Anda di halaman 1dari 8

NOTULENSI MUSYAWARAH DESA

Hari
Tanggal
Jam
Tempat
Agenda

:
:
:
:
:

Kamis
11 Oktober 2012
14.00 WITA
Kantor Kepala Desa Kerta Buwana
Musyawarah Desa Perencanaan (MDP) dan
Musyawarah Khusus Perempuan (MKP) PNPM MPd TA 2013

1. Pembukaan
Acara dibuka dengan Doa OM Awignam Astu Namo Sidham.
2. Sambutan dari Bapak Kepala Desa, diwakili oleh Sekretaris Desa.
3. Sambutan dari UPK Kecamatan Sungai Loban, diwakili oleh Bendahara UPK.
4. Review RKPDes 2013 dan RPJMDes Desa Kerta Buwana
5. Penggalian Usulan Baru :
- Siring Jalan pada Jembatan + Timbunan Laterit Menuju Tri Martani di RT 05 Penghubung antar
desa (Usulan Baru)
Panjang Siring + Timbunan = 600 meter
-

Siring Jalan + Timbunan Laterit di lokasi jembatan antara RT 05 ke RT 06 (Usulan Baru)


Panjang siring + Timbunan = 120 meter

Siring Jalan + Got tiap-tiap Dusun (Usulan Baru)

6. Musyawarah Desa Khusus Perempuan (MKP)


-

Hasil MKP Usulan Ibu-ibu untuk PNPM MPd 2013 (Regular) :

Pembuatan badan jalan, parit, jembatan, dan perkerasan jalan pada jalan tembus dari RT 10
menuju RT 11 dan RT 10 menuju RT 04 (dari RPJMDes 2014) :
a). Jalan 1000 meter
b). Jembatan ukuran 3x5 m = 2 unit
-

Hasil MKP Usulan Ibu-ibu untuk PNPM MPd Integrasi :

Siring Jalan Jembatan + Timbunan Laterit Menuju Tri Martani di RT 05 (dari Usulan Baru)
Panjang Siring + Timbunan = 600 meter
7. Musyawarah Desa Perencanaan (MDP) Usulan Campuran
- Perkerasan jalan dan pembuatan gorong2 besar utk Akses ke Pura Dalem dan ke Kuburan di
RT 11 :
a). Jalan 500 meter
b). Gorong-gorong 100 = 2 unit
8. Pembentukan Tim Penulis Usulan (TPU) ;
- I Ketut Ely
- I Wayan Selamet Sanjaya
- I Wayan Sumerta
9. Wakil Masyarakat pada Musyawarah Antar Desa (MAD) Usulan ke Kecamatan

Luh Lina (tokoh perempuan)


Sayu Devi (tokoh perempuan)
Sayu Purnamawati (tokoh perempuan)
Kades
Ketua TPK
Tokoh masyarakat (Ketua BPD)
Tim Pengawas MAD : I Ny Diana

10. Penyampaian Hasil Akhir Rapat.


- Disepakati dan disetujui tentang usulan baru untuk dapat dimasukkan ke Musrenbangdes 2013,
disepakati Usulan dari Ibu-ibu (MKP) dan Campuran (MDP), Tim Penulis Usulan (TPU), serta
Wakil Masyarakat pada MAD di Kecamatan.
11. Penutup
Acara ditutup dengan Paramashanti OM Shanti Shanti Shanti OM.

Kerta Buwana, 11 Oktober 2012


Mengetahui :
Kepala Desa,

( I GUSTI KADE ARSANA )

Notulen,

( I WAYAN SUKADANA, S.Hut )


NIP. 19790504 200903 1 007

RAKOR POSYANDU BULAN JUNI 2014 DESA RAJAWETAN

RAKOR POSYANDU BULAN JUNI 2014


Selasa, 10 Juni 2014 Tempat Bale Desa Rajawetan
Acara :
1. Pembukaan
2. Sambutan Kepala Desa
3. Evaluasi, Sosialisasi dan Informasi
a. Bidan Teti (Bidan Desa)
b. Bidan Siska (UPTD Puskesmas Pelayan Gizi)
c. Dokter. Siska
4. Lain-lain dan Musyawarah
5. Penutup

I.

MUKADIMAH

Pemerintah akan terus berupaya menangani masalah gizi bagi Bayi dan Balita mengingat mereka adalah para calon
generasi penerus bangsa dimana pada masa-masa itulah pertumbuhan dan perkembangan paling strategis terjadi
pada siklus manusia salah satunya pada masa usia satu sampai lima tahun terjadi penyempurnaan pembentukan
otak, sehingga sangat diharapkan apabila kita secara optimal memberikan yang terbaik untuk mereka maka kelak
suatu saat mungkin salah satu bayi dan balita khususnya di Desa Rajawetan dan umumnya diwilayah regional
pancalang menjadi seorang presiden kenapa tidak semua serba mungkin dan bisa. Dan upaya penanganan gizi
bayi dan balita akan berpengaruh terhadap pencapaian salah satu tujuan Millennium Development Goals (MDGs)
pada Tahun 2015 meningkatkan pemahaman peran pembangunan pangan dan gizi sebagai investasi untuk SDM
berkualitas, meningkatkan kemampuan menganalisis perkembangan situasi.
Beberapa Program Pemerintah Pusat dan Diterima oleh Desa Rajawetan yakni PNPM salah satunya adalah PNPM
Generasi sehat dan cerdas, beberapa program kerja yang dilaksanakan berkaitan dengan masyarakat usia bayi dan
balita adalah :
1. Bidang Pendidikan
Rencana pembangunan gedung Pendidikan Usia Dini (PAUD) bagi kelompok usia anak 2,5 tahun s.d 5 Tahun.
Dengan pembangunan gedung PAUD tersebut diharapkan kwalitas pembinaan dan kemampuan anak menerima
ilmu akan lebih optimal
2.
a.

Bidang Kesehatan
Pembangunan gedung pelayanan kesehatan bagi masyarakat (POSKESDES)
Selain untuk menyediakan kemudahan layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat Desa, Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA) menjadi prioritas pelayanan.
b. Pemberian makanan kehadiran yang diberikan kepada semua bayi dan balita yang ada di Desa atau
c. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan yang diberikan khusus bagi bayi dan balita yang diperkirakan
mempunyai permasalahan didalam perkembangan dan petumbuhannya

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Sedangkan dari Pemerintah secara umum adalah beberapa program bidang kesahatan melalui pihak UPTD
Puskesmas pancalang seperti :
Membentuk bidan desa di tiap-tiap desa
Kegiatan Posyandu
Imunisasi Bayi dan Balita
Pemerikasaan Ibu Hamil dan Pelayanan KB
Pelayanan Tindakan Kelahiran harus ditangani oleh ahlinya (Bidan Desa Poned Tingkat Rujukan sampai ke
Rumah sakit)
Kegiatan penyuluhan dan sosialiasi seperti kegiatan Rapat Koordinas Posyandu sebulan sekali
Upaya Upaya pemerintah dalam meningkatkan koordinasi penanganan secara terpadu tersebut harus didukung oleh
berbagai komponen masyarakat karena masalah gizi di Indonesia bukan hanya masalah kesehatan masyarakat
tetapi menyangkut pembangunan bangsa.
Berdasarkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) Tahun 2009, pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh
masyarakat di mana masyarakat mempunyai peluang dan peran yang penting dalam pembangunan kesehatan, oleh
karena itu pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan
dan kemampuannya sebagai pelaku pembangunan kesehatan.

Selain upaya-upaya yang bersifat teknis atau kegiatan yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat dilakukan
pula kegiatan yang bersifat peningkatan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan seperti :
1. Pembentukan kader kesehatan desa
2. Desa siaga dengan delapan indikatornya

Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan tersebut diharapkan adanya peningkatan kemampuan masyarakat
untuk berpartisipasi aktif, berperan aktif, bernegosiasi, memengaruhi dan mengendalikan kelembagaan
masyarakatnya secara bertanggung jawab demi perbaikan kesehatan
Hal ini sejalan dengan UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, masyarakat berperan serta baik secara per
orangan maupun terorganisasi dalam segala bentuk dan tahapan pembangunan kesehatan dalam rangka membantu
mempercepat pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
sebagai bentuk pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan berbasis masyarakat secara optimal oleh masyarakat
seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan salah satu pendekatan untuk menemukan dan mengatasi
persoalan gizi pada balita. Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat
(UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat
dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar (Depkes RI, 2006
1.
2.
3.
4.
5.

Lima program prioritas kegiatan POSYANDU yaitu


Keluarga Berencana
Kesehatan Ibu dan Anak
Gizi
Imunisasi
Dan Penanggulangan diare
Kelimanya terbukti mempunyai daya ungkit besar terhadap penurunan angka kematian bayi dan balita (Adisasmito,
2007). Posyandu erat sekali kaitannya dengan peran serta aktif masyarakat. Sejak diperkenalkan Tahun 1980-an,
posyandu diakui memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan dan gizi. Balita
merupakan salah satu sasaran posyandu yang cukup penting oleh karena balita merupakan proporsi yang cukup
besar dari komposisi penduduk Indonesia (Depkes RI, 2006). Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat yang
dimanfaatkan oleh ibu untuk memperoleh pelayanan dan sebagai sumber informasi untuk meningkatkan
pengetahuannya dalam hal gizi dan kesehatan. Pemantauan status gizi dan kesehatan anak dapat dilakukan dengan
baik melalui kegiatan di posyandu (Madanidjah, 2007).
Menurut Depkes RI, 2006, perubahan berat badan balita dari waktu ke waktu merupakan petunjuk awal perubahan
status gizi balita. Anak balita sehat, gizi kurang atau gizi lebih (obesitas) khususnya di daerah perkotaan dapat
diketahui dari pertambahan berat badannya tiap bulan. Upaya pemantauan terhadap pertumbuhan balita dilakukan
melalui kegiatan penimbangan balita di posyandu secara rutin tiap bulannya yang hasilnya dicatat dalam Kartu
Menuju Sehat (KMS) .

II.

EVALUASI / MATERI PEMBAHASAN (NARA SUMBER)

1. Bidan Teti
a. Tingkat pertumbuhan bayi dan balita Januari 2014 s.d Mei 2014.
Adanya penurunan berat badan bayi dan balita yang datang dan ditimbang di Posyandu periode tiga
bulan terakhir.
Kerjasama semua pihak untuk bersama sama mengkaji dan mencari tahu penyebab utama mengapa
terjadi penurunan berat badan bayi dan balita.
Upaya penyuluhan secara maksimal dan berkelanjutan oleh UPTD Puskesmas Pancalang melalui Bidan
Desa, serta peran aktip seluruh kader kesehatan desa, dengan berbagai media kesempatan penyuluhan
dan sosialisasi bahwa betapa penting dan berartinya perkembangan dan pertumbuhan bayi dan balita
sebagai calon generasi penerus bangsa.
Berbagai upaya telah dilakukan seperti
1. penyuluhan dan informasi gizi pada setiap rakor posyandu

2.
3.

pada kegiatan setelah posyandu (pasc yandu)


pada kegiatan pelayanan kesehatan di Poskesdes, ketika pasien yang berobat adalah ibu-ibu yang
mempunyai bayi dan balita
4. Serta adanya pemberian makanan tambahan (PMT) serta pemberian makanan kehadiran dari PNPM
Generasi Sehat dan Cerdas.
Namun dari berbagai upaya dan usaha tersebut diatas ternyata belum mampu menjegah terjadinya
penurunan berat badan atau secara radikal dapat dikatakan bayi dan balita kurang Gizi.
b. Cakupan imunisasi untuk bulan juni terdapat 5 bayi yang harus dilakukan pemberian imunisasi, pada
kegiatan Posyandu Rabu 11 Juni 2014.
2.

Bidan Siska (UPTD Puskesmas Pelayanan Gizi)


Adalah sebuah pekerjaan rumah dan tantangan manakala hasil laporan kegiatan rutin posyandu, salah
satunya hasil penimbangan bayi dan balita, ketika pada periode tertentu terjadi penurunan berat timbangan
bayi dan balita yang hadir di posyandu dan ditimbang. Tanggung jawab dan sekaligus beban moral
manakala secara administrasi pelaporan bahwa bayi dan balita yang berat badannya tidak sesuai pada
grapik di KMS , dimana kondisi bayi dan balita tersebut termasuk kurang Gizi, timbul sebuah pertanyaan
sebenarnya apa dan mengapa terjadi kekurangan Gizi pada Bayi dan Balita di sebuah Desa.
Bila dievaluasi dan sekaligus melihat data yang ada pada tiap-tiap desa perihal tingkat ekonomi
masyarakat yang ada di wilayah regional Kecamatan Pancalang sepertinya tidak mungkin terjadi
kekurangan Gizi dalam jumlah besar yang diakibatkan oleh faktor kemiskinan atau tidak mampu dalam hal
pemenuhan kebutuhan makan.
Namun disisi lain bidan Siska memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya bagi semua kader
kesehatan yang ada di Desa Rajawetan karena berani mengatakan yang sebenarnya, mengingat ada
sebagian desa demi nama baik dan seolah berhasil dalam hal pembinaan bayi dan balita melakukan
rekayasa laporan ABS .
Dan seandainya pun pihak Dinas Kesehatan ingin melakukan peninjauan ke Desa, berkaitan dengan
pelaksanan kegiatan Posyandu baik secara teknis dan pengisian administrasi beliau merasa yakin bahwa
para kader kesehatan di desa Rajawetan mampu bersaing dengan kader-kader Desa-desa lain, bahkan
setingkat lebih diatasnya.
Tumbuh kembang bayi dan balitaa dapat berjalan dengan optimal, ketika seorang anak harus
mendapatkan pemenuhan gizi balita dari 3 kebutuhan pokoknya.
1. kebutuhan fisik-biologis, berupa kebutuhan akan nutrisi (ASI, Makanan Pengganti ASI/MP-ASI), imunisasi,
serta kebersihan fisik dan lingkungan.
2. kebutuhan emosi berupa kasih kasih sayang, rasa aman dan nyaman, dihargai, diperhatikan, serta
didengar keinginan dan pendapatnya. Kebutuhan ini memiliki peran yang sangat besar pada kemandirian
dan kecerdasan
3. kebutuhan stimulasi yang mencakup aktivitas bermain untuk merangsang semua indra, mengasah
motorik halus dan kasar, melatih ketrampilan berkomunikasi, kemandirian, berpikir dan berkreasi.
apabila kebutuhan gizi balita berupa fisik-biologis tak tercukupi, tentu anak jadi sering sakit dan
perkembangan otaknya pun tak optimal. Lalu kalau kebutuhannya akan kasih sayang tak tercukupi,
kecerdasan emosinya juga relatif rendah. Sedangkan jika stimulasi bermainnya kurang bervariasi,
perkembangan kecerdasannya juga kurang seimbang. Jadi, asupan gizi balita yang diberikan haruslah
seimbang.

Untuk itu asupan gizi balita haruslah diperhatikan, terutama dalam 5 tahun pertama dalam kehidupannya
karena asupan gizi balita pada masa itu adalah yang penting dan akan mempengaruhi dan menentukan
perkembangan anak selanjutnya. Pada 3 tahun pertama kehidupan, gizi balita berperan dalam
pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung dan terjadi pertumbuhan serabut-serabut
saraf dan cabang-cabangnya sehingga terbentuk jaringan saraf dan otak yang kompleks. Gizi balita yang
cukup akan mempengaruhi segala kinerja otak mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf,
hingga bersosialisasi atas pengaruh jumlah dan pengaturan hubungan-hubungan antarsel saraf.
Sedangkan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan
intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya.
Menurut Marzuki Iskandar, STP., MTP., seorang ahli gizi balita, kunci asupan zat gizi balita yang baik
adalah makanan yang sehat dan bervariasi. Agar gizi balita melalui makanan anak setiap harinya dapat
memenuhi kebutuhan perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan fisik yang optimal, maka komposisi
makanan haruslah terdiri atas 55-67% karbohidrat, 20-30% lemak, dan 13-15% protein agar gizi balita
terpenuhi. Konkretnya gizi balita berupa 3-4 porsi nasi atau penggantinya seperti bihun, mi atau roti yang
merupakan sumber zat tenaga. Sumber zat pembangun diperoleh dari 4-5 porsi lauk-pauk ditambah
sumber zat pengatur berupa vitamin dan mineral yang terdiri dari 2-3 porsi sayur dan buah, jelas Marzuki.
3.

Dr. Siska (UPTD Puskesmas pancalang)


AID dan HIV
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah
sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat
infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).
Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah
kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik
ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan
virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam
(membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani,
cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim
(vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama
kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut
1.

Cara Penularan
Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan
preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual
reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks
anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV
dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif. Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko
penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina
yang memudahkan transmisi HIV.
Penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan
jaringan epitel normal akibat adanya borok alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi
HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara,
Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akibat
adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat

secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia,
dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga.
Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual
yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan
antarorang. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani
atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81%
peningkatan laju transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon, ekologi serta
fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual. Orang yang terinfeksi dengan
HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan.
Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi
darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang
terkontaminasi oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas
infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga
dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C di Amerika Utara, Republik Rakyat Tiongkok, dan Eropa
Timur. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV
diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi risiko
itu. Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun
lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh.
Kewaspadaan universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia karena sedikitnya sumber
daya dan pelatihan yang tidak mencukupi. WHO memperkirakan 2,5% dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara
ditransmisikan melalui suntikan pada fasilitas kesehatan yang tidak aman. Oleh sebab itu, Majelis Umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa, didukung oleh opini medis umum dalam masalah ini, mendorong negara-negara di
dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui fasilitas kesehatan.
Resiko penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil di negara maju. Di negara maju, pemilihan donor
bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun demikian, menurut WHO, mayoritas populasi dunia tidak
memiliki akses terhadap darah yang aman dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah
yang terinfeksi".

Penularan masa perinatal


Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu mingguminggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak
selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses
terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya
sebesar 1%.Sejumlah faktor dapat memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat
persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risikonya
III. DIALOG / LAIN-LAIN
1.
a.

Pendapat satu : Masalah Ekonomi


Pendapat ini tidak mendapat dukungan dari peserta rapat yang hadir
Alasan :
1. Sifat kekeluargaan dan kegotong royongan masyarakat Desa Rajawetan sepertinya tidak mungkin terjadi
kekurangan makanan sampai ketingkat kelaparan
2. Dari data bayi dan balita yang ternyata mempunyai masalah dalam hal kanaikan berat badannya malah
justru kegiatan jajannya cukup besar, beberapa contoh yang terjadi dimana besarnya jumlah uang jajan
sang anak sebenarnya cukup bahkan lebih untuk membeli makanan yang bergizi kisaran 10 ribu sampai
kisaran 20 ribu rupiah.
3. Pola hidup konsuntif dengan melupakan pemenuhan kebutuhan baik tersier maupun sekunder
(penggunaan Hand Phone dan Pulsa)

4.

Makanan bergizi tak selalu berharga mahal

2.
a.

Dialog inter aktip yang berkembang


Kenapa bayi kekurangan gizi, dari sekian pendapat peserta yang hadir ternyata pola asuh yang salah
ketika memberikan atau menyuapi makan sang anak. Kurang sabar terkadang lebih baik memberi jajanan
asal sang anak anteng tak rewel, yang pada akhirnya asupan makanan kepada sang anak menjadi
berkurang.
b. Kurangnya kreatifitas sang Ibu manaka menghadapi kondisi anak yang memang susah untuk makan
c. Pemanfaatan jenis makanan yang ternyata memang bergizi namun kurang di kelola secara baik dan
benar.
3.
a.
b.

c.
d.
e.

Kesimpulan dan Solusi yang harus dilakukan


Pemanfatan jenis makanan bergizi yang memang sebenarnya murah dan mampu di beli oleh rumah
tangga
Pola Asuh Ibu ketika memberikan makan sang anak, ikuti kehendak sang anak bukan kehendak sang Ibu.
seperti contoh ketika memberikan makan atau menyuapi makan sang putra, sengaja membawa jalan
jalan sang anak kemana sang anak pergi terus diikuti sambil bermain biar lama yang penting makannya
habis
atau membuat variasi tampilan jenis makanan sehingga sang anak merasa tertarik untuk mencobanya,
seperti jenis jajanan dengan paking yang menarik
Kegiatan penyuluhan yang terus menerus baik oleh instansi terkait, seperti UPTD Puekesmas, Bidan
Desa, Kader Kesehatan dan Pemerintah Desa
Demi terus bersambungnya informasi serta penyuluhan bagi ibu-ibu yang mempunyai bayi dan balita
kegiatan penyuluhan jangan hanya pada kegiatan Rakor Posyandu Saja, banyak media dan kesempatan
lain yang dapat dimanfaatkan.
Bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama, seluruh komponen masyarakat yang ada di Desa
ANAK ADALAH AMANAH
JADI BERIKAN YANG TERBAIK UNTUKNYA
DAN LINDUNGI MEREKA ATAS HAKNYA SEBAGAI SEORANG ANAK
Notulen : TRIYADI SUSIANTO

Anda mungkin juga menyukai