Anda di halaman 1dari 109

PENYUSUNAN

DOKUMEN YANG
DIPERSYARATKAN
DALAM AKREDITASI

Mekanisme regulasi
Perijinan

(lisensi)
Sertifikasi
Akreditasi
Peraturan
perundangan

Regulasi

internal vs Regulasi
eksternal:
Regulasi eksternal: peraturan
perundangan
Regulasi internal: peraturanperaturan internal yang disusun
oleh fasyankes, dituangkan dalam
dokumen regulasi internal

DOKUMEN AKREDITASI
Adalah

semua dokumen/regulasi internal


yg harus disiapkan, yang merupaan
persyaratan yang diminta oleh standar
akreditasi.

Dibedakan
Dokumen
Rekaman:

:
yg merupakan REGULASI

dokumen sebagai bukti


pelaksanaan kegiatan.

Hirarki Dokumentasi
Sistem Manajemen Mutu

KEBIJAKAN dan
PEDOMAN
1.
KEBIJAKAN :
.

Adalah penetapan pimpinan pada tataran


strategis atau bersifat garis besar.

Untuk penerapannya perlu disusun Pedoman /


Panduan dan Prosedur > Kejelasan langkahlangkah untuk melaksanakan kebijakan
(Peraturan / Keputusan).

Ditetapkan dengan Peraturan atau Keputusan


Pimpinan. Dapat dituangkan dalam Pasal-pasal
atau sebagai lampiran dari SK tsb.

2. PEDOMAN.
Pedoman adalah :
ketentuan

dasar yg memberi arah


bagaimana sesuatu harus dilakukan

Dasar

untuk menentukan atau


melaksanakan kegiatan.

Mengatur

beberapa hal

Panduan :
Petunjuk
Hanya

dalam melakukan kegiatan

meliputi satu kegiatan

3. PROSEDUR.
SPO (Standar Prosedur Operasional)
Adalah

langkah-langkah yang dibakukan


untuk menyelesaikan proses kerja rutin
tertentu

Agar

proses kerja rutin terlaksana dengan


effisien, efektif, konsisten, seragam dan
aman dalam rangka meningkatkan mutu
pelayanan melalui pemenuhan standar
yang berlaku.

REGULASI INTERNAL DI
PUSKESMAS

Administrasi dan
manajemen

Kebijakan Kepala Puskesmas

Rencana Lima Tahunan/Rencana Strategi Bisnis

Rencana Tahunan (RUK/RBA dan RPK)

Pedoman/Manual Mutu

Pedoman/panduan terkait dengan administrasi


dan manajemen

Rencana (Program) Mutu Puskesmas dan


Keselamatan Pasien

Standar Operasional prosedur

Upaya Kesehatan
Masyarakat

Kebijakan Kepala Puskesmas]

Pedoman untuk masing-masing UKM

Rencana Tahunan untuk masing-masing


UKM

Kerangka acuan kegiatan untuk tiaptiap UKM

Standar Operasional Prosedur

Pelayanan Klinis/UKP
Kebijakan
Standar

Kepala Puskesmas

Operasional Prosedur

Pedoman

Pelayanan Klinis
(Panduan Praktik Klinis)

Rencana

Program Mutu dan


Keselamatan Pasien

Kerangka

acuan Kegiatan

Kebijakan

Pedoman/Panduan
(Rencana/KAK)
Program
Kegiatan

SPO

Implementasi

Rekam implementasi

Kebijakan pelayanan farmasi

Kebijakan pelayanan obat, yang berisi:


1. Kebijakan peresepan obat (termasuk peresepan obat narkotika dan psikotropika)
2. kebijakan pelayanan obat rawat inap dan rawat jalan
3. kebijakan penyediaan dan penggunaan obat
4. kebijakan pengendalian dan penilaian penyediaan dan penggunaan obat
5. kebijakan pelayanan obat 7 hari 24 jam pada puskesmas dengan rawat darurat
6. kebijakan persepan obat sesuai formularium
7. Kebijakan penyediaan obat sesuai formularium
8. Kebijakan penanganan obat kedaluwarsa
9. Kebijakan tentang efek samping obat, riwayat alergi, obat yang dibawa pasien
rawat inap
10.Kebijakan monitoring efek samping obat
11.Kebijakan pengendalian pengawasan penggunaan psikotropika dan narkotika
12.Kebijakan penyediaan obat emergensi
13.Kebijakan jika terjadi kesalahan pemberian obat dan pelaporannya (KTD, KNC,
dsb)

Pedoman pelayanan
farmasi

Pendahuluan: latar belakang, ruang lingkup, landasan hukum

Pengorganisasian

Standar ketenagaan

Standar fasilitas

Tata laksana pelayanan farmasi:

peresepan obat

pelayanan obat

pengadaan obat

penyimpanan obat

distribusi obat

monitoring dan penilaian thd penggunaan dan penyediaan obat

pencegahan dan penanganan obat kaduluwarsa

pelayanan dan penyimpanan obat psikotropika dan narkotika

rekonsiliasi obat

monitoring efek samping obat

penyediaan dan penggunaan obat emergensi

Logistik pelayanan obat

Kendali mutu pelayanan farmasi dan Keselamatan pasien

Keselamatan kerja karyawan farmasi

Penutup

SPO
1.

SPO peresepan obat (termasuk peresepan obat narkotika dan


psikotropika)

2.

SPO pelayanan obat rawat inap dan rawat jalan

3.

SPO penyediaan dan penggunaan obat

4.

SPO pengendalian dan penilaian penyediaan dan penggunaan obat

5.

SPO pelayanan obat 7 hari 24 jam pada puskesmas dengan rawat darurat

6.

SPO monitoring persepan obat sesuai formularium

7.

SPO penanganan obat kedaluwarsa

8.

SPO penanganan efek samping obat, riwayat alergi, obat yang dibawa
pasien rawat inap

9.

SPO monitoring efek samping obat

10. SPO

pelayanan obat psikotropika dan narkotika

11. SPO

pengendalian pengawasan penggunaan psikotropika dan narkotika

12. SPO

jika terjadi kesalahan pemberian obat dan pelaporannya (KTD, KNC,

dsb)

Program peningkatan
mutu dan keselamatan
pasien di farmasi

Pendahuluan

Latar belakang

Pengorganisasian tim mutu dan keselamatan pasien di farmasi

Tujuan dan sasaran

Kegiatan pokok:

penilaian kinerja dan mutu pelayanan farmasi (mulai dari penetapan


indikator,pengumpulan indikator, analisis, dan tindak lanjut)

monitoring kejadian efek samping obat dan tindak lanjutnya

monitoring kejadian kesalahan pemberian obat dan tindak lanjutnya

penyusunan formularium obat, monitoring peresepan obat sesuai


formularium dan revisi formularium

pengelolaan risiko pelayan obat

pendidikan staf tentang mutu dan keselamatan pasien

Penjadualan
Evaluasi pelaksanaan kegiatan sesuai jadual yang direncanakan
dan pelaporannya
Pencatatan, pelaporan dan evaluasi

Implementasi

Bukti pelaksanaan SPO dalam kegiatan


pelayanan

Bukti monitoring pelaksanaan SPO, hasil


monitoring dan tindak lanjutnya

Bukti pelaksanaan kegiatan sesuai dengan


penjadualan program dan hasil-hasil serta
tindak lanjutnya

FORMAT DOKUMEN KEBIJAKAN :


Pembukaan :

a.

Judul:

KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS ABCD


NOMOR :./../..
TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN DI .
KEPALA PUSKESMAS ABCD

Konsiderans :

1.

Menimbang :
memuat uraian singkat ttg pokok-pokok pikiran yg menjadi latar
belakang dan alasan pembuatan keputusan. Huruf awal kata
menimbang ditulis dengan hruf capital diakhiri dengan tanda baca titik
dua (, diletakkan di bagian kiri. Konsiderran menimbang diawali
dengan penomoran menggunakan huruf kecil abjad dan dimulai dengan
kata bahwa dengan b huruf kecil, diakhiri dengan titik koma (;)

Mengingat:
memuat dasar kewenangan dan peraturan perundangan
yang memerintahkan pembuat keputusan tersebut.
Peraturan perundangan yang menjadi dasar hokum adalah
peraturan yang tingkatannya sederajat atau lebih tinggi.
Konsideran ini diletakkan di bagian kiri tegak lurus dengan
kata menimbang. Konsideran yang berupa peraturan
diurutkan dengan hirarki tata perundangan diawali dengan
nomor dengan huruf angka 1,2,, dst diakhir dengan titik
koma (;)

Diktum:

Memutuskan: ditulis simetris ditengah seluruhnya


dengan huruf capital serta diletakkan ditenagah
margin
Menetapkan dicantumkan setelah kata
memutuskan disejajarkan ke bawah dengan kata
menimbang dan mengingat, huruf awal kata
menetapkan ditulis dengan huruf capital, dan
diakhiri dengan tanda baca titik dua (:)
Nama keputusan sesuai dengan judul seluruhnya
ditulis dengan huruf capital dan diakhiri dengan
tanda baca titik (.)

Batang tubuh:

Batang tubuh memuat semua substansi keputusan


yang dirumuskan dalam dictum-dictum:

KESATU:

KEDUA:

Dst

Dicantumkan saat berlakunya peraturan/keputusan,


perubahan, pembatalan, pencabutan ketentuan dari
peraturan lainnya

Materi kebijakan dapat dibuat sebagai lampiran


peraturan/keputusan, dan pada halaman terakhir
ditandatangani oleh pejabat yang menetapkan
peraturan/keputusan

Kaki:

Penangatanganan:

Kaki merupakan bagian akhir substansi


peraturan/keputusan yang memuat penanda tanganan
penerapan peraturan/keputusan terdiri atas tempat
dan tanggal penetapan, nama jabatan, tanda tangan
pejabat, dan nama lengkap pejabat yang menanda
tangani

Peratruan/keputusan kepala ditandatangani oleh Kepala


FKTP, ditulis nama tanpa gelar

Lampiran:

Halaman pertama harus dicantumkan judul dan nomor


peraturan/keputusnan

Halaman akhir harus ditandatangani oleh Kepala FKTP

PEDOMAN
Pedoman adalah:
kumpulan

ketentuan dasar yang memberi


arah langkah-langkah yang harus dilakukan.

merupakan

dasar untuk menentukan dan


melaksanakan kegiatan.

mengatur

beberapa hal

Panduan adalah :
petunjuk

dalam melakukan 1 (satu) kegiatan,

Pedoman atau Panduan perlu SK


Pemberlakuan.
Agar Pedoman/ panduan dapat diterapkan
dengan baik dan benar perlu SPO.

Sistematika Pedoman / Panduan :


a. Format Pedoman Pengorganisasian Unit Kerja
BAB I Pendahuluan
BAB II Gambaran Umum Puskesmas
BAB III Visi, Mis, Falsafah, Nilai dan Tujuan Puskesmas
BAB IV Struktur Organisasi Puskesmas
BAB V Struktur Organisasi Unit Kerja
BAB VI Uraian Jabatan

BAB VII Tata Hubungan Kerja

BAB VIII Pola Ketenagaan dan Kualifikasi Personil


BAB IX Kegiatan Orientasi
BAB X Pertemuan/ Rapat
BAB XI

Pelaporan

Laporan Harian

Laporan Bulanan

Laporan Tahunan

b. Format Pedoman Pelayanan Unit Kerja


BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

B.

Tujuan Pedoman

C.

Ruang Lingkup Pelayanan

D.

Batasan Operasional

E.

Landasan Hukum

BAB II STANDAR KETENAGAAN


A.

Kualifikasi Sumber Daya Manusia

B.

Distribusi Ketenagaan

C.

Jadual Kegiatan, termasuk Pengaturan Jaga


(Rawat Inap)

BAB III

STANDAR FASILITAS

D.

Denah Ruang

E.

Standar Fasilitas

BAB IV TATALAKSANA PELAYANAN


BAB V LOGISTIK
BAB VI

KESELAMATAN PASIEN

BAB VII

KESELAMATAN KERJA

BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

BAB IX PENUTUP

c. Format Panduan Pelayanan Puskesmas


BAB I DEFINISI
BAB II RUANG LINGKUP
BAB III

TATALAKSANA

BAB IV

DOKUMENTASI

PEDOMAN (MANUAL) MUTU.

Adalah dokumen yg memberi informasi yg


konsisten ( kedalam maupun keluar ) tentang
sistem manajemen mutu Puskesmas / Klinik.

I. Pendahuluan, yang berisi:

Latar belakang

Ruang Lingkup (proses bisnis)

Tujuan

II. Landasan hukum (peraturan/dokumen

yang menjadi acuan)


III.

Istilah dan definisi

IV.

Sistem Manajemen Mutu:

Persyaratan umum

Pengendalian dokumen

Pengendalian rekaman

V. Tanggung jawab manajemen:

Komitmen manajemen

Fokus pada pelanggan

Kebijakan mutu

Perencanaan Sistem Manajemen Mutu

Tanggung jawab, wewenang dan komunikasi

Wakil manajemen mutu

Komunikasi

internal

VI. Tinjauan Manajemen:

Umum
Masukan
Luaran
VII.

tinjauan

tinjauan

Manajemen sumberdaya

Penyediaan

sumber daya

Manajemen

sumber daya manusaia

Infrastruktur

(sarana dan prasarana)

VIII. Penyelenggaraan pelayanan:

Upaya Puskesmas

Pelayanan Klinis dan Keselamatan Pasien

IX. Pengukuran, analisis, dan penyempurnaan

X. Penutup

RENCANA KERJA LIMA


TAHUNAN

Sejalan dg Renstra Dinkes Kab / Kota

Sesuai dg target kinerja yg ditetapkan Dinkes

Sesuai dg Visi, Misi dan Tupoksi Puskesmas

Berdasarkan analisis kebutuhan masyarakat

Dilakukan analisis situasi (pencapaian kinerja, faktor-faktor


pendorong dan penghambat)

Sistematika Rencana Kerja Lima Tahunan.


Bab I. Pendahuluan

A.

Keadaan Umum Puskesmas

B.

Tujuan penyusunan rencana lima tahunan

C.

Indikator dan standar kinerja untuk tiap jenis


pelayanan dan upaya Puskesmas
Bab II. Analisis Kinerja

D.

Pencapaian Kinerja untuk tiap jenis pelayanan


dan upaya Puskesmas

E.

Analisis Kinerja: menganalisis factor


pendukung dan penghambat pencapaian
kinerja

Bab III. Rencana Pencapaian Kinerja Lima Tahun

A. Program Kerja dan kegiatan: berisi


program-program kerja yang akan
dilakukan yang meliputi antara lain:

Program Kerja Pengembangan SDM, yang dijabarkan dalam


kegiatan-kegiatan, misalnya: pelatihan, pengusulan
penambahan SDM, seminar, workshop, dsb

Program Kerja Pengembangan sarana, yang dijabarkan


dalam kegiatan-kegiatan, misalnya: pemeliharaan sarana,
pengadaan alat-alat kesehatan, dsb

Program Kerja Pengembangan Manajemen dst.

B.

Rencana anggaran:

merupakan rencana biaya untuk tiap-tiap program kerja dan


kegiatan-kegiatan yang direncanakan secara garis besar.

BAB IV. Penutup.


(Lihat Lampiran : Matriks Rencana Kinerja Lima Tahunan
Puskesmas.)

Langkah-langkah Penyusunan Rencana Kinerja Lima Tahunan


Puskesmas / Klinik.

a.

Membentuk tim penyusunan rencana kinerja


lima tahun yang terdiri dari Kepala
Puskesmas bersama dengan penanggung
jawab upaya Puskesmas dan Pelayanan
Klinis.

b.

Tim mempelajari rencana stratejik Dinas


Kesehatan Kabupaten/Kota, target kinerja
lima tahunan yang harus dicapai oleh
Puskesmas

c.

Tim mengumpulkan data pencapaian kinerja

d.

Tim melakukan analisis kinerja

e.

Tim menyusun pentahapan pencapaian


indicator kinerja untuk tiap upaya Puskesmas
dengan penjabaran pencapaian untuk tiap
tahun

f.

Tim menyusun program kerja dan kegiatan


yang akan dilakukan untuk mencapai target
pada tiap-tiap indicator kinerja

g.

Tim menyusun dokumen rencana kinerja lima


tahunan untuk disahkan oleh Kepala Puskesmas

h.

Sosialisasi rencana pada seluruh jajaran


puskesmas

Panduan pengisian Matriks Rencana Kinerja Lima Tahunan (lihat


form Excel):

a.

Nomor : diisi dengan nomor urut

b.

Pelayanan/Upaya Puskesmas: diisi dengan


Pelayanan Klinis, dan Upaya Puskesmas
yang dilaksanakan di Puskesmas tersebut,
misalnya Upaya KIA, Upaya KB, Upaya PKM,
dan seterusnya,

c.

Indikator: diisi dengan indicator-indikator


yang menjadi tolok ukur kinerja
Upaya/Pelayanan

d.

Standar : diisi dengan standar kinerja untuk


tiap indicator

e.

Pencapaian : diisi dengan pencapaian


kinerja tahun terakhir

f.

Target pencapaian: diisi dengan target-target yang akan


dicapai pada tiap tahap tahunan

g.

Program Kerja : diisi dengan Program Kerja yang akan


dilakukan untuk mencapai target pada tiap tahun
berdasarkan hasil analisis kinerja, misalnya program kerja
pengembangan SDM, program kerja peningkatan mutu,
program kerja pengembangan SDM, program kerja
pengembangan sarana, dsb

h.

Kegiatan: merupakan rincian kegiatan untuk tiap program

, misalnya untuk
program pengembangan SDM,
kegiatan Pelatihan Perawat,
Pelatihan Tenaga PKM, dan
sebagainya.
yang direncanakan

i.

Volume : diisi dengan volume kegiatan yang direncanakan


untuk tiap tahapan tahunan

j.

Harga Satuan: harga satuan untuk tiap kegiatan,

k.

Perkiraan Biaya : diisi dengan perkalian antara volume


dengan harga satuan.

Penutup.

PERENCANAAN TINGKAT PUSKESMAS


( PTP )
Perencanaan :

Proses kegiatan yg harus dilakukan

Secara urut

Utk mengatasi masalah

Dalam rangkai mencapai tujuan

Memanfaatkan sumberdaya dg efektif efisien.

PTP :

untuk

tahun yad.

Mencakup

semua kegiatan upaya Puskesmas


(wajib, pengembangan maupun spesifik)

Sumber

dana : Pusat, Daerah, lainnya.

Mekanisme

Penyusunan

RUK dg memperhatikan kebijakan2

Sesuai

hasil kajian data dan informasi di Puskesmas


berasal dari masy dan linsek.

Lengkapi
Dibahas

dg usulan pembiayaan

di Dinkes Kab/Kota > masuk dalam Usulan


Dinkes Kab/Kota > DPRD > disetujui > Puskesmas
> RPK

PENYUSUNAN RUK.
Tahap Persiapan.

a.

Persiapkan Staff yg akan terlibat

Persamaam persepsi dan pengetahuan

Tahap Analisis Situasi.

b.

Kepala Puskesmas menetapkan Tim Penyusun RUK

Tim melakukan analisis terhadap data-data (umum, khusus,


hasil penilaian kinerja dsb) > diperoleh informasi.

Tahap Penyusunan RUK :

Pertahankan

kegiatan yg sudah dicapai

Perhatikan

upaya / program yg masih


bermasalah

Susun

rencana kegiatan baru sesuai


kondisi riil dan kemampuan Puskesmas.

Tahap

penyusunan RUK:

Analisis

masalah

Penyusunan

RUK.

a.

Analisis masalah.
Tim Penyusun bersama Linsek :

b.

1)

Identifikasi masalah

2)

Menetapkan prioritas masalah

3)

Merumuskan masakah

4)

Mencari akar penyebab masalah

Penyusunan RUK (upaya kesh wajib, pemngembangan dan


khusus).
1)

Kegiatan tahun yad

2)

Kebutuhan sunberdaya

3)

Rekapitulasi Rencana Usulan Kegiatan.

Penyusunan Rencana Pelaksanaan


Kegiatan (RPK).
a.

Pelajari alokasi kegiatan

b.

Bandingkan alokasi kegiatan yang disetujui dg RUK

c.

Susun Rancangan Awal secara rinci

d.

Adakan Lokakarya Mini

e.

Menyusun RPK.

(periksa format-format dalam Lampiran Pedoman Penyusunan


Dokumen).

PROGRAM.

Collin Cobulld English Language Dictionary

adalah rencana berskala besar dan terinci yg


dibuat utk satu tujuan tertentu

Adalah rencana kegiatan atau pekerjaan yg akan


dilaksanakan, termasuk waktu kapan kegiatan itu
akan dilaksanakan.

Adalah sebuah rencana baku tentang rangkaian kegiatan,


daftar tugas dsb (Longman) .

Adalah sebuah Prosedur utk menyelesaikan masalah,


termasuk pengumpulan data,memproses dan
mempresentasikan hslnya

Adalah sebuah rencana tentang apa yang akan dikerjakan


(Oxford Dictionary).

Adalah penjabaran terperinci tentang strategi dan langkahlangkah yg dipergunakan untuk mencapai tujuan lembaga (
Panduan Renstra dan Pengukuran Kinerja, Menristek)

PROGRAM : rencana kegiatan yg akan dilaksanakan, yg


disusun secara rinci, dipergunakan untuk mencapai tujuan
lembaga / unit kerja.
Program sebaiknya disusun dalam bentuk Kerangka Acuan
Program

Ketentuan tentang Program :


A.

Tujuan Program.
Umum :
Sebagai panduan dalam melaksanakan kegiatan, sehingga tujuan
program dapat tercapai.
Khusus :

1.

Adanya kejelasan langkah-langkah dlm


melaksanakan kegiatan.

2.

Adanya kejelasan siapa yg melaksankan


kegiatan dan bagaimana kegiatan tsb
dilaksanakan

3.

Adanya kejelasan sasaran, tujuan dan waktu


pelaksanaan kegiatan.

B. SISTEMATIKA / FORMAT KA
PROGRAM :
1.

Pendahuluan

2.

Latar Belakang

3.

Tujuan Umum dan Tujuan Khusus.

4.

Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan.

5.

Cara melaksanakan kegiatan.

6.

Sasaran

7.

Jadwal pelaksanaan kegiatan

8.

Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan

9.

Pencatatan, pelaporan dan evaluasi kegiatan

PETUNJUK PENULISAN KA
PROGRAM
Pendahuluan : berisi hal-hal umum yg masih terkait dg
program.
Latar belakang : justifikasi / alasan mengapa disusun
program.
Tujuan Umum : tujuan secara garis besar.
Tujuan khusus : tujuan secara rinci.
Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan : adalah langkahlanglah kegiatan yg harus dilakukan untuk tercapainya
tujuan program.

Cara melaksamakan kegiatan : metode melaksanakan


kegiatan, a.l : membentuk Tim, melakukan rapat, adalah
target per tahun ygmelakukan audit dsb.
Sasaran : adalah target per tahun yg spesifik dan terukur utk
mencapai tujuan upaya / kegiatan.
Sasaran upaya/ kegiatan menunjukkan hasil antara yang
diperlukan untuk merealisir tujuan tertentu

Sasaran yang baik harus


memenuhi kriteria SMART
yaitu :
Specific

menggambarkan

hasil spesifik yang


diinginkan, bukan cara pencapaiannya.

Sasaran

harus memberikan arah dan tolok


ukur yang jelas sehingga dapat dijadikan
landasan untuk penyusunan strategi dan
kegiatan yang spesifik.

Measurable
harus

terukur dan

dapat

dipergunakan untuk memastikan


apa dan kapan pencapaiannya.

Akuntabilitas

harus ditanamkan kedalam


proses perencanaan > metodologi untuk
mengukur pencapaian sasaran
(keberhasilan upaya/ kegiatan) harus
ditetapkan sebelum kegiatan yang terkait
dengan sasaran tersebut dilaksanakan.

Agressive

but Attainable,
Achievable :
sasaran

harus dijadikan standar


keberhasilan,

sasaran

harus menantang, namun tidak


boleh mengandung target yang tidak layak.

Misalnya

kita bisa menetapkan sebagai


suatu sasaran : Pengurangan kematian
akibat TB akan dapat dicapai sampai ke
tingkat tertentu tetapi meniadakan
kematian merupakan hal yang tidak dapat
dipastikan kelayakannya.

Result oriented :

Time bound :

sedapat
mungkin sasaran harus menspesifikkan hasil yang ingin
dicapai. Misalnya : mengurangi komplain masyarakat
terhadap pelayanan OAT sebesar 50%
sasaran sebaiknya
dapat dicapai dalam waktu yang relatif pendek, mulai
dari beberapa minggu sampai beberapa bulan
(sebaiknya kurang dari 1 tahun). Kalau ada upaya/
kegiatan 5 (lima) tahun dibuat sasaran antara. Sasaran
akan lebih mudah dikelola dan dapat lebih serasi
dengan proses anggaran apabila dibuat sesuai dengan
batas-batas tahun anggaran di Puskesmas.

Manajemen adalah Ilmu dan Seni.

Seni di dalam penentuan sasaran :

menimbulkan tantangan yang dapat dicapai.

Sasaran yang terbaik adalah sasaran yang dapat mendorong


peningkatan kapasitas Puskesmas, namun dalam batas-batas
kelayakan.

Sasaran yang baik akan meningkatkan upaya/ kegiatan dan


jasa pelayanan yang dihasilkan,

juga menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri pada


para pelaksananya.

penetapan target kinerja yang tidak mungkin dicapai akan


melemahkan motivasi, membunuh inisiatif dan menghambat
daya inovasi karyawan.

Jadwal Pelaksanaan Kegiatan :


adalah

merupakan perencanaan waktu


melaksanakan langkah-langkah pelaksanaan
upaya/ kegiatan .

Lama

waktu tergantung rencana upaya/


kegiatan tersebut dilaksanakan.
Untuk

program tahunan, maka jadwal yang


dibuat adalah jadwal untuk 1 tahun,

untuk

upaya/ kegiatan 5 tahun maka


jadwal yang harus dibuat adalah jadual 5
tahun.

Jadwal

pelaksanaan kegiatan dapat dibuat


time table (Gan Chart). (lihat Lampiran)

Evaluasi Pelaksanaan
Kegiatan dan Pelaporan :
evaluasi

pelaksanaan kegiatan adalah


evaluasi terhadap jadual kegiatan.

jadual

tersebut akan dievaluasi setiap kurun


waktu tertentu, sehingga apabila dari
evaluasi diketahui ada pergeseran jadwal
atau penyimpangan jadwal, maka dapat
segera dilakukan koreksi

Karena

itu yang ditulis dalam kerangka


acuan adalah kapan (setiap kurun waktu
berapa lama) evaluasi pelaksanaan kegiatan
dilakukan dan siapa yang melakukan.

Yang

dimaksud dengan pelaporannya


adalah :

bagaimana membuat laporan evaluasi pelaksanaan kegiatan


tersebut dan

kapan laporan tersebut harus dibuat.

Jadi yang harus ditulis di dalam kerangka acuan adalah cara


bagaimana membuat laporan evaluasi dan kapan laporan
tersebut harus dibuat dan ditujukan kepada siapa.

Pencatatan, Pelaporan dan


evaluasi kegiatan

Pencatatan yang ditulis dalam kerangka acuan adalah


bagaimana melakukan pencatatan kegiatan atau membuat
dokumentasi kegiatan.

Pelaporan adalah:

bagaimana membuat laporan program dan

kurun waktu (kapan) laporan harus diserahkan dan

kepada siapa saja laporan tersebut harus diserahkan.

Evaluasi kegiatan :

adalah evaluasi pelaksanaan Upaya/ kegiatan secara menyeluruh.

yang di tulis didalam kerangka acuan, bagaimana melakukan


evaluasi dan kapan evaluasi harus dilakukan.

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL
( SPO )

Standard Operating Procedures (SOP) :

adalah serangkaian instruksi tertulis yang dibakukan mengenai


berbagai proses penyelenggaraan administrasi pemerintah,
(Kepmenpan No.021 tahun 2008).

Standar Prosedur Operasional (SPO) adalah suatu perangkat


instruksi/ langkah- langkah yang dibakukan untuk
menyelesaikan proses kerja rutin tertentu. (Undang-undang
No. 29 Tahun 2004, tentang Praktik Kedokteran dan Undangundang No. 44 Tahun 2009, tentang Rumah Sakit)

Selanjutnya istilah yg digunakan adalah SPO.

Tujuan Penyusunan SPO,

Agar berbagai proses kerja rutin terlaksana dengan efisien, efektif,


konsisten/ seragam dan aman,

dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan melalui pemenuhan


standar yang berlaku.

Manfaat SPO,
Mendokumentasi

langkah-langkah

kegiatan
Memastikan

staf Puskesmas memahami


bagaimana melaksanakan pekerjaannya.

Memenuhi

persyaratan standar
pelayanan Puskesmas

Format SPO :

Di

bakukan dg maksud agar tidak terjadi


penggunaan banyak format.

Untuk

SPO tindakan agar memudahkan


didalam melihat langkah- langkahnya
dapat ditambah dengan bagan alir,
persiapan alat dan bahan dan lain- lain,
namun tidak boleh mengurangi item-tem
yang ada di SPO.

Format

SPO untuk Akreditasi Puskesmas :


lihat lampiran

Petunjuk Pengisian SPO :


a.

Logo yang dipakai adalah logo Pemerintah kabupaten/


kota, nama organisasi adalah nama Puskesmas (untuk
Klinik logo Klinik dan nama Klinik)

b.

Kotak Heading : masing-masing kotak ( Puskesmas,


judul SPO, No. dokumen, No.revisi, Halaman, SPO, tanggal
terbit, ditetapkan Kepala Puskesmas ) diisi sebagai berikut
:

Heading

dan kotaknya dicetak pada setiap


halaman. Pada halaman pertama kotak
heading harus lengkap, untuk halamanhalaman berikutnya kotak heading dapat
hanya memuat: kotak nama Puskesmas, judul
SPO, No.dokumen, No.Revisi dan halaman.

Kotak

Puskesmas/ Klinik diberi nama


Puskesmas dan Logo pemerintah daerah,
sedangkan Klinik sesuai logo organisasi Klinik,

Judul

SPO : diberi Judul /nama SPO sesuai


proses kerjanya

No. Dokumen: diisi sesuai dengan ketentuan


penomeran yang berlaku di Puskesmas/ Klinik
yang bersangkutan, dibuat sistematis agar
ada keseragaman.

No. Revisi : diisi dengan status revisi, dapat


menggunakan huruf. Contoh : dokumen baru
diberi huruf A, dokumen revisi pertama diberi
huruf B dan seterusnya. Dapat juga dengan
angka, misalnya untuk dokumen baru dapat
diberi nomor 0, sedangkan dokumen revisi
pertama diberi nomor 1, dan seterusnya.

Halaman : diisi nomor halaman dengan


mencantumkan juga total halaman untuk SPO
tersebut. misalnya : halaman pertama : 1/5,
halaman kedua: 2/5, halaman terakhir : 5/5.

SPO

diberi penamaan sesuai ketentuan


(istilah) yang digunakan Puskesmas/ Klinik,
misalnya : SPO, Prosedur, prosedur tetap,
petunjuk pelaksanaan, prosedur kerja dan
sebagainya, namun didalam akreditasi
Puskesmas dan Klinik memakai SPO.

Tanggal

terbit : diberi tanggal sesuai tanggal


terbitnya atau tanggal diberlakukannya SPO
tersebut

Ditetapkan

Kepala Pusksmas/ Klinik : diberi


tandatangan Kepala Puskesmas/ Klinik dan
nama jelasnya.

ISI SPO :
1.

Pengertian : berisi penjelasan dan


atau definisi tentang istilah yang mungkin
sulit dipahami atau menyebabkan salah
pengertian/ menimbulkan multi persepsi.

2.

Tujuan : berisi tujuan pelaksanaan SPO


secara spesifik. Kata kunci : Sebagai
acuan penerapan langkah-langkah untuk

3.

Kebijakan : ditulis nomor SK Kepala


FKTP yang menjadi landasan SPO tsb

4.

Referensi: berisikan dokumen ekternal


sebagai acuan penyusunan SPO, bisa
berbentuk buku, peraturan perundangundangan, ataupun bentuk lain sebagai bahan
pustaka,

5.

Langkah- langkah Prosedur :


merupakan bagian utama, yang menguraikan
langkah-langkah kegiatan untuk
menyelesaikan proses kerja tertentu.

6.

Unit terkait : berisi unit-unit yang terkait


dan atau prosedur terkait dalam proses kerja
tersebut

Tata Cara Pengelolaan SPO:


1.

Puskesmas/ Klinik agar menetapkan siapa


yang mengelola SPO,

2.

Pengelola SPO harus mempunyai arsip


seluruh SPO Puskesmas/Klinik,

3.

Pengelola SPO agar membuat tata cara


penyusunan, penomoran, distribusi,
penarikan, penyimpanan, evaluasi dan
revisi SPO

Tata Cara Penyusunan SPO


Hal-hal yang perlu diingat :

1.

Siapa yang harus menulis atau menyusun


SPO

2.

Bagaimana merencanakan dan


mengembangkan SPO

3.

Bagaimana SPO dapat dikenali

4.

Bagaimana memperkenalkan SPO kepada


pelaksana dan unit terkait

5.

Bagaimana pengendalian SPO-nya


(nomor, revisi, dan distribusi ).

Syarat penyusunan SPO :

Identifikasi kebutuhan, yakni mengidentifikasi apakah kegiatan


yang dilakukan saat ini sudah memiliki SPO atau belum, dan bila
sudah agar diidentifikasi apakah SPO masih efektif atau tidak.

Perlu ditekankan bahwa SPO harus ditulis oleh mereka yang


melakuan pekerjaan tersebut atau oleh unit kerja tersebut.

Tim atau panitia yang ditunjuk oleh Kepala Puskesmas hanya


untuk menanggapi dan mengkoreksi SPO tersebut.

karena komitmen terhadap pelaksanaan SPO hanya diperoleh


dengan adanya keterlibatan personel/ unit kerja dalam
penyusunan SPO.

SPO harus menggunakan kalimat perintah/ instruksi dengan


bahasa yang dikenal pemakai.

SPO harus jelas, ringkas, dan mudah dilaksanakan. Untuk SPO


pelayanan pasien maka harus memperhatikan aspek
keselamatan, keamanan dan kenyamanan pasien. Untuk SPO
profesi harus mengacu kepada standar profesi, standar
pelayanan, mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK) kesehatan, dan memperhatikan aspek
keselamatan pasien.

SPO

harus merupakan flow charting dari suatu


kegiatan. Pelaksana atau unit kerja agar
mencatat proses kegiatan dan membuat alurnya
kemudian Tim Mutu diminta memberikan
tanggapan.

Di

dalam SPO harus dapat dikenali dengan jelas


siapa melakukan apa, dimana, kapan, dan
mengapa.

SPO

jangan menggunakan kalimat majemuk,


subjek, predikat dan objek harus jelas.

SPO

harus menggunakan kalimat perintah/


instruksi dengan bahasa yang dikenal pemakai.

SPO

harus jelas, ringkas, dan mudah


dilaksanakan.

Untuk

SPO pelayanan pasien maka harus


memperhatikan aspek keselamatan, keamanan
dan kenyamanan pasien.

Untuk

SPO profesi harus mengacu kepada


standar profesi, standar pelayanan, mengikuti
perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(IPTEK) kesehatan, dan memperhatikan aspek
keselamatan pasien.

Proses penyusunan SPO

SPO disusun dengan menggunakan format


sesuai dengan panduan penyusunan dokumen
akreditasi Puskesmas/Klinik ini.

Penyusunan SPO dapat dikelola oleh tim mutu/


tim akreditasi Puskesmas/ Klinik dengan
mekanisme sebagai berikut :

Pelaksana atau unit kerja/ upaya menyusun


SPO dengan melibatkan unit terkait.

SPO yag telah disusun oleh pelaksana atau


unit kerja/ upaya disampaikan ke tim mutu/
tim akreditasi Puskesmas/Klinik,

Fungsi tim mutu/ tim akreditasi


Puskesmas didalam penyusunan
SPO adalah :

Memberikan tanggapan, mengkoreksi dan memperbaiki


terhadap SPO yang telah disusun oleh pelaksana atau unit
kerja baik dari segi bahasa maupun penulisan,

Sebagai koordinator dari SPO yang sudah dibuat oleh masingmasing unit kerja sehingga tidak terjadi duplikasi SPO/
tumpang tindih SPO antar unit,

Melakukan cek ulang terhadap SPO-SPO yang akan


ditandatangani oleh Kepala Puskesmas.

Penyusunan SPO dilakukan


dengan:

mengidentifikasi kebutuhan SPO.

Untuk SPO pelayanan dan SPO administrasi, identifikasi


kebutuhan SPO bisa dilakukan dengan menggambarkan proses
bisnis di unit kerja tersebut atau alur kegiatan dari kerja yang
dilakukan di unit tersebut.

identifikasi SPO dengan menggambarkan terlebih dahulu


proses bisnis di unit kerja menghsilkan seluruh SPO secara
lengkap yang harus ada di unit kerja tersebut

untuk SPO profesi identifikasi kebutuhan dilakukan dengan


mengetahui pola penyakit yang sering ditangani di unit kerja
tersebut.

Dari identifikasi kebutuhan SPO maka disuatu unit kerja dapat


diketahui berapa banyak dan macam SPO yang harus dibuat/
disusun.

identifikasi

kebutuhan SPO dapat pula


dilakukan dengan memperhatikan elemen
penilaian pada standar akreditasi
Puskesmas/Klinik, minimal SPO-SPO apa saja
yang harus ada.

SPO

yang dipersyaratkan di elemen penilaian


adalah SOP minimal yang harus ada di
Puskesmas/Klinik.

SPO

merupakan flow charting dari proses


kegiatan maka untuk memperoleh pengertian
yang jelas bagi subyek, penulisan SPO adalah
dimulai dengan membuat flow chart dari
kegiatan yang dilaksanakan. Caranya adalah
membuat diagram kotak sederhana yang
menggambarkan langkah penting dari seluruh
proses.

Setelah

dibuatkan diagram kotak maka


diuraikan kegiatan di masing-masing kotak dan
dibuat alurnya.

Semua

SPO harus ditandatangani oleh


Kepala Puskesmas/ kepala Klinik,

Untuk SPO pelayanan dan SPO administrasi,


sebagian memerlukan uji coba.

Agar SPO dapat dikenali oleh pelaksana


maka perlu dilakukan sosialisasi SPO-SPO
tersebut dan bila SPO tersebut rumit maka
untuk melaksanakan SPO tersebut perlu
dilakukan pelatihan.

Hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan penyusunan


SPO

Ada

komitmen dari Kepala Puskesmas/


Klinik , terlihat dengan adanya dukungan
fasilitas dan sumber daya lainnya.

Adanya

fasilitator/ petugas yang


mempunyai kemampuan dan kemauan
untuk menyusun SPO (aspek pekerjaan
dan aspek psikologis).

Ada

target waktu yaitu ada target dan


jadwal yang disusun dan disepakati

Adanya

pemantauan dan pelaporan


kemajuan penyusunan SPO.

Tata cara penomoran SPO.


Penomoran SPO maupun dokumen lainnya
diatur pada kebijakan pengendalian dokumen,
(kriteria 2.1.11. elemen penilaian 4, untuk
Puskesmas, sedangkan Klinik pada kriteia
1.3.10 elemen penilaian 4,)

Semua SPO harus diberi nomor,

Puskesmas/Klinik agar membuat kebijakan tentang


pemberian nomor untuk SPO,

Pemberian nomor bisa mengikuti tata persuratan


Puskesmas/Klinik, atau ketentuan penomoran yang
khusus untuk SPO (bisa menggunakan garis miring
atau dengan sistem digit). Pemberian nomor
sebaiknya secara sentral.

Kode-kode yang dipergunakan


untuk pemberian nomor :

Kode unit kerja : masing-masing unit kerja di Puskesmas/


Klinik mempunyai kode sendiri-sendiri yang dapat
berbentuk angka atau huruf. Sebagai contoh pada Unit
Gawat Darurat diberi kode 08 (apabila menggunakan
angka) atau g (apabila menggunakan huruf) dan lain
sebagainya tergantung didalam kebijakan pengendalian
dokumen dan rekaman.

Kode SPO : diatur dalam tata persuratan Puskesmas. Misal


kode untuk SPO adalah 03 (apabila menggunakan angka)
atau c (apabila menggunakan kode huruf).

Nomor urut SPO adalah urutan nomor SPO di dalam unit


kerja / upaya di Puskesmas/Klinik. Misal SPO di Unit Gawat
Darurat No.08.03.15 (artinya SPO dari Unit Gawat Darurat
dg nomor urut SPO= 15).

Cara penomoran lainnya :

SPO yg khusus utk 1 unit, misal /UGD/bln/thn

Satu SPO dipergunakan oleh lebih dari satu unit yang berbeda
misalnya SPO rujukan pasien maka diberi nomor :
./UGD/Keperawatan/bln/thn

Tata Cara Penyimpanan SPO

Penyimpanan adalah bagaimana SPO tersebut


disimpan.

SPO asli (master dokumen/ SPO yang sudah


dinomori dan sudah ditandatangani) disimpan
di sekretariat Tim Akreditas Puskesmas/Klinik
atau Bagian Tata Usaha Puskesmas/Klinik,
sesuai dengan kebijakan pengarsipan
dokumen yang berlaku di organisasi tersebut.

Penyimpanan SPO yang asli harus rapi, sesuai


metode pengarsipan sehingga mudah dicari
kembali bila diperlukan.

SPO fotocopy disimpan di masing-masing unit


upaya Puskesmas/Klinik, dimana SPO tersebut
dipergunakan.

Bila SPO tersebut tidak berlaku lagi atau tidak


dipergunakan maka unit kerja wajib
mengembalikan SPO yang sudah tidak berlaku
tersebut ke sekretariat Tim mutu atau bagian Tata
Usaha

di unit kerja hanya ada SPO yang masih berlaku


saja.

Sekretariat Tim Mutu atau bagian Tata Usaha


organisasi dapat memusnahkan fotocopy SPO
yang tidak berlaku tersebut,

SPO yang asli agar tetap disimpan, sesuai


ketentuan dalam pengarsipan dokumen di
Puskesmas/Klinik.

SPO

di unit upaya Puskesmas/Klinik harus


diletakan ditempat yang mudah dilihat, mudah
diambil, dan mudah dibaca oleh pelaksana.

Bagi

Puskesmas/Klinik yang sudah menggunakan


e-file maka penyimpanan SPO sebagai berikut :
Setiap

SPO harus di print-out dan disimpan sebagai


SPO asli atau dikomputer dengan persyaratan dibackup

SPO

diunit upaya Puskesmas/Klinik tidak perlu


hardcopy, SPO bisa dilihat di internet di Puskesmas,
namun untuk SPO penanganan gawat darurat tetap
harus dibuatkan hardcopy-nya.

Tata Cara Pendistribusian SPO

Distribusi adalah kegiatan menyampaikan SPO


kepada unit / upaya atau pelaksana yang
memerlukan SPO tersebut agar dapat digunakan
sebagai panduan dalam melaksanakan
kegiatannya.

Kegiatan distribusi dilakukan oleh tim mutu atau


bagian Tata Usaha Puskesmas dan Klinik sesuai
kebijakan dalam pengendalian dokumen.

Distribusi harus memakai expedisi dan atau


formulir tanda terima.

Distribusi SPO bisa hanya untuk unit kerja


tertentu tetapi bisa juga untuk seluruh unit kerja
lainnya.

Bagi Puskesmas/Klinik yang sudah


menggunakan e-file maka distribusi SPO bisa
melalui internet dan diatur kewenangan
otorisasi disetiap unit kerja, sehingga unit kerja
dapat mengetahui batas kewenangan dalam
membuka SPO.

Evaluasi SPO.

1.

Evaluasi SPO dapat dilakukan dengan


evaluasi penerapannya dan > revisi
secara total/ sebagian SPO tersebut.
Evaluasi penerapan/ kepatuhan SPO
dapat dilakukan dengan evaluasi langkahlangkah penerapan SPO apakah sudah
dilakukan semua langkah ataupun
sebagian langkah yang dilakukan. Untuk
evaluasi ini dapat dilakukan dengan
menggunakan daftar tilik/ cek list

Daftar

tilik adalah daftar urutan kerja (actions)


yang dikerjakan secara konsisten, diikuti dalam
pelaksanaan suatu rangkaian kegiatan, untuk
diingat, dikerjakan, dan diberi tanda (checkmark).

Daftar

tilik merupakan bagian dari sistem


manajemen mutu untuk mendukung
standarisasi suatu proses pelayanan.

Daftar

tilik tidak dapat digunakan untuk PO yang


kompleks.

Daftar

tilik digunakan untuk mendukung,


mempermudah pelaksanaan dan memonitor
SPO, bukan untuk menggantikan SPO itu
sendiri.

Langkah-langkah menyusun daftar tilik

Langkah awal dengan melakukan Identifikasi


prosedur yang membutuhkan daftar tilik untuk
mempermudah pelaksanaan dan
monitoringnya.

Gambarkan flow-chart dari prosedur tersebut,

Buat daftar kerja yang harus dilakukan,

Susun urutan kerja yang harus dilakukan,

Masukkan dalam daftar tilik sesuai dengan


format tertentu,

Lakukan uji-coba,

Lakukan perbaikan daftar tilik,

Standarisasi daftar tilik.

Compliance rate (CR) =

Ya
Ya+Tidak

x 100 %

2.

Evaluasi isi SPO.

dilaksanakan sesuai kebutuhan dan maksimal


3 tahun sekali,

dilakukan oleh masing-masing unit kerja,


dipimpin oleh koordinator unit kerja/ program.

Hasil evaluasi :

SPO masih tetap bisa dipergunakan atau

SPO perlu diperbaiki/ direvisi.

Perbaikan/ revisi isi SPO bisa dilakukan sebagian


atau seluruhnya.

Pergantian kepala Puskesmas, bila SPO


memang masih sesuai/ dipergunakan maka
tidak perlu direvisi.

Pengendalian Dokumen dan Rekaman.


Pengertian

dokumen adalah: Semua dokumen


yg harus disiapkan Puskesmas/ Klinik, dan untuk
memenuhi instrumen Akreditasi.

Jenis

dan macam dokumen mengacu kepada


standar dan Kriteria, definisi operasional, serta
cara pembuktian dan telusur dokumen yg ada
dlm instrumen akreditasi Puskesmas/Klinik,

Rekaman

adalah: dokumen yang memberi


bukti obyektif dari kegiatan yang dilakukan
atau hasil yang dicapai didalam kegiatan
Puskesmas/Klinik untuk peningkatan mutu,

Pengendalian dokumen dan rekaman


adalah:
sistem

penomoran dan sistem penyimpanan


dokumen yang dibutuhkan oleh sistem
manajemen mutu akreditasi Puskesmas harus
dikendalikan.

Catatan/

rekaman adalah jenis khusus dari


dokumen dan dikendalikan, dalam artian harus
diberi nomor agar mudah untuk pengelolaannya.

Untuk

Pengendalian dokumen disusun SPO dan


diatur didalam kebijakan pengendalian dokumen
pada kriteria 2.1.11 elemen penilaian 4, dan
Klinik pada kriteria 1.3.10. elemen penilaian 4,

Untuk mendefinisikan pengendalian diperlukan:

Menyetujui dokumen untuk kecukupan


sebelum terbit,

Menelaah dan memperbaharui sebagaiman


perlu, dan persetujuan ulang dokumen,

Memastikan bahwa perubahan dan status


revisi terkini dari dokumen teridentifikasi,

Memastikan bahwa versi yang relevan dari


dokumen yang dapat diterapkkan tersedia
ditempat pengguna,

Memastikan bahwa dokumen tetap dapat


terbaca dan segera dapat teridentifikasi,

Memastikan

bahwa dokumen yang berasal


dari luar organisasi yang penting untuk
perencanaan dan operasional sistem
manajemen mutu diidentifikasi dan
distribusinya dikendalikan,

Mencegah

penggunaan tidak sengaja


dokumen kadaluwarsa dan

untuk

menerapkan identifikasi yang sesuai


pada dokumen bila disimpan untuk maksud
apapun.

Catatan/ rekaman yang diterapkan untuk memberikan bukti


kesesuaian terhadap persyaratan dan bukti operasional yang
efektif dari sistem manajemen mutu harus dikendallikan.

Organisasi harus menetapkan SPO terdokumentasi untuk


mendefinisikan pengendalian yang diperlukan untuk :

identifikasi,
penyimpanan,

perlindungan,

pengambilan,

lama simpan dan

pemusnahan.

Catatan/ rekaman harus dapat terbaca,


segera dapat teridentifikasi dan dapat
diakses kembali.

Penataan Dokumen.
Untuk

memudahkan didalam pencarian


dokumen akreditasi Puskesmas/ Klinik
dikelompokan masing- masing bab/ kelompok
pelayanan/ upaya dengan diurutkan setiap
urutan kriteria dengan dipilah- pilah dalam
bentuk tata dokumen.

Apabila

dokumen tersebut direkam didalam


buku maka urutan dokumen tersebut diberi
lembar penjelasan bahwa dokumen tersebut
didalam buku.

TUGAS DISKUSI

Masing-masing kelompok menyusun satu buah


Surat Keputusan (Kebijakan) yang
dipersyaratkan:

Kel admen: Bab I

Kel program: Bab IV

Kel klinis: Bab VII

TERIMA
KASIH