Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kecemasan

merupakan

istilah

yang

menggambarkan

keadaan khawatir dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan dapat


ditimbulkan dari peristiwa sehari-hari yang dapat dialami manusia
dan dapat juga dialami oleh siapapun. Ancaman terhadap harga diri
atau identitas diri yang sangat mendasar bagi keberadaan individu
merupakan sebagai sebab dari terjadinya kecemasan. Kecemasan
menghasilkan peringatan yang berharga dan penting dalam upaya
untuk memelihara keseimbangan dan melindungi diri yang dapat
dikomunikasikan secara interpersonal dan merupakan bagian
kehidupan sehari-hari (Sitepu, 2009).
Cemas merupakan suatu keadaan emosi tanpa suatu objek
yang spesifik dan pengalaman subjektif dari individu serta dan
tidak dapat diobservasi dan dilihat secara langsung. Cemas berbeda
dengan rasa takut, karakteristik rasa takut adalah adanya suatu
objek sumber yang spesifik dan dapat diidentifikasi serta dapat
dijelaskan oleh individu sedangkan kecemasan diartikan sebagai
suatu kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi
dengan penyebab atau objek yang tidak jelas dan dihubungkan
dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. Sebagai contoh
kekhawatiran menghadapi operasi/pembedahan (misalnya takut
sakit waktu operasi, takut terjadi kecacatan), kekhawatiran
terhadap anestesi/pembiusan (misalnya takut terjadi kegagalan
anestesi/meninggal, takut tidak bangun lagi) dan lain-lain (Sitepu,
2009).
Pembedahan elektif maupun kedaruratan adalah merupakan
suatu peristiwa komplek yang menegangkan, karena selain
mengalami gangguan fisik akan dapat memunculkan masalah
psikologis. Reaksi emosional dari pasien, diantaranya adalah
1

kecemasan akan selalu didahului dalam prosedur pembedahan.


Kecemasan adalah suatu keadaan dimana pasien mengalami
perasaan gelisah akibat ancaman atau penyebab yang tidak jelas
dan dimanifestasikan dengan gejala fisiologis, emosional dan
kognitif (Sitepu, 2009).
Sehubungan dengan

angka

kejadian

dan

angka

kematiannnya yang tinggi, sampai saat ini kanker serviks masih


merupakan

masalah

kesehatan

perempuan

di

Indonesia

Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang


lemah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan
prasarana, status sosial ekonomi yang rendah, jenis histopatologi
dan derajat pendidikan sesorang ikut serta dalam menentukan
prognosis dari penderita (Sitepu, 2009).
Di negara maju, angka kejadian dan angka kematian kanker
serviks telah menurun karena suksesnya program pemeriksaan sel.
Akan tetapi, secara umum kanker serviks masih menempati posisi
kedua terbanyak pada keganasan wanita (setelah kanker payudara)
dan diperkirakan diderita oleh 500.000 wanita tiap tahunnya.
Angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks di dunia
menempati urutan kedua setelah kanker payudara. Sementara itu, di
negara berkembang masih menempati urutan teratas sebagai
penyebab kematian akibat kanker di usia reproduktif. Hampir 80%
kasus berada di negara berkembang. Faktor resiko terjadinya
kanker serviks dapat terjadi pada perempuan yang melakukan
aktivitas seksual sebelum usia 18 tahun, perempuan yang bergantiganti pasangan seksual, dan menderita infeksi kelamin yang
ditularkan melalui hubungan seksual (Depkes RI, 2009).
Sebelum dilakukan operasi terdapat masalah kecemasan
yang merupakan reaksi emosional pasien yang sering muncul. Hal
ini sebagai respon antisipasi pasien terhadap suatu pengalaman
yang dianggap sebagai suatu ancaman terhadap peran dalam

kehidupan pasien, integritas tubuh dan bahkan kehidupannya


(Sitepu, 2009).
Kecemasan ini perlu mendapat perhatian dan intervensi
keperawatan karena keadaan emosional pasien yang akan
berpengaruh kepada fungsi tubuh pasien menjelang operasi.
Kecemasan

yang

tinggi

dapat

memberikan

efek

dalam

mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh yang ditandai dengan


adanya peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi nadi,
peningkatan frekuensi napas, ketakutan, mual/muntah, gelisah,
pusing, diaforesis, gemetar rasa panas dan dingin. Karena dengan
adanya tanda-tanda tersebut maka biasanya operasi akan ditunda
oleh dokter (Sitepu, 2009).
Terjadinya kecemasan menyebabkan menurunnya imunitas
penderita. Terapi medis saja tanpa disertai doa dan dzikir tidaklah
lengkap. Kenyataannya banyak penderita yang belum mendapat
bimbingan terhadap pendekatan keagamaan untuk melakukan doa
dan dzikir baik dari tenaga pelayanan kesehatan maupun dari
keluarga penderita. Hal ini terjadi karena disebabkan kurang
pengetahuan

tentang

keagamaan

dan

bimbingan

dalam

melaksanakan kegiatan keagamaan tersebut terutama dalam hal


doa dan dzikir (Sutrisno, 2006).
Ditingkatkannya pemberian mutu pelayanan kesehatan
terutama dalam pemberian asuhan keperawatan pada aspek
spiritual merupakan upaya untuk menurunkan tingkat kecemasan
pada penderita di rumah sakit. Dalam menghadapi ketakutan dan
kecemasan pasien, kepercayaan spritual memiliki peranan penting.
Tanpa memandang anutan keagamaan pasien, kepercayaan spritual
dapat menjadi medikasi terapeutik. Segala upaya harus dibuat
untuk membantu pasien mendapat bantuan spritual yang pasien
inginkan. Kepercayaan yang dimiliki oleh setiap individu pasien
harus dihargai dan didukung karena keyakinan mempunyai
kekuatan yang sangat besar. Hal ini bisa dilakukan dengan adanya

kerjasama antara tenaga pelayanan kesehatan, penderita, dan


keluarga penderita, dengan cara menyiapkan tenaga pelayanan
kesehatan

yang

keagamaan,
keimanan,

mampu

memberikan
dan

memberikan
bimbingan

pelaksanaan

doa

dan

pendekatan
tentang
dzikir.

secara

peningkatan
Atau

bisa

mendatangkan seorang pemuka agama untuk membimbing dalam


memberikan support psikologis dengan melakukan doa dan dzikir,
sehingga kecemasan berkurang dan imunitas meningkat (Sutrisno,
2006).
Dengan demikian, berdasarkan dari penjelasan di atas
penulis tertarik melakukan analisis jurnal tentang Pengaruh Dzikir
Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operatif
Kanker Serviks.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka
rumusan masalah adalah bagaimana pengaruh dzikir terhadap
penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operatif kanker
serviks.
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut dapat ditentukan
tujuan dari makalah ini adalah menganalisis pengaruh dzikir
terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operatif
kanker serviks.