Anda di halaman 1dari 21

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dibahas mengenai konsep pengetahuan, konsep remaja,
konsep pencegahan, konsep HIV-AIDS dan kerangka konseptual.
A. Konsep Pengetahuan
1. Pengertian
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah
orang

melakukan

penginderaan

terhadap

suatu

obyek

tertentu.

Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni: indra penglihatan,


pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
(Notoatmodjo S, 2003 : 121)
Menurut Benyamin Bloom (1908), yang dikutip oleh Soekidjo
Notoatmodjo pengetahuan dibagi menjadi 6 tingkatan, yaitu tahu,
memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
2. Tingkat pengetahuan
Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2007 : 122-123), pengetahuan yang
tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu :
a. Tahu (Know).
Tahu diartikan sebagai recall (memanggil) memori yang telah
dipelajari sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
(Notoatmodjo S, 2005 : 50).

Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah


dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan ini adalah
mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Oleh sebab itu, tahu
ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja
untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara
lain : menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan
sebagainya.
b. Memahami (Comprehension).
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan
secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi
materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Application).
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
d. Analisis (Analysis).
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama
lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau

menghubungkan

bagian-bagian

di

dalam

suatu

bentuk

keseluruhan

yang

baru,

misalnya

dapat

menyusun,

dapat

merencanakan, dapat meringkas, menyesuaikan dan sebagainya


terhadap suatu teori yang telah ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
penilaian terhadap suatu materi atau obyek berdasarkan suatu kriteriakriteria yang ditentukan sendiri atau yang telah ada.
3. Cara memperoleh pengetahuan
Berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh
pengetahuan, namun sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi 2
(Notoatmodjo S, 2005 : 110), yaitu :
a.

Cara Tradisional atau Non Ilmiah


1) Cara Coba-Salah (Trial and Error)
Cara yang paling tradisional yang pernah digunakan oleh
manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah melalui cara cobacoba atau dengan kata yang lebih terkenal trial and error. Cara
ini

dilakukan

dengan

menggunakan

kemungkinan

dalam

memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak


berhasil, dicoba kemungkinan yang lain.
2) Cara Kekuasaan atau Otoritas
Prinsip cara ini adalah orang lain menerima pendapat yang
dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas tanpa terlebih

dahulu

menguji

atau

membuktikan

kebenarannya.

Baik

berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri.


3) Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Pengalaman adalah guru yang baik, maksudnya pengalaman
itu

merupakan

suatu

cara

untuk

memperoleh

kebenaran

pengetahuan.
4) Melalui Jalan Pikiran
Dalam hal ini proses berpikir berusaha mengidentifikasi
seluruh subyek yang menjadi anggota obyek yang diamati,
kemudian keseluruhan obyek itu diidentifikasi dan ditarik
kesimpulan umumnya.
b.

Cara modern dalam Memperoleh Pengetahuan


Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada
dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut Metode
penelitian ilmiah atau lebih populer disebut metodologi penelitian
(Research

Methodology).

Mula-mula

mengadakan

pengamatan

langsung terhadap gejala-gejala alam atau kemasyarakatan kemudian


hasil pengamatannya tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan, dan
akhirnya diambil kesimpulan umum.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Beberapa

faktor

yang

dapat

mempengaruhi

pengetahuan

diantaranya :
a. Umur
Umur adalah umur individu yang terhitung mulai saat lahir
sampai saat berulang tahun (Nursalam & Siti Patriani, 2001 : 134).

10

Umur adalah lamanya hidup yang dihitung sejak lahir sampai


saat ini. Umur merupakan periode terhadap pola-pola kehidupan yang
baru, semakin bertambahnya umur akan mencapai usia reproduksi
(Notoatmodjo S, 2003 : 50).
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan di dalam
penyelidikan-penyelidikan

epidemologi.

Angka-angka

kesakitan

maupun kematian hampir semua keadaan menunjukkan hubungan


dengan umur (Notoatmodjo S, 2007 : 20).
Singgih (1998) mengemukakan bahwa makin tua umur seseorang
maka proses perkembangan mentalnya bertambah baik. Selain itu, Abu
Ahmadi (2001) juga mengemukakan bahwa memang daya ingat
seseorang

itu

salah

satunya

dipengaruhi

oleh

umur

(http://ajangberkarya.wordpress.com. Diakses tanggal 18 Juni 2010).


Semakin cukup tingkat kematangan dan kekuatan seseorang maka
akan matang dalam berpikir dan bekerja, sehingga pengetahuan pun
akan bertambah. Dari segi kepercayaan masayrakat, seorang yang
lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum tinggi
kedewasaannya (Nursalam&Siti Pariani, 2001 : 134).
b. Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya.
(UU RI No. 20 tahun 2003).
Pendidikan merupakan indikator kualitas sumber daya manusia,
semakin baik pendidikan maka semakin baik pula sumber daya

10

11

mausia. Di bidang pendidikan, kaum perempuan masih sangat


tertinggal dibanding laki-laki (Makmur Asmilia, 2003). Macam jalur
pendidikan menurut UU pendidikan tahun 2003 terdiri atas pendidikan
formal, non formal dan informal. Tingkat pendidikan formal terdiri
atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan melandasai jenjang
pendidikan menengah. pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD)
dan sekolah menengah pertama (SMP) atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan

menengah

merupakan

lanjutan

pendidikan

dasar.

Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan


pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk
sekolah menengah atas (SMA) atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan
menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana,
magister, spesialis dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan
tinggi (UU RI No. 20 tahun 2003).
c. Pengalaman
Pengalaman merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan, oleh sebab itu pengalaman pribadipun dapat digunakan
sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Caranya dengan
mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memacahkan
masalah yang dihadapi pada masa lalu, semakin banyak pengalaman
yang diperoleh semakin banyak pula pengetahuan (Notoatmodjo S,
2005 : 13). Nasib wanita yang matang dan berkepribadian banyak
ditentukan oleh peristiwa-peristiwa dan pengalaman pada masa

11

12

adolesensi, yaitu didukung oleh pengalaman-pengalaman psikis pada


masa pra-pubertas dan pubertas (Kartono K, 2006 : 66). Dengan
adanya penyuluhan tentang pencegahan HIV-AIDS diharapkan wanita
bisa

menjadi

yang

tadinya

tidak

tahu

menjadi

tahu

(http://www.surabaya-ehealth.org. Diakses tanggal 8 Juli 2010).


B. Konsep Remaja
1. Pengertian
Menurut World Health Organization (WHO) remaja adalah suatu
masa ketika individu berkembang dan saat pertama kali ia menunjukkan
tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan
seksual, mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dan
dari

kanak-kanak

menjadi

dewasa

dan

terjadi

peralihan

dari

ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif


lebih mandiri (Sarwono SW, 2003 : 9).
Remaja putri adalah individu yang berusia 10-19 tahun (Depkes RI,
2003 : 3).
2. Pembagian masa remaja
a. Masa remaja awal (10-12 tahun) dengan ciri khas antara lain :
1) Lebih dekat dengan teman sebaya.
2) Ingin bebas
3) Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir
abstrak.
b. Masa remaja tengah (13-15 tahun) dengan ciri khas antara lain :
1) Mencari identitas diri.
2) timbulnya keinginan untuk kencan.

12

13

3) Mempunyai rasa cinta yang mendalam.


4) Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.
5) Berkhayal tentang aktivitas seks.
c. Masa remaja akhir (16-19 tahun) dengan ciri khas antara lain :
1) Pengungkapan kebebasan diri.
2) Lebih selektif dalam mencari teman sebaya.
3) Mempunyai citra jasmani dirinya.
4) Dapat memujudkan rasa cinta.
5) Mampu berfikir abstrak.
(Depkes RI, 2002 : 20-21)
3. Ciri-ciri perubahan fisik pada remaja putri
Terjadi pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja, termasuk
pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai
kematangan, sehingga mampu melangsungkan reproduksi.
Perubahan ini ditandai dengan munculnya :
a. Tanda-tanda seks primer, yaitu :
Berhubungan langsung dengan organ seks (terjadi haid pada
remaja putri/menarche).
b. Tanda-tanda seks sekunder, yaitu :
Pada remaja putri pinggul melebar, pertumbuhan rahim dan
vagina, payudara membesar, tumbuhnya rambut disekitar ketiak dan
sekitar kemaluan (pubis).

13

14

Pertumbuhan fisik dalam masa remaja ini merupakan hal yang


sangat penting bagi kesehatan reproduksi.
Ciri-ciri perubahan ini penting sekali karena dengan benar-benar
memahami maka penanganan masalah dapat dilakukan dengan lebih
baik. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja dilakukan untuk
memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan
perilaku hidup sehat bagi remaja, disamping mengatasi masalah yang
ada. Dengan pengetahuan yang memadai dan adanya motivasi untuk
menjalani masa remaja secara sehat, para remaja diharapkan dapat
memasuki masa kehidupan berkeluarga dengan reproduksi yang sehat
(Depkes RI, 2002 : 25).
C. Konsep pencegahan
Pencegahan adalah melakukan suatu upaya agar sesuatu yang diprediksi
akan terjadi, tidak jadi terjadi atau kalaupun terjadi skalanya lebih kecil atau
lebih ringan (http://id.answers.yahoo.com. Diakses tanggal 8 Juli 2010)
D. Konsep HIV-AIDS
1. Pengertian AIDS
Acquired Immunodeficiency Sindrome (AIDS) adalah sindroma
dengan gejala-gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu
akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi human
immunodeficiency virus (HIV) (Sarwono P, 2009 : 405).
AIDS adalah suatu sistem penyakit defisiensi imunitas selular yang
didapat, yang pada penderitanya tidak ditemukan penyakit defisiensi
tersebut (FKUI, 2005 : 425).

14

15

2. Etiologi
AIDS disebabkan oleh virus yang dikenal mempunyai beberapa
nama antara lain : Human T-Cell Lymphadenopaty Virus (HTLV III),
Lymphadenopaty Associated Virus (LAV) dan ARV. Kita menyebut virus
tersebut dengan nama ilmiah HIV yang merupakan kependekan dari
Human Immunodeficiency virus. Virus ini menginfeksi suatu kelompok
khusus dan sel-sel darah putih yang disebut Helper-T Cell atau sel T
pembantu. Sel ini mempunyai fungsi pengaturan yang penting dalam
sistem kekebalan. Penghancuran fungsi sel T pembantu inilah yang
merupakan inti dari hilangnya kekebalan yang merupakan ciri khas AIDS
(Waluya Bisma Raga, 2000 : 12).
3. Cara penularan
a. Penularan lewat hubungan seksual
Dilaporkan bahwa 69% sampai 72% dari seluruh kasus AIDS di
tularkan melalui aktivitas seksual. Setiap tahun, aktivitas seksual tanpa
pelindung antara pria dan wanita mempunyai risiko infeksi HIV yang
semakin tinggi.
b. Penularan non seksual
1) Penularan lewat jarum suntik.
Kurang lebih 24% dari seluruh penduduk yang menderita
AIDS kemungkinan terinfeksi melalui jarum suntik. Di kota-kota
besar pemakaian jarum suntik merupakan jalan penularan AIDS
yang tumbuh subur.
2) Penerima transfusi darah

15

16

Transfusi darah dan benda-benda dari darah untuk kasus


pengobatan medis mempunyai jumlah kasus AIDS sekitar 5%.
3) Penularan perinatal
Infeksi HIV dapat ditularkan dari ibu ke janin selama dalam
kandungan. Model penularan yang demikian disebut sebagai pola
penularan perinatal (sebelum kelahiran) dan jumlahnya mencapai
satu dari tiap 100 kasus penderita AIDS. Penularan terjadi tidak
hanya pada saat fetus dalam uterus (rahim) tetapi juga dapat terjadi
pada saat kelahiran bayi.
(Waluya Bisma Raga, 2000 : 28-30).
c. HIV-AIDS tidak menular melalui :
1) Berjabat tangan, bersentuhan badan, bersentuhan dengan pakaian
atau barang-barang penderita AIDS.
2) Gigitan serangga
3) Berciuman pipi
4) Makanan dan minuman
5) Hidup serumah dengan penderita AIDS (asal tidak melakukan
hubungan seksual)
6) Bersama-sama berenang di kolam renang
7) Penderita AIDS bersin atau batuk didekat kita
8) Menggunakan WC yang sama
(BKKBN, 2001 : 42)
4. Tanda dan gejala
Seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan umumnya
tidak memberikan tanda dan gejala yang khas, penderita hanya mengalami
demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat

16

17

mendapat kontak virus HIV tersebut. Setelah kondisi membaik, orang


yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan
perlahan kekebalan tubuhnya menurun/lemah hingga jatuh sakit karena
serangan demam yang berulang. Satu cara untuk mendapat kepastian
adalah dengan menjalani Uji Antibodi HIV terutamnya jika seseorang
merasa telah melakukan aktivitas yang berisiko terkena virus HIV.
Adapun tanda dan gejala yang tampak pada penderita penyakit AIDS
diantaranya adalah seperti di bawah ini :
a. Saluran pernafasan. Penderita megalami nafas pendek, henti nafas
sejenak, batuk, nyeri dada dan demam seperti terserang infeksi virus
lainnya (Pneumonia). Tidak jarang diagnosa pada stadium awal HIV
AIDS diduga sebagai TBC.
b. Saluran pencernaan. Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda
dan gejala seperti hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kerap
mengalami penyakit jamur pada rongga mulut dan kerongkongan,
serta mengalami diarhea yang kronik.
c. Berat badan tubuh. Penderita mengalami hal yang disebut juga
wasting syndrome yaitu kehilangan berat badan tubuh hinggan 10%
dibwah normal karena gangguan pada sisitem protein dan energi di
dalam tubuh seperti yang dikenal sebagai malnutirsi termasuk juga
karena gangguan absorbsi atau penyerapan makanan pada sistem
pencernaan yang mengakibatkan diarhea kronik, kondisi letih dan
lemah kurang bertenaga.
d. Sistem persarafan. Terjadinya gangguan pada persarafan sentral yang
mengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi,
sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada

17

18

sistem persarafan ujung (Periferal) akan menimbulkan nyeri dan


kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang,
selalu mengalami tensi darah rendah dan impoten.
e. Sistem integumen (jaringan kulit). Penderita mengalami serangan
virus cacar air (Herpes simpleks) atau cacar api (Herpes zoster) dan
berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada
jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut
pada kulit (Folikulitis), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retakretak) serta eksima atau psoriasis.
f.

Saluran kemih dan reproduksi pada wanita. Penderita seringkali


mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini sebagai tanda awal
terinfeksi virus HIV, luka pada saluran kemih, penderita penyakit
sifilis dan dibandingkan pria maka wanita lebih banyak jumlahnya
yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita
banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelviks dikenal
sebagai istilah PID dan mengalami masa haid yang tidak teratur.
(www.scribd.com/doc/150883685/gejala-hiv-aids. Diakses tanggal 12
Juni 2010).

5. Faktor yang mempengaruhi perkembangan HIV-AIDS


a. Pengetahuan
Banyak

penderita

HIV-AIDS

di

Indonesia

dikarenakan

banyaknya generasi juga kurang diberikan pengetahuan mengenai


HIV-AIDS sehingga remaja kurang memahami penyakit berbahaya
tersebut (http://satudunia.com. Diakses tanggal 18 Juni 2010).
b. Usia.

18

19

b. Jenis kelamin.
Sebagian besar kasus HIV-AIDS ditularkan lewat hubungan
seksual antar laki-laki (homoseksual).
c. Penyalahgunaan obat intravena (IV).
Lebih dari 1,5 juta penduduk amerika menggunakan obat
intravena secara periodik dan karenanya mempunyai risiko tinggi
untuk terkena infeksi jika menggunakan jarum suntik.
(Varney H, 2007 : 153).
d. Sosial ekonomi
Manusia mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena AIDS
bukan karena ras atau etnisnya. Proporsi yang tidak seimbang antara
hispanic dan kulit hitam yang terkena AIDS terjadi pada kasus
penularan

lewat

penggunaan

jarum

suntik.

Kejadian

akibat

penggunaan obat intravena dan jarum suntik dalam beberapa penduduk


hispanic dan kulit hitam berkaitan dengan akibat status sosial ekonomi
yang rendah (Waluya Bisma Raga, 2000 : 36).
e. Pendidikan
(Waluya Bisma Raga, 2000 : 31).
6. Kelompok risiko tinggi HIV-AIDS
a. Mereka yang melakukan hubungan seksual dengan orang yang
terinfeksi HIV-AIDS.
b. Orang yang berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan yang
berisiko.
c. Orang yang mendapat transfusi darah dari orang yang tercemar virus
HIV.
d. Penyalahgunaan narkotika suntik.

19

20

e. Anak yang lahir dari ibu pengidap AIDS


(BKKBN, 2001 : 43).
7. Dampak HIV-AIDS
a. Dampak demografi
Salah satu efek jangka panjang endemi HIV dan AIDS yang telah
meluas seperti yang telah terjadi di Papua adalah dampaknya pada
indikator demografi. Karena tingginya proporsi kelompok umur yang
lebih muda terkena penyakit yang membahayakan ini, dapat
diperkirakan nantinya akan menurunkan angka harapan hidup.
b. Dampak terhadap sistem pelayanan kesehatan
Tingginya tingkat penyebaran HIV dan AIDS pada kelompok
manapun berarti bahwa semakin banyak orang menjadi sakit dan
membutuhkan jasa pelayanan kesehatan. Perkembangan penyakit yang
lamban dari infeksi HIV berarti bahwa pasien sedikit demi sedikit
menjadi lebih sakit dalam jangka waktu yang panjang, membutuhkan
semakin banyak perawatan kesehatan. Biaya langsung dari perawatan
kesehatan tersebut semakin lama semakin besar. Diperhitungkan juga
adalah waktu yang dihabiskan oleh anggota keluarga untuk merawat
pasien, dan tidak dapat melakukan aktivitas yang produktif.
c. Dampak terhadap ekonomi nasional
Mengingat HIV lebih banyak menjangkit orang muda dan
mereka yang berada pada umur produktif utama (94% pada kelompok
usia 19-49 tahun), epidemi HIV dan AIDS memiliki damnpak yang
besar pada angkatan kerja. Epidemi HIV dan AIDS akan meningkatkan

20

21

terjadinya kemiskinan dan ketidak seimbangan ekonomi yang


diakibatkan oleh dampaknya pada individu dan ekonomi.
d. Dampak terhadap tatanan sosial
Adanya stigma dan diskriminasi akan berdampak pada tatanan
sosial masyarakat. Penderita HIV dan AIDS dapat kehilangan kaih
sayang dan kehangatan pergaulan sosial. Sebagian akan kehilangan
pekerjaan dan sumber penghasilan yang pada akhirnya menimbulkan
kerawanan sosial.
(http://saveyousaveme.wordpress.com/2009/05/12/dampak-hivaidsterhadap-kehidupan. Diakses tanggal 10 Juni 2010)
8. Stadium HIV-AIDS
Secara singkat perjalanan HIV-AIDS dapat dibagi dalam 4 stadium :
a. Stadium pertama : HIV
Infeksi dimulai dengan masuknya HIV dan diikuti terjadinya
perubahan serologik ketika anti-bodi terhadap virus tersebut dan
negatif berubah menjadi positif. Rentang waktu sejak HIV masuk ke
dalam tubuh sampai tes anti bodi terhadap HIV menjadi positif disebut
window periode. Lama window periode antara 1 sampai 3 bulan,
bahkan ada yang dapat berlangsung sampai 6 bulan.
b. Stadium kedua : Asimptomatik (tanpa gejala)
Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapay HIV
tetapi tubuh tidak menunjukkan gejala-gejala. Keadaan ini dapat
berlangsung rata-rata 5-10 tahun.
c. Stadium ketiga : Pembesaran kelenjar limfe.

21

22

Fase ini ditandai dengan pembesaran kelenjar limfe secara


menetap dan merata (Persistent Generalized Lymphadenopathy), tidak
hanya muncul pada satu tempat dan berlangsung lebih dari 1 bulan.

22

23

d. Stadium keempat : AIDS


Keadaan ini disertai adanya bermacam-macam penyakit antara
lain penyakit konstitusional, penyakit saraf dan penyakit infeksi
sekunder.
(Depkes RI, 1997 : 42)
9. Pencegahan HIV-AIDS
a. Jadikan keluarga anda sebagai benteng yang kuat terhadap penularan
AIDS, sehingga menjadi keluarga sadar AIDS yaitu keluarga yang
mengetahui, menyadari dan mampu menangkal penyebaran virus HIV.
b. Tingkatkan keimanan dan ketaqwaan anda.
(BKKBN, 2001 : 43)
c. Tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
(Depkes RI, 2002 : 31).
d. Untuk mencegah penularan HIV lewat hubungan seksual ada tiga
cara :
1) Abstinensi (atau puasa, tidak melakukan hubungan seksual).
2) Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti pasangan
dan saling setia kepada pasangannya.
3) Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung
risiko, dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan
kondom.
e. Untuk mencegah penularan lewat alat-alat yang tercemar darah HIV
ada dua hal yang perlu diperhatikan :
1) Semua alat yang menembus kulit dan darah (seperti jarum suntik,
jarum tato atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan cara yang
benar.

23

24

2) Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit


bergantian dengan orang lain.
f. Untuk mencegah penularan lewat transfusi darah atau produk darah
lain, perlu skrining terhadap semua darah yang akan ditramsfusikan
atau yang akan dipergunakan untuk diproses sebagai produk darah.
Jika darah ini ternyata sudah tercemar harus dibuang. Skrining darah
sudah dilakukan oleh PMI.
g. Penularan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada janinnya tidak selalu
dapat dicegah. Tetapi ada berbagai cara untuk memperkecil risiko
penularan seperti menganjurkan ibu hamil dengan HIV positif untuk
mendapat

pengobatan

antiretroviral

dengan

harapan

dapat

memperkecil transmisi HIV ke bayi yang dikandungnya.


(Depkes RI, 1997 : 56-58)
10. Keterkaitan remaja dengan HIV/AIDS
Remaja memang paling rentan terinfeksi AIDS. Dimasa produktif
ini, segala sesuatu ingin dicoba demi mendapatkan pengalaman baru,
termasuk dalam menggunakan narkoba dan melakukan seks bebas.
Kurangnya penyuluhan, serta bimbingan langsung ke masyarakat
mengenai AIDS

memang membuat kalangan muda semakin rentan

terhadap penularan HIV/AIDS. Dalam golongan muda itu, remaja putri


merupakan golongan yang paling rentan terhadap penularan HIV/AIDS,
dan kehamilan yang tak diinginkan. Kondisi ini tercipta karena kurangnya
pengetahuan

tentang

pencegahannya

tanggal 18 Juni 2010).

24

(http://koranbali.com.

Diakses

25

E. Kerangka konseptual.
Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep
yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan
(Notoatmodjo, 2005 : 69).
Faktor-faktor yang
mempengaruhi pengetahuan :
1. Usia
2. Pendidikan
3. Pengalaman

Pengetahuan remaja putri


tentang pencegahan HIV-AIDS
Usia
Jenis kelamin

HIV-AIDS

Penyalahgunaan obat intravena

Sosial ekonomi
Pendidikan

Gambar 2.1 Kerangka konseptual gambaran pengetahuan remaja putri tentang


pencegahan HIV-AIDS di MA Al-Khoirillah Desa Padangan
Kecamatan Padangan Kabupaten Bojonegoro.
Keterangan :
: Diteliti
: Tidak diteliti

25

26

Penjelasan :
Dari kerangka konseptual pada gambar 2.1 menunjukkan faktor-faktor yang
mempengaruhi

perkembangan

HIV/AIDS

yaitu

usia,

jenis

kelamin,

penyalahgunaan obat intravena, sosial ekonomi, pendidikan dan pengetahuan


tentang pencegahan HIV/AIDS. Sedangkan gambaran pengetahuan remaja putri
tentang pencegahan HIV-AIDS dipengaruhi oleh faktor usia, pendidikan dan
pengalaman. Variabel yang diteliti adalah pengetahuan remaja putri tentang
pencegahan HIV/AIDS.

26