Anda di halaman 1dari 31

Titrasi Kompleksometri

Titrasi kompleksometri adalah suatu analisis volumetri berdasarkan reaksi pembentukan


senyawa kompleks antara ion logam dengan ligan ( zat pembentuk kompleks ).

tujuan dari titrasi kompleksometri ini yaitu untuk menentukan konsentrasi / kadar suatu
senyawa logam dalam suatu campuran .
pada titrasi kompleksometri larutan baku sekunder yang digunakan yaitu ZnSO4 .7H2O , dan
larutan baku sekunder yang digunakan adalah Na2EDTA ( Etilen Diamin Tetra Asetat ).
kemudian indikator yang digunakan adalah EBT ( Eriochrom Black T ) dan Murexide.

Pada saat sebelum dilakukan titrasi di erlenmeyer dimasukan logam ( Mg, Zn , dll )
ditambahkan larutan dapar salmiak pH 10 , Mengapa harus pH 10 ?
Penambahan larutan buffer ini dimaksudkan untuk menjaga pH supaya tetap dalam suasana
basa , hal ini bertujuan karena jika dalam suasana asam maka senyawa kompleks yang
terbentuk tidak akan stabil , maka suasana titrasi harus dalam suasana basa.
Jika sebelum titrasi ditambahkan indikator maka indikator akan membentuk kompleks
dengan Mg2+ (berwarna merah) kemudian Mg2+ pada komplek akan bereaksi dengan EDTA
yang ditambahkan. Jika semua Mg2+ sudah bereaksi dengan EDTA maka warna merah akan
hilang selanjutnya kelebihan sedikit EDTA akan menyebabkan terjadinya titik akhir titrasi
yaitu terbentuknya warna biru.
Warna biru yang terjadi adalah akibat dari indikator EBT , jadi saat sebelum di titrasi EBT ini
bereaksi dengan logam sehingga menjadi berwarna ungu. pada saat ditirasi dengan EDTA
setelah EDTA bereaksi semua, larutan berwarna biru karena EBT sudah tidak berikatan
dengan logam lagi ( bebas ). Hal ini terjadi karena ikatan kompleks antara logam dengan
EBT tidak stabil , tetapi antara logam dengan EDTA ( ligan ) ikatan komleks nya stabil.

EBT kurang baik sebagai indikator untuk Ca2+ karena kompleks Ca-Error-T sangat lemah
jika dibandingkan dengan Mg-Error-T. Di dalam pelaksanaannya, larutan yang dititrasi perlu
ditimbang Mg2+ sebelum distandarkan dengan zat penitrasi campuran MgY2- dan H2Y2sehingga jika ditimbulkan pada Ca2+ yang stabil.
Penentuan kesadahan air dilakukan pada pH 10, sampel yang diselidiki perlu dibuffer
sedang indikator yang digunakan yaitu EBT.

Dasar Teori

B.1 Air Sadah: Air yang mengandung ion Ca2+ dan atau ion Mg2+. Kesadahan air adalah
kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium
(Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar
mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain
ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain
maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat. Metode paling sederhana untuk menentukan
kesadahan air adalah dengan sabun. Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang
banyak. Pada air sadah, sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit sekali
busa. Cara yang lebih kompleks adalah melalui titrasi. Kesadahan air total dinyatakan dalam
satuan ppm berat per volume (w/v) dari CaCO3.

Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat menyebabkan beberapa
masalah. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral, yang menyumbat saluran pipa
dan keran. Air sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga, dan air sadah
yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan. Dalam
industri, kesadahan air yang digunakan diawasi dengan ketat untuk mencegah kerugian.
Untuk menghilangkan kesadahan biasanya digunakan berbagai zat kimia, ataupun dengan
menggunakan resin penukar ion. Air sadah digolongkan menjadi 2 jenis berdasarkan jenis
anion yang iikat oleh kation (Ca2+, Mg2+). Yaitu:

a. Air sadah sementara

Mengandung garam hidrokarbonat seperti Ca(HCO3)2 dan atau Mg(HCO3)2.


1. Air sadah sementara dapat dihilangkan kesadahannya dengan cara memanaskan air tersebut
sehingga garam karbonatnya mengendap, reaksinya:

Ca(HCO3)2 (aq) CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)

Mg (HCO3)2 (aq) MgCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)

2. Selain dengan memanaskan air, sadah sementara juga dapat dihilangkan kesadahannya
dengan mereaksikan larutan yang mengandung Ca(HCO3)2 atau Mg (HCO3)2 dengan kapur
(Ca(OH)2):

Ca(HCO3)2 (aq) + Ca(OH)2 (aq) > 2CaCO3 (s) + 2H2O (l)

b. Air sadah tetap

Mengandung garam sulfat (CaSO4 atau MgSO4) terkadang juga mengandung garam klorida
(CaCl2 atau MgCl2). Air sadah tetap dapat dihilangkan kesadahannya menggunakan cara:

1.
Mereaksikan dengan soda Na2CO3 dan kapur Ca(OH)2, supaya terbentuk
endapan garam karbonat dan atau hidroksida:

CaSO4 (aq) + Na2CO3 (aq) > CaCO3 (s) +Na2SO4 (aq)

2.
Proses Zeolit Dengan natrium zeolit (suatu silikat) maka kedudukan akan
digantikan ion kalsium dan ion magnesium atau kalsium zeolit.

B.2 Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks


(ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi
dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi
reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan
penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup
luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Titrasi
kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion
kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan
mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi
komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi
kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Asam etilen diamin tetra asetat

atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina
polikarboksilat.

B.3 EBT dan EDTA

B.3.1 Eriochrome Black T (EBT) adalah indikator kompleksometri yang merupakan bagian
dari titrasi pengompleksian contohnya proses determinasi kesadahan air. Di dalamnya bentuk
protonated Eriochrome Black T berwarna biru. Lalu berubah menjadi merah ketika
membentuk komplek dengan kalsium, magnesium atau ion logam lain. Nama lain dari
Eriochrome Black T adalah,Solochrome Black T atau EBT (Anonima,2010).

Suatu kelemahan Eriochrome Black T adalah larutannya tidak stabil. Bila disimpan akan
terjadi penguraian secara lambat,sehingga setelah jangka waktu tertentu indikator tidak
berfungsi lagi. Sebagai gantinya dapat diganti dengan indikator Calmagite.Indikator ini stabil
dan dalam kebanyakan sifatnya sama dengan Erio T (Harjadi,1993).

B.3.2 EDTA adalah singkatan dari Ethylene Diamine Tetra Acid, yaitu asam amino yang
dibentuk dari protein makanan. Zat ini sangat kuat menarik ion logam berat (termasuk
kalsium) dalam jaringan tubuh dan melarutkannya, untuk kemudian dibuang melalui urine.
EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam
lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang
mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom
nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul.

Penentuan Kadar Kesadahan Air dengan Metode Titrasi EDTA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semua makhluk hidup di bumi ini butuh air. Air merupakan pelarut yang sangat baik,
sehingga di alam umumnya berada dalam keadaan tidak murni. Air alam mengandung
berbagai jenis zat, baik yang larut maupun yang tidak larut serta mengandung
mikroorganisme. Jika kandungan bahan-bahan dalam air tersebut tidak mengganggu
kesehatan, air dianggap bersih dan layak untuk diminum, air dikatakan tercemar jika terdapat
gangguan terhadap kualitas air sehingga air tersebut tidak dapat digunakan untuk tujuan
penggunaannya. Pencemaran air dapat terjadi karena masuknya makhluk hidup, zat, dan
energi terdalam air oleh kegiatan manusia. Keadaan itu dapat menurunkan kualitas air sampai
ke tingkat tertentu dan membuat air tidak berfungsi lagi sesuai dengan tujuan
penggunaannya.

Air adalah pelarut yang baik, sehingga dapat melarutkan zat-zat dari batu-batuan yang
berkontak dengannya. Bahan-bahan mineral yang dapat terkandung dalam air karena
kontaknya dengan batu-batuan tersebut antara lain: CaCO3, MgCO3, CaSO4, MgSO4, NaCl,
Na2SO4, SiO2 dan sebagainya. Dimana air yang banyak mengandung ion-ion kalsium dan

magnesium dikenal sebagai air sadah. Air sadah adalah air yang di dalamnya terlarut garamgaram kalsium dan magnesium air sadah tidak baik untuk mencuci karena ion-ion Ca2+ dan
Mg2+ akan berikatan dengan sisa asam karbohidrat pada sabun dan membentuk endapan
sehingga sabun tidak berbuih. Senyawa-senyawa kalsium dan magnesium ini relatif sukar
larut dalam air, sehingga senyawa-senyawa ini cenderung untuk memisah dari larutan dalam
bentuk endapan atau precipitation yang kemudian melekat pada logam (wadah) dan menjadi
keras sehingga mengakibatkan timbulnya kerak (Bintoro, 2008).

Air sadah dibagi menjadi dua yaitu air sadah sementara dan air sadah tetap. Air sadah
sementara yaitu air yang kesadahannya disebabkan oleh kalsium dan magnesium dari
karbohidrat dan bikarbonat, sedangkan air sadah permanen atau tetap disebutkan oleh garam
kalsium sulfat dan klorida. Manfaat penentuan kesadahan sementara dan kesadahan
permanen yaitu untuk mengetahui tingkat kesadahan air karena air sadah dapat menimbulkan
kerak sehingga dapat menyumbat pipa saluran air panas seperti radiator yang digunakan
dalam mesin-mesin pertanian.

EDTA (ethylene diamine tetraacetic) merupakan suatu kompleks kelat yang larut ketika
ditambahkan ke dalam suatu larutan yang mengandung kation logam tertentu seperti Ca2+
dan Mg2+, di mana akan membentuk kompleks dengan logam-logam tersebut. Ketika
ditambahkan suatu indikator EBT ke dalam larutan yang mengandung kompleks tersebut
maka akan menghasilkan perbahan warna pada pH tertentu, sehingga dengan prinsip ini nilai
kesadahan air dapat dianalisis.

1.2 Perumusan Masalah


Bagaimana pengertian kesadahan yang sebenarnya?
Bagaimana metode yang dapat digunakan untuk mengukur nilai kesadahan?

1.3 Tujuan
Mengetahui pengertian dari kesadahan
Mengetahui metode yang dapat digunakan untuk mengukur nilai kesadahan

1.4 Manfaat

Pembuatan makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kesadahan serta cara
yang dapat digunakan untuk mengukur nilai kesadahan tersebut.

BAB II

ISI

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengertian Kesadahan

Pada awalnya, kesadahan air didefinisikan sebagai kemampuan air untuk mengendapkan
sabun, sehingga keaktifan/ daya bersih sabun menjadi berkurang atau hilang sama sekali.
Sabun adalah zat aktif permukaan yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air,
sehingga air sabun dapat berbusa. Air sabun akan membentuk emulsi atau sistem koloid
dengan zat pengotor yang melekat dalam benda yang hendak dibersihkan.

Kesadahan terutama disebabkan oleh keberadaan ion-ion kalsium (Ca2+) dan magnesium
(Mg2+) di dalam air. Keberadaannya di dalam air mengakibatkan sabun akan mengendap
sebagai garam kalsium dan magnesium, sehingga tidak dapat membentuk emulsi secara
efektif. Kation-kation polivalen lainnya juga dapat mengendapkan sabun, tetapi karena kation
polivalen umumnya berada dalam bentuk kompleks yang lebih stabil dengan zat organik yang
ada, maka peran kesadahannya dapat diabaikan. Oleh karena itu penetapan kesadahan hanya
diarahkan pada penentuan kadar Ca2+ dan Mg2+. Kesadahan total didefinisikan sebagai
jumlah miliekivalen (mek) ion Ca2+ dan Mg2+ tiap liter sampel air (Anonim, 2008).

Kesadahan atau hardness adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air. Penyebab air
menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+, Mg2+. Atau dapat juga disebabkan karena
adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervalensi banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr
dan Zn dalam bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil.

Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium dikenal sebagai air sadah,
atau air yang sukar untuk dipakai mencuci. Senyawa kalsium dan magnesium bereaksi
dengan sabun membentuk endapan dan mencegah terjadinya busa dalam air. Oleh karena
senyawa-senyawa kalsium dan magnesium relatif sukar larut dalam air, maka senyawasenyawa itu cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau presipitat
yang akhirnya menjadi kerak.

Pengertian kesadahan air adalah kemampuan air mengendapkan sabun, di mana sabun ini
diendapkan oleh ion-ion yang saya sebutkan diatas. Karena penyebab dominan/utama
kesadahan adalah Ca2+ dan Mg2+, khususnya Ca2+, maka arti dari kesadahan dibatasi
sebagai sifat / karakteristik air yang menggambarkan konsentrasi jumlah dari ion Ca2+ dan
Mg2+, yang dinyatakan sebagai CaCO3. Kesadahan ada dua jenis, yaitu (Giwangkara,
2008) :
1. Kesadahan sementara

Adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam bikarbonat, seperti


Ca(HCO3)2, Mg(HCO3)2. Kesadahan sementara ini dapat / mudah dieliminir dengan
pemanasan (pendidihan), sehingga terbentuk encapan CaCO3 atau MgCO3.

Reaksinya:
Ca(HCO3)2 dipanaskan CO2 (gas) + H2O (cair) + CaCO3 (endapan)

Mg(HCO3)2 dipanaskan

CO2 (gas) + H2O (cair)

+ MgCO3 (endapan)

2. Kesadahan tetap

Adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam klorida, sulfat dan karbonat,
misal CaSO4, MgSO4, CaCl2, MgCl2. Kesadahan tetap dapat dikurangi dengan penambahan
larutan soda kapur (terdiri dari larutan natrium karbonat dan magnesium hidroksida)

sehingga terbentuk endapan kaslium karbonat (padatan/endapan) dan magnesium hidroksida


(padatan/endapan) dalam air.

Reaksinya:
CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 (padatan/endapan) + 2NaCl (larut)

CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 (padatan/endapan) + Na2SO4 (larut)

MgCl2 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaCl2 (larut)

MgSO4 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaSO4 (larut)

Ketika kesadahan kadarnya adalah lebih besar dibandingkan penjumlahan dari kadar alkali
karbonat dan bikarbonat, yang kadar kesadahannya eqivalen dengan total kadar alkali disebut
kesadahan karbonat; apabila kadar kesadahan lebih dari ini disebut kesadahan nonkarbonat. Ketika kesadahan kadarnya sama atau kurang dari penjumlahan dari kadar alkali
karbonat dan bikarbonat, semua kesadahan adalah kesadahan karbonat dan kesadahan
noncarbonate tidak ada. Kesadahan mungkin terbentang dari nol ke ratusan miligram per
liter, bergantung kepada sumber dan perlakuan dimana air telah subjeknya.

2.1.2 EDTA

EDTA adalah kependekan dari ethylene diamin tetra acetic. EDTA berupa senyawa kompleks
khelat dengan rumus molekul (HO2CCH2)2NCH2CH2N(CH2CO2H)2. Merupakan suatu
senyawa asam amino yang secara luas dipergunakan untuk mengikat ion logam logam
bervalensi dua dan tiga. EDTA mengikat logam melalui empat karboksilat dan dua gugus
amina. EDTA membentuk kompleks kuat terutama dengan Mn (II), Cu (II), Fe (III), dan Co
(III) (Anonim, 2008).

Etilendiamintetrasetat atau yang dikenal dengan EDTA, merupakan senyawa yang mudah
larut dalam air, serta dapat diperoleh dalam keadaan murni. Tetapi dalam penggunaannya,
karena adanya sejumlah tidak tertentu dalam air, sebaiknya distandardisasi terlebih dahulu.

Gambar 2.1

Struktur EDTA

Terlihat dari strukturnya bahwa molekul tersebut mengandung baik donor elektron dari atom
oksigen maupun donor dari atom nitrogen sehingga dapat menghasilkan khelat bercincin
sampai dengan enam secara serempak (Khopkar, 1990).

2.1.3 Metode Titrasi EDTA

Kesadahan total yaitu ion Ca2+ dan Mg2+ dapat ditentukan melalui titrasi dengan EDTA
sebagai titran dan menggunakan indikator yang peka terhadap semua kation tersebut.
Kejadian total tersebut dapat dianalisis secara terpisah misalnya dengan metode AAS
(Automic Absorption Spectrophotometry) (Abert dan Santika, 1984).

Asam Ethylenediaminetetraacetic dan garam sodium ini (singkatan EDTA) bentuk satu
kompleks kelat yang dapat larut ketika ditambahkan ke suatu larutan yang mengandung
kation logam tertentu. Jika sejumlah kecil Eriochrome Hitam T atau Calmagite ditambahkan
ke suatu larutan mengandung kalsium dan ion-ion magnesium pada satu pH dari 10,0 0,1,
larutan menjadi berwarna merah muda. Jika EDTA ditambahkan sebagai satu titran, kalsium
dan magnesium akan menjadi suatu kompleks, dan ketika semua magnesium dan kalsium
telah manjadi kompleks, larutan akan berubah dari berwarna merah muda menjadi berwarna
biru yang menandakan titik akhir dari titrasi. Ion magnesium harus muncul untuk
menghasilkan suatu titik akhir dari titrasi. Untuk mememastikankan ini, kompleks garam
magnesium netral dari EDTA ditambahkan ke larutan buffer.

Penentuan Ca dan Mg dalam air sudah dilakukan dengan titrasi EDTA. pH untuk titrasi
adalah 10 dengan indikator Eriochrom Black T (EBT). Pada pH lebih tinggi, 12, Mg(OH)2
akan mengendap, sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+ dengan indikator
murexide. Adanya gangguan Cu bebas dari pipa-pipa saluran air dapat di masking dengan
H2S. EBT yang dihaluskan bersama NaCl padat kadangkala juga digunakan sebagai indikator
untuk penentuan Ca ataupun hidroksinaftol. Seharusnya Ca tidak ikut terkopresitasi dengan
Mg, oleh karena itu EDTA direkomendasikan.

Kejelasan dari titik- akhir banyak dengan pH peningkatan. Bagaimanapun, pH tidak dapat
ditingkat dengan tak terbatas karena akibat bahaya dengan kalsium karbonat mengendap,
CaCO3, atau hidroksida magnesium, Mg(OH)2 , dan karena perubahan celup warnai di
ketinggian pH hargai. Ditetapkan pH dari 10,0 0,1 adalah satu berkompromi kepuasan. Satu
pembatas dari 5 min disetel untuk jangka waktu titrasi untuk memperkecil kecenderungan ke
arah CaCO3 pengendapan.

BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

Peralatan yang digunakan adalah seperangkat alat titrasi dan peralatan gelas yang biasa
digunakan dalam laboratorium kimia analitik.

3.1.2 Bahan
Larutan buffer:

1)
Dilarutkan 16,9 g ammonium klorida (NH4Cl) dalam 143 mL ammonium hidroksida
(NH4OH). Kemudian ditambahkan 1,25 g garam magnesium dari EDTA (yang telah
distandardisasi) dan diencerkan ke dalam 250 mL aquades.

2)
Jika garam magnesium dari EDTA tidak ada, dilarutkan 1,179 g garam disodium dari
ethylenediaminetetraacetic aciddihydrate (reagen analitis) dan 780 mg magnesium sulfat
(MgSO4 .7H2O) atau 644 mg magnesium chloride (MgCl2 . 6H2O ) ke dalam 50 mL
aquades. Kemudian ditambahkan ke dalam campuran ini 16,9 g NH4Cl dan 143 mL NH4OH
dengan pengadukan dan diencerkan sampai 250 mL dengan aquades.

Simpan larutan 1) atau 2) dalam suatu plastik atau gelas borosilicate. Bagikan larutan buffer
menggunakan pipet. Hentikan penambahan larutan buffer ketika 1 atau 2 mL ditambahkan ke
sampel tidak berhasil menghasilkan satu pH dari 10,0 0,1 pada titik akhir titrasi.

3)
Preparasi salah satu buffer ini dengan mencampurkan 55 mL HCl dengan aquades 400
mL dan kemudian, aduk dengan perlahan dan tambahkan 300 mL 2-aminoethanol (bebas dari
alumunium dan logam lebih berat). Tambahkan 5 g garam magnesium dari EDTA dan
encerkan hingga 1 L dengan aquades.
Agen Complexing:

Adakalanya air mengandung ion yang bertentangan memerlukan penambahan suatu agen
complexing yang sesuai untuk memberikan satu titik akhir, yaitu perubahan warna yang
tajam pada titik-akhir. Berikut adalah agen complexing tersebut:

1)
Inhibitor I : Sesuaikan sampel asam ke pH 6 atau lebih tinggi dengan larutan buffer atau
0,1 N NaOH. Tambahkan 250 mg NaCN (bentuk serbuk). Tambahkan buffer secukupnya
untuk menyesuaikan ke pH 10,0 0,1 (AWAS: NaCN adalah sangat beracun).

2)
Inhibitor II. : Larutkan 5 g sulfida sodium nonahydrate (Na2S + 9 H2O) atau 3,7 g
Na2S + 5H2O dalam 100 mL aquades.

3)
MgCDTA : garam magnesium dari 1, 2-cycclohexanediamine tetraacetic asam.
Tambahkan 250 mg per 100 mL sampel dan larutkan sebelum menambahkan larutan buffer.
Indikator:

Banyak jenis dari larutan indikator telah diakui dan mungkin dipergunakan kalau ahli analisa
mempertunjukkan bahwa mereka menghasilkan nilai akurat. Kesulitan utama dengan larutan
indikator adalah kerusakan oleh waktu, dimana berakibat memberikan titik akhir yang tidak
jelas. Sebagai contoh, larutan alkalin dari Eriochrome Black T sensitif terhadap oksidasi dan
mengandung air atau larutan alkohol adalah tidak stabil.

1) Eriochrome Black T (EBT): Garam sodium dari asam 1-(1-hydroxy-2-naphthylazo)-5Nitro-2-naphthol-4-sulfonic. Larutkan 0,5 g pada 100 g 2,2,2-nitrilotriethanol (juga disebut

triethanolamine) atau 2- methoxymethanol (juga disebut Ether ethylene glycol monomethyl).


Tambahkan 2 tetes per 50 mL larutan untuk di titrasi.

2) Calmagite: Asam 1-(1-hydroxy-4-metil-2-phenylazo)-2-naphthol-4-sulfonic. Senyawa ini


bersifat stabil di larutan air dan menghasilkan perubahan warna yang sama seperti
Eriochrome Black T. Larutkan 0.10 g Calmagite pada 100 mL aquades. Gunakan 1 mL per 50
mL larutan untuk di titrasi. Sesuaikan volume kalau perlu.

3) Indikator 1 dan 2 dapat digunakan dalam bentuk serbuk kering untuk menghindari
kelebihan indikator. Dipersiapkan campuran kering dari indikator ini dan satu garam inert
tersedia secara komersial.

Jika warna titik akhir dari indikator ini tidak jelas dan tajam, ini biasanya memaksudkan
bahwa satu agen complexing yang sesuai diperlukan. Kalau inhibitor NaCN tidak
menunjukan ketajaman pada titik akhir, mungkin indikator dalam keadaan tidak baik.
EDTA Titrant standar, 0,01 M :

Timbang 3.723 g disodium ethylenediaminetetraacetate dihydrate, juga disebut dengan


etilendiamintetraasetat (EDTA), larutkan di dalam aquades, dan diencerkan pada 1000 mL.
Standarkan dengan larutan kalsium standar (2e) sebagaimana diuraikan dalam pada 3b di
bawah.

Karena titran mengekstrak kation dan menghasilkan kesadahan dari wadah gelas plastik,
maka lebih baik simpan di polyethylene atau gelas botol borosilicate.
Larutan Kalsium standar :

Ditimbang 1,000 g serbuk CaCO3 anhidrat ke dalam satu 500 mL Erlenmeyer. tambahkan
secara perlahan 1+1 HCL hingga semua CaCO3 telah larut. Tambahkan 200 mL aquades dan
aduk untuk beberapa menit untuk mengusir CO2 . Tambahkan beberapa tetes dari indikator
metil merah, dan tambahkan 3N NH4OH atau 1+1 HCL hingga larutan berwarna orange,
seperti yang diperlukan. Encerkan ke dalam 1000 mL dengan aquades; 1 mL = 1.00 mg
CaCO3 .

f. Natrium hidroksida, NaOH, 0. 1 N.

3.2 Prosedur Kerja


a. Pembuatan air limbah dan air limbah sampel :

Digunakan asam nitrat-asam sulfat atau asam nitrat- asam perchloric encer.
b. Titrasi dari sample :

Pilih satu volume sampel yaitu yang kurang dari 15 mL EDTA titrant dan dititrasi selama 5
menit, diukur dari waktu dari penambahan buffer.

Encerkan 25.0 mL sampel ke dalam 50 mL aquades didalam kaserol porselin atau wadah lain
yang sesuai. Tambahkan 1-2 mL larutan buffer. Biasanya 1 mL akan cukup untuk
memberikan pH dari 10.0 ke 10.1. Munculnya satu warna titik-akhir yang tajam didalam
titrasi biasanya diartikan bahwa satu inhibitor harus ditambahkan dalam titik ini.

Tambahkan 1-2 tetes larutan indikator atau formulasi indikator secukupnya. Tambahkan
standar EDTA Titrant perlahan-lahan, dengan pengadukan, hingga warna kemerah-merahan
hilang. Tambahkan beberapa tetes indikator pada rentang 3 sampai 5. Pada titik akhir secara
normal akan muncul warna biru. Cahaya matahari dan cahaya dari lampu fluoresen sangat
dianjurkan karena cahaya-cahaya tersebut dapat menunjukkan titik-titik berwarna merah pada
larutan yang berwarna biru pada saat titik akhir titrasi.

Jika sampel cukup ada tersedia dan pengganggu tidak ada, tingkatkan keakuratan dengan
meningkatkan ukuran sampel, sebagaimana diuraikan pada poin c di bawah.
c. Sampel dengan kesadahan rendah :

Untuk air dengan kesadahan rendah (kurang dari 5 mg / L), ambil suatu sampel dalam jumlah
yang besar, 100-1000 mL, untuk dititrasi dan ditambahkan dengan sejumlah besar inhibitor,
buffer, dan indikator. Tambahkan larutan standar EDTA titrant perlahan-lahan dari satu
microburet dan dimulai dari blanko, gunakan air yang telah di destilasi, didestilasi ulang atau
air yang telah diionisasi dari volume yang sama dengan sampel, dimana sejumlah serupa dari
larutan buffer, inhibitor, dan indikator telah ditambahkan sebelumnya. Ambil beberapa
volume dari EDTA untuk blanko dari volume dari EDTA yang digunakan untuk sampel.

3.3 Perhitungan

Kesadahan (EDTA) seperti mg CaCO 3 /L = (A x B X 1000)/ mL sampel

Dimana:

A = mL untuk sampel dan

B = mg CaCO 3 ekivalen dengan 1.00 mL EDTA titrant.

BAB IV

PEMBAHASAN

Prosedur umum untuk awal percobaan ini dengan satu contoh air mengandung mineral yang
berisi kalsium dan magnesium. Untuk mengasuransikan bahwa semua kation tinggal di dalam
solusi dan itu pekerjaan indikator dengan baik, satu penyangga biasanya menyesuaikan pH ke
9.9 10.1. Setelah pH disesuaikan dan indikator ditambahkan, EDTA Titrant ditambahkan
melalui satu buret.

EDTA adalah satu agen chelating itu dapat mendonorkan elektron (Aturan Lewis) yang
kemudian akan membentuk satu kompleks dengan ion logam (Asam Lewis). EDTA pertama
kali akan membentuk kompleks dengan Ca2+ dan kemudian dengan Mg2+. Seperti pada
titrasi apapun kita akan perlu satu indikator untuk menentukan ketika semua Ca2+ dan Mg2+

telah membentuk kompleks dengan EDTA (titik akhir titrasi). Indikator yang dipergunakan di
percobaan ini adalah Eriochrome Hitam T. Di pH 10 indikator akan berada di dalam bentuk
HInd2- (Ind mewakili indikator), dan menghasilkan kompleks berwarna biru. Selanjutnya
pada saat indicator bereaksi dengan Mg2+ akan memberikan satu kompleks merah.

Pertama EDTA (H2Y2-) akan kompleks dengan ion kalsium, membentuk satu kompleks
merah:

1)

H2In- + Ca2+ CaIn- + 2H+

Pada titik akhir, EDTA akan kompleks dengan kalsium dan indikator menjadi lepas, yaitu
ditandai oleh warna merah berganti warna biru:

2)

EDTA + CaIn- + 2H+

(merah)

H2In- + CaEDTA

(biru)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesadahan merupakan sifat kimia yang dimiliki air dimana, terdapat ion-ion yang
menyebabkan sabun sulit menghasilkan busa terutama ion Ca2+ dan Mg2+. Dimana
Kesadahan total didefinisikan sebagai jumlah miliekivalen (mek) ion Ca2+ dan Mg2+ tiap
liter sampel air.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur nilai kesadahan pada air adalah
dengan metode titrasi EDTA.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, Water Hardness: EDTA Titrimetric Method, New York USA
Albert dan Santika, Sri Sumestri, 1984, Metode Penelitian Air, ITS Press, Surabaya
Bintoro, 2008, Penentuan
http://aabin.blogsome.com

Kesadahan

Sementara

dan

Kesadahan

Permanen,

Giwangkara, E., 2008, http://persembahanku.wordpress.com/2006/09/29/mengapa mandi


dipantai boros sabun
Khopkar, S. M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Penerjemah : A. Saptorahardjo, UIPrees, Jakarta

Laporan Percobaan Analisis Kesadahan Air

ANALISIS KESADAHAN AIR


A. Tujuan Percobaan
1.

Mempelajari penyebab dan pengaruh air sadah.

2.

Menentukan kesadahan sampel air.

B.

Dasar Teori

B.1 Air Sadah: Air yang mengandung ion Ca2+ dan atau ion Mg2+. Kesadahan air adalah
kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium
(Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar
mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain
ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain
maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat. Metode paling sederhana untuk menentukan
kesadahan air adalah dengan sabun. Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang
banyak. Pada air sadah, sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit sekali
busa. Cara yang lebih kompleks adalah melalui titrasi. Kesadahan air total dinyatakan dalam
satuan ppm berat per volume (w/v) dari CaCO3.
Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat menyebabkan beberapa
masalah. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral, yang menyumbat saluran pipa
dan keran. Air sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga, dan air sadah
yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan. Dalam
industri, kesadahan air yang digunakan diawasi dengan ketat untuk mencegah kerugian.
Untuk menghilangkan kesadahan biasanya digunakan berbagai zat kimia, ataupun dengan
menggunakan resin penukar ion. Air sadah digolongkan menjadi 2 jenis berdasarkan jenis
anion yang iikat oleh kation (Ca2+, Mg2+). Yaitu:
a. Air sadah sementara
Mengandung garam hidrokarbonat seperti Ca(HCO3)2 dan atau Mg(HCO3)2.
1. Air sadah sementara dapat dihilangkan kesadahannya dengan cara memanaskan air tersebut
sehingga garam karbonatnya mengendap, reaksinya:
Ca(HCO3)2 (aq) CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
Mg (HCO3)2 (aq) MgCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
2. Selain dengan memanaskan air, sadah sementara juga dapat dihilangkan kesadahannya
dengan mereaksikan larutan yang mengandung Ca(HCO3)2 atau Mg (HCO3)2 dengan kapur
(Ca(OH)2):
Ca(HCO3)2 (aq) + Ca(OH)2 (aq) > 2CaCO3 (s) + 2H2O (l)

b. Air sadah tetap


Mengandung garam sulfat (CaSO4 atau MgSO4) terkadang juga mengandung garam klorida
(CaCl2 atau MgCl2). Air sadah tetap dapat dihilangkan kesadahannya menggunakan cara:
1.
Mereaksikan dengan soda Na2CO3 dan kapur Ca(OH)2, supaya terbentuk
endapan garam karbonat dan atau hidroksida:

CaSO4 (aq) + Na2CO3 (aq) > CaCO3 (s) +Na2SO4 (aq)


2.
Proses Zeolit Dengan natrium zeolit (suatu silikat) maka kedudukan akan
digantikan ion kalsium dan ion magnesium atau kalsium zeolit.

B.2 Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks


(ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi
dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi
reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan
penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup
luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Titrasi
kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion
kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan
mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi
komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi
kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Asam etilen diamin tetra asetat
atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina
polikarboksilat.
B.3 EBT dan EDTA
B.3.1 Eriochrome Black T (EBT) adalah indikator kompleksometri yang merupakan bagian
dari titrasi pengompleksian contohnya proses determinasi kesadahan air. Di dalamnya bentuk
protonated Eriochrome Black T berwarna biru. Lalu berubah menjadi merah ketika
membentuk komplek dengan kalsium, magnesium atau ion logam lain. Nama lain dari
Eriochrome Black T adalah,Solochrome Black T atau EBT (Anonima,2010).
Suatu kelemahan Eriochrome Black T adalah larutannya tidak stabil. Bila disimpan akan
terjadi penguraian secara lambat,sehingga setelah jangka waktu tertentu indikator tidak
berfungsi lagi. Sebagai gantinya dapat diganti dengan indikator Calmagite.Indikator ini stabil
dan dalam kebanyakan sifatnya sama dengan Erio T (Harjadi,1993).
B.3.2 EDTA adalah singkatan dari Ethylene Diamine Tetra Acid, yaitu asam amino yang
dibentuk dari protein makanan. Zat ini sangat kuat menarik ion logam berat (termasuk
kalsium) dalam jaringan tubuh dan melarutkannya, untuk kemudian dibuang melalui urine.
EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam
lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang
mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom
nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul.
C. Metode Percobaan
A. Alat dan Bahan:

A.1 Alat
1.

Sebuah Gelas Piala berukuran 250 ml

2.

Tiga buah erlenmeyer berukuran 125 ml

3.

Sebuah pipet gondok berukuran 20 ml

4.

Sebuah pipet gondok berukuran 1 ml

5.

Sebuah corong

6.

Sebuah buret berukuran 50 ml

7.

Sebuah pipet pump berukuran 25 ml

8.

Dua buah pipet tetes

A.2 Bahan
1.

Larutan Na2H2Y.2H2O atau larutan Na2EDTA

2.

Larutan standar Ca2+ 0.0005 M

3.

Larutan buffer pH 10,0

4.

Sampel air (Akuades)

5.

Indikator EBT

B.

Prosedur Kerja

B.1. Prosedur kerja standarisasi 0,01 m larutan etilaniamin tetraasetat:


1.
Buret disiapkan untuk dilakukan titrasi, kemudian buret dibilas menggunakan
Na2EDTA dan diisi dengan Na2EDTA hingga skala 0
2.
Digunakan pipet gondok untuk mengambil 20 ml larutan standar Ca2+ dan dimasukkan
ke dalam erlenmeyer 125 ml, kemudian ditambahkan 1 ml larutan buffer pH 10.0dan 2 tetes
indikator EBT. Disiapkan 3 erlenmeyer untuk 3 sampel larutan.
3.
Larutan di dalam erlenmeyer dititrasi menggunakan Na2EDTA secara perlahan hingga
mendekati titik terakhir kemudian diturunkan laju penambahan titran pada saat terjadi
perubahan warna menjadi biru langit secara permanen
4.

Dicatat volume titran yang digunakan

5.

Titrasi pengambilan standart Ca2+ diulangi untuk larutan sampel yang kedua dan ketiga

B.2. Prosedur kerja analisis sampel air


1.
Buret disiapkan untuk dilakukan titrasi, kemudian buret dibilas menggunakan
Na2EDTA dan diisi dengan Na2EDTA hingga skala 0
2.
Digunakan pipet gondok untuk mengambil 20 ml sampel air dan dimasukkan ke dalam
erlenmeyer 125 ml, kemudian ditambahkan 1 ml larutan buffer pH 10.0dan 2 tetes indikator
EBT. Disiapkan 3 erlenmeyer untuk 3 sampel larutan.
3.
Larutan di dalam erlenmeyer dititrasi menggunakan Na2EDTA secara perlahan hingga
mendekati titik terakhir kemudian diturunkan laju penambahan titran pada saat terjadi
perubahan warna menjadi biru langit secara permanen
4.

Dicatat volume titran yang digunakan

5.

Titrasi pengambilan sampel air diulangi untuk larutan sampel yang kedua dan ketiga

C.

Skema alat:

keterangan:
1.statif
2.klem
3.buret
4.erlenmeyer

Sumber gambar:
http://2.bp.blogspot.com/_fy72ZAz45xo/R2bIPFmceI/AAAAAAAAAAM/YdpPPJiNn2g/s1
600-h/titrasi.jpg

D.

Hasi Percobaan dan hasil perhitungan

D.1 Hasil Percobaaan Standarisasi Larutan Na2 EDTANo. Uraian Perc. 1 Perc. 2 Perc. 3

Volume larutan standar Ca2+ (ml)

20

20

20

Konsentrasi larutan standar Ca2+ (mol/L) (Molar) 0,0005 0,0005 0,0005

Mol Ca2+ = mol Na2H2Y (mol)

10-5

10-5

Pembacaan buret, akhir (ml) 48

30,.5

27,5

Pembacaan buret, awal (ml) 50

33

30,5

Volume titran Na2H2Y (ml) 2

2,5

Molaritas larutan Na2H2Y (mol/L) 5 . 10-3

Molaritas rerata larutan Na2H2Y (mol/L)

10-5

4. 10-3 3,33. 10-3

4,11. 10-3

4,11. 10-3

4,11. 10-3

D.2 Hasil Percobaan Analis Sampel AirNo. Uraian Perc. 1 Perc. 2 Perc. 3
1

Volume sampel air (ml)

20

20

20

Pembacaan buret, akhir (ml) 44,8

39,3

33, 8

Pembacaan buret, awal (ml) 50

44,8

39,3

Volume titran Na2H2Y (ml) 5,2

5,5

5,5

Mol ion sadah, Ca2+ = mol Na2H2Y (mol) 2,14 . 10-5

Massa CaCO3 ekuivalen (gram)

ppm CaCO3 (mg CaCO3 / L sampel) 107

113

ppm CaCO3 rerata (mg/ L)

111

111

2,14 . 10-3

111

2,26 . 10-5

2,26 . 10-3

V (L) M

V (L) RATA - RATA

0,0005 2.10-2 5.10-3 2.10-3 4,11. 10-3

II

0,0005 2.10-2 4. 10-3 2,5.10-3

2,26 . 10-3

113

D.3 Hasil Perhitungan Standarisasi Larutan Na2 EDTAPERCOBAAN


M
M

2,26 . 10-5

Ca2+ Na EDTA

III

0,0005 2.10-2 3.33 10-3

3.10-3

D.4 Hasil Perhitungan Analisis Sampel Air ( Kandungan Ca2+ Dalam Air )
Diketahui: Mr CaCO3 = 100 gram / molPERCOBAAN
Na2EDTA
SAMPEL
AIR
Molaritas Ion Sadah (mol) MASSA CaCO3 (gram)
PPM CaCO3 (mg/L)
M rata-rata

V( ml )V( liter (L))

4,11. 10-3

5,2

2.10-2 2,14 . 10-5

2,14 . 10-3

107

II

4,11. 10-3

5,5

2.10-2 2,26 . 10-5

2,26 . 10-3

113

III

4,11. 10-3

5,5

2.10-2 2,26 . 10-5

2,26 . 10-3

113

PPM RATA-RATA

E.
a.

111 mg/L

Pembahasan
Perlakuan

Percobaan ini dilakukan dengan tujuan agar kita dapat menetukan kesadahan suatu sampel
air. Yang menyebabkan kesadahan suatu air adalah karena adanya garam kalsium dan
magnesium serta besi pada suatu larutan.
Pada percobaan pertama, melakukan standarisasi larutan Na2H2Y2 dengan menggunkan
larutan standar Ca2+. Yang dimaksud dengan larutan standar adalah larutan yang telah
diketahui nilai molaritasnya sehingga dapat menstandarisasi larutan yang belum diketahui
nilai molaritasnya. Karena bentuk awal dari larutan standar Ca2+ berbentuk butiran, sehingga
dapat dihitung molaritasnya dengan menggunakan konsep molaritas. Dalam percobaan kali
ini mengunakan metode titrasi, yaitu cara penetuan konsentrasi suatu larurtan dengan volume
tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur
volumenya secara pasti. Titran yang digunakan adalah Na2EDTA dan akan berdisiosasi
menjadi ion Na+ dan H2Y2-. Pada kali ini akan dilakukan 3 kali percobaan.
Pada percobaan ini, Ca2+ memiliki molaritas sebesar 0,005M dan volume larutan 0,02 liter.
Molaritas dan volume larutan telah diketahui karena larutan ini merupakan larutan standar.
Pada percobaan ini, digunakan indikator, yaitu indikator EBT. Indikator yang mampu
berikatan secara kompleks dengan ion Ca2+ dan Mg2+. Indikator warna yang digunakan
adalah perubahan warna ungu menjadi warna biru cerah.

b. Fungsi tiap-tiap penambahan:

Titrasi Na2EDTA menggunakan indikator EBT dan penyangga dengan pH 10. Tujuan
awalnya untuk memelihara agar pH tetap yang disebabkan ketika ion hidrogen lepas pada
proses titrasi yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan pH dalam titrasi
kompleksiometri. Kedua mencegah terbentunya endapan logam hidroksida, dengan
demikian,penyangga itu dapat bertindak sebagai zat pembentuk kompleks tambahan

c.

Reaksi dan Fenomena:

Jika titran Na2EDTA ditambahkan pada analitik, maka akan terjadi reaksi pembentukan
kompleks dengan ion Ca2+ seperti berikut:

Ca2+ (aq) + H2Y2- (aq) > (CaY)2- (aq) + 2H+ (aq)

Indikator EBT berwarna biru langit dalam larutan tetapi membentuk kompleks merah anggur
(Ca EBT)2+ (aq)

Ca2+ (aq) + EBT (aq) > (Ca EBT)2+ (aq)

Sebelum titran H2Y2- ditambahkan untuk analisa, analit berwarna merah anggur karena ion
kompleks (Ca EBT)2+ (aq). Jika H2Y2- mengkompleks semua Ca2+ bebas dari sampel air
maka kompleks merah anggur (Ca EBT)2+ terdisosiasi dari warna merah anggur berubah
menjadi biru langit dari indikator EBT. Dan titik akhir dicapai, semua ion sadah telah
terkompleksikan dengan H2Y2-

(Ca EBT)2+ (aq) + H2Y2- (aq) > CaY(aq) + 2H+ (aq) + EBT(aq)

Jika titran H2Y2- ditambahkan pada analit, maka akan terjadi reaksi pembentukan kompleks
dengan ion Ca2+ dan Mg2+seperti berikut:

Ca2+ (aq) + H2Y2- (aq) > (CaY)2- (aq) + 2H+ (aq)


Mg2+ (aq) + H2Y2- (aq) > (MgY)2- (aq) + 2H+ (aq)

Indikator EBT berwarna biru langit dalam larutan tetapi membentuk kompleks merah anggur
(Mg EBT)2+ (aq)

Mg 2+ (aq) + EBT (aq) > (Mg EBT)2+ (aq)

Jika H2Y2- mengkompleks semua Ca2+ dan Mg2+ bebas dari sampel air maka kompleks
merah anggur (Ca EBT)2+ terdisosiasi dari warna merah anggur berubah menjadi biru
langit dari indikator EBT. Dan titik akhir dicapai, semua ion sadah telah terkompleksikan
dengan H2Y2(Mg EBT)2+ (aq) + H2Y2- (aq) > MgY(aq) + 2H+ (aq) + EBT(aq)

d.

Toleransi hasil dengan standar ion sadah yang diizinkan

Dari hasil data yang telah diperoleh, terdapat hasil yang berbeda-beda. Pada percobaan
pertama terdapat volume 2 x 10-3 L dengan molaritas sebesar 5 x.10-3 M, sedangkan pada
percobaan kedua, terdapat volume sebesar 2,5 x 10-3 L dengan molaritas sebesar 4 x 10-3 M,
dan pada percobaan terakhir mengenai standarisasi larutan Na2EDTA ini didapat volume 3 x
10-3 L sehingga menghasilkan konsentrasi sebesar 3,33 x 10-3 M. Dapat kita lihat, bahwa
penentuan momentum pada saat terjadinya perubahan warna menjadi biru cerah adalah faktor
yang sangat penting. Beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan dalam menetukan
konsentrasi standar pada larutan Na2EDTA, terutama saat melakukan proses titrasi larutan,
seperti :

v Dalam prosedur bekerja, terjadi kekurang telitian dalam proses pengukuran, penimbangan,
serta dalam proses pengambilan larutan menggunakan pipet memberikan sedikit pengaruh
terhadap volume yang diukur.
v Pembacaan buret tidak konstan dan buret yang bocor mempengaruhi volume Na2EDTA
yang dititrasi sehingga membuat konsentrasi dari Na2EDTA semakin besar.

v Di dalam prosedur, proses titrasi dilakukan secara perlahan-lahan, namun dalam


pelaksaannya tidak dilakukan secara perlahan, sehingga pengukuran volume Na2EDTA saat
terjadi perubahan warna indikator tidak akurat. Karena semakin banyak larutan yang dititrasi
oleh larutan ini, maka semakin besar pula molaritasnya.
v Penginterpretasian perubahan warna setiap individu berbeda-beda. Momentum terjadinya
perubahan warna pun berbeda-beda, sehingga terjadi kekurang telitian dalam melihat warna
yang menjadi biru.

Dalam praktikum kali ini, dilakukan beberapa kali percobaan. Dari percobaan tersebut
menghasilkan data yang berbeda-beda, namun percobaan tersebut dilakukan dengan prosedur
yang sama, sehingga untuk menentukan besarnya konsentrasi larutan Na2EDTA dapat di
ambil nilai rata-ratanya dengan menggunakan rumus M1 + M2 + M3, konsentrasi standar
larutan Na2EDTA sebesar 4,11 x 10-3 M.
3
Konsentrasi Na2EDTA inilah yang akan kita pergunakan dari hasil standarisasi menggunakan
larutan Ca2+. Dalam perhitungan mengenai titrasi ini, dalam menentukan konsentrasinya
digunakan rumus sbb :
MCa2+ x VCa2+ = MNa2EDTA x VNa2EDTA

Karena mol Ca2+ =sama dengan mol Na2EDTA, sehingga terjadi proses disosiasi dan
pelepasan ion natrium dan H2Y2- untuk berikatan dengan ion sadah, yaitu ion Ca2+.
Pada percobaan selanjutnya, yaitu menganailisis kesadahan air dengan menggunakan metode
yang sma yaitu titrasi, dengan titran yang berupa larutan Na2EDTA terhadap sampel air yang
diduga mengandung kesadahan air oleh zat kapur CaCO3 yang memiliki ion Ca2+ sebagai
ion penyebab kesadahan pada sampel air. Untuk mencapai titik ekivalen atau saat dimana
titran bereaksi dengan sampel air secara sempurna, terjadi prubahan warna indikatorndari
merah anggur menjadi biru langit. Indikator pada percobaan kali ini menggunakan indikator
yang sama pada saat percobaan sebelumnya, yaitu indikator EBT. Indikator EBT adalah
indikator yang mampu membentuk secara kompleks dengan ion Ca2+ dan Mg2+, namun
lebih berikatan kuat dengan ion Mg2+ dibandingkan Ca2+. Indikator EBT berwarna biru
langit dalam larutan namun membentuk kompleks merah anggur. Hal itu terjadi karena ketika
H2Y2- mengalami reaksi dengan ion sadah Ca2+ dan mengkompleks, maka Mg2+ yang
berikatan lebih banyak dibandingkan Ca2+ ini mengalami disosiasi dan mengubah warna
merah anggur menjadi biru langit dari indikator EBT, dan bila titik ekivalen tercapai, semua
ion sadah telah terkomplekskan melalui ion H2Y2-, sehingga untuk membuat indikator EBT
bekerja, sampel air harus mengandung Mg2+, meskipun hanya sedikit.

Pada percobaan ini, untuk menetukan kesadahan air yang terjadi, kita telah mendapatkan
molaritas Na2EDTA yang bernilai 4,11 x 10-3 M dan volume sampel air 0,02 L. Pada
percobaan pertama, volume Na2EDTA dititrasi pada sampel air, dan mencapai titik ekivalen
pada saat volumenya 5,2 x 10-3 L. Ketika mencapai titik ekivalen, ion H2Y2- bereaksi
dengan ion sadah dan membentuk ion kompleks yang stabil, sehingga didapat reaksi :
Ca2+(aq) + H2Y2-(aq) CaY2-(aq) + 2H+(aq)
Pada reaksi tersebut, dengan menggunakn prinsip mol, jumlah mol ion sadah dalam smpel air
dapat dihitung dengan perbandingan stoikiometri 1 : 1, sehingga dapat disimpulkan :
mol Na2EDTA = mol H2Y2- = mol Ca2+
MH2Y2- x VH2Y2- = MCa2+ x VCa2+

Dengan menggunkan rumus tersebut, kita dapat menghitung konsentrasi pada Ca2+ sesuai
dengan hasil pengamatan yang telah kita lakukan, seperti halnya percobaan pertama yang
mendapatkan molaritas sebesar 4,33 x 10-2 M. Pada percobaan kedua, volume saat mencapai
titik ekivalen adalah 5 x 10-3 L. Setelah dilakukan hitungan, molaritas dari Ca2+ adalah 4,33
x 10-3 M.
Dalam hal ini kembali terjadi perbedaan antara masing-masing percobaan dengan
menggunakn prosedur atau langkah-langkah yang sama. Perbedaan dalam menentukan
konsentrasi yang kita lakukan adalah wajar terutama dalam proses titrasi ini, sebagai contoh :
v Titrasi yang dilakukan secara perlahan-lahan, namun apabila dilakukan dengan cepat akan
mengurangi keakuratan data, dapat terjadi kesalahan dalam pengukuran volume Na2EDTA
saat terjadi perubahan warna indikator yang berakibat data mulai manjauhi nilai akurat.
v Kekurang telitian dalam cara pengerjaan, baik pengukuran, penimbangan, maupun proses
pengambilan larutan menggunakan pipet memiliki pengaruh terhadap volume yang diukur.
v Pembacaan skala buret yang tidak konstan. Dalam hal ini mempengaruhi volume
Na2EDTA yang dititrasi serta proses kebocoran buret yang bisa terjadi.
v Pengintepretasian mengenai perubahan warna indikator pada sampel air, karena setiap tetes
pada titran mempengaruhi momentum perubahan warna setiap waktunya, sehingga dapat
terjadi kekurang telitian dalam melihat warna yang telah berubah menjadi biru dengan
pencapaian pada titik ekivalen yang kita cari.

Setelah mendapatkan konsentrasi dari ion Ca2+ dalam sampel air, kemudian kita akan
menentukan nilai PPM dari sampel air atau menentukan nilai dari kesadahan pada sampel air

yang akan kita tentukan sebarapa besar nilai kesadahannya. PPM memiliki satuan mg
CaCO3/L atau dapat kita masukkan ke dalam rumus :

PPM CaCO3 = massa CaCO3 (mg)


Volume sampel air (L)

Dari masing-masing percobaan melalui perhitungan atas rumus diatas, karena konsentrasi
pada CaCO3 yang sama dengan konsentrasi Ca2+ melalui perbandingan koefisien memiliki
perbedaan setiap percobaan, sehingga kita juga memiliki nilai PPM yang berbeda-beda pada
saat melakukan percobaa tersebut. Dalam penentuan massa CaCO3, kita menggunakan rumus
:
Molaritas CaCO3 = mol CaCO3
Volume CaCO3
Mol CaCO3 = massa CaCO3
Mr CaCO3

Dengan nilai Mr CaCO3 adalah 100 gram/ mol


Pada setiap percobaan, percobaan 1 memiliki massa sebesar 2,14 mg, percobaan 2 memilki
massa sebesar 2,26 mg, dan percobaan 3 memilki massa sebesar 2,26 mg. Dalam hal ini,
mengakibatkan nilai PPM masing-masing pecobaan berbeda-beda dengan ketentuan nilai
masing-masing PPM yaitu :

PPM1 CaCO3 adalah 107 mg/l

PPM2 CaCO3 adalah 113 mg/l

PPM3 CaCO3 adalah 113 mg/l

Sehingga dapat dicari nilai rata-rata dari kesua perhitungan diatas, yaitu :
PPM rata-rata = PPM1 CaCO3 + PPM2 CaCO3
2

Dari hasil tersebut, didapatkan nilai PPM rata-rata dengan sampel air yang telah
ditentukan sebesar 111 ppm. Kita dapat membandingkan dengan klasifikasi air sadah dari
tabel yang ada pada buku panduan praktikum bahwa sampel air ini memilki klasifikasi
kesadahan karena nilai dari PPM terakhir adalah 100 - 200 ppm, sehingga sampel air tersebut
memiliki nilai kesadahan yang cukup tinggi.

Kesimpulan:
Dari percobaan yang telah kita lakukan, kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Nilai dari kesadahan air pada sempel air dipengaruhi kandungan garam yang terlarut
dari ion ion sadah seperti Ca2+, Mg2+, dan Fe2+, serta sedikit dipengaruhi oleh CO2 yang
bebas dan jumlah NaCl yang besar sehingga hal ini dapat meningkatkan kesadahan air. Pada
percobaan kali ini, larutan Na2 EDTA distandarisasi oleh larutan Ca2+ dalam penentuan
konsentrasi.
2.
Indikator warna eirokom hitam T ( EBT ) merupakan indikator yang sesuai dalam
penggunaan pengukuran kesadahan air dikarenakan indikator ini membentuk kompleks
dengan ion Ca2+ dan Mg2+, sehingga trayek warna yang digunakan ialah perubahan warna
ungu ( merah anggur ) ke biru langit.
3.
Titran Na2 EDTA beraksi dengan Ion Ca2+ dan Mg2+. Larutan berubah menjadi biru
yaitu warna asli EBT membentuk kompleks dengan metal yang menjadi titik akhir dari titrasi.
4.
Pengaruh yang ditimbulkan oleh air sadah adalah menyebabkan pengendapan mineral
(penyumbatan saluran pipa dan keran) , pemborosan sabun dalam rumah tangga karena ion
sadah akan membentuk senyawa yang tidak larut dengan sabun serta membentuk gumpalan
scum yang sulit dihilangkan. Selain tu, zat-zat atau bahan kimia yang terkandung di dalam air
misalnya Ca, Mg, CaCO3 yang melebihi standart kualitas tidak baik untuk dikonsumsi oleh
orang dengan fungsi ginjal yang kurang baik, karena akan menyebabkan pembentukkan batu
pada saluran kencing. Kebiasaan minum juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi
pembentukan batu saluran kencing. Orang yang banyak mengkonsumsi air dengan
kandungan kapur tinggi akan menjadi predisposisi pembentukan batu saluran kencing, maka
air yang digunakan manusia tidak boleh lebih dari 200 mg/L CaCO3.

5.
Setelah mengikuti praktikum dengan sempel air yang telah ditentukan, kita mendapat
bahwa tingkat kesadahan air tersebut tergolong cukup tinggi dengan nilai PPM rata rata
sebesar 111 mg/L PPM.

DAFTAR PUSTAKA
Internet:
http://Dokteranissundari.wordpress.com/terapi-khelasi-edta/ (Tanggal akses 23 November
2010)
http://Id.wikipedia.org/wiki/kesadahan_air (Tanggal akses 23 November 2010)
http://Industrikimia.com/tutorial/sekilas-tentang-lembar-keselamatan-bahan-msds
akses 23 November 2010)

(Tanggal

http://chemistrymisaalamsyah.blogspot.com/ (Tanggal akses 23 November 2010)


http://Tadriskimia.blogspot.com/2009/12/standarisasi-natrium-edta.html (Tanggal akses 23
November 2010)
www.scribd.com/doc/31064556/laporan-kompleksiometri-ITO-09-10
November 2010)
http://2.bp.blogspot.com/_fy72ZAz45xo/R2bIPFmceI/AAAAAAAAAAM/YdpPPJiNn2g/s1600-h/titrasi.jpg
November 2010)
http://bkimia.blogspot.com/2008/03/mahasiswa-cari-update.html
November 2010)

(Tanggal

akses

23

(Tanggal

akses

23

(Tanggal

akses

23

Referensi Text Book:


Purba, Michael. 2007. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Penerbit Erlangga : Jakarta.
Sudarmo, Unggul. 2004. Kimia Untuk SMA Kelas X. Penerbit Erlangga : Jakarta.