Anda di halaman 1dari 5

1.

Identifikasi Resiko. Kelompok per area mendaftarkan halhal yang mungkin merintangi atau mengganggu kemampuan
semua pegawai untuk memenuhi tujuan areanya. Masingmasing anggota bahkan dapat melihat hal-hal yang benarbenar akan meningkatkan kemampuan masing-masing dalam
memenuhi tujuan, misalnya menggali sumber dana untuk
peluang usaha.
Risiko
diidentifikasi
melalui
beberapa
teknik
seperti,
brainstorming, review dokumen, wawancara, teknik Delphi dan
Analisis SWOT. Metode identifikasi tambahan mungkin melalui
check lists, analisis asumsi dan teknik diagram. Lima teknik
yang disebutkan pertama adalah metode langsung, sedangkan
tiga teknik yang disebutkan berikutnya, pada dasarnya adalah
metode pendukung.
Brainstorming: Dalam metode ini, pandangan dari semua
anggota sama pentingnya, dan karenanya pertemuan diadakan
untuk memadukan ide-ide tentang mengidentifikasi risiko.
Brainstorming adalah salah satu metode yang paling efektif.
Review dokumen: Teknik ini menggunakan referensi ke
dokumen-dokumen yang ada, seperti temuan audit, dan risiko
yang pernah diidentifikasi dari kegiatan atau proyek
sebelumnya. Catatan mengenai risiko mengarahkan ke
pemahaman yang lebih baik dari kemungkinan rintangan yang
bisa
timbul
dalam
aktivitas
/
proyek
berikutnya.
Delphi Teknik: Ini adalah sebuah metode brainstorming, hanya
saja anggota yang terlibat tidak saling kenal / saling
mengetahui satu sama lain. Hasil brainstorming diperoleh dari
rata-rata
pendapat
peserta.
Wawancara: Teknik ini akan sangat membantu ketika ada
beberapa ahli atau anggota yang telah menjadi bagian dari
proyek-proyek sebelumnya dan dapat membantu menjelaskan
topik
mengenai
identifikasi
risiko.
Analisis SWOT: Metode ini melibatkan penilaian akan Kekuatan,

Kelemahan, Peluang dan Ancaman, dari bisnis atau proyek, dan


hal-hal lain di sekitar aspek-aspek ini.
Adapun risiko-risiko yang dihadapi misalnya berhentinya
anggota tim kunci, berkepanjangannya gangguan jaringan IT,
tertundanya ketersediaan informasi penting dari unit kerja /
individu lain; kegagalan untuk merebut kesempatan bisnis dan
seterusnya.
2.

Mengidentifikasi
Penyebab. Identifikasi
apa
yang
mungkin menyebabkan risiko di atas terjadi, misalnya. anggota
tim inti mungkin kecewa dengan / jabatannya, mungkin dibajak
oleh perusahaan pesaing; unit atau orang yang diandalkan
memberi informasi mungkin sangat sibuk, personilnya cuti atau
atau memang lamban dalam memasok data yang sangat
dibutuhkan; atasan yang berwenang menyetujui untuk
mengambil peluang usaha mungkin masih takut risikonya dan
perlu mendapatkan keyakinan ekstra sebelum mengambil risiko
dan seterusnya.
3.
Mengidentifikasi Kontrol. Mengidentifikasi semua kontrol
yang ada, yang ditujukan untuk mengurangi kemungkinan
risiko Anda dari terjadi dan, jika mereka terjadi, juga tersedia
kontrol untuk mengurangi dampaknya (Konsekuensi), misalnya.
menyediakan lingkungan kerja yang ramah untuk tim Anda;
multi-keterampilan
seluruh
tim
untuk
mengurangi
ketergantungan pada satu orang; tekankan akan kebutuhan
informasi yang diperlukan untuk diberikan secara tepat waktu;
mengirim pengingat sebelum batas waktu; memberikan
informasi tambahan kepada supervisor sebelum ia / dia
meminta untuk itu dan lain-lain. Kontrol disini termasuk
pengorganisasian, budaya perusahaan, sistem informasi,
aktifitas pengendalian interen mulai dari penerapan tata kelola
perusahaan, pengawasan yang dilakukan oleh Board (Komisaris
dan Direksi). efektifitas komite audit, audit internal dan audit
eksternal dan lainnya.

4.

Menetapkan
Deskriptor
Kemungkinan
dan
Konsekuensi. Mengingat bahwa hal ini tergantung pada
konteks dari analisis yang dilakukan, misalnya jika analisis
berkaitan dengan unit kerja, maka kerugian keuangan atau
kehilangan anggota staf kunci, akan memiliki dampak yang
lebih besar pada unit kerja tersebut daripada yang akan terjadi
pada Perusahaan secara keseluruhan, sehingga deskriptor
digunakan untuk kontek seluruh Perusahaan (strategis)
umumnya tidak akan sepadan untuk Direktorat, atau unit kerja
lain. Misalnya kerugian sebesar Rp.1.000.000.000 mungkin
dianggap tidak signifikan ke Perusahaan, tetapi bisa menjadi
Bencana bagi sebuah unit kerja. Anda akan perlu untuk
menetapkan parameter ini dengan berkonsultasi dengan
Kepala unit kerja. Dengan urutan proses seperti ini maka
penilaian
kemungkinan
dan
konsekuensi
dilakukan
terhadap residual
risks (setelah
mempertimbangkan
kekuatan kontrol dalam mengurangi kemungkinan terjadi dan
menanggulangi dampaknya apabila risiko itu menjadi
kenyataan).
5.
Menetapkan Risk Rating Deskriptor. Yaitu apa yang
dimaksud
dengan
Risiko
Rendah (Low), Sedang (Medium), Tinggi (High) atau
Ekstrim (Extreme), perlu diputuskan sebelumnya.
6.
Tambahkan Kontrol lainnya. Secara umum, untuk setiap
resiko yang dinilai sebagai High atau Extreme harus memiliki
kontrol tambahan dalam rangka untuk mengurangi risiko ke
tingkat yang dapat diterima. Kontrol tambahan apa yang masih
memadai dan apakah mereka dapat diadakan, apakah mungkin
diprioritaskan, adalah sesuatu yang harus ditentukan oleh
kelompok dalam konsultasi dengan Kepala unit kerja yang,
idealnya,
harus
pertama-tama
dianalisis
oleh anggota
kelompok.
7.
Membuat Keputusan. Setelah proses di atas selesai, jika
masih
ada
beberapa
risiko
yang
dinilai

sebagai High atau Extreme,keputusan harus dibuat apakah


kegiatan tersebut akan dipertahankan atau dilepas. Akan ada
saat-saat ketika risiko lebih tinggi daripada yang diinginkan
atau di luar selera risiko (risk appetite), dan tidak ada lagi yang
bisa dilakukan untuk mengurangi risiko itu karena berada di
luar kendali unit kerja, tetapi karena sesuatu hal aktivitasnya
masih harus dilakukan. Dalam situasi seperti itu, pemantauan
dan review berkala terhadap keadaan dimaksud adalah
penting.
8.
Pantau dan Review. Memantau semua risiko dan
melakukan review berkala atas profil risiko unit kerja
merupakan sebuah elemen penting untuk suksesnya sebuah
program manajemen risiko.

Hasil dari proses manajemen risiko yang sederhana ini dapat dilihat seperti
di bawah ini:

Proses Manajemen Risiko