Anda di halaman 1dari 22

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)


Jl. Terusan Arjuna no.6 Kebon Jeruk, Jakarta-Barat

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT THT
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF PENYAKIT THT
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA

Nama

: Samantha

Nim

: 11-2014-337

Tanda Tangan

Dr. Pembimbing : dr. Arroyan Wardanah, SpTHT

Tanda Tangan

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. N

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur

: 4 tahun

Agama

Tgl lahir

: 18/07/2011

: Islam

ANAMNESA
Diambil secara

: alloanamnesis

Pada tanggal

: 7 Desember 2015 pada jam 10.00

Keluhan Utama

: kuping kiri keluar cairan terus menerus selama 2 bulan

Keluhan Tambahan

: batuk dan pilek

Riwayat penyakit sekarang :

Seorang ibu membawa anaknya berusia 4 tahun karena keluar cairan dari telinga kiri selama
2 bulan. Sang ibu juga mengeluh sebelumnya anaknya mengalami batuk pilek sebelum keluar
cairan dari telinga. Batuk pilek sempat sembuh lalu timbul lagi. Sang anak sempat demam
tetapi saat datang ke poli tidak demam lagi. Diketahui anak suka jajan sembarangan terutama
mengkonsumsi es dan jajanan abang-abang di dekat sekolah. Sang anak juga diketahui suka
bermain di tanah merah dengan teman-temannya. Beberapa teman sang anak juga sering
mengalami batuk pilek. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tonsil membesar T3-T2. Anak
tidak memiliki riwayat alergi.
Riwayat penyakit dahulu :
Sang anak sering mengalami hal serupa yaitu keluar cairan dari telinga dari tahun 2012. Anak
sering kali mengalami batuk pilek yang hilang timbul disertai dengan sakit tenggorokan.
Karena keterbatasan waktu sang ibu tidak pernah kontrol ketika obat habis. Sehingga belum
sembuh total, anak tidak kembali diperiksa. Riwayat imunisasi diketahui lengkap.
Pemeriksaan Fisik
KU : Compos mentis, tampak sakit ringan
BB : 19Kg
TB : 92cm
Telinga
Bentuk daun telinga :

Normotia ADS

Kelainan kongenital : tidak ada ADS


Radang, tumor

: tidak ada ADS

Nyeri tekan tragus

: tidak ada ADS

Kelainan Pre, infra, dan retroaurikuler : tidak ada ADS


Region Mastoid

: tidak ada nyeri tekan ADS

Liang telinga

: terdapat perforasi AS

Membran tympani

: utuh AD

Hidung
Bentuk

: normal, tidak ada krepitasi

Sinus frontalis dan maxillaris : tidak ada nyeri tekan


Vestibulum

: tidak terlihat ada penyempitan atau massa

Cavum nasi

: terlihat secret serous

Konka inferior : normal


Meatus inferior : lapang kiri dan kanan

Konka medius : terlihat hiperemis


Meatus medius : lapang
Septum nasi

: tidak ada deviasi septum

Tenggorokan
Dinding faring : terlihat hiperemis
Tonsil

: T3-T2

Uvula

: normal

Resume :
Anak N datang ke poli THT koja dengan keluhan keluar cairan dari telinga sejak 3 hari lalu
disertai batuk pilek. Anak sering jajan sembarangan dan bermain di tempat yang kotor. Anak
sering menderita hal yang serupa dari tahun 2012. Anak tidak memiliki riwayat alergi.
Riwayat imunisasi diketahui lengkap.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan:
Telinga
Kiri : normotia, tidak ada nyeri tekan tragus, tidak ada kelainan pre, infra, retroaurikuler,
tidak ada nyeri tekan mastoid, lubang telinga hiperemis, terdapat sekret kekuningan, perforasi
pada membran timpani
Kanan : normotia, tidak ada nyeri tekan tragus, tidak ada kelainan pre, infra, retroaurikuler,
tidak ada nyeri tekan mastoid, lubang telinga terlihat lapang, membran timpani utuh

Hidung :
Hidung tampak normal, tidak ada krepitasi, vestibulum terlihat tidak ada massa, terlihat ada
secret serous, konka dan meatus inferior terlihat tidak ada kelainan, tidak ditemukan deviasi
septum.
Tenggorok:
Uvula terlihat normal, tonsil T3-T2, terlihat mukosa faring hiperemis.

Working Diagnosis:
OMSK As
Penatalaksanaan :
Non-medikamentosa :
Cuci telinga dengan H2O2 3% 3-5x sehari

Tidak mengorek telinga


Tidak berenang dan tidak boleh terkena air
Medikamentosa :
Obat tetes telinga yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid otopain ear drop 3x gtt1
Azitromisin syrup 2x sehari 1 sendok teh (dosis 10mg/kgbb/hari)
Rhinos syrup 3x sehari 1 sendok teh

Edukasi :
Menjaga kebersihan diri
Makan makanan yang terartur, sehat, dan bersih
Sering cuci telinga dan menghindari terkena air pada telinga
Tidak jajan sembarangan
Minum vitamin untuk menjaga kondisi kesehatan anak

Prognosis :
Omsk tipe benign ad bonam (jika tidak ditangani tuntas akan timbul kekambuhan)

Tinjauan Pustaka
Otitis Media Supuratif Kronik
Otitis media supuratif kronis (OMSK) dahulu disebut otitis media perforate (OMP)
atau dalam sebutan sehari hari congek. Yang disebut otitis media supuratif kronis ialah infeksi
kronis di telinga tengah dengan perforasi membrane timpani dan secret yang keluar dari
telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Secret mungkin encer atau kental, bening
atau berupa nanah. 1
Perjalanan penyakit
Otitis media akut dengan perforasi membrane timpani menjadi otitis media supuratif
kronis apabila proses infeksinya kurang dari 2 bulan, disebut otitis media supuratif subakut. 1
Beberapa factor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang terlambat
diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah
(gizi kurang) atau hygiene buruk. 1
Letak perforasi
Letak perforasi di membrane timpani penting untuk menentukan tipe/jenis OMSK.
Perforasi membrane timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal, atau atik. Pada
perforasi sentral, perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan di seluruh tepi perforasi masih
ada sisa membrane timpani. Pada perforasi marginal sebagian tepi perforasi langsung
berhubungan dengan annulus atau sulkus timpanikum. Perforasi atik ialah perforasi yang
terletak di pars flaksida. 1
Jenis OMSK
OMSK dapat dibagi atas 2 jenis, yaitu
1. OMSK tipe aman (tipe mukosa = tipe benign)
2. OMSK tipe bahaya (tipe tulang = tipe maligna) 1
Berdasarkan aktivitas secret yang keluar dikenal juga:
1. OMSK aktif
OMSK dengan secret yang keluar dari kavum timpani secara aktif. 1
Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan
infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang dimana
kuman masuk melalui lia ng telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai

mukopurulen. Ukuran perforasi bervariasi dari sebesar jarum sampai perforasi


subtotal pada pars tensa. Jarang ditemukan polip yang besar pada liang telinga luas.
Perluasan infeksi ke sel-sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan
penyakit mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan konservatif gagal untuk
mengontrol infeksi, atau jika granulasi pada mesotimpanum dengan atau tanpa
migrasi sekunder dari kulit, dimana kadang-kadang adanya sekret yang berpulsasi
diatas kuadran posterosuperior.3
2. OMSK tenang
OMSK tenang ialah yang keadaan kavum timpaninya terlihat basah atau kering.1
Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga
tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain
yang dijumpai seperti vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga. 3
Faktor predisposisi pada penyakit tubotimpani :
a. Infeksi saluran nafas yang berulang, alergi hidung, rhinosinusitis kronis.
b. Pembesaran adenoid pada anak, tonsilitis kronis.
c. Mandi dan berenang dikolam renang, mengkorek telinga dengan alat yang
terkontaminasi.
d. Malnutrisi dan hipogammaglobulinemia.
e. Otitis media supuratif akut yang berulang. 3
Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada mukosa saja, dan biasanya
tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe aman jarang
menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe aman tidak teradapat
kolesteatoma. 1
Yang dimaksud dengan OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai dengan
kolesteatoma. OMSK ini dikenal juga dengan OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe tulang.
Perforasi pada OMSK tipe bahaya letaknya marginal atau di atik, kadang kadang terdapat
juga kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotoal. Sebagian besar komplikasi yang
berbahaya atau fatal timbul pada OMSK tipe bahaya. 1
Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :

1.
2.
3.
4.

Adanya Abses atau fistel retroaurikular


Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani.
Pus yang selalu aktif atau berbau busuk ( aroma kolesteatom)
Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.3

Epidemiologi

Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain disebabkan, kondisi sosial,
ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, hygiene dan nutrisi yang jelek. Kebanyakan
melaporkan prevalensi OMSK pada anak termasuk anak yang mempunyai kolesteatom. Di
Indonesia sendiri diketahui prevalensi OMSK adalah 3% penduduk.4

Etiologi
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang
dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis,
tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba
Eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan
cleft palate dan Downs syndrom. Faktor Host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang
relatif tinggi adalah defisiensi immun sistemik. 3

Manifestasi Klinis
1. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen ( kental, putih) atau mukoid ( seperti air dan encer)
tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar
sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar
mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa
telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret
biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran
nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang. 2,3
Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Sekret
yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan
produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih,
mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah
berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang
bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga
dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang
encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis. 3
2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya
dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran

mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit
ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila
tidak dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai
tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran
menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db.2,3
Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani
serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada
OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai
tulang pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar
suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hatihati. Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya
infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel
labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan
terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea. 3
3. Otalgia ( nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan suatu
tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase
pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran
sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman
pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya
otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK
seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis. 3
4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhan
vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding
labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan
udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi
hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih
mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga
akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi
serebelum. Fistula merupakan temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat
berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis
dan dari sana mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada
kasus OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif

dan negatif pada membran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui
rongga telinga tengah.3

Diagnosis
Diagnosis OMSK dibuat berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan THT terutama
pemeriksaan otoskopi. Pemeriksaan penala merupakan pemeriksaan sederhana untuk
mengetahui adanya gangguan pendengaran. Untuk mengetahui jenis dan derajat gangguan
pendengaran dapat dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni, audiometri tutur (speech
audiometry) dan pemeriksaan BERA (brainsystem evoked response audiometry) bagi pasien/
anak yang tidak kooperatif dengan pemeriksaan audiometri nada murni. 1
Pemeriksaan penunjang lain berupa foto rontgen mastoid serta kultur dan uji resistensi
kuman dari secret telinga. 1

Kolesteatoma
Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin).
Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar. 1
Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johanes Muller pada tahun 1838 karena
disangka kolesteatoma merupakan suatu tumor, yang ternyata bukan. Beberapa istilah lain
yang diperkenalkan oleh para ahli antara lain adalah : keratoma (Schucknecht), squamous
epiteliosis, kolesteatosis, epidermoid kolesteatoma, kista epidermoid, epidermosis. 1

Pathogenesis
Banyak teori dikemukakan oleh para ahli tentang pathogenesis kolesteatoma, antara
lain adalah teori invaginasi, teori migrasi, teori metaplasia, dan teori implantasi. Teori

tersebut akan lebih mudah dipahami bila diperhatikan definisi kolesteatoma menurut Gray
(1964) yang mengatakan, kolesteatoma adalah epitel kulit yang berada pada tempat yang
salah, atau menurut pemahaman penulis; kolesteatoma dapat terjadi oleh karena adanya epitel
kulit yang terperangkap. 1
Sebagaimana kita ketahui bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous
epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/terpapar ke dunia luar. Epitel
kulit di liang telinga merupakan suatu daerah Cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen
padat di telinga pada waktu yang lama maka dari epitel kulit yang berada medial dari
serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma. 1
Klasifikasi1
Kolesteatoma dapat dibagi atas 2 jenis:
1. Kolesteatoma kongenital yang terbentuk pada masa embrionik dan ditemukan pada
telinga dengan membrane timpani utuh tanpa tanda tanda infeksi. Lokasi kolesteatom
biasanya di kavum timpani, daerah petrosus mastoid atau di cerebellopontin angle.
Kolesteatoma di cerebellopontin angle sering ditemukan secara tidak sengaja oleh
ahli bedah saraf.
2. Kolesteatoma akuisital yang terbentuk setelah anak lahir, jenis ini terbagi atas 2 :
a. Kolesteatoma akuisital primer
Kolesteatoma yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrane
timpani. Kolesteatoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrane
timpani pars flaksida karena adanya tekanan negative di telinga tengah akibat
gangguan tuba (teori invaginasi)
b. Kolesteatoma akuisital sekunder
Kolesteatoma terbentuk setelah adanya perforasi membrane timpani.
Kolesteatoma terbentuk sebagai akibat dari masuknya epitel kulit dari liang
telinga atau dari pinggir perforasi membrane timpani ke telinga tengah (Teori
migrasi) atau terjadi akibat metaplasia mukosa kavum timpani karena iritasi
infeksi yang berlangsung lama (Teori metaplasia) 1
Pada teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatoma terjadi akibat implantasi epitel
kulit secara iatrogenic ke dalam telinga tengah sewaktu operasi, setelah blust injury,
pemasangan pipa ventilasi atau setelah miringotomi. 1
Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tempat pertumbuhan kuman
(infeksi), yang paling sering adalah Proteus dan Pseudomonas Aeruginosa. Sebaliknya infeksi

dapat memicu respons imun local yang mengakibatkan produksi berbagai mediator inflamasi
dan berbagai sitokin. Sitokin yang diidentifikasi terdapat pada matriks kolesteatoma adalah
interleukin (IL-1), interleukin-6, tumor necrosis factor- (TNF-), dan transforming growth
factor (TGF). Zat-zat ini dapat menstimulasi sel sel keratinosit matriks kolesteatoma bersifat
hiperploferatif, destruktif, dan mampu berangiogenesis. 1
Massa kolesteatoma ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta
menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Terjadinya proses nekrosis terhadap tulang diperhebat
oleh karena pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. Proses nekrosis tulang ini
mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis, meningitis dan abses otak. 1

Tanda klinik OMSK tipe bahaya


Mengingat OMSK tipe bahaya seringkali menimbulkan komplikasi yang berbahaya
maka perlu ditegakkan diagnosis dini. Walaupun diagnosis pasti baru dapat ditegakkan di
kamar operasi, namun beberapa tanda klinik dapat menjadi pedoman akan adanya OMSK
tipe bahaya, yaitu perforasi pada marginal atau pada atik. Tanda ini biasanya merupakan
tanda dini dari OMSK tipe bahaya, sedangkan pada kasus yang sudah lanjut dapat terlihat
abses atau fistel retroaurikuler (belakang telinga), polip atau jaringan granulasi di liang
telinga luar yang berasal dari dalam telinga tengah, terlihat kolesteatoma pada telinga tengah,
(sering terlihat di epitimanum), secret berbentuk nanah atau berbau khas (aroma
kolesteatoma) atau terlihat bayangan kolesteatoma pada foto rontgen mastoid. 1

Komplikasi Otitis Media Supuratif


Otitis media supuratif, baik yang akut maupun kronis, mempunyai potensi untuk
menjadi serius karena komplikasinya yang dapat mengancam kesehatan dan dapat
menyebabkan kematian. Bentuk komplikasi ini tergantung pada kelainan patologik yang
menyebabkan kematian. Bentuk komplikasi ini tergantung apda kelainan patologik yang
menyebabkan otore. Biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe bahaya, tetapi
OMSK tipe aman pun dapat menyebabkan suatu komplikasi, bila terinfeksi kuman yang
virulen. Dengan tersedianya antibiotika mutahir komplikasi otogenik semakin jarang.
Pemberian obat obatan sering menyebabkan gejala dan tanda klinis komplikasi OMSK

menjadi kurang jelas. Hal tersebut menyebabkan pentingnya mengenal pola penyakit yang
berhubungan dengan komplikasi ini. 1
Penyebaran penyakit
Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga tengah
yang normal dilewati sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke struktur di sekitarnya.
Pertahanan pertama ialah mukosa saluran nafas mampu melokalisasi infeksi. Bila sawar ini
runtuh, masih ada sawar kedua, yaitu dinding tulang kavum timpani dan sel mastoid. Bila
sawar ini runtuh, maka struktur lunak di sekitarnya akan terkena. Runtuhnya periosteum akan
menyebabkan terjadinya abses subperiosteal, suatu komplikasi yang relative tidak berbahaya.
Akibat infeksi megarah ke dalam tulang temporal, maka akan menyebabkan paresis N
Facialis atau labirinitis. Bila kea rah kranial, akan menyebabkan abses ekstradural,
tromboflebitis sinus lateralis, meningitis dan abses otak. Bila sawar tulang terlampaui, suatu
dinding pertahanan ketiga yaitu jaringan granulasi akan terbentuk. Pada otitis media supuratif
akut atau suatu eksaserbasi akut penyebaran biasanya melalui osteotromboflebitis
(hematogen). Sedangkan pada kasus yang kronis, penyebaran terjadi melalui erosi tulang.
Cara penyebaran lainnya ialah toksin masuk melalui jalan yang sudah ada, misalnya melalui
fenestra rotundum, meatus akustikus internus, duktus perilimfatik dan duktus endolimfatik. 1
Dari gejala dan tanda yang ditemukan, dapat diperkirakan jalan penyebaran suatu
infeksi telinga tengah ke intracranial. Terdapat 3 macam penyebaran penyakit Otitis Media
1. Penyebaran hematogen
Penyebaran melalui osteotromboflebitis dapat diketahui dengan adanya :
a. Komplikasi terjadi pada awal suatu infeksi atau eksaserbasi akut, dapat terjadi
pada hari pertama atau kedua sampai hari ke sepuluh
b. Gejala prodromal tidak jelas seperti didapatkan pada gejala meningitis local
c. Pada operasi, didapatkan dinding tulang telinga tengah utuh, dan tulang serta
lapisan mukoperiosteal meradang dan mudah berdarah, sehingga disebut juga
mastoiditis hemoragika
2. Penyebaran melalui erosi tulang
Penyebaran melalui erosi tulang dapat diketahui, bila :
a. Komplikasi terjadi beberapa minggu atau lebih setelah awal penyakit
b. Gejala prodromal infeksi local biasanya mendahului gejala infeksi yang lebih
luas, misalnya paresis N facialis ringan yang hilang timbul mendahului paresis
n Facialis yang total, atau gejala meningitis local mendahului yang purulent

c. Pada operasi dapat ditemukan lapisan tulang yang rusak di antara focus
supurasi dengan struktur sekitarnya. Struktur jaringan lunak yang terbuka
biasanya dilapisi oleh jaringan granulasi.
3. Penyebaran melalui jalan yang sudah ada
Penyebaran cara ini dapat diketahui bila :
a. Komplikasi terjadi pada awal penyakit
b. Ada serangan labirinitis atau meningitis berulang, mungkin dapat ditemukan
fraktur tenggorok, riwayat operasi tulang atau riwayat otitis media yang sudah
sembuh. Komplikasi intracranial mengikuti komplikasi labirinitis supuratif
c. Pada operasi dapat ditemukan jalan penjalaran melalui sawar tulang yang
bukan oleh karena erosi. 1
Beberapa penulis mengemukakan klasifikasi komplikasi otitis media yang supuratif dibagi
menjadi : 1
1. Komplikasi di telinga tengah
Akibat infeksi telinga tengah hampir selalu berupa tuli konduktif. Pada membrane
timpani yang masih utuh, tetapi rangkaian tulang pendengaran terputus, akan
menyebabkan tuli konduktif yang berat. Biasanya derajat tuli konduktif tidak selalu
berhubungan dengan penyakitnya, sebab jaringan patologis yang terdapat di kavum
timpani pun, misalnya kolesteatoma dapat menghantarkan suara ke telinga dalam.
a. Perforasi membrane timpani persisten
b. Kerusakan tulang pendengaran
c. Paresis nervus facialis
Nervus facialis dapat terkena oleh penyebaran infeksi langsung ke
kanalis facialis pada otitis media akut. Pada otitis media kronis kerusakan
terjadi oleh erosi tulang oleh kolesteatom atau oleh jaringan granulasi, disusul
oleh infeksi ke dalam kanalis facialis tersebut.
Pada otitis media akut operasi dekompresi kanalis facialis tidak
diperlukan. Perlu diberikan antibiotika dosis tinggi dan terapi penunjang
lainnya, serta menghilangkan tekanan di dalam kavum timpani dengan
drainase. Bila dalam jangka waktu tertentu ternyata tidak ada perbaikan
setelah diukur dengan elektrodiagnostik (misalnya elektromiografi), barulah
dipikirkan untuk melakukan dekompresi.
Pada otitis media supuratif kronis, tindakan dekompresi harus sefera
dilakukan tanpa harus menunggu pemeriksaan elektrodiagnositik. 1
2. Komplikasi di telinga dalam
Apabila terdapat peninggian tekanan di telinga tengah oleh produk infeksi, ada
kemungkinan produk infeksi itu akan menyebar ke telinga dalam melalui tingkap

bulat (fenestra rotundum). Selama kerusakan hanya sampai bagian basalnya saja
biasanya tidak menimbulkan keluhan pada pasien. Akan tetapi apabila kerusakan telah
menyebar ke koklea akan menjadi masalah. Hal ini sering dipakai sebagai indikasi
untuk melakukan miringotomi segera pada otitis media akut yang tidak membaik
dalam 48 jam dengan pengobatan medika mentosa saja. 1
Penyebaran oleh proses destruksi seperti oleh kolesteatoma atu infeksi
langsung ke labirin akan menyebabkan gangguan keseimbangan dan pendengaran.
Misalnya vertigo, mual dan muntah, serta tuli saraf. 1
a. Fistula labirin dan labirinitis
Otitis media supuratif kronis terutama yang dengan kolesteatom, dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin, sehingga
terbentuk fistula. Pada keadaan ini infeksi dapat masuk, sehingga terjadi
labirinitis dan akhirnya akan terjadi komplikasi tuli total atau meningitis.
Fistula di labirin dapat diketahui dengan tes fistula, yaitu dengan
memberikan tekanan udara positif atau negative ke liang telinga melalui
otoskop Siegel dengan corong telinga yang kedap atau balon karet dengan
bentuk elips pada ujungnya yang dimasukkan ke dalam liang telinga. Balon
karet dipencet dan udara di dalamnya akan menyebabkan perubahan tekanan
udara di liang telinga. Bila fistula yang terjadi masih paten, maka akan terjadi
kompresi dan ekspansi labirin membrane. Tes fistula positif akan
menimbulkan nistagmus atau vertigo. Tes fistula bisa negative, bila fistulanya
sudah tertutup oleh jaringan granulasi atau bila labirin sudah mati atau paresis
kanal.
Pemeriksaan radiologic tomografi atau CT Scan yang baik kadang
kadang dapat memperlihatkan fistula labirin yang iasanya ditemukan di
kanalis semisirkularis horizontal.
Pada fistula labirin atau labirinitis, operasi harus segera dilakukan
untuk menghilangkan infeksi dan menutup fistula, sehingga fungsi telinga
dalam dapat pulih kembali. Tindakan bedah yang adekuat, untuk mengontrol
penyakit primer. Matriks kolesteatoma dan jaringan granulasi harus diangkat
dari fistula sampai bersih dan daerah tersebut harus segera ditutup dengan
jaringan ikat atau sekeping tulang tulang rawan.
b. Labirinitis
Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis
umum (general), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, sedangkan

labirinitis yang terbatas (sirkumskripta) menyebabkan terjadinya vertigo saja


atau tuli saraf saja.
Labirinitis terjadi oleh karena penyebaran infeksi ke ruang perilymph.
Terdapat 2 bentuk labirinitis, yaitu labirinitis serosa dan supuratif. Labirinitis
serosa dapat terbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa
sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis supuratif
aku difus dan labirinitis supuratif kronik difus.
Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi serosa toksin
menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang, sedangkan pada
labirinitis supuratif, sel radang menginvasi labirin, sehingga terjadi kerusakan
yang irreversible, seperti fibrosis dan osifikasi.
Pada kedua bentuk labirinitis itu operasi harus segera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang kadang diperlukan juga
drainase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian
antibiotika yang adekuat terutama ditujungan kepada pengobatan otitis media
kronik dengan atau tanpa kolesteatoma. 1
3. Komplikasi ke ekstradural
a. Petrositis
Kira kira sepertiga dari populasi manusia, tulang temporalnya
mempunyai sel sel udara sampai ke apeks os petrosum. Terdapat beberapa cara
penyebaran infeksi dari telinga tengah ke os petrosum. Yang sering ialah
penyebaran langsung ke sel sel udara tersebut.
Adanya petrositis sudah harus dicurigai apabila pada pasien otitis
media terdapat keluhan diplopia, karena kelemahan N VI. Seringkali disertai
dengan rasa nyeri di daerah parietal, temporal atau oksipital, oleh karena
terkenanya N V ditambah dengan terdapatnya otore yang persisten,
terbentuklah suatu sindrom yang disebut ssindrom Gradenigo.
Kecurigaan terhadap petrositis terutama bila terdapat nanah yang
keluar terus menerus dan rasa nyeri yang menetap pasca mastoidektomi.
Pengobatan petrositis ialah operasi serta pemberian antibiotika
protocol komplikasi intracranial. Pada waktu melakukan operasi telinga
tengah dilakukan juga eksplorasi sel sel udara tulang petrosum serta
mengeluarkan jaringan pathogen.
b. Tromboflebitis sinus lateralis
Invasi infeksi ke sinus sigmoid ketika melewati tulang mastoid akan
menyebabkan terjadinya thrombosis sinus lateralis. Komplikasi ini sering
ditemukan pada zaman pra-antibiotik, tetapi kini sudah jarang terjadi.

Demam yang tidak dapat diterangkan penyebabnya merupakan tanda


pertama dari infeksi pembuluh darah. Pada mulanya suhu tubuh turun naik,
tetapi setelah penyakit menjadi berat didapatkan kurva suhu yang naik turun
dengan sangat curam disertai dengan menggigil. Kurva suhu demikian
menandakan adanya sepsis.
Rasa nyeri biasanya tidak jelas, kecuali bila sudah terdapat abses
perisinus. Kultur darah biasanya positif, terutama bila darah diambil bila
demam.
Pengobatan haruslah dengan jalan bedah, membuang sumber infeksi di
sel sel mastoid, membuang tulang yang berbatasan dengan sinus (sinus plate)
yang nekrotik, atau membuang dinding sinus yang terinfeksi atau nekrotik.
Jika sudah terbentuk thrombus harus juga dilakukan drainase sinus dan
mengeluarkan thrombus. Sebelum itu dilakukan dulu ligase vena jugulare
interna atau mencegah thrombus terlepas ke paru dan ke dalam tubuh lain.
c. Abses ekstradural
Abses ekstradural adalah terkumpulnya nanah di antara durameter dan
tulang. Pada otitis media supuratif kronis keadaan ini berhubungan dengan
jaringan granulasi dan kolesteatoma yang menyebabkan erosi tegmen timpani
atau mastoid.
Gejala utamanya berupa nyeri telinga hebat dan nyeri kepala. Dengan
foto rontgen mastoid yang baik, terutama posisi Schuller, dapat dilihat
kerusakan di lempeng tegmen yang menandakan tertembusnya tegmen. Pada
umumnya abses ini baru diketahui pada waktu operasi mastoidektomi.
d. Abses subdural
Abses subdural jarang terjadi sebagai perluasan langsung dari abses
ekstradural biasanya sebagai perluasan tromboflebitis melalui pembuluh vena.
Gejalanya dapat berupa demam, nyeri kepala, dan penurunan
kesardaran sampai koma pada pasien OMSK. Gejala kelainan susunan saraf
pusat bisa berupa kejang, hemiplegia dan pada pemeriksaan terdapat tanda
kernig positif.
Pungsi lumbal perlu untuk membedakan abses subdural dengan
meningitis. Pada abses subdural pada pemeriksaan CSS kadar protein biasanya
normal dan tidak ditemukan normal. Kalau pada abses ekstradural nanah
keluar pada waktu operasi mastoidektomi, pada abses subdural nanah harus
dikeluarkan secara bedah saraf (neuro-surgical), sebelum dilakukan operasi
mastoidektomi. 1
4. Komplikasi ke susunan saraf pusat

a. Meningitis
Komplikasi otitis media ke susunan saraf pusat yang paling sering
ialah meningitis. Keadaan ini dapat terjadi oleh OMA, maupun kronis, serta
dapat terlokalisasi, atau umum (general). Walau secara klinik kedua bentuk ini
mirip, pada pemeriksaan CSS terdapat bakteri pada bentuk yang umum
(general), sedangkan pada bentuk yang terlokalisasi tidak ditemukan bakteri.
Gambaran klinik meningitis biasanya berupa kaku kuduk, kenaikan
suhu tubuh, mual, muntah, yang kadang kadang muntahnya muncrat
(proyektif), serta nyeri kepala hebat. Pada kasus yang berat biasanya
kesadaran menurun (delirium sampai koma). Pada pemeriksaan klinik terdapat
kaku kuduk waktu difleksikan dan terdapat tanda kernig positif. Biasanya
kadar gula menurun dan kadar protein meninggi di CSS.
Pengobatan meningitis otogenik ini ialah dengan

mengobati

meningitisnya dulu dengan antibiotic yang sesuai, kemudian infeksi di


telinganya ditanggulangi dengan operasi mastoidektomi.
b. Abses otak
Abses otak sebagai komplikasi otitis media dan mastoiditis dapat
ditemukan di serebelum, fosa kranial posterior atau di lobus temporal, di fosa
kranial media. Keadaan ini sering berhubungan tromboflebitis sinus lateralis,
petrositis, atau meningitis. Abses otak biasanya merupakan perluasan langsung
dari infeksi telinga dan mastoid atau trombofletbitis. Umumnya didahului oleh
suatu abses ekstradural.
Gejala abses serebelum biasanya lebih jelas daripada abses lobus
temporal. Abses serebelum dapat ditandai dengan ataksia, disdiadokokinesis,
tremor intensif dan tidak tepat menunjuk suatu objek. Afasia dapat terjadi pada
abses lobus temporal. Gejala lain yang menunjukkan adanya toksisitas, berupa
nyeri kepala, demam, muntah serta keadaan letargik. Selain itu sebagai tanda
yang nyata suatu abses otak ialah nadi yang lambat serta serangan kejang.
Pemeriksaan CSS memperlihatkan kadar protein yang meninggi serta
kenaikan tekanan liquor. Mungkin juga terdapat edema papil. Lokasi abses
dapat ditentukan dengan pemeriksaan angiografi, ventrikulografi atau dengan
tomografi computer.
Pengobatan abses otak ialah dengan antibiotika parenteral dosis tinggi
(protocol terapi komplikasi intracranial), dengan atau tanpa operasi untuk
melakukan drenasi dari lesi. Selain itu pengobatan dengan antibiotika harus

intensif. Mastoidektomi dilakukan untuk membuang sumber infeksi, pada


waktu keadaan umum lebih baik.
c. Hidrosefalus otitis
Hidrosefalus otitis ditandai dengan peninggian tekanan CSS yang
hebat tanpa adanya kelainan kimiawi dari liquor itu. Pada pemeriksaan
terdapat edema papil. Keadaan ini dapat menyertai OMA, maupun OMK.
Gejala berupa nyeri kepala yang menetap, diplopia, pandangan yang kabur,
mual, dan muntah. Keadaan ini diperkirakan disebabkan oleh tertekannya
sinus lateralis yang mengakibatkan kegagalan absropsi liquor serebrospinal
oleh lapisan araknoid. 1
5. Mastoiditis5
Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak
pada tulang temporal yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga
tengah.Mastoiditis adalah penyakit sekunder dari otitis media yang tidak sembuh. 5
Terapi OMSK
Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang ulang.
Secret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara lain
disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan, yaitu : 1
1. Adanya perforasi membrane timpani yang permanen, sehingga telinga tengah
berhubungan dengan dunia luar
2. Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung, dan sinus paranasal
3. Sudah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga mastoid
4. Gizi dan higiena yang kurang1
Prinsip terapi OMSK tipe aman ialah konservatif atau dengan medikamentosa. Bila
secret yang keluar terus menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H 2O2
3% selama 3-5 hari. Setelah secret berkurang maka terapi dilanjutkan dengan memberikan
obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid . banyak ahli berpendaoat
bahwa semua obat tetes yang dijual di pasaran ini mengandung antibiotika yang bersifat
ototoksik. Oleh sebab itu penulis menganjurkan agar obat tetes telinga jangan diberikan
secara terus menerus lebih dari 1 atau 2 minggu atau pada OMSK yang sudah tenang. Secara
oral diberikan antibiotika dari golongan ampisilin atau eritromisin (bila pasien alergi terhadap
penisilin), sebelum hasil tes resistensi diterima. Pada infeksi yang dicurigai karena
penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin dapat diberikan ampisilin asam klavulanat. 1

Bila secret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan,
maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan untuk
menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membrane timpani yang perforasi,
mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta
memperbaiki pendengaran. 1
Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan secret tetap ada, atau terjadinya
infeksi berulang, maka sumber infeksi itu harus diobati terlebih dahulu, mungkin juga perlu
melakukan pembedahan, misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi. 1

Gambar 2: timpanoplasti. Sumber Google Image


Prinsip terapi OMSK tipe bahaya ialah pembedahan, yaitu mastoidektomi. Jadi bila
terdapat OMSK tipe bahaya, maka terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi
dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi konservatif dengan medika mentosa hanyalah
merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses
subperiosteal retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum
mastoidektomi. 1
Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan
pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain :
a. Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan pengobatan
konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan
ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya ialah supaya infeksi tenang
dan telinga tidak berair lagi. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak
diperbaiki. 1
b. Mastoidektomi radikal

Operasi ini dilakukan pada OMSK bahaya dengan infeksi atau


kolesteatoma yang sudah meluas. 1
Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari
semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga
tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi
tersebut menjadi 1 ruangan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua
jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intracranial. 1
Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur
hidupnya. Pasien harus datang dengan teratur untuk control supaya tidak
terjadi infeksi kembali. Pendengaran berkurang sekali, sehingga dapat
menghambat pendidikan atau karier pasien. 1
Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur (graft) pada
rongga operasi serta membuat meatoplasti yang lebar, sehingga rongga operasi
kering permanen, tetapi terdapat cacat anatomi, yaitu meatus liang telinga luar
menjadi lebar. 1
c. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy)
Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatoma di daerah
atikapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan
dan dinding posterior liang telinga direndahkan. 1
Tujuan operasi ialah untuk membuang semua jaringan patologik dari
rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. 1
d. Miringoplasti
Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal
juga dengan nama timpanoplasti tipe I. rekonstruksi hanya dilakukan pada
membrane timpani.
Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga
tengah pada OMSK tipe aman dengan perforasi yang menetap. 1
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang sudah tenang
dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membrane
timpani. 1
e. Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang
lebih berat atau OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenangkan dengan
pengobatan medika mentosa. Tujuan operasi ini ialah untuk menyembuhkan
penyakit serta memperbaiki pendengaran.
Pada operasi ini selain rekonstruksi membrane timpani sering kali
harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan bentuk

rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan maka dikenal istilah


timpanoplasti tipe II, III, IV, dan V.
Sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi
kavum timpani dengan atau tanpa mastoidektomi, untuk membersihkan
jaringan patologis. Tidak jarang pula operasi ini terpaksa dilakukan 2 tahap
dengan jarak waktu 6-12 bulan. 1
f. Pendekatan ganda timpanoplasti (Combined Approach Tympanoplasty)
Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan
pada kasus OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe aman dengan jaringan
granulasi yang luas.
Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki
pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal ( tanpa
meruntuhkan dinding posterior liang telinga).
Membersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi di kavum timpani,
dikerjakan melalui 2 jalan (combined approach) yaitu melalui liang telinga dan
rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini
pada OMSK tipe bahaya belum disepakati oleh para ahli, oleh karena sering
terjadi kambuhnya kolesteatoma kembali. 1

Gambar 4. Algoritma 11,6


1

Gambar 3. Pedoman Tatalaksana OMSK1,6


Gambar 5. Algoritma 21,6

Daftar Pustaka
1. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar ilmu kesehatan
telinga hidung tenggorok kepala & leher. 7th edition. Jakarta: Badan Penerbit FK UI,
2014 .h. 62-7, 70-5.
2. Ganong, William. Pendengaran dan Keseimbangan dalam: Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC,2012.h. 179 185.
3. Nursiah S. Pola kuman aerob penyebab OMSK dan kepekaan terhadap beberapa
antibiotika di bagian THT. Bagian Penerbit Library USU. 2003.
4. Asroel HA, Siregar DR, Aboet A. Profil penderita otitis media supuratif kronis. Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional; 2013; h. 568
5. Braunwald E, et al. Harrisons principles of internal medicine. Edisi ke-17. Amerika
Serikat: McGraw-Hill; 2009.
6. Sumber Gambar diambil dari Google Image. Diunduh pada tanggal 9 Desember 2015.