Anda di halaman 1dari 8

1.

memahami dan menjelaskan kapiler darah


1.1 definisi
1.2 mekanisme
1.3 fungsi
1.4 gangguan
2. memahami dan menjelaskan mekanisme cairan tubuh
2.1 definisi
2.2 fungsi
2.3 faktor yang mempengaruhi
2.4 mekanisme
2.5 gangguan
3. Memahami dan menjelaskan Edema
3.1 definisi
3.2 jenis jenis
3.3 penyebab
3.4 faktor
3.5 mekanisme
3.6 penatalaksaan
3.7 pemeriksaan

1.1 definisi
Kapiler adalah pembuluh darah mikroskopis kecil antara arteri dan vena yang mendistribusikan
darah yang kaya oksigen ke jaringan tubuh.
1.2 mekanisme

Mekanisme Sirkulasi
Sirkulasi Kapiler Darah
Sistem sirkulasi adalah sistem transpor yang menghantarkan oksigen dan
berbagai zat yang diabsorbsi dari traktus gastrointestina menuju ke jaringan
serta melibatkan karbondioksida ke paru dan hasil metabolisme lain menuju ke
ginjal. Sistem sirkulasi berper -an dalam pengaturan suhu tubuh dan
mendistribusi hormon serta berbagai zat lain yang mengatur fungsi sel. Setiap
pembuluh halus yang menghubungkan arteriol dan venol membentuk suatu
jaringan pada hampir seluruh bagian tubuh. Dindingnya berkerja sebagai
membran semipermeable untuk pertukaran berbagai substansi.
Mekanisme Pertukaran Cairan dalam Kapiler Darah:
Pertukaran zat antara darah dan jaringan melalui dinding kapiler terdiri dari 2
tahap:
-Difusi Pasif

Dinding kapiler tidak ada sistem transportasi, sehingga zat terlarut berpindah
melalui proses difusi menuruni gradien konsentrasi mereka. Gradien
konsentrasi adalah perbedaan konsentrasi antara 2 zat yang berdampingan.
Difusi zat terlarut terus berlangsung independen hingga tak ada lagi perbedaan
konsentrasi antara darah dan sel di sekitarnya.
- Bulk flow
Merupakan suatu volume cairan bebas protein yang tersaring ke luar kapiler,
bercampur dengan cairan interstisium disekitarnya, dan kemudian
direabsorpsi. Bulk flow sangat penting untuk mengatur distribusi CES antara
plasma dan cairan interstisium. Proses ini disebut bulk flow karena berbagai
konstituen cairanberpindah bersama sama sebagai satu kesatuan.
a.Tekanan di dalam kapiler melebihi tekanan diluar sehingga cairan
terdorong keluar melalui pori-pori tersebut dalam suatu proses
yangdisebutultrafiltrasi
b.Tekanan yang mengarah ke dalam melebihi tekanan keluar,
terjadi perpindahan netto cairan dari kompartemen interstitium ke dalam
kapiler melalui pori-pori, yang disebut dengan reabsorpsi.
Bulk flow dipengaruhi oleh perbedaan tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik
koloid antara plasma dan cairan interstitium. 4 gaya yang mempengaruhi
perpindahan cairanmenembus dinding kapiler adalah :
a. Tekanan darah kapiler
b. Tekanan osmotik koloid plasma
c. Tekanan hidrostatik cairan interstitium4
d.Tekanan osmotik koloid cairan interstitium
Aliran darah dalam kapiler
Mengalir secara intermiten yang mengalir dan berhenti setiap beberapa detik
atau
menit.Penyebab timbulnya gerakan ini adalah vasomotion, yang berarti
kontraksi
intermiten padametarteriol dan sfingter prekapiler.
Faktor penting yang mempengaruhi derajat pembukaan dan pentutupan kapiler
adalah
konsentrasi oksigen dalam jaringan. Bila jumlah pemakaian oksigen besar,
aliran
darah yang intermiten akan makin sering terjadi dan lamanya waktu aliran
lebih lama
sehingga dapat membawa lebih banyak oksigen.
Sistem Limfatik
Fungsi sistem limfatik adalah mengembalikan cairan dan protein yang difiltrasi
kapiler ke sistem sirkulasi. Sistem limfatik didesain hanya 1 jalan, yaitu dari
jaringan
ke system sirkulasi. Ujung pembuluh limf (kapiler limf) berada dekat kapiler
darah.
Penyumbatan pembuluh limfa dapat menyebabkan edema.
Jalur tambahan cairan dari ruang interstitial ke dalam darah
Dapat mengangkut protein dan zat-zat berpartikel besar keluar dari jaringan
yangtidak dapat dipindahkan dengan proses absorpsi langsung ke dalam
kapiler

Kapiler Limfe dan permeabilitasnya


Cairan merembes dari ujung arteriol kapiler darah ke dalam ujung venadari
kapiler darah kembali ke darah melalui sistem limfatik dan bukan
melalauikapiler vena
Cairan kembali ke limfe 2-3 liter/hari
Cairan Limfe
Cairan limfe berasal dari cairan interstitial yang mengalir ke dalam sistem
limfatik
Cairan limfe yang masuk ke pembuluh limfe, komposisinya hampir sada
dengancairan interstitial.
Sistem limfatik jalur utama untuk reabsorpsi zat nutrisi dari saluran cerna
(terutamaabsorpsi lemak tubuh)
Peran Sistem Limfatik
Peran sentral dalam mengatur:
1.Konsentrasi protein dalam cairan interstitial
Protein terus keluar dari kapiler darah lalu masuk ke dalam interstitium. Jika
ada
protein yang bocor kembali ke sirkulasi melalui ujung-ujung vena kapiler darah
Protein berakumulasi di cairan interstitial peningkatan tekanan osmotik koloid
cairan
interstitial
2.Volume cairan interstitial
Peningkatan tekanan osmotik koloid cairan interstitial menggeser
keseimbangan daya pada membran kapiler darah dalam membantu
filtrasicairan ke dalam interstitium
Sehingga terjadi peningkatan volume cairan interstitial dan tekanan
cairan interstitial
3.Tekanan cairan interstitial
Meningkatnya tekanan cairan interstitial membuat terjadinya peningkatan
kecepatan aliran limfe sehingga membawa keluar kelebihan volume cairan
interstitial dan kelebihan protein terakumulasi dalam ruang interstitial.
1.3 Fungsi kapiler darah secara umum adalah:
-Penguhubung antara pembuluh arteri dan vena
-Tempat terjadi pertukaran zat-zat antara darah dan cairan di jaringan
-Mengambil hasil dari kelenjar
-Menyaring darah di ginjal
-Menyerap makanan di usus
1.4 gangguan

2.1 definisi cairan tubuh


1) Kompartemen Cairan Intrasel (CIS)
Cairan intrasel dipisahkan dari cairan ekstrasel oleh membrane sel yang sangat permeable
terhadap air, tetapi tidak permeable terhadap sebagian besar elektrolit dalam tubuh.
Komposisi dari cairan intrasel terdiri dari kation kalium dan anion phosphate dalam jumlah
yang sangat besar. Ditambah ion magnesium dan sulfat dalam jumlah sedang. Dalam intrasel
juga mengandung sejumlah besar protein,hampir empat kali jumlah protein plasma
2) Kompartemen Cairan Ekstrasel (CES)
Dalam CES, dibagi menjadi 3 yaitu cairan interstitial, intravascular, dan transeluler. Cairan
interstitial adalah cairan antar sel, yang berada diantara sel-sel. Cairan intravaskuler adalah
cairan yang berada dalam pembuluh darah. Cairan transeluler adalah cairan yang
terkandung dalam rongga-rongga khusus interstisial dan plasma. Keduanya dibatasi oleh
membrane kapiler yang sangat permeable kecuali oleh protein plasma sehingga protein di
plasma lebih banyak terdapat daripada di interstisial. Karena protein plasma mempunya
muatan akhir negative, jadi pada plasma lebih banyak terdapat kation (natrium) sedangkan
pada interstisial lebih banyak terdapatanion (klorida). Komposisi cairan ekstrasel diatur oleh
ginjal sehingga akan menjaga konsentrasi elektrolit tubuh.
2.2 fungsi
2.4 mekanisme
a. Pengaturan metabolisme air dipengaruhi oleh pengeluaran
ADH dari kelenjar hipofisis posterior sebagai respons terhadap
perubahan
osmolaritas
serum.
Perubahan
osmolaritas
plasma/serum menyebabkan pengeluaran ADH ke dalam
sirkulasi. ADH menyebabkan penurunan pengeluaran urine
karena reabsorbsi lebih banyak air dengan filtrat glomerulus
sewaktu air melewati tubulu. Peningkatan osmolaritas juga
menyebabkan peningkatan rasa haus sehingga asupan air
meningkat. Peningkatan reabsorbsi air dan asupan air
menyebabkan penurunan osmolaritas plasma. Apabila terjadi
penurunan osmolaritas plasma, maka ekskresi urin meningkat.

3.1 definisi Edema


edema adalah akumulasi cairan interstitial secara berlebih. (fisiologi
kedokteran)
Edema
: Adanya cairan dalam jumlah berlebihan di ruang jaringan antarsel
tubuh, biasanya merujuk ke jaringan subkutis. Edema dapat bersifat lokal
(misalnya disebabkan oleh obstruksi vena atau saluran limfe, atau oleh
peningkatan permeabilitas vaskular) atau bersifat sistemis (misalnya akibat

gagal jantung atau penyakit ginjal). Edema kadang diberi nama menurut
lokasinya, misal ascites (cavum peritonei, rongga peritoneum), hydrothorax
(cavum pleura, rongga pleura), atau hydropericardium (saccus pericardium,
kantung perikardium). Edema generalisata yang massif disebut anasarca.
Disebut juga dropsy dan hydrops.(Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 31.)
Edema
: Peningkatan volume cairan interstisial yang dapat berkembang
hingga beberapa liter banyaknya sebelum tampak kelainan secara kllinis.
(Isselbacher, dkk. Harrison : Prinsip Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 13.
Volume 1. Jakarta. EGC )
Asites
: Efusi (penimbunan cairan) dan akumulasi cairan serosa di rongga
abdomen (Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 31.)

3.2 jenis jenis

menurut lokasi, edema dibagi menjadi:


- edema menyeluruh, yang disebabkan oleh penurunan tekanan osmotik
koloid pada hipoproteinemia
- edema lokal, disebabkan oleh kerusakan kapiler, konstriksi sirkulasi atau
sumbatan drainase limfatik.
3.3

penyebab

Retensi air, dimana disebabkan oleh peningkatan kadar ADH yang disekresi oleh
hipofisis posterior didalam hipotalamus.

Retensi Natrium, dimana dipengaruhi oleh aktivitas renin-angiostensin-aldosteron


yang erat kaitannya dengan baroreseptor di arteri aferen glomerulus ginjal,
aktivitas ANP (atrial natriuretic peptide) yang erat hubungannya dengan
baroreseptor di atrium dan ventrikel jantung, aktivitas saraf simpatis ADH yang
erat kaitannya dengan baroreseptor di sinus-karotikus, osmoreseptor hipotalamus.

Penurunan tekanan osmotik koloid, pada dasarnya tekanan osmotik koloid


mempertahankan atau mendorong cairan ke dalam agar tetap berada di
intravaskular. Tekanan osmotik koloid ini dipertahankan oleh protein albumin, bila
protein plasma atau albumin dalam darah menurun kadar plasma darah akan
berkurang sehingga memungkinkan gerakan ke dalam jaringan. Ini akan
menimbulkan akumulasi cairan dalam jaringan dengan penurunan volume di
intravaskular.

Peningkatan tekanan hidrostatik, penyebab utama tekanan hidrostatik kapiler


adalah karena tekanan osmotik yang menurun, sehingga cairan yang berada di
intravaskular akan mendorong keluar intravaskular ke interstisium.

Obstruksi saluran limfe, terjadi karena kelebihan cairan yang difiltrasi keluar di
cairan interstisium dan tidak dapat dikembalikan ke intravaskular.

Meningkatnya permeabilitas kapiler, akan mengakibatkan protein plasma keluar


dari kapiler sehingga tekanan koloid osmotik darah akan menurun dan tekanan
hidrostatiknya akan meningkat.

Meningkatnya tekanan darah kapiler, tekanan darah kapiler akan meningkat jika
volume darah meningkat.

Albumin rendah, protein plasma dalam darah 85% berasal dari albumin. Jika kadar
albumin dalam darah rendah maka volume darah akan rendah sehingga tekanan
osmotik koloidnya juga rendah dan juga menyebabkan tekanan hidrostatiknya
meningkat. Hal ini bisa terjadi pada pendertia hipoproteinemia berat dan
hipoalbuminemia.

(Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta. EGC)

3.4 faktor

perubahan hemodinamik dalam kapiler yang memungkinkan keluarnya cairan intravaskular ke


jaringan interstitium
retensi natrium di ginjal

3.5 mekanisme Sesak napas


- Tekanan darah tinggi
-

Nadi kuat (takikardi)

Kulit lembab

Peningkatan berat badan

Adanya bendungan vena di leher

Bengkak, mengkilat, bila ditekan timbul cekungan dan lambat kembali


seperti semula

Berat badan naik, penambahan 2% kelebihan ringan, penambahan 5%


kelebihan sedang, penambahan 8% kelebihan berat

Adanya bendungan vena di leher

Pemendekan nafas dan dalam, penyokong darah (pulmonary).

Perubahan mendadak pada mental dan abnormalitas tanda saraf, penahanan


pernapasan (pada edema cerebral yang berhubungan DKA)

Nyeri otot yang berkaitan dengan pembengkakan

Peningkatan tekanan vena ( > 11cm O)

Efusi pleura

Denyut nadi kuat

Edema perifer dan periorbita

Asites

(Horne MM, Swearingen PL. 200. Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam


Basa. Jakarta. EGC)

Manifestasi klinik asites


-

Pembengkakan abdomen

Sirosis hati

Dispnea

Edema tungkai

Distensi abdomen(Sabiston, David C. 1994. Buku Ajar Bedah. Jakarta. EGC)

3.7 pemeriksaan peneliti


1.1.

Laboratorium dan Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada penderita edema antara lain :

Bentuk paru-paru seperti kodok,abdomen cembung dan sedikit tegang

Varesis di dekat usus

Varesis di dekat tungkai bawah

Edema timbal karena hipoalbuminemia

Perubahan sirkulasi distensi abdomen

Timpani pada puncak asites

Fluid wave

Shifting dullness

Pudle sing

Foto thorax

Ultrasonografi

CT scan

Pemeriksaan Laboratorium pada penderita edema antara lain :

Penurunan serum osmolalitas : < 280 mOsm/kg

Penurunan serum protein, albumin, ureum, Hb and Ht

Peningkatan tekanan vena sentral (central vein pressure)