Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dispareunia yaitu nyeri genital yang menetap atau berulang yang terjadi tepat
sebelum, selama atau setelah berhubungan seksual dan yang menyebabkan penderita
tertekan secara personal.
Masa remaja merupakan masa peralihan atau masa transisi dimana pada masa
ini adalah masa perubahan dari masa anak-anak menjadi dewasa. Mengingat karakter
remaja yang masih labil, serba ingin tahu dan terkadang kurang bisa mengendalikan
emosi, remaja sering melakukan tindakan yang bias disebut penyimpangan sosial.
Dewasa ini jenis penyimpangan sosial yang sering dilakukan remaja adalah perilaku
seks bebas. Perkembangan zaman sepertinya sejalan dengan perkembangan tingkat
remaja yang melakukan seks bebas.
Seks bebas zaman sekarang ini sudah dianggap biasa, padahal dengan
melakukan seks bebas sudah merusak nilai-nilai sosial. Pendidikan pengetahuan
kesehatan reproduksi memang sangat penting, namun jangan sampai salah kaprah
dalam penerapannya.Di Amerika Serikat hampir 1 juta remaja perempuan hamil
setiap tahunnya dan 86 % dari semua jenis PMS terjadi diantara individu umur 15-29
tahun. Situasi tersebut kemungkinan dialami dan bahkan akan meningkat di negara
berkembang, termasuk di Indonesia.
Media Indonesia (6/1) mengutip Kantor Berita Antara menulis, 85 % Remaja
15 Tahun Berhubungan Seks. Warta Kota (11/2) memberi judul, Separo Siswa
Cianjur Ngeseks. Kemudian, Harian Republika terbitan 1 Maret 2007 menulis,
Penyakit Menular Seksual Ancam Siapa Pun. Dalam berita itu ditulis pula,
Hampir 50 % remaja perempuan Indonesia melakukan hubungan seks di luar
nikah. Berita di Republika mengutip hasil survei Perkumpulan Keluarga Berencana
Indonesia (PKBI). Survei dilakukan pada 2003 di lima kota, di antaranya Bandung,
Jakarta, dan Yogyakarta. Hasil survei PKBI, yang juga dikutip Media Indonesia,
menyatakan pula bahwa sebanyak 85 % remaja berusia 13-15 tahun mengaku telah
berhubungan seks dengan pacar mereka. Menurut Direktur Eksekutif PKBI, Inne
Silviane, hubungan seks itu dilakukan di rumah sendiri rumah tempat mereka
berlindung. Sebanyak 50 % dari remaja itu mengaku menonton media pornografi, di

DISPAREUNIA

antaranya VCD. Dari penelitian itu pula diketahui, 52 % yang memahami bagaimana
kehamilan bisa terjadi.
Penelitian lain dilakukan Annisa Foundation, seperti dikutip Warta Kota.
Diberitakan, 42,3 % pelajar SMP dan SMA di Cianjur telah melakukan hubungan
seksual. Menurut pengakuan mereka, hubungan seks itu dilakukan suka sama suka,
dan bahkan ada yang berganti-ganti pasangan. Pada Juli-Desember 2006 terhadap
412 responden, yang berasal dari 13 SMP dan SMA negeri serta swasta. Laila
Sukmadewi, Direktur Eksekutif AF, mengatakan hubungan seks di luar nikah itu
umumnya dilakukan responden karena suka sama suka. Hanya sekitar 9 % dengan
alasan ekonomi. Jadi, bukan alasan ekonomi. Yang lebih memprihatinkan, sebanyak
90 % menyatakan paham nilai-nilai agama, dan mereka tahu itu dosa, ujar Laila.
Dijelaskan, sebagian besar mereka menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas,
sebanyak 12 % menggunakan metode coitus interuptus.
1.2 TUJUAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
Mahasiswa mampu memahami tentang dyspareunia.
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
a. Mahasiswa mampu mengidentifikasi definisi dyspareunia.
b. Mahasiswa mampu mengidentifikasi etiologi dyspareunia.
c. Mahasiswa mampu mengidentifikasi tanda dan gejala dyspareunia.
d. Mahasiswa mampu mengidentifikasi penatalaksanaan dyspareunia.
e. Mahasiswa mampu mengidentifikasi pencegahan dyspareunia.

BAB II
PEMBAHASAN

DISPAREUNIA

2.1 DEFINISI
Dispareunia adalah rasa nyeri yang timbul saat mencoba untuk melakukan
hubungan seksual (senggama) atau saat melakukan senggama.
2.2 ETIOLOGI
Penyebabnya tergantung dari apakah nyeri yang timbul dangkal atau dalam.
a. Nyeri yang dangkal, bisa terjadi akibat :
1) Vagina tidak menghasilkan cairan pelumas yang cukup sehingga terasa
nyeri saat berhubungan seksual. Kondisi ini bisa terjadi karena tidak
cukupnya pemanasan (foreplay), proses penuaan, masa menyusui, atau
2)
3)
4)
5)
6)
7)

pemakaian antihistamin.
Cedera, peradangan atau infeksi pada genitalia.
Peradangan atau infeksi pada saluran kencing.
Meningkatnya sensitivitas daerah genitalia akan rasa nyeri.
Reaksi alergi terhadap kondom atau jel kontrasepsi.
Kelainan bawaan, misalnya sekat abnormal di dalam vagina.
Pembedahan yang mempersempit vagina, misalnya pembedahan untuk

memperbaiki jaringan yang robek saat melahirkan.


8) Robeknya selaput dara pada seorang wanita yang belum pernah
melakukan hubungan seksual.
b. Nyeri yang dalam, bisa terjadi saat atau setelah melakukan hubungan seksual
akibat :
1) Infeksi pada leher rahim, rahim, atau tuba falopi (penyakit radang
panggul)
2) Endometriosis
3) Pertumbuhan pada rongga panggul, misalnya tumor dan kista ovarium
4) Perlengketan antara organ-organ di rongga panggul, yang dapat terjadi
setelah adanya infeksi, pembedahan, atau terapi radiasi untuk kanker
Rasa nyeri juga sangat dipengaruhi oleh faktor psikis, misalnya rasa tidak
nyaman dapat terasa seperti nyeri yang hebat setelah adanya riwayat trauma
seksual, misalnya perkosaan. Rasa marah terhadap pasangan seksual, rasa takut
akan hubungan intim atau kehamilan, atau kepercayaan bahwa rasa nyeri akan
terus ada dapat semakin memperkuat rasa nyeri.
2.3 TANDA DAN GEJALA
Rasa nyeri yang timbul saat akan melakukan hubungan seksual (senggama) atau
saat melakukan senggama dapat dirasakan dangkal, di daerah sekitar lubang vagina
(daerah genitalia atau vulva), atau dapat juga terasa dalam, di daerah panggul ketika
penis masuk ke dalam vagina. Nyeri dapat bersifat tajam, seperti terbakar, atau kram.
DISPAREUNIA

Otot-otot panggul cenderung untuk menjadi kencang dan membuat rasa nyeri
bertambah hebat.
2.4 PENATALAKSAAN
Pasangan didorong untuk dapat menemukan cara lain untuk membuat kepuasan
seksual selain melakukan senggama. Latihan relaksasi otot panggul dapat membantu
mengatasi gejala. Gunakan pelumas buatan sebelum melakukan senggama. Pelumas
dengan bahan dasar air lebih baik dibandingkan yang berbahan dasar minyak, karena
pelumas dengan bahan dasar minyak cenderung untuk membuat vagina menjadi
kering dan dapat merusak alat kontrasepsi lateks, seperti kondom dan diafragma.
Melakukan pemanasan (foreplay) lebih lama dapat meningkatkan cairan pelumas
pada vagina.
Untuk nyeri yang dalam, gunakan posisi yang berbeda untuk melakukan
senggama, misalnya dengan berada pada posisi wanita di atas sehingga ia dapat
mengatur kedalaman penetrasi penis saat berhubungan seksual.
Terapi lain yang lebih spesifik diberikan berdasarkan penyebabnya, misalnya :
a. Pembedahan untuk mengangkat kista atau abses
b. Pembedahan untuk memperbaiki kelainan kongenital yang ada
2.5 PENCEGAHAN
Buat beberapa perbaikan dalam menjaga kebersihan diri untuk membantu
mengurangi rasa sakit atau ketidaknyamanan selama hubungan seks. Hindari mandi
dengan produk beraroma, seperti sabun mandi dan shower gel. Produk ini dapat
mengganggu area genital dan merusak pelumas alami, terutama jika terlalu sering
digunakan. Selain itu, juga hentikan penggunaan douche.

DISPAREUNIA

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dispareunia adalah rasa nyeri yang timbul saat mencoba untuk melakukan
hubungan seksual (senggama) atau saat melakukan senggama. Penyebabnya
tergantung dari apakah nyeri yang timbul dangkal atau dalam.Rasa nyeri juga sangat
dipengaruhi oleh faktor psikis, misalnya rasa tidak nyaman dapat terasa seperti nyeri
yang hebat setelah adanya riwayat trauma seksual, misalnya perkosaan. Rasa marah
terhadap pasangan seksual, rasa takut akan hubungan intim atau kehamilan, atau
kepercayaan bahwa rasa nyeri akan terus ada dapat semakin memperkuat rasa
nyeri.Rasa nyeri yang timbul saat akan melakukan hubungan seksual (senggama)
atau saat melakukan senggama.Terapi lain yang lebih spesifik diberikan berdasarkan
penyebabnya, misalnya : Pembedahan untuk mengangkat kista atau abses dan
pembedahan untuk memperbaiki kelainan kongenital yang ada. Buat beberapa
perbaikan dalam menjaga kebersihan diri untuk membantu mengurangi rasa sakit
atau ketidaknyamanan selama hubungan seks.
3.2 SARAN
Penyusun sangat membutuhkan saran demi meningkatkan kualitas dan mutu
makalah yang kami buat dilain waktu. Sehingga penyusun dapat memberikan
informasi yang lebih berguna untuk penyusun khususnya pembaca umumnya.

DISPAREUNIA

DAFTAR PUSTAKA
B, Rosemary. Dyspareunia. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.

DISPAREUNIA