Anda di halaman 1dari 3

Rahmi Nadhilah Putri

1310321007
Bahasa
Menurut psikologi evolusioner, perkembangan bahasa mungkin mengilustrasikan kesiapan
biologis dalam proses belajar manusia secara lebih dramatis dibandingkan fenomena lain.
Argumen yang mementang bahasa dari perspektif tradisional dimulai dari tantangan yang
diajukan Noam Chomsky ( 1959, 1957) meskipun perlu dicatat bahwa Chomsky sendiri
bersikap skeptis terhadap fenomena bahasa dari pembahasan evolusioner. Pertama, Chomsky
menyatakan bahwa anak menyusun deretan kata dan kalimat yang unik dan relatif komplet,
bukan hanya mengulangi kalimat atau kata yang diperkuat. Demikian pula anak-anak
mengatakan hal-hal yang belum, atau tidak mungkin diajarkan dilingkungannya. Contohnya,
tidak mungkin seorang anak diajarkan mengatakan Yes, I eated the candy, I dood it!.
Argumen kedua, anak mengembangkan pemahaman gramatikal tanpa instruksi formal. Yakni,
mereka menggeneralisasikan dan memahami aturan dasar berbahasa dan siap memahami
kalimat dan frasa tertentu. Pendapat Chomsky bahwa sejatinya otak secara alamiah
memahami dan menciptakan bahasa.
Steven Pinker dalam bukunya The Languange InstinctI(1995) mengambil langkah logis untuk
meletakkan organ bahasa Chomsky kedalam psikologi evolusioner. Pinker berpendapat ada
bahasa universal, aturan yang umum untuk setiap bahasa. Semua bahasa mengakui masa lalu,
kini dan sekarang; semua bahasa punya referensi pelafalan; semua bahasa memiliki susunan
subjek/tindakan; semua bahasa memiliki tata kalimat plural/jamak dan semua bahasa
memiliki kaidah memodifikasi kalimat menjadi kalimat tanya.
Kedua, Pinker mengatakan bahwa semua anak secara biologis sudah siap untuk menyusun
struktur gramatikal, bahkan tanpa model atau petunjuk. Anak-anak secara biologis
menciptakan sistem gramatikal dan menggunakan perangkat bahasa yang paling fundamental.
Terakhir, argumen mengenai bahasa ini adalah dengan menghadirkan mekanisme genetik
yang dapat diwariskan.
Pandangan Psikologi Evolusioner tentang Pendidikan

Psikolog evolusioner akan setuju dengan Thorndike dan Piaget bahwa anak seharusnya
diajari hal-hal ketika mereka sudah siap untuk mempelajarinya, namun mereka mungkin akan
berbeda dalam jenis belajar yang dikaji teori lain. Contohnya, psikologi evolusioner
menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri,
xenophobia dan agresi. Disposisi semacam itu akan muncul kecuali faktor kultural bisa
menghambatnya.
Dilain pihak, psikolog evolusioner juga percaya bahwa manusia secara biologis siap untuk
belajar hal-hal positif yang diterima oleh kultur.
Psikolog evolusioner mengingatkan pendidik untuk menghindari nothing-butism, yakni
asumsi bahwa perilaku ditentukan oleh gen atau kultur saja. Menurut psikolog evolusioner,
perilaku manusia selalu merupakan fungsi dari keduanya.
Evaluasi Psikologi Evolusioner
Kontribusi
Psikologi evolusioner membedakan antara proximate explanation dengan ultime explanation
tentang perilaku. Proximate explanation merujuk pada kondisi deprivasi, stimulus lingkungan
yang dapat diamati, kontingensi penguatan, dan sejarah belajar organisme. Ultimate
explanation menekankan pada ciri bawaan dan perilaku organisme yang dibentuk dari seleksi
alam.
Manfaat dari penjelasan yang lebih lengkap ini tampak jelas. Kita telah melihat bahwa hasil
riset yang tampak melanggar prinsip belajar yang sudah diketahui telah diatasi dengan
penjelasan evolusi. Selain itu, psikologi evolusioner memberi fungsi heuristik yang penting.
Kritik
Kritik paling umum terhadap psikologi evolusioner adalah klaimbahwa argumen evolusioner
bersifat sirkular (memutar). Artinya, pengkritik mengatakan bahwa adaptasi yang sukses
didefinisikan sebagai ciri bawaan fisik atau behavioral yang menjaga seleksi alam,
karenanya, jika suatu perilaku eksis pada satu generasi, ia pasti dipilih dan karenanya akan
menjadi adaptasi yang sukses.

Kedua, penjelasan evolusi tentang perilaku mencakup doktrin determinisme genetik, yakni,
jika kita adalah produk dari warisan genetik, maka kita akan mewarisi gen yang serakah dan
mementingkan diri sendiri.
Ketiga, pengkritik khawatir bahwa psikologi evolusioner menyebabkan kembalinya
Darwinisme sosial, doktrin yang menjustifikasi nepotisme, rasisme , dan mungkin bahkan
pembiakan selektif.
Keempat, kritikus mengklaim bahwa predisposisi genetik tidak mencakup proses belajar.
Akibatnya, pengkritik ini mengatakan bahwa jika suatu perilaku adalah hasil dari proses
genetik, maka perilaku itu tidak dipelajari. Situasi hanya memunculkan perilaku, jadi semua
perilaku dideskripsikan sebagai gugusan respons yang tidak dikondisikan. Akan tetapi,
psikologi evolusioner hanya mengklaim bahwa evolusi memengaruhi dan membiaskan proses
belajar. Proses belajar dibatasi oleh faktor-faktor bawaan. Seperti dikatakan Pinker (1994)
Psikologi evolusioner bukannya tidak menghargai proses belajar tetapi berusaha untuk
menjelaskan proses itu... tidak ada proses belajar tanpa mekanisme bawaan yang
menyebabkan proses belajar terjadi