Anda di halaman 1dari 59

Hukum Persaingan Usaha

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 5 TAHUN 1999
TENTANG
LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN
PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

BAB I DAN II
KETENTUAN UMUM & ASAS DAN TUJUAN

Pasal 1 UU No. 5 Tahun 1999 tentang


LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN
USAHA TIDAK SEHAT

Ketentuan Umum:
Monopoli
Praktek Monopoli
Pemusatan Kekuatan
Ekonomi
Posisi Dominan
Pelaku Usaha
Persaingan Usaha Tidak
Sehat
Perjanjian
Persekongkolan
Pasar
Pasar Bersangkutan

Struktur Pasar
Perilaku Pasar
Pangsa Pasar
Harga Pasar
Konsumen
Barang
Jasa
Komisi Pengawas Persaingan Usaha
Pengadilan Negeri

Tujuan Pembentukan Undang-Undang


a. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan

efisiensi ekonomi nasional sebagal salah satu


upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat;
b. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui
pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga
menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha
yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha
menengah, dan pelaku usaha kecil;
c. Mencegah praktek monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku
usaha; dan
d. Terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam
kegiatan usaha.

BAB III
PERJANJIAN YANG DILARANG

PERJANJIAN YANG DILARANG


UU No. 5 TAHUN 1999 LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN
USAHA TIDAK SEHAT
I.

OLIGOPOLI

Oligopoli adalah penguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan jasa
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat oleh beberapa pelaku usaha secara bersama-sama dengan
pembuatan perjanjian.
Menurut pasal 4 ayat 2 UU no. 5 tahun 1999:
Pelaku usaha patut diduga atau dianggap secara bersama-sama melakukan
penguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa, apabila 2
(dua) atau 3 (tiga) pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai
lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau
jasa tertentu.
Contoh:
Perusahaan x, Perusahaan y, dan Perusahaan z masing-masing memproduksi
barang A. Dikatakan terjadi oligopoli apabila ketiga perusahaan itu
menguasai produksi pemasaran barang A dan penguasaan itu menghasilkan
penguasaan pangsa pasar sebesar 75% oleh dua atau tiga pcrusahaan.

PERJANJIAN YANG DILARANG


UU No. 5 TAHUN 1999 LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN
USAHA TIDAK SEHAT
II.

PENETAPAN HARGA

Pasal 5 ayat 1 UU No. 5 Tahun 1999:


Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha
pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa
yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar
bersangkutan yang sama.
Pasal 6 UU No. 5 Tahun 1999 (price discrimination):
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang mengakibatkan pembeli
yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang
harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa yang sama.
Pasal 7 UU No. 5 Tahun 1999:
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha
pesaingnya untuk menetapkan harga di bawah harga pasar, yang dapat
mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.
Pasal 8 UU No. 5 Tahun 1999:
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang
memuat persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa tidak akan

UU No 5 Tahun 1999
Pembagian Wilayah

Pasal 9
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian
dengan pelaku usaha pesaingnya yang
bertujuan
untuk
membagi
wilayah
pemasaran atau alokasi pasar terhadap
barang dan atau jasa sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli
dan atau persaingan usaha tidak sehat.

Pembagian wilayah pemasaran adalah


untuk menghindari atau mengurangi
persaingan yang biasa diambil oleh pelaku
usaha bersaing dalam satu bidang usaha
sehingga suatu pasar dapat dikuasai secara
eksklusif oleh masing-masing pelaku usaha.
Pembagian wilayah pemasaran atau alokasi
pasar adalah :
Membagi wilayah untuk memperoleh atau
memasok barang dan/atau jasa
Menetapkan dari siapa saja dapat
memperoleh atau memasok barang
dan/atau jasa

Contoh
Perusahaan

dan

adalah

perusahaan yang memproduksi tempe. Lalu


dua perusahaan tersebut membagi daerah
pemasaran, perusahaan X di daerah Bantul
dan perusahaan Y di daerah Gunung Kidul,
hal

itu

dilakukan

untuk

menghindari

persaingan dan masing-masing perusahaan


akan mendapatkan untung yang besar.

UU No 5 tahun 1999
Pemboikotan
Pasal 10
(1) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian, dengan pelaku
usaha pesaingnya, yang dapat menghalangi pelaku usaha
lain untuk melakukan usaha yang sama, baik untuk tujuan
pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.
(2) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku
usaha pesaingnya, untuk menolak menjual setiap barang dan
atau jasa dari pelaku usaha lain sehingga perbuatan tersebut:
a) merugikan atau dapat diduga akan merugikan pelaku
usaha lain; atau
b) membatasi pelaku usaha lain dalam menjual atau membeli
setiap barang dan atau jasa dari pasar bersangkutan.

Perjanjian Boikot
Boikot adalah tindakan mengorganisasi suatu
kelompok untuk menolak hubungan usaha
dengan

pihak

tertentu

atau

tidak

berhubungan dengan pesaing-pesaing yang


lain seperti kepada supplier atau konsumenkonsumen tertentu. Dengan kata lain boikot
adalah

suatu

tindakan

bersama

yang

dilakukan oleh sekelompok pengecer yang


menolak

membeli

produk

pelaku

usaha

UU No 5 tahun 1999
Kartel

Pasal 11
Pelaku
usaha
dilarang
membuat
perjanjian, dengan pelaku usaha pesaingnya,
yang bermaksud untuk mempengaruhi harga
dengan mengatur produksi dan atau
pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang
dapat mengakibatkan terjadinya praktek
monopoli dan atau persaingan usaha tidak
sehat.

Contoh
Pelaku usaha mendasarkan perilaku kartel
untuk menstabilkan harga pasar untuk
mengantisipasi perang harga antara pelaku
usaha. Dalam kasus kartel tarif layanan SMS,
harga minimum dari tarif SMS off-net
disepakati
masing-masing
operator.
Akibatnya konsumen kehilangan pilihan
harga dan kualitas layanan walaupun
operator bertambah. Dalam lingkup luas,
kartel menyebabkan inefisiensi alokasi
sumber
daya
yang
tercermin
dalam
deadweight loss.

Trust

Pasal 12
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku
usaha lain untuk melakukan kerja sama dengan
membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang
lebih besar, dengan tetap menjaga dan mempertahankan
kelangsungan hidup masing-masing perusahaan atau
perseroan anggotanya, yang bertujuan untuk mengontrol
produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa,
sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli
dan atau persaingan usaha tidak sehat.

Oligopsoni

Pasal 13
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian
dengan pelaku usaha lain yang bertujuan untuk
secara bersama-sama menguasai pembelian atau
penerimaan pasokan agar dapat mengendalikan
harga atas barang dan atau jasa dalam pasar
bersangkutan, yang dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat.

Integrasi Vertikal
Pasal 14
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pelaku usaha lain yang bertujuan untuk menguasai
produksi sejumiah produk yang termasuk dalam
rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu yang
mana setiap rangkaian produksi merupakan hasil
pengolahan atau proses lanjutan, baik dalam satu
rangkaian langsung maupun tidak langsung, yang
dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha
tidak sehat dan atau merugikan masyarakat

Perjanjian Tertutup
Pasal 15

Pelaku usaha dilarang


membuat perjanjian dengan
pelaku usaha lain yang
memuat persyaratan

pihak
yang
menerima
barang dan atau jasa hanya
akan memasok atau tidak
memasok kembali barang
dan atau jasa tersebut
kepada pihak tertentu dan
atau pada tempat tertentu

pihak
barang
tertentu
membeli
jasa lain
pemasok

yang
menerima
dan
atau
jasa
harus
bersedia
barang dan atau
dari pelaku usaha

Pelaku usaha dilarang membuat


perjanjian mengenai harga atau
potongan harga tertentu atas
barang dan atau jasa

Perjanjian Dengan Pihak Luar Negeri

Pasal 16
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian
dengan pihak lain di luar negeri yang memuat
ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya
praktek monopoli dan atau persaingan usaha
tidak sehat.

BAB IV
KEGIATAN YANG DILARANG

Monopoli
Pelaku usaha dilarang melakukan

penguasaan atas produksi dan atau


pemasaran barang dan atau jasa yang
dapat mengakibatkan terjadinya praktek
monopoli dan atau persaingan usaha
tidak sehat.
Pasal 17 ayat (1)

Monopoli
a. barang dan atau jasa yang bersangkutan

belum ada substitusinya; atau


b. mengakibatkan pelaku usaha lain tidak
dapat masuk ke dalam persaingan usaha
barang dan atau jasa yang sama; atau
c. satu pelaku usaha atau satu kelompok
pelaku usaha menguasai lebih dari 50%
(lima puluh persen) pangsa pasar satu
jenis barang atau jasa tertentu.
(Pasal 17 ayat (2))

Monopsoni
Pelaku usaha dilarang menguasai

penerimaan pasokan atau menjadi pembeli


tunggal atas barang dan atau jasa dalam
pasar bersangkutan yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek
monopoli dan atau persaingan usaha tidak
sehat.
Pasal 18 ayat (1)

Monopsoni
Dianggap menjadi pembeli tunggal jika:
Satu pelaku usaha atau satu kelompok

pelaku usaha menguasai lebih dari 50%


(Iima puluh persen) pangsa pasar satu jenis
barang atau jasa tertentu.
Pasal 18 ayat (2)

KEGIATAN YANG DILARANG MENURUT


UU NO. 5 Tahun 1999
Penguasaan Pasar (Pasal 19-21)
Larangan untuk:
a. menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu
untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada
pasar bersangkutan; atau
b. menghalangi konsumen pelaku usaha pesaingnya untuk
tidak melakukan hubungan usaha dengan pelaku usaha
pesaingnya itu; atau
c. membatasi peredaran dan atau penjualan barang dan
atau jasa pada pasar bersangkutan; atau
d. melakukan praktek diskriminasi terhadap pelaku usaha
tertentu.
(terdapat di pasal 19)

Larangan melakukan jual beli atau


menetapkan harga yang sangat rendah
dengan maksud untuk menyingkirkan atau
mematikan usaha pesaingnya di pasar
bersangkutan. (pasal 20)
Larangan melakukan kecurangan dalam
menetapkan biaya produksi dan biaya lainnya
yang menjadi bagian dari komponen harga
barang dan atau jasa (pasal 21)

Persekongkolan
Larangan mengatur pemenang

tender(pasal 22)
Larangan mendapatkan informasi kegiatan
usaha pesaingyang diklasifikasikan sebagai
rahasia perusahaan (pasal 23)
Larangan menghambat
produksi/pemasaran barang /jasa pelaku
usaha pesaing dengan maksud barang
/jasa yang ditawarkan di pasar menjadi
berkurang baik dari jumlah, kualitas
maupun ketepatan waktu yang
dipersyaratkan (pasal 24)

BAB V
POSISI DOMINAN

Posisi Dominan
Pengertian :

Keadaan di mana pelaku usaha tidak mempunyai


pesaing yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitan
dengan pangsa pasar yang dikuasai, atau pelaku usaha
mempunyai posisi tertinggi di antara pesaingnya di pasar
bersangkutan

dalam

keuangan,

kemampuan

penjualan,

serta

kaitan

dengan

akses

pada

kemampuan

untuk

kemampuan
pasokan

atau

menyesuaikan

pasokan atau permintaan barang atau jasa tertentu.


(Pasal 1 ayat 4 UU No. 5 Tahun 1999)

Pasal 25
(1) Pelaku usaha dilarang menggunakan posisi dominan baik secara langsung
maupun tidak langsung untuk :
a. menetapkan syarat-syarat perdagangan dengan tujuan untuk mencegah dan
atau menghalangi konsumen memperoleh barang dan atau jasa yang bersaing,
baik dari segi harga maupun kualitas; atau
b. membatasi pasar dan pengembangan teknologi; atau
c. menghambat pelaku usaha lain yang berpotensi menjadi pesaing untuk
memasuki pasar bersangkutan.
(2) Pelaku usaha memiliki posisi dominan sebagaimana dimaksud ayat (1)
apabila:
a. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai 50% (lima
puluh persen) atau lebih pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu; atau
b. dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai 75%
(tujuh puluh lima persen) atau lebih pangsa pasar satu jenis barang atau jasa
tertentu.

Contoh kasus
Tahun

2006,

PT

Telkomsel

menguasai

pasar

seluler

di

Indonesia

sebesar 55,6% dan PT Indosat menguasai 26,18%.


Tingkat penguasaan pasar dari dua operator tersebut saja jika digabungkan sudah mencapai

80% lebih.
PT Indosat sahamnya dikuasai oleh STT Telemedia sejumlah 41,94%.
Telkomsel sahamnya sebanyak 35% dikuasai oleh SingTel.
Kedua perusahaan tersebut, STT Telemedai dan SingTel sahamnya dikuasai 100% oleh

Temasek Holding Inc.


Kesimpulan: maka terbukti bahwa kedua operator tersebut menguasai pasar secara

dominan. Temasek Holdings Pte. Ltd memiliki saham mayoritas pada dua perusahaan yang
melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar yang bersangkutan yang
sama

Jabatan Rangkap
Pasal 26
Seseorang yang menduduki jabatan sebagai direksi atau komisaris dari suatu

perusahaan, pada waktu yang bersamaan dilarang merangkap menjadi direksi


atau komisaris pada perusahaan lain, apabila perusahaan-perusahaan tersebut:
a. berada dalam pasar bersangkutan yang sama; atau
b. memiliki keterkaitan yang erat dalam bidang dan atau jenis usaha; atau
c. secara bersama dapat menguasai pangsa pasar barang dan atau jasa tertentu,
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat.

Bab V Bagian Ketiga


(Pemilikan Saham)
Pasal 27
Pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas pada
beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha
dalam bidang yang sama pada pasar bersangkutan yang
sama, atau mendirikan beberapa perusahaam yang memiliki
kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan yang
sama, apabila kepemilikan tersebut mengakibatkan:
a. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha
menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar
satu jenis barang atau jasa tertentu;
b. dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha
menguasai lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa
pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.

Bab V Bagian Keempat


(Penggabungan, Peleburan, Pengambialihan)
Pasal 28

(1)
Pelaku
usaha
dilarang
melakukan
penggabungan atau peleburan badan usaha
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek
monopoli dan atau persaingan usaha tidak
sehat.
(2)Pelaku
usaha
dilarang
melakukan
pengambilalihan saham perusahaan lain apabila
tindakan
tersebut
dapat
mengakibatkan
terjadinya
praktek
monopoli
dan
atau
persaingan usaha tidak sehat.

Bab V Bagian Keempat


(Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan)

Pasal 29
(1) Penggabungan atau peleburan badan
usaha,
atau
pengambilalihan
saham
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28
yang berakibat nilai aset dan atau nilai
penjualannya melebihi jumlah tertentu,
wajib
diberitahukan
kepada
Komisi,
selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari
sejak tanggal penggabungan, peleburan
atau pengambilalihan tersebut.

BAB VI
KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA

PEMBAHASAN
Komisi Pengawasan Persaingan Usaha
Bagian 1
Bagian 2
Bagian 3
Bagian 4
Bagian 5

:
:
:
:
:

Status
Pasal 30
Keanggotaan Pasal 31-34
Tugas
Pasal 35
Wewenang Pasal 36
Pembiayaan Pasal 37

BAGIAN PERTAMA
STATUS
Pasal 30

(1) Untuk mengawasi pelaksanaan Undangundang ini dibentuk Komisi Pengawas Persaingan
Usaha yang selanjutnya disebut Komisi.
(2) Komisi adalah suatu lembaga independen
yang terlepas dari pengaruli dan kekuasaan
Pemerintah serta pihak lain.
(3) Komisi bertanggung jawab kepada Presiden.

BAGIAN KEDUA
KEANGGOTAAN
Pasal 31
(1) Komisi terdiri atas seorang Ketua merangkap anggota, seorang
Wakil Ketua merangkap anggota, dan sekurang-kurangnya 7 (tujuh)
orang anggota.
(2) Anggota Komisi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
(3) Masa jabatan anggota Komisi adalah 5 (lima) tahun dan dapat
diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.
(4) Apabila karena berakhirnya masa jabatan akan terjadi kekosongan
dalam keanggotaan Komisi, maka masa jabatan anggota dapat
diperpanjang sampai pengangkatan anggota baru.

BAGIAN KEDUA
KEANGGOTAAN
Pasal 32
Persyaratan keanggotaan
Komisi adalah:

jujur, adil, dan berkelakuan baik;

bertempat tinggal di wilayah negara

warga negara Republik


Indonesia, berusia sekurang-

Republik Indonesia;

atau mempunyai pengetahuan dan

kurangnya 30 (tiga puluh)

keahlian di bidang hukum dan atau

tahun dan setinggi-tingginya


60 (enam puluh) tahun pada
saat pengangkatan;

ekonomi;

tidak pernah dipidana;

tidak pernah dinyatakan pailit oleh


pengadilan; dan

setia kepada Pancasila dan


Undang-Undaing Dasar 1945;

berpengalaman dalam bidang usaha

tidak terafiliasi dengan suatu badan


usaha.

beriman dan bertaqwa

BAGIAN KEDUA
KEANGGOTAAN
Pasal 33
Keanggotaan Komisi berhenti, karena :
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri atas pemintaan sendiri;
c. bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik

Indonesia;
d. sakit jasmani atau rohani terus menerus;
e. berakhirnya masa jabatan keanggotaan Komisi; atau
f.

diberhentikan.

BAGIAN KEDUA
KEANGGOTAAN
Pasal 34
(1) Pembentukan Komisi serta susunan organisasi, tugas,
dan fungsinya ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
(2) Untuk kelancaran pelaksanaan tugas, Komisi dibantu
oleh sekretariat.
(3) Komisi dapat membentuk kelompok kerja.
(4) Ketentuan mengenai susunan organisasi, tugas, dan
fungsi sekretariat dan kelompok kerja diatur lebih lanjut
dengan keputusan Komisi.

BAGIAN KETIGA
TUGAS
Pasal 35
Tugas Komisi meliputi:
a.

melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan


terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat
sebagaimana diatur dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 16;

b.

melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha
yaiig dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat sebagamana diatur dalam Pasal 17 sampai dengan Pasal
24;

c.

melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya penyalahgunaan posisi


dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 25 sampai
dengan Pasal 28;

d.

mengambil tindakan sesuai dengan wewenang Komisi sebagaimana diatur


dalam Pasal 36;

e.

memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan Pemerintah yang

BAGIAN KEEMPAT
WEWENANG
Pasal 36
Wewenang Komisi meliputi :
a. menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku usaha tentang

dugaan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak


sehat;
b. melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha dan atau

tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek


monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
c. melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan

praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang


dilaporkan oleh masyarakat atau oleh pelaku usaha atau yang
ditentukan oleh Komisi sebagai hasil dari penelitiannya;
d. menyimpulkan hasil penyelidikan dan atau pemeriksaan tentang ada

atau tidak adanya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak

f. memanggil dan menghasilkan saksi, saksi ahli, dan setiap oran.g yang
dianggap mengetahui pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang ini;
g. meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi
akhli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud huruf e dan huruf f, yang
tidak bersedia memenuhi panggilan Komisi.
h. meminta keterangan dari instansi Pemerintah dalam kaitannya dengan
penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar
ketentuan undang-undang ini;
i. mendapatkan, meneliti, dan atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti
lain guna penyelidikan dan atau pemeriksaan;
j. memutuskan ada atau tidak adanya kerugian di pihak pelaku usaha lain
atau masyarakat;
k. memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku usaha yang diduga
melakukan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
l. menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha

BAGIAN KELIMA
PEMBIAYAAN
Pasal 37
Biaya untuk pelaksanaani tugas Komisi
dibebankan kepada Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara dan atau sumbersumber lain yang diperbolehkan oleh
peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

BAB VII
TATA CARA PENANGANAN PERKARA

38)
Laporan pelanggaran ke KPPU:
kerugian & identitas pelapor

Wajib
Wajib
dirahasiakan
dirahasiakan
KPPU,
KPPU, kecuali
kecuali
pelapor
pelapor =
=
korban
jelas
korban

39)
> KPPU melakukan pemeriksaan
40-42)
pendahuluan (30 hari kerja) -> 40-42)

KPPU
KPPU boleh
boleh
perlu/tidak pemeriksaan lanjutanmemeriksa
memeriksa bila
bila
ada
ada indikasi,
indikasi,
> Harus pakai surat tugas
walau
walau tanpa
tanpa

laporan
43)
laporan

Pelaku
Pelaku usaha
usaha
> Pemeriksaan lanjutan diselesaikan
dilarang
dilarang menolak
menolak
selambatnya 60 hari, jika perlu diperpanjang

bukti
Alat
Alat 30
bukti KPPU
KPPU
meliputi:
hari
meliputi: saksi,
saksi,
ahli,
ahli, dokumen,
dokumen,
> 30 hari setelah selesai lanjt -> putuskanpetunjuk,
ada
petunjuk,
pelanggaran/tidak, diumumkan dlm sidangketerangan
keterangan dari
dari
pelaku
umum
pelaku

44)
# 30 hari sejakputusan, wajib sudah dilaksanakan
dan lapor progressnya pada KPPU
# Kalau ada keberatan, lapor PN selambatnya 14
hari sejak putusan
# Kalau tidak ke PN/KPPU, pelaku usaha dilakukan
penyidikan

45)
# PN memeriksa keberatan selambatnya 14 har
sejak ada keberatan dan memberi putusan
maksimal 30 hari setelah memeriksa
# Jika keberatan thd hasil PN, kasasi ke MA mak
hari sejak putusan PN, lalu MA memberi putusan
maksimal 30 hari setelah kasasi diterima
46)
Jika keputusan KPPU tidak ada yg keberatan, maka
putusan memiliki kekuatan hukum yg tetap dan
dimintakan penetapan pada PN

BAB VIII
SANKSI

Tindakan Administratif

Pasal
47

1. Penetapan pembatalan perjanjian


2. Pemberhentian integrasi vertikal
3. Menghentikan kegiatan yang terbukti
4.
5.
6.
7.

menimbulkan praktek monopoli


Memberhentikan penyalahgunaan posisi
dominan
Penetapan pembatalan atas penggabungan,
peleburan, dan pengambilalihan badan usaha
Penetapan pembayaran ganti rugi
Pengenaan denda minimal Rp1.000.000.000,00
dan maksimal Rp25.000.000.000,00

Pidana denda
Sanksi
Pidana Pokok
minimal
Rp25.000.000.000,
00 dan maksimal
Rp100.000.000.00
0,00 atau pidana
kurungan
maksimal 6 bulan
Pidana denda
minimal
Rp5.000.000.000,0
0 dan maksimal
Rp25.000.000.000,
00 atau pidana
kurungan
maksimal lima
bulan.
Pidana denda
minimal
Rp1.000.000.000,0
0 dan maksimal
Rp5.000.000.000,0
0 atau pidana
kurungan
maksimal 3 bulan.

Pasal 48

Oligopoli, pembagian wilayah,


pemboikotan, kartel, trust, oligopsoni,
integrasi vertikal, perjanjian dengan pihak
luar negeri, monopoli, monopsoni,
penguasaan pasar, posisi dominan,
pemilikan saham, penggabungan,
peleburan, dan pengambilalihan.

Penetapan harga,
perjanjian tertutup,
penguasaan pasar,
persengkongkolan,
jabatan rangkap
Menghambat
penyelidikan dan atau
pemeriksaan
sebagaimana diatur
dalam Pasal 41

Pidana Tambahan

Pasal 49

Terhadap pidana sebagaimana diatur dalam

pasal 48 dapat dijatuhkan pidana tambahan


berupa:
1. Pencabutan izin usaha
2. Larangan kepada pelaku usaha yang telah
terbukti melakukan pelanggaran terhadap
undang-undang ini untuk menduduki jabatan
direksi atau komisaris minimal 2 tahun dan
maksimal 5 tahun
3. Penghentian kegiatan atau tindakan yang
menyebabkan timbulnya kerugian pada pihak
lain.

BAB XI
KETENTUAN LAIN

BAB IX-KETENTUAN LAIN


PASAL 50
Yang dikecualikan dari ketentuan UU:
a. perbuatan dan atau perrjanjian yang
bertujuan melaksanakan peraturan
perundang-undangan yang berlaku; atau
b. perjanjian yang berkaitan dengan hak atas
kekayaan intelektual seperti lisensi, paten,
merek dagang, hak cipta, desain produk
industri, dan rangkaian elektronik terpadu

c. perjanjian penetapan standar teknis produk


barang dan atau jasa yang tidak mengekang
dan atau menghalangi persaingan; atau
d. perjanjian kerja sama penelitian untuk
peningkatan atau perbaikan standar hidup
masyarakat luas; atau
e. perjanjian internasional yang telah diratifikasi
oleh Pemerintah Republik Indonesia; atau

f. perjanjian dan atau perbuatan yang bertujuan


untuk ekspor yang tidak mengganggu
kebutuhan dan atau pasokan pasar dalam
negeri; atau
g. pelaku usaha yang tergolong dalam usaha
kecil; atau koperasi yang memang bertujuan
melayani anggota

PASAL 51
Monopoli dan atau pemusatan kegiatan yang
berkaitan dengan produksi dan atau pemasaran
barang dan atau jasa yang menguasai hajat
hidup

orang

banyak

serta

cabang-cabang

produksiyang penting bagi negara diatur dengan


undang-undang dan diselenggarakan oleh Badan
Usaha Milik Negara dan atau badan atau lembaga
yang dibentuk atau ditunjuk oleh Pemerintah.