Anda di halaman 1dari 43

BENIGN PROSTATE

HYPERPLASIA
(BPH)
Preseptor : dr Tommy Muhammad Seno Utomo Sp.U

REDI RULANDANI 10100115157

Anatomi Kelenjar Prostat


Organ fibromuscular yang
berfungsi sebagai kelenjar
asesoris dan tubuloalveolar.
Ukuran 2x3x4 cm
Berat normal pada orang dewasa
20 gram.
Batas-batas :
1. Superior dengan neck bladder
2. Inferolateral dengan levator ani
3. Posterior dengan ampulla of rectum

Terletak di sebelah inferior


bulibuli dan membungkus uretra
prostatic.
Terdiri dari isthmus dan lobus
kanan dan kiri

Anatomi Kelenjar Prostat

Anatomi Kelenjar Prostat

ARTERI: berasal dari arteria


vesicalis inferior bercabang jadi
arteri prostatic dan bercabang
jadi capsular branch dan
urethral branch
VENA : vena-vena bergabung
plexus venosus prostatic
sekeliling sisi-sisi dan alas
prostate vena iliac interna
LIMFE : berakhir pada nodi
lymphoidei iliac interna dan
nodi lymphoidei sacrales
SARAF :
Serabut parasimpatis
berasal dari nervi
splanchnic pelvic (S2-S4).
Serabut simpatis berasal
dari plexus hypogastricus
inferior.

Histologi

Terdiri dari 30-50 kelenjar


tubuloalveolar
Tubuloalveolar kelenjar prostat
dibentuk oleh cuboidal atau
columnar pseudostratified
epithelium
Salurannya menuju prostatic urethra
Prostate terbagi atas 3 zona :
Central zone : 25% dari kelenjar
yang ada.
Peripheral zone : 70% kelenjar
yang ada, dan merupakan
tempat tersering kanker prostat.
Transitional zone : 5 % dari
volume prostat, terdiri dari
kelenjar mukosa tempat BPH
tersering.

Fisiologi
Kelenjar prostat mengandung beberapa
substansi:
1.Citric acid in prostatic fluid untuk sperma
dalam produksi ATP via siklus krebs.
2.Enzim proteolitik: PSA, pepsinogen, lisozim,
amylase untuk memecah clotting protein dari
seminal vesicle.
3. Acid phospatase
4.Seminoplasmin menghancurkan bakteri.
Penurunan jumlah bakteri dalam semen (dapat
mencegah UTI).

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA


(BPH)
Definisi
Hiperplasia dari epitel dan stromal prostat,
menyebabkan terjadinya pembesaran, dan
adanya nodul di sekitar periuretheral prostat.
Ketika ukurannya cukup besar, maka nodule
tersebut akan menekan canalis uretra dan dapat
menyebabkan obstruksi yang parsial atau
komplit dari uretra tersebut.

Insidensi
20% usia 41-50 tahun.
50% usia 51-60 tahun.
>90% usia >80 tahun.
Faktor resiko belum pasti, di antaranya:
faktor genetik dan ras.

Etiologi
Hipotesis penyebab timbulnya hiperplasi
prostat :
1. Perubahan keseimbangan antara hormon
testosteron dan estrogen pada usia lanjut.
2. Peranan dari growth factor
3. Teori sel stem: terjadinya proliferasi
abnormal sel stem produksi sel stroma
dan sel epitel kelenjar prostat menjadi
berlebihan.

Etiologi (contd)
Dihydrotestosteron / DHT (hasil metabolit
testosteron)
DHT dihasilkan di prostat dari testosteron yang
bersirkulasi oleh bantuan enzim 5-reductase, type
2. Enzim ini terletak di stromal cells menjadi
tempat utama produksi DHT
DHT berikatan dengan reseptor androgen dan
sinyal transkripsi
Bersifat mitogenic terhadap sel epitel dan stromal
BPH

Patogenesis
Pembesaran prostat

penyempitan lumen uretra prostatika

menghambat aliran urine

peningkatan tekanan intravesikal.


Untuk mengeluarkan urine, bulibuli harus berkontraksi
lebih kuat guna melawan tahanan itu

perubahan anatomik dari bulibuli berupa hipertrofi otot


detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan
divertikel bulibuli.
Fase penebalan detrusor fase kompensasi

Patogenesis
Perubahan struktur pada bulibuli dirasakan oleh
pasien sebagai keluhan pada saluran kemih
sebelah bawah atau lower urinary tract symptom
(LUTS)
Tekanan intravesikal yang tinggi akan diteruskan ke
seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua
muara ureter

menimbulkan aliran balik urine dari bulibuli ke


ureter atau terjadi refluks vesikoureter

jika berlangsung terus akan mengakibatkan


hidroureter, hidronefrosis gagal ginjal.

Gambaran Klinik
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
Keluhan pada saluran kemih sebelah bawah (LUTS) :
Obstruksi

Iritasi

Hesitansi (susah
memulai miksi)

Frekuensi

Pancaran miksi lemah

Nokturia (>>kencing
malam hari)

Intermitensi (kencing
tiba2 berhenti &
lancar kmbali)

Urgensi (merasa ingin


kencing yg tidak bisa
ditahan)

Miksi tidak puas

Disuria (rasa tidak enak


pada saat kencing)

Menetes setelah miksi

Gambaran Klinik
Sistem skoring WHO: Skor Internasional Gejala Prostat
atau IPSS (International Prostatic Symptom Score).
3 derajat gejala LUTS:
Ringan skor 0 7
Sedang skor 8 19
Berat
skor 20 35

Gambaran Klinik
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Gejala obstruksi:
- Nyeri pinggang
- Benjolan di pinggang (tanda hidronefrosis)
- Demam (tanda infeksi atau urosepsis).
3. Gejala di luar saluran kernih
Hernia inguinalis atau hemoroid karena sering
mengejan pada saat miksi peningkatan tekanan
intraabdominal.
Pada pemeriksaan fisik: bulibuli terisi penuh dan
teraba massa kistus di daerah supra simfisis akibat
retensi urine.

Gambaran Klinik
Pada colok dubur diperhatikan :
1. Tonus sfingter ani/refleks bulbo kavernosus untuk
menyingkirkan adanya kelainan bulibuli nerogen.
2. Mukosa rektum
3. Keadaan prostat, antara lain : kemungkinan adanya
nodul, krepitasi, konsistensi prostat, simetri antar
lobus dan batas prostat.
4. Colok dubur pada BPH:
- Konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung
hidung.
- Lobus kanan dan kiri simetris dan tidak
didapatkan nodul.
Pada karsinoma prostat:
- Konsistensi prostat keras/teraba nodul
- Lobus prostat mungkin tidak simetri.

Laboratorium
Sedimen urin (untuk mengetahui infeksi atau inflamasi
saluran kemih).
Kultur urin untuk menentukan penyebab infeksi dan
menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa
antimikroba yang diujikan.
Pemeriksaan Prostat Specific Antigen (PSA)
Bila nilai PSA < 4ng/ml tdk perlu biopsi.
Nilai PSA 4-10 ng/ml hitung prostate specific antigen
density (PSAD) yaitu PSA serum dibagi vol prostat.
Bila PSAD 0.15 & PSA > 10 ng/ml biopsi prostat.
Gula darah (untuk mencari kemungkian DM yang dapat
menimbulkan kelainan saraf bulibuli)

Pemeriksaan Radiologis
Tujuan :
1.Memperkirakan vol BPH.
2.Menentukan derajat disfungsi buli2 dan vol.residu urin &
mencari kelainan patologi lain.
Pemeriksaan:
Foto polos abdomen
USG transrektal
Pielografi intravena

Derajat berat hipertrofi prostat


berdasarkan gambaran klinis
Derajat I : colok dubur didapat
penonjolan prostat, batas atas
mudah diraba, sisa volume urin
<50 ml
Derajat II : penonjolan prostat jelas,
batas atas dapat dicapai, sisa
50-100 ml
Derajat III : batas atas tidak dapat
diraba, sisa > 100 ml
Derajat IV : retensi urin total

Diagnosis Banding
Kelemahan otot detrusor akibat kelainan
saraf misal pada lesi medula spinalis,
neuropati diabetes, penggunaan obat2an
(penenang, penghambat reseptor ganglion
dan para simpatolitik).
Kekakuan leher buli2 disebabkan proses
fibrosis.
Resistensi uretra pembesaran prostat
(jinak atau ganas), tumor di leher buli2,
striktur uretra, dan batu uretra

Diagnosis Banding
Kanker prostat
Berkaitan dengan:
Usia: >40 tahun & insidensi meningkat hingga
usia 80-an.
High dietary fat intake, merokok, alkaline
cadmium, & welding industry.
Etiologi:
Genetik (utk familial CaP kromosom 1), hormon,
makanan, lingkungan, & infeksi.

70% di zona perifer kelenjar prostat, 15-20% di zona


sentral, 10-20% di zona transisi.
Gejala: LUTS (gejala obstruktif dan iritatif).
Adanya nodul pada pemeriksaan rektal, nodul irreguler
dan keras.
Diagnosis pasti dengan needle biopsy atau biopsi
instrument (core biopsy).
Biopsi prostat dikerjakan bila:
Pada pemeriksaan colok dubur ada bagian yang
keras/nodul
Nilai PSA > 10 ng/ml atau 4-10 ng/ml dgn PSAD
0,15

Diagnosis Banding (Contd)


Striktur uretra
Berkurangnya diameter dan atau elastisitas uretra
akibat digantinya jaringan uretra dengan jaringan ikat
yg kemudian mengerut sehingga lumen uretra
mengecil.
Etiologi: kongenital, uretritis gonore/ non gonore,
rupture uretra anterior / posterior
Patofisiologi: kandung kemih harus berkontraksi lebih
kuat hingga pada suatu saat melemah. Otot kandung
kemih semula menebal terjadi trabekulasi pada fase
kompensasi timbul sakulasi (penonjolan mukosa
masih di dalam otot) dan divertikel (menonjol ke luar)
pada fase dekompensasi timbul residu urin
infeksi. Tekanan tinggi dalam kandung kemih refluks
urin ke ginjal pielonefritis akut atau kronik gagal
ginjal.

Pengobatan
Tujuan terapi adalah menghilangkan
obstruksi pada leher bulibuli dengan
cara:
1.Medikamentosa,
2.Pembedahan atau
tindakan endourologi yang kurang
invasif.

PENGOBATAN BERDASARKAN
DERAJAT BPH
Derajat
tindakan
I

Belum memerlukan tindakan bedah, hanya pemberian


medikamentosa seperti penghambat adrenoreseptor alfa

II

TURP atau konservatif

III

Reseksi endoskopi dengan syarat < 1 jam, jika > 1 jam maka
dilakukan pembedahan terbuka

IV

Membebaskan penderita dari retensi urin total dengan memasang


kateter, lalu TURP atau pembedahan terbuka

Pilihan terapi pada Hiperplasi Prostat Benigna


Observasi Medikamentosa
Watch full
waiting

Operasi

Invasif minimal

Penghambat
Prostatektomi Stent uretra dengan
adrenergik
terbuka
Penghambat
reduktase
alfa

Endourologi

prostacath

Fitoterapi

1.

TURP

TUBD

Hormonal

2.

TULP

TUMT

Observasi
Watchful waiting

Pasien BPH dengan skor 0-7 (keluhan ringan


yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari).
Saran :
Mengurangi minum setelah makan malam untuk
mengurangi nokturia, menghindari obat2
dekongestan (parasimpatolitik), jangan
menahan kencing terlalu lama.
Setiap 3 bln lakukan kontrol keluhan
(sistem skor), sisa kencing, dan pemeriksaan
colok dubur.

Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa :
Mengurangi resistensi leher bulibuli
dengan obatobatan golongan blocker
(penghambat alfa adrenergik)
Mengurangi volume prostat dengan cara
menurunkan kadar hormon
testosteron/dehidotestosteron (DHT)
melalui penghambat 5 alpha-reduktase .

Medikamentosa
Beberapa golongan obat penghambat alfa adrenergik
adalah terazosin, doxazosin, dan tamsulosin.
Efek sistemik yang merugikan: hipotensi postural
subtipe dari obat penghambat alfa yaitu 1 (prazosin,
terazosin, doksazosin, dan alfuzosin).
Obat2 ini menghambat reseptor2 pd otot polos
trigonum, leher vesica, prostat, kapsul prostat

Relaksasi di daerah prostat

menurunkan tekanan pd uretra pars prostatika

gangguan aliran air seni & gejala (1-2 minggu)

Obat yang menurunkan kadar


dehidrotestorteron: finasteride.
Obat ini merupakan penghambat 5
reduktase yang mencegah terjadinya
perubahan testosteron menjadi
dehidrotestosteron, sehingga penurunan
kadar zat aktif dehidrotestosteron
mengecilnya ukuran prostat.
Efek samping : melemahkan libido,
ginekomastia, menurunkan nilai PSA.

Operasi
Indikasi operasi untuk hiperplasi prostat yang sudah
menimbulkan penyulit tertentu, antara lain:
1.Retensi urine berulang
2.Batu saluran kemih
3.Hematuria
4.Infeksi saluran kemih berulang
5.Tanda penurunan fungsi ginjal
6.Tanda obstruksi berat: divertikel, hidronefrosis.
7.Kelainan pada saluran kemih bagian atas, atau
keluhan LUTS yang tidak menunjukkan perbaikan
setelah menjalani pengobatan medikamentosa.

Operasi
Pembedahan terbuka
Metode dari Millin yaitu melalui melakukan
enukleasi kelenjar prostat melalui pendekatan
retropubik infravesika.
Freyer melalui pendekatan suprapubik transvesika,
dan transperineal.
Pembedahan Endourologi
Memakai tenaga elektrik TURP (Trans Urethral
Resection of the Prostate) atau dengan memakai
energi Laser yaitu TULP (Trans Urethral Laser of
the Prostate).

Operasi
TURP (Transuretral Resection of Prostate)
Tindakan operasi yg paling banyak
dikerjakan
Indikasi : gejala sedang-berat, vol prostat <
90 gram & pasien cukup sehat u/ operasi
Reseksi kelenjar prostat dilakukan
transuretra dengan mempergunakan cairan
irigan (pembilas) agar daerah yang akan
direseksi tetap terang dan tidak tertutup
oleh darah.

Cairan yang dipergunakan berupa larutan


non ionik agar tidak terjadi hantaran
listrik pada saat operasi.
Cairan yang sering dipakai dan harganya
cukup murah adalah H20 steril (aquades).
Kerugian aquades sifatnya yang
hipotonik s/ cairan ini dapat masuk ke
sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah
vena yang terbuka pada saat reseksi

Operasi
Kelebihan air terjadinya hiponatremia relatif atau
gejala intoksikasi air atau sindroma TURP.
Sindroma ini pasien yang mulai gelisah,
kesadaran somnolen, tekanan darah meningkat,
dan terdapat bradikardi.
Untuk mengurangi timbuInya sindroma TURP :
1.Dipakai cairan non ionik yang lain tetapi harganya lebih
mahal daripada aquades antara lain adalah cairan glisin,
2.Membatasi jangka waktu operasi tidak melebihi 1 jam,
3.Memasang sistostomi suprapubik untuk mengurangi
tekanan air pada bulibuli selama reseksi prostat.

Operasi
Keuntungan TURP:
Tidak meninggalkan luka atau bekas
sayatan
Lama operasi lebih singkat
Waktu tinggal di rumah sakit lebih
singkat

Operasi
Kerugian TURP
Selama operasi

Pasca bedah dini

Pasca bedah lanjut

Perdarahan

Perdarahan

Inkontinensi

Sindrom TURP

Infeksi lokal atau


sistemik

Disfungsi ereksi

Perforasi

Ejakulasi retrograd
Striktura uretra

Transurethral incision of the


prostate( TUIP)

Dilakukan tindakan TUIP bila volume


prostat tidak terlalu besar atau
ditemukan kontraktur leher vesica,
prostat fibrotik
Indikasi : keluhan sedang atau berat,
dengan vol prostat normal atau kecil.
Komplikasi : ejakulasi retrograd (037%)

Komplikasi
Jika buli2 mengalami dekompensasi
Retensi urin

Karena produksi urin terus berlanjut,


maka pada suatu saat buli2 tdk mampu lg
menampung urin

Tekanan intravesica

Hidroureter, hidronefrosis, gagal ginjal

Karena selalu terdapat sisa urin


Terbentuk batu endapan dlm buli2

Menambah keluhan iritasi


Hematuria
Sistitis
Bila refluks pielonefritis
Pada waktu miksi pasien harus mengedan
lama-kelamaan menyebabkan hernia
atau hemoroid