Anda di halaman 1dari 6

TUGAS

SISTEM TRANSPORTASI

DISUSUN OLEH

JEPRIS HARI SAPUTRA

(135060101111054)

IWAN FERNANDO SIMARMATA (135060101111056)


CHRISTIOVALNI NATALIA M

(135060101111060)

Penggolongan suatu membutuhkan transportasi masal


Berdasarkan jumlah penduduk, kota digolongkan menjadi sebagai berikut:

a.

Kota kecil, jumlah penduduk 20.000 50.000 jiwa.

b.

Kota sedang, jumlah penduduk 50.000 100.000 jiwa.

c.

Kota besar, jumlah penduduk 100.000 1.000.000 jiwa.

d.

Kota metropolitan, jumlah penduduk 1.000.000 5.000.000 jiwa.

e.

Kota megapolitan, jumlah penduduk di atas 5.000.000 jiwa.

Sumber : http://matakristal.com/tag/kota-metropolitan/

Pengembangan angkutan umum massal adalah satu bentuk kebijakan yang


dapat mendukung tercapainya kota yang berkesinambungan baik itu dari segi
ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pengembangan sistem angkutan umum massal
diyakini dapat memberikan konstribusi terhadap rendahnya biaya transportasi
penduduk yang harus dikeluarkan dalam melakukan kegiatan kesehariaanya
sebagai wujud dari usaha pemenuhan kebutuhan hidup.
Dalam sejarah perkembangan kota, kota-kota di indonesia mengalami kemajuan
sistem angkutan umum meskipun saat ini penggunaanya menjadi menurun dan
baru mulai di bangkitan kembali. Secara umum kota dapat dibagi berdasarkan
jenis angkutannya berupa angkutan individu dan angkutan massal, memiliki ciri
operasi angkutan umum:
Kota Kecil: Angkutan umum terdiri dari Angkutan Kota (Angkot) dan Bus
Sedang, Angkutan Individu: becak dan ojek.
Kota Menengah: Angkutan umum, terdiri dari Bus Besar, Bus Sedang,
Angkutan kota (Angkot) dan bus sedang, Angkutan Individu: becak dan ojek
Kota Besar: Angkutan Massal, terdiri dari Sistem Transit, Bus Besar, Bus
Sedang, Angkutan kota (Angkot) dan Bus Sedang, Angkutan Individu: becak dan
ojek
Kota Metropolitan: Angkutan Massal, terdiri dari Mass Rapid Transit (MRT), Bus
Besar, Bus Sedang, Angkutan Kota (Angkot) dan Bus Sedang, Angkutan Individu:
becak dan ojek.
sumber : http://wwwperadabanpecinta.blogspot.com/2012/12/ujian-take-homemata-kuliah-perencanaan.html

MRT (Mass Rapid Transit) adalah suatu sistem tranportasi perkotaan yang
mempunyai 3 kriteria utama, mass (daya angkut besar), rapid (waktu tempuh cepat dan
frekuensi tinggi), dan transit (berhenti di banyak stasiun di titik utama perkotaan). MRT
merupakan salah satu solusi yang ditawarkan pada masyarakat untuk mengatasi penundaan di
kotakota besar. Berikut adalah sistem yang termasuk dalam MRT:
Sistem MRT
Definisi dan Elemen Sistem
Bus Rapid Transit (BRT) Sistem transportasi berbasis jalan yang mengkombinasikan elemen
stasiun dan kendaraan dengan sistem perencanaan transportasi
kota, umumnya mencakup jalur bus yang terpisah dan modernisasi
teknologi bus. BRT juga umumnya mencakup: (i) sistem turunnaik penumpang yang cepat; (ii) sistem tiket yang efisien; (iii)
stasiun dan halte yang nyaman; (iv) teknologi bus yang ramah
lingkungan; (v) integrasi moda transportasi; (vi) pelayanan
konsumen yang baik.
Commuter rail systems

Kereta komuter yang menghubungkan daerah urban dengan suburban, namun berbeda dari LRT atau metro, dimana perjalanan
lebih panjang dan jalur rel merupakan bagian dari sistem yang
telah ada.

Light Rail Transit (LRT) Sistem transportasi metropolitan berbasis rel elektrik yang ditandai
dengan kemampuan mengoperasikan kereta pendek di sepanjang
jalur eksklusif baik di bawah tanah, udara atau di jalan.
Metro

Sistem transportasi dengan menggunakan kereta berkinerja tinggi,


digerakkan secara elektrik, beroperasi di jalur eksklusif, tanpa jalur
persilangan, dengan peron stasiun yang besar. Metro adalah istilah
internasional untuk subway atau heavy-rail transit.

(sumber: http://austengineer.wordpress.com/2012/12/24/mass-rapid-transit-2/)

Cara Mengatasi Penundaan di Jakarta Selain Menggunakan Transportasi


Cepat Masal
Penundaan di kota- kota besar seperti di Jakarta masih sering terjadi, sudah ada beberapa
solusi yang telah di terapkan untuk mengatasi penundaan tersebut seperti penggunaan
transportasi cepat masal. Namun cara ini masih belum mengurangi penundaan di kota- kota besar,
ada beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk membantu mengurangi penundaan berlebih di
kota- kota besar seperti di Jakarta yaitu :

1. Three in one
Sebuah kebijakan yang diterapkan di DKI Jakarta dengan membatasi mobil pribadi
yang lewat di kawasan tertentu yang dikenal dengan "Kawasan Pembatasan
Penumpang" dimana hanya mobil pribadi yang berpenumpang 3 orang atau lebih
yang diperbolehkan lewat. Hal ini diterapkan guna mengurangi volume kendaraan
pribadi di kawasan tersebut.
2. Menerapkan usia kendaraan yang layak beroperasi.
Peraturan ini diberlakukan dengan harapan dapat mengurangi volume kendaaran
pribadi serta untuk mengurangi polusi udara.
3. Meningkatkan tarif pajak kendaraan bermotor, khususnya kendaraan roda
empat.
Peraturan ini diberlakukan agar masyarakat lebih memilih untuk menggunakan
kendaraan umum dibanding kendaraan pribadi dikarenakan pajak yang begitu besar.
Sehingga hanya masyarakat yang memang benar- benar membutuhkan kendaraan
pribadi saja yang bisa memiliki.
4. Mengadakan pelatihan atau seminar kepada supir-supir angkutan umum tentang
keselamatan dan peraturan berlalu lintas.
Cara ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa percaya warga akan keselamatan
saat menggunakan kendaraan umum.

5. Pembatasan kendaraan dengan sistem electronic road pricing (ERP)


Pembatasan ini diberlakukan untuk mengurangi terjadinya penumpukan kendaraan di
salah satu ruas jalan dan disiapkan jalan alternatif bagi kendaraan yang tidak dapat
melintasi jalan tersebut.
6. Park and ride

kegiatan parkir kendaraan pribadi di tempat parkir dan kemudian


melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus atau kereta api. Banyak
ditemukan di stasiun kereta api di pinggir kota ataupun stasiun/shelter
busway di pinggir kota.
Manfaat pengembangan fasilitas parkir dan menumpang antara lain adalah:
Membantu mengurangi kemacetan lalu lintas di pusat-pusat kegiatan,
Mendorong masyarakat untuk meningkatkan penggunaan angkutan umum,

Mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi Gas rumah kaca karena
angkutan umum menghasilkan emisi gas rumah kaca per penumpang km
yang lebih rendah ketimbang menggunakan kendaraan pribadi,
Mengurangi kebutuhan ruang parkir dipusat kota.
Di wilayah Jabotabek banyak ditemukan fasilitas park and ride di lintasan kereta
api Jabotabek yang ada di pingiran kota seperti di Bekasi, Bogor serta di awal
lintasan TransJakarta seperti di Ragunan.
Kiss and Ride

Salam dan menumpang lebih dikenal sebagai kiss n ride merupakan fasilitas untuk
menjemput dan mengantar ke stasiun/tempat perhentian, dimana penumpang
angkutan umumnya memberi salam/kiss kepada pengantar ataupun penjemputnya.
Sistem ini berkembang dibeberapa sistem angkutan massal di Amerika dan Eropah
dan kemudian berkembang kenegara-negara lainnya.
Fasilitas yang perlu diberikan adalah tempat untuk menunggu bagi sepeda motor
ataupun mobil pada saat menjemput, tetapi yang perlu diperhatikan waktu
menunggu yang tidak terlalu lama, sebab kalau menunggunya lama akan
memerlukan fasilitas yang sangat luas. Dengan berkembangnya tehnologi telepon
genggam yang semikian maju maka penjemput dapat datang dalam waktu selisih
waktu yang tidak lama dengan penjemput. Sedang untuk penumpang yang
dijemput biasanya disediakan fasilitas tempat duduk untuk menunggu
penjemputan.
Bike and Ride
Hampir sama seperti park and ride, namun kendaraan yang digunakan melainkan
sepeda pribadi. Dibeberapa negara disediakan tempat untuk menaruh sepeda di
transportasi umum. Sehingga pengguna sepeda dapat dengan mudah melakukan
pergerakan.
(sumber:
http://id.wikibooks.org/wiki/Manajemen_Lalu_Lintas/Fasilitas_pendukung)