Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gravitasi merupakan salah satu cabang ilmu Geofisika. Indikasi adanya gravitasi adalah
bila suatu benda dijatuhkan dari ketinggian tertentu maka benda itu akan selalu jatuh ke
bawah. Fenomena gravitasi dapat di buktikan juga dalam kehidupan sehari hari. Metode
gravitasi merupakan metode untuk mengukur gaya yang disebabkan oleh tarikan massa
didalam bumi. Metode gravitasi didasarkan pada variasi-variasi kecil percepatan gravitasi
yang diukur dipermukaan tergantung dari ketidakteraturan batuan yang berbeda berat
jenisnya pada kedalaman yang dangkal di kulit bumi, letak geografis, ketinggian yang
berbeda - beda, adanya variasi rapat massa dan pengaruh benda - benda langit. Pengaruh
variasi - variasi kecil percepatan gravitasi perlu dikoreksi untuk memperoleh anomali
gravitasi. Interpretasi data anomali gravitasi digunakan untuk memberikan informasi yang
berkaitan dengan keadaan dan letak batuan yang tersembunyi dibawah permukaan, sehingga
dapat memberi jawaban terhadap masalah seperti identifikasi patahan, melokalisir sumber
daya air, energi, dan mineral yang akhir-akhir ini sangat dibutuhkan. Metode gravitasi
memiliki beberapa tahap dan untuk tahap paling akhir yaitu melakukan interpretasi dan
pemodelan dari data yang diperoleh. Setelah melakukan koreksi anomali bouger lengkap
maka menghasilkan data anomali yang selanjutnya akan di interpretasikan.
B.
1.
2.
3.

TUJUAN
Untuk mengetahui ambiguitas dari suatu batuan
Untuk melakukan interpretasi kualitatif dan kuantitatif
Untuk membentuk pemodelan dari data yang diperoleh

ISI
1. Ambiguitas
Ambiguitas merupakan interpretasi data gravitasi yang memiliki sifat tidak unique, artinya
untuk satu profile anomali gravitasi yang memiliki tak hingga solusi. Pada model geologi
bawah permukaan hasil interpretasi anomali gayaberat memberikan hasil yang tidak unik
yaitu untuk satu penampang anomali gayaberat dapat memberikan hasil yang bermacammacam (sifat ambiguity). Sifat ambiguitas ini terjadi untuk semua metode medan potensial,
yang digunakan pada hampir semua metode geofisika, termasuk pada metode gaya berat di
mana model yang bermacam-macam memiliki atau berasal dari kurva dan pola data yang
sama. (Setyana & Setiadi, 2011)
Hal ini terjadi karena sifat integralisasi dari gravitasi itu sendiri hal ini dapat dibuktikan
bahwa dari suatu kurva anomaly dapat diinterpretasikan menjadi bermacam-macam model
tanpa merubah kurvanya. Untuk mengurangi ambiguitas dari hasil interpretasi anomaly

gayaberat maka seorang geologiawan dapat melakukan beberapa analisa seperti : melakukan
koreksi rapat massa latar (back ground density), penentuan kedalarnan benda dengan analisa
panjang gelombang (analisis spectrum), analisa frekuensi teknik gradient vertical, teknik
gradient horizontal, semuanya bersifat matematik. Disamping itu ambiguitas juga dapat
dikurangi dengan teknik non matematik yang meliputi pengkorelasian dengan data geologi,
data bor, data geomagnet, kegempaan dan pengetahuan kontruksi tektonik daerah yang
bersangkutan sebagai acuan. (Setyana & Setiadi, 2011)
2. Interpretasi kualitatif dan kuantitatif
3. Pemodelan
Pemodelan dengan menggunakan software Grav2dc menggunakan input data berupa nilai
anomali gravitasi residual yang telah di-slicing (A-A). Penentuan lintasan slicing ini
dilakukan dengan mengamati kontras densitas yang terjadi dan diperkirakan adanya sesuatu
yang terjadi di antara kontras densitas tersebut. Dalam pemodelan Grav2dv digunakan nilai
kontras densitas terhadap nilai densitas rata-rata yang diperoleh sebelumnya dengan
menggunakan metode parasnis. Dalam prosesing ini diperoleh nilai densitas rata-rata sekitar
2.18 gr/cm3. Dalam melakukan forward modeling metode gaya berat harus diperhatikan
penentuan nilai kontras densitas sehingga akan dihasilkan tren kurva hasil modeling yang
mendekati tren kurva sebenarnya hasil slicing (A-A). Jika kurva dari hasil model telah
mendekati atau sama dengan tren kurva hasil slicing, maka pemodelan yang kita lakukan
telah mendekati struktur bawah permukaan sebenarnya di lapangan. Namun, dari hasil
pemodelan ini tentunya akan menghasilkan keambiguan karena kemungkinan saja setiap
interpreter mendapatkan tren kurva yang sama (tren kurva modeling sesuai dengan tren kurva
hasil slicing), namun dengan model bawah permukaan yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan
data pendukung, seperti data geologi atau data sumur untuk meyakinkan hasil pemodelan yang
dibuat.

http://psg.bgl.esdm.go.id/geosains/234-mengurangi-ambiguitas-dalam-pemodelan-gayaberat-untuk-geologiawan