Anda di halaman 1dari 3

Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin)

1. Pengertian
Bacillus Calmette Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari
Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga
didapatkan

hasil

imunogenitas.

yang

tidak

Vaksinasi

BCG

virulen

tetapi

menimbulkan

masih

mempunyai

sensitivitas

terhadap

tuberkulin, tidak mencegah infeksi tuberkulosis tetapi mengurangi risiko


terjadi tuberkulosis berat seperti meningitis TB dan tuberculosis milier
(Ranuh,2008,p.132).
2. Cara pemberian dan dosis:
a. Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu.
Melarutkan dengan mengggunakan alat suntik steril Auto Distruct
Scheering (ADS) 5 ml.
b. Dosis untuk bayi < 1 tahun adalah 0,05 ml dan anak 0,10 ml
c. Disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertion
musculus deltoideus). Dengan menggunakan Auto Distruct Scheering
(ADS) 0,05 ml atau 0,1 ml
d. Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam.
3. Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberculosis.
4. Kontra indikasi:
a. Adanya penyakit kulit yang berat/menahun seperti: eksim, furunkulosis
dan sebagainya.
b. Mereka yang sedang menderita TBC.
c. Reaksi uji tuberkulin > 5 mm
d. Menderita HIV, imunokompromais akibat pengobatan steroid jangka
panjang, obat imunosupresif, mendapat pengobatan radiasi, penyakit
keganasan yang mengenai sumsum tulang / limfe
e. Gizi buruk, menderita demam tinggi, menderita infeksi kulit yang luas,
kehamilan.

Pada bayi kontak erat penderita TB dg BTA (+) diberikan profilaksis INH
dulu. Bila sudah tenang baru diberikan.
5. Efek samping
Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti
deman. Setelah 1-2 minggu akan timbul indurasi dan kemerahan
ditempat suntikan yang berubah menjadi pustule, kemudian pecah
menjadi luka. Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan
dan meninggalkan tanda parut. Kadang-kadang terjadi pembesaran
kelenjar regional di ketiak dan atau leher, terasa padat, tidak sakit dan
tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal, tidak memerlukan
pengobatan dan akan menghilang dengan sendirinya (Departemen
Kesehatan RI,2006,p.21-22).
6. Waktu Pemberian
BCG diberikan pada bayi sebelum usia 2 bulan. Apabila BCG diberikan
pada umur >3bulan, sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu.
BCG ulangan tidak dianjurkan oleh karena manfaatnya diragukan
mengingat (1) efektivitas perlindungan hanya 40%, (2) 70% kasus TBC
berat (meningitis) ternyata mempunyai parut BCG, dan (3) kasus dewasa
dengan BTA (bakteri tahan asam) positif di Indonesia cukup tinggi (2536%) walaupun mereka telah mendapat BCG pada masa kanak-kanak.
Uji Tuberkulin
Uji kulit tuberkulin (yang juga disebut uji Mantoux) merupakan salah
satu jenis uji yang digunakan untuk mendiagnosa TB. Penggunaan uji
tuberkulin yang utama adalah untuk mengetahui orang yang terinfeksi
dengan kuman TB, tetapi belum mengidap penyakit yang aktif. Keadaan
yang demikian disebut infeksi TB laten. Tidak semua orang yang mengidap
infeksi TB laten akan terkena penyakit aktif. Tuberkulin adalah protein murni
yang dihasilkan dari kuman TB (tetapi tidak mengandung kuman TB aktif).
Penilaian uji tuberkulin dilakukan 4872 jam setelah penyuntikan dan diukur
diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi. Reaksi positif yang
muncul setelah 96 jam masih dianggap valid. Bila pasien tidak kontrol dalam
96 jam dan hasilnya negative maka tes Mantoux harus diulang.

Hasil pemeriksaan uji tuberculin


1. Pembengkakan (Indurasi) : 04mm,uji mantoux negatif. Arti klinis : tidak ada infeksi
Mikobakterium tuberkulosa.
2. Pembengkakan (Indurasi) : 39mm,uji mantoux meragukan. Hal ini bisa karena kesalahan
teknik, reaksi silang dengan Mikobakterium atipik atau setelah vaksinasi BCG.
3. Pembengkakan (Indurasi) : 10mm,uji mantoux positif. Arti klinis : sedang atau pernah
terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa.

Daftar Pustaka
Department of Health. 2013. Uji Kulit Tuberkulin. Versi 2. Indonesia:
Queensland Government
Ranuh,I.G.N. 2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ketiga.Jakarta: Badan Penerbit Ikatan
Dokter Anak Indonesia
Satgas Imunisasi IDAI. 2000. Petunjuk Praktik Jadwal Imunisasi Rekomendasi
IDAI. Vol.2 No.1. Jakarta: Sari Pediatri FKUI-RSCM