Anda di halaman 1dari 16

Marketing Rumah Sakit

marketingkesehatan
Memelihara Hubungan dengan Channel
Salah satu kunci dari marketing di rumah sakit adalah dengan mengenali darimana asal
pasien. Ketika anda memulai menjalankan di rumah sakit, maka data asal pasien harus
sudah anda pegang. Karena dari data inilah strategi dan program marketing dapat
ditentukan dengan lebih akurat.
Setelah mengetahui asal pasien, maka sebaiknya kita membuat gambaran kemana pasien
tersebut sebelum datang ke rumah sakit kita. Dalam marketing, istilah tersebut dikenal
dengan channel. Misalkan, sebelum datang ke rumah sakit kita, pasien datang ke dokter
praktek pribadi, klinik, atau rumah sakit kecil yang ada di tempat tinggalnya. Maka channel
rumah sakit kita adalah dokter praktek pribadi, klinik, atau rumah sakit kecil tersebut.
Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan channel tersebut. Beberapa diantaranya adalah :
1. Memberikan informasi kepada channel agar lebih memahami produk layanan kita.
Informasi ini menjadi sangat penting, karena dengan informasi tersebut, maka petugas di
rumah sakit yang menjadi channel kita dapat menyampaikan informasi tersebut kepada
pasien mereka.
2. Menjalin hubungan kerjasama dengan channel. Rumah sakit, klinik dan dokter bisa kita
ajak kerjasam dengan prinsip yang saling menguntungkan.
3. Memberikan pelatihan. Pelatihan yang diberikan bisa disesuaikan dengan layanan yang
ada di rumah sakit kita. Sebagai contoh, apabila kita memiliki layanan bedah orthopaedi
yang lengkap, maka kita dapat memberikan pelatihan kepada petugas di rumah sakit lain
tentang bagaimana awal penanganan pasien dengan patah tulang sebelum dikirim ke
rumah sakit kita.
4. Meminjamkan peralatan. Rumah sakit yang menjadi channel kita dapat kita berikan
pinjaman peralatan dengan skema kerjasama yang saling menguntungkan. Misalkan, rumah
sakit kita memiliki alat bedah syaraf yang lengkap, kemudian kita meminjamkan CT-Scan, ke
rumah sakit yang lebih kecil, sehingga rumah sakit tersebut dapat mendiagnosis dengan
lebih baik, selanjutnya untuk pasien yang mengalami cedera kepala dapat dikirimkan ke
rumah sakit kita.
Apapun langkah yang akan anda ambil, binalah hubungan dengan channel trsebut dengan
menggunakan prinsip yang saling menguntungkan, dan hubungan jangka panjang.

Memanfaatkan Media sosial untuk Mensosialisasikan Produk RS


Anda
Saat ini di internet sedang booming media sosial. Sebut saja facebook, friendster, youtube,
dan myspace. Selain itu banyak sekali media sosial yang lain.

Media sosial ini ternyata banyak sekali manfaatnya bagi kita yang ingin mensosialisasikan
produk layanan kesehatan. Berbeda dengan website, kalau kita menggunakan website
maka pengunjung masih harus browsing dan mencari terlebih dahulu informasi yang
diinginkan. Tetapi dengan menggunakan media sosial, semisal facebook maka customer kita
akan mendapatkan informasi langsung ke account mereka. Hal ini sesuai dengan konsep
marketing di dunia kesehatan dimana kita menawarkan sesuatu kepada orang yang
mungkin sedang tidak membutuhkan produk layanan yang kita tawarkan tersebut. Sehingga
tujuan akhirnya adalah bagaimana produk yang kita tawarkan tertancap di benak customer
kita sehingga ketika customer membutuhkan layanan kesehatan yang kita tawarkan, maka
cutomer akan datang dan menggunakan layanan tersebut.
Untuk memulai menggunakan media sosial sebenarnya tidaklah sulit.
Misalnya kalau anda ingin menggunakan facebook, anda cukup log in di
www.facebook.com. Kemudian anda registrasi dan selesai. Anda bisa mulai menyebarkan
informasi tentang produk layanan kesehatan anda melalui facebook account anda. Anda
juga bisa membuat page tentang RS anda, membuat group discussion, cause, quiz, dan
lain-lain.
Salah satu faktor penting untuk menggunakan media sosial adalah konsistensi. Setiap hari
kita harus rajin mengupdate status kita untuk menyampaikan informasi terbaru tentang RS
kita. Tetapi keunggulannya adalah kita bisa nampak nyata bagi customer kita, sehingga
informasi yang kita sampaikan akan menempel di benak customer.
Menggunakan media sosial untuk sarana marketing sebenarnya sangat mudah. Tetapi
apabila anda membutuhkan tips dan tutorial langkah-langkah untuk memasarkan produk
layanan kesehatan anda melalui media sosial, silakan hubungi saya di
ronov.ronov@gmail.com. Penggunaan media sosial ini tidak hanya untuk RS tetapi juga bisa
untuk mensosialisasikan praktek dokter.

Co Branding
Salah satu upaya pemasaran yang cukup efektif adalah dengan melakukan co branding. Co
branding adalah apabila dua perusahaan mengadakan kegiatan marketing bersama-sama
untuk menciptakan sinergi. Dengan adanya co branding ini maka brand image suatu
perusahaan diharapkan dapat terangkat oleh brand image perusahaan yang lain. Co
branding ini telah banyak dilakukan oleh banyak perusahaan yang lain. Sebagai contoh
adalah co branding antara laptop toshiba dengan procesor intel. Dengan adanya co
branding ini, maka brand intel akan terangkat karena dipercaya oleh perusahaan sebesar
toshiba, demikian pula sebaliknya brand toshiba juga terangkat karena menggunakan
prosesor yang baik, yaitu intel.
Co branding juga merupakan upaya yang bisa ditempuh dalam memasarkan rumah sakit
atau lembaga kesehatan yang lain. Hal ini sedikit banyak akan dapat menyiasati berbagai
pertimbangan regulasi dan etik yang sering membatasi inovasi upaya marketing di rumah

sakit. Selain itu, upaya co branding ini juga sangat bermanfaat apabila anggaran pemasaran
di rumah sakit anda terbatas. Dengan adanya co branding ini, maka biaya atas suatu
kegiatan marketing akan ditanggung bersama.
Beberapa contoh kegiatan co branding yang pernah kami lakukan di rumah sakit adalah
sebagai berikut :
1. Acara senam sehat bersama bekerjasama dengan perkumpulan senam terbesar yang
memiliki anggota banyak. Acara senam ini diadakan di halaman rumah sakit. Dengan acara
senam in diharapkan para peserta senam akan mau datang ke rumah sakit apabila
mengalami gangguan kesehatan.
2. Kerjasama pemberian discount khusus untuk pemegang kartu kredit dari bank tertentu.
Dengan adanya kerjasama ini, maka rumah sakit akan mendapat kesempatan untuk muncul
secara gratis dalam buletin bulanan, bahkan sampai baliho yang dimiliki oleh bank tersebut.
3. Dan masih banyak yang lain.
Oleh karena itu jangan ragu-ragu untuk menggunakan co-branding sebagai salah satu
upaya marketing di rumah sakit anda.
http://artikel-rspr.blogspot.co.id/2010/12/marketing-kesehatan.html

Seni Menjual Rumah Sakit

Rumah Sakit dikalangan masyarakat pada umumnya adalah hal yang sudah biasa, dalam
kondisi sakit harus mengunjungi Rumah Sakit. Tahun tahun terakhir ini pertumbuhan
RS begitu pesatnya sehingga setiap individu lebih mudah mendapatkan pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan. Pandangan lain yang harus kita ketahui adalah, RS
menginginkan setiap individu yang membutuhkan pelayanan datang ke RS mereka
bukan ke RS lainnya. Bagaimana agar masyarakat tertarik untuk memilih salah satu
pelayanan dari suatu Rumah Sakit itu adalah salah satu tugas Marketing suatu Rumah
Sakit.
Marketing merupakan suatu proses komunikasi yang menonjolkan nilai sebuah produk
atau service terhadap customer. Marketing tidak hanya berkaitan dengan penjualan
barang dan adanya target, seperti yang sering terlintas di masyarakat pada umumnya.
Marketing dalam dunia pelayanan kesehatan yang dalam hal ini adalah RS;
tidak membahas permasalahan barang walaupun tetap berkaitan dengan target
yaitu peningkatan kunjungan pasien ke RS. Marketing RS memiliki target, bahwa
dengan adanya marketing di suatu RS menjadikan masyarakat mengetahui segala jenis
pelayanan yang diberikan Rumah sakit dan masyarakat memiliki dorongan untuk memilih
Rumah sakit mereka dalam pelayanan kesehatan sehingga peningkatan kunjungan
pasien dapat terpenuhi.
Marketing sebagai proses komunikasi terhadap nilai pelayanan
kesehatan ke masyarakat, marketing dapat juga diinterprestasikan sebagai seni dalam
menjual . Pada pelayanan kesehatan , marketing yang diinginkan adalah bagaimana
bisa menarik para pasien untuk datang berobat terhadap keluhan yang dideritanya juga
merekomendasikan kepada pasien lainnya untuk memilih pelayanan yang diberikan oleh
Rumah sakit.
Proses komunikasi yang menonjolkan nilai sebuah produk atau service pelayanan
kesehatan sebaiknya tidak hanya dilakukan untuk kalangan external Rumah Sakit saja,
kalangan internal Rumah Sakit juga harus dikomunikasikan. Para karyawan
adalah corong awal promosi dari pelayanan kesehatan setiap Rumah Sakit. Setiap
program yang diberlakukan di Rumah Sakit harus terlebih dahulu diinformasikan ke para
karyawan.
Marketing suatu RS dibutuhkan untuk lebih mempercepat banyaknya masyarakat
mengetahui keberadaan pelayanan, termasuk bagaimana pelayanan itu diberikan
kepada masyarakat yang membutuhkan. Tidak mungkin dihindari bahwa promosi suatu
RS selalu dibutuhkan, baik untuk RS baru maupun RS yang sudah berlangsung lama.
Hanya saja jenis dari promosi yang dilakukan tidak mungkin disamakan antara RS satu
dengan yang lainnya.
Promosi RS dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, mulai dari hanya selembar brosur
hingga dilakukannya pameran pada event event juga melalui internet atau social
media. Pemilihan bentuk promosi yang saat ini pasti dilakukan adalah melalu I

dunia internet, selain mudah juga murah; selain itu seiring dengan berkembangnya
tehnologi hal ini mudah dijangkau oleh masyarakat luas.
Komplain yang terjadi pada pelayanan RS dapat juga dijadikan sarana promosi, bukan
promosi yang berdampak langsung memang. Bentuk keluhan pelanggan baik yang
langsung atau tertulis bila ditangani secara porfesional oleh petugas RS dapat
memberikan penilai baik terhadap RS. Marketing RS dalam hal ini dapat turut berperan
serta, dengan adanya complain marketing mendapatkan pandangan lain terhadap
pelayanan yang diterima oleh pasien sehingga kelak dapat dipikirkan strategi untuk
memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien. Jangan jadikan komplain
sebagai kesalahan RS, tetapi sebagai bentuk perbaikan pelayanan .

Kamis, 28 April 2011

Memahami Pasar Rumah Sakit


Bagi kebanyakan masyarakat awam Rumah Sakit (RS) merupakan penyedia layanan yang terkenal dengan
kelengkapan prakter dokter, layanan 24 jam gawat darurat, dan juga layanan rawat inap. Keberadaan RS
bertumbuh seiring dengan meningkatnya populasi. Dari sisi jumlah secara nasional mungkin perlu juga
dibandingkan dengan keberadaan mall / pusat perbelanjaan terutama untuk di kota besar.

RS biasanya terdiri dari layanan: Praktek Dokter (rawat jalan), Instalasi Farmasi / Apotek, Ruang Rawat Inap,
Laboratorium, Ruang Bedah, Kamar Otopsi dan Mayat, Layanan ASKES, dan Layanan Gawat Darurat 24 jam.
Dengan kata lain RS sebenarnya merupakan salah satu bentuk pasar, tempat bertemunya antara penyedia
dengan konsumen. Yang ditawarkan juga mulai dari produk / obat dan tentunya jasa / layanan. Produk dan
layanan yang tersedia pastinya yang terkait dengan kesehatan, namun saat ini RS besar sudah mulai
meninggalkan konsep tradisional. Tujuannya tidak membuat RS sebagai sarana yang mengerikan. Sehingga
wajar jika sekarang ditemui RS yang menyediakan kafetaria yang bagus, mini market, dan bahkan tempat
bermain.

Sebagai penyedia layanan kesehatan, RS berada dalam fungsi ganda yang mungkin bertolak belakang yaitu
antara misi untuk memberikan kesehatan namun juga tetap mendapatkan keuntungan. Namun sebagaimana
industri kebanyakan, tiap RS pastinya memiliki misi untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Jika tidak ingin
dicap mahal oleh konsumen, maka RS harus kerja keras menekan biaya pembelian dan investasi. Sehingga
marjin keuntungan yang diperoleh tetap besar.
Proses Pengadaan

RS bekerja seperti halnya retailer sejenis Alfamart, Carrefour, dan sebagainya. RS memiliki bagian Pembelian
sebagai pusat dari segala macam pengadaan kebutuhan RS. Kebanyakan RS, mungkin sekitar 95% RS
menerapkan apa yang dinamakan dengan standarisasi.

Walaupun memiliki fasilitas yang lengkap, tidak berarti tiap RS menyediakan berbagai macam merek untuk jenis
terapi yang sama. Standarisasi adalah sebagai bentuk penyederhanaan jenis produk yang tersedia di RS.
Maklum saja, saat ini untuk terapi yang sama obat yang tersedia di pasaran bisa mencapai puluhan bahkan

ratusan merek. Sehingga untuk menghindari stok obat yang tidak terpakai, penyediaan merek-nya pun dibatasi.
Dengan demikian RS bisa tetap dengan baik melayani pasien namun dengan pengelolaan stok obat yang lebih
efisien.

Jika carrefour berusaha menyediakan beragam merek dengan lengkap, namun RS tidak demikian. Contoh untuk
retailer-nya convenient store seperti Circle K yang hanya menyediakan satu atau dua jenis merek saja untuk tiap
jenis produk. Standarisasi juga dikenal dengan istilah Formularium. Penetapan produk-produk yang ada di RS
berdasarkan komite medik yang terdiri dari pengurus RS dan dokter-dokter yang tergabung di dalamnya.

Standarisasi ini memiliki periode untuk dilakukan review, tujuannya jika ada masalah dengan suatu merek produk
maka bisa diganti dengan merek yang lain. Dengan adanya sistem seperti inilah, para produsen obat berlombalomba untuk menarik perhatian dari para komite medik. Pertimbangannya bermacam-macam, mulai dari harga,
kualitas produk, citra pabrikan, dan juga service level. Tidak semua produsen obat bisa menempatkan produknya
di RS tersebut.

Jika Carrefour dikenal dengan istilah Listing Fee, dimana produsen membayar sejumlah biaya agar produknya
dapat dijual di Carrefour, namun berbeda dengan RS. Standarisasi hingga saat ini belum memiliki biaya yang
dibebankan kepada tiap produsen obat. Standarisasi juga menjadi pertimbangan bagi RS untuk mencoba
berganti-ganti merek untuk melihat khasiat dari tiap produk. Walaupun pergantian itu tidak terlalu sering.
Praktek Lain

Sayangnya sistem yang demikian rapi dan bertujuan baik di tiap RS seringkali disalahgunakan oleh oknumoknum yang hanya mementingkan dirinya sendiri ataupun kelompoknya. Apa yang seharusnya tidak ada,
menjadi ada. Kerugian bisa muncul tidak hanya bagi RS tapi juga pasien itu sendiri.

Banyaknya produsen yang memaksakan agar produknya masuk dalam standarisasi mengakibatkan jumlah stok
di gudang RS seringkali berlebihan. Jika tidak diantisipasi dapat berakibat pada kerugian karena produk tidak
bisa diretur. Kerugian lain, bisa jadi ada dokter yang memaksakan untuk meresepkan produk yang tidak perlu
tadi kepada pasien karena adanya titipan dari manajemen bahwa masih ada stok yang menumpuk.

Ada juga yang menerapkan sistem kontrak, penyalur memberikan sejumlah uang tertentu sebagai bentuk
pengikatan kepada RS. Dengan kesepakatan tersebut, RS diminta untuk melakukan pengambilan terlepas ada
kebutuhan atau tidak dari pasien. RS tersebut juga sudah diberi target untuk pengambilan sejumlah sekian
dalam setahun. Uang yang diberikan dari penyalur ini ada yang memang masuk ke dalam kas RS, namun juga
tidak sedikit yang masuk ke kantong-kantong pribadi dari oknum-oknum di RS maupun penyalur. Praktek ini
sarat dengan korupsi, terutama untuk RS yang didanai dari Pemerintah.

Pasien lagi yang dirugikan, mengkonsumsi obat yang seharusnya tidak perlu dikonsumsi. RS juga rugi, karena
stok menjadi penuh akibat aktivitas pemaksaan dari produsen dan penyalur. Maklum saja, sistem kontrak ini
sering digunakan sebagai jalan pintas bagi penyalur. Dan dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu di RS. RS
yang seharusnya bisa menikmati harga lebih murah, terpaksa harus membayar lebih mahal dan selisih harga
tersebut justru jatuh pada oknum.
Masih ada Harapan

Dengan gencarnya semangat anti korupsi saat ini, harusnya membuat sadar bagi para pelaku bisnis baik di
sektor pemerintah maupun swasta untuk menjalankan bisnis secara sehat. Uang yang tidak halal tersebut
tentunya juga tidak akan memberikan kebaikan bagi siapapun.

Jika perlu, sebaiknya dilegalkan saja biaya untuk kontrak tersebut. Sehingga tidak masuk ke kantong pribadi.
Manajemen RS pun harus secara ketat mengawasi pergerakan stok yang ada di gudang. Jika ditemukan adanya
transaksi yang tidak lazim, maka perlu ada tindakan. Tidak ada kebanggaan pula untuk mendapatkan bisnis
dengan cara yang tidak fair tersebut.

Pasar RS menyimpan potensi yang besar sebagai tempat pertemuan penjual dan pembeli. Sudah waktunya RS
di Indonesia menikmati layanan kelas dunia dari distribusi obat, alat kesehatan, dan juga fasilitasnya.
Diposkan oleh Joko Triyono,Arif Aulia Reza,Firas Asthadi di 09.170 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Kompetisi Bisnis Rumah Sakit


WALAUPUN rasanya kurang pantas dikatakan Bisnis "Orang Sakit", namun kenyataan yang ada adalah rumah
sakit yang memiliki bidang utama pelayanan terhadap orang sakit menjadi sebuah bisnis yang memiliki
pertumbuhan cukup pesat dan menguntungkan.

Perkembangan industri rumah sakit swasta telah mengalami perkembangan yang cukup berarti, terutama
beberapa tahun belakangan ini. Hal ini terlihat dengan bermunculannya rumah sakit swasta di negeri ini baik
rumah sakit umum maupun rumah sakit khusus. Jumlah rumah sakit di Indonesia pada tahun 2008 adalah
sebanyak 1.320 rumah sakit, dimana 657 di antaranya adalah rumah sakit milik swasta. (Depkes, 2009).

Pertumbuhan rumah sakit swasta ini di tahun-tahun mendatang akan semakin pesat, apalagi berdasarkan

Keputusan Presiden tentang Daftar Negatif Investasi No.111 tahun 2007 yang menyatakan bahwa investor asing
bisa menguasai 67 persen kepemilikan.

Kebutuhan rumah sakit berdasarkan rasio tempat tidur rumah sakit dibandingkan dengan jumlah peduduk masih
sangat rendah. Artinya bisnis rumah sakit ini adalah bisnis yang menggiurkan bagi para pelaku bisnis. Modal
yang dibutuhkan untuk mendirikan sebuah rumah sakit tidaklah kecil, nilai investasi bisa mencapai miliaran
rupiah, terutama rumah sakit yang memiliki segmentasi sosial ekonomi kelas menengah ke atas dan secara
geografis berada di kota besar.

Dengan entitas sebuah bisnis, maka mekanisme pasarpun berlaku dan dengan nilai investasi yang tidak sedikit
maka kompetisi pun menjadi tak terelakan, agar rumah sakit masih bisa tetap hidup dan berkembang. Namun
kemana arah kompetisi bisnis ini?

Sedikitnya ada tiga unsur yang terlibat dalam bisnis rumah sakit yakni penyedia pelayanan kesehatan (rumah
sakit), pasien sebagai penerima pelayanan dan pihak ketiga yang secara tidak langsung terlibat yakni asuransi
kesehatan atau perusahaan lainnya, dan pemerintah.

Dalam menghadapi kompetisi saat ini, rumah sakit melakukan investasi berupa alat-alat yang canggih, namun
sangat disayangkan karena tidak adanya regulasi yang jelas, dalam satu kota bisa terdapat beberapa jenis alat
canggih yang sama yang dimiliki setiap rumah sakit, padahal mungkin kebutuhannya tidak sebesar itu.

Hal tersebut bisa berdampak pada mahalnya tarif yang dikenakan, karena rumah sakit harus menghitung
pengembalian investasi, atau yang lebih berbahaya adalah penggunaan alat yang tidak seharusnya pada pasien
untuk mengejar pengembalian investasi.

Pada umumnya rumah sakit masih menerapkan pola tarif berdasarkan fee for service, hal ini seringkali
dikeluhkan oleh pasien yang tidak dapat mengetahui secara pasti biaya yang harus dikeluarkan ketika berada di
rumah sakit.

Pola pentarifan prospective payment masih dianggap kurang bisa diterapkan oleh rumah sakit swasta, padahal
metode tersebut dapat menjadi salah satu strategi dalam peningkatan mutu dan penurunan biaya. Bahkan pada
umumnya rumah sakit masih menerapkan pola tarif operasi mengikuti kelas perawatan, yang disegmentasikan
berdasarkan kemampuan bayar pasien.

Ruangan rawat inap pun hampir seluruhnya dinamai berdasarkan strata kelas, yang juga dianggap menunjukan
kemampuan bayar pasien.

Perilaku dari konsumen atau pasien juga sangat mempengaruhi kompetisi ini.Saat ini sistem rujukan sepertinya
sudah mulai melemah, pasien terutama kelas menengah dan atas, selalu lebih puas jika langsung bertemu
dengan dokter spesialis. Bahkan saat ini rumah sakit juga berkompetisi secara tidak langsung dengan praktek
swasta dokter spesialis.

Pasien yang sepenuhnya dijamin oleh asuransi atau dijamin oleh perusahaan tempatnya bekerja memiliki
kecenderungan menghabiskan biaya yang lebih besar. Hal ini juga ditangkap oleh rumah sakit sebagai salah
satu target captive market-nya. Rumah sakit berlomba-lomba bekerja sama dengan perusahaan dan asuransi
bahkan dengan menawarkan tarif yang lebih rendah.

Pada akhirnya rumah sakit sebagai sebuah bisnis boleh berlomba-lomba menyasar segmen sosial ekonomi
kelas menengah atas dan di kota besar, namun jangan dilupakan bahwa rumah sakit pada dasarnya memiliki
azas pemerataan. Rumah Sakit boleh memiliki strategi pentarifan sebagai sebuah bisnis dan mengikuti
mekanisme pasar namun jangan dilupakan rumah sakit memiliki azas persamaan hak dan antidiskriminasi.

Rumah sakit harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi namun jangan dilupakan rumah
sakit memiliki asas nilai etika dan profesionalitas, nilai perlindungan dan keselamatan pasien yang menjadi
tanggung jawab rumah sakit dan dokter.

Karena itu Rumah sakit bukan bisnis biasa tapi bisnis yang luar biasa, yang pemilik dan semua orang yang di
dalamnya tidak cukup hanya memiliki modal keuangan yang besar, keilmuan yang tinggi namun yang paling
penting adalah modal hati yang mau melayani bagi sesama. Sehingga kompetisi yang seharusnya terjadi
antarrumah sakit bukanlah kompetisi melawan rumah sakit satu sama lain, bahkan yang lebih baik adalah cooperation.

Kompetisi yang sebenarnya adalah bagaimana memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna, bermutu,
efisien, terdepan dalam ilmu kedokteran, dan bisa menyentuh hati para pasien.(*)
Diposkan oleh Joko Triyono,Arif Aulia Reza,Firas Asthadi di 09.120 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Pemasaran Pelayanan Kesehatan


selama ini orang - orang seperti terkondisikan bahwa RS adalah sebuah tempat pelayanan kesehatan yang
berlandaskan kemanusiaan sehingga tidak layak menerapkan asas- asas marketing dalam pengelolaan
pelayanan kesehatan, padahal biaya operasional RS yang besar jika tidak diimbangi income yang besar maka
justru akan mengalami kebangkrutan,bahkan sempat muncul persepsi negatif di masyarakat bahwa salah satu
strategi pemasaran RS adalah promosi, Promosi RS dikonotasikan dengan membujuk serta mengarahkan
seseorang agar mengunjungi RS tertentu. padahal seperti yang kita ketahui bahwa promosi merupakan salah
satu media yang sangat baik, bahkan beberapa RS juga mulai menerapkan kegiatan-kegiatan kehumasan
(public relations) .Saat ini, RS tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai institusi sosial belaka, tetapi sudah
menjadi institusi yang bersifat sosio ekonomis.Dengan paradigma baru ini, kaidah-kadiah bisnis juga berlaku
bagi industri RS, tanpa harus meninggalkan jati diri RS sebagai institusi sosial yang sarat dengan norma,
moral, dan etika.Saat ini, di Indonesia belum ada pedoman pengiklanan yang jelas bagi RS sementara
kebutuhan akan pedoman pengiklanan tersebut sangat diperlukan agar RS-RS di Indonesia mampu bersaing
dengan pelayanan RS luar negeri. Oleh karena itu, sudah saatnya RS di Indonesia berpromosi agar masyarakat
kita mendapatkan informasi yang cukup mengenai jenis pelayanan maupun fasilitas yang ada di sebuah RS.RS
sebagai penyedia pelayanan kesehatan membutuhkan media promosi untuk memberikan informasi yang
dibutuhkan oleh masyarakat. Namun pelayanan RS merupakan jenis pelayanan yang unik dan berbeda bila
dibandingkan dengan bidang jasa pelayanan yang lainnya. Pedoman etik yang jelas sangat diperlukan dalam
melakukan promosi bagi RS sehingga pedoman etik yang dibuat dapat menjadi acuan bagi RS dalam melakukan
promosi. Saat ini, di Indonesia belum ada pedoman promosi yang jelas bagi RS, sementara kebutuhan akan
pedoman promosi tersebut sangat diperlukan agar RS-RS di Indonesia mampu bersaing dengan pelayanan RS
luar negeri.beberapa pakar memasarkan mengajarkan cara - cara memasarkan bisnis dengan metode dan
strategi yang berbeda - beda.sehingga lebih memuaskan jika anda mendengarkan apa pendapat para pakar
marketing tersebut melalui seminar maupun melalui buku - buku mereka.

http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/1805317-pemasaran-pelayanan-kesehatan/
Diposkan oleh Joko Triyono,Arif Aulia Reza,Firas Asthadi di 06.482 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Promosi Rumah Sakit


Oleh
Andrew Jackson Yang

Di Indonesia sampai saat ini promosi rumah sakit masih dianggap hal yang tabu, karena kata promosi
berkonotasi membujuk serta mengarahkan seseorang agar mengunjungi rumah sakit tertentu.
Promosi jika disampaikan dengan jujur dan mendidik akan bermakna positif. Promosi merupakan salah satu
wadah yang efektif untuk menginformasikan adanya layanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Ketika
rumah sakit di Indonesia masih ragu dan takut berpromosi, rumah sakit di negara lain justru gencar menjadikan
Indonesia sebagai ajang promosi. Mereka bukan hanya memasang iklian, tetapi juga melakukan berbagai
kegiatan public relations untuk menarik masyarakat Indonesia agar mau menjadi konsumen mereka. Tak heran,
arus berobat ke luar negeri semakin tinggi.
Berubahnya nilai-nilai secara global dan masuknya Indonesia ke dalam persaingan pasar bebas, mengharuskan
kita mengubah paradigma tentang rumah sakit. Perlu kita pahami, rumah sakit tidak bisa lagi dipandang hanya
sebagai institusi sosial belaka, melainkan sudah menjadi institusi yang bersifat sosio-ekonomis.
Dengan paradigma baru ini, kaidah-kaidah bisnis juga berlaku bagi industri rumah sakit tanpa harus
meninggalkan jatidirinya sebagai institusi sosial yang sarat dengan norma, moral, dan etika.
Dalam berpromosi, rumah sakit memerlukan pedoman etika tersendiri, karena jenis pelayanan yang diberikan
rumah sakit bersifat unik dan sangat berbeda dengan bidang jasa pelayanan lainnya. Satu pedoman yang
bersifat self regulating menjadi perlu disusun.
Lewat pedoman ini, Komunitas rumah sakit dapat mengatur dirinya sendiri dan kepentingan rumah sakit untuk
melakukan promosi dapat terlindungi. Masyarakat juga akan terlindungi dari promosi yang menyesatkan.

Mengacu Etika Rumah Sakit


Promosi rumah sakit adalah salah satu bentuk pemasaran rumah sakit dengan cara penyebarluasan informasi
tentang jasa pelayanan serta kondisi rumah sakit itu sendiri secara jujur, mendidik, informatif, dan dapat
membuat seseorang memahami tentang pelayanan kesehatan yang akan didapatkannya.
Dasar hukumnya adalah Undang-Undang nomor 88 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Perundangundangan RI yang mengacu kepada Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia (yang disempurnakan, 19
Agustus 1996). KODERSI 2001, Bab VI Pasal 23. Keputusan Rapat kerja Nasional Majelis Etika Rumah Sakit
Indonesia (MAKERSI) tanggal 23 Juli 2005.
Azas Umum Promosi antara lain harus jujur, bertanggung jawab, dan tidak bertentangan dengan hukum yang
berlaku. Promosi tidak boleh menyinggung perasaan dan merendahkan martabat negara, agama, tata susila,
adat, budaya, suku dan golongan.
Promosi harus dijiwai dengan nada persaingan yang sehat. Promosi yang dilakukan harus tetap memiliki
tanggung jawab sosial.
Layanan yang ditawarkan harus profesional dan bermutu. Setiap institusi/pelaku layanan kesehatan harus selalu
mengacu kepada etika rumah sakit, serta bekerja sesuai pedoman dan standar layanan yang ada. Tarif layanan
yang ditawarkan wajar dan dapat dipertanggungjawabkan serta memperhatikan ketentuan yang ada. Layanan
yang ditawarkan harus merata dan ditujukan kepada seluruh anggota masyarakat. Layanan yang ditawarkan

harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna layanan.
Secara umum, promosi harus bersifat: Informatif, edukatif, preskriptif (pemberian petunjuk-petunjuk kepada
khalayak ramai umumnya dan pasien khususnya tentang peran pencari pelayanan kesehatan dalam proses
diagnosis dan terapi), preparative (membantu pasien/keluarga pasien dalam proses pengambilan keputusan).
Kesemuanya ini harus diberikan secara kongkrit dan berdasarkan Kode Etik Rumah Sakit Indonesia. Asas
Khusus untuk Promosi Rumah Sakit antara lain harus rela tetap mencerminkan jatidiri sebagai institusi yang
memiliki tanggung jawab sosial.
Penampilan tenaga profesi dokter, ahli farmasi, tenaga medis, dan paramedis lain atau atribut-atribut profesinya
tidak boleh digunakan untuk mengiklankan jasa pelayanan dan alat-alat kesehatan. Menghargai hak-hak pasien
sebagai pelanggan.

Makan Tiga, Bayar Dua


Dalam persaingan ketat, tentu mudah terjadi pelanggaran etika, yaitu pelanggaran asas-asas etika umum atau
kaidah-kaidah dasar moral, yaitu asas kewajiban berbuat yang baik, asas kewajiban tidak berbuat yang
menimbulkan mudharat, asas menghormati otonomi manusia, asas berlaku adil (justice, fairness).
Banyak di antara kiat promosi secara umum sah-sah saja dilakukan juga oleh rumah sakit. Namun, ada yang
menurut sistem nilai kita sebagai profesional kesehatan tidak pantas dilakukan. Misalnya, sah-sah saja jika
restoran berpromosi makan untuk tiga, bayar untuk dua saja. Tapi, apakah pantas jika rumah sakit berpromosi,
Jika sudah dua anak Anda dirawat di rumah sakit kami, anak ketiga tidak perlu langsung membayar uang muka
perawatan.
Rasanya masih dianggap tidak pantas jika rumah sakit mengirim wakilnya ke rumah-rumah penduduk untuk
melakukan personal selling. Kendati sudah lazim jika ada marketer rumah sakit datang ke perusahaanperusahaan untuk menawarkan produk-produk yang disediakan oleh rumah sakit.
Hal lain lagi yaitu RS luar negeri tidak diperkenankan berpromosi dengan menggunakan pembicara dokter luar
negeri tanpa melalui kerja sama dengan IDI, PERSI, DEPKES, instansi terkait. Ini demi melindungi masyarakat.
Agensi rumah sakit asing bila ingin berpromosi di Indonesia harus bekerja sama dengan sepengetahuan
organisasi profesi dan PERSI. Pembuatan film di sekitar rumah sakit personil rumah sakit tidak terlibat. Nama
rumah sakit hanya dicantumkan pada bagian akhir film.
Penyelenggara/Pelaksana Promosi dapat berupa pihak rumah sakit sendiri, perusahaan periklanan, pihak-pihak
lain.Pengawasan dan pembinaan dilakukan oleh Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan dan PERSI
MAKERSI secara khusus melakukan pemantauan dalam pelaksaan sehari-hari.
Bila terjadi pelanggaran maka akan diberikan sanksi etik berupa: Teguran lisan maupun tertulis oleh MAKERSI
Informasi kepada masyarakat lewat media massa Rekomendasi kepada yang berwenang untuk meninjau
kembali izin rumah sakit.
Etika bersifat dinamis dan selalu dapat berubah berdasarkan pengaruh perkembangan nilai-nilai yang ada di
masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula etika promosi rumah sakit,

tidak tertutup kemungkinan suatu saat akan berubah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan layanan
kesehatan. Oleh karena itu, evaluasi berkala terhadap isi pedoman etika promosi rumah sakit ini sangat
diperlukan agar tetap sesuai dengan kebutuhan penyedia dan pengguna jasa pelayanan kesehatan.
Diposkan oleh Joko Triyono,Arif Aulia Reza,Firas Asthadi di 06.470 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Pemikiran Mengenai Manajemen Pemasaran Rumah Sakit


Pemasaran adalah salah satu kegiatan dalam perekonomian yang membantu dalam menciptakan nilai ekonomi.
Nilai ekonomi itu sendiri menentukan harga barang dan jasa. Faktor penting dalam menciptakan nilai tersebut
adalah produksi, pemasaran dan konsumsi. Pemasaran menjadi penghubung antara kegiatan produksi dan
konsumsi.
Menurut Kotler (1997), pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan
mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain. Sedangkan rumah sakit sebagai salah satu penyedia
pelayanan kesehatan merupakan institusi yang penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Sekarang ini mayoritas rumah sakit yang ada di Indonesia sudah bergeser ke arah profit oriented, hal ini
disebabkan karena masuknya Indonesia ke dalam persaingan pasar bebas yang mengharuskan kita untuk
merubah cara pandang terhadap rumah sakit. Saat ini tidak memungkinkan lagi jika rumah sakit hanya
dipandang sebagai institusi sosial. Dengan berjalannya waktu rumah sakit telah menjadi institusi yang bersifat
sosio-ekonomis. Selain itu, kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dimana investor baik yang berasal dari dalam
maupun luar negeri diberi kesempatan untuk menanamkan modalnya dalam bidang perumahsakitan, semakin
memudahkan pergeseran tersebut. Sehingga tidak heran sekarang ini banyak dibangun rumah sakit baru yang
memiliki pelayanan seperti hotel berbintang, teknologi baru dan canggih, serta dikelola dengan manajemen
profesional yang tentunya berorientasi profit.
Semakin banyak dan meratanya rumah sakit di wilayah Indonesia yang merupakan harapan pemerintah
merupakan ancaman bagi pihak rumah sakit, karena dengan semakin banyaknya bermunculan rumah sakit yang
menawarkan bermacam keunggulan, baik dari segi teknologi, harga maupun pelayanan, maka rumah sakit akan
menghadapi persaingan yang semakin kompetitif.
Jumlah rumah sakit yang semakin meningkat membuat setiap rumah sakit saling bersaing untuk mendapatkan
pelanggan. Oleh karena itu, pemasaran rumah sakit yang baik akan dapat membantu rumah sakit untuk terus
bertahan dalam persaingan dan berkembang menjadi lebih baik. Keluarnya Permenkes No. 80/Menkes/Per/II/90
yang menyatakan bahwa badan hukum termasuk perorangan diperkenankan memiliki dan mengelola rumah
sakit dengan sifat profit oriented, membuat rumah sakit sadar untuk menerapkan manajemen pemasaran untuk

bisa mempertahankan eksistensinya. Sehingga tidak mengherankan jika keadaan ini memaksa pihak rumah
sakit, baik rumah sakit swasta maupun rumah sakit pemerintah untuk menerapkan manajemen pemasaran yang
modern, dengan melaksanakan proses pemasaran yang baik, termasuk promosi yang termasuk kedalam bauran
pemasaran. Artinya, rumah sakit akan melakukan berbagai upaya promosi dalam rangka menarik minat
konsumen sebanyak-banyaknya.
Manajemen Pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi,
serta penyaluran gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan-tujuan
individu dan organisasi (Kotler, 1997).
Jika dibandingkan dengan bidang lain, usaha perumahsakitan memiliki ciri khasnya sendiri, terutama dalam
tanggung jawab moral, kemanusiaan dan sosial yang diembannya. Oleh sebab itu, meski banyak yang
menjadikan rumah sakit sebagai ladang bisnis, namun rumah sakit tidak bisa begitu saja melepaskan misi sosial
dan kemanusiaan, dan hal tersebut menyebabkan cara-cara promosi yang umum, yang dapat diterapkan pada
bidang bisnis lain tidak dapat sepenuhnya dilaksanakan di bidang perumahsakitan.
Promosi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah iklan. Namun bolehkan rumah sakit
beriklan? Selama ini pengelola rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta berpedoman dan meyakini bahwa
rumah sakit tidak boleh beriklan. Banyak alasan yang dikemukakan, antara lain akan menjadi tidak etis jika
rumah sakit mengharapkan kesakitan dari pasien untuk kemudian pasien tersebut datang ke rumah sakit yang
mereka kelola.
Kenyataannya rumah sakit tidak memiliki larangan untuk memasang iklan. PERSI tidak melarang rumah sakit
melakukan promosi berupa iklan asalkan iklan tersebut bersifat informatif, tidak komparatif, berpijak pada dasar
yang nyata, tidak berlebihan, dan berdasarkan kode etik rumah sakit Indonesia. Karena pada dasarnya kegiatan
promosi dilaksanakan untuk menjaga komunikasi antara pihak rumah sakit dengan masyarakat luas.
Namun, ketika rumah sakit memutuskan untuk beriklan, rumah sakit harus benar-benar siap. Jika tidak, mereka
akan berhadapan dengan undang-undang perlindungan konsumen. Seperti yang dialami oleh RS Siloam
Gleneagles, Lippo Karawaci yang pernah memiliki pengalaman tidak menyenangkan saat mereka berusaha
melakukan promosi di media massa. Saat pembukaan, RS Siloam berupaya untuk menarik minat pelanggan
dengan memasang iklan pemberitahuan dan informasi sebanyak setengah halaman di salah satu media cetak,
pada iklan tersebut dicantumkan mengenai fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang dimiliki oleh rumah sakit
tersebut. Tetapi ternyata iklan tersebut mendapat sambutan yang tidak menyenangkan dari anggota DPR karena
dinilai tidak etis. Dengan adanya kejadian ini, rumah sakit lainnya pun menjadi berpikir dua kali untuk
mengiklankan rumah sakit mereka karena takut akan menjadi masalah dengan anggota dewan.
Kejadian ini akan menjadi sangat ironis ketika rumah sakit di Indonesia masih ragu dan takut berpromosi, rumah
sakit di negara lain justru gencar menjadikan Indonesia sebagai lahan promosi. Mereka bukan hanya memasang
iklian, tetapi juga melakukan berbagai kegiatan kehumasan (public relations) untuk menarik minat masyarakat
Indonesia agar mau menjadi konsumen mereka. Contohnya saja rumah sakit negara S dan M, iklan mengenai
rumah sakit di kedua negara tersebut banyak diterbitkan di Indonesia, mereka tidak lagi memandang etis atau

tidaknya sebuah iklan mengenai rumah sakit dimuat, bahkan ada yang menawarkan paket kesehatan sambil tur
dengan biaya yang murah. Sedangkan rumah sakit kita sendiri, dengan niat yang baik untuk menginformasikan
saja pada masyarakat bahwa ada rumah sakit baru yang dibangun melalui iklan ditegur dengan keras. Sehingga
tidak heran, semakin banyak masyarakat Indonesia yang pergi berobat ke luar negeri karena mereka
beranggapan rumah sakit di sana lebih baik daripada di negeri sendiri.
Akibat iklan yang dianggap tidak etis ini, ada pihak rumah sakit tertentu yang mengajukan protes pada pihak
PERSI, dan segera ditanggapi oleh pihak PERSI dengan menemui penanggungjawab media cetak tersebut, dan
pihak yang bersangkutan berjanji tidak akan mnerbitkan iklan tersebut lagi.
Tapi tetap saja, ada pihak-pihak rumah sakit yang merasa dianaktirikan oleh pemerintahnya sendiri. Jadi, akan
sangat bijak jika pemerintah mulai memikirkan dengan jelas aturan yang akan menjadi panduan bagi pihak
rumah sakit mengenai apa saja yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan rumah sakit dalam beriklan.
Selain itu pemerintah juga harus memberikan dukungan dalam bentuk penurunan pajak dan informasi kesehatan
lainnya. Hal ini akan sangat berguna jika dilakukan, karena rumah sakit Indonesia akan memiliki dukungan dari
pemerintahnya sendiri dalam rangka bersaing dengan rumah sakit luar negeri yang sangat gencar dalam
melakukan upaya promosi di negeri ini.

http://prrumahsakitui.blogspot.co.id/

Anda mungkin juga menyukai