Anda di halaman 1dari 10

FISIOLOGI BIOTA AIR

Ayu Annisa Kumalah

Jumat, 24 Juni 2011

LAPORAN PRAKTIKUM TOLERANSI TERHADAP


SALINITAS
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan media hidup ikan, media itupun berbeda-beda sesuai kadar
garam yang dikandungnya yaitu perairan tawar, laut dan payau. Ikan yang hidup
pada air tawar mempunyai cairan tubuh yang bersifat hipoosmotik terhadap
lingkungan yaitu kadar garam dalm tubuh ikan lebih besar dari pada kadar garam
yang ada di sekitarnya, sehingga untuk dapat menyusaikan diri, ikan tersebut
banyak mengeluarkan urine. Batas toleransi kadar garam berbeda-beda untuk setiap
jenis ikan. Ikan yang mempunyai batas toleransi yang luas terhadap perbedaan
kadar garam disebut euryhaline, sedangkan yang mempunyai toleransi yang sempit
terhadap perubahan kadar garam disebut stenohaline.
Ikan adalah hewan vertebrata berdarah dingin (poikilotermal), yang pergerakan
dan keseimbangan tubuhnya terutama menggunakan sirip dan umumnya bernapas
dengan insang serta hidup dalam lingkungan air. Ikan memiliki mekanisme fisiologi
yang tidak dimiliki oleh hewan darat, sehingga mengakibatkan ikan harus
mengontrol keseimbangan air dan ion antara tubuh dan lingkungannya, disebut
osmoregulasi.
Semakin jauh perbedaan tekanan osmose antara tubuh dan lingkungan,
semakin

banyak

energi

metabolisme

yang

dibutuhkan

untuk

melakukan

osmoregulasi sebagai upaya adaptasi, namun tetap ada batas toleransi. Karena itu,
pengetahuan ini sangat penting dalam mengelola kualitas air media pemeliharaan,

terutama salinitas.
Tidak ada organisme yang hidup pada air tawar tidak melakukan osmoregulasi,
pentingnya hal ini maka praktikum Toleransi Terhadap Salinitas dilakukan.
1.2 Tujuan dan kegunaan
Tujuan praktikum Fisiologi Biota Air tentang Toleransi Terhadap Salinitas
adalah untuk mengetahui daya toleransi ikan terhadap salinitas. Kegunaan
diadakannya praktikum adalah agar praktikan dapat melihat secara langsung
keadaan dalam mengatasi kisaran salinitas yang tinggi.

II.TINJAUAN PUSTAKA
Daya tahan hidup organisme dipengaruhi oleh keseimbangan osmotik antara
cairan tubuh dengan air (media) lingkungan hidupnya. Pengaturan osmotik itu
dilakukan melalui mekanisme osmoregulasi. Mekanisme ini dapat dinyatakan
sebagai pengaturan keseimbangan total konsentrasi eklektrolit yang terlarut dalarn
air media hidup organisme, (http://www.musida.web.id/indo/osmoregulasi).
Organisme perairan harus melakukan osmoregulasi karena; (1) Harus terjadi
keseimbangan antara substansi tubuh dan lingkungan; (2) Membran sel yang
permeabel merupakan tempat lewatnya beberapa substansi yang bergerak cepat; (3)
Adanya perbedaan tekanan osmose antara cairan tubuh dan lingkungan
(Kimball, 1992)
Proses osmoregulasi pada ikan air tawar menyebabkan mineral dan garam
cepat hilang pada air pemeliharaan, sedangkan pada pemeliharaan ikan laut, air
akan menjadi semakin pekat akibat pengeluaran garam dan pengambilan
air(Subani, 1984).
Ikan sebagai hewan yang hidup di air mempunyai kapasitas osmoregulasi melalui
membran yang dalam hal ini adalah insang. Terganggunya proses osmoregulasi dapat
disebabkan karena insang menjadi lebih permaebel sehingga sulit di lalui air. Akibatnya
pengeluaran garam dari insang menjadi terhenti dan menyebabkan gagal ginjal (Lesmana,

2001).
Insang berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula berfungsi sebagai alat
ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan osmoregulator. Pada
hampir semua ikan, insang merupakan komponen penting dalam pertukaran gas. Insang
terbentuk dari lengkungan tulang rawan yang mengeras, dengan beberapa filamen insang
di dalamnya. Tiap-tiap filamen insang terdiri atas banyak lamella, yang merupakan tempat
pertukaran gas. Tugas ini ditunjang oleh struktur lamella itu yang tersusun atas sel-sel
tiang sebagai penyangga pada bagian dalam. Pinggiran lamella yang tidak menempel pada
lengkung insang sangat tipis, ditutupi oleh epithelium dan mengandung jaringan pembuluh
darah kapiler. Jumlah dan ukuran lamella sangat besar variasinya, tergantung tingkah laku
ikan (Fujaya, 2008).

Klasifikasi ikan mas (Cyprinus caprio L) menurut Khairuman (2008) adalah


sebagai berikut :
Kelas : Osteichthyes
Sub kelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Sub-ordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : Cyprinus carpio L.
Tubuh ikan terdiri atas caput, truncus, dan cauda, diantara mana tidak ada
batas yang nyata sebagai batas antara caput dan truncus dipandang tepi caudal
operculum dan sebagai batas antara truncus dan ekor dipandang anus. Ikan-ikan
yang dapat berenang cepat berbentuk seperti torpedo. TetapiCypri nus lebih
pendek, lebih pipih kearah bilateral dan lebih lebar ka arah dorsoventral
(Radiopoetra, 1996).
Pada bagian kepala ikan mas terdapat lubang mulut (moncong) yang dapat
ditarik ke belekeng. Pada moncong terdapat tulang premaksila yang letaknya paling
depan, maksila yang letaknya pada bagian belakang moncong, adimaksila yang
letaknya pada bagian dorsal dan dentale yang merupakan tulang yang menyokong
rahang bawah. Terdapat pula lekuk hidung yang letaknya disebelah atas di belakang

mulut yang berfungsi sebagai indra penciuman. Mata yang terletak disebelah
belakang lekuk hidung agak ke atas dan tidak mempunyai kelopak mata. Tutup
insang yang tersusun dari empat potongan tulang yaitu operkulum (berupa tulang
yang paling besar dan letaknya paling dorsal), preoperkulum (berupa tulang sempit
yang melengkung seperti sabit dan terletak di bagian depan), interoperkulum
(merupakan tulang sempit yang terletak diantara operkulum dan preoperkulum),
serta tulang keempat yang dinamakan suboperkulum. Terdapat pula membrana
brankhiostegi yaitu berupa selaput tipis yang melekat pada pinggiran tulang tutup
insang sebelah belakang (Djunanda, 1982)

III. METODE PRAKTEK


3.1 Waktu dan Tempat
Pelaksanaan praktikum Fisiologi Biota Air tentang Toleransi Terhadap Salinitas
dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25 April 2011, dimulai dari pukul 13.30 WITA
sampai dengan selesai. Bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas
Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum Fisiologi Biota Air tentang Toleransi
Terhadap Salinitas yaitu Akuarium, bak plastik, timbangan duduk, timbangan
Neraca (o-hauss), penghitung waktu (stopwatch) dan alat tulis menulis. Sedangkan
bahan yang digunakan adalah Ikan mas (Cyprinus carpio), garam dapur (Nacl) dan
air.
3.3 Prosedur Kerja
1. Menyediakan garam dapur sebanyak 200 gram masing-masing dibagi menjadi 9
bagian.
2. Pada perlakuan pertama memasukkan ikan mas kedalam akuarium tanpa
menambahkan garam terlebih dahulu (dalam keadaan normal) lalu menghitung
dan mencatat jumlah pernapasannya dalam selang waktu 3 menit.

3. Perlakuan kedua menaikkan salinitas dengan cara menambahkan garam


sebanyak 200 gram kemudian mengaduk sampai garam larut dalam air
sehingga mendapatkan salinitas yang diperlukan dan mengamati ikan seperti
perlakuan yang sebelumnya.
4. Perlakuan selanjutnya seperti yang telah dilakukan sebelumnya secara
berulang-ulang dengan cara menambahkan 200 gram garam disetiap perlakuan
dengan mencatat jumlah frekuensi membuka dan menutupnya operculum
selama 3 menit sampai ikan mati.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Berdasarkan pada pengamatan maka di dapatkan hasil sebagai berikut:

Grafik 1. Hubungan Salinitas dan Jumlah Respirasi Ikan


Tabel. Kadar garam, salinitas serta jumlah respirasi ikan
Garam
Salinitas
Jumlah Respirasi
(gram)
(%o)
Ikan
0

360

200

10

343

400

15

314

600

20

400

800

25

264

1000

30

121

1200

35

1400

40

1600

45

1800

50

Tabel 2. Berat Ikan


Berat Ikan
Sebelum Perlakuan

11,1 gram

Sesudah Perlakuan

10,4 gram

4.2 Pembahasan

Pada hasil praktikum yang dilakukan, perlakuan pertama ikan dalam keadaan
normal,pergerakannya masih sangat lincah dan pernapasannya stabil. Hal ini sesuai
pernyataan Bachtiar (2004), ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan
tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras dan dapat
hidup baik di daerah dengan ketinggian 150-600 meter dibawah permukaan laut
(dpl) dan pada suhu 25-300 C yang bersalinitas 25-30 %
o.

Dari hasil praktikum diketahui ikan mas termasuk ikan yang memiliki sifat
stenohaline yaitu ikan yang memiliki toleransi yang sempit terhadap perubahan
kadar garam. Hal ini terlihat pada waktu pemberian garam sebanyak 200 gram
pergerakannya sudah tidak stabil dan respirasi ikan sudah mulai lambat, dapat
disimpulkan bahwa bila salinitas meningkat mulai 0 10 ppm maka laju
metabolisme ikan menurun sehingga gerakan membuka dan menutup operkulum
ikan akan lebih lambat. Menurut Romimohtarto, (1999) Pada ikan air tawar tekanan
osmosis merupakan konsentrasi garam dan substansi lain dalam darah harus lebih
tinggi dari air disekitarnya oleh karena perbedaan dalam konsentrasi tersebut pada

ikan air tawar air akan terdorong melalui permukaan tubuh dan insang secara aktif
untuk kemudian diambil garam garamnya dan dikeluarkan sebagai urine yang
banyak.
Pada penambahan kadar garam 400 gram, ikan mengalami ketidakstabilan
dalam pernapasan maupun pergerakannya, pada pernapasannya diketahui lebih
lambat daripada pernapasan pada perlakuan sebelumnya dengan penambahan 200
gram kadar garam. Hal ini disebabkan ikan masih berusaha untuk beradaptasi
dengan lingkungannya dan ikan membutuhkan energi untuk menstabilkan
tubuhnya. Osmoregulasi pada ikan air tawar melibatkan pengambilan ion dari
lingkungan untuk membatasi kehilangan ion. Air akan masuk ke tubuh ikan karena
kondisi tubuhnya hipertonik, sehingga ikan banyak mengeksresikan air dan
menahan ion ( Tafal, 1992).
Adapun pemberian garam pada 600 gram pernapasan pada ikan mas semakin
meningkat, hal ini disebabkan karena ikan mas memerlukan energi yang tinggi
untuk penyusaian dengan lingkunganya. Hal ini sesuai yang dinyatakan oleh Kimbal,
(1992), Perbedaan tekanan osmoregulasi pada beberapa golongan ikan, maka
struktur organ organ osmoregulasinyapun berbeda beda. Semakain jauh
perbedaan tekanan osmose antara tubuh dan lingkungan, semakin banyak energi
metabolisme yang dibutuhkan untuk melakukan osmoregulasi sebagai upaya
adaptasi
Setelah penambahan kadar garam pada akuarium sebanyak 800 gram,
pernapasan ikan sudah lambat ikan terlihat lemas dan pergerakannya tidak tenang.
Pada saat ikan sakit, luka, atau stres proses osmosis akan terganggu sehingga air
akan lebih banyak masuk kedalam tubuh ikan, dan garam lebih banyak keluar dari
tubuh. Akibatnya beban kerja ginjal ikan untuk memompa air keluar dari dalam
tubuhnya meningkat. Bila hal ini terus berlangsung bisa sampai menyebabkan ginjal
menjadi rusak (http://seputarberita.blogspot.com)
Dari grafik yang diperoleh pada praktikum diketahui bahwa ikan mati pada
penambahan 1200 gram garam dapur atau salinitas 35 %o. Hal ini disebabkan karena
ikan tidak mampu lagi megimbangi salinitas yang ada di dalam air, hal ini sesuai

dengan pernyataan Affandi (2001), bahwa ikan sebagai hewan yang hidup di air
mempunyai kapasitas osmoregulasi melalui membran yang dalam hal ini adalah
insang. Insang merupakan organ penting yang mampu dilewati air mapun mineral,
pemeabilitas tinsang yang tinggi terhadapp ion-ion dapat menyebabkan insang pasif
bergerak. Terganggunya proses osmoregulasi dapat disebabkan karena insang
menjadi lebih permeabel sehingga sulit dilalui air. Akibatnya pengeluaran garam
dari insang menjadi terhenti dan menyebabkan gagal ginjal dan akan menyebabkan
ikan mati.
Adapun berat ikan mas (Cyprinus carpio) sebelum perlakuan adalah 11,1 gram
dan berat ikan setelah perlakuan adalah 10,4 gram, hal ini disebabkan karena
pengaruh kadar salinitas yang tinggi ikan akan menyusut dan mengakibatkan
perubahan berat ikan akan menurun, ketika salinitas air bertambah ikan air tawar
akan melakukan daya osmoregulasi dengan cara mengeluarkan urine untuk
menyeimbangkan kadar garam dalam tubuhnya

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan dapat di simpulkan sebagai
berikut :
1. Ikan mas (Cyprinus carpio) termasuk ikan yang memiliki sifat stenohalin
2. Berat ikan sebelum perlakuan lebih besar dibandingkan dengan berat ikan
setelah perlakuan
3. Batas kadar garam yang dibutukan oleh ikan mas untuk dapat bertahan hidup
adalah 30%
4.

Penambahan kadar garam ke dalam akuarium tidak menyebabkan proses

pernapasan pada ikan semakin lambat tetapi proses pernapasan tersebut terjadi
tidak teratur tergantung energi yang dibutuhkan ikan untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya

5.2Saran
Saran saya adalah agar fasilitas dalam mendukung kegiatan praktikum dan alat
kebersihan di dalam lab lebih memadai lagi agar prktikum berlangsung dengan
nyaman dan lab yang digunakan juga tetap bersih.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.musida.web.id/indo/ osmoregulasi. Diakses pada taggal 30 April 2011.
http://seputarberita.blogspot.com. Diakses pada tanggal 30 April 2011.
Affandi, 2001. Perikanan Darat. Sinar Baru, Bandung.
Djunanda, 1982. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Bagian I. Penerbit Buku
Kedokteran, EGC. http.o-fish.com. Diakses pada tanggal 30 April 2011.
Fujaya, 2008. Fisiologi Ikan. PT Rineka Cipta, Jakarta.
Khairuman, 2007. Budidaya Ikan Mas. Kansius, Yogyakarta.

Kimball, 1992. Biologi Dasar. Erlangga, Bogor.


Radiopoetra, 1996. Kualitas Air Untuk Ikan Hias Air Tawar. Proyek Buku Terpadu,
Jakarta.
http://jlcome.blogspot.com/2007/03/osmoregulasi-ikan. Diakses pada tanggal 30
April 2011.
Lesmana, 2001. Organ Keseimbangan Ikan. Gita Media Press, Surabaya.

Subani, 1984. Kehidupan Di Dalam Air. Tira Pustaka, Jakarta.


Romihmohtarto. K., 1999. Biologi Laut. Lippi, Jakarta.
Tafal, 1992. Biologi Laut. Press, Semarang.

AyuAray di 21.39
Berbagi

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar

Beranda

Lihat versi web

Mengenai Saya
Foto
Saya

AyuAray
Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia
UNIVERSITAS TADULAKO FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN PETERNAKAN PS BUDIDAYA
PERAIRAN 09

Lihat profil lengkapku


Diberdayakan oleh Blogger.