Anda di halaman 1dari 2

E. Kemampuan pertanggungjawaban pidana.

Elemen pertama dari kesalahan adalah kemampuan bertanggung jawab atau


toerekeningsvatbaarheid. Dalam memberikan definisi terkait pertanggungjawaban, seperti
yang telah diutarakan diatas, sebenarnya Van Hamel telah memberi ukuran mengenai
kemampuan bertanggung jawab yang meliputi tiga hal : Pertama, mampu memahami
secara sungguh-sungguh akibat dari perbuatannya. Kedua, mampu untuk menginsyafi
bahwa perbuatan itu bertentangan dengan ketertiban masyarakat. Ketiga, mampu untuk
menentukan kehendak berbuat. Ketiga perbuatan tersebut bersifat kumulatif. Artinya,
salah satu saja kemampuan bertanggung jawab tidak terpenuhi, maka seseorang
dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan. Senada dengan Van Hammel adalah
Pompe yang dalam handboek-nya menyatakan sebagai berikut :
Pertanggungjawaban pidana, pengertian keempat, yang menjadi dasar kesalahan, dapat
dihubungkan dengan ketentuan Pasal 37 (Pasal 44 KUHP). Kemampuan
bertanggungjawab tertuju pada keadaan kemampuan berpikir pelaku, yang cukup rkarti
melakukan dan tidak melakukan. Keadaan kemampuan berpikir dengan demikian ada
pada setiap orang normal. Jadi karena hal tersebut pembentuk undang-undang dapat
menganggap ada. Pasal 37 (Pasal 44 KUHP) hanya meliputi kasus yang mana tidak ada
pertanggungjawaban pidana yang dimaksud ini.
Pendapat Pompe yang menyatakan,(.....Kemampuan bertanggungjawab tertuju
pada keadaan kemampuan berpikir pelaku, yang cukup menguasai pikiran dan kehendak
dan berdasarkan hal itu cukup mampu untuk menyadari arti melakukan dan tidak
melakukan), pada dasarnya sama dengan tiga kemampuan yang dikemukakan oleh Van
Hammel.
Kemampuan bertanggungjawab dalam KUHP tidak dirumuskan secara positif,
melainkan dirumuskan secara negatif. Pasal 44 KUHP (Pasal 37 Wetboek van Strafrecht
yang disinggung dalam pendapat Pompe di atas) menyatakan tidak mampu bertanggung
jawab :
1. Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan
padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya (gebrekkige
ontwikkeling) atau terganggu karena penyakit (ziekelijke storing), tidak dipidana.
2. Jika ternyata bahwa perbuatan tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya
disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena
penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke
dalam rumah sakit jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan.
3. Ketentuan tersebut dalam ayat (2) hanya berlaku bagi Mahkamah Agung,
Pengadilan Tinggi, dan Pengadilan Negeri.
Berdasarkan ketentuan Pasal 44 KUHP dapat ditarik beberapa kesimpulan,
Pertama, kemampuan bertanggung jawab dilihat dari sisi si pelaku berupa keadaan akal
dan jiwa yang cacat pertumbuhan atau terganggu karena penyakit. Kedua, penentuan
kemampuan bertanggung jawab dalam konteks yang pertama harus dilakukan oleh
seorang psikiater. Ketiga, ada hubungan kausal antara keadaan jiwa dan perbuatan yang
dilakukan. Keempat, penilaian terhadap hubungan tersebut merupakan otoritas hakim
yang mengadili perkara. Kelima, Sistem yang dipakai KUHP adalah deskriptif normatif
karena di satu sisi, menggambarkan keadaan jiwa oleh psikiater, namun di sisi lain secara
normatif hakim akan menilai hubungan antara keadaan jiwa dan perbuatan yang
dilakukan.

Ada tiga metode untuk mementukan ketidakmampuan bertanggung jawab.


Pertama, metode biologis yang dilakukan psikiater. Jika psikiater menyatakan seseorang
kelainan jiwa, maka tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana. Hal ini karena
seeorang yang kelainan jiwa (gila) tidak memiliki kehendak sesuai adagium furiosi nulla
voluntas est. Kedua, metode psikologis yang menunjukkan hubungan antara keadaan jiwa
yang abnormal dengan perbuatannya. Metode ini mementingkan akibat jiwa terhadap
perbuatannya sehingga dapat dikatakan tidak mampu bertanggung jawab dan tidak dapat
dipidana. Ketiga, metode biologis-psikologis. Selain memperhatikan keadaan jiwa, juga
dilakukan penilaian hubungan antara perbuatan dengan keadaan jiwanya untuk
dinyatakan tidak bertanggung jawab. Saat ini, metode biologis-psikologis yang digunakan
untuk menentukan seseorang mampu bertanggung jawab ataukah tidak. Terkait
kemampuan bertanggung jawab dalam hubungan antara keadaan jiwa dan perbuatan
yang dilakukan, hukum pidana mengenal gedeeltelijke ontoerekenigsvatbaarheid atau
ketidakmampuan bertanggung jawab untuk sebagian. Apabila terdapat keragu-raguan
untuk menentukan apakah seseorang mampu bertanggung jawab ataukah tidak, terdapat
dua pendapat yang dikemukakan oleh Pompe, yakni :
Pertanggungjawaban bukanlah unsur perbuatan pidana. Hanya merupakan suatu
anggapan. Dapat dimengerti, bahwa kebanyakan orang berpikir demikian. Keadaan
tersebut, meskipun tidak jelas, dinyatakan sebagai normal. Tidak dapat
dipertanggungjawabkan sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 37 (Pasal 44 KUHP)
adalah suatu dasar penghapus pidana. Oleh karena itu (setelah penyelidikan), tetap
meragukan mengenai dapat dipertanggungjawabkan, pelaku tetap dipidana
Masih menurut Pompe :
(.....Berdasarkan karakter hukum pidana dan hukum acara pidana sebagai hukum
publik, jika ada keragu-raguan tentang sesuatu, penuntut umum dan hakim berusaha
menghilangkan keragu-raguan itu dengan penyelidikan. Setelah penyelidikan yang luas
tentang perkara tersebut, masih tidak pasti, terdakwa harus dinyatakan bersalah).
Pendapat Pompe tersebut didasarkan pada adagium, in dubio pro lege fori bahwa
jika terdapat keragu-raguan, hakim tetap menghukum terdakwa. Sebaliknya, ada
pendapat yang dikemukakan oleh Noyon dan Langemeijer yang merujuk pada asas in
dubio pro reo. Artinya, jika terdapat keragu-raguan harus diambil keputusan yang
meringankan bagi terdakwa. Dengan demikian, terdakwa dianggap tidak mampu
bertanggung jawab sehingga tidak dijatuhi pidana.