Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN AWAL

PRAKTIKUM GENETIKA
SIKLUS HIDUP Drosophila melanogaster DAN GIANT KROMOSOM

OLEH:
KELOMPOK

: 6 (ENAM) B

ANGGOTA KELOMPOK

: MUTIARA HANAN NUHA

(1410421012)

GITA KOMONICI

(1410421038)

RIAN ANGGRAINI

(1410422018)

FAJRI LAILI

(1410422022)

AFIFAH RIDHA IZZATI

(1410421042)

LABORATORIUM GENETIKA DAN BIOLOGI SEL


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2016

I. PENDAHULUAN

Kromosom adalah untai kromatin yang terkondensasi, sehingga membentuk struktur


materi genetik yang lebih pendek dan tebal. Satu kromosom terdiri dari tiga bagian,
yaitu sentromer, lengan kromosom, dan telomer (Ahluwalia, 2009). Kromatin adalah
untai DNA yang disimpulkan oleh protein histon. Kromatin pada kromosom dibagi
menjadi dua, yaitu heterochromatin dan euchromatin. Heterochromatin adalah bagian
kromosom berwarna gelap yang mengandung sedikit gen dan biasanya berada dekat
dengan sentromer. Euchromatin adalah bagian kromosom berwarna relatif lebih terang
dari heterochromatin yang mengandung lebih banyak gen untuk transkripsi protein.
Kromosom adalah materi genetik yang membawa informasi genetik pada semua
makhluk hidup. Kromosom kemudian terbukti mempunyai bentuk lain selain bentuk
umumnya, seperti kromosom Lampbrush dan kromosom politen. Kromosom Lampbrush
adalah kromosom yang berbentuk seperti sikat tabung reaksi. Kromosom Lampbrush
memungkinkan terjadinya transkripsi pada saat meiosis (Lewin 2004)
Kromosom politen adalah kromosom berukuran raksasa relatif terhadap ukuran
kromosom pada umumnya. Struktur kromosom politen dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
band, interband, puff, dan chromocenter. Band adalah bagian dari struktur kromosom
politen yang terkondensasi dan mengandung banyak heterochromatin. Interband adalah
bagian dari struktur kromosom politen yang kurang terkondensasi relatif dari band dan
mengandung banyak euchromatin. Puff adalah bagian dari struktur kromosom politen
yang menggembung karena benang kromatin yang terelaksasi. Puff berperan sebagai
tempat terjadinya transkripsi materi genetik (Pierce 2004). Chromocenter adalah bagian
struktur kromosom yang menjadi tempat melekatnya centromere kromosom yang
bergabung. Chromocenter hampir seluruhnya terdiri dari heterochromatin (Lewin 2004).
Kromosom politen terbentuk dari proses endoreduplication pada materi genetik
tanpa

proses

pembelahan

sel

(endomitosis).

Kromosom

yang

mengalami

endoreduplication menjadi lebih besar dari sebelumnya dan saling terikat satu sama lain.

DNA pada kromosom mengalami endoreplication, namun dengan alasan yang tidak
diketahui, bagian sentromer dari kromosom ini tidak ber-endoreduplication dengan baik.
Bagian kromosom yang tidak ber-endoreduplication dengan baik ini mengakibatkan
semua kromosom terikat pada sebuah massa yang dinamakan chromocenter (University
of California, San Fransisco 2012).
Kemungkinan utama terbentuknya kromosom politen adalah untuk amplifikasi
gen. Kromosom politen menghasilkan lebih banyak protein daripada kromosom normal.
Kromosom politen mengandung banyak salinan gen, sehingga membuat proses
transkripsi dan translasi semakin berlimpah. Hal ini juga memperkuat alasan
ditemukannya kromosom politen hanya pada sel yang aktif melakukan metabolisme,
seperti kelenjar ludah dan gut pada larva instar III Drosophila melanogaster (Kimbal
2011). Lokasi lain tempat ditemukannya kromosom politen pada larva Drosophila
melanogaster adalah midgut, hindgut, and the badan lemak (Henderson 2004).
Drosophila melanogaster adalah salah satu serangga yang memiliki empat
tahapan utama dalam siklus hidupnya, yaitu embrio (telur), larva, pupa, dan dewasa.
Makanan adalah hal yang paling diutamakan organisme ini pada tahap larva. Tahap
larva membutuhkan banyak makanan untuk tahap perkembangan selanjutnya menuju
tahap dewasa sebagai lalat. Tahap larva yang membutuhkan banyak makanan harus
didukung oleh tersedianya kelenjar ludah yang cukup untuk menyediakan enzim
pencernaan. Enzim adalah protein. Produksi enzim dimaksimalkan dengan melakukan
replikasi kromosom tanpa diikuti pembelahan sel. Proses replikasi ini akan
menghasilkan kromosom dengan banyak lengan berukuran raksasa, kromosom politen
(Borror, 1992).

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal dan mengidentifikasi secara
cermat siklus hidup D. melanogaster serta membandingkannya dengan spesies
Drosophila lainnya.

II. TINJAUAN PISTAKA

Lalat buah adalah organisme yang memiliki ciri yang sudah dikenal dan sesuai untuk
penyelidikan genetika karena mudah berkembang biak dan memiliki siklus hidup
singkat. Sepasang lalat buah dapat menghasilkan 300-400 butir telur. Siklus hidup
Drosophila terdiri atas stadium telur, larva, pupa, dan imago. Telur Drosophila sp. Telur
Drosophila berukuran kira-kira 0,5 mm berbentuk lonjong, permukaan dorsal agak
mendatar, sedangkan permukaan ventral agak membulat. Pada bagian anterodorsal
terdapat sepasang filament yang fungsinya yang melekatkan diri pada permukaan, agar
telur tidak tenggelam pada medium (Hartwell dkk, 2004).
Pada bagian ujung anterior terdapat lubang kecil yang disebut micropyle, yaitu
tempat masuknya spermatozoa. Telur yang dikeluarkan dari tubuh biasanya sudah dalam
tahap blastula. Dalam waktu 24 jam telur akan menetas menjadi larva. Larva yang
menetas ini akan mengalami 2 kali pergantian kulit, sehingga periode stadium yang
paling aktif. Larva kemudian menjadi pupa yang melekat pada permukaan yang relative
kering, yaitu pada dinding botol kultur atau pada kertas saring. Pupa akan menetas
menjadi imago setelah berumur 8-11 hari bergantung pada spesies dan suhu lingkungan
(Kimbal, 1990).
Lalat buah dan Artrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular, suatu seri
segmen yang teratur. segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, yaitu; kepala,
thoraks, dan abdomen. seperti hewan simetris bilateral lainnya, Drosophila ini
mempunyai poros anterior dan posterior (kepala-ekor) dan poros dorsoventral
(punggung-perut). Pada Drosophila, determinan sitoplasmik yang sudah ada di dalam
telur memberi informasi posisional untuk penempatan kedua poros ini bahkan sebelum
fertilisasi. Setelah fertilisasi, informasi dengan benar dan akhirnya akan memicu struktur
yang khas dari setiap segmen (Lindsley, 1992).
Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur
larva instar I larva instar II larva instar III pupa imago. Perkembangan dimulai
segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode

embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari
telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva
tidak berhenti-berhenti untuk makan (Suryo, 2010).
Jumlah telur Drosophila melanogaster yang dikeluarkan akan menurun apabila
kekurangan makanan. Lalat buah dewasa yang kekurangan makanan akan menghasilkan
larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun sering
kali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa dapat menjadi dewasa yang
hanya dapat menghasilkan sedikit telur. Viabilitas dari telur-telur ini juga dipengaruhi
oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina (Shorrocks, 1972).
Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut
perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan
imago (fase seksual dengan perkembangan padasayap). Formasi lainnya pada
perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa. Telur Drosophila berbentuk
benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina
dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat
hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan mungkin maksimum
400-500 buah dalam 10 hari. Telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu
selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat
(Khorion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai.tipis. Korion
mempunyai kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut (Susan, 2009).
Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan
menggali dengan mulut berwarna hitam di dekat kepala. Untuk pernafasan pada trakea,
terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior.Saat
kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodik berganti kulit untuk mencapai
ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integumen baru diperluas dengan kecepatan
makan yang tinggi. Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar. Instar pertama
adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Dan indikasi instar
adalah ukuran larva dan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit
yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk membentuk pupa. Pada tahap
terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat

yang kering dan berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada Drosophila, destruksi
sel-sel larva terjadi pada prose pergantian kulit (molting) yang berlangsung empat kali
dengan tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari larva instar II ke instar III,
dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago (Kimball, 1999).
Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan jika
terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik.
Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue
dalam botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan
seperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa
(Campbell.2001).
Saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula
menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi
pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk
terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva
dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa.
Struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil jaringan dorman
yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa)
disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen
ke bentuk dewasa (Gardner, 1991).
Dewasa pada Drosophila melanogaster dalam satu siklus hidupnya berusia
sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya
belum terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan
akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantan
(Strickberger, 1962).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

1.

Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 4 April 2016 pada pukul 10.00 wib
sampai 13.00 wib di Laboratorium Genetika dan Biologi Sel Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.
2.

Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, kaca arloji, pipet
tetes dan jarum pentul. Bahan yang dipakai adalah larva instar IV Drosophila
melanogaster, tissue, larutan NaCl 0,9% dan acetoorcein.
3.

Cara Kerja

Larva Drosophila melanogaster disiapkan kemudian diletakkan dalam cawan petri yang
telah berisi larutan NaCl 0,9%. Kotoran dan sisa-sisa makanan dibersihkan dari tubuh
larva tersebut. Selanjutnya larva diletakkan di atas kaca objek dan dengan menggunakan
dua pinset atau jarum pentul di bawah mikroskop, bagian ujung kepala ditarik (bagian
yang berwarna hitam) secara perlahan-lahan sehingga bagian kepala beserta kelenjar
ludahnya terpisah dari bagian yang lainnya. Sisa-sisa potongan tubuh larva dibuang dan
dipisahkan kelenjar ludahnya secara perlahan. Kelenjar sludah yang telah diperoleh
selanjutnya ditetesi dengan acetoorcein dan dibiarkan selama sekitar 10 menit. Sediaan
ditutup dengan kaca penutup, kelenjar ludah disquash dan diamati bentuk kromosomnya
di bawah mikroskop.

DAFTAR PUSTAKA

Ahluwalia, K. B. 2009. Genetics. 2nd ed. New Age International Publisher, New Delhi:
ix + 451 hlm.
Borror.J.D,Triplehorn.

1992.

Pengenalan

Pengajaran

Serangga.

Yogyakarta:

Universitas Gadjah Mada Press.


Gardner, E.J. 1991. Principles of Genetics. New York: John Wiley and Sons, Inc.
Campbell. 2001. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Hartwell,L.H, Hood, L.,Goldberg,.,Reynolds, Silver, Veres. 2004. Genetics From Genes
To Genoms second edition. New Delhi: McGraw-Hill Publishing Company LTD.
Henderson, D.S. 2004. Drosophila cytogenetics protocols. Humana Press. United States:
468 hlm.
Kimball, J. W. 1999. Biologi Edisi ke-lima Jilid 3. Jakarta. Erlangga.
Kimball, W, John. 1990. Biologi Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Lewin, Benjamin. 2004. Genes VIII . Pearson Prentice Hall. United States of America.
Lindsley. 1992. The Genome of Drosophila melanogaster. California: Academic Press
Inc.
Pierce, B. A. 2004. Genetics: A Conceptual Approach. 2nd ed. W. H. Freeman, New
York: 709 hlm.
Shorrocks, B. 1972. Drosophila. London: Ginn & Company Limited.
Strickberger, Monroe, W. 1962. Experiments in Genetics with Drosophila. London: John
Wiley and Sons, inc.
Suryo. 2010. Genetika untuk Strata 1. Yogyakarta : GMU Press.
Susan. 2009. Genetika. Jakarta : Erlangga
University of California, San Fransisco (=UCSF). 2012. Polytene Chromosomes. 1 hlm.
http://msg.ucsf.edu/sedat/polytene_chrom.html. diakses 2 April 2016.