Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ternak unggas termasuk salah satu sumber protein hewani yang sangat
potensial untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia. Ternak itik
adalah salah satu jenis unggas yang dapat mengimbangi laju pertumbuhan
kebutuhan protein hewani, karena itik memiliki keunggulan di antara unggas lokal
lainnya yaitu produksi telurnya tinggi, tidak mengerami telurnya sehingga efektif
dalam memproduksi telur, harga telur yang relatif tinggi dibandingkan dengan
telur unggas yang lain, pemasarannya mudah dan lain sebagainya.
Peternakan itik ini tidak memerlukan persyaratan khusus karenanya dapat
dilakukan oleh siapa saja. Namun, walaupun peternakan itik dapat dikembangkan
dimana saja, pengembanganya didaerah pertanian lebih mudah. Daerah pertanian
memiliki keungulan komparatif dari daerah lain karena memberi kemudahan
dalam memperoleh dedak dari pengilingan padi dan tanaman gulma seperti
enceng gondok yang terdapat dilokasi tersebut. Dedak merupakan bahan pakan
utama pakan itik. Disamping itu daerah pertanian menjamin tersedianya air bersih
dalam jumlah yang cukup memadai untuk menunjang pemeliharaan itik. Aceh
Besar merupakan salah satu lokasi yang ideal untuk mengembangkan itik petelur
ini.
Perkembangan ternak itik mempunyai prospek yang cerah dimasa yang
akan datang. Hal ini terlihat dari konsumsi telur itik di Indonesia cenderung
meningkat dan harganya pun mempunyai kecenderungan meningkat, harga telur
berkisar antara Rp 2.000,00 sampai Rp 2.500,00 per butir.
Berdasarkan pengamatan dilapangan, permintaan masyarakat terhadap
komoditi ternak itik baik telur atau dagingnya terus mengalami peningkatan.
Dapat kita amati dilapangan, seperti rumah makan atau kedai yang menjual telur
itik, teh telur, warung bebek panggang, juga sebagai bahan adonan pembuat roti,
obat/jamu, dan lainnya. Permintaan ini hanya sebagian kecil yang terpenuhi akibat
kurangnya pengembangan usaha komoditi tersebut di Aceh Besar.

Melihat prospek yang bagus dari usaha peternakan itik petelur, maka kami
yang menamakan diri Kelompok Tani Faperta melihat peluang yang besar
untuk mengembangkan usaha beternak itik petelur di Aceh Besar dengan
memanfaatkan SDA dan SDM yang ada, namun kami memiliki hambatan dalam
hal modal untuk mendirikan usaha ini. Untuk itu kami berharap dapat dipilih
menjadi Kelompok Peternak PENERIMA dan bisa diterapkannya program SMD
(Sarjana Membangun Desa) dari kelompok kami.
1.2 Tujuan
Tujuan usaha pemeliharaan itik petelur :
1. Untuk mengoptimalkan serta mengembangkan usaha peternakan itik
petelur sebagai mata pencarian anggota Kelompok Tani Faperta dalam
rangka peningkatan taraf hidup dan perekonomian saat ini dan
selanjutnya.
2. Untuk membuka lapangan kerja dan menguranggi kemiskinan.
3. Ikut berperan aktif dalam mendukung program ketahanan pangan
khususnya pemenuhan protein hewani yang dicanangkan pemerintah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Budidaya Itik Petelur


Beternak merupakan usaha yang dikembangkan untuk mendapat

keuntungan. Selain diambil telurnya itik juga merupakan unggas penghasil


daging. Sekarang kebutuhan akan telur unggas dan daging itik sangat meningkat
dikarenakan minat masyarakat untuk mengkonsumsi telur itik dan daging itik
yang mampu mencukupi kebutuhan protein hewani dalam tubuh manusia.
Daging ayam ras dan daging itik hampir sama lezatnya namun meningkatnya
minat konsumsi daging itik disebabkan daging itik yang lebih enak dan gurih.

1. Penyiapan Bibit Itik Petelur


Ada tiga cara yang dapat dipilih dalam bibit, yaitu membeli DOD adalah
usaha ternak itik petelur dapat dimulai dengan membeli anak itik umur sehari
(DOD). Memelihara DOD hingga bertelur membutuhkan waktu yang cukup lama.
Untuk itu, jika ingin memilih cara ini maka pertimbangkan waktu harus benarbenar diperhatikan. Selain itu, resiko kematian DOD lebih besar.
2. Prosedur Pemeliharaan
Prosedur beternak itik semakin berkembang pesat. Mayoritas sistem
beternak itik dengan cara digembalakan sudah digantikan dengan sistem beternak
secara semi intensif atau intensif, karena lebih efesien dan menguntungkan.
Namun, sampai saat ini masih ada peternak dibeberapa daerah yang menjalankan
usaha peternakannya dengan cara digiring ke sawah.

Berkembangnya sistem intensif di latar belakangi semakin menyempitnya lahan


persawahan serta semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap telur dan
daging itik. Karena itu, ,peternak dituntut untuk bisa meningkatkan hasil produksi
ternak, baik dari segi jumlah maupun mutunya.
3. Pemilihan Lokasi Dan Kandang Itik
Lokasi dan lingkungan perkandangan hendaknya terlebih dahulu
ditentukan dalam sebelum membuka usaha peternakan. Lokasi yang dipilih dekat
pasar, pabrik gilingan padi, jauh dari kebisingan seperti dipegunungan, terlindung
pepohonan, dan bambu. Jadi, tempat yang bagus untuk memelihara itik di tempat
yang cukup jauh dari suara gaduh dan kendaraan. Selain itu, kandang
sebaiknyatidak terlalu dekat dengan tanaman sawah dan pemukiman penduduk
Kandang
Kandang sebagian diberi atap, sebagianlagi dibiarkan terbuka dan hanya dibatasi
pagar keliling. Bentuk
kandang ini sebaiknya untuk pemeliharaan itik dara dan dewasa.Ruang yang
tertutup atap dengan ruang yang terbuka perlu diberipagar pemisah dan pintu yang
dapat di buka serta di tutup. Di dalam bagian beratap, kandang biasanya di sekatsekat untuk membagi itik berdasarkan kelompok umur. Satu kelompok
dapatterdiri dari 100-500 ekor.
Bagian kandang yang beratap di pakai untuk tidur dan bertelur. Itulah sebabnya,
pada pembuatan kandang itik, lantai kandang
perlu diberi alas sekam, jerami, atau bahan lain yang empuk, tidak mudah padat,
hangat, dan dapat mencegah telur pecah.
Bagian kandang yang terbuka merupakan tempat untuk makan, minum. Lantai
bagian kandang ini dapat berubah tanah biasa, anyaman bambu, hamparan batubatu kecil, atau lebih baik berupa plesteran semen. Pada prinsipnya, lantai
kandang di bagian kandang yang terbuka harus selalu diupayakan agar tidak
becek, mudah dibersihkan dan cepat kering setelah di cuci. Kandang ren
mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya mudah di bersihkan serta membuat

itik sehat dan berbadan kuat karena itik dapat berjalan-jalan dan terkena sinar
matahari. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu diingat, yaitu apabila hujan turun,
peternak itik harus segera menggiring itik kekandang yang beratap.
Pemilihan Pembibitan Ternak Itik
Penggunaan itik petelur yang unggul sangat penting, sebab produksi telur di
pengaruhi 30% oleh sifat-sifat genetisnya dan 70% oleh lingkungan pemeliharaan
(perkandangan, pakan, dan tata laksana pemeliharaan sehari-hari). Artinya, jika
ada salah satu perawatan yang kurang akan berpengaruh terhadap keberhasilan
usaha peternakan itik secara keseluruhan.
Terdapat beberapa cara untuk mendapatkan itik petelur, yaitu dengan
membibitkan itik petelur sendiri, membeli itik dara, atau membeli itik yang sudah
mulai bertelur. Tentu keputusan dari mana mendapatkan itik petelur harus
disesuaikan dengan kemampuan modal, pengalaman,maupun pengetahuan teknik
beternak yang dimiliki masing-masing calon petemak.
Gizi Pakan Itik

Pakan adalah campuran dari beberapa bahan baku pakan yang di hasilkan dari
hasil olahan industri pertanian.
1. Protein
Protein merupakan suatu susunan atau gabungan organis yang kompleks, yang
terdiri dari berbagai unsur (karbohidrat, lemak, mineral dan unsur lainnya),
sehingga protein sangat di butuhkan oleh itik.adapun kebutuhan itik akan protein
antara lain:

1. Itik usia 0-4 minggu membutuhkan protein sebanyan 18-20 %.


2.Itik usia 5-2 minggu (itik dara) membutuhkan protein sebanyak 14

16 %.
3.Itik usia 21 minggu ke atas (sudah bertelur) membutuhkan protein
sebanyak 15-17 %.

Panen dan Pasca Panen

1) Panen
Hasil utama usaha ternak itik petelur adalah telur itik dan hasil tambah berupa
induk apkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk
tanaman.

2) Pasca panen
Kegiatan pasca panen yang biasa di lakukan adalah pengawetan. Dengan
pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama di banding jika tidak
di lakukan pengawetan. Telur yang tidak di
berikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan 14 hari jika disimpan pada
temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk
2.3.1. Dedak
Deny dkk. (2008) menyatakan bahwa dedak halus merupakan hasil ikutan
proses pemecahan kulit gabah, yang terdiri atas lapisan kutikula sebelah luar,
hancuran sekam dan sebagian kecil lembaga yang masih tinggi kandungan
protein, vitamin, dan mineral. Produksi dedak padi di Indonesia per tahun dapat
mencapai 4 juta ton. Kandungan nutrisi dedak halus menurut Supriyadi (2011)
adalah protein kasar 10,80%, serat kasar 15,30%, lemak 4,90 dan EM 1.636
Kkal/kg.

Dedak mengandung bagian luar beras yang tidak terbawa, tetapi tercampur
pula dengan bagian penutup beras itu. Hal ini mempengaruhi tinggi-rendahnya
kandungan serat kasar dedak (Rasyaf, 1990). Berdasarkan serat kasarnya dedak
padi dibedakan dalam tiga golongan, yaitu bekatul yang mengandung komponen
serat kasar kurang dari 9%, dan komponen serat kasar antara 9-18% digolongkan
kepada dedak halus, sedang di atas 18% termasuk ke dalam golongan dedak kasar.
Dedak padi kasar sebaiknya tidak digunakan sebagai bahan pakan lokal dalam
ransum karena komposisi kimianya kurang baik terlebih kandungan serat
kasarnya tinggi. Dedak mengandung paling tidak 65% dari zat gizi mikro penting
yang terdapat pada beras dan komponen tanaman bermanfaat yang disebut
fitokimia, potassium), asam amino, asam lemak esensial, dan antioksidan
(Hariyadi, 2003 dalam Hutomo dkk., 2009).
2.3.2. Jagung giling
Tepung jagung memiliki kandungan pati 72-73% dengan ukuran granula
pati yang yang cukup besar, yaitu berkisar 1-20 m (Suarni, 2008) . Pada jagung
varietas manado kuning kadar patinya 64-67% (Layuk, 2006). Tepung jagung juga
mengandung protein (8-11%). Tepung jagung memiliki tekstur agak kasar dan
kandungan gluten relatif rendah (< 1%). Kandungan gizi tepung jagung tidak
kalah dengan terigu, bahkan jagung memiliki keunggulan karena tepung jagung
merupakan pangan fungsional seperti serat pangan, unsur Fe, dan beta- karoten
yang merupakan pro vitamin A (Suarni, 2008). Menurut Bressani (1990) dalam
Suarni (2008), tipe jagung dataran rendah mengandung serat pangan 12,79%.
Olahan kue kering tidak memerlukan pengembangan volume seperti kue basah
dan roti-rotian, tetapi harus renyah, tidak cepat menyerap air, tidak keras dan tidak
mudah hancur. Sifat-sifat tersebut sesuai dengan sifat fisikokimia dan fungsional
tepung jagung.
2.3.3. Tepung Ikan
Tepung jagung adalah tepung yang diperoleh dengan cara menggiling biji
jagung (Zea mays L). Salah satu jenis jagung yang banyak dimanfaatkan adalah
jagung manis(Zea mays sacc).Jagung mengandung sekitar 70% pati dari bobot biji
jagung yang merupakan komponen penting tepung jagung. Komponen

karbohidrat lain adalah gula sederhana, yaitu glokusa, sukrosa dan fruktosa,
sekiatar 1,3% dari bobot biji. Tepung jagung juga mengandung protein, lemak,
serat kasar, vitamin dan mineral.Protein tepung jagung mempunyai komposisi
asam amino yang cukup banyak.Asam lemak penyusun jagung terdiri dari asam
lemak jenuh yang berupa palmitat dan stearat serta asam lemak tak jenuh berupa
Formulasi Kombinasi Tepung Sagu dan Jagung pada Pembuatan Mie
Chemica Vo/. 13

Nomor 2 Desember 2012,

(Jurnal

33 -38 ) oleat dan linoleat.

Kandungan protein dan lemak jagung bervariasi tergantung dari umur dan
varietasnya.Kandungan protein jagung muda lebih rendah dibandingkan dengan
jagung tua. Jagung mengandung serat yang tinggi meliputi polisakarida yang tidak
dapat dicerna, seperti selulosa, hemiselulosa, oligosakarida, pektin, gum, dan
waxes (Syamsir, 2008).
Tabel 4. Komposisi kandungan gizi pada jagung
No Gizi

Kandungan

Energi (cal)

129

Protein (gram)

4.1

Lemak (gram)

1.3

Karbohidrat (gram)

30.0

Kalsium (garm)

5.0

Fosfor (mg)

Besi (mg)

Vitamin A (SI)

117.0

Vitamin B (mg)

0.18

10

Vitamin C (mg)

9.0

11

Air (gram)

63.5

108.0
1.1

(http :// balitsereal. litbang. deptan.go.id/ bjagung/ tiganol.pdf).


Mutu bahan pangan dapat dikelompokkan kedalam dua kelompok
karakteristik, yaitu karakteristik tampak dan karakteristik tersebunyi dari suatu
bahan pangan. Karakteristik tampak meliputi warna, bau, dan cita rasa. Sedangkan

karakteristik tersembunyinya, meliputi aspek keamanan mikrobiologi dan aspek


gizi, yaitu kadar air, abu, karbohidrat, protein, dan lemak.
2.3.4. Ransum Komersil
Dalam penelitian ini pakan yang digunakan adalah pakan komersial tipe
CP707 untuk bebek peking dari PT. Charoen Pokphand Indonesia. Bahan pakan
yang digunakan adalah jagung, dedak, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung
daging dan tulang, pecahan gandum, bungkil, kacang tanah, tepung daun, kanola,
kalsium, fosfor, vitamin, dan trace mineral. Komposisi nutrisi ransum komersial
disajikan pada tabel 5 yaitu sebagai berikut.
Tabel 5. Komposisi Nutrisi Ransum Komersial 707 PT. Charoen Pokphand.
No Gizi
Kandungan
1

Kadar Air (Maks.)%

13

Protein (%)

21,5-23,5

Serat Kasar (Maks.)(%)

Lemak (Min.)(%)

Abu (Maks.)(%)

Ca (%) 0,9 P (%)

0.6

Energi Metabolis (kkal/kg)

3000.3100

11

Air (gram)

Sumber: PT. Charoen Pokphand Indonesia


2.3.5. Mineral Mix
Vitamin adalah zat gizi yang dibutuhkan sebagai pernbantu (katalis) dalam
proses pembentukan atau pemecahan zat gizi lain di dalam tubuh, jadi hanya
dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Mineral dibutuhkan untuk membentuk kerangka
(tulang) tubuh, membantu pencernaan dan metabolisme dalam sel serta untuk
pembentukan kerabang (kulit) telur. Zat kapur atau (Calcium = Ca) dan fosfor (P)
adalah zat mineral yang paling banyak dibutuhkan. Kedua zat ini mempunyai
hubungan yang saling terkait. Untuk itik dibutuhkan zat kapur dan fosfor yang
cukup tinggi dalam pakannya berkisar 3,0% Ca dan 0,60% P.

10

Penurunan zat kapur hingga 1,25% dalam pakan menyebabkan penurunan


produksi telur dan kerabang telur yang lebih tipis. Kekurangan zat fosfor akan
menurunkan nafsu makan dan menyebabkan pertumbuhan yang terlambat, serta
penurunan produksi dan berat telur. Penambahan garam dapur 0,2% hingga 0,5%
sudah dapat menunjang pertumbuhan dan produksi telur yang balk. Kebutuhan
akan mineral lain (Mg, K, Zn, Fe, I, Mn, Mo, Se, Co, Cl) dan vitamin adalah
dalam jumlah yang sangat sedikit.
Dalam praktek sehari-hari digunakan campuran mineral dan vitamin
(premix) yang telah banyak diperdagangkan dengan komposisi yang telah
disesuaikan, sehingga hanya perlu diberikan sebanyak 0,25 - 0,5 Kg premix untuk
tiap 100 Kg pakan.
Sumber : http://petrnakanakbar.blogspot.co.id/p/ransum-itik-petelur.html
2.4. Konsumsi Ransum
Dalam ilmu peternakan, ternak itik tergolong unggas tipe sedang. Jumlah
ransum yang dibutuhkan oleh itik jantan umumnya lebih tinggi 20% dari itik
betina. Mulai umur 6 minggu konsumsi itik betina dan jantan sudah harus
dibatasi. Tindakan ini bertujuan untuk mengurangi lapisan lemak pada tubuh itik
karena tidak disukai oleh konsumen terutama bagi usaha penggemukan itik.
Pemberian ransum untuk itik dilakukan paling sedikit dua kali sehari.
Namun, hasilnya akan lebih baik bila ransum diberikan tiga kali dari jatah satu
hari. Jumlah yang diberikan pada pagi hari adalah 2/5 bagian dari total jatah satu
hari. Sementara pada siang hari diberikan 1/5 bagian dan sisanya diberikan pada
sore hari.
Tabel 6. Pemberian pakan itik pedaging
Berat Badan (kg)

Konsumsi Ransum (kg/minggu)

Umur (minggu)

Jantan

Betina

0.06

0.06

0.27

0.27

0.78

0.74

1.38

1.28

11

1.96

1.82

2.49

2.30

2.96

2.73

3.34

3.06

3.61

3.29

Sumber : Sudaro Yani, Siriwa Anita, Ransum Ayam dan Itik : Jakarta, Penebar
Swadaya, 2000
2.5. Pertambahan Berat Badan
Zahra (1996) yang menyatakan bahwa tingkat konsumsi ransum erat
hubungannya dengan pertumbuhan, semakin banyak ransum yang dikonsumsi
semakin tinggi pertambahan bobot badan yang dihasilkan. Selanjutnya Rafian
(2003) me1aporkan bahwa temak yang mengkonsumsi ransum dengan kandungan
zat-zat makanan yang sama akan memperlihatkan pertambahan bobot badan yang
hampir sama pula.
Ditambahkan oleh Kardaya (2005) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
pertambahan bobot badan temak selain konsumsi ransum adalah jenis dan bangsa
pertambahan bobot badan temak selain konsumsi ransum adalah jenis dan bangsa
ternak, jenis kelamin, tipe temak dan manajemen peliharaan.

12

BAB III
METODE PELAKSANAAN
1.1. Tempat dan Waktu
A. Tempat
Tempat Penelitian ini telah dilaksanakan di Jln. Politeknik Aceh, Pango
Raya. Berada pada ketinggian 10 m di atas permukaan laut.
B. Waktu
N
o

Kegiatan

Pembuatan Kandang

Pembuatan Pakan

Pemasukan Bibit

Pemberian Pakan

Panen

Pemasaran langsung

Bulan 1

Bulan 2

Bulan 3

Bulan 4

1.2. Bahan dan Alat


A. Bahan
Bahan baku untuk serbuk ikan adalah berbagai jenis ikan hasil samping
tangkapan yang sebaiknya ikan berdaging putih sehingga menghasilkan serbuk
ikan yang berwarna putih.
B. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan tepung ikan disini adalah alatalat yang sederhana dan umum digunakan dalam berbagai macam industri kecil
yaitu :

Penggiling ikan.
Alat ini digunakan untuk menggiling ikan basah dan bubur kering ikan.

Alat pengering.
Alat ini digunakan untuk mengeringkan ikan sehingga kadar air mencapai
8%.

13

Alat press.
Alat ini digunakan untuk mempres ikan kering sehinga sebagian lemaknya
keluar.

Pisau
Alat pengukus
Rak-rak penjemur

Kompor

1.3. Metode Penelitian


1.3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian experimental laboratorium dan lapangan
dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola satu arah dengan 4
perlakuan yang berbeda. Perlakuan 1 sebagai ransum kontrol (R0) yaitu
pemberian tepung ikan 0% dalam ransum. Perlakuan 2 sebagai ransum 1 (R1)
yaitu penambahan tepung ikan dalam ransum sebesar 20% dalam ransum.
Perlakuan 3 sebagai ransum 2 (R2) yaitu penambahan tepung ikan dalam ransum
sebesar 40% dalam ransum dan perlakuan 4 sebagai ransum 3 (R3) yaitu
penambahan tepung ikan dalam ransum sebesar 60% dalam ransum.
1.3.2. Populasi penelitian
Populasi dalam penelitian ini menggunakan Itik Peking DOD (Day Old
Duck) sebanyak 500 ekor dan berumur 1 minggu yang dikelompokkan menjadi 4
kelompok dengan masing-masing kelompok sebanyak 125 ekor.
1.4. Variabel penelitian
Penelitian ini terdiri dari beberapa variabel penelitian yaitu, sebagai berikut :
1. Variabel bebas meliputi persentase penambahan tepung ikan
2. Variabel terikat meliputi konsumsi ransum, pertambahan berat badan dan
konversi ransum.
3. Variabel kontrol meliputi jumlah ransum, umur itik, waktu pemberian pakan
dan teknik pengambilan sampel.
3.5. Prosedur Penelitian
3.5.1. Pembuatan Tepung Ikan

t
I
h
b
m
L
a
s
r
P
l
k
i
g
n
u
p
e
14

Keterangan :

A. Pengilingan Basah.
1. Pengilingan ikan basah dilakukan terhadap ikan yang berukuran sedang
dan besar. Ikan-ikan yang berukuran kecil (ter) tidak harus digiling, dan

proses ini tidak harus dilakukan.


2. Ikan berukuran sedang dan besar, perlu dibuang jeroannya, dan dicuci.

Sedangkan untuk ikan yang berukuran kecil, pembuangan jeroan dan


pencucian tidak perlu dilakukan.
3. Ikan digiling dengan penggiling ulir sehingga diperoleh bubur mentah
ikan.
B. Pengukusan.

Bubur ikan atau ikan kecil dikukus dengan uap panas selama 1 jam sehingga
bubur atau ikan kecil menjadi matang secara sempurna. Hasil pengukusan

disebut dengan bubur matang ikan. Pengukusan dilakukan untuk


menghilangkan lemak - lemak yang akan membuat tengik tepung ika dan
menghilangkan bakteri bakteri yang patogen.
C. Pengeringan.

Dilakukan guna mengeringkan bahan baku. Bubur matang ikan dikeringkan

dengan alat pengering sampai kadar air sekitar 8%. Hasil pengeringan

disebut cake kering ikan.Cake kering ikan mempunyai kadar lemak tinggi
(di atas 30%).

D. Penggilingan Cake.

Cake yang telah dipres digiling dengan mesin penggiling sehingga diperoleh

tepung ikan yang cukup halus (lolos ayakan 40-60 mesh) atau dengan
ukuran yang diinginkan.
Sumber

http://www.ilmuternak.com/2015/02/cara-membuat-tepung-ikan-

dengan-mudah.html

15

3.5.2. Analisa Ransum


Bahan pakan perlakuan ransum terdiri dari jagung giling, dedak, tepung
ikan,

pakan komersil dan mineral mix. Bahan pakan penelitian dianalisa di

Laboratorium BARISTAND Prov. Aceh yaitu berupa analisa proksimat. Sebelum


dianalisa bahan pakan tersebut dihaluskan, dihomogenkan dengan cara digiling
dan dicampur sampai homogen, kemudian masing-masing bahan pakan tersebut
diambil sampel secara acak sebanyak 200 gram. Tujuan dari analisa bahan pakan
ini yaitu untuk mengetahui komposisi bahan pakan yang akan digunakan sebagai
ransum. Hasil dari analisa proksimat bahan pakan ini menjadi dasar untuk
menyusun ransum R0, R1, R2 dan R3.
3.5.3. Perkandangan

2,5 m

2,5 m
R0

kol
am
R1
R2
kol
am

15

2.5

16

R3

3.5.4. Pemberian Pakan


Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Itik Peking masa DOD (day
old duck) yang berumur 1 minggu dan ditempatkan dalam kandang kelompok
yang dibagi kedalam 4 kelompok serta diberi ransum tepung ikan setiap pagi dan
sore hari dengan masa pemeliharaan selama 60 hari. Pemberian pakan diberikan
secara adlibitum. Setiap hari dilakukan pengambilan data berupa jumlah ransum
yang diberikan dan jumlah ransum sisa yang tidak habis dimakan.
3.5.5. Konsumsi Ransum (gr/ekor/hari)
Konsumsi ransum merupakan selisih antara ransum yang diberikan dengan
pakan sisa yang ditimbang, sedangkan konsumsi ransum per ekor per hari
merupakan konsumsi ransum total dibagi masa pemeliharaan.
3.5.6. Pertambahan Berat badan (gr/ekor/hr)
Pengukuran pertambahan berat badan dilakukan setiap seminggu sekali yaitu
dengan mengurangi berat akhir dengan berat awal. Adapun pertambahan berat
badan harian itik dapat diukur berdasarkan rumus :
PBB (gr/hr) =

BB akhir-BB awal
Lama hari pengamatan

3.5.7. Teknik pemasaran ternak dan analisa keuntungan peternak dari


masing-masing perlakuan.
3.5.7.1.

Teknik Pemasaran

Sasaran konsumen dan pembeli adalah pasar tradisional, warung


makan/restoran, dan masyarakat umum. Wilayah Pemasaran langsung (direct
selling) serta konsinyasi adalah wilayah Banda Aceh dan sekitarnya, dan untuk
penjualan melalui e-marketing (penjualan melalui internet) tidak dulu dilakukan,
dikarenakan produksinya yang masih sedikit. Penetapan harga jual untuk bebek

10
m

17

pedaging adalah Rp. 35.000,-/ekor, sedangkan penetapan harga jual untuk kotoran
bebek adalah Rp.10.000,-/karung
Adapun strategi Pemasaran Yang Akan Digunakan yaitu:
1. Direct Seles (Penjualan langsung ke tempat target market berada).
Strategi ini mengadopsi strategi dagang Multi Level Marketing (MLM).
Cara kerjanya, sales langsung mendatangi konsumen di tempat tinggalnya
untuk menawarkan produk. Hasilnya transaksi penjualan dapat dilakukan
tanpa toko dan tidak terbatas waktu. Team sales akan menawarkan langsung
ke tempat target market berada (pasar, warung dan rumah). Cara penjualan
seperti ini tidak memerlukan banyak biaya karena kita tidak perlu
mengeluarkan biaya sewa toko di setiap tempat konsentrasi/ berkumpulnya
target market berada.
2. Penjualan melalui toko/gerai
Agar strategi pertama lebih efektif dan lebih bisa dipercaya oleh
konsumen maka diperlukan toko atau gerai sebagai icon dan pusat informasi.
Sebagian
besar
toko
hanya
menunggu
konsumen.
Strategi
penawaran langsung ke tempat tinggal konsumen sudah merupakan bentuk
promosi agar konsumen mendatangi toko kami. Tentunya hal ini akan
memperbesar terjadinya transaksi penjualan.
3. Target market
Target market untuk usaha budidaya bebek dan telur ini tidak terbatas.
Konsumen terdiri dari semua usia, wilayah pemasarannya juga seluruh dunia,
waktunya pun sepanjang masa. Penjualan akan dilakukan melalui agen-agen
penjualan bebek di pasar, warung makan/restoran.
4. Media Promosi Yang Digunakan
a. Publikasi dari mulut kemulut
Iklan yang paling kuat efeknya bagi konsumen sebenarnya bukanlah
iklan koran, bukan iklan radio, bahkan bukan iklan televisi. Iklan yang paling
kuat pengaruhnya adalah Word of Mounth (Publikasi dari mulut ke mulut),
yakni dengan cara menjajakan hasil produksi kepada masyarakat sekitar
lingkungan dengan harapan hasil produksi dapat dipromosikan secara
langsung oleh masyarakat.
b. Koran, spanduk dan brosur
Sebuah usaha yang bagus tidak akan menghasilkan keuntungan besar jika
tidak dipublikasikan. Penggunaan spanduk dan brosur masih diprioritaskan
untuk sarana promosi. Penyebaran (Spreading) brosur juga dilakukan secara
berkala. Per 1 minggu atau per 2 minggu.
c. Internet

18

Iklan di internet melalui website, e-mail, mailist, facebook, merupakan


publikasi andalan selain murah jangkauanya pun sangat luas.
3.5.7.2.

Analisa Keuntungan Peternak yang menggunakan ransum Ro,


R1, R2 dan R3

Analisa keuntungan peternak yang memakai ransum R0, R1, R2, dan R3
dilakukan dengan analisa seperti dibawah ini, dengan rumus :
Keutungan = Pendapatan penjualan Itik Biaya Produksi
A. Investasi
1. Biaya Tetap

Kandang
Perlengkapan Pakan
Biaya Analisa Ransum

Rp. 2.500.000,RP. 300.000,Rp. 200.000,-

2. Biaya Pemeliharaan

Itik DOD
Rp. 7.000/ekor
Obat (Vitamin + Vaksin)
Pakan
Sewa Lahan
Listrik
Jumlah biaya produksi

Rp. 3.500.000,Rp. 500.000,Rp. 5.020.000,Rp. 150.000,Rp. 150.000,Rp. 12.320.000,-

B. Pendapatan

Hasil Penjualan 475 ekor x Rp 35.000,-

Rp. 16.625.000,-

C. Keuntungan

Hasil Penjualan Itik


Modal yang dikeluarkan
Total Keuntungan

Rp. 16.625.000,Rp. 12.320.000,- _


Rp. 4.305.000,-

3.6. Analisa Data


Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4
perlakuan yaitu R0, R1, R2 dan R3. Data konsumsi ransum, Pertambahan berat
badan dan konversi ransum yang diperoleh dianalisa dengan Analisis of Variance

19

(ANOVA) dan bila terdapat perbedaan, maka selanjutnya dilakukan uji lanjut
Duncant (Steel and Torrie, 1990).

20

BAB IV
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
A. Rancangan Biaya

NO.
1
2
3

URAIAN KEGIATAN
(RUK)

4
5

Pembelian Bibit
Pembuatan Kandang
Peralatan
a. Tempat pakan dan minum
b. Sewa lahan
c. Listrik
Obat-obatan
Ransum
a. Pakan komersil
b. Pembuatan tepung ikan
c. Jagung giling
d. Pakan dedak
e. Biaya analisa ransum di lab

TARGET ( SESUAI RUK )


HARGA
JUMLAH
VOL
SATUAN
( RP )
( RP )
500
7000
3.500.000
2
2.500.000

12.320.000
Terbilang Dua Belas Juta Tiga ratus Dua Puluh Ribu Rupiah

300.000
150.000
150.000
500.000
1.520.000
900.000
1.350.000
1.250.000
200.000

TOTAL

21

B. Jadwal Kegiatan
No Kegiatan
1

Pembuatan kandang DOD

Pembuatan kandang indukan


Pembuatan tepung ikan dan
Formulasi ransum

3
4
5
6

Pembelian bibit dan adaptasi


Pemeliharaan dan pengambilan
data
Pemasaran langsung

Bulan 1

Bulan 2

Bulan 3

Bulan 4

22

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Arsyadi dan Febrianti, Nanda. 2009. Performans itik petelur (lokal x peking)
fase starter pada tingkat kepadatan kandang yang berbeda di desa laboi
jaya kabupaten kampar. Jurnal Peternakan Vol 6 No 1 Februari 2009 (29
35) ISSN 1829 8729. Pekanbaru.
Anggorodi, R. 1985. Manajemen Mutakhir Dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas.
Jakarta: PT. Gramedia.
Apriyantono, Anton. 2011. Pedoman Budidaya Itik Petelur Yang Baik.
http://pedoman-budidaya-itik-petelur-yang.html. Di akses Tanggal 15
Agustus 2012.
HETZEL, D.J.S., I. SUTIKNO, and SOERIPTO. 1981. Beberapa pengaruh
aflatoxin terhadap pertumbuhan itik-itik muda. Prosiding seminar
Penelitian Peternakan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan,
Bogor.
CHEN, T. F. 1996. Nutrition and feedstuffs of ducks. In: The training Course for
Duck Production and Management. Taiwan Livestock Research Institute,
Monograph No. 46. Committee of International Technical Cooperation,
Taipei.
Bambang Suharno, Ir. dan Khairul Amri. Beternak itik secara intensif. Penerbit
Penebar Swadaya. Tahun 1998
Redaksi Trubus. Beternak Itik CV. 2000-INA. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun
1999
Prawoto; Peternak ternak itik. Desa Sitemu Kec. Taman Kabupaten Pemalang,
Jawa Tengah 52361
http://www.produknaturalnusantara.com/panduan-teknis-budidaya
peternakan/budiddaya-itik-bebek/
https://id.wikipedia.org/wiki/itik_petelur/
http://www.ilmuternak.com/2015/02/cara-membuat-tepung-ikan-denganmudah.html