Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1
2.2 SISTEM STAFFING DAN SCHEDULING

Staffing dan scheduling adalah fase ketiga dalam proses managemen. Pola staffing
dan kebijakan scheduling terkait langsung dengan fase manajemen yaitu: planning
dan organizing. Staffing dilakukan melalui seorang manager keperawatan dengan
merekrut, menyeleksi, mengorientasikan, dan mempromosikan pengembangan
personel. Sedangkan scheduling adalah penjadwalan kerja staff perawat berdasarkan
shift kerja.
Banyak hambatan yang dapat ditemui dalam proses staffing dan scheduling.
Hambatan tersebut umumnya dapat berasal dari ketersediaan tenaga perawat yang
sesuai kualifikasi, maupun hambatan proses scheduling berupa tidak adanya perawat
yang bersedia untuk ditempatkan pada shift tertentu. Berdasarkan hal tersebut, ada
beberapa hal yang dijadikan bahan pertimbangan dalam proses staffing dan
scheduling yang kreatif, yaitu:
1. 10 12 jam per shift
2. Premium payment untuk pekerjaan di akhir minggu dan hari libur
3. Adanya alokasi untuk staffing part time pada shift akhir minggu
4. Cyclical staffing: yang menggambarkan siklus kerja pada beberapa minggu ke
depan.Model ini dapat dibuat dengan pola khusus yang dapat diulang setiap 4
minggu misalnya.
5. Job sharing, adanya pembagian tugas
6. Diperbolehkannya perawat untuk bertukar jadwal di antara mereka
7. Flextime (perawat mengusulkan waktu shift kerjanya sendiri.
8. Penggunaan supplemental staffing/ staffing pools. Ini digunakan jika ada perawat
yang tiba-tiba tidak bisa masuk kerja, sehingga kebutuhan perawat diambilkan
dari pool ini.
9. Staff Self-Scheduling, perawat mengimplementasikan jadwal kerja secara kolektif
yang sesuai dengan panduan kerja, dan tanggung gugat perawat.
Beberapa organisasi membuat system desentralisasi staffing yaitu dengan
mempunyai unit manager yang membuat jadwal. Organisasi yang lain

menggunakan system sentralisasi staffing dengan membuat keputusan yang


dipusatkan di kantor pusat atau staffing center. Pada organisasi dengan
desentralisasi

staffing, unit manager yang harus bertanggung jawab untuk

menutup semua jadwal staff yang kosong, mengurangi jumlah staff pada saat
jumlah pasien menurun, menambah jumlah staff pada saat jumlah pasien
meningkat, menyiapkan jadwal bulanan, serta menyiapkan jadwal libur staff.
Organisasi dengan sentralisasi staffing menggunakan satu orang atau sebuah
computer untuk melakukan tugas staffing dan scheduling bagi semua unit. Peran
manager dibatasi dalam membuat keputusan ringan dan memberikan input.
Manager keperawatan bertanggung jawab dalam memantau kebutuhan personel
yang sesuia dengan kondisi organisasi, misalnya adanya perubahan dalam
frekuensi penyakit dan jumlah pasien yang meningkat tiba-tiba, maka manager
harus dapat mengatasi kebutuhan staff dalam kondisi tersebut. Scheduling dalam
hal ini tidak dapat dipisahkan dari staffing. Pada saat manager mencari perawat
untuk mengisi kekosongan shift, maka pada saat itu dia melaksanakan fungsi
staffing termasuk scheduling.Salah satu bentuk sentralisasi staffing adalah online
shift bidding (OSB).

2.3

ONLINE SHIFT BIDDING (OSB)


On Line Staff Bidding (OSB) adalah mekanisme penawaran penjadwalan kerja
bagi perawat dengan memanfaatkan jaringan internet.

Sistem ini dibuat

sedemikian rupa sehingga staff dapat mengakses melalui internet. Dalam hal ini
tidak dibutuhkan investasi hardware ataupun pemeliharaan software.
Pertama, rumah sakit membuka shift yang masih kosong melalui web site yang
aman yang dapat diakses oleh klinisi yang sebelumnya sudah disaring
kulaifikasinya untuk beberapa minggu ke depan. Rumah sakit dapat mulai
memberikan penawaran untuk shift dengan waktu standar, shift dengan satu
setengah kali waktu standar, 2 kali shift, dan shift dengan waktu premium. Rumah
sakit juga dapat mulai memberikan penawaran atau bonus untuk perawat yang
mengisi shift secara online. Rumah sakit juga dapat membuat seleksi bagi perawat
yang diinginkan melalui mekanisme system yang sengaja dibuat. Misalnya: jika
shift yang kosong adalah untuk perawat anak , maka post shift yang kosong

tersebut hanya dapat diisi oleh perawat anak dari Rumah sakit terkait sesuai
kualifikasi yang diinginkan pada 24 jam pertama. Kemudian baru dapat diisi oleh
perawat pengganti pada 24 jam berikutnya, dan pada akhirnya bagi perawat umum
setelah 48 jam.
Software hanya memungkinkan perawat untuk melihat dan mengisi penawaran
pada shift yang sesuai dengan kualifikasi mereka, dan jadwal pekerjaan yang ada
dengan cara memasukkan profile perawat dan jadwal dalam satu system sentral.

2.4 Mekanisme staffing dan scheduling di Indonesia


Mekanisme staffing dan scheduling di Indonesia sampai saat ini masih menggunakan
system manual. Sistem manual ini dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah pasien,
tingkat ketergantungan pasien, jumlah perawat, dan model asuhan keperawatan yang
digunakan. Model asuhan keperawatan fungsional membutuhkan jumlah perawat yang
lebih sedikit jika dibandingkan dengan model asuhan keperawatan Primary Nurse (PN).
Begitu juga dengan tingkat ketergantungan pasien. Semakin banyak pasien dengan
tingkat ketergantungan yang tinggi, membutuhkan jumlah perawat yang lebih banyak jika
dibandingkan dengan pasien dengan tingkat ketergantungan rendah.
Mekanisme staffing di Indonesia dilakukan secara sentralisasi oleh manager
personalia. Sedangkan mekanisme scheduling menggunakan mekanisme desentralisasi.
Pembagian shift umumnya dibagi menjadi 3, yaitu shift pagi (08.00-14.00), sore (14.0020.00) dan malam (20.00-08.00), dengan jumlah perawat per shift sesuai dengan
perhitungan kebutuhan perawat sebagaimana disebutkan di atas. Beberapa hambatan
yang sering ditemukan adalah antara lain jika ada perawat yang mendadak tidak dapat
bekerja sesuai shift, serta sedikitnya jumlah perawat yang bersedia ditempatkan terutama
pada hari libur dan pada akhir minggu. Kesulitan yang lain yang sering ditemui di RS di
Amerika adalah jika terjadi peningkatan jumlah pasien. Beberapa Rumah sakit merekrut
perawat dari agency perawat untuk mengatasi kesulitan ini. Akibatnya lebih banyak biaya
yang harus dikeluarkan serta lebih banyak waktu yang harus terbuang.

Penggunaan OSB merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah di atas.


Melalui OSB, memudahkan perawat untuk melihat semua shift yang kosong di rumah
sakit mereka untuk memberikan penawaran shift mana yang sesuai dengan kualifikasi
mereka

dan dari segi waktu sesuai untuk

mereka. OSB merupkan solusi untuk

menghilangkan kesulitan manager dan staff perawat.Systen online ini memudahkan


perawat untuk melihat semua shift yang dapat diisi di rumah sakit mereka dan jaringan
dari rumah sakit mereka. Shift yang mungkin dimasuki dapat dilihat dan penawaran dapat
diisi dari semua tempat yang dapat diakses

jaringan internet. Hal ini juga dapat

meningkatkan kepuasan kerja karena perawat mempunyai control, autonomi dan


fleksibilitas yang lebih luas.
Beberapa rumah sakit yang menggunakan system online juga menawarkan insentif
seperti meningkatkan pembayaran atau reward point untuk perawat yang mengisi shift
pada waktu-waktu yang sulit seperti di hari minggu dan hari libur. Di Amerika, dengan
sistem ini memungkinkan perawat untuk menambah job di luar job mereka yang
sebenarnya di unit mereka. Pada akhirnya, dengan system ini perawat tidak harus
mempunyai pekerjaan lain untuk menambah income mereka.
Namun, beberapa kelemahan dapat timbul dari penerapan system ini, yaitu jika
perawat yang diperbolehkan mengisi shift yang kosong, tidak diperhatikan kualifikasinya.
Contoh: kualifikasi perawat untuk mengisi kekosongan di bangsal anak tentu saja berbeda
dengan kualifikasi perawat untuk mengisi kekosongan shift di bangsal bedah. Disamping
itu, jika tidak mengutamakan perawat pada bangsal terkait, maka syarat perawatan yaitu
terbina trust dengan pasien menjadi sulit diwujudkan.