menunjukkan
bahwa Kalimantan Barat berada pada peringkat ke-4 dengan prevalensi
sebesar 0,2%, Insidensi pasien GGK berdasarkan data rekam medis di
RSUD dr. Soedarso Pontianak pada tahun 2012 sebanyak 133 pasien,
dengan 12 kasus baru. Sedangkan pada tahun 2013, jumlah kunjungan
mengalami penurunan menjadi 92 pasien, namun jumlah kasus baru
mengalami peningkatan menjadi 16 pasien.

Sudah 27
Berdasarkan Center for Disease Control and Prevention (CDC) pada
tahun 2010, lebih dari 20 juta atau 10% dari jumlah orang dewasa di Amerika
Serikat mengidap penyakit ginjal kronik dan kebanyakan tidak terdiagnosis.
Berdasarkan data dari Riskesdas 2013 prevalensi penyakit ginjal kronik
sesuai diagnosis dokter di indonesia sebesar 0,2%. Di urutan pertama
ditempati oleh Sulawesi Tengah dengan prevalensi 0,5%, di ikuti oleh Aceh,
Gorontalo, dan Sulawesi Utara dengan prevalensi 0,4%. Sementara NTT,
Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa
Yogyakarta, dan Jawa Timur masing-masing memiliki prevalensi sebesar

0,3%.Terapi pengganti ginjal yang selama ini diakui dapat meningkatkan


fungsi ginjal adalah transplantasi atau cangkok ginjal, peritoneal dialisis (PD),
dan hemodialisis (HD). Namun, diantara ketiga terapi tersebut, terapi yang
paling banyak dilakukan oleh masyarakat adalah hemodialisis (Colvy, 2010
dalam Ekantari, 2012).
Hemodialisis dilaksanakan untuk menurunkan kadar ureum, kreatinin
dan zat toksik yang lainnya di dalam darah. Hemodialisis masih menjadi
alternatif utama terapi pengganti fungsi ginjal bagi pasien penyakit ginjal
kronik karena dari segi biaya lebih murah dan risiko terjadinya perdarahan
lebih rendah jika dibandingkan peritoneal dialisis (Orim, 2006).Inisiasi
hemodialisis merupakan proses dimulainya hemodialisis sebagai terapi
pengganti ginjal yang dilakukan pada penderita gagal ginjal dengan
komplikasi edema paru, hiperkalemia dan asidosis metabolik (PERNEFRI
2003 dalam Daryani 2011).

Sudah 28
Menurut Patambo (2014) Salah satu penyakit kronik yang banyak
diderita yakni penyakit ginjal kronik (PGK). Penyakit ginjal kronik merupakan
gangguan fungsi renal yang progresif dan ireversibel dimana kemampuan
tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan
dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain
dalam darah) (Chang, Daly, dan Elliot, 2010).

Berdasarkan data dari Riskesdas 2013 prevalensi penyakit ginjal


kronik sesuai diagnosis dokter di indonesia sebesar 0,2%. Di urutan pertama
ditempati oleh Sulawesi Tengah dengan prevalensi 0,5%, di ikuti oleh Aceh,
Gorontalo, dan Sulawesi Utara dengan prevalensi 0,4%. Sementara NTT,
Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa
Yogyakarta, dan Jawa Timur masing-masing memiliki prevalensi sebesar
0,3%.
Karena rusaknya unit penyaring ginjal maka pasien penyakit ginjal
kronik memerlukan terapi pengganti ginjal yang salah satunya dengan
hemodialisis (Baradero. dkk, 2009). Sementara kualitas hidup menjadi topik
penting dalam perawatan medis karena kualitas hidup dapat menurun ketika
individu sakit dan sakit dalam waktu yang lama, dan itu merupakan
pertimbangan penting dalam pencegahan sebelum dan sesudah penyakit
muncul (Sarafino, 2014).

Sudah 29
Penyakit GGK merupakan masalah kesehatan diseluruh dunia yang
berdampak pada masalah medik, ekonomi, dan sosial yang sangat besar
bagi pasien dan keluarganya, baik di negara-negara maju maupun di negaranegara berkembang (Syamsiah, 2011). Penderita GGK terus meningkat
setiap tahunnya, berdasarkan Center for Disease Control and prevention
prevalensi GGK di Amerika Serikat pada tahun 2012 lebih dari 10% atau lebih

dari 20 juta orang. Berdasarkan data PT. Askes jumlah penderita GGK di
Indonesia pada tahun 2011 berjumlah 23.261 orang, sedangkan pada tahun
2012 terjadi peningkatan yaitu 24.141 orang (Manguma, Kapantow, &
Joseph, 2014).

Sudah 30
Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu proses patofisiologi dengan
berbagai penyebab (etiologi) yang beragam, mengakibatkan penurunan
fungsi ginjal yang progresif, pada umunnya berakhir dengan gagal ginjal
(Sudoyo, 2006). Pasien dikatakan mengalami GGK apabila terjadi penurunan
Glomerular Filtration Rate (GFR) yakni <60 ml / menit /1.73 m2 selama lebih
dari 5 bulan (Black & Hawks, 2009). Penyakit GGK juga merupakan
komplikasi dari beberapa penyakit baik dari penyakit ginjal sendiri maupun
penyakit umum diluar ginjal (Muttaqin &
Sari, 2011).
GGK

merupakan

gangguan

fungsi

ginjal

yang

progresif

dan

irreversible dimana tubuh gagal untuk mempertahankan metabolism dan


keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan
sampah nitrogen lain dalam darah) (Smeltzer, Bare, Hinkle & Ceever, 2010).
Kegagalan ginjal ditandai dengan keadaan klinis yakni penurunan fungsi
ginjal sehingga membutuhkan terapi penganti ginjal yang tetap seperti
dialysis atau transplantasi ginjal (Sudoyo, 2006).

Penyakit GGK dinegara berkembang telah mencapai 73.000 orang


dan merupakan penyakit terbanyak di negara dunia ketiga dengan jumlah
350.000 orang (conference of the Asian Sociaty of Transplantation (CAST),
2005 dalam Wijayakusuma, 2008). Setiap tahun di Indonesia diperkirakan
hamper 150.000 penderita gagal ginjal tahap akhir yang ditemukan
(Wijayakusuma, 2008).

Sudah 31
Berdasarkan data PT ASKES tahun 2010 jumlah penderita gagal ginjal
berjumlah 17.507 orang dan meningkat pada tahun 2011 menjadi 23.261
pasien, sedangkan pada tahun 2012 terjadi peningkatan menjadi 24.141
orang dan diperkirakan tahun 2013 jumlah pasien gagal ginjal akan
meningkat (Nawawi, 2013).
Indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita gagal ginjal yang
cukup tinggi. Menurut data dari PERNEFTRI (Persatuan Nefrologi Indonesia),
diperkirakan ada 70 ribu penderita ginjal di Indonesia, namun yang terdeteksi
menderita gagal ginjal kronis tahap terminal dari mereka yang menjalani cuci
darah (hemodialisa) hanya sekitar 4 ribu sampai 5 ribu saja. Beberapa faktor
penyebab terjadinya gagal ginjal kronis adalah diabetes mellitus diikuti
dengan hipertensi dan penyakit pembuluh darah besar serta penyebab
lainnya (Sudoyo dkk, 2007).

Sudah 32
Data-data dari tindakan dialisis baik hemodialisis, peritoneal dialisis,
(CAPD)ataupun

CRRT serta

dialisis

dengan

teknik

khusus

(hybrid

dialisis/prolonged intermitent renal replacement therapy) seperti SLED, EDD,


dsb, dikumpulkan dari seluruh Unit Hemodialisis di Indonesia baik di dalam
maupun di luar rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta. Seluruh Unit
Hemodialisis harus melaporkan datanya secara berkala sesuai dengan
ketentuan yang telah disepakati bersama antara PERNEFRI dan Departemen
Kesehatan

dan

sudah

tercantum

dalam

PERATURAN

MENTERI

KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 812/MENKES/PER/VII/2010.


Hal ini sangat bermanfaat bagi Departemen Kesehatan serta berbagai pihak
penyelenggara baik pemerintah maupun swasta, antara lain dapat menjadi
salah satu bahan pertimbangan dalam evaluasi dan penilaian pelayanan Unit
Hemodialisis untuk penyusunan rencana pengembangan di masa depan.

Sudah 33 (RISKESDAS 2013)


Ginjal merupakan organ yang mempunyai fungsi vital pada manusia,
organ ini memerankan berbagai fungsi tubuh yang sangat penting bagi
kehidupan, yakni menyaring (filtrasi) sisa hasil metabolisme toksin dari darah,

serta mempertahankan homeostatis cairan dan elektrolit tubuh, yang


kemudian dibuang melalui urin (Purnomo, 2012).
Prevalensi gagal ginjal kronis berdasar diagnosis dokter di Indonesia
sebesar 0.2 persen. Prevalensi tertinggi di Sulawesi Tengah sebesar 0.5
persen, diikuti Aceh, Gorontalo, dan Sulawesi Utara masing-masing 0.4
persen. Sementara Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa
Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur masingmasing 0.3
persen. Provinsi Sumetera Utara sebesar 0.2 persen (Riskesdas, 2013).
Pada suatu derajat pasien tertentu gagal ginjal memerlukan terapi
pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis ataupun transplantasi ginjal. Saat
ini, karena keefektifannya, hemodialisis (HD) merupakan terapi pengganti
ginjal yang paling banyak digunakan. Pada terapi ini, fungsi ginjal dalam
membersihkan dan mengatur kadar plasma digantikan oleh mesin. (Suwitra,
2009)
Di dunia, telah terjadi peningkatan 165% dalam perawatan dialisis
untuk End-Stages Renal Disease (ESRD) selama dua dekade terakhir.
Prevalensi global pengobatan ESRD dengan dialisis untuk negara-negara
dengan akses dialisis universal yang meningkat sebesar 134% setelah
disesuaikan untuk pertumbuhan populasi dan penuaan (145% pada wanita vs
123% pada pria). Untuk negara-negara yang populasi tidak memiliki akses
dialisis universal, disesuaikan prevalensi meningkat sebesar 102% (116%

untuk wanita, 90% untuk laki-laki). Lima wilayah dunia tidak mengalami
peningkatan yang substansial dalam prevalensi dialisis termasuk Oceania,
Asia Selatan, tengah sub-Sahara Afrika, Eropa Timur, dan Amerika Latin
tropis (American Society of Nephrology (ASN), 2013).
Data Indonesian Renal Registry (IRR), tahun 2011 didapatkan jumlah
diagnosis ESRD mencapai 13.619, ESRD merupakan penyakit utama yang
terbanyak kasusnya, di wilayah Sumut tercatat sebanyak 392. Dari data ini
juga memperlihatkan grafik pasien baru dan aktif di Indonesia tahun 20072011. Data pada tahun 2011, pasien baru tercatat 15.353 orang, dan pasien
aktif 6.951. Jumlah pasien baru dan aktif tercatat lebih banyak karena jumlah
unit hemodialisis yang melaporkan pun meningkat.
Suhardjono,

Rahardjo,

&

Susalit

(2009)

menyatakan

bahwa

kecukupan dosis hemodialisis yang diberikan diukur dengan istilah adekuasi


dialisis. Terdapat korelasi yang kuat antara adekuasi dialisis dengan angka
morbiditas dan mortalitas pada pasien dialisis. Adekuasi dialisis diukur
dengan menghitung ureum reduction ratio (URR) dan (KT/V). Lazarus et
al(1993) juga menyatakan bahwa dibandingkan dengan pasien dengan URR
65 sampai 69 persen, pasien dengan nilai-nilai di bawah 60 persen memiliki
risiko kematian yang lebih tinggi selama masa tindak lanjut (odds ratio: 1.28
pada URR 55 sampai 59 persen dan 1.39 pada URR di bawah 50 persen).