Anda di halaman 1dari 2

http://cnx.

org/content/m12382/latest/

http://cnx.org/content/m12382/latest/

http://cnx.org/content/m12382/latest/

http://cnx.org/content/m12382/latest/

http://cnx.org/content/m12382/latest/

Genetically Modified Organisms (GMOs)


Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata GMO? Atau bisa disebut organisme transgenik?
Transaksi gen bukanlah hal baru dalam kehidupan di alam dan mungkin bahkan telah berlangsung
sejak adanya sel awal yang merupakan bagian dari evolusi biosfer planet bumi ini. Nenek moyang
sel yang menjadi calon sel tumbuhan dapat melakukan fotosintesis akibat dari akuisisi bahan
genetik sianobakter. Akibatnya muncullah sel tanman yang dapat disebut sebagai organisme
transgenik yang berperan penting dalam produksi oksigen bumi. Tumbuhan modern pun, dengan
kloroplas dan mitokondrianya, merupakan contoh makhluk transgenik hasil transaksi gen interdomain.
Transaksi gen bahkan sedang terjadi pada trilyunan bakteri penghuni usus besar kita ketika kita
membaca tulisan ini.
Dengan demikian organisme hasil modifikasi genetik (GMOs) bukanlah hal yang baru. Bahkan tiap
manusia pada dasarnya adalah hasil modifikasi bahan genetik kedua orang tuanya yang melakukan
reproduksi secara seksual.
Lalu kenapa banyak orang masih meributkan?
Yang baru adalah cara modifikasi bahan genetiknya. Saat ini pengertian GMO telah direduksi
menjadi organisme hasil modifikasi bahan genetik melalui teknologi DNA. Organisme hasil silangan,
mutasi kimia, atau fisika tidak digolongkan sbagai GMO.
Kalau memodifikasi bahan genetik disebut playing God, maka manusia telah melakukan hal ini
sejak lama. Telah menjadi kebiasaan, sadar atau tidak sadar, manusia telah melakukan transaksi
genetik ketika mencoba memuliakan tanaman. Caranya adalah dengan mengumpulakan biji
penghasil buah yang manis dan membuang yng asam (pengkayaan gen tertentu dari suatu
populasi secara selektif), memanfaatkan reproduksi seksual (persialngan), mutasi alam (misal
kelapa kopyor), atau memaksa secara buatan dengan bahan kimia atau fisika. Semua cara ini
telah lama dilakukan jauh sebelum teknologi DNA ditemukan.
Yang terpenting adalah beragam penampilan fisik, karakter, atau gaya hidup manusia merupakan
refleksi dari keragaman genetik; dan merupakan gambar dari toleransi terhadap pluralisme di taraf
yang sangat dasar dan alamiah : molekul DNA sendiri!