Anda di halaman 1dari 4

Kenapa agamamu melarang memakan daging

Sapi?
07:21 By admin
http://lyakbali.blogspot.co.id/2016/02/kenapa-agamamu-melarang-memakan-daging.html
#RENUNGAN

Melihat banyaknya arca-arca sapi di tempat suci Hindu baik yang ditemukan di situs purbakala
maupun di tempat-tempat suci yang masih aktif digunakan sebagai tempat peribadatan
mengundang sebuah anggapan salah kaprah terhadap Hindu. Orang sebagian besar orang, Hindu
identik dengan penyembah sapi. Apa lagi pada kenyataannya sebagian besar umat Hindu di dunia
berpantang untuk mengkonsumsi daging sapi. Benarkah Hindu memuja Sapi?
Berdasarkan peradaban Veda, sapi memang merupakan binatang yang sangat di sakralkan.
Diuraikan bahwa sapi merupakan lambang dari ibu pertiwi yang memberikan kesejahtrean kepada
semua makhluk hidup di bumi ini. Karena itulah para umat manusia diajarkan untuk tidak
menyemblih dan memakan daging sapi. Selain mempunyai manfaat di dalam kehidupan rohani,
sapi juga memelihara kita di dalam kehidupan material kita seperti misalnya dengan memberikan
susu sapi dan berbagai produk susu. Selain susu dan berbagai produk, sapi juga memberikan
berbagai jenis bahan obat-obatan seperti misalnya kencing sapi dan tahi sapi yang bahkan
ilmuwan modern sekalipun menerima bahwa air kencing sapi dan kotoran sapi mengandung zat
anti septik yang bisa digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Di India, didalam sistem

pengobatan Ayur Veda, terdapat teknik yang di sebut pengobatan panca gavya. Panca gavya
adalah lima jenis produk yang di hasilkan oleh sapi yaitu; susu, yogurt, ghee, kencing sapi dan
kotoran sapi. Panca gavya ini diangap sebagai bahan bahan yang menyucikan. Bahkan di dalam
yajna dan memandikan pratima di berbagai kuil, bahan bahan ini sangat diperlukan. Tanpa panca
gavya, seseorang tidak bisa menginstalasi pratima di dalam kuil. Selain bahan bahan yang bisa di
komsumsi dari segi material, sapi juga membantu para petani di dalam berbagai hal. Sapi jantan di
gunakan untuk membajak dan kotoran sapi digunakan untuk pupuk.
Sri Krsna sendiri yang muncul ke dunia material ini memberikan contoh kepada kita semua untuk
menghormati sapi. Beliau bahkan lebih memementingkan sapi dari semua makhluk hidup lainya
termasuk para brahmana. Seprti diuraikan di dalam sastra namo brahmaya-devya gobrhmaa-hitya ca jagad-dhitya kya govindya namo nama.

Di vrndavan, tradisi menghormati sapi-sapi masih berlangsung sampai sekarang. Di beberpa


tempat di daerah pedalaman di Vraja bumi, ketika mereka memasak roti (capati), roti pertama akan
diberikan kepada sapi karena mereka mengangap bahwa krsna hanya akan menerima
persembahan kalau mereka memuaskan sapi-sapi dan para brahmana. kemudian roti kedua di
berikan kepada orang suci yan kebetulan lewat di daerah desa tersebut dan roti lainnya, di
persembahkan kepada Sri Krsna.
Disini hendaknya kita membedakan istilah menghormati dan memuja. Orang Hindu
memperlakukan sapi secara istimewa adalah untuk menghormati sapi, bukan memuja sapi. Hindu
hanya memuja satu Tuhan, eko narayanan na dwityosti kascit tapi menghormati seluruh ciptaan
Tuhan, terutama yang disebut ibu, para dewa yang mengatur alam material dan semua umat
manusia.
Dalam tradisi Hindu dikenal beberapa entitas yang dapat disebut sebagai ibu yang harus kita
hormati, yaitu;
Ibu yang melahirkan kita, yaitu ibu kandung kita sendiri.
Ibu yang menyusui kita walaupun tidak mengandung kita.
Ibu yang memelihara dan mengasuh kita walaupun tidak melahirkan dan menyusui kita.

Sapi yang telah memberikan kita susu, sumber panca gavya dalam pengobatan Ayur
Vedic dan juga yang tenaganya telah kita gunakan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan
kita.
Ibu pertiwi, yaitu bumi dan alam ini yang telah memberikan penghidupan pada kita dan
harus kita jaga kelestariannya.

Sekarang kita gunakan hati nurani kita, apakah kita akan tega membunuh dan memakan daging
sapi yang sudah kita minum susunya, yang sudah membantu pekerjaan-pekerjaan fisik kita dalam
menarik pedati dan juga membajak sawah?
Disaat manusia dapat dengan mudahnya membunuh, memotong kepala ayam dan sapi tanpa
perasaan, maka disaat itulah mereka akan memotong kepala manusia dan bahkan ibu
kandungnya sendiri seperti memotong kepala seekor ayam.
Saya masih teringat di masyarakat kita di kalangan hindu di Bali. Ketika saya masih kecil, orang
tua saya sering memperingatkan bahwa kalau kamu makan daging sapi, kamu tidak boleh datang
ke pura tanpa mandi terlebih dahulu. Peringatan ini di berikan oleh orang tua saya dan sudah
merupakan peringatan turun temurun dari nenek moyang kami. Namu sayangnya beberapa orang
berangapan bahwa karena kalau kita makan daging sapi, maka kita tidak bisa masuk ke pura, itu
berarti sapi adalah binatang haram. Ternyata setelah kita amati dan mempelajari kitab suci veda,
ternyata sapi merupakan binatang yang suci yang dihormati oleh para dewa sekalipun. Bukanlah
karena sapi merupakan binatang haram, maka kalau kita makan daging sapi kita tidak bisa ke pura
tetapi karena sapi merupakan binatang yang sangat suci, sehinga kalau kita memakan daging
sapi, maka kita diangap orang yang sangat berdosa, degan demikian tidak bisa masuk ke pura.
Karena itu, setelah makan daging sapi, kita harus menyucikan diri, paling tidak mandi terlebih
dahulu sebelum memasuki tempat suci.
Ini bukan berarti bahwa kita bisa berlangsung memakan daging sapi dan kemudian mandi dan
menyucikan diri. Tidak! Itu bukanlah proses prayascita yang sejati. Proses prayascita yang sejati
adalah menyucikan diri dari perbuatan berdosa, merenungkan kegiatan berdosa tersebut dan
berusaha untuk menghindari kegiatan tersebut. Kita hendaknya tidak melakukan prayascita seperti
gajah mandi. Sri Pariksit maharaj di dalam Srimad Bhagavatam menguraikan sebagai berikut.
kvacin nivartate bhadrt
kvacic carati tat puna
pryacittam atho prtha
manye kujara-aucavat
Kadang kadang, orang sadar akan kegiatan berdosa namun melakukan kegitan berdosa lagi.
Dengan demikian saya mengangap proces melakukan kegiatan berdosa yang berulang ulang dan
penyucian berulang ulang sebagai hal yang tidak berguna. Ini sama halnya dengan gajah mandi
( kunjara-sauca-vat), karena gajah membersihkan dirinya dengan mandi namun begitu selesai
mandi dan kembali ke daratan, sang gajah akan menghamburkan lumpur pada kepala dan
badannya. ( Srimad Bhagavatam, 6.1.10).

Jadi ajaran dari orang tua kita, tidak boleh ke pura setelah makan daging sapi, hendaknya diambil
serius dan menghindari daging sapi selama lamanya dan berusaha mengerti keagungan sapi.
Diuraikan juga bahwa orang yang membunuh sapi, atau makan daging sapi, akan menderita di
planet neraka selama ratusan tahun untuk membayar satu dari bulu sapi yang mereka makan.
kalau seseorang makan daging sapi yang memliki seratus ribu bulu, maka orang tersebut mesti
menderita di neraka selama 100.000 dikali 100 tahun. Sudah tentunya kita menghindari
penyemblihan sapi dan makan daging sapi bukan karena takut untuk masuk neraka tapi karena
rasa kasih sayang kita kepada sapi yang telah berkenan memberikan kita berbagai jenis makanan
seperti yang telah diuraikan di atas.