Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN LIMBAH INDUSTRI PERIKANAN


ANALISIS DAN PREDIKSI BEBAN PENCEMARAN
LIMBAH CAIR INDUSTRI PERIKANAN

Disusun oleh :
Nashirotus Saadah
13/346000/PN/13136
Golongan A

DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKUTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA 2016

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Industri perikanan di Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat
pesat dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa Timur, Jawa
Tengah, Jawa Barat, Jakarta serta beberapa daerah lainnya di luar Jawa. Dalam
proses produksi, industri perikanan menggunakan air dalam jumlah besar, sehingga
banyak limbah cair yang dihasilkan. Limbah perikanan khususnya limbah cair
umumnya langsung dibuang ke lingkungan tanpa ada penanganan sehingga dapat
menyebabkan pencemaran atau gangguan lingkungan, seperti merangsang
pertumbuhan tanaman air, memunculkan toksisitas terhadap kehidupan air,
menurunkan kadar oksigen terlarut pada lingkungan perairan, bahaya terhadap
kesehatan masyarakat, serta menimbulkan bau yang mengganggu estetika
lingkungan (Jennie dan Rahayu, 1993).
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat
tertentu tidak dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi.
Limbah yang mengandung bahan polutan yang memiliki sifat racun dan berbahaya
dikenal dengan limbah B3, yang dinyatakan sebagai bahan yang dalam jumlah
relatif sedikit tetapi berpotensi untuk merusak lingkungan hidup dan sumberdaya
(Ginting, 2007).
Berbagai

teknik

penanganan

dan

pengolahan

limbah

telah

dikembangkan. Masing-masing jenis limbah membutuhkan cara penanganan


khusus, berbeda antara jenis limbah yang satu dengan limbah lainnya. Teknik
penanganan dan pengolahan limbah dapat dibagi menjadi penanganan dan
pengolahan limbah secara fisik, kimiawi, dan biologis. Salah satu penanganan dan
pengolahan limbah yang dilakukan dalam praktikum yaitu dengan cara
bioremediasi. Bioremediasi merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi
lingkungan

dengan

memanfaatkan

proses

biologi

dalam

mengendalikan

pencemaran (Sugiharto, 1987).


Salah satu cara pengolahan limbah adalah dengan menggunakan bakteri
pengurai limbah yang dapat mendegradasi bahan-bahan organik. Menurut
Fachrurozy et al. (2010), pengolahan limbah yang cukup murah dan aman adalah

pengolahan secara

biologi dengan memanfaatkan tanaman tertentu sebagai

biofilter, tanaman mempunyai kemampuan untuk mengikat unsur-unsur dari


lingkungan sekitarya dan sensitif terhadap semua perubahan habitat lingkungan
baik fisik maupun kimia.
B. Tujuan Penelitian
1. Melakukan parameter fisika dan kimia dari limbah industri perikanan.
2. Mengetahui kuantitas parameter pencemaran limbah cair industri perikanan.
3. Menentukan besarnya beban pencemaran limbah cair industri perikanan.
4. Mengetahui dan menerapkan cara penanganan limbah secara biologis meliputi
bioremediasi aerob dan anaerob serta fitoremediasi.
C. Manfaat Penelitian
1. Memberikan pengetahuan serta memperluas wawasan mengenai pemanfaatan
kitosan dalam bidang penanganan pencemaran limbah cair.
2. Mahasiswa mampu menerapkan kemampuannya dalam mereduksi beban
pencemaran limbah cair dengan kitosan.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Limbah
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat
tertentu tidak dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi.
Limbah yang mengandung bahan polutan yang memiliki sifat racun dan berbahaya
dikenal dengan limbah B3, yang dinyatakan sebagai bahan yang dalam jumlah
relatif sedikit tetapi berpotensi untuk merusak lingkungan hidup dan sumberdaya
(Ginting, 2007).
Secara umum dapat dikemukakan bahwa limbah cair adalah cairan buangan
yang berasal dari rumah tangga dan industri serta tempat-tempat umum lainnya dan
mengandung bahan atau zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta
mengganggu kelestarian lingkungan hidup (Kusnoputranto, 1985).
B. Parameter Pencemaran
Praktikum ini menggunakan parameter untuk kimia adalah DO, BOD, dan
pH. Parameter fisik yang diamati yaitu TSS, kekeruhan dan bau.
1. DO
Oksigen terlarut (DO) merupakan kebutuhan vital bagi kelangsungan
hidup organisme suatu perairan. Oksigen terlarut dimanfaatkan oleh organisme
perairan melalui respirasi untuk pertumbuhan, reproduksi, dan kesuburan
(Salmin, 2005).
Di samping itu, oksigen terlarut juga dibutuhkan untuk oksidasi bahanbahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Menurunnya kadar oksigen
terlarut dapat mengurangi efisiensi pengambilan oksigen oleh biota air, sehingga
dapat menurunkan kemampuan untuk hidup normal dalam lingkungan hidupnya.
Kelarutan oksigen di dalam air sangat rendah. Kelarutan oksigen di dalam air
sangat dipengaruhi oleh suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer.
Kadar oksigen berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian, dan
berkurangnya tekanan atmosfer. Misalnya kadar oksigen pada suhu 0 oC, 10oC,
20oC dan 30oC. Air permukaan yang jernih pada umumnya jenuh dengan
oksigen terlarut, karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta
adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi
penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang

dan kadar oksigen C masing-masing adalah 14.6, 11.3, 9.1 dan 7.6 mg/l (Milono,
1998).
Oksigen merupakan elemen yang sangat penting di dalam pengendalian
kualitas air, karena oksigen sangat esensial bagi kehidupan biologis organisme
air. Pembuangan limbah ke dalam perairan akan menentukan keseimbangan
oksigen di dalam sistem. Menurut Rahayu dan Tontowi (2005), besarnya
oksigen terlarut dalam air menunjukkan tingkat kesegaran air di lokasi tersebut;
apabila kadar oksigen terlarut rendah maka ada indikasi telah terjadi pencemaran
oleh zat organik. Hal ini terjadi karena semakin banyak zat organik yang dapat
diuraikan oleh mikroorganisme, semakin banyak pula oksigen yang diperlukan
oleh mikroorganisme. Menurut Odum (1996), kandungan oksigen terlarut yang
tertinggi akan diperoleh pada sungai yang relatif dangkal dan berbatu atau pada
lokasi yang mempunyai turbulensi air yang relatif tinggi. Kadar oksigen terlarut
yang disyaratkan sesuai PP 82/2001 untuk peruntukan air baku air minum dan
pembudidayaan ikan air tawar masing-masing adalah 6 dan 3 mg/l.
2. BOD
Kebutuhan oksigen biokimia adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan
oleh mikroorganisme anaerobik di dalam lingkungan air untuk mendegradasi
bahan buangan organik yang ada dalam lingkungan air tersebut dalam waktu
lima hari (Wardhana, 2001). BOD merupakan salah satu indikator pencemaran
organik pada suatu perairan. Menurut Rahman (1996), BOD menunjukkan
jumlah bahan organik yang ada di dalam air yang dapat didegradasi secara
biologis. Perairan dengan nilai BOD5tinggi mengindikasikan bahwa air tersebut
tercemar oleh bahan organik dan menurunnya kualitas perairan. Nilai BOD
berbanding lurus dengan jumlah bahan organik di perairan. Bahan organik akan
distabilkan secara biologik dengan melibatkan mikroba melalui sistem oksidasi
aerobik dan anaerobik. Mikroorganisme aerob di dalam air yang berfungsi
sebagai perombak bahan organik hanya dapat menjalankan fungsinya bila
terdapat oksigen yang cukup. Pemanfaatan oksigen oleh mikroorganisme
aerobik melalui proses oksidasi dapat menyebabkan penurunan kandungan
oksigen terlarut di perairan sampai pada tingkat terendah, sehingga kondisi

perairan menjadi anaerob yang dapat mengakibatkan kematian organisme


akuatik.
3. pH
Nilai pH menunjukkan tingkat keasaman atau kekuatan asam dan basa
dalam air. Derajat keasaman air penting untuk menentukan nilai daya guna
perairan baik bagi keperluan rumah tangga, irigasi, kehidupan organisme
perairan dan kepentingan lainnya (Moelyadi, 1998). Nilai pH dipengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain aktivitas biologis misalnya fotosintesis dan respirasi
organisme, serta suhu dan keberadaan ion-ion dalam perairan.
pH merupakan salah satu parameter penting dalam pemantauan kualitas
air. Perubahan pH dalam perairan akan mempengaruhi perubahan dan aktivitas
biologis. Pertumbuhan organisme perairan dapat berlangsung dengan baik pada
kisaran pH 6.5-8.5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan,
misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah (Effendi, 2003).
4. TSS
Menurut Fardiaz (1992), padatan tersuspensi (suspended solid) adalah
padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut, dan tidak dapat
mengendap langsung. Padatan tersuspensi terdiri atas partikel-partikel
tersuspensi (diameter >1 m) yang tertahan pada saringan millipore dengan
diameter pori 0.45 m. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad
renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang terbawa ke
dalam badan air. Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan dapat
menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas
primer perairan menurun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya
keseluruhan

rantai

makanan.

Padatan

tersuspensi

yang

tinggi

akan

mempengaruhi biota di perairan melalui dua cara. Pertama, menghalangi dan


mengurangi penentrasi cahaya ke dalam badan air, sehingga menghambat proses
fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Kondisi ini akan
mengurangi pasokan oksigen terlarut dalam badan air. Kedua, secara langsung
TSS yang tinggi dapat mengganggu biota perairan seperti ikan karena tersaring
oleh insang.

5. Kekeruhan
Kekeruhan merupakan kandungan bahan organik maupun anorganik yang
terdapat di perairan sehingga mempengaruhi proses kehidupan organisme yang ada di
perairan tersebut. Apabila di dalam air terjadi kekeruhan yang tinggi maka kandungan
oksigen akan menurun, hal ini disebabkan intensitas cahaya matahari yang masuk
kedalam perairan sangat terbatas sehingga tumbuhan/fitoplankton tidak dapat
melakukan proses fotosintesis untuk mengasilkan oksigen. Kekeruhan didalam air
disebabkan oleh adanya zat tersuspensi, seperti lempung, lumpur, zat organik, plankton,
dan zat-zat halus lainnya (Effendi, 2003).
6. Bau
Senyawa utama yang menimbulkan bau adalah

hidrogen sulfida, senyawa-

senyawa lain seperti indol, skatol, cadaverin dan mercaptan yang terbentuk pada
kondisi anaerobik dan menyebabkan bau yang sangat menusuk hidung dari pada bau
hidrogen sulfida (Mellor, 1996).
C. Debit Limbah Cair
Debit limbah cair adalah ukuran banyaknya volume limbah cair yang dapat
lewat dalam suatu tempat atau yang dapat ditampung dalam suatu tempat tiap satu
satuan waktu (Sosrodarsono, 1985). Menurut Veranita et al. (2001), beban organik
pada limbah perikanan terbesar secara berurutan adalah industri pengalengan,
industri pengolahan fillet ikan salmon dan industri krustasea dengan perbandingan
74,3%, 21,6% dan 4,1%.
Debit air (Q) dihitung dengan rumus:
Q=axv
Keterangan:
Q = debit air (m3/detik)
a = luas bagian penampang basah (m2)
v = kecepatan aliran rata-rata (m/detik)
D. Beban Pencemaran Limbah
Istilah beban pencemaran dikaitkan dengan jumlah total pencemaran atau
campuran pencemar yang masuk ke dalam lingkungan oleh suatu industri atau

kelompok industri pada areal tertentu dalam periode waktu tertentu. Menurut
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001, beban pencemaran adalah jumlah
suatu unsur pencemar yang terkandung dalam air atau air limbah. Besarnya beban
pencemaran ditentukan melalui pengukuran langsung debit air sungai dan
konsentrasi limbah yang ada di sekitar sungai tersebut. Pada daerah pemukiman,
beban pencemaran biasanya diperhitungkan melalui kepadatan penduduk dan ratarata per orang per hari dalam membuang air limbah.
E. Baku Mutu Limbah Cair Industri Perikanan
Baku mutu limbah cair industri perikanan adalah batas maksimum limbah
cair yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan hidup dari suatu industri perikanan.
Mutu limbah cair adalah keadaan limbah cair yang dinyatakan dengan debit, kadar
dan beban pencemar (PP RI No. 82, 2001).

Gambar 1. Baku mutu limbah cair menurut PERMEN LH No. 06 2007


F. Mekanisme Reduksi Limbah
Proses dekomposisi atau degradasi substansi berbahaya yang ada pada
lingkungan dengan menggunakan bakteri atau mikroorganisme lainnya dinamakan
bioremidiasi. Proses ini dapat dimanfaatkan untuk membersihkan limbah minyak,
limbah bahan kimia dan pengolahan air limbah. Mikrobia berfungsi untuk
menguraikan sisa-sisa bahan organik menjadi partikel yang aman bagi lingkungan
(Waluyo, 2005).
1. Reduksi limbah secara aerob
Mereduksi limbah secara aerob dapat menggunakan aerasi. Proses aerasi
bertujuan untuk memindahkan oksigen, baik oksigen murni maupun udara, ke

dalam proses pengolahan biologis. Aerasi merupakan proses perpindahan


(transfer) massa antara gas (oksigen) dan cairan (Mahida, 1984).
2. Reduksi limbah secara anaerob
Menurut Haryoto (1999), proses pengolahan secara anaerobik terjadi disebabkan
oleh adanya aktivitas mikroorganisme pada saat tidak ada oksigen bebas. Senyawa
berbentuk anorganik atau organik pekat yang berasal dari industri umumnya sukar atau
lambat sekali untuk diolah secara aerobik, maka pengolahan dilakukan secara anaerob.
3. Fitoremediasi
Menurut Gossalam (1999), fitoremediasi merupakan pemanfaatan tumbuhan untuk
meminimalisasi dan mendetoksifikasi polutan, strategi remediasi ini cukup penting,
karena tanaman berperan menyerap logam dan mineral yang tinggi atau sebagai
fitoakumulator dan fitochelator. Konsep pemanfaatan tumbuhan untuk meremediasi
tanah yang terkontaminasi polutan adalah pengembangan terbaru dalam teknik
pengolahan limbah. Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa di tanah yang ditanami
tumbuhan hijau kandungan senyawa kimia organiknya lebih sedikit dibandingkan di
sekitar tanah yang tidak ditanami tumbuhan hijau. Fitoremediasi dapat diaplikasikan
ada limbah organik maupun anorganik dalam bentuk padat, cair, dan gas.
Menurut Reed et al.(2005), proses penyerapan zat-zat yang terdapat dalam limbah
ini dilakukan oleh ujung-ujung akar dengan jaringan meristem terjadi karena adanya
gaya tarik menarik oleh molekul-molekul air yang ada pada tumbuhan. Zat-zat yang
telah diserap oleh akar akan masuk ke batang melalui pembuluh pengangkut (xylem)
yang kemudian di teruskan ke dalam akar.

III.

HIPOTESIS

Penanganan limbah cair industri perikanan secara bioremediasi yaitu dengan


fitoremediasi, aerob, anerob dan aerasi dapat mereduksi beban pencemaran dengan
intensitas tertentu pada limbah cair industri perikanan.

IV.

METODOLOGI PENELITIAN

1. Alat
Alat yang digunakan terdiri atas alat isolasi dan identifikasi mikrobia,
alat pengukuran parameter fisika dan kimia dan alat perlakuan bioremediasi.
Alat isolasi terdiri atas tabung reaksi, bunsen, jarum ose, tabung reaksi. Alat
pengukuran parameter fisika dan kimia meliputi tabung erlenmeyer, toples,
botol oksigen, kempot, pipet ukur, pipet tetes, botol film, kertas pH, pH meter,
dan kertas saring. Sedangkan alat perlakuan bioremediasi terdiri atas, aerator,
ember plastik, plastik hitam penutup, selang, dan toples.
2. Bahan
Bahan persiapan isolate terdiri atas, aquadest, Tryptone Soya Broth
(TSB), NaCl 0,85%, dan Phenol blue. Bahan pengukuran parameter fisika dan
kimia meliputi aquadest, H2SO4 4N, KMnO4 0,1N, Amonium oksalat, MnSO4,
reagen oksigen, H2SO4 pekat, amilum dan 1/80 N Na2S2O3. Bahan untuk
perlakuan bioremediasi terdiri atas limbah cair industri pengolahan ikan dan
tanaman air.
3. Tata Laksana Praktikum
Pembuatan Medium LB (Luria Bertani) cair
Bahan:
Tryptone
: 10g/L 2,5g
NaCl (Sodium Chloride) : 5g/L 1,25g
Yeast Extract
: 10g/L 2,5g
Aquadest
: 50 ml

Stirer tanpa panas hingga homogen

Autoklaf 15 menit pada 121C

Enrichment I
Ambil 1 ose kultur bakteri Bacillus licheniformis

Masukkan dalam medium LB (7 ml) secara aseptis


Inkubasi 24 jam, 35 2C dalam inkubator shaker

b Enrichment II
Ambil 0,1 ml biakan bakteri dari 7 ml medium LB

LB 10 ml
Inkubasi 24 jam, 35 2C dalam inkubator shaker
c

Bioremediasi
Limbah cair disaring
1

1
2
3
4
5

Treatment:
Perlakuan kontrol
Perlakuan fitoremediasi + aerasi
Perlakuan kultur bakteri + aerasi (aerob)
Perlakuan kultur bakteri tanpa aerasi (anerob)
Perlakuan fitoremediasi + kultur bakteri + aerasi
Inkubasi air limbah selama 7 hari

Amati parameter DO, BOD, BOD5, TSS, pH, kekeruhan, dan bau

Bandingkan dengan baku mutu


Pengukuran BOD
Hitung beban pencemaran limbah cair per hari debit limbah cair

1 ml H2SO4 4 N

2 tetes KMnO4 0,1 N; gojok (bening)

1 tetes amonium oksalat 0,1N (bening)

1 ml MnSO4
1 ml reagen oksigen
H2SO4pekat
(gojok)
50 ml ke erlenmeyer

3 tetes amilum

Titrasi dengan 1/80 N Na2SO3 (bening)

Pengukuran DO
airdalambotolo
ksigen

Pengukuran pH

Kertas pH indikator
Dicelup ke limbah

1 mLMnSO4
Dibaca dari perubahan warna pH indikator

1 mL
reagenoksigen
Pengukuran TSS
diamkan 10 menit

1 mL H2SO4pekat,
gojok

timbangkertassaringaw
al (a mg)

saring 100 mL sampel air

keringkan 24 jam
50 mL
larutansampelkeerlenmeyer
timbangkertassaringakhir
(b mg)
3-4 tetes indicator
amilum

titrasi Na2S2O3 1/80


N

(bening)
DO=1000/50x V Na2S2O3x0,1 mg/L

TSS= (b-a)x10x1000x1/1liter=Xmg/L

Uji kandungan protein (sampel)


0,5 ml sampel
Tambahkan 0,7 ml larutan D (Laury A + B + C)
mikrotube
Vortex lalu inkubasi suhu ruang 20 menit

Tambakhan 0,1 ml larutan E (reagen ciocaiteau)

kuvet
Vortex lalu inkubasi suhu ruang 30 menit

1,3 ml sampel
Ditera OD pada = 750 nm

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil
Tabel Hasil Praktikum Analisis dan Prediksi Beban Pencemaran Limbah Cair
Industri perikanan
Setelah Perlakuan
Parameter

Sebelum

Suhu
TTS (mg/l)
pH
Kekeruhan

II

III

IV

27
0.5
7
++++

28
0.74
7
+++

29
0.75
7
++

28
0.72
7
+

30
0.72
8
++++

Bau

++++

+++

++

+++++

DO (mg/l)
BOD (mg/l)
Protein
Terlarut
(mg/L)

5
2.8

7
2.1

9
2.3

15
2.1

6
0

30
0.71
8
++++
++++
+
4
0

60,07

4,36

16,5

22,93

58,64

54,36

Keterangan :
I . Fitoremidiasi (Tanaman air)
II. Fitoremediasi + Bakteri A
III. Fitoremediasi + Bakteri B
IV. Anaerob + Bakteri A (Lactobacillus acidophilus)
V. Anaerob + Bakrteri B (Bacillus sp.)
Keterangan :
Bau : +
: ++
: +++
: ++++
: +++++
Kekeruhan

: +++++

=
=
=
=
=

Netral
Sedikit Bau
Bau
Sangat Bau
Sangat Bau Sekali

: +
= Bening
: ++
= Agak Bening
: +++
= Keruh
: ++++
= Sangat Keruh
= Sangat keruh Sekali

Kontrol Kontrol
(+)
(-)
21
0.66
8
+++

24
0.73
8
++++

++++

+++++

3
1.3

2
0

9,36

14,36

DATA PROTEIN TERLARUT LIMBAH IKAN


Kurva Standar BSA

0.2
0.15
0.1
Linear ()

0.05

f(x) = 0x + 0.04
R = 0

0
0

Konsentr
asi
0
20
40
60
80
100

20

40

60

80 100

absorb
ansi
0,007
0,015
0,152
0,053
0,021
0,033

Kadar Protein Terlarut


Perlakua
n
Sebelum
kontrol +
kontrol fitoremedi
asi
fito + A
fito + B
ana + A
ana + B

Absorb
Kadar Protein
ansi
( mg/L)
0,126
60,07
0,055
9,36
0,062
14,36
0,048
0,065
0,074
0,124
0,118

4,36
16,50
22,93
58,64
54,36

Persamaan Y = 0,0014X + 0,0419


Contoh Perhitungan
Kadar Protein Terlarut Sampel Sebelum Perlakuan
Y=
0,126
=
X=

X=

2. Pembahasan
2.1.
Cara Kerja dan Fungsi Perlakuan
Praktikum manajemen limbah industri perikanan acara analisis dan prediksi
beban pencemaran limbah cair organik menggunakan limbah cair dari Mina Tayu.
Perlakuan yang dilakukan yaitu Tanaman air (Fitoremediasi), Tanaman air + bakteri A
(Bachillus licheniformes), Tanaman air + bakteri B (Lactobacillus acidophilus), Anerob
+ Bakteri A (Bachillus licheniformes), dan Anerob + Bakteri B (Lactobacillus
acidophilus).
Langkah awal yaitu persiapan media isolasi. Media yang digunakan
untuk pengisolasian ini adalah Tryptone Soya Broth (TSB) untuk B.
licheniformi. Fungsi dari pembuatan medium ini adalah untuk mengisolasi dan
pengkayaan bakteri proteolitik yang akan digunakan untuk bioremediasi limbah
cair dari industri perikanan. Selanjutnya dilakukan isolasi bakteri atau
enrichment pertama, yaitu dengan cara mengambil sampel limbah 1 ose bakteri
dan dimasukkan ke tabung reaksi yang berisi medium TSB. Tabung reaksi ditutp
dengan kapas steril dan diinkubasi dalam incubator shaker selama 24 jam pada
37oC. Hal ini bertujuan agar bakteri yang tumbuh dapat beradapatsi dah tumbuh
merata dan di lingkungan baru.
Langkah berikutnya adalah pengkayaan bakteri dengan memasukkan 1
ose biakan bakteri ke dalam medium TSB dan diinkubasi dalam incubator
shaker selama 24 jam pada 352oC. Fungsi enrichment adalah seleksi dan
memperbanyak jumlah bakteri yang diinginkan yaitu B. licheniformis.
Perbanyakan bakteri ini siap digunakan untuk perlakuan bioremidiasi pada
limbah cair industri perikanan. Kemudian Enrichment II yang dilakukan dengan
mengambil 0.1 mL biakan bakteri dari 7 mL medium kemudian dimasukkan
kedalam medium LB 10 mL, setelah itu inkubasi selama 24 jam dengan suhu 35
2 C dalam incubator shaker. Menurut Nebel dan Kormody (1981),
bioremediasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu fitoremediasi (degradasi
polutan dengan bantuan tanaman), penanganan biologis yakni secara aerob dan
anaerob. Tanaman air yang diberikan berfungsi sebagai fitoremidiasi,
fitoremidiasi adalah suatu konsep yang memanfaatkan potensi yang dimiliki
oleh tumbuhan untuk menghilangkan polutan dari tanah atau perairan yang telah
terkontaminasi (Handayanto, 2007). Menurut Priyanto & Prayitno (2006)

fitoremediasi dapat didefinisikan sebagai penggunaan tumbuhan untuk


menghilangkan, memindahkan, menstabilkan, atau menghancurkan bahan
pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik. Bakteri A dan Bakteri B
yang digunakan berfungsi sebagai pendegradasi polutan bahan organic. Ke-6
perlakuan di inkubasi selama 7 hari untuk melihat perubahan dari masingmasing perlakuan tersebut dan dilakukan pengamatan setiap hari untuk
parameter kekeruhan dan bau serta BOD5 yang berfungsi untuk melihat
kebutuhan oksigen bagi bakteri dalam mendegradasi limbah. Setelah 7 hari
diamati parameter DO, TSS, pH, kekeruhan, bau dan protein terlarut untuk
kemudian dibandingkan dengan baku mutu dan dihitung beban pencemaran
perhari dan debit limbah cair.
2.2.

Mekanisme Pengukuran Beban Pencemaran Secara Biologi


Berdasarkan perlakuan yang dilakukan dengan ketahanan lama hidup tumbuhan

atau hewan yang ditempatkan pada sampel limbah dengan 7 perlakuan tersebut pada
hari terakhir dilakukan pengamatan dengan menempatkan ikan nila. Pengujian beban
pencemaran secara biologi menggunakan indikator makhluk hidup memiliki bermacam
daya tahan sehingga seberapa buruk tingkat pencemaran habitat, makhluk hidup
tersebut akan diketahui dengan beberapa lama makhluk hidup tersebut dapat hidup di
tempat yang sudah tercemar. Ditandai dengan matinya semua ikan nila dan warna
limbah cair menjadi berkurang kekeruhannya ketika ditambahkan tanaman enceng
gondok.
2.3.

Pembahasan Parameter
Parameter yang diujikan dalam praktikum ini antara lain parameter fisik

dan kimia. Parameter fisik yang dinilai yaitu kekeruhan, TSS dan bau. Parameter
kimia yang diujikan yaitu BOD5, DO dan pH.
1. Pengukuran DO
Jika dalam suatu perairan oksigen terlarut tinggi berarti menunjukkan
bahwa perairan tersebut memiliki kualitas yang baik. Oksigen terlarut ini
dipergunakan sebagai tanda derajat atau tingkat kekotoran limbah yang ada.
Semakin besar oksigen terlarut menunjukkan tingkat kekotoran limbah yang
semakin kecil atau dapat menguraikan limbah. Jadi ukuran DO berbanding
terbalik dengan BOD (Sugiharto, 1987). Hasil pengamatan DO awal dan
akhir pada perlakuan fitoremidiasi dengan bakteri A 9 mg/l. Fitoremediasi

menggunakan tanaman air dan yang digunakan yaitu tanaman enceng


gondok karena dapat berfungsi untuk transfer oksigen bagi mikroorganisme
dan dapat menurunkan water table sehingga difusi gas dapat terjadi dan
fungsi ini biasanya dilakukan oleh tanaman apabila kontaminannya bersifat
ready degraded (Syakti, 2005).
2. Pengukuran pH
Perlakuan fitoremediasi dengan bakteri A menghasilkan pH 7. Menurut
Sutanto (2002), pH optimum untuk proses penguraian bahan organik adalah
5-8. pH sebelum perlakuan adalah 7 dan sesudah perlakuan adalah 7-8. Hal
tersebut sesuai dengan teori bahwa bahan organik optimum melakukan
penguraian. Selain itu, hasil tersebut memperlihatkan bahwa kadar pH dari
perlakuan dan kontrol masih dalam ambang batas baku mutu limbah industri
pengolahan yaitu antara 6-9.
3. Pengukuran BOD
Berdasarkan pengukuran BOD, sampel fitoremidiasi dengan bakteri A
memiliki kadar BOD awal 2,8 mg/l. Perlakuan fitoremidiasi dengan bakteri
A memiliki kadar BOD5 sebesar 2,3 mg/l. Baku mutu limbah untuk
parameter BOD adalah 75 mg/L, dari hasil tersebut nilai BOD nya dibawah
baku mutu limbah yang berarti adanya reaksi biologis yang dilakukan oleh
mikroorganisme dalam mereduksi beban pencemaran. BOD5 adalah ukuran
kandungan oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme yang
hidup di perairan untuk menguraikan bahan organik yang ada di dalamnya
dan apabila kandungan oksigen dalam air turun, maka kemampuan
mikroorganisme aerob untuk menguraikan bahan organik tersebut juga
menurun. BOD5 ditentukan dengan mengukur jumlah oksigen yang
digunakan oleh mikroorganisme selama kurun waktu dan pada temperatur
tertentu.
4. TSS
TSS didapat hasil pangamatan awal sebesar 0,5 mg/l dan fitoremediasi
dengan bakteri A menghasilkan TSS sebesar 0,75 mg/l; maka dapat
disimpulkan perlakuan sudah memenuhi standar baku mutu dengan kata lain
kandungan TSS yang dimiliki dibawah dari 100 mg/l. Kadar TSS berkaitan

dengan BOD. Hal ini dikarenakan semakin banyak bahan organik yang dapat
didegradasi atau diuraikan maka akan semakin mengurangi kadar bahan
terlarut dari suatu perairan atau limbah. Sehingga semakin banyak zat
organik yang diuraikan akan mengurangi kadar TSS.

Grafik Kekeruhan Limbah Ikan

Tingkat Kekeruhan

II

III

IV

kontrol +

kontrol -

II

III

IV

kontrol +

kontrol -

II

III

IV

kontrol +

kontrol -

II

III

IV

kontrol +

kontrol -

5.

Kek
eruhan
Perlakuan fitoremediasi dengan bakteri A parameter kekeruhan awal
yaitu sangat keruh sekali (++++), kemudian setelah diberi perlakuan menjadi
keruh (+++). Kekeruhan dilihat berdasarkan intensitas warna yang dihasilkan
dan dipengaruhi oleh TSS. Tingkat kekeruhan yang menurun diakibatkan
karena pengendapan sebagian partikel yang tersuspensi dalam sampel telah
berkurang (Nasution, 2004). Tingkat kekeruhan ini berhubungan dengan
jumlah bahan-bahan organik yang diuraikan oleh organisme. Semakin
banyak bahan organik yang diurai maka akan semakin mengurangi tingkat
kekeruhan limbah. Hal ini dikarenakan bahan-bahan organik biasanya
merupakan penyebab utama dari kekeruha suatu limbah ataupun perairan.

Grafik Bau Limbah Ikan


6

I
II

III
4

IV
V

Bau 3

kontrol +
kontrol -

2
1
0
1

6.

Bau
Perlakuan fitoremediasi dengan bakteri A sebelum perlakuan sangat bau
(++++), setelah perlakuan menjadi agak bau (++). Bau disebabkan oleh
campuran pada limbah yang telah mengalami aktivitas enzim yang
diakibatkan oleh tanaman air yang dapat memecah lemak dan protein,
sehingga mengurangi bau yang menyengat.

7. Suhu
Suhu yang terdapat pada limbah cair perikanan setelah dilakukan
perlakuan fitoremidiasi dengan bakteri A mengalami peningkatan suhu, dari
27 oC menjadi 29 oC .
8. Protein terlarut
Protein Terlarut setelah dilakukan perlakuan fitoremidiasi dengan bakteri
A sebesar 16,50 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa semua partikel belum
terurai semua.
2.4.

Pembahasan Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan kuantitas dan beban pencemaran pada perlakuan

fitoremediasi dengan bakteri A TSS sebesar 1312, 5 kg. hasil tersebut berada di bawah
standar baku mutu yaitu 175.000 kg. sedangkan untuk BOD sebesar 4025 kg, hasil
tersebut masih di bawah baku mutu yaitu 131, 250 kg. Hasil TSS dan BOD tersebut
masih dikategorikan aman karena masih di bawah stantar baku mutu.
2.5.
Perlakuan Terbaik

Berdasarkan hasil dari 7 perlakuan, perlakuan terbaik pada perlakuan aerasi


dengan bakteri B karena memiliki DO tinggi, pH stabil, TSS dan BOD memiliki
nilai di bawah baku mutu.

VI.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Pengukuran parameter fisika limbah cair industri perikanan dilakukan dengan
mengukur TSS, suhu, kekeruhan dan bau. Pengukuran parameter kimia
dilakukan dengan mengukur pH, DO, BOD, BOD5.
2. Kuantitas tiap parameter pencemaran limbah cair industri perikanan berbeda
sesuai dengan perlakuan :
a. BOD5 tiap perlakuan 0 mg/L
b. BOD tiap perlakuan mulai dari 0 hingga 2,3 mg/L
c. DO tiap perlakuan berkisar antara 4 sampai 15 mg/L
d. pH tiap perlakuan berkisar 7 dan 8
e. TSS tiap perlakuan hanya 0, 66 hingga 0, 75.
3. Beban pencemaran dari semua perlakuan jika dibandingkan dengan beban
pencemaran standar adalah TSS <1312,5 kg dan BOD <4025 kg
1. Penanganan limbah secara biologis dengan fitoremediasi dilakukan dengan
menggunakan tanaman air, secara aerob dilakukan menggunakan kultur
bakteri yang diberi aerasi dan akan lebih efektif jika menggabungkan
ketiganya.
B. Saran
Sebaiknya dilakukan pengecekan alat sebelum praktikum dilakukan
sehingga praktikum berjalan lancar dan dapat mengefisiensikan waktu.

DAFTAR PUSTAKA
Effendi. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan
Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Fachrurozy, M., B.U. Listiatie dan D. Suryani. 2010. Pengaruh Variasi Biomassa Pistia
Stratiotes L. terhadap penurunan kadar BOD, COD dan TSS limbah cair tahu di
Dusun Klere Sleman Yogyakarta. Universitas Ahmad Dahlan. Skripsi.
Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Gintings,
P.1992. Mencegah dan Mengendalikan Pencemaran Industri, Sinar Harapan,
Jakarta.
Ginting, I. P. 2007. Sistem Pengelolaan Lingkungan Dan Limbah Industri, Cetakan
pertama. Yrama Widya. Bandung.
Gossalam. 1999. Kemampuan Degradasi Hidrokarbon Minyak Bumi oleh Isolat Bakteri
dari Lingkungan Hutan Magrove. Tesis. Magister ITB. Bandung.
Handayanto dan Hairiah, K. 2007. Biologi Tanah. Pustaka Adipura: Yogyakarta.
Haryoto, K. 1999. Kebijakan dan Strategi Pengolahan Limbah dalam Menghadapi
Tantangan Global. Di dalam : Teknologi Pengolahan Limbah dan Pemulihan
Kerusakan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional, Jakarta 13 Juli 1999,
BPPT, Jakarta.
Jenie, Betty dan Winiaty Rahayu. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan.
Kanisius. Yogyakarta.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 1995. Baku Mutu Limbah Cair Bagi
Kesehatan Industri. KEP-51/MENLH/10/1995.
Kusnoputranto, H. 1985. Kesehatan Lingkungan. FKM UI. Jakarta.
Mahida, U. N. 1984. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Rajawali.
Jakarta.
Mellor, E., Landin P, ODonovan C., Connor, D. 1996. Microbiology og in situ
bioremediation. Environ Scu Technol. 12: 60-64
Nasution, D.Y. 2004. Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit yang Berasal dari
Kolam Akhir (Final Pond) dengan Proses Koagulasi Melalui Elektrolisis.

Jurnal Sains Kimia Vol. 8, No.2, 2004: 38-40. Pedoman Design Teknik IPAL
Agroindustri. Bogor.
Nebel, S. 1981. The Relationship Between Parent-Adolescent. Conflict and Academic
Achievement. Louisiana State University and Agricultural and Mechanical
College. Tesis.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 6 tahun 2007. Baku Mutu Air Limbah
Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Hasil Perikanan. Menteri Negara
Lingkungan Hidup. Jakarta.
Priyanto B, Prayitno J.2006. Fitoremidiasi sebagai Sebuah Teknologi Pemulihan
Pencemaran,

Khususnya

Logam

Berat.

Melalui

http://ltl.bppt.tripod.com/sublab/lflora.htm
Reed, S.C., E.J. Midlebrooks dan R.W. Crites. 2005. Natural System Waste
Management and Treatment. McGraw Hill Book Company, New York.
Sugiharto. 1987. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. UI Press. Jakarta.
Sutanto,

R.

2002.

Penerapan

Pertanian

Organik.

Permasyarakatan

dan

Pengembangannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.


Syakti, A., 2005. Multi-Proses Remediasi Didalam Penanganan Tumpahan Minyak (Oil
Spill)

Di

Perairan

Laut

Dan

Pesisir.

Seminar

Bioremediasi.

http-

www.pksplipb.or.id
Waluyo, L. 2005. Bioremidiasi limbah domestic ramah lingkungan di kota Malang :
suatu upaya mengatasi pencemaran kawasan padat huni. GAMMA 1 : 35-43.