Anda di halaman 1dari 21

DORMANSI BIJI

JURNAL

Oleh:
SAMUEL MANGARATUA SITUMORANG
150301146
AGROEKOTEKNOLOGI 3B

LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
Adapun judul dari jurnal ini adalah Dormansi Biji yang merupakan
salah satu syarat untuk dapat komponen penilaian di Laboratorium Botani,
Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara,
Medan
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada

Ir.

Meiriani, M.P.; Prof. Dr. Ir. J.A Napitupulu, M.Sc.; Ir. Haryati MP.;

Ir.

Lisa Mawarni, M.P.; Ir. Ratna Rosanty Lahay, M.P.;

Ir.

Revandy I.M. Damanik, M.Sc. selaku dosen mata kuliah serta kepada para asisten
yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan jurnal ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna. Oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Semoga laporan ini
bermanfaat.

Medan, April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Praktikum
Kegunaan Penulisan
TINJAUAN PUSTAKA
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Praktikum
Bahan dan Alat
Prosedur Percobaan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pembahasan
KESIMPULAN
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dormansi biji adalah ketidak mampuan benih hidup untuk berkecambah
pada lingkungan yang optimum. Dormansi dapat disebabkan oleh keadaan fisik
dari kulit benih, keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan
tersebut. Namun demikian dormansi bukan berarti benih tersebut mati atau tidak
dapat tumbuh kembali (Masriono, 2007).
Dorman artinya tidur atau beristirahat. Para ahli biologi menggunakan
istilah itu untuk tahapan siklus hidup, seperti biji dorman, yang memiliki laju
metabolisme yang sangat lambat dan sedang tidak tumbuh dan berkembang.
Dormansi pada biji meningkatkan peluang bahwa perkecambahan akan terjadi
pada waktu dan tempat yang paling menguntungkan bagi pertumbuhan biji.
Pengakhiran periode dormansi umumnya memerlukan kondisi lingkungan yang
tertentu, biji tumbuhan gurun, misalnya hanya berkecambah setelah hujan rintikrintik yang sedang, tanah mungkin akan terlalu cepat kering sehingga tidak dapat
mendukung pertumbuhan biji (Campbell, 2000).
Penyebab dan mekanisme dormansi merupakan hal yang sangat penting
diketahui untuk dapat menentukan cara pematahan dormansi yang tepat sehingga
benih dapat berkecambah dengan cepat dan seragam. Masa dormansi tersebut
dapat dipatahkan dengan skarifikasi mekanik maupun kimiawi. Studi beberapa
perlakuan pematahan dormansi belum memberikan hasil yang memuaskan
khususnya pada benih tanaman perkebunan (Irwanto, 2006).

Dormansi juga dapat didefinisikan sebagai suatu pertumbuhan dan


metabolisme yang terpendam, dapat disebabkan oleh lingkungan yang tidak baik
atau oleh faktor dari dalam tumbuhan itu sendiri. Seringkali jaringan yang dorman
gagal tumbuh meskipun berada dalam kondisi yang ideal (Latunra, 2011).
Dalam pengujian benih, salah satu persyaratan tumbuh yang paling
penting adalah substrat atau media tumbuh benih. Salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi perkecambahan benih adalah media perkecambahan. Pada
beberapa benih tertentu, substrat perkecambahan dapat menyebabkan benih
menjadi dorman (enforced dormancy). Dilain pihak juga bisa mempersingkat
waktu after-rifening. Perbedaan substrat perkecambahan dapat mengurangi
konsentrasi KNO3 yang dibutuhkan agar dapat mematahkan dormansi biji (Sapto,
2002).
Dormansi dapat dipandang sebagai salah satu keuntungan biologis dari
benih dalam mengadaptasikan siklus pertumbuhan tanaman terhadap keadaan
lingkungannya, baik musim maupun variasi variasi yang kebetulan terjadi.
Sehingga secara tidak langsung benih dapat menghindarkan dirinya dari
kemusnaan alam. Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari,
semusim, bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe
dari dormansinya. Pertumbuhan tidak akan terjadi selama benih belum melalui
masa dormansinya, atau sebelum dikenakan suatu perlakuan khusus terhadap
benih tersebut (Subarjono, 1998).
Metode pematahan dormansi yang efektif dibedakan berdasarkan
penyebabnya, sebab metode yang satu belum tentu bias digunakan untuk metode
pematahan dormansi penyebab yang lain. Metode pematahan dormansi yang

disebabkan factor fisik adalah skarifikasi yaitu pelukaaan kulit benih agar air dan
nutrisi bias masuk kedalam benih. Sedang kanpematahan dormansi factor
fisiologis

pada

kasus

after-ripening

adalah

dengan

perendaman

dengansenyawakimiatertentu (Wahyuningsih, 2009)


Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari jurnal ini adalah untuk mengenal berberapa tipe-tipe
dormansi, pengaruh kulit biji yang keras terhadap perkecambah dan mengetahui
pengaruh bahan-bahan kimia dan fisika terhadap perkecambahan biji.
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan jurnal ini adalah sebagai salah satu syarat untuk
memenuhi komponen penilaian praktikum di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan
Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai sumber informasi bagi pihak
yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Dormansi benih dapat disebabkan antara lain adanya impermeabilitas
kulit benih terhadap air dan gas (oksigen), embrio yang belum tumbuh secara
sempurna. Hambatan mekanis kulit benih terhadap pertumbuhan embrio, belum
terbentuknya zat pengatur tumbuh atau karena ketidakseimbangan antara zat
penghambat dengan zat zat pengatur tumbuh di dalam embrio (Waluyo, 2004).
Dormansi didefinisikan sebagai status di mana benih tidak berkecambah
walaupun pada kondisi lingkungan yang ideal untuk perkecambahan. Beberapa
mekanisme dormansi terjadi pada benih baik fisik maupun fisiologi, termasuk
dormansi primer dan sekunder. Intensitas dormansi dipengaruhi oleh lingkungan
selama perkembangan benih. Lamanya (persistensi) dormansi dan mekanisme
dormansi berbeda antar spesies dan antar genotipe. Dormansi pada spesies tertentu
mengakibatkan benih tidak berkecambah di dalam tanah selama beberapa tahun
beberapa spesies memiliki dormansi sebagai strategi untuk mempertahankan diri
dan menyebarluaskan wilayah adaptasinya (Yahya, 2010).
Ada beberapa cara pematahan dormansi yang telah diketahui adalah
dengan perlakuan mekanis diantaranya yaitu dengan Skarifikasi. Skarifikasi
mencakup cara-cara seperti mengkikir/menggosok kulit biji dengan kertas amplas,
melubangi kulit biji dengan pisau, memecah kulit biji maupun dengan perlakuan
goncangan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus. Tujuan dari perlakuan
mekanis ini adalah untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih
permeabel terhadap air atau gas (Saleha, 2008).
Upaya yang dapat dilakukan untuk mematahkan dormansi benih berkulit
keras adalah dengan skarifikasi mekanik. Skarifikasi merupakan salah satu

proses yang dapat mematahkan dormansi pada benih keras karena meningkatkan
imbibisi benih. Skarifikasi mekanik dilakukan dengan cara melukai benih
sehingga terdapat celah tempat keluar masuknya air dan oksigen. Teknik yang
umum dilakukan pada perlakuan skarifikasi mekanik yaitu pengamplasan,
pengikiran, pemotongan, dan penusukan jarum tepat pada bagian titik tumbuh
sampai terlihat bagian embrio (perlukaan selebar 5 mm). Skarifikasi mekanik
memungkinkan air masuk ke dalam benih untuk memulai berlangsungnya
perkecambahan. Skarifikasi mekanik mengakibatkan hambatan mekanis kulit
benih untuk berimbibisi berkurang sehingga peningkatan kadar air dapat terjadi
lebih cepat sehingga benih cepat berkecambah. Pelaksanakan teknik skarifikasi
mekanik harus hati-hati dan tepat pada posisi embrio berada. (Fajri, 2013).
Dormansi benih disebabkan oleh faktor fisik dan fisiologi. Faktor fisiologi
contohnya embrio rudimenter, keseimbangan hormonal, dan fenomena afterripening. Fenomena after-ripening terjadi pada benih padi yaitu keadaan di mana
benih tidak mampu berkecambah ketika baru dipanen dan baru dapat
berkecambah setelah melampaui periode penyimpanan kering. Faktor fisik
meliputi impermeable terhadap air dan gas, kulit benih tebal dan keras, benih
mengandung inhibitor, dan adanya penghambatan mekanik (Fikri, 2008).
Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan
kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan
dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi
digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi
digunakan untuk mengatasi dormansi embry (Yeni, 2005).

Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang


internal dan eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan
keseimbangan antara promotor dan inhibitor perkecambahan, terutam asam
giberelin (GA) dan asam absisat (ABA). Faktor eksternal yang merupkan ekologi
perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban, cahaya dan adanya senyawasenyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan
(Mayer,1975).
Perlakuan perendaman dengan air juga dapat dilakukan perlakuan
perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh
benih. Caranya yaitu : dengan memasukkan benih ke dalam air panas pada suhu
60 - 70 0C dan dibiarkan sampai air menjadi dingin, selama beberapa waktu.
Untuk benih apel, direndam dalam air yang sedang mendidih, dibiarkan selama 2
menit lalu diangkat keluar untuk dikecambahkan (Widhityarini, 2013).
Perlakuan dengan suhu, cara yang sering dipakai adalah dengan memberi
temperatur rendah pada keadaan lembap (Stratifikasi). Selama stratifikasi terjadi
sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat menghilangkan bahan-bahan
penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-bahan yang
merangsang pertumbuhan. Kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis
tanaman,
Perlakuan

bahkan
dengan

antar
cahaya,

varietas
cahaya

dalam

berpengaruh

satu
terhadap

famili.
prosentase

perkecambahan benih dan laju perkecambahan. Pengaruh cahaya pada benih


bukan saja dalam jumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan
panjang hari (Junaidi, 2011).

Perlakuan dengan menggunakan bahan kimia sering pula digunakan untuk


mematahkan dormansi pada benih yang mengalami masa dormansi karena faktor
fisik. Dormansi dapat diatasi dengan melakukan berbagai perlakuan seperti
pemarutan atau pemarutan atau penggoresan, yaitu dengan cara menghaluskan
kulit benih agar dapat dilalui air dan udara. Melepaskan kulit benih dari sifat
kerasnya, sehingga terjadi lubang-lubang yang memudahkan air dan udara
melakukan aliran yang memacu perkecambahan. Perusakan strophiole benih yang
menyumbat masuknya air, dan pemberian bahan kimia seperti pemberian larutan
KNO3 dengan tujuan mendinginkan permukaan pada biji dan H2SO4 untuk
melunakkan biji (Mahmud, 2011).
Tipe-tipe dormansi dapat dibedakan menjadi 1. Dormansi fisiologis atau
embrio yang belum berkembang; 2. Dormansi mekanis, dapat terlihat ketika
pertumbuhan embrio secara fisik dihalangi struktur kulit benih yang keras;
3. Dormansi fisik, disebabkan oleh kulit biji yang keras dan impermeable;
4. Zat-zat penghambat; 5. Dormansi cahaya;
gabungan (Winarni, 2009).

6. Dormansi suhu; dan 7. Dormansi

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Prktikum
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan ketinggia tempat 25 mdpl pada
hari Kamis, 24 Maret 2016 pada pukul 15.00-16.40 WIB.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah biji jarak
(Ricinus communis Linn.), biji flamboyan (Delonix regia L.), biji lengkeng
(Euphorbia longan Lour.) masing-masing 20 buah yang digunakan sebagai objek
pengamatan untuk pematahan dormansi dengan faktor biji keras, 1 buah tomat
(Solanum lycopersicum L.) yang utuh dengan jumlah biji 30 buah yang digunakan
sebagai objek pengamatan untuk pematahan dormansi secara kimiawi, aquades
dan larutan coumarin untuk merendam biji tomat, asam sulfat (H 2SO4) untuk
melunakkan biji, KNO3 digunakan untuk mendinginkan permukaan biji, kertas
pasir halus untuk mengkikis kulit biji, kertas merang digunakan untuk melapisi
cawan petri, pasir untuk media perkecambahan, karet gelang, dan label digunakan
untuk menandai setiap perlakuan.
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri yang
digunakan untuk media perkecambahan biji tomat, gelas beker untuk tempat
perendaman biji dan bak perkecambahan untuk media perkecambahan.
Prosedur Percobaan
A. Kulit biji yang keras :
1. Disiapkan bak perkecambahan, isi dengan pasir.
2. Dipilih 16 biji Flamboyan , Jarak dan Lengkeng lalu diberi perlakuan :

a. Direndam 2 biji dalam air destilata dingin selama 1 jam


b. Direndam 2 biji dalam air yang baru didihkan dan biarkan sampai airnya
dingin.
c. Dikikir atau asah 2 biji dengan kertas pasir halus dekat embrio, sampai
tampak kotiledonnya. Rendan dalam air destilata selama 1 jam.
d. Dikikir atau asah 2 biji pada jarak 90 dengan embrio sampai tampak
kotiledonnya. Rendam dalam air destilata selama 1 jam.
e. Dikikir atau asah 2 biji pada jarak 180 dengan embrio sampai tampak
kotiledonnya. Rendam dalam air destilata selama 1 jam.
f. Dikikir atau asah 2 biji pada jarak 180 dengan embrio sampai tampak
kotiledonnya. Rendam dalam larutan GA3 300 ppm.
g. Direndam 2 biji dalam larutan H2SO4 5 cc/l air selama 15 menit.
h. Direndam 2 biji dalam larutan KNO3 5 cc/l air selama 15 menit.
3. Ditanam pada bak pasir yang sudah disiram air dengan kedalaman 1 cm.
4. Ditempatkan pada tempat gelap pada suhu kamar/ruang
5. Diperiksa setiap hari selama 1 minggu, siram bila media perkecambahan
kering dan catat perkembangannya. Bandingkan satu perlakuan dengan
perlakuan lainnya.
B. Faktor-faktor kimiawi :
1. Disediakan 3 buah cawan petri yang telah dilapisi dengan kertas merang
2. Dibelah buah tomat, ambil cairan ekstrak buah tomat tersebut.
3. Diambil 30 buah biji tomat tersebut :
a. Dietakkan 10 biji tomat tanpa dicuci + larutan ekstrak tomat pada cawan 1.
b. Diletakkan 10 biji tomat yang dicuci air destilata + air destilata cawan 2.

c. Diletakkan 10 biji tomat yang sudah dicuci air destilata + larutan Coumarin
40 mg/liter pada cawan 3.
4. Ditutup cawan, beri label dan letakkan pada tempat gelap pada suhu
kamar/ruang.
5. Diamati persentase perkecambahan setiap hari selama 1 minggu.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Faktor Kimiawi
Biji Berkecambah

Perlakuan
Biji Tomat
Air Destilata
Ekstrak Buah
Tomat
Larutan
Coumarin

Total

90%

80%

Faktor kulit biji yang keras


Data pengamatan hari 1
BIJI
Dekat
embrio
Flamboyan
Jarak
Lengkeng

0
0
0

BIJI BERKECAMBAH
Dikikir
Air
Air
Panas Dingin
90 dr
180
180
Embrio
dr
dr
embrio embrio
+ GA3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

H2SO4

KNO3

0
0
0

0
0
0

H2SO4

KNO3

0
0
0

0
0
0

Data pengamatan hari ke 2


BIJI
Dekat
embrio
Flamboyan
Jarak
Lengkeng

1
1
0

BIJI BERKECAMBAH
Dikikir
Air
Air
Panas Dingin
90 dr
180 dr
180
Embrio
embrio
dr
embrio
+ GA3
1
0
1
0
1
1
0
1
0
0
0
0
0
0

Data pengamatan hari 3


BIJI

Flamboyan
Jarak
Lengkeng

Dikikir

BIJI BERKECAMBAH
Air
Air
Panas Dingin

Dekat
embrio

90 dr
Embrio

180
dr
embrio

1
1
0

0
1
0

1
2
0

180
dr
embrio
+ GA3
0
0
0

1
1
0

0
1
0

H2SO4

KNO3

0
0
0

H2SO4

KNO3

0
0

Data pengamatan hari 4


BIJI

Flamboyan
Jarak
Lengkeng

Dikikir

BIJI BERKECAMBAH
Air
Air
Panas Dingin

Dekat
embrio

90 dr
Embrio

180
dr
embrio

1
1

1
2

180
dr
embrio
+ GA3
0
0
0

1
1

0
0

H2SO4

KNO3

Data pengamatan hari 5


BIJI BERKECAMBAH
Dikikir
Air
Air
Panas Dingin

BIJI

Flamboyan
Jarak
Lengkeng

Dekat
embrio

90 dr
Embrio

180
dr
embrio
1
2

180
dr
embrio
+ GA3
0
0

1
1

0
2

1
1

0
1

H2SO4

KNO3

Data pengamatan hari 6


BIJI

Dikikir
Dekat

90 dr

BIJI BERKECAMBAH
Air
Air
Panas Dingin
180

180

Flamboyan
Jarak

embrio

Embrio

dr
embrio

2
1

1
2

Lengkeng
0
Data pengamatan hari 7
BIJI
Dekat
embrio
Flamboyan
Jarak
Lengkeng

2
1
0

1
2

dr
embr
io +
GA3
0
0

2
1

0
1

BIJI BERKECAMBAH
Dikikir
Air
Air
Pana Dingin
90 dr
180
180
s
Embrio
dr
dr
embrio embrio
+ GA3
2
1
0
2
0
2
2
0
1
1
0
1
0
0
0

2
0

H2SO4

KNO3

0
2
2

1
0

Pembahasan
Dari praktikum yang dilakukan dapat kita ketahui bahwa dormansi
didefinisikan sebagai status di mana benih tidak berkecambah walaupun pada
kondisi lingkungan yang ideal untuk perkecambahan. Beberapa mekanisme
dormansi terjadi pada benih baik fisik maupun fisiologi, termasuk dormansi
primer dan sekunder. Hal ini sesuai dengan literatur yahya (2010) yang
menyatakan bahwa dormansi didefinisikan sebagai status di mana benih tidak
berkecambah

walaupun

pada

kondisi

lingkungan

yang

ideal

untuk

perkecambahan. Beberapa mekanisme dormansi terjadi pada benih baik fisik


maupun fisiologi, termasuk dormansi primer dan sekunder.
Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk mematahkan dormansi benih
berkulit keras adalah dengan skarifikasi mekanik. Hal ini sesuai dengan literatur
Fajri (2013) yang menyatakan bahwa Skarifikasi merupakan salah satu proses
yang dapat mematahkan dormansi pada benih keras karena meningkatkan

imbibisi benih. Skarifikasi mekanik dilakukan dengan cara melukai benih


sehingga terdapat celah tempat keluar masuknya air dan oksigen. Teknik yang
umum dilakukan pada perlakuan skarifikasi mekanik yaitu pengamplasan,
pengikiran, pemotongan, dan penusukan jarum tepat pada bagian titik tumbuh
sampai terlihat bagian embrio (perlukaan selebar 5 mm).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dormansi biji diantaranya
disebabkan oleh faktor fisik dan fisiologi. Hal ini sesuai dengan literatur
Fikri (2008) yang menyatakan bahwa Faktor fisiologi contohnya embrio
rudimenter, keseimbangan hormonal, dan fenomena after-ripening. Fenomena
after-ripening terjadi pada benih padi yaitu keadaan di mana benih tidak mampu
berkecambah. Faktor fisik meliputi impermeable terhadap air dan gas, kulit benih
tebal dan keras, benih mengandung inhibitor, dan adanya penghambatan mekanik.
Ada beberapan tipe dormansi pada biji yaitu karena kulit biji yang keras,
adanya penghambat kimiawi, perlu mendapat perlakuan cahaya dengan panjang
gelombang tertentu, perlu mendapat perlakuan suhu yang rendah yaitu 5-10 oC
selama periode tertentu. Hal ini sesuai dengan literatur Winarni (2009) yang
menyatakan bahwa Tipe-tipe dormansi dapat dibedakan menjadi 1. Dormansi
fisiologis atau embrio yang belum berkembang; 2. Dormansi mekanis, dapat
terlihat ketika pertumbuhan embrio secara fisik dihalangi struktur kulit benih yang
keras; 3. Dormansi fisik, disebabkan oleh kulit biji yang keras dan impermeable;
4. Zat-zat penghambat; 5. Dormansi cahaya;

6. Dormansi suhu; dan 7. Dormansi

gabungan.
Dari praktikun yang dilakukan dapat kitaketahui pematahan dormansi
adalah cara yang dilakukan untuk mempercepat proses perkecambahan. Hal ini

sesuai dengan literatur Saleha (2008) yang menyatakan bahwa Ada beberapa cara
pematahan dormansi yang telah diketahui adalah dengan perlakuan mekanis
diantaranya yaitu dengan Skarifikasi. Dengan perlakuan kimia, perlakuan ini
bertujuan menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki air pada waktu proses
imbibisi. Perlakuan perendaman dengan air juga dapat dilakukan perlakuan
perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh
benih. Perlakuan dengan suhu, cara yang sering dipakai adalah dengan memberi
temperatur rendah pada keadaan lembap (Stratifikasi).
Dari praktikum yang dilakukan kita ketahui bahwa asam sulfat (H 2SO4)
untuk melunakkan biji, KNO3 digunakan untuk mendinginkan permukaan biji,
penambahan zat- zat tersebut dilakukan sebagai parameter perbedaan proses
dormansi berdasarkan tipe- tipenya. Hal ini sesuai dengan literatur Mahmud
(2011) yang enyatakan bahwa. Dormansi dapat diatasi dengan melakukan
berbagai perlakuan seperti pemarutan atau pemarutan atau penggoresan, yaitu
dengan cara menghaluskan kulit benih agar dapat dilalui air dan udara.
Melepaskan kulit benih dari sifat kerasnya, sehingga terjadi lubang-lubang yang
memudahkan air dan udara melakukan aliran yang memacu perkecambahan.
Perusakan strophiole benih yang menyumbat masuknya air, dan pemberian bahan
kimia seperti pemberian larutan KNO3 dengan tujuan mendinginkan permukaan
pada biji dan H2SO4 untuk melunakkan biji.

KESIMPULAN
1. Dormansi diartikan sebagai status di mana benih tidak berkecambah
2.

walaupun pada kondisi lingkungan yang ideal untuk perkecambahan.


Ada beberapa cara pematahan dormansi diantaranya dengan perlakuan
mekanis diantaranya yaitu dengan Skarifikasi. Dengan perlakuan kimia,.

3.

Perlakuan perendaman dengan air. Perlakuan dengan suhu.


Fungsi larutan H2SO4 ialah untuk melunakkan biji yang keras, dan fungsi

4.

larutan KNO3 yaitu untuk mendinginkan permukaan biji.


Tipe-tipe dormansi dapat dibedakan menjadi 1. Dormansi fisiologis atau
2.

Dormansi mekanis 3. Dormansi fisik 4. Zat-zat penghambat 5.

Dormansi cahaya 6. Dormansi suhu 7. Dormansi gabungan.


5. Skarifikasi merupakan salah satu proses yang dapat mematahkan
dormansi pada benih keras karena meningkatkan imbibisi benih.
Skarifikasi mekanik dilakukan

dengan cara melukai benih sehingga

terdapat celah tempat keluar masuknya air dan oksigen.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A. Jane B. Reece and Lawrence G. Mitchell. 2000. Biologi. edisi 5.
jilid 3. Alih
Bahasa: Wasman manalu. Erlangga. Jakarta.

Fajri, A. 2013. Studi Pematahan Dormansi Dan Periode After-Ripening Padi


Gogo Lokal Gorontalo. Disertasi IPB, Bogor.
Fikri, M. 2008. Seed Dormancy-Breaking and Germination requirements of
Drosera anglica, an Insectivorous Species of The Northern
Hemisphere. Acta Oecologica 22 : 1-8
Irwanto,S. 2006. Pedoman Budidaya Tanaman Jarak Pagar. Direktorat Budidaya
Tanaman Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan. Departemen
Pertanian.
Junaidi, Z.I. 2011. Studi Perlakuan Pematahan Dormansi Benih Dengan
Skarifikasi Mekanik Dan Kimiawi. Balai Besar Perbenihan dan
Proteksi Tanaman Perkebunan, Surabaya.
Lantura, N. 2011. Pematahan Dormansi dan Viabilitas Benih Aren (Arenga
pinnata Merr) pada Berbagai Tingkat Konsentrasi dan Lama
Perendaman Gibberellin. Tesis Universitas Lambung Mangkurat,
Lampung.
Mahmud, S. 2011. Ilmu dan Teknologi Benih, Teori dan hasil-hasil penelitian.
Diktat Mata Kuliah Ilmu dan Teknologi Benih, Program Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor
Masriono, 2007. Pengembangan Tanaman Jarak (Jatropha curcas L) Sebagai
Sumber Bahan Bakar Alternatif.
Mayer, T. 1975. Pengaruh Skarifikasi Pada Pola Imbibisi Dan Perkecambahan
Benih Saga Manis (Abruss precatorius L.). J. Agrotek Tropika 1(1): 45
49.
Saleha. 2008. Dormancy breaking and germination of Prangos ferilaceae seeds.
EurAsian Journal of Biosciences No. 3 : 78-83.
Sapto, R. 2002. Pengaruh perlakuan deoperkulasi dan media perkecambahan
untuk meningkatkan viabilitas benih aren (Arenga pinnata (Wurmb.)
Merr.). Buletin Agronomi 36 (1) 33 40.
Subarjono. 1998. Pengaruh Skarifikasi dan Media Tumbuh Terhadap Viabilitas
Benih dan Vigor Kecambah Aren. Jurnal Agroland 15 (3) : 182-190.

Wahyuningsih. 2009. Pengaruh Lama Perendaman dan Pemanasan Terhadap


Viabilitas Benih Kelapa Sawit. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Waluyo. 2004. Teknologi Benih. Rajawali Press; Jakarta.
Widhityarini. 2013. Pematahan Dormansi Benih Tanjung Dengan Skarifikasi Dan
Perendaman Kalium Nitrat.
Winarni, T, B. 2009. Pengaruh Perlakuan Pendahuluan dan Berat Benih Terhadap
Perkecambahan Benih Kayu Afrika (Maesopsis eminii Engl.). Skripsi.
Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Yahya, L.2010. Teknologi Benih. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Yeni, M, S. 2005. Menuju Tata Kelola Hutan yang Baik:Peningkatan
Implementasi Pengelolaan Hutan Lestari Melalui Sertifikasi Hutan
dan Pembalakan Ramah Lingkungan (Reduced Impact Logging
RIL).CIFOR.Bogor.