Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA)
atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/
Obat berbahaya) merupakan masalah yang sangat kompleks. Meskipun dalam Kedokteran,
sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) masih
bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut
indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran dijalur ilegal,
akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi
muda. Bahkan dapat berdampak fatal hingga dapat terjadi intoksikasi obat bila penggunaan
yang terlalu berlebihan. (Hawari 2001)
Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja, tapi sudah
sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial
ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Pada masa sekarang ini
NAPZA beredar banyak dikalangan anak anak usia sekolah, usia remaja dan bahkan usia
dewasa namun tampaknya generasi muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap
NAPZA. Karena ketidaktahuan dan minimnya pengetahuan tentang obat obatan dari anak
anak usia sekolah sering kali banyak yang mengkonsumsi dan mengakibatkan efek efek yang
tidak diinginkan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang kedepannya. Oleh karena
itu kita semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya terhadap ancaman kelangsungan
pembinaan generasi muda.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGGUNAAN NAPZA
Narkotika dan Obat-obatan terlarang (NARKOBA) atau Narkotik, Psikotropika, dan Zat
Aditif (NAPZA) adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi
seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan
psikologi.
Narkotika menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika, yaitu zat atau obat yang berasal dari
tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan
rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Psikotropika yaitu zat atau obat, baik alami maupun sintesis, bukan narkotik yang berkhasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf dan menyebabkan perubahan khas
pada aktifitas mental dan perilaku. (http://dedihumas.bnn.go.id/)
Menurut buku pedoman praktis mengenai penyalahgunaan NAPZA, NAPZA (Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh
manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga
menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan,
ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. NAPZA sering
disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan
perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.
Ada berbagai jenis NAPZA yang sering kali disalahgunakan antara lain adalah :
1. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis
maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan. (Menurut Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika).
Narkotika dibedakan kedalam golongan-golongan :

Narkotika Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu
pengetahuan, dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi

menimbulkan ketergantungan. (Contoh : heroin/putauw, kokain, ganja).


Narkotika Golongan II :Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai
pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan

(Contoh : morfin, petidin).


Narkotika Golongan III :Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan (Contoh : kodein)

Narkotika yang sering disalahgunakan adalah Narkotika Golongan I :


- Opiat : morfin, heroin (putau), petidin, dan lain-lain .
- Ganja atau kanabis, marihuana.
- Kokain, yaitu serbuk kokain.
2. Psikotropika
Menurut Undang-undang RI No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika yang dimaksud dengan
psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika, yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Psikotropika dapat dibedakan dalam golongan-golongan sebagai berikut :

Psikotropika Golongan I :Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk


kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai
potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. (Contoh : ekstasi, shabu,

LSD)
Psikotropika Golongan II :Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat
digunakan dalam terapi, dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi
kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan . ( Contoh amfetamin, metilfenidat atau

ritalin)
Psikotropika Golongan III :Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh : pentobarbital,

Flunitrazepam).
Psikotropika Golongan IV :Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas
digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai

potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan. Sebagai contoh adalah pil


Koplo/pil Kasaran (triheksifenidil) seperti yang akan dibahas di bab ini. Pil kasaran
adalah obat penenang yang menyebabkan badan menjadi lemas, rileks, kepala pusing,
halusinasi, dan emosi bertambah. Menurut salah satu pengurus RPSA, pil kasaran
merupakan nama sandi yang digunakan oleh anak jalanan untuk menyebut pil trihek
atau trihexyphenidyl (THP). Trihexyphenidyl adalah obat yang digunakan untuk
pengobatan penyakit parkinson dan meringankan efek samping dari antipsikotik.
Trihexyphenidyl banyak disalahgunakan baik oleh pasien penyakit parkinson maupun
pihak-pihak lain, termasuk remaja dan anak jalanan. Efek penyalahgunaan pil trihex
antara lain euforia, gembira, perubahan mental, halusinasi, dan lebih berani. Ada juga
contoh

lainnya

seperti

diazepam,

bromazepam,

Fenobarbital,

klonazepam,

klordiazepoxide, nitrazepam, seperti pil BK, Rohip, Dum, MG.


3. Zat Adiktif lainnya
Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut
Narkotika dan Psikotropika, meliputi : Minuman berakohol, Inhalansia, dan tembakau.
(www.bnn-dki.com)
B. TRIHEXYPHENIDYL
Trihexyphenidyl dengan nama dagang yaitu hexymer dan kebanyakan orang awam
menyebutnya sebagai pil koplo/pil kasaran merupakan salah satu jenis psikotropika golongan
IV yang cukup sering disalahgunakan.
Triheksifenidil merupakan obat yang sering digunakan apabila didapatkan sindrom
ekstrapiramidal sebagai akibat penggunaan antipsikotik. Obat ini lebih dikenal sebagai
antiparkinson. Banyak hal yang belum diketahui dalam penggunaannya selama ini. Efek
samping obat antipsikotik dapat diketahui dalam bentuk obat-obatan yang bekerja sebagai
bloking reseptor. Antipsikotik mengurangi aktivitas dopamin di jalur nigrostriatal (melalui
blokade reseptor dopamin), sehingga tanda ekstrapiramidal dan gejalanya mirip penyakit
Parkinsons. Dopamin berfungsi sebagai faktor inhibisi dari hormon prolaktin pada reseptor
dopamin di pituitari dan hipotalamus (sistem tuberoinfundibular) yang mengakibatkan
hiperprolaktinemia, dan juga memblok reseptor muskarinik sehingga menimbulkan gejala
mulut kering, pandangan kabur,dan konstipasi.

Obat antipsikotik generasi pertama efektif sebagai terapi gejala psikotik atau skizofrenia
dan memiliki beragam potensi, farmakologi, dan efek samping. Mekanisme kerja yang umum
pada semua antipsikotik generasi pertama adalah ikatan yang tinggi pada reseptor dopamin.
Obat ini menyebabkan sindroma ekstrapiramidal (EPS), termasuk parkinsonism, distonia,
akathisia dan tardif diskinea dengan derajat yang berbeda.
Antipsikotik generasi kedua merupakan bahan terapeutik unik yang masih perlu diteliti
lagi oleh industri farmasi dan peneliti psikofarmakologi. Antipsikotik generasi kedua sebagai
terapi utama untuk skizofrenia dan penggunaannya meningkat selama ini untuk menangangi
skizofrenia. Antipsikotik generasi kedua memiliki keuntungan yaitu kurangnya kejadian EPS
dan tardif diskinesia.
Triheksifenidil adalah antikolinergik yang mempunyai efek sentral lebih kuat daripada
perifer, sehingga banyak digunakan untuk terapi penyakit parkinson. Efek sentral terhadap
susunan saraf pusat akan merangsang pada dosis rendah dan mendepresi pada dosis toksik.
Farmakologi
Triheksifenidil adalah senyawa piperidin, dengan daya antikolinergik dan efek
sentralnya mirip atropin namun lebih lemah. Efek terapeutik sama seperti atropin, meskipun
efek samping yang tidak diinginkan jarang terjadi dan bila terjadi efek samping lebih berat.
Mula kerjanya triheksifenidil 1 jam dengan t eliminasi: 3.3 - 4.1 jam, konsentrasi
puncak dicapai dalam waktu 1-1.5 jam, dan memiliki masa kerja 1-12 jam.
Obat ini spesifik untuk reseptor muskarinik (menghambat reseptor asetilkolin
muskarinik). Triheksifenidil bekerja melalui neuron dopaminergik. Mekanismenya mungkin
melibatkan peningkatan pelepasan dopamin dari vesikel prasinaptik, penghambatan ambilan
kembali dopamin ke dalam terminal saraf prasinaptik atau menimbulkan suatu efek agonis
pada reseptor dopamin pascasinaptik.
Triheksifenidil memiliki efek menekan dan menghambat reseptor muskarinik
sehingga menghambat sistem saraf parasimpatetik, dan juga memblok reseptor muskarinik
pada sambungan saraf otot sehingga terjadi relaksasi.
Pemberian secara oral triheksifenidil diabsorbsi cukup baik dan tidak terakumulasi di
jaringan. Ekskresi terutama bersama urin dalam bentuk metabolitnya.

Komposisi
Tiap tablet oral mengandung triheksifenidil HCl 2 mg atau 5 mg, juga mengandung
pembawa bahan inaktif: magnesium stearate, microcrystalline cellulose , dan sodium starch
glycolate.
Indikasi
Triheksifenidil dapat dipakai segala jenis sindroma parkinson, baik pada pasca
ensefalitis, arteriosklerosis ataupun idiopatik. Triheksifenidil juga efektif pada sindroma
parkinson akibat obat misalnya reserpin dan fenotiazin. Biasanya triheksifenidil digunakan
sebagai terapi yang dikombinasi dengan levodopa untuk parkinsonism. Triheksifenidil
sebagai terapi efek samping esktrapiramidal yang diinduksi oleh antipsikotik dan obat-obatan
sistem saraf sentral seperti dibenzoxazepines, phenothiazines, thioxanthenes, dan
butyrophenone. Penggunaan obat antiparkinson dianjurkan tidak lebih dari 3 bulan (risiko
timbul atropine toxic syndrome). Pemberian antiparkinson profilaksis tidak dianjurkan,
karena dapat mempengaruhi absorpsi obat antipsikotik sehingga kadarnya dalam plasma
rendah.
Penghentian triheksifenidil secara mendadak maka tubuh akan memerlukan waktu
untuk penyesuaian, sehingga dosis diatur turun secara perlahan. Dosis spesifik sesuai dengan
kebutuhan pasien. Terapi harus mulai dosis terendah yang direkomendasikan dan dinaikkan
secara bertahap dengan melihat kondisi klinis dan adanya kejadian toleransi. Triheksifenidil
diberikan 1 mg sampai 4 mg 2 kali sampai 3 kali sehari dan dosis tidak lebih dari 15 mg
sehari. Dosis dinaikan sampai diperoleh hasil yang diharapkan. Triheksifenidil diberikan 4
sampai dengan 8 minggu, dan coba diturunkan untuk melihat apakah pasien masih
membutuhkan. Obat dihentikan secara perlahan selama satu sampai dengan dua minggu.
Pemberian antikolinergik sebagai pencegahan masih diperdebatkan karena gejala
parkinsonism akibat antipsikotik biasanya cukup ringan dan timbul secara bertahap sehingga
baru diberikan bila sudah timbul gejalanya.
Gejala ekstrapiramidal diinduksi obat antipsikotik dapat diberikan per oral, rentang
dosis harian umum 5-15 mg dengan dosis awal 1 mg. Jika reaksi tidak terkendali dalam
beberapa jam, tingkatkan dosis secara bertahap sampai pengendalian gejala tercapai.
Pengendalian gejala yang lebih cepat dapat terjadi dengan menurunkan dosis antipsikotik saat

memulai terapi triheksifenidil, dan kemudian sesuaikan kedua obat sampai efek yang
diinginkan menetap.
Pemberian triheksifenidil harus memperhatikan adanya gagal jantung kronis, edema,
epilepsi, glaukoma, tekanan darah rendah, hipertrofi prostat atau retensi urin. Triheksifenidil
dapat memperburuk gejala penyakit tersebut.
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap triheksifenidil atau komponen lain dalam sediaan dapat terjadi
glaukoma sudut tertutup, obstruksi duodenal atau pilorik, peptik ulcer, obstruksi saluran urin,
akalasia dan myastenia gravis. Publikasi penggunaan triheksifenidil yang aman pada wanita
hamil dan menyusui belum pernah dipublikasikan, sehingga keuntungan pemberian
triheksifenidil harus lebih dipertimbangkan daripada kemungkinan risiko yang ditimbulkan.
Triheksifenidil tidak direkomendasikan penggunaannya pada anak-anak karena keamanan
dan keefektivan pada kelompok umur pediatrik belum pernah dipublikasikan.
Triheksifenidil di Bidang Psikiatri
Antipsikotik generasi pertama mempunyai mekanisme kerja yang sama yaitu dengan
cara memblok reseptor dopamin dengan efikasi yang sama. Perbedaan efek samping
tergantung pada potensi obat. Antipsikotik potensi tinggi mempunyai ikatan yang kuat
dengan reseptor dopamin daripada antipsikotik potensi rendah, dosis rendah pada obat
potensi tinggi mempunyai efek yang sama dengan dosis tinggi pada obat potensi rendah.
Antipsikotik tersebut mempunyai efek yang berbeda pada reseptor dopamin dan pada sistem
neurotransmiter yang lain menentukan kerja farmakologi dan efek samping. Antipsikotik
potensi

tinggi

(haloperidol

dan

flufenazin)

mempunyai

efek

samping

sindroma

ekstrapiramidal (EPS) yang tinggi, resiko mengantuk yang sedang, dan resiko rendah efek
samping antikolinergik dan antiadrenergik (hipotensi ortostatik). Antipsikotik potensi rendah
(clorpromazin dan tioridazin) mempunyai efek samping EPS yang rendah, resiko tinggi
mengantuk, dan beresiko tinggi efek samping antikolinergik dan antiadrenergik. Antipsikotik
potensi moderat (loxapin, molindon, ferfenazin, dan tiotixin) memiliki resiko moderat pada
efek samping yang umum. Sindroma Ekstrapiramidal (EPS) termasuk reaksi distonia akut,
sindroma parkinsonism, akathisia, tardif diskinesia, dan sindroma neuroleptik malignan.
Antipsikotik

atipikal

lebih

sedikit

menyebabkan

EPS,

itulah

sebabnya

mereka

direkomendasikan sebagai obat garis pertama. Penurunan dosis dilakukan terlebih dahulu jika
7

terjadi efek samping sindroma ekstrapiramidal. Obat antikolinergik misalnya triheksifenidil,


benztropin, sulfas atropine, atau difenhidramin injeksi intra muskular atau intra vena
diberikan jika cara pertama tidak berhasil menanggulangi gejala EPS. Obat yang paling
sering digunakan adalah triheksifenidil dengan dosis 3 kali 2 mg per hari, dan disarankan
untuk mengganti jenis antipsikotika yang digunakan jika kedua langkah sebelumnya tidak
berhasil.
Efek Samping Triheksifenidil
Efek samping merugikan dihasilkan dari penghambatan reseptor asetilkolin
muskarinik. Antikolinergik sering digunakan sebagai obat yang disalahgunakan di jalanan.
Potensi penyalahgunaan tersebut adalah berhubungan dengan sifat meningkatkan mood yang
ringan pada pemakaian triheksifenidil dosis besar.
Efek samping perifer yang umum adalah mulut kering, kurang berkeringat, penurunan
sekresi bronkhial, pandangan kabur, kesulitan buang air kecil, konstipasi, dan takikardia.
Efek samping sentral dari antikolinergik termasuk sulit berkonsentrasi, perhatian, dan
memori. Efek samping ini harus dibedakan dari gejala yang disebabkan oleh psikotik.
Gangguan psikiatri dapat disebabkan pemakaian sembarangan (sampai dosis berlebihan)
berlanjut menjadi euphoria. Physostigmine yang beraksi sentral dan perifer mengubah
kembali asetilkolinesterase, dapat digunakan sebagai obat diagnostik pada kasus diduga
keracunan antikolinergik. Pemberiannya melalui intramuskuler dosis 1-2 mg atau intravena
tidak lebih dari 1mg/menit.
C. GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENGGUNAAN ZAT
Gangguan yang bervariasi luas dan berbeda keparahannya diakibatkan oleh karena
penggunaan satu atau lebih zat psikoaktif (dengan atau tanpa resep dokter).
INTOKSIKASI AKUT
Intoksikasi akut merupakan suatu kondisi peralihan yang timbul akibat penggunaan
alkohol atau zat psikoaktif lain sehingga terjadi gangguan kesadaran, fungsi kognitif,
persepsi, afek atau perilaku, atau fungsi dan respons psikofisiologis lainnya.
Intensitas intoksikasi berkurang dengan berlalunya waktu dan pada akhirnya efeknya
menghilang bila tidak terjadi penggunaan zat lagi. Dengan demikian orang tersebut akan
8

kembali ke kondisi semula, kecuali jika ada jaringan yang rusak atau terjadi komplikasi
lainnya.
PENGGUNAAN YANG MERUGIKAN
Adanya pola penggunaan zat psikoaktif yang merusak kesehatan, yang dapat berupa
fisik (seperti pada kasus hepatitis karena menggunakan obat melalui suntikan diri sendiri)
atau mental (misalnya episode gangguan depresi sekunder karena konsumsi berat alkohol).
SINDROM KETERGANTUNGAN
Diagnosis ketergantungan dapat ditegakkan jika ditemukan 3 atau lebih gejala di bawah
ini dalam masa 1 tahun sebelumnya :
a. Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa untuk penggunaan zat
psikoaktif.
b. Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan zat, termasuk sejak mulainya,
usaha penghentian, atau pada tingkat sedang menggunakan.
c. Keadaan putus zat secara fisiologis ketika penghentian penggunaan zat atau
pengurangan, terbukti dengan adanya gejala putus zat yang khas, atau orang tersebut
menggunakan zat atau golongan zat yang sejenis dengan tujuan untuk menghilangkan
atau menghindari terjadinya gejala putus zat.
d. Terbukti adanya toleransi, berupa peningkatan dosis zat psikoaktif yang diperlukan
guna memperoleh efek yang sama yang biasanya diperoleh dengan dosis lebih rendah
(contoh yang jelas dapat ditemukan pada individu dengan ketergantungan alkohol dan
opiat yang dosis hariannya dapat mencapai taraf yang dapat membuat tak berdaya
atau mematikan bagi pengguna pemula.
e. Secara progresif mengabaikan menikmati kesenangan atau minat lain disebabkan
penggunaan zat psikoaktif, meningkatnya jumlah waktu yang diperlukan untuk
mendapatkan atau menggunakan zat atau untuk pulih dari akibatnya.
f. Tetap menggunakan zat meskipun ia menyadari adanya akibat yang merugikan
kesehatannya.
KEADAAN PUTUS ZAT
Keadaan putus zat merupakan salah satu indikator dari sindrom ketergantungan.
Keadaan putus zat hendaknya dicatat sebagai diagnosis utama, bila hal ini merupakan alasan
rujukan dan cukup parah sampai memerlukan perhatian medis secara khusus.

Gejala fisik bervariasi sesuai dengan zat yang digunakan. Gangguan psikologis
(misalnya anxietas, depresi, dan gangguan tidur) merupakan gambaran umum dari keadaan
putus zat. Yang khas ialah pasien akan melaporkan bahwa gejala putus zat akan mereda
dengan meneruskan penggunaan zat.
NAPZA bekerja di dalam tubuh manusia berbeda-beda tergantung cara pemakaiaannya,
hal ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Melalui saluran pernafasan
Sebagai contoh dihirup melalui hidung (shabu) dan dihisap sebagai rokok (ganja) NAPZA
yang masuk ke saluran pernafasan setelah melalui hidung atau mulut, sampai ketenggorokan
kemudian ke bronkus lalu ke paru-paru melalui bronkiolus dan berakhir di alveolus. Didalam
alveolus, butiran debu NAPZA itu diserap oleh pembuluh darah kapiler, kemudian dibawa
melalui pembuluh darah vena ke jantung. Dari jantung NAPZA disebar ke seluruh tubuh.
NAPZA masuk dan merusak organ tubuh (hati, ginjal, paru-paru, usus, limpa, otak, dan lainlain). NAPZA yang masuk kedalam otak merusak sel otak. Kerusakan pada sel otak
menyebabkan kelainan pada tubuh (fisik) dan jiwa (mental dan moral). Kerusakan sel otak
menyebabkan terjadinya perubahan sifat, sikap, dan perilaku. (Gunawan. 2006)
2. Melalui saluran pencernaan
Sebagai contoh dimakan atau diminum (ekstasi dan psikotropika). Narkoba masuk
melalui saluran pencernaan setelah melalui mulut, diteruskan ke kerongkongan, kemudian
masuk ke lambung, dan diteruskan ke usus. Didalam usus halus, narkoba dihisap oleh jonjot
usus, kemudian diteruskan oleh pembuluh darah kapiler, narkoba lalu masuk ke pembuluh
darah balik, selanjutnya masuk ke hati. Dari hati, narkoba diteruskan melalui pembuluh darah
ke jantung, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Narkoba masuk dan merusak organ-organ
tubuh (hati, ginjal, paru-paru, usus, limpa, otak, dan lain-lain). Setelah di otak , narkoba
merusak sel-sel otak. Karena fungsi hati dan peranan sel otak, narkoba tersebut menyebabkan
kelainan tubuh (fisik) dan jiwa (mental dan moral). Cara pemakaian seperti ini mendatangkan
reaksi lebih lama karena jalurnya panjang. . (Gunawan. 2006)
3. Melalui aliran darah

10

Jalan ini merupakan jalan tercepat. Narkoba langsung masuk ke pembuluh darah vena,
terus ke jantung dan seterusnya sama dengan mekanisme melalui saluran pencernaan dan
pernafasan. (Gunawan. 2006)
Halusinasi merupakan persepsi yang abnormal pada individu dimana ia sadar dan terjaga
akan tetapi tanpa adanya stimulus pada reseptor panca indera yang nyata diluar dirinya.
Halusinasi, dengan kata lain persepsi tanpa objek yang jelas. Halusinasi biasanya dijumpai
pada para pengguna obat-obatan dan narkoba. Penggunaan kokain, LSD, dan berbagai jenis
turunan amphetamine dapat juga memicu munculnya halusinasi. Bahkan pada kasus
penggunaan marijuana (ganja) dapat memunculkan halusinasi secara visual. (Kaplan. 2014)
Macam-macam bentuk halusinasi yang dapat dijumpai pada pengguna NAPZA antara lain
adalah :
1. Halusinasi auditorik (pendengaran)
Halusinasi ini sering berbentuk:
a) Akosama, yaitu suara-suara kebisingan tanpa dapat dibedakan makna secara jelas.
b) Phonema, yaitu suara-suara dari manusia berupa kalimat. Penderita mendengar
kalimat-kalimat secara jelas atau potongan kalimat (kata) tertentu saja
2. Halusinasi visual (penglihatan)
Penderita melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi ini kadang juga dalam
bentuk cahaya.
3. Halusinasi olfaktorik (pembauan)
Penderita merasa mencium sesuatu yang tidak dia sukai.
4. Halusinasi gustatorik (pengecap)
Halusinasi ini sangat jarang dilaporkan atau dijumpai. Individu mengecap sesuatu yang tidak
disukainya, pada penderita schizophrenia berprilaku meludah secara terus menerus karena
merasakan yang tidak disukainya.
5. Halusinasi taktil (perabaan)
Halusinasi ini sering dijumpai pada pecandu narkotika dan obat terlarang.
6. Halusinasi (haptik)
11

Halusinasi ini biasanya beriringan dengan halusinasi taktil dimana seolah-olah tubuh
penderita bersentuhan secara fisik dengan individu atau benda lain. Seringkali halusinasi
haptik ini bercorak seksual, dan sangat sering dijumpai pada pecandu narkoba.
7. Halusinasi kinestetik
Penderita merasa bahwa anggota tubuhnya terlepas dari tubuhnya, mengalami perubahan
bentuk, dan bergerak sendiri. Hal ini sering terjadi pada penderita schizophrenia dan pecandu
narkoba.
8. Halusinasi autoskopi
Penderita seolah-olah melihat dirinya sendiri berdiri dihadapannya.
9. Halusinasi mikrokospik
Beberapa gangguan kecemasan seperti obsesif kompulsif merasakan sesuatu yang bergerakgerak (seperti; kuman, bakteri, insekta) diatas kulitnya. Beberapa kondisi yang
memungkinkan halusinasi. ( Maramis. 2005)
Pada penggunaan NAPZA selain halusinasi dapat ditemukan juga waham yang terjadi
karena ketidak seimbangan neurotransmiter dopamin di otak, dimana terjadi kelebihan
dopamin pada bagian mesolimbik. (Zullies, 2013)
Waham yang dapat ditemukan antara lain adalah :
1. Waham kendali pikir (thought of being controlled). Penderita percaya bahwa
pikirannya, perasaan atau tingkah lakunya dikendalikan oleh kekuatan dari luar.
2. Waham kebesaran (delusion of grandiosty). Penderita mempunyai kepercayaan bahwa
dirinya merupakan orang penting dan berpengaruh, mungkin mempunyai kelebihan
kekuatan yang terpendam, atau benar-benar merupakan figur orang kuat sepanjang
sejarah.
3. Waham Tersangkut. Penderita percaya bahwa setiap kejadian di sekelilingnya
mempunyai hubungan pribadi seperti perintah atau pesan khusus. Penderita percaya
bahwa orang asing di sekitarnya memperhatikan dirinya, penyiar televisi dan radio
mengirimkan pesan dengan bahasa sandi.
4. Waham bizarre, merupakan waham yang aneh. Termasuk dalam waham bizarre,
antara lain : Waham sisip pikir/thought of insertion (percaya bahwa seseorang telah
menyisipkan pikirannya ke kepala penderita); waham siar pikir/thought of
12

broadcasting (percaya bahwa pikiran penderita dapat diketahui orang lain, orang lain
seakan-akan dapat membaca pikiran penderita); waham sedot pikir/thought of
withdrawal (percaya bahwa seseorang telah mengambil keluar pikirannya).
5. Waham Hipokondri. Penderita percaya bahwa di dalam dirinya ada benda yang harus
dikeluarkan sebab dapat membahayakan dirinya.
6. Waham Cemburu. Cemburu disini adalah cemburu yang bersifat patologis.
7. Waham Curiga. Curiga patologis sehingga curiganya sangat berlebihan.
8. Waham Diancam. Kepercayaan atau keyakinan bahwa dirinya selalu diikuti, diancam,
diganggu atau ada sekelompok orang yang memenuhinya.
9. Waham Kejar. Percaya bahwa dirinya selalu dikejar-kejar orang.
10. Waham Bersalah. Percaya bahwa dirinya adalah orang yang bersalah.
11. Waham Berdosa. Percaya bahwa dirinya berdosa sehingga selalu murung.
12. Waham Tak Berguna. Percaya bahwa dirinya tak berguna lagi sehingga sering berpikir
lebih baik mati (bunuh diri).
13. Waham Miskin. Percaya bahwa dirinya adalah orang yang miskin.
(Masilm, 2001)
NAPZA berpengaruh pada sistem saraf pusat antara lain adalah :

gangguan daya ingat


gangguan perhatian / konsentrasi
gangguan bertindak rasional
gangguan persepsi sehingga menimbulkan halusinasi
gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja
gangguan pengendalian diri sehingga sulit membedakan baik dan buruk.

D. GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENYALAHGUNAAN


TRIHEXYPHENIDYL
Trihexyphenidyl terdiri dari piperidin yang merupakan prototipe dari antikolinergika
sintetis, yang digunakan sebagai obat parkinson. Kegunaan obat ini pada kalangan rumah
sakit adalah untuk mengurangi dan memperbaiki tremor itu sendiri. Selain itu trihexyphenidyl
berkhasiat terhadap salivation (gejala keluar liur yang berlebihan). Dosis trihexyphenidyl
sendiri untuk pengobatan parkinson diberikan secara oral yaitu untuk pemula diberikan 2-3
kali sehari 2 mg pada waktu makan, bila memang diperlukan dosis dinaikkan sampai dosis
pemeliharaan 6 12 mg sehari dan maksimal 15 mg sehari. (Sulistia. 2007)

13

Trihexyphenidhyl selain sebagai pengobatan untuk parkinson sering kali disalah gunakan
pada kalangan remaja yang dianggap sebagai obat untuk fly yang murah. Kalangan remaja
yang sering menggunakan trihexyphenidyl biasa nya untuk membuat dirinya merasa tenang
dan nyaman. Ketergantungan ini disebabkan oleh perasaan sesaat setelah meminum obat
sehari-hari yang membuat perasaan nyaman dan tenang.
Hal itu dibenarkan dari beberapa jurnal yang menyatakan bahwa pemakaian
trihexyphenidyl dengan dosis tinggi dapat mengakibatkan efek peningkatan mood (euforia)
selain itu penggunaan yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama dapat
menyebabkan halusinasi. Hal ini disebabkan karena obat trihexyphenidyl bekerja
menghambat reseptor dari asetilkolin dan diduga sistem kolinergik terlibat dalam pengaturan
mood seseorang yang menyebabkan peningkatan perasaan bahkan sampai membuat
seseorang yang mengkonsumsi memiliki halusinasi tersendiri. (Zullies, 2013)
Pada seseorang yang menggunakan trihexyphenidyl dengan dosis berlebih

dapat

mengakibatkan efek peningkatan mood (euforia) ataupun skizofrenia. Hal ini dikarenakan
mekanisme trihexyphenidyl

bekerja untuk reseptor muskarinik (menghambat reseptor

asetilkolin muskarinik). Triheksifenidil bekerja melalui neuron dopaminergik. Dikarenakan


penggunaan trihexylphenydl dengan dosis yang berlebih menyebabkan neuron dopaminergik
meningkat. Sehingga muncul gejala positif, yang dimana gejala postif adalah terdapatnya
waham, halusinasi, gangguan perasaan(euforia) dan perilaku aneh atau tidak terkendali.
Gejala postif tersebut termasuk ciri ciri adanya skizofrenia.

14

KESIMPULAN
Intoksikasi dan penyalahgunaan obat dapat berdampak banyak hal yang tidak
diinginkan dan berbahaya. Mengkonsumsi berbagai macam NAPZA dimana salah satunya
adalah penyalahgunaan triheksifenidil dengan dosis berlebih dapat menyebabkan
ketidakseimbangan neurotransmiter dopamin di otak. Dimana terjadi peningkatan dopamin
pada jaras mesolimbik. Sehingga terdapat kerusakan-kerusakan pada susunan saraf pusat
yang mengakibatkan munculnya gejala positif yang berupa halusinasi dan delusi (waham),
disertai peningkatan mood (euforia).

15

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Weka. (2006). Keren Tanpa Narkoba. Jakarta : Grasindo
Hawari, D. 2001. Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Narkotika, Alkohol & Zat
adiktif). BP FKUI, Jakarta.
Jaid.

Pengertian

Narkoba.

Diakses

dari

http://dedihumas.bnn.go.id/read/section/artikel/2014/03/10/929/pengertian-narkoba
Kaplan, Sadock. 2004. Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2. Hal 147 -167. Jakarta : EGC.
Maslim, Rusdi. 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. 2th ed. Jakarta : Penerbit buku
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.
Swayami, IGAU. 2014. Aspek Biologi Triheksifenidil di Bidang Psikiatri. Hal 88-92. Jurnal
Ilmiah Kedokteran.
Waresniwiro, M. 1997. Narkotika Berbahaya. Jakarta. Mitra Bintibmas.

16