Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendahuluan
Pterigium atau Winglike, merupakan suatu pertumbuhan jaringan
fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif, berbentuk
triangular dengan apeks di kornea. Pterigium mudah meradang dan bila terjadi
iritasi, akan berwarna merah dapat mengenai kedua mata.1,2,3
Pterigium merupakan kelainan mata yang umum di banyak bagian dunia,
dengan prevalensi yang dilaporkan berkisar antara 0,3%-29%. Studi
epidemiologis menemukan adanya asosiasi terhadap paparan sinar matahari
yang kronis, dengan meningkatnya prevalensi geografis 'sabuk pterigium'
dalam garis peri-khatulistiwa 37o lintang utara dan selatan khatulistiwa. Pada
populasi yang terkena, pertumbuhan pterigium telah terlihat pada remaja muda
dan banyak terjadi di masyarakat di padang pasir. Pterigium terlihat hampir
dua kali lebih sering pada laki-laki daripada wanita.4
Berdasarkan beberapa faktor diantaranya adalah jenis kelamin dan umur.
Pterygium dilaporkan bisa terjadi pada golongan laki-laki dua kali lebih
banyak dibandingkan wanita. Pterigium lebih sering terjadi pada pria tua yang
melakukan pekerjaan di luar rumah. Jarang sekali orang menderita pterigium
umurnya di bawah 20 tahun. Untuk pasien umurnya diatas 40 tahun
mempunyai prevalensi yang tertinggi, sedangkan pasien yang berumur 20-40
tahun dilaporkan mempunyai insidensi pterigium yang paling tinggi.5

2.2 Anatomi dan Histologi Konjungtiva


Konjungtiva adalah membran mukosa tembus cahaya yang melapisi
permukaan aspek posterior dari kelopak mata dan anterior bola mata. Nama
konjungtiva (conjoin: bergabung) diberikan kepada membran mukosa ini
karena fakta bahwa ia menghubungkan bola mata dengan kelopak mata.

Membentang dari pinggir kelopak mata ke limbus, dan membungkus ruang


kompleks yang disebut sakus konjungtiva yang terbuka di depan fissura
palpebral. Konjungtiva dapat dibagi menjadi 3 bagian:6
a. Konjungtiva palpebralis. Bagian ini melapisi permukaan dalam kelopak
mata dan melekat kuat pada tarsus. Konjungtiva palpebralis terbagi 3
yakni konjungtiva marginal, tarsal, orbital. Konjungtiva marginal
membentang dari tepi kelopak mata sekitar 2 mm pada bagian belakang
kelopak sampai ke alur dangkal, yakni sulkus subtarsalis. Bagian ini
sebenarnya zona transisi antara kulit dan konjungtiva lebih tepatnya.
Konjungtiva tarsal tipis, transparan dan banyak mengandung vaskular.
Bagian ini melekat kuat pada seluruh tarsal kelopak mata atas. Pada
kelopak mata bawah, hanya melekat pada setengah bagian tarsal.
Konjungtiva orbital terletak longgar antara tarsal dan forniks.
b. Konjungtiva bulbaris. Melekat longgar pada sklera dan melekat lebih
erat pada limbus kornea. Di sana epitel konjungtiva bergabung dangan
epitel kornea. Bagian ini dipisahkan dari sklera anterior oleh jaringan
episcleral dan kapsul Tenon. Terdapat sebuah dataran tinggi 3 mm dari
konjungtiva bulbaris sekitar kornea disebut konjungtiva limbal.
c. Konjungtiva fornix, merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal
dengan konjungtiva bulbi. Lain halnya dengan konjungtiva palpebra yang
melekat erat pada struktur sekitarnya, konjungtiva fornix ini melekat
secara longgar dengan struktur di bawahnya yaitu fasia muskulus levator
palpebra superior serta muskulus rektus. Karena perlekatannya bersifat
longgar, maka konjungtiva fornix dapat bergerak bebas bersama bola mata
ketika otot-otot tersebut berkontraksi.

Gambar 1. Anatomi Konjungtiva


(Dikutip dari kepustakaan 6)

Secara histologis, konjungtiva terdiri dari tiga lapisan. Ketiga lapisan


tersebut yaitu:6
1.

Epitel. Lapisan sel epitel di konjungtiva bervariasi pada masing-masing


daerah dan dalam bagian-bagian. Konjungtiva marginal memiliki 5 lapis
epitel sel gepeng bertingkat. Konjungtiva tarsal memiliki 2 lapis epitel,
yaitu lapisan superficial terdiri dari sel-sel silinder dan lapisan dalam
terdiri dari sel-sel datar. Konjungtiva forniks dan bulbaris memiliki 3 lapis
epitel yaitu lapisan superfisial terdiri dari sel silindris, lapisan tengah
terdiri dari sel polyhedral dan lapisan dalam terdiri dari sel kubus. Limbal
konjungtiva memiliki lagi lapisan yang banyak (5 sampai 6 lapis) epitel
berlapis gepeng.

2.

Lapisan adenoid. Lapisan ini disebut juga lapisan limfoid dan terdiri dari
retikulum jaringan ikat halus dengan jerat di mana terdapat

limfosit.

Lapisan ini paling pesat perkembangannya di forniks. Lapisan ini tidak di


temukan ketika bayi lahir tapi akan berkembang setelah 3-4 bulan awal
kehidupan. Hal ini menjelaskan bahwa peradangan konjungtiva pada bayi
tidak menghasilkan reaksi folikuler.

3.

Lapisan fibrosa. Lapisan ini terdiri dari serat kolagen dan serat elastis.
Lapisan ini lebih tebal dari lapisan adenoid, kecuali di daerah konjungtiva
tarsal, di mana lapisan ini sangat tipis. Lapisan ini mengandung pembuluh
dan saraf dari konjungtiva. Lapisan ini bersatu dengan mendasari kapsul
Tenon di daerah konjungtiva bulbar.
Konjungtiva berisi dua jenis kelenjar, yakni kelenjar sekresi musin dan
kelenjar lakrimalis aksesoris. Kelenjar ini terdiri dari sel goblet (kelenjar
uniseluler yang terletak di dalam epitel), Crypts of Henle (terdapat di
konjungtiva tarsal) dan kelenjar Manz (ditemukan dalam konjungtiva limbal).
Kelenjar-kelenjar ini mensekresi mucus yang penting untuk membasahi
kornea dan konjungtiva. Kelenjar lakrimalis aksesoris terdiri dari: Kelenjar
Krause (terdapat pada jaringan ikat subconjunctival forniks, sekitar 42 buah di
atas forniks dan 8 buah di bawah forniks) dan kelenjar Wolfring (terdapat di
sepanjang batas atas tarsus superior dan sepanjang batas bawah tarsus
inferior).6

Gambar 2. Histologi konjungtiva normal


(Dikutip dari kepustakaan 6)

Plica semilunaris merupakan lipatan seperti bulan sabit berwarna merah


muda dari konjungtiva yang terdapat di kantus medial. Batas bebas lateralnya
berbentuk cekung. Karunkula adalah massa kecil, oval, merah muda, terletak
di canthus bagian dalam. Pada kenyataannya, massa ini merupakan potongan
modifikasi kulit dan ditutupi dengan epitel gepeng bertingkat dan berisi
kelenjar keringat, kelenjar sebasea dan folikel rambut.6

Arteri yang memperdarahi konjungtiva berasal dari tiga sumber yakni


arkade arteri perifer palpebra, arkade arteri marginal kelopak mata, dan arteri
ciliaris anterior. Konjungtiva palpebralis dan forniks diperdarahi oleh cabangcabang dari arkade arteri perifer dan marginal palpebra. Konjungtiva bulbar
diperdarahi oleh dua set pembuluh darah yaitu: arteri konjungtiva posterior
yang merupakan cabang dari arteri kelopak mata, dan arteri konjungtiva
anterior yang merupakan cabang dari arteri ciliaris anterior. Cabang terminal
arteri

konjungtiva

posterior

membentuk

anastomosis

dengan

arteri

konjungtiva anterior dan membentuk arkade pericorneal. Vena konjungtiva


bermuara ke dalam vena pleksus kelopak mata dan beberapa mengelilingi
kornea dan bermuara ke vena ciliaris anterior. Sistem limfatik konjungtiva
tersusun dalam dua lapisan, yakni superficial dan profunda. Sistem ini dari sisi
lateral bermuara ke limfonodus preaurikuler dan sisi medial bermuara ke
limfonodus submandibular. Limbus kornea pada konjungtiva dipersarafi oleh
cabang-cabang dari nervus siliaris panjang yang mempersarafi kornea. Sisa
konjungtiva

dipersarafi

oleh

cabang

dari

lakrimal,

infratrochlear,

supratrochlear, supraorbital dan nervus frontal.6

Gambar 3. Vaskularisasi Konjungtiva


(Dikutip dari kepustakaan 6)

2.3 Etiologi dan Patofisiologi

10

Etiologi pterigium sepenuhnya belum diketahui. Tetapi penyakit ini lebih


sering pada orang tinggal di iklim panas. Oleh karena itu, anggapan yang
paling mungkin adalah pengaruh efek berkepanjangan faktor lingkungan
seperti terpapar sinar matahari (sinar ultraviolet), panas, angin tinggi dan
debu. Ada beberapa konsep tentang patofisilogi tentang pterigium,
diantaranta:6,8
a. Konsep patogenesis awal. Hubungan antara perkembangan pterigium dan
gaya hidup tertentu, seperti bekerja di luar ruangan atau terkena paparan
sinar matahari atau debu. Semuanya dapat berperan memunculkan iritasi
kronis pada mata. Kongesti vaskular konjungtiva sering terjadi di daerah
tubuh pterygium yang menyebabkan gangguan aktivitas rektus medial,
yang mendasari daerah pertumbuhan pterygium ke arah nasal, dapat
menyebabkan potensi terjadinya gangguan aliran darah terkait dengan
pertumbuhan pterigium.
b. Konsep warisan. Laporan awal menyebutkan kemungkinan pola dominan
autosomal dari warisan, sesuai dengan kasus kejadian pterigium dalam
keluarga. Namun, tidak dapat diverifikasi apakah pterigium itu sendiri
diwariskan, sebagai sifat independen, atau pada individu beresiko terkena
jika rentan terkena efek okulodermal cahaya matahari. Deteksi keterlibatan
gen supresor tumor potensial di pterygium sementara diteliti,
c. Peran UV. Korelasi epidemiologi yang kuat antara perkembangan
pterygium dan paparan sinar matahari telah menyebabkan asumsi bahwa
beberapa bagian dari radiasi matahari mungkin memiliki peran patogenetik
langsung. Bentuk periorbital, termasuk bagian superior orbital, adanya alis
dan hidung menonjol menyiratkan bahwa mata relatif terlindung dari
paparan cahaya langsung dari atas. Di sisi lain, mata relatif terlindungi dari
penyebaran cahaya dari bawah atau lateral. Laporan awal peningkatan
kemungkinan terjadinya pterigium adalah kombinasi paparan cahaya
matahari dengan paparan debu atau pasir, sehingga mengarah ke
peradangan permukaan mata secara kronis.

11

d. Stres oksidatif. Peningkatan UVR terkait stres oksidatif telah dilaporkan


dalam kasus pterygium, dibandingkan dengan konjungtiva normal,
menyebabkan induksi protein. Yang terakhir ini telah berkorelasi dengan
oksidasi DNA dan down-regulasi p53. Telah dinyatakan bahwa adanya
deposit besi di bagian head pterygium di kornea dapat disebabkan oleh
adanya stres oksidatif yang mempengaruhi sel-sel epitel lokal dan
mengakibatkan homeostasis besi terganggu.
e. Keterlibatan virus. Meskipun laporan awal menyebutkan kemungkinan
menular dari pterygium tentang masalah ini buktinya tidak konklusif.
Namun, munculnya PCR sebagai alat penelitian memungkinkan
penyelidikan rinci untuk DNA virus dalam sampel dari kedua pterygium
dan konjungtiva normal. Keberadaan virus diketahui menyebabkan infeksi
oculodermal, seperti Herpes Simpleks Virus (HSV), dan Human Papilloma
Virus (HPV), diperiksa. Hasil dari beberapa penelitian menunjuk ke arah
keterlibatan HPV dalam pterigium meskipun perbedaan regional dan ras
besar telah dilaporkan.
2.4 Klasifikasi
Pterigium dapat dibagi ke dalam beberapa klasifikasi berdasarkan
stadium dan progresifitasnya.
a. Berdasarkan stadium, pterigium dibagi ke dalam 4 stadium yaitu:2,6
-

Stadium I : Jaringan fibrovaskular menutupi sklera tetapi tidak


melewati limbus.

Stadium II : Jaringan fibrovaskular menutupi kornea, berada di


pertengahan antara limbus dan pupil, tidak menutupi pupil.

Stadium III: Jaringan fibrovaskular menutupi pupil dan mengganggu


aksis penglihatan.

12

Gambar 4. (A) Pterigum stadium I; (B) Pterigum stadium II; (C) Pterigum
stadium III
(Dikutip dari kepustakaan 6,10)

b. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, pterigium dibagi menjadi 2


yaitu:8,9
- Pterigium progresif : tebal, berdaging, dan vaskularisasi dengan
beberapa infiltrat di kornea di depan kepala pterigium (disebut cap dari
pterigium).
- Pterigium regresif : tipis, atrofi, dengan sangat sedikit vaskularisasi.
Tidak terdapat kepala pterigium (cap pterigium). Akhirnya menjadi
bentuk membran, tetapi tidak pernah hilang.

2.5 Diagnosis
a. Anamnesis
Pasien dengan pterigium datang dengan berbagai keluhan, mulai dari
tanpa gejala atau asimtomatik pada tahap awal, sampai dengan gejala
kemerahan yang signifikan, pembengkakan, gatal, iritasi. Pterigium akan
bergejala pada penglihatan ketika bagian kepalanya menginvasi bagian
tengah kornea dan aksis visual. Selain itu, kekuatan tarikan yang terjadi
pada kornea dapat menyebabkan astigmatisme kornea. Pterigium lanjut
yang menyebabkan skar pada jaringan konjungtiva juga dapat secara

13

perlahan-lahan mengganggu motilitas okular, pasien kemudian akan


mengalami penglihatan ganda atau diplopia. 2,3,6,9

b. Pemeriksaan fisik
Suatu pterigium dapat tampak sebagai salah satu dari berbagai
perubahan fibrovaskular pada permukaan konjungtiva dan kornea.
Pterigium mungkin terjadi unilateral atau bilateral. Penyakit ini muncul
sebagai lipatan segitiga konjungtiva yang mencapai kornea. Pterigium
paling sering ditemukan pada konjungtiva nasal dan berekstensi ke kornea
nasal, tetapi dapat pula ditemukan pterigium pada daerah temporal, serta di
lokasi lainnya. Deposisi besi kadang-kadang terlihat pada epitel kornea
anterior disebut Stockers line.
Sebagai progresifitas penyakit, meningkat ukuran lesi dan menjadi
lebih jelas terlihat tidak menyenangkan dari sisi kosmetik bagi pasien.
Pertumbuhan lebih lanjut dapat menyebabkan gangguan visual karena
dapat menyebabkan astigma atau perambahan langsung ke sumbu visual.
Pterigium terdiri dari tiga bagian:2,3,7
- Caput
- Apeks (bagian apikal yang muncul pada kornea),
- Collum (bagian limbal),
- Corpus (bagian sklera) membentang antara limbus dan kantus.

Gambar 5. (A) Cap; (B) Apeks; (C) Corpus


(Dikutip dari kepustakaan: 3)

14

2.6 Diagnosis Banding


1. Pinguekula
Pinguekula merupakan benjolan pada konjungtiva bulbi. Keadaan ini
tampak sebagai nodul kuning pada kedua sisi kornea (lebih banyak di sisi
nasal) di daerah aperture palpebrae. Nodul terdiri atas jaringan hialin dan
jaringan elastik bening, jarang bertumbuh besar, tetapi sering meradang.
Penebalan terbatas pada konjungtiva bulbi. Tampak seperti penumpukan
lemak bisa karena iritasi ataupun karena kualitas air mata yang kurang
baik.1,6
Pinguekula sangat sering pada orang dewasa, terutama yang matanya
sering mendapat rangsangan sinar matahari, debu, dan angin panas. Pada
umumnya tidak diperlukan terapi, tetapi pada kasus tertentu dapat
diberikan steroid topikal lemah (mis., prednisolone 0.12 %) atau obat anti
inflamasi non steroid.1,6

Gambar 6. Pingueculum
(Dikutip dari kepustakaan 6)

2. Pseudopterigium
Pterigium harus dibedakan dari pseudopterigium. Pseudopterigium
adalah lipatan konjungtiva bulbar yang melekat pada kornea. Hal ini
merupakan suatu reaksi dari konjungtiva oleh karena ulkus kornea.

15

Biasanya terjadi pada luka bakar akibat zat kimia pada mata. Pada
pengecekan dengan sonde, sonde dapat masuk di antara konjungtiva dan
kornea.1,7,9
Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea
yang cacat akibat ulkus. Sering terjadi saat proses penyembuhan dari ulkus
kornea,

dimana

konjungtiva

tertarik

dan

menutupi

kornea.

Pseudopterigium dapat ditemukan dimana saja bukan hanya pada fissura


palpebra seperti halnya pada pterigium. Pada pseudopterigium juga dapat
diselipkan sonde di bawahnya sedangkan pada pterigium tidak. Pada
pseudopterigium melalui anamnesa selalu didapatkan riwayat adanya
kelainan kornea sebelumnya, seperti ulkus kornea.1,7,9

Gambar 7. Pseudopterigium yang tumbuh dari kuadran inferior nasal


konjunctiva bulbar yang diikuti luka bakar asam lokal
(Dikutip dari kepustakaan 9)

Pterigium

Pseudopterigium

Pinguekulum

Sebab

Proses
degeneratif

Reaksi tubuh dalam


proses penyembuhan
dari luka

Iritasi atau
kualitas higienitas
air yang kurang.

Sonde

Tidak dapat
dimasukkan
dibawahnya

Dapat dimasukkan
dibawahnya

Kekambuha
n

Residif

Tidak

Tidak

16

Usia

Dewasa

Anak-anak

Lokasi

Konjunctiva
yang dapat
mencapai kornea

Bisa terjadi darimana


saja

Dewasa &
anak-anak
Terbatas pada
konjuntiva bulbi

2.7 Penatalaksanaan
Hanya ada sedikit konsensus dalam komunitas oftalmologi yang
meneliti tentang manajemen medis dan bedah yang optimal pada peterigium.
Pada awal proses penyakit, dokter sering mengambil pendekatan
konservatif, membatasi terapi untuk pebobatan secara lubrikasi. Karena
radiasi UV diyakini menjadi faktor risiko penting, dokter harus
merekomendasikan bahwa pasien dengan peterigium stadium awal
menggunakan kacamata pelindung yang tepat. Jika lesi tumbuh terus,
intervensi bedah menjadi lebih penting. 3
Pasien dengan pterigium dapat hanya diobervasi kecuali lesi
menunjukkan pertumbuhan menuju pusat kornea atau pasien menunjukkan
gejala kemerahan yang signifikan, ketidaknyamanan, atau perubahan dalam
fungsi visual.3
1. Terapi Konservatif
Pengobatan konservatif pada pterigium terdiri dari topikal
lubricating drops atau air mata buatan (misalnya, refresh tears, gen teal
drops),

serta

sesekali

penggunaan

jangka

pendek

tetes

mata

kortikosteroid topikal anti-inflamasi (misalnya, Pred Forte 1%) bila


gejala lebih intens. Selain itu, penggunaan kacamata anti-UV disarankan
untuk mengurangi paparan radiasi ultraviolet lebih lanjut.5,11
2. Terapi pembedahan
Bedah eksisi adalah satu-satunya pengobatan yang memuaskan,
yang dapat diindikasikan untuk, menurut Ziegler:4,11
- Mengganggu visus
- Mengganggu pergerakan bola mata
- Berkembang progresif

17

- Mendahului suatu operasi intraokuler


- Kosmetik
Penghilangan pterigium melibatkan bedah eksisi pada apeks,
collum dan corpus dari pterigium. Corpus dan dasar pterigium tersebut
dibedah dengan gunting konjungtiva, sedangkan apeks dan collum
pterigium yang telah menyerang kornea sering dihilangkan dengan pisau
bedah. Dilakukan usaha untuk mengidentifikasi bidang diseksi, yang
memfasilitasi

penghilangan

pterigium

sekaligus

mempertahankan

permukaan halus kornea yang mendasarinya. Lapisan stroma yang


tersisa mungkin dapat dirapikan dengan pisau.3,4,11
Tujuan utama pembedahan adalah untuk sepenuhnya mengeluarkan
pterigium dan untuk mencegah terjadinya rekurensi. Berbagai teknik
bedah yang digunakan saat ini untuk pengelolaan pterigium: 3,4,11
a. Bare sclera : tidak ada jahitan, bertujuan untuk menyatukan kembali
konjungtiva dengan permukaan sklera di depan insersio tendon rektus,
menyisakan area sklera yang terkena. Namun teknik ini sudah tidak
dapat diterima karena tingginya tingkat rekurensi pasca pembedahan
yang dapat mencapai 40-75% dan hal ini tidak direkomendasikan.
b. Simple closure: menyatukan langsung sisi konjungtiva yang terbuka,
dimana teknik ini dilakukan bila luka pada konjungtiva relatif kecil.
c. Sliding flap : dibuat insisi berbentuk huruf L disekitar luka bekas
eksisi untuk memungkinkan dilakukannya penempatan flap.
d. Rotational flap: dibuat insisi berbentuk huruf U disekitar luka bekas
eksisi untuk membentuk seperti lidah pada konjungtiva yang
kemudian diletakkan pada bekas eksisi.
e. Conjungtival graft: suatu free graft yang biasanya diambil dari
konjungtiva bulbi bagian superior, dieksisi sesuai dengan ukuran luka
kemudian dipindahkan dan dijahit atau difiksasi dengan bahan perekat
jaringan. (misalnya Tisseel VH, Baxter Healthcare, Dearfield,
Illionis).
f. Amnion membran grafting: membran amnion biasanya ditempatkan di
atas sklera telanjang, dengan membran basal menghadap ke atas dan
stroma menghadap ke bawah. Beberapa studi terbaru telah
menganjurkan penggunaan lem fibrin untuk membantu membran

18

amnion graft menempel pada jaringan episklera dibawahnya. Lem


fibrin juga telah digunakan dalam autograft konjungtiva.3,6

Gambar 8. Teknik operasi eksisi peterigium: A, diseksi head dari kornea; B,


eksisi jaringan peterigium dibawah konjungtiva; C, direct closure atau penjahitan
konjungtiva setelahnya; D, teknik bare sclera-menjahit konjungtiva ke jaringan
episklera; E, free conjunctival graft setelah dilakukan eksisi pterigium
(Dikutip dari kepustakaan 6)

3. Terapi adjuvant
Tingkat kekambuhan yang tinggi setelah operasi menjadi sebuah
masalah, dan terapi medis ajuvan telah dimasukkan ke dalam manajemen
penyembuhan dari pterigium. Penelitian telah menunjukkan bahwa
tingkat kekambuhan menurun jauh dengan penambahan terapi ini.
Namun, bukan tanpa komplikasi sendiri.3

MMC (Mitomycin C)
MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena
kemampuannya untuk menghambat fibroblas. Efeknya mirip dengan
iradiasi beta. Namun, tingkat dosis yang aman dan efektif minimal
19

belum ditentukan. Dua bentuk MMC saat ini digunakan: aplikasi


intraoperatif dari MMC langsung ke scleral bed setelah peterigium
dieksisi, dan penggunaan tetes mata MMC topikal pasca operasi.
Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan MMC
hanya intraoperatif untuk mengurangi toksisitas.3
o Iradiasi Beta
Iradiasi Beta juga telah digunakan untuk

mencegah

kekambuhan, karena menghambat mitosis pada sel-sel yang


membelah dengan cepat dari peterigium, meskipun tidak ada data
tingkat kekambuhan yang jelas tersedia. Namun, efek samping dari
radiasi termasuk nekrosis dan mencairnya sklera, endophthalmitis
dan pembentukan katarak sektoral.
2.8 Komplikasi
Komplikasi pterygium diantaranya adalah iritasi, kemerahan, diplopia,
distorsi / penurunan penglihatan dan jaringan parut pada konjungtiva, kornea
dan musculus rektus medial. Komplikasi pasca operasi termasuk infeksi,
reaksi terhadap bahan jahitan, diplopia dan jaringan parut. Ablasi retina,
perdarahan vitreous dan perforasi bisa terjadi namun sangat jarang. 11
Komplikasi yang paling umum dari operasi pterigium adalah
kekambuhan atau rekurensi. Bedah eksisi sederhana memiliki tingkat
rekurensi tinggi sekitar 50-80%. Tanpa terapi tambahan yang efektif, ada
risiko tinggi kekambuhan setelah excisions diulang. Ada data luas untuk
mendukung bahwa penggunaan transplantasi membran amnion dalam
mengurangi tingkat kekambuhan pada kedua pterigium primer dan berulang.
Operasi

terdiri

dari

penghapusan

menyeluruh

jaringan

abnormal,

memulihkan matriks di daerah eksisi melalui penggunaan membran amnion


yang menyediakan membran basement baru untuk epitelisasi cepat. Untuk
lebih mengurangi peradangan, suntikan subconjunctival kortikosteroid dapat
dipertimbangkan.11

20

2.9 Edukasi dan Pencegahan


Edukasi yang dilakukan antara lain menjelaskan kepada pasien
mengenai penyakitnya, rencana pengobatan, serta komplikasi yang bisa
terjadi, menjelaskan perlunya kontrol, menjelaskan prognosis penyakit yang
diderita pasien, serta men yarankan untuk menghindari debu, daerah kering
dan berangin, dan paparan sinar matahari, memakai kacamata hitam atau
topi lebar saat beraktifitas di luar rumah saat siang hari.9
Banyak penduduk di daerah tropik yang bekerja di luar rumah seperti
nelayan, petani, yang banyak kontak dengan debu dan sinar ultraviolet,
dianjurkan untuk memakai kacamata pelindung sinar matahari. Hal ini
dilakukan untuk mencegah seseorang terkena pterigium.9

2.10 Prognosis
Pterigium

adalah

suatu

neoplasma

yang

benigna.

Umumnya

penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik. Kekambuhan


dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitostatik tetes mata atau beta
radiasi. Kebanyakan pasien dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post
operasi. Pasien dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi ulang dan
graft dengan konjungtiva auto graft atau transplantasi membran amnion.5,9

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S, Yulianti SR. Mata merah dengan penglihatan normal. Dalam Ilmu
Penyakit Mata. Edisi Keempat. Jakarta: Badan penerbit FKUI; 2011.
p:116-117
2. Suprapto N, Irawati Y. Pterigium. Dalam Kapita Selekta Kedokteran. Edisi
IV. Ed: Tanto C, Liwang F, Hanifa S, Pradipta E. Jakarta: media
Aesculapius. 2014. 370-371
3. Aminlari A, Singh R, Liang D. Manajemen of pterigium. 2010. p:37-38
4. Leonard PK, Jocelyn LL, Donald. Current concepts and technique in
pterigium treatment. Singapore: National university of Singapore and
Singapore Eye Research Institue; 2007. p:308-312
5. Fisher JP. Pterigium. Medscape. Amerika: American college of surgeons;
2013. p:1-4
6. Khirana AK. Comprehensive ophthalmology. Fourth edition. New Delhi:
New international publisher; 2007. p:51-54, 80-82
7. Solomon AS. Pterigium. Goldschleser eye research institute; 2006. p:664666
8. Detorakis ET, Spandidos DA. Pathogenetic mechanisms and treatment
option for ophthalmic pterygium: trends and perspectives. Yunani:
University of Crete; 2009. p:439-445
9. Pedoman diagnosis dan Terapi. Edisi III. Surabaya: Rumah Sakit Umum
Dokter Soetomo; 2006. p:102-104
10. Fransisco J, Verter G, Ivan R. Penyakit degeneratif konjungtiva. Dalam
Buku Vaugan dan Asburys General ophthalmology. Edisi 17. Jakarta:
EGC; 2014. p:119-120
11. Raju VK, Chandra A, Doctor R. Management of pterygium A brief

review. 2008.

22