Anda di halaman 1dari 5

Tugas Pendidikan Budaya Anti Korupsi

Kelompok 7
Nama Anggota Kelompok :
1.
2.
3.
4.

Ermawati Santika Pagiling


Merry
Rosleyda Purba
Ryan Stevano Tantolu

Dampak Korupsi di Bidang Pertahanan dan Keamanan


Tidak banyak kasus korupsi yang terungkap dan sampai kepada putusan pengadilan yang
terungkap di media masa, namun apakah hal tersebut berartiinstitusi Pertahanan dan Keamanan
Indonesia, TNI dan Polri dapat dikatakan bebas dari kasus korupsi? Kesimpulan seperti itu tidak
dapat diambil begitu saja.Kasus yang sedang hangat dibicarakan akhir-akhir ini adalah kasus
Simulator SIM yang melibatkan Irjen Polisi Djoko Susilo. Diluar kasus tersebut, kinerja
kepolisian yang berhubungan langsung dengan masyarakat sipil pun secara persepsi masih kental
dengan tindakan korupsi mulai dari uang damai,penyuapan, maupun jasa pengamanan illegal.
Lain hal nya di tubuh TentaraNasional Indonesia, selama ini terkesan tidak terjamah oleh aparat
penegak hukum dalam hal penanganan pidana Korupsi. ICW meberitakan dalam situsnya,telah
ada bukti awal dan laporan terkait paling tidak untuk lima kasus korups iyang diserahkan ke
pihak Kejaksaan Agung namun belum diadakan penyelidikan, yang dijadikan alasan tentunya
undang-undang yang membatasi kewenangan kejaksaan untuk menangani kasus korupsi di TNI.
Sesuai ketentuan perundang-undangan, kejaksaan harus menggandeng Mabes TNI untuk
membentuk tim penyidik koneksitas. Lalu kenapa KPK tidak turun tangan menangani kasuskasus seperti ini? Bukan kah KPK lembaga yang dibentuk secara khusus dan peraturan yang
mengatur kewenangannya pun diatus secara khusus (lex spesialis)? Disini terlihat bahwa, sampai
sekarang ranah Korupsi di Bidang Pertahanan dan Keamanan belum dapat disentuh oleh agenagen pemberantas kosupsi.Dalam bidang Pertahanan dan Keamanan, peluang korupsi, baik uang
maupun kekuasaan, muncul akibat tidak adanya transparansi dalam pengambilan keputusan di

tubuh angkatan bersenjata dan kepolisian serta nyaris tidak berdayanya hukum saat harus
berhadapan dengan oknum TNI/Polri yang seringkali berlindung di balik institusi Pertahanan dan
Keamanan.
Adapun dampak-dampak yang nyata terlihat dari adanya korupsi di bidang Pertahanan dan
Keamanan dapat kami sampaikan sebagai berikut:
1. Kerawanan Hankamnas Karena Lemahnya Alutsista
Indonesia memiliki jumlah penduduk berjumlah 230 juta jiwa, tentara yang melindungi negara
berjumlah 316.00 tentara aktif dan 660.000 cadangan, atau hanya sekitar 0,14% dibandingkan
dengan jumlah penduduk. Dengan bentuk negara kepulauan seperti ini tentunya masalah
kerawanan hankam menjadi sesuatu yang sangat penting. Alat pertahanan dan SDM yang handal
akan sangat membantu menciptakan situasi dan kondisi hankam yang kondusif. Kondisi hankam
yang kondusif ini merupakan dasar dan penting bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi
di kawasan tersebut. Saat ini kita sering sekali mendapatkan berita dari berbagai media tentang
bagaimana negara lain begitu mudah menerobos batas wilayah Negara Indonesia, baik dari darat,
laut maupun udara. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem pertahanan dan keamanan Indonesia
masih sangat lemah. Tentunya hal ini sangat berhubungan dengan alat dan SDM yang ada. Sudah
seharusnya Negara Indonesia mempunyai armada laut yang kuat dan modern untuk melindungi
perairan yang begitu luasnya, serta didukung oleh angkatan udara dengan pesawat-pesawat
canggih yang cukup besar yang mampu menghalau pengganggu kedaulatan dengan cepat,
tentunya juga harus dibarengi dengan kualitas dan integritas yang tinggi dari TNI yang kita
banggakan. Tentunya ini membutuhkan anggaran yang besar. Apabila anggaran dan kekayaan
negara ini tidak dirampok oleh para koruptor maka semua itu akan bisa diwujudkan. Dengan ini
Indonesia akan mempunyai pertahanan dan keamanan yang baik yang pada akhirnya
menghasilkan stabilitas negara yang tinggi.
Contoh Kasus : Dugaan kasus penyelewengan dana untuk pengadaan alat di TNI oleh
Menteri Pertahanan. Dugaan korupsi ini terletak pada anggaran pembelian sistem roket
multi-launcher (MLS) yang dibeli dari Avibras (perusahaan aerospacial dari Brazil).
Anggaran diduga melebihi sebesar US $ 134.900.000 dengan nilai MLS sebesar US $
405.000.000. Inspetorat dalam tubuh TNI sendiri sudah menandai beberapa kejanggalan

dalam proses ini. Selain itu, sudah melanggar peraturan dari Lembaga Kebijakan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).
MLS yang dibeli dari Avibras ini juga tidak memenuhi ekspektasi dan standar yang
diinginkan di Indonesia. Avibras hanya menyediakan 8 sistem kontrol api dan memberikan
7 dari 38 kebutuhan suplai amunisi kendaraan. Hal ini sangat-sangat merugikan negara
Indonesia, terlebih di bidang pengamanan. Kita tidak ingin bukan, Indonesia menjadi
sangat lemah ketika diserang oleh negara lain dengan teknologi yang lebih canggih.
Dugaan korupsi sebesar US $ 134.900.000 ini dikarenakan Avibras sudah mengadakan
kerja sama terlebih dahulu dengan PT. Poris Duta Sarana. Dimana kesepakatan mereka
sangat merugikan negara ini. Bayangkan, uang sebesar itu bisa untuk pengadaan barang
untuk 1 batalion TNI.
2. Lemahnya Garis Batas Negara
Indonesia dalam posisinya berbatasan dengan banyak negara, seperti Malaysia, Singapura,
China, Philipina, Papua Nugini, Timor Leste dan Australia. Perbatasan ini ada yang berbentuk
perairan maupun daratan. Daerah-daerah perbatasan ini rata-rata terisolir dan mempunyai
fasilitas yang sangat terbatas, seperti jalan raya, listrik dan energi, air bersih dan sanitasi, gedung
sekolah dan pemerintahan dan sebagainya. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat yang hidup di
wilayah perbatasan harus menanggung tingginya biaya ekonomi. Kemiskinan yang terjadi di
daerah-daerah tapal batas dengan negara lain, seperti yang terjadi di wilayah Kalimantan Barat
yang berbatasan langsung dengan Malaysia, mengakibatkan masyarakat lebih cenderung dekat
dengan Negara tetangga Malaysia karena negara tersebut lebih banyak memberikan bantuandan
kemudahan hidup bagi mereka. Bahkan masyarakat tersebut rela untuk berpindah
kewarganegaraan menjadi warga negara Malaysia apabila kondisi kemiskinan ini tidak segera
ditanggapi oleh pemerintah Indonesia. Hal ini akan semakin menimbulkan kerawanan pada
perbatasan dan berakibat melemahnya garis batas negara. Kondisi ini ternyata hampir merata
terjadi diwilayah perbatasan Indonesia. Perekonomian yang cenderung tidak merata dan hanya
berpusat pada perkotaan semakin mengakibatkan kondisi wilayah perbatasan semakin buruk..
bisa bayangkan, andaikan kekayaan negara tidak dikorupsi dan dipergunakan untuk membangun
daerah-daerah perbatasan, maka negara ini akan semakin kuat dan makmur.

Contoh Kasus : Warga perbatasan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, memilih


berpindah tempat tinggal dan menjadi warga negara Malaysia. Warga beralasan hal itu
dikarenakan desakan ekonomi, kebutuhan pendidikan, dan minimnya pelayanan
kesehatan di kampung halaman. Kepala Desa Samunti, Kecamatan Lumbis Ogong,
Kabupaten Nunukan, Pagalu di Nunukan, mengatakan, jumlah warga yang telah pindah
tempat tinggal ke wilayah Kota Kinabalu Negeri Sabah, Malaysia, sebanyak 20 kepala
keluarga (KK) dari total 85 KK di desanya. Dari 20 KK tersebut, lanjut dia, sebagian besar
telah menjadi warga negara Malaysia dan sebagian lagi masih menjadi pendatang asing
ilegal namun telah memiliki pekerjaan tetap di sana. Faktor utama yang menyebabkan
warganya berpindah tempat tinggal ke Malaysia adalah desakan ekonomi dan pendidikan
yang sangat sulit diperoleh di kampung halamannya di Desa Samunti, Kecamatan Lumbis
Ogong.

3. Menguatnya Sisi Kekerasan Dalam Masyarakat


Kondisi kemiskinan pada akhirnya memicu berbagai kerawanan sosial lainnya yang semakin
membuat masyarakat frustasi menghadapi kerasnya kehidupan. Kondisi ini membuat masyarakat
secara alamiah akan menggunakan insting bertahan mereka yang sering kali berakibat negatif
terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya. Masyarakat menjadi sangat apatis dengan
berbagai program dan keputusan yang dibuat oleh pemerintah, karena mereka menganggap hal
tersebut tidak akan mengubah kondisi hidup mereka. Hal ini mengakibatkan masyarakat
cenderung berusaha menyelamatkan diri dan keluarga sendiri dibanding dengan keselamatan
bersama, dengan menggunakan cara-cara yang negatif. Akumulasi dari rasa tidak percaya, apatis,
tekanan hidup, kemiskinan yang tidak berujung, jurang perbedaan kaya dan miskin yang sangat
dalam, serta upaya menyelamatkan diri sendiri menimbulkan efek yang sangat merusak yaitu
kekerasan. Setiap orang cenderung keras yang pada akhirnya perkelahian masal pemuda,
mahasiswa dan anak sekolah setiap hari kita dapatkan beritanya di koran dan televisi.
Penyelesaian berbagai masalahpun pada akhirnya lebih memilih kekerasan dari pada jalur
hukum, karena sudah tidak ada lagi kepercayaan kepada sistem dan hukum. Belum lagi
permasalahan lain yang lebih dahsyat yang dihubungkan dengan agama dan kepercayaan.
Kekerasan seperti ini mengakibatkan perang saudara yang sangat merugikan baik material

maupun bahkan berimbas kepada budaya dan tatanan masyarakat, seperti yang pernah terjadi di
Ambon, Poso dan beberapa wilayah di Indonesia.
Contoh Kasus : Kasus pengeroyokan di Simalungun, Sumatra Utara, yang menyebabkan
tewasnya Kapolsek Dolok Pardamean Ajun Komisaris Andar Siahaan, Rabu (27/3),
disebabkan oleh lemahnya kepercayaan publik terhadap aparat. Pengamat komunikasi
dan budaya Universitas Indonesia Devie Rahmawati mengatakan, masyarakat merasa
harus mencari keadilan dan melakukan tindakan hukum demi ketertiban sosial di antara
mereka. Masyarakat saat ini sering kali melakukan tindakan tidak manusiawi secara
bersama-sama terhadap orang yang dianggap merugikan kepentingan orang lain, kata
Devie kepada Republika, Sabtu (30/3).
Devi menjelaskan, masyarakat mudah terprovokasi karena kegundahan hidup dan
kepenatan hidup yang dihadapi. Mereka harus berjuang memperoleh kebutuhan dasar
kehidupan.
Kebutuhan sandang, pangan, papan, dan kenyamanan jiwa, seperti kemudahan mencari
kerja dan kenyamanan di jalan, tidak mereka dapatkan, jelasnya.
Hal itu, papar Devie, membuat masyarakat menjadi seakan-akan mencari pelampiasan
dari kegundahan hidup. Masyarakat mudah terprovokasi untuk mengeroyok.
Dengan menyeroyok orang lain secara bersama-sama, setiap individu seperti memiliki
saluran mengeluarkan energi negatif dan kemarahan mereka terhadap kehidupan yang
sulit, katanya menegaskan.