Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 3

SISTEM PENCERNAAN
MODUL I

Oleh:
MUH DISNA FAIZAL
2011/311747/KH/6972/SU
Kelompok 2

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011

Unit Pembelajaran 1

Variasi Anatomi Pencernaan pada Pisces, Amphibia, dan Reptilia

Learning Objective
Jelaskan sistem digesti pada Pisces, Reptil dan Amphibi mengenai:
a. Anatomi
b. Fisiologi
c. Biokimia

Pembahasan
A. Sistem digesti ( sistem pencernaan)
Digesti (pencernaan) adalah proses pemecahan zat-zat makanan sehingga
dapat diabsorpsi oleh saluran pencernaan. Proses digesti meliputi: (1)
pengambilan makanan (prehensi), (2) memamah (mastikasi), (3) penelanan
(deglutisi), (4) pencernaan (digesti), dan (5) pengeluaran sisa-sisa pencernaan
(egesti). Berdasarkan proses pencernaannya dapat dibedakan menjadi digesti
makanan secara mekanis, enzimatis, dan mikrobiotis ( Nurcahyo, 2005).

1. Sistem digesti pada Pisces


a. Anatomi
1.) Tractus digestivus (Saluran pencernaan)

a. Rima Oris ( Celah mulut)


Secara umum ada empat jenis mulut ikan
berdasarkan bentuknya: bentuk seperti tabung
(tube like), seperti paruh (beak like), seperti
gergaji (saw like), dan seperti terompet.
b. Cavum Oris (Rongga mulut)

Pada rahang terdapat gigi-gigi kecil yang berbentuk


conus

(kerucut).

Gigi-gigi

pada

ikan

termasuk

homodental (mempunyai bentuk yang sama) dan


bersifat acrodont yaitu gigi tidak tertancap pada
gusi. Lingua (lidah) melekat pada dasar mulut dan tidak dapat
digerakkan. Terdapat banyak glandula mucosa (kelenjar lendir),
tetapi tidak mempunyai glandula salivales (kelenjar ludah).
Fungsinya untuk mempermudah jalannya makanan ke segmen
berikutnya. Pada langit-langit bagian belakang terdapat organ
palatin yang merupakan penebalan dari organ mukosa,
berfungsi dalam proses penelanan makanandan membantu
membuang kelebihan air pada makanan yang dimakan.
c. Pharynx (Pangkal tenggorokan/ tekak)
Terdapat di daerah yang sesuai dengan tempat insang
dan tampak bila insang diambil. Pada ikan filter feeding proses
penyaringan makanan terjadi pada segmen ini. Apabila material
yang masuk bukan makanan akan dibuang melalui celah
insang. Lapisan permukaan faring hampir sama dengan rongga
mulut, kadang kala masih ditemukan organ pengecap.
d. Esophagus (Kerongkongan)
Pendek, sebagai lanjutan dari pharynx. Bentuknya
seperti kerucut. Terdapat di belakang insang. Bila sedang tidak
dilalui makanan, lumen (ruang menyempit). Pada Physostomi
(golongan

ikan

yang

mempunyai

ductus

pneumaticus)

mempunyai hubungan dengan pneumatocyst.


e. Ventriculus (Lambung)
Pada umumnya membesar, tetapi pada cyprinus carpio
hanya tampak sebagai alat yang memanjang, merupakan
perbesaraan daripada usus. Batas-batas dengan usus tidak
begitu nyata.

f. Intestinum (Usus)
Merupakan pipa panjang yang berkelok-kelok dan sama
besarnya. Intestinum berakhir dan bermuara keluar sebagai
anus. Usus difiksasi oleh suatu alat penggantung usus, yang

disebut mesenterium, yang merupakan derivat (turunan) dari


peritoneum (pembungkus rongga perut).
g. Anus
Merupakan saluran akhir

dari

saluran

pencernaan yang terletak disaluran genital. Pada


umumnya anus dimiliki ikan bertulang sejati
namun

pada

ikan

betulang

rawan

memiliki

klaoaka dimana merupakan saluran akhir dari


pertemuan/muara

saluran

yakni

saluran

kelamin, saluran kencing dan saluran pencernaan.


2.) Glandula digestoria (Kelenjar pencernaan)
a. Hepar (Hati)
Berukuran besar, berwarna merah kecoklat-coklatan,
letaknya

di bagian depan rongga badan dan meluas

mengelilingi usus. Bentuknya tidak tegas dan teoritis, dapat


dibedakan menjadi tiga/ bagian lobi:
Lobus Dorsalis
Lobus Dexter
Lobus Sinister
b. Vesica Fellea (Kantong empedu)
Bentuknya membulat, berwarna kehijau-hijuan, terletak
di sebelah ventral lobus dexter hepar.
c. Pancreas
Pada ikan jaringan pankreas bersifat mikroskopik.
Dikenal tiga macam tipe pankreas, yaitu kompak, diffus, dan
disseminated, artinya pancreas membentuk lanjutan yang
bercabang-cabang. Lanjutan-lanjutan ini menembus jaringan
hepar dan perluasannya menembus anus.

b. Fisiologi
1.) Tractus digestivus (Saluran pencernaan)
Pada umumnya berfungsi sebagai transpor (mengangkut bahanbahan makanan), pencernaan (physis/ mekanis), pencernaan
(kemis), absorpsi (menyerap sari-sari makanan).

a. Rima Oris ( Celah mulut)


Celah mulut berfungsi sebagai penangkap
makanan yang diteruskan ke cavum oris. Pada
beberapa ikan terdapat sungut yang berfungsi
sebagai alat pndeketsi keberadaan makanan.
b. Cavum Oris (Rongga mulut)
Terdapat glandula mucosa (kelenjar lendir) yang
berfungsi untuk mempermudah jalannya makanan ke segmen
berikutnya. Gigi berperan dalam mengambil, mencengkeram,
merobek memotong atau menghancurkan makanan atau
merupakan alat pencernaan makanan secara mekanik.
c. Pharynx (Pangkal tenggorokan/ tekak)
Pada ikan filter feeding proses penyaringan makanan
terjadi pada segmen ini. Apabila material yang masuk bukan
makanan akan dibuang melalui celah insang.
d. Esophagus (Kerongkongan)
Pada ikan laut esofagus berperan dalam
penyerapan

garam

melalui

difusi

pasif

menyebabkan konsentrasi garam air laut yang


diminum

menurun

sehingga

memudahkan

penyerapan air oleh usus belakang dan rektum.


e. Ventriculus (Lambung)
Berdasarkan strukturnya ventriculus tidak
hanya berfungsi sebagai penampung makanan
namun juga mencerna makanan secara kimiawi
(Fujaya, 2004).
f. Intestinum (Usus)
Bentuk usus

yang

panjang

dan

tonjol-

tonjolan (vili) berfungsi sebagai penyerapan zat


makanan. Semantara rektum berfungsi sebagai
penyerapan air dan ion yang masih dibutuhkan
oleh tubuh
g. Anus
Merupakan saluran akhir dari saluran pencernaan
yang terletak disaluran genital.
2.) Glandula digestoria (Kelenjar pencernaan)
a. Hepar (Hati)

Mengahasilkan empedu (sebagai kelenjar


eksokrin)

yang

terkumpul

dalam

kandung

empedu, menyimpan lemak dan glikogen serta


albumin, mensintesis
darah, detoksifikasi

protein
zat-zat

plasma

toksis, merombak

eritrosit yang rusak.


b. Vesica Fellea (Kantong empedu)
Berfungsi

sebagai

penampung

cairan

empedu yang disekresikan oleh hepar.


c. Pancreas
Pada pangkreas sel edokrinnya berfungsi
menyekresikan hormon insulin sementara pada
sel eksokrinya berfungsi menyintesis emzim.
2. Sistem digesti pada Amphibi
a. Anatomi
1) Tractus digestivus (Saluran pencernaan)

a. Rima Oris (Celah Mulut)


Pada ujung dari rostrum (moncong)
b. Cavum oris (Rongga mulut)
Pada cavum oris di bagian maxilla (rahang atas)
terdapat

dentes

mandibulanya

berbentuk

(rahang

conus

bawah)

sementara

tidak

terdapat

dentes. Dentes pada amphibia bersifat homodent

(mempunyai bentuk yang sama) dan bertipe


pleurodont yang artinya dentis menempel pada
bagian samping gingiva (gusi). Di bagian palatum
(atap mulut) terdapat os vomer yang berbentuk
huruf V yang mengandung dentes. Linguanya
melekat pada os hyoideum, dengan pangkal
terdapat di sebelah caudal cavum oris bersifat
bifida (bercabang) dan dapat dijulurkan keluar
cavom oris.
c. Pharynx (Pangkal tenggorokan/ tekak)
Merupakan pangkal kerongkongan
d. Esophagus (Kerongkongan)
Merupakan saluran berukuran pendek
e. Ventriculus (Lambung)
Berupa kantong yang dapat membesar apabila terisi
makanan. Dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
Cardia : Tempat masuknya esophagus
Pylorus : Lubang keluar menuju ke intestinum
f. Intestinum (Usus)
Digantungkan oleh selaput tipis, yaitu mesenterium.
Dan dibedakan atas:
1. Intestinum tenue (usus halus), dibagi menjadi:
- Duodenum (usus 12 jari)
- Jejenum (bagian awal pada usus halus)
- Ileum (bagian akhir pada usus halus)
2. Intestinum crassum (usus besar)
Bagian akhir disebut rectum
g. Cloaca
Merupakan muara bersama bagi saluran makanan,
kelamin, dan kencing.
2) Glandula digestoria (Kelenjar pencernaan)
a. Hepar (Hati)
Berwarna merah coklat dan terdiri atas:
Lobus Dexter (lebih kecil)
Lobus Sinister (lebih besar)
b. Vesika Fellea (Kantong empedu)

Terdapat diantara lobus hepatis, berwarna kehijauhijauan. Terdapat penyimpanan empedu yang dihasilkan oleh
hepar. Dari vesika fellea keluar saluran ductus cysticus. Ductus
hepaticus dan ductus cysticus, di caudal membentuk saluran
yang lebih besar, yaitu ductus choledochus, berjalan dalam
pancreas dan bermuara di duodenum.
c. Pancreas
Berwarna kekuning-kuningan,

melekat

diantara

ventriculus dan duodenum.


b. Fisiologi
1) Tractus digestivus (Saluran pencernaan)
a. Rima Oris (Celah Mulut)
Pada katak berfungsi sebagai penangkap makanan
yang diterima oleh lingua.
b. Cavum oris (Rongga mulut)
Cavum oris dengan lingua bifida untuk menangkap
mangsanya dan gigi-gigi berbentuk conus (kerucut) untuk
memegang mangsanya.
c. Pharynx (Pangkal tenggorokan/ tekak)
Sebagai penghubung untuk meneruskan makanan antara
cavum oris dengan eshopagus.
d. Esophagus (Kerongkongan)
Sebagai saluran peenerus makanan ke ventriculus
e. Ventriculus (Lambung)
Sebagai penampung makanan yang ukurannya dapat
membesar.
f. Intestinum (Usus)
Pada intestinum tenue terdapat doudenum
yang berfungsi sebagai proses pencernaan secara
kimiawi. Jejunum hanya sebagai usus kosong dan
ileum sebagai usus penyerapan dimana zat-zat
yang

terhidrolisis

secara

sederhana

akan

diabsorbsi seluruh tubuh. Dan intestinum crassum


sebagai pencerna makanan lanjutan yang belum
dicerna oleh usus halus.

g. Cloaca
Sebagai saaluran pembuangan dan merupakan saluran
terakhir dari sistem pencernaan.
3) Glandula digestoria (Kelenjar pencernaan)
a. Hepar (Hati)
Mengahasilkan empedu (sebagai kelenjar
eksokrin)

yang

terkumpul

dalam

kandung

empedu, menyimpan lemak dan glikogen serta


albumin, mensintesis
darah, detoksifikasi

protein
zat-zat

plasma

toksis, merombak

eritrosit yang rusak.


b. Vesika Fellea (Kantong empedu)
Berfungsi

sebagai

penampung

cairan

empedu yang disekresikan oleh hepar.


c. Pancreas
Pada pangkreas sel edokrinnya berfungsi
menyekresikan hormon insulin sementara pada
sel eksokrinya berfungsi menyintesis emzim. Serta
berfungsi sebagai alat transportasi hasil sekresi
hepar dan vesica fellea menuju doudenum.

3. Sistem digesti pada Reptil


a. Anatomi

1) Tractus digestivus (Saluran pencernaan)


a. Rima Oris (Celah Mulut)
Pada ujung dari rostrum (moncong)
b. Cavum oris (Rongga mulut)
Celah mulutnya (rima oris) disokong oleh maxilla
(rahang atas) dan mandibula (rahang bawah). Memiliki gigi
berbentuk conus (kerucut). Gigi bertipe pleurodont, artinya
menempel pada agak sisi samping gingiva (gusi), sedikit
melengkung ke arah cavum oris. Lingua (Lidah) terletak pada
dasar mulut, melekat pada tulang lidah (os hyoideum), dengan
pangkal terdapat di sebelah caudal cavum oris dan ujungnya
bersifat bifida.
c. Pharynx (Pangkal tenggorokan/ tekak)
Merupakan bagian pangkal dari kerongkongan
d. Esophagus (Kerongkongan)
Merupakan
saluran
berukuran
pendek
menahubungkan ke ventriculus.
e. Ventriculus (Lambung)
Sebagai pelebaran esophagus

yang

yang

cylindris

berdindidng muscular tebal.


f. Intestinum (Usus)
Terdiri dari intetenum tenue (Usus halus) dan
intestinum crassum (Usus besar).
h. Cecum
Terdapat pada batas antara intestinum tenue dan
intestinum crassum.
i.

Cloaca

Merupakan muara bersama bagi saluran makanan,


kelamin, dan kencing.
)

Glandula digestoria (Kelenjar pencernaan)


a. Hepar (Hati)
Berwarna cokelat kemerahan. Terdiri atas:
a. Lobus dexter
: Bagian kanan (lebih kecil)
b. Lobus sinister
: Bagian kiri (lebih besar)
b. Vesica Fellea (Kantong empedu)
Terletak pada tepi caudal lobus dexter hepatis.
c. Pancreas
Berbentuk pipih dan berwarna kekuningan. Terletak di
antara ventriculus dan duodenum.
d. Ductus choledochus
Berjalan dalam jaringan pancreas pada ujung cranial
duoderum.

Alat penggantung
Terdidi atas:
a.
b.
c.
d.

Mesogastrium : Penggantung ventriculus


Mesenterium : Penggantung intestinum
Mesorectum : Penggantung rectum/ intestinum crassum.
Omentum gastrohepaticum : Antara bagian dorsal hepaticus

dan ventriculus.
e. Omentum duodenohepaticum : Membentang antara duodenum
dan hepar.

b. Fisiologi
1. Tractus digestivus (Saluran pencernaan)
a. Rima Oris (Celah Mulut)
Sebagai celah melintang lebar pada ujung anterior caput
b. Cavum oris (Rongga mulut)
Terdapat gigi yang berperan dalam mengambil,
mencengkeram, merobek memotong atau menghancurkan
makanan atau merupakan alat pencernaan makanan secara
mekanik.
c. Pharynx (Pangkal tenggorokan/ tekak)
Sebagai penghubung untuk meneruskan makanan antara
cavum oris dengan eshopagus.
d. Esophagus (Kerongkongan)

Sebagai saluran penerus makanan dari pharynx ke


ventriculus
e. Ventriculus (Lambung)
Sebagai pelebaran

esophagus

yang

cylindris

berdindidng muscular tebal.


f. Intestinum (Usus)
Pada intestinum crassum (Usus besar) berfungsi sebagai
rectum.
g. Cecum (Usus buntu)
Cecum atau caecum adalah bagian dari intestinum
crassum (usus besar) yang menghubungkan intestinum tenue
(usus halus) dan intestinum crassum (usus besar).
h. Cloaca
Sebagai saluran pembuangan dan merupakan saluran
terakhir dari sistem pencernaan.
)

Glandula digestoria (Kelenjar pencernaan)


a. Hepar (Hati)
Mengahasilkan empedu (sebagai kelenjar
eksokrin)

yang

terkumpul

dalam

kandung

empedu, menyimpan lemak dan glikogen serta


albumin, mensintesis
darah, detoksifikasi

protein
zat-zat

plasma

toksis, merombak

eritrosit yang rusak.


b. Vesica Fellea (Kantong empedu)
Berfungsi

sebagai

penampung

cairan

empedu yang disekresikan oleh hepar.


c. Pancreas
Pada pangkreas sel edokrinnya berfungsi
menyekresikan hormon insulin sementara pada
sel eksokrinya berfungsi menyintesis emzim.
d. Ductus choledochus berjalan dalam jaringan pancreas pada
ujung cranial duoderum.
)

Alat penggantung
Sebagai derivat peritoneum (turunan pembungkus rongga
perut)

B. Biokimia sistem digesti pada pisces. amphibi, dan reptil

Dalam suatu sistem pencernaan juga terdapat enzim-enzim yang


mendukung proses terjadinya pencernaan. Beberapa enzim tersebut, misalnya:

Enzim
Pepsin

Enzim Pencernaan
Asal Produksi
Fungsi
Fundus Lambung
Mengubah protein menjadi pepton/

Amilase

Pankreas

polipeptida kecil
Mengubah
polisakarida

Pankreas

maltosa atau disakarida lain


Memecah lemak menjadi asam lemak

Tripsin

Pankreas

dan gliserol
Memecah

Peptidase

Dinding duodenum

polipeptida kecil
Memecah polipeptida menjadi asam

Disakarase

Dinding duodenum

amino
Memecah

Lipase

polipeptida

disakarida

menjadi

menjadi

menjadi

monosakarida, jenis disakarase spesifik


dengan

substrat,

maltase

untuk

memecah maltosa menjadi glukosa,


sukrase

memecah

sukrosa

menjadi

glukosa dan fruktosa, laktase memecah


Lipase

Dinding duodenum

laktosa menjadi glukosa dan galaktosa


Memecah monogliserida menjadi asam
lemak dan gliserol.

Selain enzim juga terdapat hormon-hormon yang dihasilkan oleh


beberapa organ pencernaan yang mendukung proses terjadinya pencernaan.
Beberapa hormon tersebut, misalnya:
Hormon Hormon Pencernaan
Hormon
Pencernaan
Gastrin
Enterogastrin
Sekretin

Tempat produksi

Stimulus

Pengaruh

Dinding lambung

Makanan dalam

Merangsang sekresi

Dinding

lambung
Kim asam dalam

getah lambung.
Merangsang

duodenum

duodenum

pengeluaran
bikarbonat dalam
pankreas untuk

menetralkan kim
asam dalam
Kolesistokinin

Dinding

Asam amino atau

duodenum.
Merangsang

duodenum

asam lemak dalam

pengeluaran enzim

kim dalam

pankreas ke

duodenum

duodenum;
merangsang
kantung empedu
mensekresikan
empedu ke

Enterogastron
lain

Dinding

Kim dalam

duodenum.
Menghambat

duodenum

duodenum

peristaltis dalam
lambung
(memperlambat
masuknya makanan
ke usus halus)

C. Perkembangan sistem digesti


Vertebrata

pada awalnya berasal dari 1 sel (disebut sigot) yang

memiliki 2n kromosom dan merupakan gabungan dari 1 sel kelamin betina


(memiliki 1n kromosom) dengan 1 sel kelamin jantan (memiliki 1n
kromosom). Zigot kemudian berkembang membentuk individu vertebrata
yang baru dengan mengalami beberapa stadium perkembangan yaitu:
pembelahan, blastula, gastrula, tubulasi, organogenesis, dan kemudian
pembentukan sistem tubuh. Pada stadium gastrula, di dalam embrio terdapat
rongga yang disebut gastroselom atau archenteron. Pada proses tubulasi,
archenteron kemudian memanjang membentuk metenteron (dibagi menjadi:
foregut, midgut dan hindgut). Ujung anterior foregut bergabung

dengan

stomodeum membentuk mulut. Stomodeum adalah invaginasi lapisan


ektoderm di daerah ujung foregut. Ujung posterior hindgut bergabung dengan
proktodeum membentuk anus (dubur). Proktodeum adalah invaginasi lapisan
ektoderm di daerah ujung hindgut. Saluran pencernaan awal dari anterior ke

posterior tersusun atas: stomodeum, foregut, midgut, hindgut dan proktodeum


(Pangestiningsih, 2009).
Pada periode organogenesis, saluran pencernaan awal berkembang
lebih lanjut membentuk organ. Kantung rathke (adeno hipofisis) bergabung
dengan evaginasi diencephalon (neuro hipofisis) membentuk hipofisis serebri.
Terbentuknya bakal langit-lanigt (palatum) membagi stomodeum
menjadi kavum nasi dan kavum oris. Kavum nasi kiri dan kanan dipisahkan
oleh septum nasi.
Pada embrio manusia umur 4 minggu, sistem pencernaan sudah
memiliki stomodeum (st), bakal lambung (la), divertikulum pankreas (dp),
divertikulum hati (dh), usus (us) dan proktodeum (pr). Pada embrio manusia
umur 10 minggu, sistem pencernaan tersusun atas rongga mulut (rm), lidah
(li), faring (fa), oesofagus (oe), lambung (la), hati (ha), pankreas (pa), usus
(us), kolon (ko), rektum (re) (Pangestiningsih, 2009).
a) Lidah
Merupakan penonjolan epidermis di 3 daerah yaitu tuberkulum
impar,kopula dan sepasang tuberkulum di kiri dan kanan tuberkulum impar.
Ketiganya bersatu, kemudian bergabung dengan otot- otot (miotom kepala)
dan gema gustatoria (Pangestiningsih, 2009).
b) Kelenjar ludah
Berasal dari evaginasi epidermis, berpasangan kiri dan kanan. Mulamula berbentuk masif kemudian berbentuk gelembung seperti buah berry lalu
membentuk asinus dan terakhir membentuk kelenjar menjadi kelenjar.
c) Gigi
Berasal dari ektoderm (epidermis)

yang menyusun email, dan

mesoderm (korion) yang menyusun dentin, sementum, membran periodontalis


dan pulpa.
d) Hepar dan pankreas
Hepar dan pankreas tumbuh dari evaginasi daerah medioventral
foregut yang berbatasan dengan midgut. Bagian posterior kemudian tumbuh
menjadi vesica fellea . Pankreas tumbuh berupa 1,2 atau 3 evaginasi dekat
evaginasi bakal hepar.
e) Kloaka

Merupakan kantung pelepasan umum yang menjadi muara ureter,


rektum dan duktus genitalis . Pada reptilia, aves dan monotremata kloaka tetap
hadir sampai lahir. Pada pisces dan amfibia, rektum memiliki saluran sendiri.
Pada Euteria, ketiga pelepasan mempunyai saluran sendiri-sendiri sehingga
tidak ada kloaka waktu lahir, tetapi pada hewan jantan pelepasan kemih dan
kelamin masih bergabung membentuk duktus urogenitalis (Pangestiningsih,
2009).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. http://fapet.ipb.ac.id/. Diakses tgl 21 Desember 2010.
Anonim.

2007.

Seri

Pembelajaran

Struktur

Hewan.

http://www.biology-

um.com/data/hibah%20pengajaran/struktur
%20hewan/Materi_sispencernaan.htm. Diakses tgl 21 Desember 2010.
Anonim. 2007. Buku Praktikum Anatomi Komparatif. Fakultas Kedokteran Hewan,
Universitas Negeri Gadjah Mada, Yogyakarta.
Fujaya, Yushinta. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan,
Cetakan Pertama. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius.
Junaidi,

Wawan.

2010.

Sistem

pencernaan

pada

amfibi.

http://wawan-

junaidi.blogspot.com/2010/05/sistem-pencernaan-pada-amfibi.html. Diakses
tgl 21 Desember 2010.
Nurcahyo, Heru. 2005. SISTEM PENCERNAAN MAKANAN (DIGESTI). Materi
Biologi diberikan pada Program Pembimbingan Olimpiade Biologi di SMA
Negeri 1 Kalasan, tanggal 3 Februari 2005. Dosen Jurdik Biologi, FMIPA,
UNY.
Pangestiningsih, Tri Wahyu. 2009. Kuliah Pengantar Gambaran Umum Anatomi
Perkembangan Vertebrata. Yogyakarta : FKH UGM