Anda di halaman 1dari 16

I.

A.

PENDAHULUAN

Data Epidemiologi
Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan merupakan
fenomena gunung es, artinya tidak semua kasus atau kejadian dapat
terlaporkan. WHO menyebutkan bahwa setiap satu kasus yang berkaitan
dengan KLB keracunan pangan di suatu negara berkembang, maka paling
tidak terdapat 99 kasus lain yang tidak dilaporkan (BPOM RI, 2012).
Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan di Indonesia tahun
2011 sebanyak 128 kejadian dari 25 propinsi. Jumlah orang yang terpapar
dalam KLB keracunan pangan sebesar 18.144 orang dengan AR 38,03%
(6.901 kasus) dan CFR 0,16% (11 kasus) (BPOM RI, 2011).
Tahun 2012 mengalami penurunan 44% dengan 84 kejadian yang
berasal dari 23 propinsi. Jumlah orang terpapar dalam KLB keracunan
pangan sebesar 8.590 orang dengan AR 37,66% (3.235 kasus) dan CFR
0,58% (19 kasus) (BPOM RI, 2012).
Sedangkan tahun 2013 KLB keracunan pangan di Indonesia
mengalami penurunan 36% dengan 48 kejadian yang berasal dari 34
propinsi. Jumlah orang terpapar sebesar 6.926 orang dengan AR 24,40%
(1.690 kasus) dan CFR 0,71% (12 kasus) (BPOM RI, 2013).

B.

Komplikasi Masalah bila Tidak Ditangani


Dehidrasi adalah komplikasi yang paling umum. Hal ini dapat terjadi
dari salah satu penyebab keracunan makanan. Komplikasi yang kurang
umum tetapi lebih serius tergantung pada bakteri yang menyebabkan
keracunan makanan. Ini mungkin termasuk radang sendi, masalah
perdarahan, masalah ginjal, kerusakan pada sistem saraf, dan bengkak atau
iritasi pada jaringan di sekitar jantung jantung, bahkan kematian. Beberapa
jenis keracunan makanan memiliki komplikasi yang serius bagi orang-orang
tertentu, termasuk (Sodha et al., 2014):

1.

Keracunan Listeria monocytogenes


Komplikasi dari makanan yang mengandung Listeria mungkin
1

paling berat bagi bayi yang belum lahir. Pada awal kehamilan, infeksi
dapat menyebabkan keguguran. Kemudian pada kehamilan, infeksi
dapat menyebabkan lahir mati, kelahiran prematur atau infeksi fatal
pada pada bayi setelah lahir. Bayi yang bertahan hidup infeksi Listeria
dapat
2.

mengalami

kerusakan

jangka

panjang

neurologis

dan

pengembangan tertunda (Sodha et al., 2014).


Keracunan Escherichia coli
Beberapa E. coli menyebabkan komplikasi yang serius yang
disebut sindrom uremik hemolitik. Sindrom ini merusak lapisan
pembuluh darah kecil pada ginjal, kadang-kadang menyebabkan gagal
ginjal. Orang dewasa, anak-anak di bawah usia lima tahun dan orang
dengan sistem kekebalan yang lemah memiliki resiko tinggi
mengalami komplikasi ini (Sodha et al., 2014).

C.

Sekilas Teori Baru


Teori baru tentang penatalaksanaan keracunan makanan lebih
menekankan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Untuk keracunan
makanan yang umum, biasanya korban akan pulih setelah beberapa hari.
Namun demikian ada beberapa kasus keracunan makanan yang cukup
berbahaya (BPOM RI, 2014).
Korban keracunan dapat mengalami muntah dan diare yang
berlangsung kurang dari 24 jam biasanya dapat dirawat di rumah saja.
Pemberian air minum pada korban harus diberikan segera untuk mengganti
cairan tubuh yang hilang karena muntah dan diare. Apabila korban masih
mengalami mual dan muntah, sebaiknya korban tidak diberikan makanan
padat. Alkohol, minuman berkafein, dan minuman yang mengandung gula
juga sebaiknya dihindarkan (BPOM RI, 2014).

II.
A.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanda Dan Gejala Klinis Yang Muncul Dari Anamnesis Dan


Pemeriksaan Fisik Serta Patofisiologinya
1.
Gejala yang Muncul dari Anamnesis

Gejala yang dialami berbeda dari satu orang dengan yang lain
bergantung kepada (Depkes RI, 2010):
a.
Jenis racun atau jenis bakteria.
b.
Jumlah racun atau bakteri yang termakan.
c.
Umur seseorang.
d.
Ketahanan tubuh seseorang.
Adapun gejala umum dan gejala khusus dari keracunan
makanan adalah (Depkes RI, 2010):
a.
Gejala Umum
1)
Kejang otot.
2)
Demam.
3)
Sering buang air besar disertai darah, nanah, atau mukus.
4)
Otot-otot lemah.
5)
Lesu dan muntah.
6)
Mulas dan sakit perut.
7)
Demam dan dehidrasi.
8)
Hilang selera makan.

b.

Gejala Khusus
Gejala khusus keracunan makanan bergantung pada jenis
bakteria atau organismenya seperti (Supardi, 2012):
1)
Escherichia coli
Cirit-birit yang biasa dialami oleh pengembara.
Penyakit ini diakibatkan oleh penyediaan makanan dan air
2)

yang tidak bersih (Supardi, 2012).


Bacillus cereus
Gejala-gejala umum dirasakan antara 1 18 jam
setelah makan. Keracunan jenis ini tidak melebihi 24 jam

3)

(Supardi, 2012).
Vibro cholera
Gejala bermula 1 3 hari setelah makan dan
biasanya bermula dengan cirit-birit ringan dan seterusnya
akibat tubuh kehilangan air akibat cirit-birit yang terjadi
terus menerus (Supardi, 2012).
3

4)

Yersinia enterocolitica
Gejala umum terjadi 2 5 hari setelah makan. Selain
gejala umum,

5)

demam dan kelesuan mungkin terjadi

(Supardi, 2012).
Listeria monocytogenes
Dalam keadaan yang parah, penyakit ini bisa
menyebabkan kerusakan otak dan saraf pusat (Supardi,

6)

2012).
Shigella sp.
Shigeliosis atau disentri disebabkan oleh bakteri ini,
gejala bermula 1 7 jam setelah makan. Selain gejala
umum, nanah dan lendir juga terdapat dalam feses.
Adapun gejala khusus pada bakteri Salmonella sp. dan

Staphylococcus aureus sama seperti gejala umum yang terjadi


pada keracunan makanan (Supardi, 2012).
2.

Tanda yang Muncul dari Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik harus difokuskan untuk menilai keparahan
dehidrasi, yakni (Kemenkes RI, 2014):
a.
Dehidrasi Ringan
Keadaan umum sadar baik, rasa haus (+), sirkulasi darah
dan nadi normal, pernapasan biasa, mata agak cekung, turgor
b.

biasa, kencing biasa.


Dehidrasi Sedang
Keadaan umum gelisah, rasa haus (++), sirkulasi darah
dan nadi cepat (120 140 kali/menit), pernapasan agak cepat,

c.

mata cekung, turgor berkurang, kencing sedikit).


Dehidrasi Berat
Keadaan umum apatis/koma, rasa haus (+), sirkulasi darah
dan nadi cepat sekali (>140 kali/menit), pernapasan kussmaul
(cepat dan dalam), mata cekung sekali, turgor berkurang,

3.

kencing tidak ada (Loehoeri dan Wirjoadmodjo, 2006).


Patofisiologi
Diare pada keracunan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu
akibat respon inflamasi atau non-inflamasi. Diare dapat berasal dari
enterotoksin bakteri yang bereaksi pada mekanisme sekretori pada
mukosa intestinal, sitotoksin yang menyebabkan destruksi mukosa,

dan neurotoksin yang mempengaruhi sistem saraf pusat atau perifer


(Fauci, 2012).
Diare tipe non-inflamasi diakibatkan oleh adanya enterotoksin
pada mukosa intestinal usus halus yang tidak bersifat invasif. Hal
tersebut dapat mengakibatkan tingginya kadar air pada feses, tanpa
disertai darah, pus, dan nyeri perut hebat. Contoh mikroorganisme
yang dapat menyebabkan diare tipe noninflamasi yaitu Vibrio
cholerae,

enterotoxic

Staphylococcus

sp.,

Escheria
dan

coli,

Clostridium

perferinges,

adenovirus.

Sedangkan,

diare

yang

diakibatkan oleh proses inflamasi disebabkan oleh sitotoksin pada


mukosa yang akan menginvasi dan merusak mukosa umumnya pada
colon dan usus bagian distal. Diare biasanya disertai darah, leukosit
dan bersifat mukoid (Koopmans et al., 2012).
Organisme yang melakukan penetrasi pada mukosa juga dapat
berproliferasi dan meluas hingga ke jaringan limfoid sekitar hingga
penyebaran sistemik. Penyebaran secara sistemik tersebut dapat
mengakibatkan demam enterik, yang ditandai dengan demam,
bradikardia, rasa sakit pada perut, splenomegali dan leukopenia.
Beberapa mikroorganisme yang dapat berproliferasi dan meluas
diantaranya,

Campylobacter

enteroinvasive
parahaemolyticus,

coli,

jejuni,
Yersinia

entero-hemorrhagic
enterocolitica,

dan
Vibrio

Entamoeba histolytica, Salmonella sp., serta

Shigella sp. (Fauci, 2012).


Pada kasus keracunan makanan, gejala klinis lain yang muncul
selain diare adalah muntah. Muntah dapat diakibatkan oleh toksin
yang bekerja pada sistem saraf. Pusat muntah (emesis) terletak pada
medulla oblongata. Pusat muntah dapat teraktivasi akibat adanya iritan
langsung maupun tidak langsung yang bisa masuk melalui empat area
utama, yaitu traktus gastrointestinal, korteks serebral dan talamus,
regio vestibular, dan chemoreceptor trigger zone (CRTZ). Ketika
pusat muntah teraktivasi, neuron eferen akan menstimulasi muntah

melalui nervus kranial n. V, n, VII, n. IX, n. X, dan n. XII (Becker,


2010).

B.

Pemeriksaan Penunjang yang Diperlukan Beserta Indikasi dan Hasil


Signifikan
1.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium mencakup pemeriksaan darah, air
seni, dan tinja. Kultur tinja diindikasikan terutama bila pasien
mengalami diare berdarah, nyeri perut yang hebat, atau dalam keadaan
immunocompromised. Spesimen yng akan diperiksa di laboratorium
sangat bergantung pada penyebab dan jenis sampel. Spesimen harus
segera diperoleh sebelum pasien diberi obat, karena dapat
mengacaukan hasil uji mikrobiologis. Sampel yang telah terkumpul
disimpan dalam lemari es bersuhu 4C, terhitung mulai saat terkumpul
hingga diterima di laboratorium. Namun, bila EHEC dicurigai sebagai
penyabab, sampel harus dibekukan dalam freezer agar toksin tidak
rusak (Arisman, 2009).
Pewarnaan Gram dan Loeffler-methylene blue untuk memeriksa
kemungkinan

keberadaan

leukosit

dalam

tinja

yang

dapat

membedakan penyakit tersebut apakah bersfat invasif atau tidak. Jika


leukosit (atau eritrosit) ditemukan, atau bila pasien juga mengalami
demam lebih dari 3 hari, sampel perlu dibiakkan, termasuk kultur
darah untuk menilai apakah bacteremia telah terjadi (Arisman, 2009).
Kultur tinja perlu dilakukan ketika pasien mengalami penurunan
fungsi kekebalan (immunocompromised), diare berdarah, nyeri perut
yang hebat, atau bila gejala klinis berangsur parah. Bila leukosit
ditemukan dalam pemeriksaan tinja, yang mencerminkan peradangan
kolon atau diduga telah terjadi invasi, kultur tinja menjadi suatu
keharusan. Darah pasien yang telah mengalami infeksi sistemik atau
6

bakteremia harus dikultur, diperiksa kadar elektrolit, nilai BUN


(Blood Urea Nitrogen), dan kreatinin sebagai acuan dalam penilaian
derajat hidrasi dan respons peradangan (Arisman, 2009).

2.

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi (foto polos abdomen) harus dilakukan
bila pasien mengeluh perut kembung, sakit perut hebat, atau dicurigai
sudah terjadi obstruksi atau perforasi. Jika diare telah bercampur
darah, sigmoidoskopi dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
diagnosis penyakit lain yang bersamaan, seperti inflammatory bowel
disease, shigellosis, disentri amuba, atau diare yang terkait dengan

3.

penggunaan antibiotik (Arisman, 2009).


Pemeriksaan Biopsi
Jika diare menetap sampai lebih dari 3 minggu, pertimbangkan
untuk melakukan sigmoidoskopi, biopsi rektum, dan rujuk ke klinik
gastroenterologi (Davey, 2006).

C.

Penegakan Diagnosis
1.
Anamnesis
Pada anamnesis dengan pasien yang keracunan makanan
didapatkan dan gejala sebagai berikut (Gamarra et al., 2015):
a.
Nyeri abdominal, disebabkan proses inflamasi pada traktus
digestivus. Kram otot abdominal juga disebabkan kehilangan
b.
c.
d.
e.

elektrolit.
Muntah.
Diare.
Sakit kepala.
Demam: demam ini menandakan adanya penyakit invasif

f.

maupun infeksi traktus digestivus.


Perubahan feses, mencakup konsistensi, warna, dan bentuk dari
feses (misal: feses lembek atau cair seperti cucian beras

g.
h.

merupakan patognomonik dari kolera).


Artritis,
disebabkan
infeksi
Salmonella,

Shigella,

Campylobacter, dan Yersinia.


Perut terasa penuh, bisa disebabkan oleh giardiasis.
Dapat digali lagi lebih dalam mengenai riwayat makanan yang

telah pasien konsumsi, karena makanan yang dikonsumsi bisa


7

menunjukkan agen infeksius apa yang menjadi penyebab definitif.


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain (Gamarra et al.,
2015):
a.
Konsumsi daging atau unggas yang kurang matang : infeksi

2.

b.

Salmonella, Compylobacter, Shiga toxin E coli, C perfringens.


Konsumsi makanan laut yang kurang matang : Infeksi virus

c.
d.

Vibrio, Hepatitis A virus.


Konsumsi makanan kalengan : C botullinum.
Konsumsi keju yang tidak dipasteurisasi : Infeksi Listeria,

e.
f.

Salmonella, Campylobacter, Shiga toxin E coli, dan Yersinia.


Konsumsi daging deli : infeksi listeriosis.
Konsumsi susu atau jus tanpa pasteurisasi: infeksi

Campylobacter, Salmonella, Shiga toxin E. Coli, dan Yersinia.


g.
Konsumsi telur kurang matang : infeksi Salmonella.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien keracunan makanan sebaiknya
fokus pada derajat dehidrasi, yang bisa ditemukan saat pemeriksaan
fisik biasanya adalah (Gamarra et al., 2015):
a.
Dehidrasi ringan : mulut kering, tidak ada keringat, urin

3.

b.

berkurang.
Kekurangan volume cairan tubuh berat : hipotensi, takikardi.

c.

Ortostatis.
Infeksi Salmonella typhii : hepatosplenomegali, makula

d.
e.

berbentuk seperti mawar di abdominal atas.


Infeksi Yersinia : erithema nodosum, faringitis eksudativ.
Infeksi Vibrio vulnificus : selulitis, otitis media.

Pemeriksaan Penunjang
Menurut Gamarra et al. (2015), pemeriksaan penunjang yang
bisa dilakukan antara lain:
a.

Pewarnaan Gram dan pewarnaan Loeffler methylene blue pada


feses untuk membedakan penyakit invasif dan penyakit non-

b.

invasif.
Pemeriksaan mikroskopik pada feses untuk mencari parasit dan

c.

telur parasit.
Kultur bakteri untuk mengetahui adanya enterobacter seperti
Salmonella, Salmonella, dan Campylobacter. Kultur bisa berasal
8

dari feses maupun darah dari pasien apabila pasien demam lebih
d.
D.

dari empat hari.


C difficile assay.

Terapi
1.
Terapi Medikamentosa
Karena sebagian besar kasus gastroenteritis akut adalah selflimiting, pengobatan khusus tidak diperlukan. Dari beberapa studi
didapatkan bahwa hanya 10% kasus membutuhkan terapi antibiotik
(Purnawan et al., 2012).
Tujuan utamanya adalah rehidrasi yang cukup dan suplemen
elektrolit. Hal ini dapat dicapai dengan pemberian cairan rehidrasi oral
(oralit) atau larutan intravena (misalnya, larutan natrium klorida
isotonik, larutan Ringer Laktat). Rehidrasi oral dicapai dengan
pemberian cairan yang mengandung natrium dan glukosa (Kemenkes,
2014)
Obat absorben (misalnya, kaopektate, aluminium hidroksida)
membantu memadatkan feses diberikan bila diare tidak segera
berhenti. Diphenoxylate dengan atropin (Lomotil) tersedia dalam
tablet (2,5 mg diphenoxylate) dan cair (2,5 mg diphenoxylate / 5 mL).
Dosis awal untuk orang dewasa adalah 2 tablet 4 kali sehari (20 mg /
2.

d). Digunakan hanya bila diare masif (Halim, 2011).


Terapi Non-Medikamentosa
a.
Perbaiki nutrisi
Setelah situasi diare akut terjadi, pasien biasanya makan
lebih sedikit karena mereka menjadi terfokus pada diare. Baik
anak-anak

dan

orang

dewasa

harus

berusaha

untuk

mempertahankan nutrisi dalam tubuh. Makanan tidak hanya


menyediakan nutrisi, tetapi juga membantu menggantikan
volume cairan yang hilang. Namun, makanan mungkin tidak
cukup menggantikan volume cairan yang hilang akibat diare.
Pasien dengan diare kronis mungkin dapat memakan makanan
yang padat (misalnya beras, pisang, dan gandum) (Ramanath
b.

dan Naveen, 2012).


Pergantian Cairan

Penggantian cairan bukan pengobatan untuk meringankan


diare

namun

sebagai

upaya

untuk

mengembalikan

keseimbangan cairan. Di banyak bagian dunia yang sering dan


parah terkena diare, penggantian cairan dilakukan dengan
menggunakan larutan oral rehidrasi (oralit), campuran diukur
dari air, garam, dan glukosa. Diare berat mungkin memerlukan
penggunaan sediaan parenteral seperti ringer laktat untuk
menggantikan kehilangan cairan (Ramanath dan Naveen, 2012).

Tabel 2.1. Pemberian Oralit per Kelompok Umur (Depkes RI, 2007)

Umur

< 12

Jumlah oralit yang

Jumlah oralit yang

diberi setiap BAB

disediakan di rumah

50 100 ml

400 ml/hari (2 bungkus)

100 200 ml

600-800 ml/hari (3-4

bulan
14
tahun
>5 tahun

bungkus)
200 300 ml

800-1000 ml/hari (4-5


bungkus)

dewasa
E.

300 400 ml

1200-2800 ml/hari

Prognosis
Pada umumnya baik, bila pengobatan belum terlambat (biasanya
dalam waktu 12 48 jam). Namun bisa terjadi beberapa kesalahan
pengobatan yang terjadi, seperti (Kemenkes, 2014):
1.
Resusitasi kurang dikerjakan.
2.
Eliminasi racun kurang baik.
3.
Dosis atropin kurang adekuat, atau terlalu cepat dihentikan.
10

F.

Komplikasi yang Dapat Terjadi


Dehidrasi adalah komplikasi yang paling umum. Hal ini dapat terjadi
dari salah satu penyebab keracunan makanan. Komplikasi yang kurang
umum tertapi lebih serius tergantung pada bakteri yang menyebabkan
keracunan makanan. Ini mungkin termasuk radang sendi, masalah
perdarahan, masalah ginjal, kerusakan pada sistem saraf, dan bengkak atau
iritasi pada jaringan di sekitar jantung jantung, bahkan kematian. Beberapa
jenis keracunan makanan memiliki komplikasi yang serius bagi orang-orang
tertentu, termasuk (Sodha et al., 2014):

1.

Keracunan Listeria monocytogenes


Komplikasi dari makanan yang mengandung Listeria mungkin
paling berat bagi bayi yang belum lahir. Pada awal kehamilan, infeksi
dapat menyebabkan keguguran. Kemudian pada kehamilan, infeksi
dapat menyebabkan lahir mati, kelahiran prematur atau infeksi fatal
pada pada bayi setelah lahir. Bayi yang bertahan hidup infeksi Listeria
dapat

2.

mengalami

kerusakan

jangka

panjang

neurologis

dan

pengembangan tertunda (Sodha et al., 2014).


Keracunan Escherichia coli
Beberapa E. coli menyebabkan komplikasi yang serius yang
disebut sindrom uremik hemolitik. Sindrom ini merusak lapisan
pembuluh darah kecil pada ginjal, kadang-kadang menyebabkan gagal
ginjal. Orang dewasa, anak-anak di bawah usia lima tahun dan orang
dengan sistem kekebalan yang lemah memiliki resiko tinggi
mengalami komplikasi ini (Sodha et al., 2014).

11

III.
A.

PEMBAHASAN

Penjelasan Teori Baru


Teori baru tentang penatalaksanaan keracunan makanan lebih
menekankan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Untuk keracunan
makanan yang umum, biasanya korban akan pulih setelah beberapa hari.
Namun demikian ada beberapa kasus keracunan makanan yang cukup
berbahaya (BPOM RI, 2014).
Korban keracunan dapat mengalami muntah dan diare yang
berlangsung kurang dari 24 jam biasanya dapat dirawat di rumah saja.
Pemberian air minum pada korban harus diberikan segera untuk mengganti
cairan tubuh yang hilang karena muntah dan diare. Apabila korban masih
mengalami mual dan muntah, sebaiknya korban tidak diberikan makanan
padat. Alkohol, minuman berkafein, dan minuman yang mengandung gula
juga sebaiknya dihindarkan (BPOM RI, 2014).
Untuk penanganan lebih lanjut, sebaiknya segera bawa korban ke
puskesmas atau rumah sakit terdekat. Korban keracunan yang mengalami
diare dan tidak dapat minum (misalnya karena mual dan muntah) akan
memerlukan cairan yang diberikan melalui intravena (BPOM RI, 2014).
Pada penanganan keracunan makanan jarang diperlukan antibiotika.
Pada beberapa kasus, pemberian antibiotika dapat memperburuk keadaan.
Pemberian antibiotik selayaknya didasarkan pada tanda dan gejala klinis,
jasad renik yang terdapat dalam spesimen, dan hasil uji sensitivitas. Pada
kasus infeksi oleh E. coli, pemberian antibiotik justru sering memicu
timbulnya hemolytic uremic syndrome (HUS) (Arisman, 2009).
Selain penangangan masalah dehidrasi, korban juga dianjurkan untuk
beristirahat yang cukup. Korban juga disarankan untuk menghindari
memakan sesuatu hingga sembuh (kecuali cairan). Ketika sudah sembuh,

12

makan makanan yang mudah dicerna, seperti roti, kerupuk, pisang, dan nasi
lembut (Syah, 2014).
Korban perlu dibawa ke dokter jika mengalami dehidrasi berat,
demam 388 C atau lebih, gejala bertambah parah dan tidak berkurangdalam
satu hari, keracunan terjadi secara masal, dan penderita adalah bayi (Syah,
2014).
B.

Kekurangan dan Kelebihan Teori Baru


Teori baru tentang penanganan keracunan makanan jauh lebih
menekankan bagaimana mengatasi dehidrasi akibat diare dan muntah.
Berdasarkan teori terbaru, penanganan keracunan makanan dibagi menjadi
dua tahap yaitu upaya penyelamatan jiwa dan perbaikan gejala (Arisman,
2009).
Dehidrasi diatasi sambil menghentikan muntah dan diare. Apabila
pasien diyakini telah termakan racun tertentu (dari jamur atau ikan),
pembilasan lambung dan pemberian arang aktif merupakan langkah
penanganan pertama (Arisman, 2009).
Teori yang baru telah mengetahui bagaimana penatalaksanaan
keracunan makanan berdasarkan jenis penyebabnya. Selain itu, teori terbaru
memberikan

solusi

obat-obat

apa

saja

yang

diperlukan

untuk

menghilangkan toksin di dalam lambung, tidak hanya meredakan gejalanya.

C.

Harapan untuk Penatalaksanaan yang Lebih Baik


Penatalaksanaan keracunan makanan kedepannya diharapakan dapat
memberikan terapi yang lebih efektif pada keadaan kegawatdaruratan
sehingga angka mortalitas akibat keracunan makanan dapat dikurangi.
Tentunya lebih baik mencegah daripada mengobati. Oleh karena itu
perlu juga ditingkatkan kewaspadaan masyarakat bagaimana mencegah
terjadinya keracunan makanan dan bagaimana pertolongan pertamanya.

13

IV.

1.

KESIMPULAN

Komplikasi yang terjadi pada keracunan makanan adalah dehidrasi, adapun


komplikasi yang kurang umum tetapi lebih serius tergantung pada bakteri
yang menyebabkan keracunan makanan (radang sendi, ginjal, kelainan

2.

hematologi dll.)
Gejala awal pada pasien keracunan makanan yakni kejang otot, demam,
feses disertai darah dan nanah, kelemahan otot, lesu, demam, serta hilang

3.

selera makan.
Pada pemeriksaan fisik keracunan makanan difokuskan untuk menilai
keparahan dehidrasi sebagai akibat dari keracunan makanan (dehidrasi

4.

ringan, dehidrasi sedang, dan dehidrasi berat).


Pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan adalah tes laboratorium,

5.

biopsi, dan pemeriksaan radiologis (foto polos abdomen).


Sebagian kasus keracunan makanan adalah self-limiting (dapat sembuh
sendiri) dan tidak membutuhkan terapi antibiotik. Tujuan utama dari terapi
adalah rehidrasi yang cukup dan suplemen elektrolit. Obat absorben
digunakan untuk membantu memadatkan feses jika diare tidak segera

6.

berhenti.
Prognosis keracunan makanan umumnya baik jika pengobatan tidak
terlambat dilakukan.

14

DAFTAR PUSTAKA
Arisman. 2009. Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta: EGC
Becker, D.E. 2010. Nausea, vomitting, and hiccups: A review of mechanism and
treatment. Anesth Prog. 57 (1): 150 7
BPOM RI. 2011. Laporan Tahunan 2011 Badan Pengawas Obat dan Makanan RI
BPOM RI. 2012. Laporan Tahunan 2012 Badan Pengawas Obat dan Makanan RI
BPOM RI. 2013. Laporan Tahunan 2013 Badan Pengawas Obat dan Makanan RI
Davey, P. 2006. At a Glance: Medicine. Jakarta: EGC
Depkes RI. 2007. Pedoman Pengobatan Dasar di Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas)
Depkes RI. 2010. Kumpulan Modul Kursus Penyehatan Makanan bagi
Pengusaha Makanan dan Minuman
Fauci, A.S. 2012. Harrisons Principle of Internal Medicine 18th Edition. New
York: McGraw-Hill
Kemenkes RI. 2014. Permenkes Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer
Koopmans, M., von Bonsdorff, C., Vinje, J., de Medici, D., & Monroe, S. 2012.
Foodborne viruses. Critical Reviews in Microbiology. 28 (4): 371 409
Gamarra, R., David, M., Piper, M., Nachimuthu, S., & Balasundaram, P. 2015.
Food poisoining. Medscape
Halim, M.A. 2011. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam: Diagnosa dan Terapi.
Jakarta: EGC
Loehoeri, S., & Wirjoadmodjo, M. 2006. Rehidrasi. Dalam Sudoyo, A.W.,
Setiyohadi, B., Alwi, I., & Simadibrata, M. Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi 4 Jilid 1. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI
Purnawan, J., Atiek, S.S., & Husna, A. 2014. Keracunan Makanan dalam Tanto,
C., Liwang F., Hanifati, S., dan Pradipta, E.A. (eds). Kapita Selekta
Kedokteran Jilid II Edisi IV. Jakarta: Media Aesculapius
Ramanath, K.V., & Naveen, K.H.D. 2012. Study the assesment of poisoining
cases in a rural tertiary care teaching hospital by a clinical pharmacist.
Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research. 5 (2): 138 141

15

Sentra Informasi Keracunan Nasional. 2014. Keracunan Pangan Akibat Bakteri


Patogen. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan RI
Sodha, S.V., Griffin, P.M., & Hughes, J.M. 2014. Foodborne Disease. Dalam
Mandell, G.L., Bennett, J.E., & Dolin, R. Editor. Principles and Practice of
Infectious Disease. Philadelphia: Elsevier
Supardi, I. 2012. Mikrobiologi dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan.
Bandung: Yayasan Adikarya IKAPI
Syah, E. 2014. Gejala dan penanganan keracunan makanan. Jurnal Medkes. 28
(2): 1 8

16