Anda di halaman 1dari 25

BIOMARKERS FOR

STROKE
Journal Reading
Fajar Arismunandar
1420221152
Pembimbing :
Dr. Tan Yosephine, Sp.S

LATAR BELAKANG
Banyak penelitian clinical trial pada stroke mengalami kagagalan selama
satu dekade belakangan ini. Kegagalan ini menunjukkan adanya beragam
keadaan pada pasien pasien stroke. Biomarkers ditujukan sebagai
indikator yang ditemukan di dalam darah, cairan tubuh lain ataupun jaringan
yang mencerminkan fisiologis atau keadaan suatu penyakit, peningkatan
faktor resiko suatu penyakit, atau respon terhadap suatu terapi yang
diberikan. Biomarkers stroke dapat digunakan sebagai alat pedoman untuk
terapi yang lebih efektif.

MAIN CONTENTS
Peran biomarkers pada stroke
Tipe tipe biomarkers pada stroke
Hambatan penggunaan Biomarkers for Stroke

PENDAHULUAN
Biomarkers merupakan sebuah indikator yang berupa kimia ataupun biologi yang
menggunakan darah atau urin sebagai sumbernya yang digunakan untuk menentukan
keadaan suatu penyakit, atau meningkatnya faktor resiko suatu penyakit.
Dalam penelitian bidang infark miokardium, peran biomarker sudah berkembang
selama periode waktu yang lama. Penatalaksanaan berdasarkan biomarker sebagai
indikator juga telah dilakukan di berbagai penyakit seperti diabetes mellitus.
Bertolak belakang dengan hal tersebut, terdapat kemunduran dalam penelitian
biomarker sebagai indikator di penyakit serebrovaskular.
Disini, kita akan mengilas tentang peran biomarkers pada stroke bersamaan dengan
kekuatan dan kelemahannya.

PERAN BIOMARKERS PADA STROKE


Walaupun peran biomarkers lebih spesifik menentukan diagnosis penyakit
dan memprediksikan kedepannya penyakit stroke, biomarkers pada pasien
dengan stroke dapat juga digunakan untuk informasi lainnya seperti resiko
untuk terjadinya stroke, mekanisme stroke yang mungkin terjadi, dan respon
suatu obat yang diberikan.

Menentukan subjek yang memiliki potensi tinggi


Menentukan diagnosis
Menetukan mekanisme stroke
Memprediksikan respon obat dan prognosis kedepannya
Titik Akhir dari clinical trials.

Menentukan subjek yang memiliki potensi tinggi


Walaupun telah banyak program yang dilakukan untuk promosi kesehatan dalam
bidang manajemen faktor resiko stroke konvensional, angka kejadian stroke tidak
kunjung berkurang. Hal ini mungkin diakibatkan oleh adanya factor resiko yang
tersembunyi dari pasien pasien stroke.
Menariknya, beberapa daerah di Amerika Serikat mempunyai angka kejadian
stroke yang tinggi, namun fenomena ini tidak diikuti oleh adanya factor resiko
konvensional dari stroke.
Untuk menentukan factor resiko yang tersembunyi ini, berbagai biomarkers
seperti penanda inflamasi, hemostasis, thrombosis, fungsi endotel, dan aktivitas
neurohormonal terus dievaluasi untuk menentukan factor resiko yang
tersembunyi ini.

Asymmetrical dimethylarginine
(ADMA) yang merupakan inhibitor
endothelial nitric oxide synthase
(eNOS) merupakan sebuah penanda
disfungsi endotel yang berhubungan
dengan meningkatnya kejadian
infark otak tersembunyi.

metabolisme protein
Produk metabolic ADMA
Arginine

NO

Relaksasi otot polos vascular


Vasodilatasi
Meningkatkan aliran darah perfusi

B-type natriuretic peptide (BNP)


yang berefek terhadap aktivitas
vasodilatasi merupakan indicator
dari fungsi endotel yang
berhubungan dengan resiko
terjadinya stroke.

Otot jantung
Peregangan yang berlebihan
Sekresi BNP
Resistensi sistemik menurun

diuresis

Penurunan tekanan darah

Menentukan diagnosis
Walaupun diagnosis stroke terutama menggunakan tehnik neuroimaging, namun
evaluasi dari biomarkers dapat digunakan sebagai jalan alternative untuk
menentukan diagnosis stroke.
Hal ini telah sukses sebelumnya pada penyakit penyakit lain seperti penyakit
jantung (troponin, CK-MB), emboli paru (D-dimer), dan gagal jantung kongestif
(BNP)
Sayangnya, sampai saat ini belum ditemukan biomarkers yang sensitive untuk
stroke

Sekarang ini, kombinasi dari berbagai biomarkers telah menunjukan spesifisitas


yang tinggi dalam mendiagnosis stroke.
Kombinasi biomarker seperti matrix metalloproteinase 9 (MMP-9), BNP, D-dimer,
dan S-100B digabungkan dengan CT-Scan non kontras dapat meningkatkan
sensitivitas untuk diagnosis stroke, walaupun diagnosis tidak selalu sempurna.
Injury sel otak (S 100 B)
Marker inflamasi (CRP)
Trombus (D-dimer)
Yang lainnya (BNP)
CT Scan nonkontras

Kelompok protein S 100 yang tersebar di


seluruh sel
Keadaan inflamasi
Spesifik di dalam sel glia (S 100 B)
Sintesis protein inflamasi hepar
Kerusakan otak akut
CRP
Memasuki CES
Terdeteksi di serum
Terdeteksi di serum

Menetukan mekanisme stroke


Penanda inflamasi, berhubungan dengan terjadinya tanda tanda klinis stroke
pada pasien stroke dengan aterosklerotik
CRP, MMP-9, VCAM, TNF-a, IL-6, VEGF)

Di sisi lain, Penanda molecular yang berupa kematian neuron, dapat


menunjukkan adanya mekanisme infark dari stroke
Glutamate, GABA

Memprediksikan respon obat dan prognosis kedepannya


Telah lama dikenal bahwa setiap pasien berbeda respon terhadap suatu
pemberian obat yang sama
Diantara banyakfaktor yang menyebabkan hal tersebut, genetic factor
merupakan factor tertinggi yang menyebabkan perbedaan respon dengan
estimasi 20 95 %.
Selain farmakogenetik, beberapa biomarker juga berkontribusi dalam
menentukan respon pasien terhadap suatu obat yang diberikan.
Meningkatnya S-100B dan MMP-9 yang merupakan penanda adanya disfungsi
endotel pada BBB dapat memprediksikan timbulnya komplikasi hemoragik pada
stroke iskemik setelah diberikan terapi trombolisis.

Terdapat beberapa bukti bahwa beberapa biomarkers dapat memprediksikan


tanda klinis ataupun radiologis kedepannya dari serangan stroke.
CRP atau sitokin proinflamasi yang meningkat lainnya dilaporkan dapat
memprediksi timbulnya perburukan klinis neurologis pada saat awal awal
setelah suatu serangan akut stroke.
Penanda fungsi pembekuan seperti D-dimer atau vWF dapat juga memprediksikan
prognosis penyakit kedepannya, terutama pada pasien dengan stroke embolik.

Titik akhir dari clinical trials


Pada peyakit kardiovaskular, banyak peneliti yang menggunakan biomarker
sebagai penanda berakhirnya suatu penelitian clinical trial, dengan alasan cepat
dan tidak membutuhkan biaya banyak serta waktu yang relative singkat.
Dalam penelitian bidang stroke, beberapa penelitian sudah mulai mencoba untuk
menggunakan biomarker untuk memonitor efikasi dan keamanan suatu
pengobatan pada clinical trials.

TIPE TIPE BIOMARKERS


Protein
Genetik
Microvesicle
Metabolomics

Protein
Penggunaan biomarkers protein berfokus pada penentuan patofisiologi, diagnosis,
prognostic, dan kematian neuron pada stroke.
Contoh salah satunya adalah CRP
Namun, penelitian lebih lanjut menyebutkan bahwa nilai biomarkers protein
dihasilkan oleh beberapa sebab sehingga menimbulkan bias.
Hal ini menyebabkan timbulnya keraguan akan signifikansi dari nilai biomarkers
protein dalam menentukan stroke dibandingkan dengan factor resiko
tradisionalnya.

Genetik
Banyak penelitian menyebutkan bahwa stroke mempunyai kerentanan genetic,
kemudian beberapa genom telah diinvestigasi.
Diantara semua genomnya, ditemukannya lokus genom 9p21.3 pada stroke
merupakan suatu langkah besar.
Hal ini dikarenakan genom tersebut diprediksikan mampu meningkatkan
reaktivitas platelet.
Namun, masih banyak genom lain yang masih belum menemukan titik terang
dalam hubungannya terhadap stroke.

Mikrovesikel
Mikrovesikel didefinisikan sebagai kumpulan dari berbagai vesikel yang memiliki
diameter berukuran 0.1-1 m
Sebelumnya, mikrovesikel dipercaya bahwa mereka berasal dari sel sel yang
telah mati.
Namun, pandangan ini telah berubah, karena ditemukannya pelindung vesikel
yang terbuat dari bahan yang membutuhkan proses aktif sel.
Mikrovesikel mungkin merupakan kantung yang berisi informasi genetic dan
protein didalamnya.
Telah diidentifikasi bahwa mikrovesikel mempunyai fungsinya sendiri, yaitu
membantu dalam proses vaskulogenesis.
Karena metoda yang digunakan dalam menganalisa mikrovesikel cukup rumit dan
ukurannya yang sangat kecil, penelitian tentang mikrovesikel masih dalam proses
dan belum sempurna

Metabolomik
Biormarkers metabolomik memfokuskan pada profil profil asam lemak, ataupun
polyamine, baik di darah maupun urin untuk menentukan keadaan normal atau
dalam keadaan patologis.
Biomarkers metabolomik dapat diaplikasikan dalam memonitori pemulihan
setelah pengobatan.

HAMBATAN PENGGUNAAN BIOMARKERS


FOR STROKE
Saat ini penggunaan biomarkers pada stroke mempunyai beberapa
hambatan.
Pertama, tidak seperti infark miokardium, perubahan dalam otak, tidak tercermin
sempurna di dalam darah, hal ini dikarenakan adanya BBB yang sulit dilewati.
Kedua, biomarkers yang mengalami perubahan dapat dikarenakan karena adanya
komorbid yang menyertai ataupun karena kerusakan akibat stroke, sehingga
spesifisitasnya rendah.
Ketiga, hingga saat ini belum ada penanda utama untuk stroke. Sebagai contoh,
stroke iskemik merupakan suatu proses kompleks sehingga dibutuhkan berbagai
biomarkers

KESIMPULAN
Saat ini, sangat disayangkan bahwa penggunaan biomarkers pada stroke
hanya terbatas pada tujuan penelitian.
Mencari resiko faktor resiko tradisional diasumsikan lebih bermanfaat dan
memiliki spesifisitas yang tinggi dalam klinis sehari hari.
Menimbang dari kelebihan dan kekurangan setiap biomarker, sangat
disarankan untuk meneliti lebih lanjut dengan pendekatan lebih dalam pada
setiap biomarkers.

TERIMA KASIH